View allAll Photos Tagged multi
Multi Themed Cake. Swimming, Video Gaming, Chess and Soccer Ball top off this birthday cake. Made with butter cream frosting. Happy Birthday sign on Soccer ball cake.
Abt. 1948. My beautiful mom! She majored in college in Clothing and Textiles and made most of her own clothes, including this swimsuit. She always had style...
April fun.
Multi-print minidress over white bra, red knickers, black suspender belt and tan stockings.
You are looking up my dress, aren't you?
Should’ve worn tights.
Dalam suatu perkawinan tidak jarang bagi seorang wanita yang
mengeluhkan bahwa dia tidak bisa merasakan apa yang namanya orgasme,
terkadangprinsip seorang wanita adalah hanya sebagai
pelayan bagi suaminya dalam berhubungan seks, mereka tidak ambil
pusing apakah dia bisa orgasme atau tidak. Inilah yang akan menjadi
bomerang bagi dirinya sendiri yang pada akhirnya secara tidak langsung
berdampak pada kehidupan seks mereka sendiri. Bagi seorang pria, seks
adalah yang utama dalam suatu perkawinan, pria yang baik adalah pria
yang memberi kesempatan pada pasangannya untuk bersama-sama menikmati
orgasme, jadi tidak adil kalau seorang pria hanya mementingkan dirinya
sendiri tanpa peduli apakah pasangannya puas atau tidak. Pria yang
bijak senantiasa membangun keintiman seksual jauh sebelum berfikir
mengajak pasangannya ke tempat tidur. Setiap saat dia akan bersikap
romantis dan dengan sabar melakukan rangsangan- rangsangan halus tapi
sering. Dalam benaknya selalu berfikir memposisikan dirinya sebagai
seorang penggoda yang romantis. Upaya memperdalam pengetahuan seksual
kaum wanita pun menjadi bagian yang
harus dikembangkan. Sehingga dari sana akan muncul suatu pengalaman
seksual yang menakjubkan, Seorang pria yang bisa memberikan kepuasan
di tempat tidur pada pasangannya akan mendapatkan pelayanan lebih
dalam kehidupan sehari-hari dari pasangannya yaitu kesetiaan dan kasih
saying total.
Ada beberapa cara yang biasa kaum pria lakukan untuk membuat wanita
bertekuk lutut
adalah : ANTISIPASI Betapa pentingnya antisipasi seorang pria untuk
memahami kepuasan seksual seorang wanita, seliar apapun wanita yang
dihadapinya, dia akan memerlukan alat bantu untuk membangkitkan hasrat
seksualnya. Antisipasi seks adalah suatu proses dimana aktivitas
seksual dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana. Misalnya melakukan
kegiatan yang memberikan kesan mendalam bagi seorang wanita. Pria yang
pengertian akan membantu pekerjaan rumah pasangannya dan memberikan
surprise untuk pasangannya yang tentunya sangat berkesan bagi wanita.
Sebagai contoh, seorang pria mengajak pasangannya ke kamar mandi yang
tentunya sudah dipersiapkan sebelumnya dengan dan memberikan
kesempatan pada wanita untuk memanjakan dirinya dalam bak mandi, dalam
hal ini pria tidak seolah-olah tidak tertarik pada seks dan sengaja
membuat wanita sendirian dalam bak mandi dengan membisikkan bahwa dia
punya kejutan untuk wanita tersebut. Setelah mandi pria menggandeng
perut wanita
ke tempat pembaringan, kamar dibikun redup, dengan musik lembut.
Kemudian si pria mengurut-urut tubuh si wanita mulai dari kaki menuju
ke atas dengan berusaha tidak menyentuh daerah sensitive wanita.
Setelah beberapa saat melakukan pengurutan, usapan, elusan dan pelukan
serta cumbuan lalu si pria merenggut seluruh pakaian si wanita hingga
tertanggal semua. Dengan memancing penasaran semacam itu, gelora
birahi wanita akan terus meninggi sehingga pada klimaksnya si wanita
akan mendapatkan kepuasan total yang jarang ia temukan sebelumnya.
Tampaknya cara di atas sangat ribet, perlu kesabaran untuk
melaksanakannya, namun efeknya sangat luar biasa. Si wanita akan
selalu mengenang kehebatan si pria tidak hanya untuk satu malam saja.
