View allAll Photos Tagged multi

Belatedly got around to processing these

Multi Themed Cake. Swimming, Video Gaming, Chess and Soccer Ball top off this birthday cake. Made with butter cream frosting. Happy Birthday sign on Soccer ball cake.

Abt. 1948. My beautiful mom! She majored in college in Clothing and Textiles and made most of her own clothes, including this swimsuit. She always had style...

April fun.

Multi-print minidress over white bra, red knickers, black suspender belt and tan stockings.

 

You are looking up my dress, aren't you?

Should’ve worn tights.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Barcelona, Spain

Dalam suatu perkawinan tidak jarang bagi seorang wanita yang

mengeluhkan bahwa dia tidak bisa merasakan apa yang namanya orgasme,

terkadangprinsip seorang wanita adalah hanya sebagai

pelayan bagi suaminya dalam berhubungan seks, mereka tidak ambil

pusing apakah dia bisa orgasme atau tidak. Inilah yang akan menjadi

bomerang bagi dirinya sendiri yang pada akhirnya secara tidak langsung

berdampak pada kehidupan seks mereka sendiri. Bagi seorang pria, seks

adalah yang utama dalam suatu perkawinan, pria yang baik adalah pria

yang memberi kesempatan pada pasangannya untuk bersama-sama menikmati

orgasme, jadi tidak adil kalau seorang pria hanya mementingkan dirinya

sendiri tanpa peduli apakah pasangannya puas atau tidak. Pria yang

bijak senantiasa membangun keintiman seksual jauh sebelum berfikir

mengajak pasangannya ke tempat tidur. Setiap saat dia akan bersikap

romantis dan dengan sabar melakukan rangsangan- rangsangan halus tapi

sering. Dalam benaknya selalu berfikir memposisikan dirinya sebagai

seorang penggoda yang romantis. Upaya memperdalam pengetahuan seksual

kaum wanita pun menjadi bagian yang

harus dikembangkan. Sehingga dari sana akan muncul suatu pengalaman

seksual yang menakjubkan, Seorang pria yang bisa memberikan kepuasan

di tempat tidur pada pasangannya akan mendapatkan pelayanan lebih

dalam kehidupan sehari-hari dari pasangannya yaitu kesetiaan dan kasih

saying total.

Ada beberapa cara yang biasa kaum pria lakukan untuk membuat wanita

bertekuk lutut

adalah : ANTISIPASI Betapa pentingnya antisipasi seorang pria untuk

memahami kepuasan seksual seorang wanita, seliar apapun wanita yang

dihadapinya, dia akan memerlukan alat bantu untuk membangkitkan hasrat

seksualnya. Antisipasi seks adalah suatu proses dimana aktivitas

seksual dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana. Misalnya melakukan

kegiatan yang memberikan kesan mendalam bagi seorang wanita. Pria yang

pengertian akan membantu pekerjaan rumah pasangannya dan memberikan

surprise untuk pasangannya yang tentunya sangat berkesan bagi wanita.

Sebagai contoh, seorang pria mengajak pasangannya ke kamar mandi yang

tentunya sudah dipersiapkan sebelumnya dengan dan memberikan

kesempatan pada wanita untuk memanjakan dirinya dalam bak mandi, dalam

hal ini pria tidak seolah-olah tidak tertarik pada seks dan sengaja

membuat wanita sendirian dalam bak mandi dengan membisikkan bahwa dia

punya kejutan untuk wanita tersebut. Setelah mandi pria menggandeng

perut wanita

ke tempat pembaringan, kamar dibikun redup, dengan musik lembut.

Kemudian si pria mengurut-urut tubuh si wanita mulai dari kaki menuju

ke atas dengan berusaha tidak menyentuh daerah sensitive wanita.

Setelah beberapa saat melakukan pengurutan, usapan, elusan dan pelukan

serta cumbuan lalu si pria merenggut seluruh pakaian si wanita hingga

tertanggal semua. Dengan memancing penasaran semacam itu, gelora

birahi wanita akan terus meninggi sehingga pada klimaksnya si wanita

akan mendapatkan kepuasan total yang jarang ia temukan sebelumnya.

Tampaknya cara di atas sangat ribet, perlu kesabaran untuk

melaksanakannya, namun efeknya sangat luar biasa. Si wanita akan

selalu mengenang kehebatan si pria tidak hanya untuk satu malam saja.

