View allAll Photos Tagged paste
Click for the recipe in english : red curry pasta
Klik voor het recept in het Nederlands: Rode currypasta maken. (en hoe te gebruiken)
Taille de la pate d'amandes avant de la déposer sur le gâteau. Almond paste just after cutting, pasting, and before beeing put down the cake.
Picture frame paste just off. I hit it with the hair dryer for a few minutes right before I scraped off the paste. The color is amazing all ready.
just updated to OS 3.0
and i knew it had copy & paste but i guess i didn't think about it was images, too! nice!
Hongdae
line 2
close up of forearm with the kneeling lady holding a lotus. the orange spots are watercolor pencil where I measured a straight line from palm to elbow so the design would be straight when the arms were raised.
The concept was to create an elbow to fingertip henna design but instead of the standard hindi, to create patterns taken from Egyptian art.
I used Riffat's lovely premixed henna paste: www.riffat.co.uk
AINUL MARDHIYAH
Ada seorang pemuda gagah yang
turut berjihad bersama pasukan Islam.
Selama perjalanan, pemuda itu tetap
berpuasa di siang hari dan tak lepas
dari sholat di malam hari. Bahkan dia
juga melayani kebutuhan pasukan dan
ikut berjaga-jaga bila semua tidur.
Hingga sampailah pasukan itu sampai
di
Menjelang pertempuran, pasukan
Islam beristirahat di suatu tempat.
Karena lelah pemuda itu jatuh tertidur.
Namun tiba-tiba ia terjaga dan berseru
lirih, “Ah, alangkah rindunya aku pada
Ainul Mardhiyah”. Orang-orang yang
mendengarnya terheran-heran dan
mengira pemuda itu mengingau.
“ Siapakah Ainul Mardhiyah itu ?” tanya
Abdul Wahid, seorang ulama pejuang,
yang mengenal pemuda itu.
Pemuda itu kemudian bertutur : Saya
tertidur dan bermimpi bertemu
seseorang. Orang itu berkata, “Pergilah
kepada Ainul Mardhiyah”. Lalu saya
dibawa kesebuah taman yang
dikelilingi sungai. Di tepi sunga itu
banyak gadis-gadis yang lengkap
perhiasannya. Dan ketika melihatku,
tiba-tiba mereka berkata, “Itulah suami
Ainul Mardhiyah”.
Saya memberi salam dan bertanya,
“ Adakah di antara kalian bernama Ainul
Mardhiyah ?”. “Kami hanya pelayan-
pelayannya. Kalau Tuan ingin bertemu,
silakan jalan terus menyusuri sungai
ini ”. Akhirnya aku menyusuri sungai.
Ternyata itu adalah sungai susu yang
tidak berubah rasa dan warnanya.
Hingga sampailah aku di tempat yang
banyak berkerumun gadis-gadis cantik
dan lengkap perhiasannya. “Inilah
suami Ainul Mardhiyah”, kata gadis-
gadis itu berbisik-bisik.
Tapi ketika aku bertanya yang mana
Ainul Mardhiyah, aku mendapat
jawaban yang sama. Kali ini yang
kutelusuri adalah sungai madu sampai
ketemui lagi kerumunan gadis-gadis.
Mereka ternyata lebih cantik hingga
dapat melupakan kecantikan gadis-
gadis sebelumnya. Lalu aku
ditunjukkan sebuah kemah yang
tersusun dari permata yang indah.
Aku pun segera ke sana.
Sungguh aku terkagum-kagum
menyaksikan kecantikan gadis yang
ada di kemah itu. Aku menyangka
inilah Ainul Mardhiyah. Aku merasa
sudah cukup puas bila gadis itu yang
menjadi pendampingku. Tapi lagi-lagi
dugaanku salah. Gadis itu malah
memanggil seseorang yang ada di
dalam kamar, “Hai Ainul Mardhiyah,
inilah suamimu telah datang”.
Bergegas aku masuk ke kamar itu.
Kulihat seorang gadis sedang duduk di
atas tempat tidur emas, yang
bertaburkan permata, berlian, dan
yaqut. Aku hampir-hampir tidak dapat
menahan diri. “Marhaban wahai
kekasihku, sudah hampir tiba
kedatanganmu ”, kata gadis itu dengan
senyum paling manis dan keteduhan
matanya yang belum pernah kulihat.
Sungguh, ingin sekali aku
memeluknya. “Sabar dulu, engkau
belum sah menjadi suamiku. Sebab
engkau masih hidup ”, kata Ainul
Mardhiyah. “Tetapi insya Allah, engkau
akan berbuka di sini”.
Usai menceritakan mimpinya, pemuda
itu berlari menyongsong musuh.
Sembilan orang tentara Romawi di
ujung pedangnya. Pada hitungan
kesepuluh, dia tersenyum sepenuh
bibirnya ketika syahid menjemputnya.
Rindu itu pun tertebus.