Keintiman yang dibangun dengan cara tersebut akan menghasilkan
malam-malam panas yang dihiasi oleh berbagai kegiatan seksual yang
menakjubkan. Masalah seksual sebenarnya sangat manusiawi, sama halnya
dengan mengerjakan pekerjaan lainnya. Memerlukan kerja keras dan
ketabahan dalam menghadapi berbagai kendala yang menyertainya. Untuk
mendapatkan keberhasilan yang diharapkan disamping kerja keras dan
ketabahan, juga perlu sekali pembentukan karakter kuat untuk
mewujudkannya. MEMBANTUNYA SANTAI Untuk mendapatkan kepuasan seksual
sepenuhnya, seorang wanita sangat membutuhkan istirahat yang cukup
dalam kesehariannya. Oleh karena itu untuk memenuhinya, seorang pria
perlu membantu mencapai status rileksasi tertinggi yang dibutuhkannya.
Ada beberapa cara yang sering dilakukan pria berpengalaman untuk
membuat wanita merasa rileks yaitu dengan tidak terburu-buru ketika
berhadapan dengannya, perlakukan dia dengan lembut dan penuh
kesabaran. Selanjutnya raba-raba dan elus-elus rambut dan wajahnya,
bisikan kata rayuan di telinganya. Kemudian sentuh dia sambil
mengucapkan kata-kata yang menyejukkan. Jika cara ini dilakukan dengan
sabar dan teliti wanita yang paling tegang sekali pun akan berubah
menjadi makhluk yang paling santai. MENCUMBU SELURUH TUBUH Banyak pria
yang beranggapan salah tentang cumbuan, mereka
menganggap bahwa hanya bagian tertentu saja yang perlu dicumbu yang
dianggap sensitif. Padahaluntuk mendapatkan hasil yang maksimal agar
wanita bisa mendapatkan kepuasan orgasme total seorang pria yang
berpengalaman pasti melakukan cumbuan di seluruh bagian tubuh yang
ada. Titik- titik releksasi ada pada hampir seluruh tubuh, sehingga
pada saatnya klimaks akan membuat seorang wanita merasa tubuhnya
menjadi sesuatu yang benar-benar terpuaskan. Hangati setiap bagian
tubuhnya dengan sentuhan dan pelukan dengan lembut. Sentuhlah bagian
tubuh wanita dari ujung kaki hingga kepala, dengan sentuhan yang
lembut secara menyeluruh akan membuat seorang wanita merasa siap untuk
memulai pertempuran yang sesungguhnya karena itu saatnya seorang pria
memulai permainan seks yang diharapkan. BUTUH DOMINATOR Hampir setiap
wanita mengharapkan seorang pria yang mampu mengendalikan dirinya yang
tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga dalam setia
permainan seks, seorang wanita sangat membutuhkan seorang pria yang
perkasa yang bisa mengendalikan setiap permainan seks. Wanita tidak
mengharapkan apabila pasangannya menjadi mlempem dan tidak bisa
mengedalikannya terutama urusan ranjang. Bagaimana seorang pria bisa
mengendalikan dalam permainan seks yaitu dengan cara penguasaan setiap
permaianan yang baik. Wanita sangat mengharapkan permaianan yang tidak
kasar tetapi juga tidak terlalu lemah, pada dasarnya wanita juga
membutuhkan suatu dorongan seksual yang bisa membantunya
mencapai titi klimaks yang diharapkan. Dengan kepuasan yang dicapai
maka wanita akan takhluk dan sangat mendampakan pada penguasaan pria
yang menjadi pasangannya. REST AFTER SEX Untuk mendapatkan hubungan
seks yang memiliki kualitas intimisasi yang menguntungkan kedua belah
pihak sebaiknya diakhiri percumbuan, kaum pria akan mengubah dominasi
yang dipegangnya menjadi penyerahan kekuasaan atas kenikamatan yang
diperoleh dari pasangannya. Suatu bentuk rasa terima kasih atas
pelayanan badani total dari wanita yang menjadi pasangannya, caranya
adalah pada saat penetrasi berakhir, sebaiknya seorang pria tidak
langsung menghentikan permainan begitu saja. Walaupun secara birahi
sudah berhenti namun dia masih tetap melakukan beberapa gerakan
romantis misalnya mencium, memeluk, merapa, serta memberikan ciuaman
lembut sebagai tanda terima kasih kepada pasangannya dengan membisikan
kata-kata mesra dengan penuh perasaan. Hal yang paling dibenci oleh
wanita adalah apabila sehabis penetrasi berakhir si pria langsung
menghentikan aktivitas seks dan meninggalkan pasangannya begitu saja
atau langsung tertidur tanpa peduli pada pasangannya.