Keintiman yang dibangun dengan cara tersebut akan menghasilkan

malam-malam panas yang dihiasi oleh berbagai kegiatan seksual yang

menakjubkan. Masalah seksual sebenarnya sangat manusiawi, sama halnya

dengan mengerjakan pekerjaan lainnya. Memerlukan kerja keras dan

ketabahan dalam menghadapi berbagai kendala yang menyertainya. Untuk

mendapatkan keberhasilan yang diharapkan disamping kerja keras dan

ketabahan, juga perlu sekali pembentukan karakter kuat untuk

mewujudkannya. MEMBANTUNYA SANTAI Untuk mendapatkan kepuasan seksual

sepenuhnya, seorang wanita sangat membutuhkan istirahat yang cukup

dalam kesehariannya. Oleh karena itu untuk memenuhinya, seorang pria

perlu membantu mencapai status rileksasi tertinggi yang dibutuhkannya.

Ada beberapa cara yang sering dilakukan pria berpengalaman untuk

membuat wanita merasa rileks yaitu dengan tidak terburu-buru ketika

berhadapan dengannya, perlakukan dia dengan lembut dan penuh

kesabaran. Selanjutnya raba-raba dan elus-elus rambut dan wajahnya,

bisikan kata rayuan di telinganya. Kemudian sentuh dia sambil

mengucapkan kata-kata yang menyejukkan. Jika cara ini dilakukan dengan

sabar dan teliti wanita yang paling tegang sekali pun akan berubah

menjadi makhluk yang paling santai. MENCUMBU SELURUH TUBUH Banyak pria

yang beranggapan salah tentang cumbuan, mereka

menganggap bahwa hanya bagian tertentu saja yang perlu dicumbu yang

dianggap sensitif. Padahaluntuk mendapatkan hasil yang maksimal agar

wanita bisa mendapatkan kepuasan orgasme total seorang pria yang

berpengalaman pasti melakukan cumbuan di seluruh bagian tubuh yang

ada. Titik- titik releksasi ada pada hampir seluruh tubuh, sehingga

pada saatnya klimaks akan membuat seorang wanita merasa tubuhnya

menjadi sesuatu yang benar-benar terpuaskan. Hangati setiap bagian

tubuhnya dengan sentuhan dan pelukan dengan lembut. Sentuhlah bagian

tubuh wanita dari ujung kaki hingga kepala, dengan sentuhan yang

lembut secara menyeluruh akan membuat seorang wanita merasa siap untuk

memulai pertempuran yang sesungguhnya karena itu saatnya seorang pria

memulai permainan seks yang diharapkan. BUTUH DOMINATOR Hampir setiap

wanita mengharapkan seorang pria yang mampu mengendalikan dirinya yang

tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga dalam setia

permainan seks, seorang wanita sangat membutuhkan seorang pria yang

perkasa yang bisa mengendalikan setiap permainan seks. Wanita tidak

mengharapkan apabila pasangannya menjadi mlempem dan tidak bisa

mengedalikannya terutama urusan ranjang. Bagaimana seorang pria bisa

mengendalikan dalam permainan seks yaitu dengan cara penguasaan setiap

permaianan yang baik. Wanita sangat mengharapkan permaianan yang tidak

kasar tetapi juga tidak terlalu lemah, pada dasarnya wanita juga

membutuhkan suatu dorongan seksual yang bisa membantunya

mencapai titi klimaks yang diharapkan. Dengan kepuasan yang dicapai

maka wanita akan takhluk dan sangat mendampakan pada penguasaan pria

yang menjadi pasangannya. REST AFTER SEX Untuk mendapatkan hubungan

seks yang memiliki kualitas intimisasi yang menguntungkan kedua belah

pihak sebaiknya diakhiri percumbuan, kaum pria akan mengubah dominasi

yang dipegangnya menjadi penyerahan kekuasaan atas kenikamatan yang

diperoleh dari pasangannya. Suatu bentuk rasa terima kasih atas

pelayanan badani total dari wanita yang menjadi pasangannya, caranya

adalah pada saat penetrasi berakhir, sebaiknya seorang pria tidak

langsung menghentikan permainan begitu saja. Walaupun secara birahi

sudah berhenti namun dia masih tetap melakukan beberapa gerakan

romantis misalnya mencium, memeluk, merapa, serta memberikan ciuaman

lembut sebagai tanda terima kasih kepada pasangannya dengan membisikan

kata-kata mesra dengan penuh perasaan. Hal yang paling dibenci oleh

wanita adalah apabila sehabis penetrasi berakhir si pria langsung

menghentikan aktivitas seks dan meninggalkan pasangannya begitu saja

atau langsung tertidur tanpa peduli pada pasangannya.

