View allAll Photos Tagged RaPi
Die Rüstung aus Eisen oder Stahl und Leder entstand im 1. Drittel des 17. Jh. in Frankreich oder im deutschsprachigen Raum. Das auf der Brust eingefeilte Kreuz weist darauf hin, dass es sich bei dem Träger um einen adeligen Angehörigen der Malteserritter handelte, der mit Rapier, Pistole oder Karabiner kämpfte.
1100ccm - 90 PS,
19.Int.NUSSDORFER BERGPREIS für Oldtimer, Nußdorf am Attersee, Oberösterreich, Austria,
2016_0507_13:29
The Ariane was presented in April 1957. In fact it was a kind of hybride: it had the Flash engine of the Aronde 1300 and the body of the Vedette Trianon, the most simple version of the Vedette-Series.
The basic design for the Vedette-Series came from Ford, Detroit, but the finishing off was done by Fabio Luigi Rapi (It, 1902-?). The Vedette had all luxury of those days incorporated.
Simultaneously there was also offered a Ariane 8 with the famous V8 Vedette engine.
The Ariane was replaced by the new 1300/1500 in 1963.
1290 cc.
1050 kg.
Production Ariane Series: 1957-1963 (Ariane 8: 1957-1961).
Source: Charles Dollfus-Encyclopédie de La Vitesse, Librairie Hachette, 1960 (first published in 1956).
Illustrations by Henri Mercier.
Amsterdam, Nov. 7, 2017.
© 1956/2017 Hachette/Sander Toonen Amsterdam/Halfweg | All Rights Reserved
Tyler after clearing the entrance to Sheep Slot
Cross-uploaded to commons.wikimedia.org/wiki/File:Rafter_in_Sheep_Slot_Rapi...
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 00100
Displacing just under two liters, the Tipo 104 motor V8 featured an unusual 70° architecture, as well as advanced racing components such as a finned aluminum sump, forged crankshaft, polished intakes and ports, and tubular 4x1 stainless steel exhaust manifolds. As Giacosa later noted of the V-8 in his autobiography, "the idea of mounting it on a sports car for a small production run was attractive and aroused the keenest interest among the design engineers."
And so was born the Fiat 8V, which featured the only overhead-valve V-8 that Fiat ever built during its long and storied history. Known in Italy as the Otto Vu, the new model was positioned as a luxury grand touring sports car.To maintain the necessary quality-control for such a high-end product, the fabrication of the chassis was farmed out to Giorgio Ambrosini's Siata, the tuning specialists that had long served as Fiat's in-house competition and customization department. This choice was probably further facilitated by Ghia owner Mario Felice Boano's 1950 hiring of Luigi Segre, a former Siata sales manager, as Ghia's sales director.
The Otto Vu made its public debut at the Geneva Salon in March 1952, and immediately impressed all who saw it with Fiat's ability to produce such a jewel-like automobile. Over the following two years, about two hundred tipo 104 motors were produced (though more than fifty of these were eventually installed in the upcoming Siata roadster).
The Otto Vu automobile was even more rare, with approximately 114 examples built through 1954. While at least forty of these cars were bodied with the factory coachwork by Rapi, the other chassis were clothed by coachbuilders such as Balbo, Pinin Farina, Vignale and Zagato.
Delivered new to Heilbronn, Germany, this unrestored 8V Rapi was bought early in its life by Larry Vivian, a US soldier remaining in Germany, during the cold war. Larry raced the car in Germany and took it with him to the US and kept it until some 5 years ago, when it moved to Belgium. Larry was the second owner and has had the car over 40 years while keeping it totally original with only 47.000 kms on the odometer. Incredible archive photos come with the car even photos when it was transported by air plane.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016
Pagi menyingsing fajar, suasana masih berkabut dingin samar-samar dalam kegelapan. Sudah beberapa malam aku tidak dapat memejamkan mata, selalu terjaga. Rasa takut masih menyelimuti meskipun kini aku bersama yang lainnya telah berada di tenda pengungsian, setelah selamt dari amukan dasyatnya gelommbang tsunami yang memorak-porandakan wilayah Banden dan Lampung Selatan.
Banyak orang tua yang kehilangan anak suami kehilangan istri, Kakak kehilangan adik dan sebaliknya. Harta benda mereka habis terbawa derasnya air akibat gelombang tsunami dampak dari erupsi gunung Anak Krakatau. Mengingat kejadian malam itu, sungguh membuatku trauma, dadaku sesak, menahan kesedihan. Karena kini aku tak memiliki apa-apa.
***
Malam itu, ketika aku hendak pergi ke pertemuan muda-mudi desa yang juga bertepatan dengan malam Minggu. Malam panjang bagi anak muda, begitu beberapa syair lagu mengatakan. Setelah mempersiapkan diri dan berpakaian rapi, aku menunggu jemputan dari sahabat yang akan pergi bersama, sembari SMS-an. Aku terkejut, tiba-tiba terdengar orang-orang di luar ribut dan berlarian sangat panik.
Aku pun jadi heran, sebenarnya apa yang terjadi, mengapa semua orang berlarian? Pada saat itu ibu tengah pergi kondangan dan adikku laki-laki mengantarnya. Dengan cepat, aku meraih handphone untuk menelepon Ahmad, yang tengah mengantar ibu kondangan di desa tetangga. Namun, ketika suara panggilan itu mulai terhubung dan berdering, tiba-tiba air setinggi empat meter menerjang dan menghantam bagian atas didinding rumah dan atap. Aku terpental dan hanyut terseret arus.
Aku terus berjuang dengan berenang sekuat tenaga. Di antara deru dan sengal kulihat sebatang kayu yang tengah mengambang. Tanpa berpikir panjang, aku pun memegangnya erat sebagai pelampung agar tidak tenggelam. Karena tenagaku sudah terkuras untuk berenang sejak terpental dan terseret air dari rumah. Dalam terkatung-katung, aku membaca asma Allah sebisaku. Berdoa, meminta pertoongan-Nya. Karena hanya Dia yang menguasai segalanya. Aku sudah tak bisa merasakan apa pun, antara sakit, takut, dan pasrah menjadi satu.
“Andaikan hamba harus meninggal dalam peristiwa ini, Ya allah. Tak mengapa. Tapi tolong, selamatkan adik dan ibu hamba,” doaku dalam hati, di saat badanku terombang-ambing terseret air.
Di antara tenaga yang masih tersisa, aku terus berjuang. Meskipun tangan dan kaki ini merasakan sakit yang luar biasa karena harus membentur benda-benda lain yang turut berhampuran di atas air bah. Aku berharap ada keajaiban yang datang menyelamatkan.
***
Entah berapa jauh tubuhku terseret arus ganas yang menyita waktu kurang lebih sepuluh jam tersebut. Ketika aku tersadar samar-samar aku mendengar suara orang memanggilku.
“Mba.. Mba …Anda mendengar suara kami?” Sayup-sayup kudengar suara laki-laki.
“Aku di mana?” tanyaku dengan kebingungan.
“Apakah ini alam kematian?” batinku lirih.
Seluruh badanku terasa sakit, dan sulit digerakkan. Kaki dan tanganku terdapat banyak luka barutan benda-benda tajam. Mungkin saja ada paku yang menganga dan akar-akar tajam di antara puing-puing yang kulalui. Sebab, yang aku ingat, banyak pohon tumbang, dan rumah-rumah belum permanen yang roboh.
“Mba ada di tenda pengungsian,” jawab seorang laki-laki yang berdiri di sampingku.
Saat itu aku baru sadar, sebuah gelombang setinggi lima meter telah menyapu rumah dan seluruh penghuni Desa way Muli, Lampung Selatan. Kampung nelayan tempatku dibesarkan. Aku pun terombang-ambing tanpa tahu seberapa jarak yang telah kulalui. Anganku mengingat sesuatu.
“Ahmad, Ibu, di mana mereka?” tanyaku terperanjat.
“Mba kami temukan terjepit tak sadarkan diri, di antara himpitan runtuhnya rumah dan pohon-pohon yang tumbang. Untuk keluarga Mba yang lain, nanti bisa kita cari perlahan-lahan.”