Arifin Syam adalah putra dari kepala bagian pembesar istana dibawah
kekuasaan Raja Hut Mesir, beliau sejak bayi telah ditinggalkan oleh
ayah bundanya kehadirat Allah SWT, dan akhirnya dibesarkan oleh
seorang muslim yang taat, disalah satu kota terpencil bagian negara
Syam.
Nama Arifin Syam sendiri diambil dari kota dimana beliau dibesarkan
kala itu yaitu Negara Syam. Dalam keumuman manusia seusianya, Arifin
Syam dikenal sangat pendiam namun pintar dalam segi bahasa bahkan
saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan
panggilan sufistik kecil dikalangan guru dan pendidik lainnya. Karena
pintar inilah beliau banyak diperebutkan kalangan guru besar diseluruh
negara bagian Timur Tengah, dan sejak usia 11 tahun beliau telah
menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda diberbagai tempat
ternama sepeti : Madinah, Mekkah, Istana Raja Mesir, Masjidil Aqso
Palestina dan berbagai tempat ternama lainnya.
Namun dalam kepribadiannya, beliau banyak dihujat oleh ulama fukkoha,
dikarenakan rambutnya yang semakin hari semakin memanjang tidak
terurus, sehingga dalam pandangan para ahlul fikokkha, Srifin Syam
terkesan bukan sebagai seorang pelajar religius yang mengedepankan
makna tatakrama seorang sufistik agung.
Hal semacam ini bukan karena Arifin Syam tidak mau mencukur rambutnya
yang lambat laun jatuh ke tanah, namun beliau sediri sudah ratusan
kali beriktiar kebelahan dunia untuk mencari orang sakti yang benar-
benar mampu memotonga rambutnya, pasalnya sejak dilahirkan ke alam
dunia, rambut Arifin Syam sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda
tajam maupun alat lainnya dan kisah ini berlanjut hingga beliau
berusia 40 tahun. di usisa 30 tahun beliau diambil oleh Istana Mesir
dan menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan
Tartar, dan dari sinilah nama beliau mulai mashur dikalangan
masyarakat luas sebagai panglima perang tersakti diantara panglima
perang sebelumnya. sebab keumuman seorang panglima kala itu bisa
dilihat dari strategi perangnya dan juga kelihaiannya dalam memainkan
pedang, panah maupun tombak dikancah peperangan, namun lain dengan
Arifin Syam, yang kini sudah bergelar dengan nama Panglima Mohammad
Syam Magelung Sakti, beliau acap kali tidak membawa pedang maupun
tombak dalam memimpin pasukannya, namun beliau selalu menebaskan
rambutnya yang seperti kawat baja disetiap menghadapi ribuan pasukan
musuh sehingga dengan kesaktian rambutnya pula membuat pasukan musuh
pontang panting.
Kisah kesaktian rambutnya mulai mashur di usia 32 tahun dan pada usia
34 tahun beliau bertemu secara yakodho / lahir dengan Nabiyullah Hidir
AS yang mengharuskan beliau mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya
menuju maqom kewalian kamil. Kisah pertemuan dengan Nabiyullah Hidir
AS membuat beliau meninggalkan istana Raja Mesir yang kala itu sangat
membutuhkan tenaganya,
bahkan bukan hanyaitu beliau pun kerap dinantikan oleh seluruh
muridnya dalam pengena (Waliyullah).
Dengan perbekalan makanan dan ratusan kitab yang dibawanya, Mohammad
Syam Magelung Sakti mulai mengarungi belahan dunia dengan membawa
perahu jukung (Perahu getek) seorang diri, beliau mulai mendatangi
beberapa ulama terkenal dan singgah untuk mengangkatnya menjadikan
muridnya, diantara yang disinggahi beliau antara lain : Syeikh Dzatul
Ulum Libanon, Syeikh Attijani Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin
Subhan bin Arsy Bairut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan
India, Syeikh Muawwiyah As-salam Malaka, Syeikh Mahmud Yerussalem,
Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan
Siddrul Muta’ allim Campa, dan masih banyak yang lainnya. Namun walau
begitu banyaknya para Waliyullah yang beliau datangi, tidak satu pun
dari mereka yang menerimanya, mereka malah berbalik berkata
“Sesungguhnya akulah yang meminta agar menjadi muridmu wahai sang
Waliyullah” Dengan kekecewaan yang mendalam, Moh. Syam Magelung Sakti
mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari Mursyid yang
diinginkannya hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang
pertapa sakti bangsa Sanghiyang bernama Resi Purba Sanghiyang
Dursasana Prabu Kala Sengkala di perbatasan sungai selat malaka.