Arifin Syam adalah putra dari kepala bagian pembesar istana dibawah

kekuasaan Raja Hut Mesir, beliau sejak bayi telah ditinggalkan oleh

ayah bundanya kehadirat Allah SWT, dan akhirnya dibesarkan oleh

seorang muslim yang taat, disalah satu kota terpencil bagian negara

Syam.

Nama Arifin Syam sendiri diambil dari kota dimana beliau dibesarkan

kala itu yaitu Negara Syam. Dalam keumuman manusia seusianya, Arifin

Syam dikenal sangat pendiam namun pintar dalam segi bahasa bahkan

saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan

panggilan sufistik kecil dikalangan guru dan pendidik lainnya. Karena

pintar inilah beliau banyak diperebutkan kalangan guru besar diseluruh

negara bagian Timur Tengah, dan sejak usia 11 tahun beliau telah

menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda diberbagai tempat

ternama sepeti : Madinah, Mekkah, Istana Raja Mesir, Masjidil Aqso

Palestina dan berbagai tempat ternama lainnya.

Namun dalam kepribadiannya, beliau banyak dihujat oleh ulama fukkoha,

dikarenakan rambutnya yang semakin hari semakin memanjang tidak

terurus, sehingga dalam pandangan para ahlul fikokkha, Srifin Syam

terkesan bukan sebagai seorang pelajar religius yang mengedepankan

makna tatakrama seorang sufistik agung.

Hal semacam ini bukan karena Arifin Syam tidak mau mencukur rambutnya

yang lambat laun jatuh ke tanah, namun beliau sediri sudah ratusan

kali beriktiar kebelahan dunia untuk mencari orang sakti yang benar-

benar mampu memotonga rambutnya, pasalnya sejak dilahirkan ke alam

dunia, rambut Arifin Syam sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda

tajam maupun alat lainnya dan kisah ini berlanjut hingga beliau

berusia 40 tahun. di usisa 30 tahun beliau diambil oleh Istana Mesir

dan menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan

Tartar, dan dari sinilah nama beliau mulai mashur dikalangan

masyarakat luas sebagai panglima perang tersakti diantara panglima

perang sebelumnya. sebab keumuman seorang panglima kala itu bisa

dilihat dari strategi perangnya dan juga kelihaiannya dalam memainkan

pedang, panah maupun tombak dikancah peperangan, namun lain dengan

Arifin Syam, yang kini sudah bergelar dengan nama Panglima Mohammad

Syam Magelung Sakti, beliau acap kali tidak membawa pedang maupun

tombak dalam memimpin pasukannya, namun beliau selalu menebaskan

rambutnya yang seperti kawat baja disetiap menghadapi ribuan pasukan

musuh sehingga dengan kesaktian rambutnya pula membuat pasukan musuh

pontang panting.

Kisah kesaktian rambutnya mulai mashur di usia 32 tahun dan pada usia

34 tahun beliau bertemu secara yakodho / lahir dengan Nabiyullah Hidir

AS yang mengharuskan beliau mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya

menuju maqom kewalian kamil. Kisah pertemuan dengan Nabiyullah Hidir

AS membuat beliau meninggalkan istana Raja Mesir yang kala itu sangat

membutuhkan tenaganya,

bahkan bukan hanyaitu beliau pun kerap dinantikan oleh seluruh

muridnya dalam pengena (Waliyullah).

Dengan perbekalan makanan dan ratusan kitab yang dibawanya, Mohammad

Syam Magelung Sakti mulai mengarungi belahan dunia dengan membawa

perahu jukung (Perahu getek) seorang diri, beliau mulai mendatangi

beberapa ulama terkenal dan singgah untuk mengangkatnya menjadikan

muridnya, diantara yang disinggahi beliau antara lain : Syeikh Dzatul

Ulum Libanon, Syeikh Attijani Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin

Subhan bin Arsy Bairut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan

India, Syeikh Muawwiyah As-salam Malaka, Syeikh Mahmud Yerussalem,

Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan

Siddrul Muta’ allim Campa, dan masih banyak yang lainnya. Namun walau

begitu banyaknya para Waliyullah yang beliau datangi, tidak satu pun

dari mereka yang menerimanya, mereka malah berbalik berkata

“Sesungguhnya akulah yang meminta agar menjadi muridmu wahai sang

Waliyullah” Dengan kekecewaan yang mendalam, Moh. Syam Magelung Sakti

mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari Mursyid yang

diinginkannya hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang

pertapa sakti bangsa Sanghiyang bernama Resi Purba Sanghiyang

Dursasana Prabu Kala Sengkala di perbatasan sungai selat malaka.