Aku tidak tenang sebelum menemukan Ahmad dan ibu yang saat gelombang tinggi itu datang mereka tengah di luar rumah. Apa yang kami miliki telah habis tak tersisa, jangan sampai aku kehilangan mereka berdua. Batinku sakit, sedih, hampa, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan air mata pun sudah tidak dapat keluar. Segala rasa perih tercurah saatku tertelan pusara air yang banyak merenggut ratusan nyawa manusia dan menyisakan kesedihan. Antara hidup dan mati, hingga membawaku sampai ke tempat ini.
“Ibu … Ahmad, kalian di mana?”
***
Rasa sedih dan tangis pilu kehilangan orang-orang yang dicintai mewarnai segala penjuru di tenda pengungsian. Raut wajah waswas dan takut akan adanya tsunami berada setiap sudut. Tak hanya masyarakat biasa, beberapa artis juga menjadi korban keganasan gelombang tsunami tersebut.
Aku berusaha menyibukkan diri dengan bergabung ke dapur umum pengungsian di Balai Desa Totoharjo, Bakauheni. Dengan begitu, sedikit menghilangkah kesedihan dan khawatirku karena ibu dan Ahmad belum ketemu. Bersama relawan yang lain, saling membahu menyediakan makanan untuk pengungsi dan relawan yang datang mengantarkan bantuan. Namun, ujian itu belum berakhir karena seorang pengungsi lain yang berasal satu daerah denganku mengabarkan jika mereka menemukan keluargaku di antara tumpukan rumah dan tiang listrik yang roboh, keduanya telah meninggal dunia, dan jenazah mereka telah dibawa ke rumah sakit bersama korban lainnya yang telah ditemukan.
Tanpa banyak tanya aku bergegas menuju RSUD dr H Bob Bazar, tempat dimana jenazah yang ditemukan dikumpulkan guna proses identifikasi. Aku ingin memastikan jika yang katakan tetanggaku itu benar. Meski aku lebih berharap jika semuanya salah. Aku lebih senang jika Ibu dan Ahmad masih hidup dan berada di tenda pengungsian yang lain. Namun, lagi-lagi Allah menguji kesabaranku. Mengambil semua orang yang kucintai. Dari baju yang dikenakan dan ciri-ciri yang lain ternyata benar; kedua mayat di dalam kantung jenazah itu adalah orang-orag yang beberapa hari ini kucari. Ibu dan Ahmad baru ditemukan dua hari setelah kejadian yang mencekam 22 Desember 2018 lalu.
“Ibu … Ahmad, Bangun …!” Raungku kencang, sembari kugoyangkan kantung jenazah satu persatu.
Tangisku pecah. Rasa sedih yang beberapa hari ini tersimpan di dada, membuncah. Aku tak peduli tatapan orang di sekelilingku. Rasa iba, haru membaur menjadi satu. Bersyukur jenazah mereka bisa ditemukan karena banyak korban yang terseret air belum diketahui keberadaan hingga sekarang. Apakah selamat, atapun sebaliknya. Samar-sama aku pun mendengar beberapa orang tergugu penuh kesedihan. Mereka sama sepertiku. Menemukan anggota keluarga, yang telah tak bernyawa.
***
Tetangga dan para warga memantu prosesi pemakaman keluargaku. Hari itu ada beberapa jenazah yang dimakamkan di pemakaman umum daerah kami. Dengan berat hati aku menyaksikan kedua orang yang kucintai dimasukkan ke liang lahat. Setelah dikumandangkan Adzan, makam pun ditimbun tanah basah. Kesedihan ini sama saat pascakelulusanku dari akademik keperawatan, saat ayah meninggal karena serangan jantung. Sejak saat itulah, kami hidup bertiga. Namun kini, tinggalah aku sendiri
“Sabar ya, Mba Ana. Ikhlaskan kepergian Ibu dan Ahmad. Mereka telah berkumpul di sana,” hibur Ratri. Tetangga kampung, yang juga kehilangan salah satu anggota keluarganya.
Sebenarnya aku tidak sendiri, banyak orang lain yang juga harus tegar karena ditinggal orang-orang yang disayangi. Bahkan vokalis grup band Ifan Seventeen harus kehilangan istrinya yang belum lama ia nikahi, sekaligus tiga rekan grup yang lainnya. Bencana dan kematian bisa menimpa siapa saja, tak pandang bulu. Tak ada yang bisa menghalangi jika kuasa-Nya telah berkehendak.
Tidak bisa dipungkiri, kesendirian ini benar-benar membuat aku terpuruk. Bagaimana masa depanku kelak? Tinggal di mana, bersama siapa? Semua pertanyaan menjadi momok ketakutan yang kian meracuni pikiran. Karena hari ini, aku resmi menyandang status yatim piatu dan tak memiliki apa-apa. Sebatang kara.
***
Aku selalu menyibukkan diri di dapur pengungsian. Menyiapkan masakan, menata, dan membagikannya dengan pengungsi yang lain. Ini cara yang ampuh mengobati kesedihan. Sama-sama bangkit dan saling berbagi membuatku merasakan jika hidupku masih berguna bagi orang lain. Jika pekerjaan dapur usai, aku ikut bersama relawan lain memberikan terapi healing kepada adik-adik yang mengalami trauma akibat tsunami tersebut, juga belajar dan bernyanyi bersama dengan anak-anak. Menghibur mereka. Kenyataan perih ini, takkan kutambahi dengan berlarut-larut dalam kesedihan karena kehidupan harus tetap berjalan.
Hari demi hari bantuan terus berdatangan, baik dari pemerintah maupun elemen masyarakat. Kesibukan para relawan kian meningkat. Dapur umum bekerja selama 24 jam dengan shift bergantian. Aku menikmati semua rutinitas itu sebagai pelipur lara meskipun di setiap malam rasa sedih itu datang menyerang. Menghujani ulu hati.
***
“Masih terlalu pagi, kamu sudah terbangun, Na?” sebuah suara memudarkan lamunanku.
“Aku tidak pernah bisa tidur, Ratri. Selalu teringat masa-masa bersama keluarga.”
“Aku mengerti perasaanmu, Na. Namun, kamu tidak sendiri. Ada aku, mereka, dan kita semua. Mari sama-sama bangkit menatap masa depan untuk hari berikutnya.”
Kami pun berpelukan. Bulir bening itu mengalir lagi, basah merata di pipi. Menghiasi dinginnya fajar menyambut subuh di pengungsian. Kebersamaan ini membuat diriku tak merasa sendiri menapaki hari-hari.
Taiwan, 8 Januari 2019
Note: Kisah ini terinspirasi dari peristiwa Tsunami di Selat Sunda dan Lampung. Penulis berasal dari Lampung yang saat ini tengah merantau ke Taiwan.
Wanita penggemar kopi ini berimajinasi. Saat ini tengah berada di Bumi Formosa untuk meraih mimpi yang tertunda. Eti beberapa kali menjuarai perlombaan menulis, peraih juara ke-3 VOI Award RRI 2017, Jury award Taiwan Literature Award Migran (TLAM) 2017 di Taiwan, dan 1 lomba menulis cerpen Inspiratif Forum Pelajar Muslim Indonesia Taiwan (FORMMIT) 2018. Penulis merupakan pekerja migran dan berstatus mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan. Penulis bisa disapa melalui etimelati18@gmailcom.
[1] Disalin dari karya Eti Nurhalimah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 10 Februari 2019
The post Ujian di Penghujung Tahun appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2SAFc6y
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 00100
Displacing just under two liters, the Tipo 104 motor V8 featured an unusual 70° architecture, as well as advanced racing components such as a finned aluminum sump, forged crankshaft, polished intakes and ports, and tubular 4x1 stainless steel exhaust manifolds. As Giacosa later noted of the V-8 in his autobiography, "the idea of mounting it on a sports car for a small production run was attractive and aroused the keenest interest among the design engineers."
And so was born the Fiat 8V, which featured the only overhead-valve V-8 that Fiat ever built during its long and storied history. Known in Italy as the Otto Vu, the new model was positioned as a luxury grand touring sports car.To maintain the necessary quality-control for such a high-end product, the fabrication of the chassis was farmed out to Giorgio Ambrosini's Siata, the tuning specialists that had long served as Fiat's in-house competition and customization department. This choice was probably further facilitated by Ghia owner Mario Felice Boano's 1950 hiring of Luigi Segre, a former Siata sales manager, as Ghia's sales director.