” Datanglah wahai kisanak di pulau Jawa, sesungguhnya disana
telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh Wliyullah, benamkan
hati dan pikiranmu ditelapak kakinya, sesungguhnya beliau mengungguli
dari semua Waliyullah yang ada” Dengan perkataan sang Resi barusan,
Moh. Syam sangat senang mendengarnya dan setelah pamit beliaupun
langsung meneruskan perjalanannya menuju pulau Jawa.
Mungkin pembaca sekalian merasa bingung dengan perkataan Resi tadi
yang menanyatakan “Benamkan hati dan pikiranmu ditelapak kakinya”
seolah perkataan ini terlalu riskan di ucapkan pada seorang yang
mempunyai derajat Waliyullah. Sebelum pen- meneruskan cerita
selanjutnya, ada baiknya Misteri jelaskan terlebih dahulu kata bahasa
tadi agar tidak salah tafsir nantinya… Dalam pemahaman ilmu tauhid,
bahwasannya tingkat ke Walian di bagi menjadi beberapa bagian dan
tingkat tertinggi disini adalah Maqom Quthbul Mutlak, yang di teruskan
dengan Maqom Atmaniyyah, Arba’ atul ‘ Amadu, Muqoyyad, Autad, Nuqiba,
Nujaba ‘ Abdal, Nasrulloh, Rijalulloh dan lain sebagainya.
Diantara Wali yang ada, semua Waliyullah derajatnya dibawah telapak
Quthbul Muthlak sendiri derajatnya sebagai penerus Rosululloh, yaitu
dibawah ketiak atau pundaknya Nabiyulloh Muhammah SAW (Maqom Qurbah).
Jadi walau Moh. Syam Magelung Sakti pada waktu itu derajatnya sudah
mencapai Waliyullah Kamil, namun dalam hal Maqom, beliau belum ada
apa-apanya dengan Maqom Quthbul Mauthlak yang barusan Misteri bedarkan
tadi. Kami lanjutkan ke cerita semula… Setelah Moh. Syam sampai dilaut
pulau Jawa, beliau akhirnya singgah disalah satu pedesaan sambil tiada
hentinya bertafakkur memohon kepada Allah SWT, untuk cepat ditemukan
dengan Mursyid yang diinginkannya, tepatnya pada malam jum’ at kliwon
ditengah heningnya malam yang sunyi tiba-tiba beliau dikejutkan oleh
suara uluk salam dari seseorang ” Assalamu’ alaikum Ya Akhi min Ahli
Wilyah” lalu beliau pun dengan gugup menjawabnya ” Wa’ alaikum salam
Ya Nabiyulloh Hidir AS yang telah membawaku ke pintu Rohmatallil’
alamiin. Lima tahun sudah Ananda mencari riddhoku dan kini ananda
telah mencapainya, datanglah ke kota Cirebon dan temuilah Syarif
Hidayatulloh, sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja sebagai
Maqom Quthbul Mutkhlak, terang Nabiyulloh Hidir AS, sambil menghilang
dari pandangannya. Dengan semangat yang menggebu beliau langsung
mengayuh jukungnya menuju kota Cirebon yang dimaksud, sedangkan
ditempat lain Syarif Hidayatulloh / Sunan Gunung Jati yang sudah
mengetahui kedatangan Moh. Syam Magelung Sakti lewat Maqomnya saat itu
beliau langsung mengutus uwaknya sekaligus mertuanya Mbah Kuwu Cakra
Buana untuk menjemputnya di pelabuhan laut Cirebon.
Sesampainya ditempat dimana Sunan Gunung Jati memerintahkannya. Mbah
Kuwu tidak langsung menghadapkannya kepada Kanjeng Sunan, melainkan
mengujinya terlebih dahulu, hal semacam ini bagi pemahaman ilmu tauhid
disebut “Tahkikul ‘ Ubudiyyah Fissifatir Robbaniah / meyakinkan
seorang Waliyulloh pada tingkat ke Walian diantara hak dan Nur Robbani
yang dipegangnya.