” Datanglah wahai kisanak di pulau Jawa, sesungguhnya disana

telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh Wliyullah, benamkan

hati dan pikiranmu ditelapak kakinya, sesungguhnya beliau mengungguli

dari semua Waliyullah yang ada” Dengan perkataan sang Resi barusan,

Moh. Syam sangat senang mendengarnya dan setelah pamit beliaupun

langsung meneruskan perjalanannya menuju pulau Jawa.

Mungkin pembaca sekalian merasa bingung dengan perkataan Resi tadi

yang menanyatakan “Benamkan hati dan pikiranmu ditelapak kakinya”

seolah perkataan ini terlalu riskan di ucapkan pada seorang yang

mempunyai derajat Waliyullah. Sebelum pen- meneruskan cerita

selanjutnya, ada baiknya Misteri jelaskan terlebih dahulu kata bahasa

tadi agar tidak salah tafsir nantinya… Dalam pemahaman ilmu tauhid,

bahwasannya tingkat ke Walian di bagi menjadi beberapa bagian dan

tingkat tertinggi disini adalah Maqom Quthbul Mutlak, yang di teruskan

dengan Maqom Atmaniyyah, Arba’ atul ‘ Amadu, Muqoyyad, Autad, Nuqiba,

Nujaba ‘ Abdal, Nasrulloh, Rijalulloh dan lain sebagainya.

Diantara Wali yang ada, semua Waliyullah derajatnya dibawah telapak

Quthbul Muthlak sendiri derajatnya sebagai penerus Rosululloh, yaitu

dibawah ketiak atau pundaknya Nabiyulloh Muhammah SAW (Maqom Qurbah).

Jadi walau Moh. Syam Magelung Sakti pada waktu itu derajatnya sudah

mencapai Waliyullah Kamil, namun dalam hal Maqom, beliau belum ada

apa-apanya dengan Maqom Quthbul Mauthlak yang barusan Misteri bedarkan

tadi. Kami lanjutkan ke cerita semula… Setelah Moh. Syam sampai dilaut

pulau Jawa, beliau akhirnya singgah disalah satu pedesaan sambil tiada

hentinya bertafakkur memohon kepada Allah SWT, untuk cepat ditemukan

dengan Mursyid yang diinginkannya, tepatnya pada malam jum’ at kliwon

ditengah heningnya malam yang sunyi tiba-tiba beliau dikejutkan oleh

suara uluk salam dari seseorang ” Assalamu’ alaikum Ya Akhi min Ahli

Wilyah” lalu beliau pun dengan gugup menjawabnya ” Wa’ alaikum salam

Ya Nabiyulloh Hidir AS yang telah membawaku ke pintu Rohmatallil’

alamiin. Lima tahun sudah Ananda mencari riddhoku dan kini ananda

telah mencapainya, datanglah ke kota Cirebon dan temuilah Syarif

Hidayatulloh, sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja sebagai

Maqom Quthbul Mutkhlak, terang Nabiyulloh Hidir AS, sambil menghilang

dari pandangannya. Dengan semangat yang menggebu beliau langsung

mengayuh jukungnya menuju kota Cirebon yang dimaksud, sedangkan

ditempat lain Syarif Hidayatulloh / Sunan Gunung Jati yang sudah

mengetahui kedatangan Moh. Syam Magelung Sakti lewat Maqomnya saat itu

beliau langsung mengutus uwaknya sekaligus mertuanya Mbah Kuwu Cakra

Buana untuk menjemputnya di pelabuhan laut Cirebon.

Sesampainya ditempat dimana Sunan Gunung Jati memerintahkannya. Mbah

Kuwu tidak langsung menghadapkannya kepada Kanjeng Sunan, melainkan

mengujinya terlebih dahulu, hal semacam ini bagi pemahaman ilmu tauhid

disebut “Tahkikul ‘ Ubudiyyah Fissifatir Robbaniah / meyakinkan

seorang Waliyulloh pada tingkat ke Walian diantara hak dan Nur Robbani

yang dipegangnya.