The Otto Vu made its public debut at the Geneva Salon in March 1952, and immediately impressed all who saw it with Fiat's ability to produce such a jewel-like automobile. Over the following two years, about two hundred tipo 104 motors were produced (though more than fifty of these were eventually installed in the upcoming Siata roadster).
The Otto Vu automobile was even more rare, with approximately 114 examples built through 1954. While at least forty of these cars were bodied with the factory coachwork by Rapi, the other chassis were clothed by coachbuilders such as Balbo, Pinin Farina, Vignale and Zagato.
Delivered new to Heilbronn, Germany, this unrestored 8V Rapi was bought early in its life by Larry Vivian, a US soldier remaining in Germany, during the cold war. Larry raced the car in Germany and took it with him to the US and kept it until some 5 years ago, when it moved to Belgium. Larry was the second owner and has had the car over 40 years while keeping it totally original with only 47.000 kms on the odometer. Incredible archive photos come with the car even photos when it was transported by air plane.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016
The Bianchina Panoramica was technically based on the estate version of the Fiat 500: the Giardiniera.
The Bianchina series was designed by Luigi Rapi (1902- ).
The first series had a roll-top. From 1962 a steel roof was also available.
This Panoramica is parked here at least since Sept. 2021. It was for sale now.
499,5 cc 2 cylinder air-cooled Boxer rear engine.
Ca. 550 kg.
Production Autobianchi Bianchina Series: 1957-1969.
Production Autobianchi Bianchine Panoramica: May 1960-1969.
Production Bianchina Panoramica this version: 1962-1969.
No reg. number on the car.
Number seen: 1.
Heist-op-den-Berg (B), Mechelststeenweg, May 21, 2023.
© 2023 Sander Toonen Halfweg | All Rights Reserved
Pemasangan dinding bata ringan dari celcon lebih cepat dan lebih rapi.
Proses pemasangan begisting dan pembesian plat lantai 2.
At the 1952 Geneva Show, Fiat announced a high performance 2-seater aerodynamic coupé - the 8V or "Otto Vu". It was the first Fiat with independent suspension front and rear. The engine came in 2 forms : a 115 bhp-version revving up to 6.000 rpm, and a more powerful variant producing 127 bhp @ 6.600 rpm. The 8V distinguished itself in motor sports events and clinched the 1954 Italian sports car championship. This is the factory body called Rapi, after its designer. Many other versions exist with bodies by the most famous "Carrozzerias" of that era. Total 8V production was 114, the Miata's with the same name not included.
1.996 cc
V8
115 hp
Fiat 125 Years - La Dolca Vita
Abarth 75 Years - Passione per la Velocità
04/07/2024 - 01/09/2024
Autoworld
Brussels - Belgium
July 2024
Tristar Machinery
Jl. Rungkut Mapan Utara Blok CA 24
Surabaya, Jawa Timur - Indonesia
Tel.031-8708071 ; Fax.031-8722794
Dewi - 085854833381
Rosa - 088803211729
Tristar Jakarta
(021)68767670
08888409474
Mesin Keripik Buah no. 81
Mesin Produksi Kripik Buah.
Mesin Goreng Kripik Buah.
Mesin Pembuat Kripik Buah.
Vacuum Friyer.
Mesin Penggoreng Vacuum.
Vacuum Friying.
Specification
Type: 50 ltr minyak
Daya: 1000W (6kg) Kapasitas: 6 kg
Mesin ini berfungsi untuk membuat keripik buah dengan system penggorengan yang menggunakan vacuum sehingga mampu membuat keripik buah yang berkualitas. Dengan menggunakan kompor LPG sebagai pemanas, dan sistem sirkulasi vacuum menggunakan pompa air, berfungsi secara maksimal untuk menghilangkan kadar air dan oksigen yang terkandung di dalam buah.dilengkapi pula dengan lampu di dalam tabung, sehingga kita dengan mudah dapat melihat hasil dari keripik yang diproses.
Apakah anda membutuhkan buah-buahan? Di Indonesia, anda tak perlu mencarinya dengan susah payah. Indonesia kaya akan buah dan sayur. Berlimpahnya buah dan sayur, terkadang menjadikannya memiliki nilai jual yang rendah. Sebagai contoh, kita bisa mendapatkan buah pepaya dengan berat 5 kg hanya seharga Rp 2000-3000. Murah sekali bukan? Bahkan di daerah tertentu, banyak buah-buahan terbuang percuma dan membusuk, karena tidak termanfaatkan.
Salah satu cara untuk meningkatkan nilai jual buah dan sayur adalah dengan menjadikannya keripik sayur dan buah. Inilah peluang bisnis Anda.Dengan menjadikannya keripik, nilai jual buah dan sayur bisa berlipat-lipat. Sebagai gambaran 1 kg keripik pepaya bisa dihargai Rp 65.000. Sementara keripik salak seharga Rp 90.000 / kg. Apalagi, jika kita memproses buah menjadi kripik, maka dia akan lebih tahan lama dan awet hingga berminggu-minggu. Bandingkan jika anda hanya menjual buah saja.
CARA MEMBUAT KERIPIK BUAH DAN SAYUR
Untuk menggoreng buah-buahan yang akan dijadikan sebagai produk olahan terlebih keripik, kita memang harus memiliki sebuah alat yang dinamakan vacuum fryer (Mesin Penggoreng Hampa). Kita tidak mungkin menghasilkan produk buah olahan berupa kripik dengan menggunakan alat penggoreng biasa.
Seperti kita ketahui bersama, untuk komoditi buah-buahan hampir semuanya memiliki kandungan glukosa (gula) yang cukup tinggi. Oleh karena itu, bila kita mengolahnya dengan cara menggoreng menggunakan alat penggoreng biasa, keinginan untuk bisa berubah menjadi kripik tidak akan mungkin bisa tercapai, justru buah yang kita goreng malah meleleh seperti jelly atau membuat buah menjadi gosong dan tidak layak untuk dijual maupun dikonsumsi. Beberapa kelebihan menggoreng buah dengan mesin vacuum frying :
1.Tidak gosong
2.Kandungan nutrisi tidak hilang (tetap menyehatkan)
3.Rasa, dan aroma sesuai bahan aslinya
4.Renyah
5.Tidak perlu bahan pengawet atau bahan kimia
6.Tidak perlu penambah rasa buatan
7.Makanan yang memiliki nilai gizi dan serat tinggi
Cara pemakaian mesin vacuum frying juga sangat mudah. Potong-potong buah yang ingin dibuat kripik hingga ukuran yang nyaman untuk dimakan. jika terlalu besar akan mengakibatkan anda kurang nyaman sewaktu memakannya, namun jika terlalu kecil akan membuat anda membutuhkan waktu yang lama untuk memprosesnya.
Setelah potongan buah siap, memasukkan buah / sayur yang telah dicuci ke dalam mesin. Tidak perlu tambahan perasa atau bahan-bahan lain.
MACAM-MACAM KERIPIK BUAH DAN SAYUR
Hampir tiap buah dapat dimanfaatkan untuk membuat kripik. Diantaranya adalah sebagai berikut:
¦Nangka
¦Salak
¦Apel
¦Mangga
¦Melon
¦Waluh (Labu)
¦Pepaya
¦Wortel
¦Kentang
¦Kacang Panjang
¦Terung
¦Durian
¦Nanas
¦dll
PELUANG BISNIS TERBUKA LEBAR
Bicara bisnis tak terlepas dari peluang-peluang. Kami yakin anda tidak akan berani melangkah ke bisnis ini sebelum melihat peluang sebelumnya. Berikut disajikan beberapa alasan atau penyebab peluang bisnis keripik sayur dan buah ini cukup menjanjikan :
1.Bahan baku buah dan sayur berlimpah, akibatnya harganya akan sangat murah.
2.Proses pembuatan dan pengelolaan bisnis sangat mudah. Bila anda memiliki mesin Vacuum Frying, maka anda akan mampu menjalankan produksi dengan cepat
3.Keuntungan yang besar dan dapat diperoleh dengan cepat. Modal bisa kembali kurang lebih 6 bulan (untuk mesin kapasitas 5 kg)
4.Buah disukai semua orang. Siapa yang tidak suka buah? Selama ini buah diawetkan dengan bahan pengawet. Dengan digoreng, akan menghasilkan buah yang awet namun tanpa bahan pengawet. Tentu saja orang akan semakin suka.