Setelah Moh. Syam sudah berada dihadapan Mbah Kuwu Cakra Buana, beliau
langsung uluk salam
menyapanya ” wahai kisanak, taukah anda dimana saya harus bertemu
dengan Sunan Gunung Jati? namun yang ditanya malah mengindahkan
pertanyaannya dan balik bertanya.. ” sudahkah kisanak sholat dhuhur,
setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh? terang Mbah Kuwu. ditanya
seperti itu Moh. Syam langsung mengangguk mengiyakan bahwa memang
dirinya belum melaksanakan sholat dhuhur, lalu Mbah Kuwu mengambil
satu bumbung kecil yang terbuat dari bambu “Masuklah dan sholat
berjamaah denganku” Sambil terheran- heran Moh. Syam mengikuti langkah
manusia aneh dihadapannya yang tak lain adalah Mabh Kuwu Cakra Buana,
masuk kedalam bumbung bambu yang ternyata dalamnya sangat luas dan
bertengger Musholla besar yang sangat anggun, setelah usai sholat Mbah
Kuwu mengajaknya menuju kota Cirebon, namun sebelum sampai ketempat
tujuan atas hawatif yang diterimanya dari sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu
memotong rambutnya dan langsung menghilang dari hadapan Moh. Syam
Magelung Sakti. Tahu rambutnya telah terpotong beliau langsung
berkeyakinan bahwa tiada lain manusia tadi (Mbah Kuwu) adalah Sunan
Gunung Jati yang dimaksud. lalu beliaupun memanggilnya tiada henti
hingga keseluruhan pelosok desa.
Kisah terpotongnya rambut Moh. Syam yang kini terkenal dengan sebutan
Syeikh Magelung Sakti kini masih dilestarikan dan menjadi nama desa
hingga kini yaitu di Desa Karang Getas sebelah selatan kantor wali
kota Cirebon dan tahukah anda berapa meter rambut Syeikh Magelung
Sakti, sesungguhnya? yaitu 340 m, atau sepanjang jalan Karang Getas,
antara perbatasan desa Pagongan hingga lampu merah pasar Kanoman.
Panjangnya rambut syeikh Magelung Sakti ini sudah dapat restu dari
beberapa ulama khosois seperti Syeikh Auliya Nur Ali, Syeikh Kamil
Ahmad Trusmi, Syeikh Ahmad Sindang Laut, Syeikh Asnawi bin Subki
Gedongan.
Misteri lanjutkan kembali, dengan rasa bersemangat Moh. Syam terus
mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya barusan memotong
rambutnya, beliau terus berlari sambil memanggil nama Sunan Gunung
Jati terus-menerus, pada suatu tempat tanpa disadari olehnya, beliau
masuk dalam kerumunan orang banyak yang tak lain sedang dibuka
perlombaan memperebutkan putri cantik dan sakti, Nyimas Gandasari
Panguragan. Merasa dirinya masuk gelanggang arena, Wanita cantik yang
tak lain adalah Nyimas Gandasari langsung menyerangnnya… Merasa
dirinya diserang secara mendadak, Moh. Syam langsung mengelak dan
menjauhinya, namun bagaimana dengan Nyimas Gandasari sendiri yang kala
itu sedang diperebutkan para jawara dari berbagai pelosok daerah.
beliau sangat tersinggung dengan menghindarinya pemuda yang barusan
masuk tadi, maka dengan serangan berapi-api Nyimas Gandasari langsung
melipat gandakan tenaganya untuk menglahkan pesaing yang kini sedang
dihadapinya.
Dengan perasaan dongkol, Moh. Syam akhirnya memutuskan untuk
melayaninya dengan bersungguh hati hingga ditengah perjalanan Nyimas
Gandasari sangat kewalahan. Merasa kesaktiannya kalah dibawah pemuda
asing yang kini sedang dihadapinya, maka dengan sesekali loncatan
Nyimas Gandasari berucap “Ya Kanjeng Susuhan Sunan Gunung Jati,
Yajabarutihi ila sulthonil alam, kun fayakun Lailaha Illallah Muhamad
Rosululloh” lalu beliau langsung terbang ke awang- awang dengan maksud
agar pemuda tadi tidak sampai mengejarnya. lain dengan jalan pikiran
Moh. Syam waktu itu setelah beliau mendengar nama Sunan Gunung Jati
disebutnya, beliau tambah berambisi utnuk mencari tahu, maka
disusullah Nyimas Gandasari, hingga sampai tangan kanannya
terperangkap.
Merasa dirinya panik Nyimas Gandasari langsung melepaskan tangan Moh.