Setelah Moh. Syam sudah berada dihadapan Mbah Kuwu Cakra Buana, beliau

langsung uluk salam

menyapanya ” wahai kisanak, taukah anda dimana saya harus bertemu

dengan Sunan Gunung Jati? namun yang ditanya malah mengindahkan

pertanyaannya dan balik bertanya.. ” sudahkah kisanak sholat dhuhur,

setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh? terang Mbah Kuwu. ditanya

seperti itu Moh. Syam langsung mengangguk mengiyakan bahwa memang

dirinya belum melaksanakan sholat dhuhur, lalu Mbah Kuwu mengambil

satu bumbung kecil yang terbuat dari bambu “Masuklah dan sholat

berjamaah denganku” Sambil terheran- heran Moh. Syam mengikuti langkah

manusia aneh dihadapannya yang tak lain adalah Mabh Kuwu Cakra Buana,

masuk kedalam bumbung bambu yang ternyata dalamnya sangat luas dan

bertengger Musholla besar yang sangat anggun, setelah usai sholat Mbah

Kuwu mengajaknya menuju kota Cirebon, namun sebelum sampai ketempat

tujuan atas hawatif yang diterimanya dari sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu

memotong rambutnya dan langsung menghilang dari hadapan Moh. Syam

Magelung Sakti. Tahu rambutnya telah terpotong beliau langsung

berkeyakinan bahwa tiada lain manusia tadi (Mbah Kuwu) adalah Sunan

Gunung Jati yang dimaksud. lalu beliaupun memanggilnya tiada henti

hingga keseluruhan pelosok desa.

Kisah terpotongnya rambut Moh. Syam yang kini terkenal dengan sebutan

Syeikh Magelung Sakti kini masih dilestarikan dan menjadi nama desa

hingga kini yaitu di Desa Karang Getas sebelah selatan kantor wali

kota Cirebon dan tahukah anda berapa meter rambut Syeikh Magelung

Sakti, sesungguhnya? yaitu 340 m, atau sepanjang jalan Karang Getas,

antara perbatasan desa Pagongan hingga lampu merah pasar Kanoman.

Panjangnya rambut syeikh Magelung Sakti ini sudah dapat restu dari

beberapa ulama khosois seperti Syeikh Auliya Nur Ali, Syeikh Kamil

Ahmad Trusmi, Syeikh Ahmad Sindang Laut, Syeikh Asnawi bin Subki

Gedongan.

Misteri lanjutkan kembali, dengan rasa bersemangat Moh. Syam terus

mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya barusan memotong

rambutnya, beliau terus berlari sambil memanggil nama Sunan Gunung

Jati terus-menerus, pada suatu tempat tanpa disadari olehnya, beliau

masuk dalam kerumunan orang banyak yang tak lain sedang dibuka

perlombaan memperebutkan putri cantik dan sakti, Nyimas Gandasari

Panguragan. Merasa dirinya masuk gelanggang arena, Wanita cantik yang

tak lain adalah Nyimas Gandasari langsung menyerangnnya… Merasa

dirinya diserang secara mendadak, Moh. Syam langsung mengelak dan

menjauhinya, namun bagaimana dengan Nyimas Gandasari sendiri yang kala

itu sedang diperebutkan para jawara dari berbagai pelosok daerah.

beliau sangat tersinggung dengan menghindarinya pemuda yang barusan

masuk tadi, maka dengan serangan berapi-api Nyimas Gandasari langsung

melipat gandakan tenaganya untuk menglahkan pesaing yang kini sedang

dihadapinya.

Dengan perasaan dongkol, Moh. Syam akhirnya memutuskan untuk

melayaninya dengan bersungguh hati hingga ditengah perjalanan Nyimas

Gandasari sangat kewalahan. Merasa kesaktiannya kalah dibawah pemuda

asing yang kini sedang dihadapinya, maka dengan sesekali loncatan

Nyimas Gandasari berucap “Ya Kanjeng Susuhan Sunan Gunung Jati,

Yajabarutihi ila sulthonil alam, kun fayakun Lailaha Illallah Muhamad

Rosululloh” lalu beliau langsung terbang ke awang- awang dengan maksud

agar pemuda tadi tidak sampai mengejarnya. lain dengan jalan pikiran

Moh. Syam waktu itu setelah beliau mendengar nama Sunan Gunung Jati

disebutnya, beliau tambah berambisi utnuk mencari tahu, maka

disusullah Nyimas Gandasari, hingga sampai tangan kanannya

terperangkap.

Merasa dirinya panik Nyimas Gandasari langsung melepaskan tangan Moh.

Syam sambil tubuhnya menukik tajam kebawah. pada saat yang bersamaan

Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur disungai Kali Jaga, kedatangan

Nyimas Gandasari yang wajahnya terlihat pucat pasi dan sambil menuding

kearah depan Nyimas Gandasari, memohon kepada gurunya agar pemuda yang

mengejarnya tidak melihat dirinya. lalu dengan menyelipkan tubuhnya

dibawah bekiak kakinya, kanjeng sunan Gunung Jati berkata pada pemuda

yang barusan datang dihadapannya ” Wahai kisanak, anda mencari siapa

ditempat yang sepi seperti ini?” lalu Moh. Syam pun menjawabnya ”

Kisanak mohon maaf sesungguhnya saya datang kemari mencari gadis untuk

meminta bantuannya, dimana saya bisa menemui Sunan Gunung Jati?”

dengan tersenyum akhirnya Sunan Gunung Jati melepaskan wujud kecil

Nyimas Gandasari ke wujud semula dan meminta berterus terang dengan

apa yang pernah di ikrarkan sebelumnya, yaitu wajib mematuhi janjinya

untuk menikah dengan orang yang mengalahkan kesaktiannya.