5.Pasar luas, anda bisa menjual kripik buah ini dimana saja. Anda bahkan bisa membentuk tim penjualan, mengumpulkan pedagang kaki lima dan asongan atau menitipkan produk anda di swalayan ataupun toko-toko makanan.
6.Peluang eksport terbuka. Sangat jarang dijumpai makanan kripik buah di luar negeri, karena kripik ini lebih awet, tentu memungkinkan untuk dikirim ke manca negara.
MESIN VACUUM FRYING
Sudah siap untuk menjadi pengusaha kripik buah dan sayur? Maka sudah saatnya bagi anda untuk memiliki mesin vacuum frying. Mesin ini adalah mesin wajib yang harus anda miliki sebelum memulai bisnis kripik buah. Kami memiliki referensi untuk mendapatkan mesin tersebut, yaitu anda dapat mengunjungi di anekamesin.com, dan andapun tak hanya mendapatkan sebuah mesin vacuum frying, namun anda juga memperoleh bonus sebagai berikut:
1.Pelatihan terpadu pengelolaan dan perawatan mesin vacuum frying.
2.Mesin spinner (peniris minyak, untuk mengurangi bahkan menghilangkan kadar minyak pada keripik sesudah digoreng)
3.Mesin pengemas, untuk mengemas keripik
Anda juga akan mendapat garansi service mesin selama 1 TAHUN hingga 2 TAHUN detail mesin vacuum frying, silahkan kunjungi :
infomesin.com telah memproduksi puluhan mesin yang di produksi bagi para pengusaha, dinas pemerintah, perguruan tinggi, dan bahkan dieksport ke manca negara.
KUNCI SUKSES
Ada beberapa kunci sukses di bisnis keripik buah dan sayur, yaitu :
1. Tampilan yang Menarik
Tampilan keripik Anda harus menarik, bersih, tidak gosong. Hal ini bergantung pada :
¦Pemilihan Bahan Yang Benar
¦Proses penggorengan yang benar
¦Menggunakan mesin vacuum frying berkualitas
¦Penyortiran dan quality control yang akurat
2. Kemasan Produk Anda Harus Profesional Dan Menarik
Bisa saja anda menjual kripik dalam bentuk kiloan, tapi ini hanya untuk konsumsi agen-agen penjualan. Selain dalam bentuk kiloan, anda juga perlu menjual dalam bentuk kemasan yang rapi.
Label yang menarik juga akan memikat hati para pembeli. Untuk keperluan toko-toko, anda bisa menyertakan kontak pemesanan di label kripik. Hal ini perlu, karena pembeli yang tertarik bisa dengan mudah menghubungi anda untuk memesan produk serupa.
Sangat dianjurkan untuk memilih kemasan transparant agar tampilan kripik yang sudah menarik ikut mengundang selera calon pembeli.
Kami juga menyarankan untuk menyertakan toples-toples besar transparat jika hendak menitipkan ke toko-toko kecil. Produk yang digantung-gantung menggunakan kawat akan terkesan murahan dan mudah hancur karena biasanya untuk mengambil satu kemasan harus meremas kemasan yang lain.
3. Memilih Metode Pemasaran
Anda bisa memasarkan kripik buah menggunakan cara-cara berikut :
¦Membentuk agen penjualan yang akan memasarkan produk-produk anda ke toko-toko kecil, pedagang kaki lima dan pedagang asongan.
¦Bekerjasama dengan toko-toko makanan atau restaurant dengan menyuplai produk kripik anda.
¦Bekerjasama dengan katering-katering
¦Merintis peluang ekspor jika produk yang anda hasilkan cukup banyak.
Fiat Otto Vu
Ex-Works
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 000032
Displacing just under two liters, the Tipo 104 motor V8 featured an unusual 70° architecture, as well as advanced racing components such as a finned aluminum sump, forged crankshaft, polished intakes and ports, and tubular 4x1 stainless steel exhaust manifolds. As Giacosa later noted of the V-8 in his autobiography, "the idea of mounting it on a sports car for a small production run was attractive and aroused the keenest interest among the design engineers."
And so was born the Fiat 8V, which featured the only overhead-valve V-8 that Fiat ever built during its long and storied history. Known in Italy as the Otto Vu, the new model was positioned as a luxury grand touring sports car.To maintain the necessary quality-control for such a high-end product, the fabrication of the chassis was farmed out to Giorgio Ambrosini's Siata, the tuning specialists that had long served as Fiat's in-house competition and customization department. This choice was probably further facilitated by Ghia owner Mario Felice Boano's 1950 hiring of Luigi Segre, a former Siata sales manager, as Ghia's sales director.
The Otto Vu made its public debut at the Geneva Salon in March 1952, and immediately impressed all who saw it with Fiat's ability to produce such a jewel-like automobile. Over the following two years, about two hundred tipo 104 motors were produced (though more than fifty of these were eventually installed in the upcoming Siata roadster).
The Otto Vu automobile was even more rare, with approximately 114 examples built through 1954. While at least forty of these cars were bodied with the factory coachwork by Rapi, the other chassis were clothed by coachbuilders such as Balbo, Pinin Farina, Vignale and Zagato.
The 8V Rapi Corsa presented here was delivered new in Milan where it was owned and raced by Scuderia Ambrosiana. The car was fitted with lightweight body and sliding windows, it was raced in the 1953 Mille Miglia finishing 18th overall. Sold to Vincenzo Aurricchio in 1954 and it participated again in the Mille Miglia that same year where it didn’t finish.
1.996 cc
V8
115 HP
Vmax : 190 km/h
114 ex. (Fiat Otto Vu)
Special Coachwork Postwar
Concours d'Elégance Paleis Het Loo 2017
Apeldoorn
Nederland - Netherlands
July 2017
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 00100
Displacing just under two liters, the Tipo 104 motor V8 featured an unusual 70° architecture, as well as advanced racing components such as a finned aluminum sump, forged crankshaft, polished intakes and ports, and tubular 4x1 stainless steel exhaust manifolds. As Giacosa later noted of the V-8 in his autobiography, "the idea of mounting it on a sports car for a small production run was attractive and aroused the keenest interest among the design engineers."
And so was born the Fiat 8V, which featured the only overhead-valve V-8 that Fiat ever built during its long and storied history. Known in Italy as the Otto Vu, the new model was positioned as a luxury grand touring sports car.To maintain the necessary quality-control for such a high-end product, the fabrication of the chassis was farmed out to Giorgio Ambrosini's Siata, the tuning specialists that had long served as Fiat's in-house competition and customization department. This choice was probably further facilitated by Ghia owner Mario Felice Boano's 1950 hiring of Luigi Segre, a former Siata sales manager, as Ghia's sales director.
The Otto Vu made its public debut at the Geneva Salon in March 1952, and immediately impressed all who saw it with Fiat's ability to produce such a jewel-like automobile. Over the following two years, about two hundred tipo 104 motors were produced (though more than fifty of these were eventually installed in the upcoming Siata roadster).
The Otto Vu automobile was even more rare, with approximately 114 examples built through 1954. While at least forty of these cars were bodied with the factory coachwork by Rapi, the other chassis were clothed by coachbuilders such as Balbo, Pinin Farina, Vignale and Zagato.
Delivered new to Heilbronn, Germany, this unrestored 8V Rapi was bought early in its life by Larry Vivian, a US soldier remaining in Germany, during the cold war. Larry raced the car in Germany and took it with him to the US and kept it until some 5 years ago, when it moved to Belgium. Larry was the second owner and has had the car over 40 years while keeping it totally original with only 47.000 kms on the odometer. Incredible archive photos come with the car even photos when it was transported by air plane.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016
Langit di pinggiran selatan Jakarta berganti panas-adem-panas sepanjang hari. Mirip suasana rumah Bang Mamat dan Mpok Lela yang saban hari makin kagak puguh lagu.
Tiga bulan menjelang pilpres, Bang Mamat kerap berantem lawan Mpok Lela, meskipun bukan adu jotos, cuma adu mulut. Perkaranya kagak laen kagak bukan: sama-sama ngotot calon tuan presiden pilihan masing-masing paling bener sedunia-akherat.