Syam sambil tubuhnya menukik tajam kebawah. pada saat yang bersamaan
Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur disungai Kali Jaga, kedatangan
Nyimas Gandasari yang wajahnya terlihat pucat pasi dan sambil menuding
kearah depan Nyimas Gandasari, memohon kepada gurunya agar pemuda yang
mengejarnya tidak melihat dirinya. lalu dengan menyelipkan tubuhnya
dibawah bekiak kakinya, kanjeng sunan Gunung Jati berkata pada pemuda
yang barusan datang dihadapannya ” Wahai kisanak, anda mencari siapa
ditempat yang sepi seperti ini?” lalu Moh. Syam pun menjawabnya ”
Kisanak mohon maaf sesungguhnya saya datang kemari mencari gadis untuk
meminta bantuannya, dimana saya bisa menemui Sunan Gunung Jati?”
dengan tersenyum akhirnya Sunan Gunung Jati melepaskan wujud kecil
Nyimas Gandasari ke wujud semula dan meminta berterus terang dengan
apa yang pernah di ikrarkan sebelumnya, yaitu wajib mematuhi janjinya
untuk menikah dengan orang yang mengalahkan kesaktiannya.
Dengan perjalanan ini akhirnya Moh. Syam berganti nama dengan sebutan
Pangeran Soka dan dipenghujung cerita antara Nyimas Gandasari dan
Pangeran Soka akhirnya berikrar untuk meneruskan perjalanan hidupnya
menuju ilmu tauhid yang lebih matang hingga mereka berdua mufakat
menjalankan nikah bisirri
tanpa hubungan badan selayaknya suami istri, namun akan bersatu dengan
nikah hakikiyah di alam surga kelak dengan disaksikan langsung oleh
Sunan Gunung Jati Min Quthbil Mutlak ila Jami’ il Waliyulloh.
Dharavi (Hindi and Marathi: धारावी; also spelled Daravi, Darravy, Dorrovy) is a slum in Mumbai, India. It is one of the largest slums in the world.
Dharavi slum was founded in 1880s during the British colonial era. The slum grew in part because of expulsion of factories and residents from peninsular city center by colonial government, and from rural poor migrating into urban Mumbai (then called Bombay). Modern day Dharavi came to be founded in the 1940's once the British left India, and once the majority property holders of the area, Shantilal Nemchand and Co sold off there property holdings allowing houses to be built. It is currently a multi-religious, multi-ethnic, diverse settlement. Dharavi's total population estimates vary between 300,000 to about 1 million.
Dharavi has an active informal economy in which numerous household enterprises employ many of the slum residents. It exports goods around the world. Leather, textiles and pottery products are among the goods made inside Dharavi by the slum residents. The total annual turnover has been estimated at over US$500 million.
Dharavi has suffered through many incidences of epidemics and other disasters. It currently covers an area of 217 hectares.
HISTORY
In the 18th century, Dharavi was an island. In February 1739, Chimnaji Appa attacked Bassein. Before that, he took possession of Dharavi. The area of present-day Dharavi was predominantly mangrove swamp before the late 19th century, inhabited by Koli fishermen. Dharavi was then referred to as the village of Koliwadas.
COLONIAL ERA
Mumbai has been one of the centers of India's urbanization for 200 years. At the middle of the 19th century, after decades of urban growth under East India Company and British Raj, the city's population reached half a million. The urban area then covered mostly the southern extension of Mumbai peninsula, the population density was over 10 times higher than London at that time. Most parts of Mumbai faced an acute shortage of housing and serious problems with the provision of water, sanitation and drainage. Residential areas were segregated in Mumbai between European and 'native' residential quarters. Slums were heavily concentrated in areas meant for 'native' Indian population, and it attracted no planning or London-like investment for quality of life of its inhabitants. Unsanitary conditions plagued Mumbai, particularly in the so-called Native Town, the segregated section where Indians lived. In 1869, as with 19th century epidemics in European slums, bubonic plague spread in Mumbai and then across most of India. The epidemic killed nearly 200,000 people in Mumbai and 8 million in India. In 1880s, concerned about epidemics, the British colonial government expelled polluting industries and many Indian residents of the Native Town, away from the peninsular part of the city, to a distant edge of the city in the north in the village of Koliwadas. Thus was born Dharavi.