Dengan perjalanan ini akhirnya Moh. Syam berganti nama dengan sebutan

Pangeran Soka dan dipenghujung cerita antara Nyimas Gandasari dan

Pangeran Soka akhirnya berikrar untuk meneruskan perjalanan hidupnya

menuju ilmu tauhid yang lebih matang hingga mereka berdua mufakat

menjalankan nikah bisirri

tanpa hubungan badan selayaknya suami istri, namun akan bersatu dengan

nikah hakikiyah di alam surga kelak dengan disaksikan langsung oleh

Sunan Gunung Jati Min Quthbil Mutlak ila Jami’ il Waliyulloh.

Trafalgar Square

 

Thanks for all of the views. Please check out my other photos and albums.

 

Tanning while toning on a stand up paddle board @ Southport's Marine Lake

en.wikipedia.org/wiki/Standup_paddleboarding

Multi patterned dress over white bra, nude thong and natural tights.

Dharavi (Hindi and Marathi: धारावी; also spelled Daravi, Darravy, Dorrovy) is a slum in Mumbai, India. It is one of the largest slums in the world.

 

Dharavi slum was founded in 1880s during the British colonial era. The slum grew in part because of expulsion of factories and residents from peninsular city center by colonial government, and from rural poor migrating into urban Mumbai (then called Bombay). Modern day Dharavi came to be founded in the 1940's once the British left India, and once the majority property holders of the area, Shantilal Nemchand and Co sold off there property holdings allowing houses to be built. It is currently a multi-religious, multi-ethnic, diverse settlement. Dharavi's total population estimates vary between 300,000 to about 1 million.

 

Dharavi has an active informal economy in which numerous household enterprises employ many of the slum residents. It exports goods around the world. Leather, textiles and pottery products are among the goods made inside Dharavi by the slum residents. The total annual turnover has been estimated at over US$500 million.

 

Dharavi has suffered through many incidences of epidemics and other disasters. It currently covers an area of 217 hectares.

 

HISTORY

In the 18th century, Dharavi was an island. In February 1739, Chimnaji Appa attacked Bassein. Before that, he took possession of Dharavi. The area of present-day Dharavi was predominantly mangrove swamp before the late 19th century, inhabited by Koli fishermen. Dharavi was then referred to as the village of Koliwadas.

 

COLONIAL ERA

Mumbai has been one of the centers of India's urbanization for 200 years. At the middle of the 19th century, after decades of urban growth under East India Company and British Raj, the city's population reached half a million. The urban area then covered mostly the southern extension of Mumbai peninsula, the population density was over 10 times higher than London at that time. Most parts of Mumbai faced an acute shortage of housing and serious problems with the provision of water, sanitation and drainage. Residential areas were segregated in Mumbai between European and 'native' residential quarters. Slums were heavily concentrated in areas meant for 'native' Indian population, and it attracted no planning or London-like investment for quality of life of its inhabitants. Unsanitary conditions plagued Mumbai, particularly in the so-called Native Town, the segregated section where Indians lived. In 1869, as with 19th century epidemics in European slums, bubonic plague spread in Mumbai and then across most of India. The epidemic killed nearly 200,000 people in Mumbai and 8 million in India. In 1880s, concerned about epidemics, the British colonial government expelled polluting industries and many Indian residents of the Native Town, away from the peninsular part of the city, to a distant edge of the city in the north in the village of Koliwadas. Thus was born Dharavi.

 

The most polluting industries were tanneries, and the first tannery moved from peninsular Mumbai into Dharavi in 1887. People who worked with leather, typically a profession of lowest Hindu castes and of Muslim Indians, moved into Dharavi. Other early settlers included the Kumbars, a large Gujarati community of potters (another polluting industry). The colonial government granted them a 99-year land-lease in 1895. Rural migrants looking for jobs poured into Mumbai, and its population soared past 1 million. Other artisans, like the embroidery workers from Uttar Pradesh, started the ready-made garments trade. These industries created jobs, labor moved in, but there was no effort to plan or invest in any infrastructure in or near Dharavi. The living quarters and small scale factories grew haphazardly, without provision for sanitation, drains, safe drinking water, roads or other basic services. Dharavi's first mosque, Badi Masjid, started in 1887 and the oldest Hindu temple, Ganesh Mandir, was built in 1913. A large influx of Tamil migrants came in the 1920s. Bombay's first Tamil school and Dharavi's first school was constructed in 1924.