Lewat pukul lima sore, panas matahari masih nyalang. Gemericik Kali Ciliwung terdengar sayup di kejauhan. Bang Mamat duduk di atas dipan bambu di beranda rumah yang sempit. Ia belum juga mandi. Bau mirip bandot campur apek meruap dari kaus lepek akibat keringat.
Celana pangsi hitam lusuh yang dia pakai saat menyambangi satu rumah gedong ke rumah gedong lain, untuk mencari pohon yang hendak dipangkas atau -rumput yang hendak dicukur rapi, masih membungkus bagian bawah tubuh. Lelaki 40 tahunan itu lesu memandang jalan setapak yang sepi dari langkah kaki tetangga.
Namun di dalam hati ia bersemangat menanti Mpok Lela pulang membabu dari rumah sang majikan. Tak sabar ia menyeruput kopi seduhan istrinya. Apalagi, pagi tadi, sebelum berangkat mengejar mimpi akan kehidupan yang lebih baik, mereka sudah berbaikan. Pucuk dicita ulam tiba. Mata Bang Mamat menyala ketika Mpok Lela muncul dari balik pohon nangka di sisi pengkolan jalan.
Sebersit gairah muncul di dada Bang Mamat saat melihat tubuh perempuan yang tetap demplon, meski telah didera kerja keras dan kesusahan selama mendampinginya bertahuntahun. Namun gairah itu redup ketika sang istri tiba di beranda, meletakkan bungkusan berisi kaus di atas dipan yang dia duduki seraya berkata, “Nih ada kaus dari Bu Meri. Satu buat Lela, satu buat Abang.
Lumayan kan buat pegi-pegi.” Belum sempat Bang Mamat melihat kaus itu, Mpok Lela dengan santai berjalan sambil mengelupas sehelai stiker dan menempelkan di pintu masuk rumah mereka. “Eh, eh, apaan tuh maen templok-templokin aje di pintu?”
Bang Mamat melongo sambil menghardik istrinya, benarbenar telah lupa pada gairah yang meletup di dada. Kesal pula karena sang istri tak segera menggubris keberadaannya. Mpok Lela melirik suaminya. Tangannya tetap sibuk di pintu, mengurut-urut stiker agar menempel kuat dan rata. “Cuman tempelan doang,” Mpok Lela menjawab acuh.
“Iye, gue juga tahu ntu tempelan. Nah, nah… gambar apaan tuh? Muke siape yang lu pasang di situ? Copot kagak! Copot sekarang!” Amarah Bang Mamat makin naik saat paham stiker apa yang sang istri pasang. Namun Mpok Lela tetap pada kelakuannya.
Tanpa menghiraukan Bang Mamat, Mpok Lela masuk setelah mengambil bungkusan kaus yang teronggok di dipan. Hati Bang Mamat makin panas. Ia bangkit. Dia renggut stiker dari pintu, dia remas dan sobek-sobek, meski tak berhasil.
Sontak Mpok Lela urung masuk ke dalam. Ia marah dan mencoba merebut dengan kasar stiker dari tangan sang suami. îMasya Allah, kesambet dedemit mana lu, Lela? Bener-bener lu ye, bukan buru-buru bikin kupi, malah kelakuan demek begitu lu suguhin.
Segitu ngebelanye lu ame tu orang yang kagak danta omongannye ketimbang gue, laki lu? Mau jadi ape lu? Mau durhake lu ame laki!” “Abang yang durhake ame bini!” Suara Mpok Lela tidak kalah keras.
“Udeh tau tuan presiden gacoan Abang tukang bo’ongin rakyat, masih aje Abang maksa Lela milih die. Lela emang perempuan, tapi Bu Meri bilang Lela punya hak milih gacoan Lela sendiri. Lagian, kata Abang, kalau kepilih lagi, rakyat kecil bise sejahtere! Mana buktinye, Bang? Idup kite masih begini-begini aje.
Lela sih ogah milih die lagi. Mending tuan presiden Lela, bisa dipercaye. Bu Meri udeh kasi unjuk bukti poto-poto kalo tuan presiden Lela orang baek. Die demen begaul ame orang kecil, Bang.
Kerjaannye muter-muter nyari di mane orang miskin pade ngumpul, ngajakin ngobrol gimane idup kite, kenape bisa suse. Pemimpin ntu begitu, Bang! Udeh pasti ntar die bakal bener-bener perhatiin kite!”
“Bener-bener dari mane, La? Jelas aje die deketin orang kayak kite. Ni musim kampanye! Jelas aje die baek-baek ame orang kecil. Lu pikir gacoan lu kaga tukang bo’ong? Mane mungkin die bener-bener mau perhatiin kite, babu ame tukang kebon panggilan?
Masak lu percaye die bakal bener-bener naekin gaji babu ame tukang kebon kalo die kepilih? Kalo die naek jadi presiden belon tentu keinget ame janjinye! Mending gacoan Abang nih, udeh kebuktian mimpin kite! Biar kate ngebon ape ngebabu juga, ati kite aman, idup tenterem kagak ade rusuh-rusuh.
Ngarti kagak?” “Kalo Abang bilang kebuktian, harusnye kite udeh kagak melarat. Pan Abang bilang waktu musim kampanye nyang duluan, tuan presiden Abang bakalan ngasih orang-orang kayak kite kerjaan nyang lebih baek, nyang gajinye lebih gede.
Kerja di kantor gitu, ketakketik komputer gitu. Kenyataannye, masih jadi kuli cuci ame ngebon aje kite sampe hari gini. Buat ape belain yang begituan?” teriak Lela tak kalah garang.
“Lah, biasa pegang papan penggilesan kepengen jadi pegawe kantoran!” ujar Bang Mamat naik pitam. “Entar sawan lu liat komputer! Emang susah ngomong ame lu, La. Kagak ngarti pulitik mau omong pulitik.
Baru dikasih stiker ame kaus aje udeh buta mata!” Kesal, Bang Mamat segera merenggut kaus yang dibawa istrinya, lalu sekuat tenaga dia sobek kaus itu hingga jadi perca. “Nih, mending lu jadiin topo ni kaos. Lebih berpaedah!” Mata Mpok Lela terbelalak. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun. Mpok Lela menangis keras.
Ia masuk ke dalam rumah lalu kasak-kusuk di kamar. Tak lama kemudian, ia berlari ke luar sambil membawa bungkusan dan tas yang sering dia bawa saat bepergian. Bang Mamat terdiam di depan pintu. Ia tak mencegah atau bertanya ke mana istrinya pergi.
Ia pun masih sangat geram atas kekeraskepalaan Mpok Lela yang memilih calon tuan presiden yang berbeda. Kalau saja azan magrib tak berkumandang, tentu ia masih ingin memperpanjang babak pertengkaran dengan istrinya. Sejak saat itu, Mpok Lela tidak pulang lagi ke rumah petak yang ia tinggali bersama Bang Mamat.
Ia tinggal di rumah majikannya, Bu Meri. Ia merasa sudah tidak cocok hidup bersama Bang Mamat yang sudah dia nikahi hampir 20 tahun itu. Mpok Lela juga merasa Bang Mamat kini telah berubah perangai dan tutur katanya; tak lembut dan jenaka seperti dulu.
Bang Mamat sudah beberapa kali datang ke rumah Bu Meri untuk mengajak Mpok Lela berbaikan. Namun perempuan itu tetap tidak mau pulang ke rumah sampai suaminya bersedia memilih calon tuan presiden jagoannya. Ketika Bang Mamat memaksa Mpok Lela pulang, perempuan itu mengancam akan pulang ke rumah abanya.
Ancaman itu mujarab untuk menghentikan upaya Bang Mamat. Ia lebih takut Mpok Lela pulang ke rumah orang tuanya di Menteng Tenggulun, sebab sang aba, mertuanya yang mantan jawara itu, akan marah besar. Meski sudah tua, aba Mpok Lela masih gagah dan disegani banyak orang.
Untuk marah kepada Bu Meri, yang dia anggap telah meracuni pikiran Mpok Lela sehingga istrinya berani dengan lantang memilih calon tuan presiden, Bang Mamat juga sungkan, sebab Bu Meri dan keluarganya sejak lama telah banyak membantu mereka, termasuk saat Mpok Lela keguguran dan dinyatakan tak bisa lagi memiliki anak.