The most polluting industries were tanneries, and the first tannery moved from peninsular Mumbai into Dharavi in 1887. People who worked with leather, typically a profession of lowest Hindu castes and of Muslim Indians, moved into Dharavi. Other early settlers included the Kumbars, a large Gujarati community of potters (another polluting industry). The colonial government granted them a 99-year land-lease in 1895. Rural migrants looking for jobs poured into Mumbai, and its population soared past 1 million. Other artisans, like the embroidery workers from Uttar Pradesh, started the ready-made garments trade. These industries created jobs, labor moved in, but there was no effort to plan or invest in any infrastructure in or near Dharavi. The living quarters and small scale factories grew haphazardly, without provision for sanitation, drains, safe drinking water, roads or other basic services. Dharavi's first mosque, Badi Masjid, started in 1887 and the oldest Hindu temple, Ganesh Mandir, was built in 1913. A large influx of Tamil migrants came in the 1920s. Bombay's first Tamil school and Dharavi's first school was constructed in 1924.
POST INDEPENDENCE
At India's Independence from colonial rule in 1947, Dharavi had grown to be the largest slum in Mumbai and all of India. It still had a few empty spaces, which continued to serve as waste dumping grounds for operators across the city. Mumbai, meanwhile, continued to grow as a city. Soon Dharavi was surrounded by the city, and became a key hub for informal economy. Dharavi's Co-operative Housing Society was formed in the 1960s to uplift the lives of thousands of slum dwellers by the initiative of Shri. M.V. Duraiswamy, a well-known social worker and congress leader of that region. The Dharavi co-operative housing society promoted 338 flats and 97 shops and was named "Dr. Baliga Nagar". By late 20th century, Dharavi occupied about 175 hectares, with an astounding population density of more than 2900 people per hectare.
DEMOGRAPHICS
The total current population of Dharavi slum is unknown, and estimates vary widely. Some sources suggest it is 300,000 to about a million. With Dharavi spread over 200 hectares, this corresponds to an average population density estimate between 1500 and 5000.
About 33% of the population of Dharavi is Muslim, compared to 13% average population of Muslims in India. The Christian population is estimated to be about 6%, while the rest are predominantly Hindus (60%), with some Buddhists and other minority religions. Among the Hindus, about 20% work on animal skin production, tanneries and leather goods. Other Hindus specialize in pottery work, textile goods manufacturing, retail and trade, distilleries and other caste professions - all of these as small scale household operations. The slum residents are from all over India, people who migrated from rural regions of many different states. The slum has numerous mosques, temples and churches to serve people of Islam, Hindu and Christian faiths; with Badi Masjid, a mosque, as the oldest religious structure in Dharavi.
LOCATION & CHARACTERISTICS
Dharavi is situated between Mumbai's two main suburban railway lines, the Western and Central Railways. To its west are Mahim and Bandra, and to the north lies the Mithi River, which empties into the Arabian Sea through the Mahim Creek. To its south and east are Sion and Matunga. Both its location and poor drainage systems make Dharavi particularly vulnerable to floods during the wet season.
Dharavi has a high population density, and as with other worldwide slums, overcrowded. It is mostly low rise structures surrounded by Mumbai city. In most large cities, the floor space index (FSI) varies from 5 to 15 in the Central Business District (CBD) to about 0.5, or below, in the suburbs. Dharavi's FSI is very low. Still, in expensive Mumbai, Dharavi provides a cheap alternative where rents were as low as US$4 per month in 2006.
There is a disagreement if Dharavi is the largest slum in Mumbai. Some sources claim other slums in Mumbai have grown to become larger than Dharavi. Other sources disagree, and rank Dharavi as the largest slum in India.
ECONOMY
In addition to the traditional pottery and textile industries in Dharavi, there is an increasingly large recycling industry, processing recyclable waste from other parts of Mumbai. The district has an estimated 5000 businesses and 15,000 single-room factories.
Dharavi exports goods around the world. The total (and largely informal economy) turnover is estimated to be between US$500 million, over US$650 million per year, to over US$1 billion per year. The per capita income of the residents, depending on estimated population range of 300,000 to about 1 million, ranges between US$500 to US$2000 per year.
REDEVELOPMENT PLANS
There have been many plans since 1997 to redevelop Dharavi like the former slums of Hong Kong such as Tai Hang. In 2004, the cost of redevelopment was estimated to be INR5000 crore (US$810 million). Companies from around the world have bid to redevelop Dharavi, including Lehman Brothers, Dubai's Limitless and Singapore's Capitaland Ltd. In 2010, it is estimated to cost INR15000 crore (US$2.4 billion) to redevelop.