 

POST INDEPENDENCE

At India's Independence from colonial rule in 1947, Dharavi had grown to be the largest slum in Mumbai and all of India. It still had a few empty spaces, which continued to serve as waste dumping grounds for operators across the city. Mumbai, meanwhile, continued to grow as a city. Soon Dharavi was surrounded by the city, and became a key hub for informal economy. Dharavi's Co-operative Housing Society was formed in the 1960s to uplift the lives of thousands of slum dwellers by the initiative of Shri. M.V. Duraiswamy, a well-known social worker and congress leader of that region. The Dharavi co-operative housing society promoted 338 flats and 97 shops and was named "Dr. Baliga Nagar". By late 20th century, Dharavi occupied about 175 hectares, with an astounding population density of more than 2900 people per hectare.

 

DEMOGRAPHICS

The total current population of Dharavi slum is unknown, and estimates vary widely. Some sources suggest it is 300,000 to about a million. With Dharavi spread over 200 hectares, this corresponds to an average population density estimate between 1500 and 5000.

 

About 33% of the population of Dharavi is Muslim, compared to 13% average population of Muslims in India. The Christian population is estimated to be about 6%, while the rest are predominantly Hindus (60%), with some Buddhists and other minority religions. Among the Hindus, about 20% work on animal skin production, tanneries and leather goods. Other Hindus specialize in pottery work, textile goods manufacturing, retail and trade, distilleries and other caste professions - all of these as small scale household operations. The slum residents are from all over India, people who migrated from rural regions of many different states. The slum has numerous mosques, temples and churches to serve people of Islam, Hindu and Christian faiths; with Badi Masjid, a mosque, as the oldest religious structure in Dharavi.

 

LOCATION & CHARACTERISTICS

Dharavi is situated between Mumbai's two main suburban railway lines, the Western and Central Railways. To its west are Mahim and Bandra, and to the north lies the Mithi River, which empties into the Arabian Sea through the Mahim Creek. To its south and east are Sion and Matunga. Both its location and poor drainage systems make Dharavi particularly vulnerable to floods during the wet season.

 

Dharavi has a high population density, and as with other worldwide slums, overcrowded. It is mostly low rise structures surrounded by Mumbai city. In most large cities, the floor space index (FSI) varies from 5 to 15 in the Central Business District (CBD) to about 0.5, or below, in the suburbs. Dharavi's FSI is very low. Still, in expensive Mumbai, Dharavi provides a cheap alternative where rents were as low as US$4 per month in 2006.

 

There is a disagreement if Dharavi is the largest slum in Mumbai. Some sources claim other slums in Mumbai have grown to become larger than Dharavi. Other sources disagree, and rank Dharavi as the largest slum in India.

 

ECONOMY

In addition to the traditional pottery and textile industries in Dharavi, there is an increasingly large recycling industry, processing recyclable waste from other parts of Mumbai. The district has an estimated 5000 businesses and 15,000 single-room factories.

 

Dharavi exports goods around the world. The total (and largely informal economy) turnover is estimated to be between US$500 million, over US$650 million per year, to over US$1 billion per year. The per capita income of the residents, depending on estimated population range of 300,000 to about 1 million, ranges between US$500 to US$2000 per year.

 

REDEVELOPMENT PLANS

There have been many plans since 1997 to redevelop Dharavi like the former slums of Hong Kong such as Tai Hang. In 2004, the cost of redevelopment was estimated to be INR5000 crore (US$810 million). Companies from around the world have bid to redevelop Dharavi, including Lehman Brothers, Dubai's Limitless and Singapore's Capitaland Ltd. In 2010, it is estimated to cost INR15000 crore (US$2.4 billion) to redevelop.

 

The latest urban redevelopment plan proposed for the Dharavi area is managed by American-trained architect Mukesh Mehta. The plan involves the construction of 2,800,000 square metres of housing, schools, parks and roads to serve the 57,000 families residing in the area, along with 3,700,000 square metres of residential and commercial space for sale. There has been significant local opposition to the plans, largely because existing residents are due to receive only 25.0 square metres of land each. Furthermore, only those families who lived in the area before 2000 are slated for resettlement. Concerns have also been raised by residents who fear that some of their small businesses in the "informal" sector may not be relocated under the redevelopment plan. The government has said that it will only legalize and relocate industries that are not "polluting".