Jadi Bang Mamat akhirnya membiarkan keinginan istrinya tinggal di rumah Bu Meri. Tak ada jalan lain. Ia pun tak rela dipaksa Mpok Lela melepaskan tuan presiden pilihannya. “Ini soal prinsip!” tegas Bang Mamat berkali-kali dalam hati.
Namun makin hari Bang Mamat merasa kian menderita. Tak ada lagi kopi buatan Mpok Lela. Tak ada senyum manis dan gerak tubuh istrinya yang sering kali menerbitkan gairah pada waktu-waktu tertentu. Bang Mamat rindu pada suara istrinya yang dulu, sebelum-gonjang ganjing pilpres berlangsung.
Keceriaan istrinya sering kali menjadi obat pelipur lelahnya setelah seharian berkeliling kompleks. Kini, pilpres tinggal hitungan hari. Bang Mamat berangkat kerja dengan lesu, pulang dengan lesu. Ia pergi tidur dengan perasaan hampa, terbangun dengan hampa yang sama.
Ketika suatu hari merasa hampir gila karena rindu Mpok Lela, Bang Mamat menangis tersedu-sedu. Jauh dalam lubuk hati ia berharap, calon tuan presiden yang mati-matian ia puja akan datang membela, membantu membawa Mpok Lela pulang ke pelukannya. (28)
Nilla A Asrudian, penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Buku cerpennyaWarna Cinta(-mu Apa?) dan Lakon dari Negeri Sengkarut, sedangkan novelnya Aku Adiva.
[1] Disalin dari karya Nilla A Asrudian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 3 Februari 2019.
The post Membela Tuan Presiden appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2HO5CN5
The Bianchina Panoramica was technically based on the estate version of the Fiat 500: the Giardiniera.
The Bianchina series was designed by Luigi Rapi (1902- ).
The first series had a roll-top roof. From 1962 a steel roof was also available. A minor facelift followed in 1965.
At the right there is a dark 1974-1982 Innocenti 120/90, but at that moment I had no eye for this rare car.
The Autobianchi automotive company was founded in 1955 by a cooperation between Bianchi, Pirelli and Fiat. Autobianchi became a full part of Fiat S.A. in 1968. It was put under control of the also new acquired Lancia brand. Gradually the production of own models stopped and were sold as Lancia, like the Autobianchi A112, which finally became Lancia A112.
499,5 cc 2 cylinder air-cooled Boxer rear engine.
Performance: 17,5 bhp.
Ca. 550 kg.
Production Autobianchi Bianchina Berlina Series: 1957-1969.
Production Autobianchi Bianchine Panoramica: May 1960-1969.
Production Bianchina Panoramica this version: 1962-1969.
With original old Italian reg. number (type 1951-1976, Como, Italia).
Number seen: 1.
Scan from analog photo.
Film roll: 00-23.
Levanto (Italia), July 20, 2000.
© 2000 Sander Toonen Amsterdam/Halfweg | All Rights Reserved.
In the postwar years, Fiat was working on an eight-cylinder engine which was internally known as Tipo 106. Dante Giacosa originally designed the engine for a luxury sedan, but then that project stopped. Rudolf Hruska, at the time working at S.I.A.T.A., was given the task to design a car around the V8 engine. Development took place in absolute secrecy. To not stress the experimental department of Fiat, S.I.A.T.A took up the production of the chassis. Styled by chief designer Fabio Luigi Rapi, the Fiat 8V or OttoVù was presented to the Italian press in February 1952 and first exhibited in the following March at the Geneva Motor Show.
The Fiat 8V prototype used an art deco grill that extended into the hood. A second series was made featuring four headlights with some of the later cars have a full-width windscreen. A high-performance coupé destined to compete in the GT class, the 2-litre 8V model, was a departure from the usual Fiat production. It was well accepted by Italian private drivers and tuners and was the car to beat in the 2-litre class, also thanks to the unique versions built by Zagato or Siata. The Fiat V8 had a 70-degree V configuration of up to a 1996 cc of volume, at 5600 rpm the engine produced 105 hp (78 kW) in standard form with two two-barrel Weber 36 DCS carburettors giving a top speed of 190 km/h (118 mph). Some engines were fitted with substantial four-throat Weber 36 IF4/C carburettors offering 120 bhp, but the intake manifold was very rare. The Fiat 8V is the only eight-cylinder built by Fiat. The engine was connected to a four-speed gearbox. The shapes of the car have seen several changes over time: the prototype had an art deco grille that extended into the bonnet. A second series was made with four headlights; finally, some of the latest cars had a large windshield without divisions. Only 114 of this high-performance coupé were produced, 63 of which with a “Fiat Carrozzerie Speciali” body, 34 first-series and 29 second-series. It was made available in different body styles, offered by the factory and by various coachbuilders like Zagato, Pinin Farina, Ghia and Vignale. The production ceased in 1954.
Text from:
www.carrozzieri-italiani.com/listing/fiat-8v-carrozzerie-...
A Francesco, young mucisian, who left us.
SON, ALWAIS
The ennemy came
and took you away.
Are useless
my prayers.
Stronger than my love
was Death
Terrible was the verdict.
Nothingness
sank
beneath me
and wrapped in the night
had no more light
my eyes.
Endless night
dark night,
every breath, all hope,
you take away.
Evil that i'm payng
with my pain ?
I had all.
And now
whar remains ?
I will wacth you
with my heart
Mother,
I'll stay always with you,
Father !
A voice
A sob
A throb
Sigh of love
my delight
Beloved son !
Forever son !
Will alwais be with us
dear Love,
will alwais be with us.
Stronger than death
is our love
stronger than death
stronger than pain .
Biancamaria Valeri
----------------------------
ITALIANO
---------------------------
FIGLIO, SEMPRE
Giunse il nemico ,
e ti rapì.
A nulla valsero le preci mie.
più forte del mio amore
fu la Morte.
Terribile il verdetto.
Il nulla
sprofondò
sotto di me
e avvolta nella notte
non ebbero più luce
gli occhi miei.
Notte profonda,
notte cupa
che togli ogni respiro,
ogni speranza
Che male
sto scontando
col dolor ?
Avevo tutto.
E ora,
che mi resta ?
Ti veglierò col cuore,
Madre,
Sarò sempre con te
o Padre !
Una voce,
un singulto,
un palpito.
Sospiro dell'Amore mio Diletto.
Figlio adorato !
Figlio per sempre !
Sarai sempre con noi,
caro Amore,
sarai sempre con noi.
Più forte della Morte
il nostro Amore,
più forte della Morte e del Dolore.
Biancamaria Valeri.
----------------------------------------
FRANCESE
----------------------------------------
FILS, TOUJOURS .
L'ennemi est venu ici
pour vous emporter
Envain je le priai
plus fort que mon amour
a été la mort
Terrible le verdict
Le neant
disparu
dessous de moi
et enveloppé de la nuit
n'avait pas plus de lumière
mes yeux.
Nuit,
nuit noire
qui emporte
chaque souffle
chaque espoir
Quel domnage
je dois payer
avec la douler?
J'avais tout
e maintenat,
qu'est ce qui me reste ?
Je vais vous aider avec mon coeur
Mére
Je serai toujours avec vous
Pére
Une voix
un début
un coup au coeur.
Soupir d'amour
Mon favori
Fils-bien aimé !
Fils à jamais !
Tu seras toujours avec nous
cher amour
tu serais toujours avec nous
Plus fort que la mort
notre amour
Plus fort que la mort
et la douleur.
Biancamaria Valeri
------------------------------------------------
Spagnolo
-----------------------------------------------
HIJO , PARA SIEMPRE.
El enemigo vino a qui y te llevò
fueron inùtiles
mis oraciones
màs fuerte que mi amor
era la muerte
Terrible el veredicto
La nada
se hundiò
debajo de mi
y confundido en la noche
no tenias mas luz
a mis ojos.
Noche profunda
noche oscura
para llevarse
cada respirazionn
toda esperanza
Io que el pecado
tengo que pagar
con este dolor?
Yio la tenia todo
y ahora
me quedan?
Yo siempre estoré contigo
Madre.
Yo siempre estoré contigo
Padre.
Una voz
un comienzo
un pulso
Suspiro de Amor
Mi favorido
Amado Hijo
hijo para siempre
Siempre estaràs con nosotros,
querido amor
siempre estaràs con nosotros.