The latest urban redevelopment plan proposed for the Dharavi area is managed by American-trained architect Mukesh Mehta. The plan involves the construction of 2,800,000 square metres of housing, schools, parks and roads to serve the 57,000 families residing in the area, along with 3,700,000 square metres of residential and commercial space for sale. There has been significant local opposition to the plans, largely because existing residents are due to receive only 25.0 square metres of land each. Furthermore, only those families who lived in the area before 2000 are slated for resettlement. Concerns have also been raised by residents who fear that some of their small businesses in the "informal" sector may not be relocated under the redevelopment plan. The government has said that it will only legalize and relocate industries that are not "polluting".
SANITATION ISSUES
Dharavi has severe problems with public health, due to the scarcity of toilet facilities, due in turn to the fact that most housing and 90% of the commercial units in Dharavi are illegal. As of November 2006 there was only one toilet per 1,440 residents in Dharavi. Mahim Creek, a local river, is widely used by local residents for urination and defecation, leading to the spread of contagious diseases. The area also suffers from problems with inadequate drinking water supply.
EPIDEMICS & OTHER SISASTERS
Dharavi has experienced a long history of epidemics and natural disasters, sometimes with significant loss of lives. The first plague to devastate Dharavi, along with other settlements of Mumbai happened in 1896, when nearly half of the population perished. A series of plagues and other epidemics continued to affect Dharavi, and Mumbai in general, for the next 25 years, with high mortality rates. Dysentery epidemics have been common throughout the years and explained with the high population density of Dharavi. Other epidemics reported include typhoid, cholera, leprosy, amoebiasis and polio, through recent years. For example, in 1986, a children cholera epidemic was reported, where most patients were residents of Dharavi. Typical patients to arrive in hospitals were in late and critical care condition, and the mortality rates were abnormally high. In recent years, cases of drug resistant tuberculosis have been reported in Dharavi.
Fires and other disasters are common. For example, in January 2013, a fire destroyed many slum properties and caused injuries. In 2005, massive floods caused deaths and extensive property damage.
GUIDED TOURS THROUGH DHARAVI
A few travel operators offer guided tours through Dharavi, showing the industrial and the residential part of Dharavi and explaining about problems and challenges Dharavi is facing. These tours give a deeper insight into a slum in general and Dharavi in particular.
MEDIA DECIPTION
- Dharavi has been depicted in a number of Hindi films produced by the Mumbai film industry. These include Salim-Javed films such as Deewaar (1975), Mira Nair's Salaam Bombay! (1988) where several child actors were from the Dharavi slum, Vidhu Vinod Chopra's Parinda (1989), Sudhir Mishra's Dharavi (1991), Ram Gopal Varma's "Indian Gangster Trilogy" (1998–2005) and Sarkar series (2005–2008), Vikram Bhatt's Footpath (2003), Anurag Kashyap's Black Friday (2004) and No Smoking (2007), Madhur Bhandarkar's Traffic Signal (2007), Rajeev Khandelwal's Aamir (2008), and other films based on the Mumbai underworld.
- Dharavi has been depicted in films from other Indian film industries, particularly the Tamil film industry. Several films by Mani Ratnam based on the experiences of Tamil immigrants to Mumbai have depicted the Dharavi slum, including Nayagan (1987) and Bombay (1995).
- Dharavi features prominently in Danny Boyle's 2008 film Slumdog Millionaire, where several of the child actors in the film are from the Dharavi slum.
- The movie Mankatha was shot here starring Ajith kumar.
- The movie Businessman was shot here starring Mahesh Babu.
- In Kaminey, the 2009 Hindi movie, starring Shahid Kapoor.
- In the 2009 Swiss/German documentary Dharavi, Slum for Sale of director Lutz Konermann.
- In a programme aired in the United Kingdom in January 2010, Kevin McCloud and Channel 4 aired a two-part series titled Slumming It which centered around Dharavi and its inhabitants.
- The poem "Blessing" by Imtiaz Dharker is about Dharavi not having enough water.
- For The Win, by Cory Doctorow, is partially set in Dharavi.
Posting 5 new (and final) pictures today.
We only got down to the beach for one sunset this time, and this was it. I think it was worth the 50-yard walk from the house.
The finale at the joint 2016 Salute to America concert by the Detroit Symphony Orchestra and the United States Army Field Band, Concert Band and Soldiers' Chorus at the Henry Ford, Greenfield Village, Dearborn, Michigan
2016, went with Gary, Don & Chris
I feel like the morning is one big rush to get out the door as quickly a possible, and the more I can do at one time, the better.
This is a good representation of trying to do multiple things at one time to get out the door quicker.
Strobist: I have a 580EXII speedlite bouncing off the ceiling, and a 430EXII in my left hand behind the magazine shooting at my chest and face. Fired with Canon St-E2