 

SANITATION ISSUES

Dharavi has severe problems with public health, due to the scarcity of toilet facilities, due in turn to the fact that most housing and 90% of the commercial units in Dharavi are illegal. As of November 2006 there was only one toilet per 1,440 residents in Dharavi. Mahim Creek, a local river, is widely used by local residents for urination and defecation, leading to the spread of contagious diseases. The area also suffers from problems with inadequate drinking water supply.

 

EPIDEMICS & OTHER SISASTERS

Dharavi has experienced a long history of epidemics and natural disasters, sometimes with significant loss of lives. The first plague to devastate Dharavi, along with other settlements of Mumbai happened in 1896, when nearly half of the population perished. A series of plagues and other epidemics continued to affect Dharavi, and Mumbai in general, for the next 25 years, with high mortality rates. Dysentery epidemics have been common throughout the years and explained with the high population density of Dharavi. Other epidemics reported include typhoid, cholera, leprosy, amoebiasis and polio, through recent years. For example, in 1986, a children cholera epidemic was reported, where most patients were residents of Dharavi. Typical patients to arrive in hospitals were in late and critical care condition, and the mortality rates were abnormally high. In recent years, cases of drug resistant tuberculosis have been reported in Dharavi.

 

Fires and other disasters are common. For example, in January 2013, a fire destroyed many slum properties and caused injuries. In 2005, massive floods caused deaths and extensive property damage.

 

GUIDED TOURS THROUGH DHARAVI

A few travel operators offer guided tours through Dharavi, showing the industrial and the residential part of Dharavi and explaining about problems and challenges Dharavi is facing. These tours give a deeper insight into a slum in general and Dharavi in particular.

 

MEDIA DECIPTION

- Dharavi has been depicted in a number of Hindi films produced by the Mumbai film industry. These include Salim-Javed films such as Deewaar (1975), Mira Nair's Salaam Bombay! (1988) where several child actors were from the Dharavi slum, Vidhu Vinod Chopra's Parinda (1989), Sudhir Mishra's Dharavi (1991), Ram Gopal Varma's "Indian Gangster Trilogy" (1998–2005) and Sarkar series (2005–2008), Vikram Bhatt's Footpath (2003), Anurag Kashyap's Black Friday (2004) and No Smoking (2007), Madhur Bhandarkar's Traffic Signal (2007), Rajeev Khandelwal's Aamir (2008), and other films based on the Mumbai underworld.

- Dharavi has been depicted in films from other Indian film industries, particularly the Tamil film industry. Several films by Mani Ratnam based on the experiences of Tamil immigrants to Mumbai have depicted the Dharavi slum, including Nayagan (1987) and Bombay (1995).

- Dharavi features prominently in Danny Boyle's 2008 film Slumdog Millionaire, where several of the child actors in the film are from the Dharavi slum.

- The movie Mankatha was shot here starring Ajith kumar.

- The movie Businessman was shot here starring Mahesh Babu.

- In Kaminey, the 2009 Hindi movie, starring Shahid Kapoor.

- In the 2009 Swiss/German documentary Dharavi, Slum for Sale of director Lutz Konermann.

- In a programme aired in the United Kingdom in January 2010, Kevin McCloud and Channel 4 aired a two-part series titled Slumming It which centered around Dharavi and its inhabitants.

- The poem "Blessing" by Imtiaz Dharker is about Dharavi not having enough water.

- For The Win, by Cory Doctorow, is partially set in Dharavi.

Posting 5 new (and final) pictures today.

We only got down to the beach for one sunset this time, and this was it. I think it was worth the 50-yard walk from the house.

Fotor HDR filter

26 alphabets put through the Picasa Multi-Exposure Collage maker

large size

Natura black / Natura1600

Greenwich Park

 

Thanks for all the views, please check out my other photos and albums

she has crazy skills

Vivitar V3800n

50mm

Kodak Gold 200

Cokin Multi-Image Filter

The finale at the joint 2016 Salute to America concert by the Detroit Symphony Orchestra and the United States Army Field Band, Concert Band and Soldiers' Chorus at the Henry Ford, Greenfield Village, Dearborn, Michigan

 

2016, went with Gary, Don & Chris

I feel like the morning is one big rush to get out the door as quickly a possible, and the more I can do at one time, the better.

 

This is a good representation of trying to do multiple things at one time to get out the door quicker.

 

Strobist: I have a 580EXII speedlite bouncing off the ceiling, and a 430EXII in my left hand behind the magazine shooting at my chest and face. Fired with Canon St-E2

1 2 ••• 14 15 17 19 20 ••• 79 80