Mas fuerte que la muerte
nuestro amor
màs fuerte que la muerte
y que el dolor
Biancamaria Valeri
Rover Systems CCTV Philippines
Rover Systems Brings you the most advanced wireless alarm technology in the market.
the Rover Systems Wireless Alarm Systems
is a streamlined, space-saving design, offering cost effective
security and connectivity, with all the essential functions of a one-way wireless
technology available in one small high-powered package
Rover Systems Wireless Alarm Systems
remote management is driven by home Guard, which give user a direct
operation on the premises. The advanced features include remote programming and
maintenance utilities, arm and disarm the system from anywhere via smartphone
and WEb applications, real-time monitoring of panels and security devices, built-in interface with
PSTN/GSM/GPRS communication modules, configuration of email and SMS Event nitification to users.
The simple wireless installation and advanced remote management capabilities of iProteq
Series provide an ideal value-for money solution, which allow user to enjoy a complete sense of control and peace of mind
#roversystems #cctvphilippines
Fiat 8V 'Otto Vu'
1.996 cc
V8
115 HP
Vmax : 190 km/h
114 ex. (Otto Vu)
Italian Car Passion
Autoworld
Brussels - Belgium
Januari 2016
Para muestra un botón, pues una sola sala de armas, reúne sabiamente, lo mejor de un deporte que estuvo en la primera edición de los Juegos Olímpicos modernos; y que sigue evolucionando para estar presente en todas sus facetas; cada día con mas fuerza en el siglo XXI, como disciplina lúdica para los niños y deportiva para todas las edades, fitness-esgrima, ludo-esgrima, así como esgrima histórica, disciplina que nace en la antiguedad y que ha ido evolucionando y no ceja en su empeño, la espada es la prolongación de la mano, y la mano de la mente del esgrimista, deportista o artista, esgrima escénica, de espectáculo y escénica, que completa las escenas en el cine, que se sumerge en las fiestas que recrean la historia. Y que puedes encontrar todas juntas en la Sala de Armas Louis XIV de Torrelavega, en Cantabria, provincia de Santander, en España. www.facebook.com/CiaTorredelaVegaySaladeArmasLouisXIV
507次 莒光號 Chu-Kuang Express no.507
本務機E212 (南海電鉄「台日友誼列車」彩繪)
縱貫線 山佳 - 鶯歌 / 新北市鶯歌區
TRA Main Line Shanjia - Yingge / Yingge District, New Taipei City
The Fiat 8V (or "Otto Vu") is a sports car produced by the Italian automaker Fiat from 1952 to 1954. The car was introduced at the 1952 Geneva Motor Show. The Fiat 8V got its name because at the time of its making Ford had a copyright on the term V8. They weren't a commercial success, but did well in racing. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats (but many parts were made by Siata and they used them for their cars). The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi. The engine was a V8 originally designed for a luxury sedan, but that project was stopped. The Fiat V8 had a 70 degree V configuration of up to a 1996 cc of volume, at 5600 rpm the engine produced 105 hp (78 kW) in standard form giving a top speed of 190 km/h (118 mph). The engine was connected to a four speed gearbox. The car had independent suspension all round and drum brakes on all four wheels.
(Wikipedia)
Athlete's village for Asian Games 2018, built over former wasteland. Bigger, spacier and higher in quality than what Brasilian provide to any Asian olympians in 2016; the INASGOC said.
Kampung atlet bagi atlet yang berlaga di Asian Games 2018, dibangun di bekas lahan kosong. Lebih megah dan rapi ketimbang yang dibangun Brasil untuk atlet Olimpiade 2016, kata Inasgoc.
Coachwork by Bertone
One of the may postwar Fiat-powered "Etceterini", Stanguellini was based in Modena. Designed by Luigi Rapi, the 1100 Stanguellini enjoyed many motor sport successes. This car, with an 1100 cc engine tuned by Carlo Abarth, was ordered in 1951 by Mario Torti from Milan. Its elegant bodywork was the result of a collaboration between Nuccio Bertone and Vittorio Stanguellini.
Class II : Post-war Closed Cars
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2018
Knokke - Zoute
België - Belgium
October 2018
Keindahan Waduk Wadaslintang memang patut dijadikan salah satu objek wisata di Indonesia yang terus dikembangkan. Waduk yang luasnya sekitar 2.626 hektare tersebut semakin cantik dilihat dari Bukit Windusari Erorejo. Namun untuk menikmati keindahan waduk yang dibangun di tahun 1982 itu harus membayarnya dengan pengorbanan yang cukup melelahkan.
Bukit Windusari berada di Dusun Windusari, Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Selain menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dari atas puncak, pengunjung yang datang ke sana juga bisa mengulik sejarah Syeh Nawawi A. Sidik yang melegenda di dusun tersebut.
Hamparan sawah yang menghijau, rindangnya pohon pinus di sisi kanan-kiri, udara yang begitu sejuk menemani perjalanan menuju ke sana. Warga di Dusun Windusari juga cukup ramah, selalu menyapa dan menebar senyum terhadap pengunjung. Akses jalan yang cukup terjal dan terus menanjak, memaksa kendaraan harus meraung dan dikendari dengan hati-hati.
Setelah dari Lubang Sewu, atas saran salah satu pemilik warung di sana, kami menuju ke Bukit Windusari, jaraknya sekitar 6 km dari sana. Menuju ke bukit pemandangannya indah sekali, jalan yang sudah beraspal mulus juga membuat perjalanan kami jadi menyenangkan. Di atas perbukitan terdapat sekitar 50 kepala keluarga yang tinggal di sana. Jadi bisa dibilang cukup ramai.
Danau Wadaslintang, Waduk Wadaslintang
Persawahan hijau berlatar Waduk Wadaslintang menuju ke Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo
Sepertinya objek wisata Bukit Windusari ini tidak begitu dikelola secara matang. Petugas wisata saja tidak ada kami temukan di sana. Jadi tidak ada biaya tiket masuk ke Bukit Windusari. Untuk menitipkan motor, ada sebuah warung kecil. Di situlah kami menitipkan motor, dan harus berjalan kaki menuju puncak.
Awalnya kami tidak tahu di mana lokasi parkir, motor kami terus menanjak, alhasil karena jalannya sangt licin hampir saja kami terjatuh. Apalagi di musim hujan seperti ini, tanah kuning semakin licin untuk dilalui. Akhirnya kami balik kanan, dan menuju ke warung satu-satunya yang sekaligus juga tempat parkir.
“800 meter lagi dari sini ke bukit,” kata Mbah pemilik warung itu, Minggu (28/11/2016).
Wow, 800 meter cukup jauh, bukan? Kalau jalan datar oke, ini harus menanjak. Apa bedanya mendaki gunung? Setelah mengobrol sebentar kami langsung melanjutkan petualangan menikmati selangkah demi selangkah di Bukit Windusari. Di sini merupakan kawasan hutan pinus, jadi sejauh mata memandang hutan pinus yang terlihat.
Menuju puncak Bukit Windusari
Kanan-kiri pohon pinus menuju puncak Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo
Hamparan hutan pinus di sini pohonnya menjulang tinggi, dan batang-batangnya cukup besar. Hampir di setiap pohonnya juga getahnya sudah dipanen. Tampak terlihat setiap pohon pinus sudah digarap (baca:dideres) getahnya.
Sekadar informasi, getah pohon pinus itu nantinya akan diolah menjadi bahan baku cat. Selain itu juga masih banyak lagi manfaat dari getah pohon pinus ini untuk industri, misalnya saja untuk pewangi. Indonesia sendiri merupakan negara ketiga terbesar penghasil getah pinus jenis gondorukem (gum rosin), setelah India dan Brazil.
Trecking ke pucak ada dua tahap medannya. Medan pertama jalan tanah biasa dengan menanjak, dan kedua medan bebatuan cadas dengan kemiringan 180 derajat. Tak jauh berbeda dengan mendaki gunung. Memang beberapa batu-batu yang menghalangi jalan sudah dipahat seperti tapak kaki. Namun tetap saja cukup sulit dan berbahaya.
Bagi kamu yang datang ke sini nanti, pakailah sepatu atau sandal trecking. Biar lebih nyaman dn aman ke Bukit Windusari. Paling tidak, pakai sepatu kets. Jangan sepatu atau sendal “mentel”, yang ada bunga-bunganya, bisa putus sendal kamu di sini.
Gazebo di Bukit Windusari
Gazebo di Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo
Lebih kurang 400 meter pendakian, terdapat gazebo di atas. Nah di sini pemandangan yang kami lihat juga sudah indah. Waduk Wadaslintang yang dibangun oleh di zaman Soeharto itu pun mulai menampakkan keelokannya. Peluh sudah mengucur deras di tubuh kami, pakaian mulai basah, napas sudah tersengal-sengal. Sayangnya tidak ada kursi di gazebo tersebut.
Setelah stamina kembali prima, dan bernapas kembali normal, kami melanjutkan menapaki bukit paling tinggi di desar tersebut. Sialnya, perut mendadak tidak mengenakkan petualangan itu. Mau tak mau saya harus… ah kamu tahu sendirilah, namanya juga sakit perut. Dan terpaksa juga menggunakan jurus alam, mengingat air yang dibawa tinggal 700 ml.
Eh… kamu jangan senyum-senyum atau tertawa cekikikan begitu! Biasa saja keules di alam bebas itu. Kalau sudah biasa mendaki gunung atau bermain di alam bebas, pasti sudah terbiasa hal yang begituan. Jadi ngapain juga harus malu! Emang mau ditahan-tahan, sampai tercecer si "kuning" di celana. Saya sih tidak! Toh, alam juga merestuinya, dan memang permainannya seperti itu. Jangan bilang! Ihhh… jorok!
Achhhh… setelah lega, kami lanjutkan petualangan yang seru ini. Ternyata tidak jauh dari tempat tadi di atas ternyata ada makam Syeh Nawawi A. Sidik. Makam tersebut dinaungi seperti rumah. Dan di halaman makam itu juga ada pelataran yang cukup luas dan beratap genteng. Area makam syeh tersebut sangat bersih, rapi, dan nyaman.
Karena merasa “berdosa” sudah melakukan di bawah tadi, saya coba keliling di sekitar. Mana tahu ada kamar mandi. Saya lihat ada kran. Horeee… ada air. Eh, saya putar, menetes pun tidak airnya. Huh.
“Airnya nggak ada, Mas,” kata Mbah Rosmi, penjaga makam Syeh Nawawi A. Sidik. Setelah dibilang tidak ada air, saya hanya ber-oh saja. Jadi mau bilang apa lagi ya, kan?
Karena rasa penasaran, kenapa ada makam di sini, jadi saya tanya dengan Mbah Rosmi tersebut.
“Mbah, kenapa ada makam di atas bukit ini?”
“Karena sudah takdir Allah,” jawab Mbah Rosmi.
Waduh… bingung juga saya menyambung percakapan selanjutnya, kalau sudah dijawab seperti itu.
“Memangnya itu kuburan siapa, Mbah?”
“Orang sakti,” jawab Mbah Rosmi lagi.
Berdebar jantung saya mendengar orang sakti. Lalu saya pancing lagi, “Syeh itu siapa, Mbah?
“Itu syeh dari Jepara, namanya Syeh Nawawi A. Sidik, anak dari Sunan Muria,” jelas Mbah Rosmi.
Hm, pantesan saja, anak dari salah satu Wali Songo ternyata. Nah, Sunan Muria (Raden Umar Said) sendiri adalah anak dari Sunan Kalijaga. Berarti Syeh Nawawi A. Sidik juga cucu dari Sunan Kalijaga.
Ketika ditanya ramai yang berziarah ke sini, Mbah Rosmi bilang cukup ramai. Terutama di hari-hari tertentu. Saat kami ke sana tidak ada yang berziarah, ya, mungkin karena hari biasa, hari Minggu. Mbah Rosmi yang menjaga makam syeh ini juga tampak rajin sekali membersihkan area makam. Terlihat sangat bersih pekarangannya.
“Nggak setiap hari saya datang ke sini, paling seminggu sekali,” kata Mbah Rosmi.
Saat ditanya kuat tidak naik dari bawah sampai ke atas sini, “Ya… kuat,” ujar Mbah Rosmi tertawa kecil.
“Mbah, boleh lihat makam Syeh Nawawi langsung?” tanya saya.
Makam Syeh Nawawi A. Sidik
Makam Syeh Nawawi A. Sidik | Foto smarainjogja, Rizka Wahyuni
Baca juga:
Menyingkap Keindahan Hutan Pinus Grenden
Berburu Foto di Hutan Pinus Top Selfie
Gereja Ayam Tempat Syuting AADC 2 yang Semakin Cantik
Makam Syeh Nawawi A. Sidik
Makam Syeh Nawawi A. Sidik | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni
“Ya, boleh, sini-sini!” Mbah Rosmi menggiring kami ke makam Syeh Nawawi.
Sebenarnya saya mau langsung masuk, namun mengingat kejadian beberapa menit lalu di bawah, saya urungkan diri. Kami hanya melihat dari luar pintu saja. Tepat di makam tersebut terlihat Al-Qur’an, tasbih, alat pengeras suara (ampli dan mikrofon). Dan alas duduk juga terhampar di depan makam Syeh Nawawi.
Tak lama kemudian setelah berbincang hangat dengan Mbah Rosmi kami langsung menuju gardu pandang Bukit Windusari.
“Dari sini jalannya!” kata Mbah Rosmi, pesannya lagi pada kami, “hati-hati, jangan terlalu main-main ke bawah, jurang di bawah itu.”
“Iya, Mbah,” jawab kami serempak.
Bukit Wundisari
Gardu Pandang Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo
Sekitar 100 meter dari makam Syeh Nawawi itulah gardu pandang Bukit Windusari. Dari atas sini sangat jelas melihat indahnya Waduk Wadaslintang, dan perbukitan yang mengelilinginya. Hutan pinus dari lereng perbukitan sampai di puncak bukit juga seperti rumpunan rumput, sangat indah dan menggemaskan. Pengunjung di Bukit Windusari kami lihat kaum remaja tanggung saja. Mereka tampak asyik duduk bersantai di atas gardu pandang.
Bukit Windusari Erorejo
Bukit Windusari Erorejo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo
Dari atas Bukit Windusari, waduk terluas di Jawa Tengah itu terlihat begitu jelas, dari sudut ke sudut. Bahkan tampak begitu dekat sekali di depan mata. Hawa di atas puncak juga sangat sejuk, nyaman, dan begitu tenang. Rasanya tidak ingin beranjak dari sini.
Oh ya, bagi kamu yang mau ke sini suatu hari nanti, bawalah perbekalan yang cukup. Minuman dan camilan, misalnya. Karena di atas puncak tidak ada yang berjualan. Boro-boro jualan, penghuni di atas saja yang datang seminggu sekali ke sini, ya, misalnya seperti Mbah Rosmi tadi.
Dan jangan lupa pula, area di sini sangat bersih, dan benar-benar bersih, bawa kembali sampah makanan dan minuman kamu. Lagian di sana juga tidak ada petugas kebersihan, dan juga tidak ada tempat sampah.
Gardu pandang tempat biasa untuk ber-selfie itu terbuat dari kayu. Memang terlihat cukup kokoh, namun tetap waspada, jangan terlalu ramai di atas. Bisa ambrol nanti. Nah, di bawah itu jurang, lho. Bisa meluncur ke bawah nanti. Ini bukan menakuti tapi serius, pakai banget malah. Mengingat kalau sudah ber-selfie ria, lupa keadaan. Saya hapal betul pengunjung wisata Indonesia ini.
Ajak sahabat-sahabat terbaik kamu di sini, nikmatilah keindahan alam dari Bukit Windusari. Saatnya bertualang tanpa harus menguras uang. Sudah sampaikan di atas tadi, ke Bukit Windusari itu gratis. Kamu tinggal bawa bekal makanan saja dari rumah. Dan fisik tetap dinomor satukan juga, sebab kamu sudah seperti mendaki gunung.
Nah, kalau teman-teman dari Yogyakarta, rute terdekat menuju ke Bukit Windusari. Sebaiknya ambil rute Jl. Godean – Jl Kaligesing – Purwerejo – Jl. Gebang – Jl. Kemiri-Bruno – Jl. Raya Pituruh-Kemiri – Jl. Raya Pituruh-Brengkol – Jl. Raya Wadaslintang. Kami mengambil rute tersebut, dan perjalanannya cukup cepat, sekitar 3 jam.