View allAll Photos Tagged RaPi

507次 莒光號 Chu-Kuang Express no.507

本務機E212 (南海電鉄「台日友誼列車」彩繪)

 

縱貫線 山佳 - 鶯歌 / 新北市鶯歌區

TRA Main Line Shanjia - Yingge / Yingge District, New Taipei City

Dapur simple modern dengan kesan bersih dan rapi.

The Fiat 8V (or "Otto Vu") is a sports car produced by the Italian automaker Fiat from 1952 to 1954. The car was introduced at the 1952 Geneva Motor Show. The Fiat 8V got its name because at the time of its making Ford had a copyright on the term V8. They weren't a commercial success, but did well in racing. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats (but many parts were made by Siata and they used them for their cars). The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi. The engine was a V8 originally designed for a luxury sedan, but that project was stopped. The Fiat V8 had a 70 degree V configuration of up to a 1996 cc of volume, at 5600 rpm the engine produced 105 hp (78 kW) in standard form giving a top speed of 190 km/h (118 mph). The engine was connected to a four speed gearbox. The car had independent suspension all round and drum brakes on all four wheels.

 

(Wikipedia)

Athlete's village for Asian Games 2018, built over former wasteland. Bigger, spacier and higher in quality than what Brasilian provide to any Asian olympians in 2016; the INASGOC said.

 

Kampung atlet bagi atlet yang berlaga di Asian Games 2018, dibangun di bekas lahan kosong. Lebih megah dan rapi ketimbang yang dibangun Brasil untuk atlet Olimpiade 2016, kata Inasgoc.

Coachwork by Bertone

 

One of the may postwar Fiat-powered "Etceterini", Stanguellini was based in Modena. Designed by Luigi Rapi, the 1100 Stanguellini enjoyed many motor sport successes. This car, with an 1100 cc engine tuned by Carlo Abarth, was ordered in 1951 by Mario Torti from Milan. Its elegant bodywork was the result of a collaboration between Nuccio Bertone and Vittorio Stanguellini.

 

Class II : Post-war Closed Cars

 

Zoute Concours d'Elegance

The Royal Zoute Golf Club

 

Zoute Grand Prix 2018

Knokke - Zoute

België - Belgium

October 2018

Keindahan Waduk Wadaslintang memang patut dijadikan salah satu objek wisata di Indonesia yang terus dikembangkan. Waduk yang luasnya sekitar 2.626 hektare tersebut semakin cantik dilihat dari Bukit Windusari Erorejo. Namun untuk menikmati keindahan waduk yang dibangun di tahun 1982 itu harus membayarnya dengan pengorbanan yang cukup melelahkan.

 

Bukit Windusari berada di Dusun Windusari, Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Selain menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dari atas puncak, pengunjung yang datang ke sana juga bisa mengulik sejarah Syeh Nawawi A. Sidik yang melegenda di dusun tersebut.

 

Hamparan sawah yang menghijau, rindangnya pohon pinus di sisi kanan-kiri, udara yang begitu sejuk menemani perjalanan menuju ke sana. Warga di Dusun Windusari juga cukup ramah, selalu menyapa dan menebar senyum terhadap pengunjung. Akses jalan yang cukup terjal dan terus menanjak, memaksa kendaraan harus meraung dan dikendari dengan hati-hati.

 

Setelah dari Lubang Sewu, atas saran salah satu pemilik warung di sana, kami menuju ke Bukit Windusari, jaraknya sekitar 6 km dari sana. Menuju ke bukit pemandangannya indah sekali, jalan yang sudah beraspal mulus juga membuat perjalanan kami jadi menyenangkan. Di atas perbukitan terdapat sekitar 50 kepala keluarga yang tinggal di sana. Jadi bisa dibilang cukup ramai.

 

Danau Wadaslintang, Waduk Wadaslintang

 

Persawahan hijau berlatar Waduk Wadaslintang menuju ke Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

 

Sepertinya objek wisata Bukit Windusari ini tidak begitu dikelola secara matang. Petugas wisata saja tidak ada kami temukan di sana. Jadi tidak ada biaya tiket masuk ke Bukit Windusari. Untuk menitipkan motor, ada sebuah warung kecil. Di situlah kami menitipkan motor, dan harus berjalan kaki menuju puncak.

 

Awalnya kami tidak tahu di mana lokasi parkir, motor kami terus menanjak, alhasil karena jalannya sangt licin hampir saja kami terjatuh. Apalagi di musim hujan seperti ini, tanah kuning semakin licin untuk dilalui. Akhirnya kami balik kanan, dan menuju ke warung satu-satunya yang sekaligus juga tempat parkir.

 

“800 meter lagi dari sini ke bukit,” kata Mbah pemilik warung itu, Minggu (28/11/2016).

 

Wow, 800 meter cukup jauh, bukan? Kalau jalan datar oke, ini harus menanjak. Apa bedanya mendaki gunung? Setelah mengobrol sebentar kami langsung melanjutkan petualangan menikmati selangkah demi selangkah di Bukit Windusari. Di sini merupakan kawasan hutan pinus, jadi sejauh mata memandang hutan pinus yang terlihat.

 

Menuju puncak Bukit Windusari

 

Kanan-kiri pohon pinus menuju puncak Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

 

Hamparan hutan pinus di sini pohonnya menjulang tinggi, dan batang-batangnya cukup besar. Hampir di setiap pohonnya juga getahnya sudah dipanen. Tampak terlihat setiap pohon pinus sudah digarap (baca:dideres) getahnya.

 

Sekadar informasi, getah pohon pinus itu nantinya akan diolah menjadi bahan baku cat. Selain itu juga masih banyak lagi manfaat dari getah pohon pinus ini untuk industri, misalnya saja untuk pewangi. Indonesia sendiri merupakan negara ketiga terbesar penghasil getah pinus jenis gondorukem (gum rosin), setelah India dan Brazil.

 

Trecking ke pucak ada dua tahap medannya. Medan pertama jalan tanah biasa dengan menanjak, dan kedua medan bebatuan cadas dengan kemiringan 180 derajat. Tak jauh berbeda dengan mendaki gunung. Memang beberapa batu-batu yang menghalangi jalan sudah dipahat seperti tapak kaki. Namun tetap saja cukup sulit dan berbahaya.

 

Bagi kamu yang datang ke sini nanti, pakailah sepatu atau sandal trecking. Biar lebih nyaman dn aman ke Bukit Windusari. Paling tidak, pakai sepatu kets. Jangan sepatu atau sendal “mentel”, yang ada bunga-bunganya, bisa putus sendal kamu di sini.

 

Gazebo di Bukit Windusari

 

Gazebo di Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

 

Lebih kurang 400 meter pendakian, terdapat gazebo di atas. Nah di sini pemandangan yang kami lihat juga sudah indah. Waduk Wadaslintang yang dibangun oleh di zaman Soeharto itu pun mulai menampakkan keelokannya. Peluh sudah mengucur deras di tubuh kami, pakaian mulai basah, napas sudah tersengal-sengal. Sayangnya tidak ada kursi di gazebo tersebut.

 

Setelah stamina kembali prima, dan bernapas kembali normal, kami melanjutkan menapaki bukit paling tinggi di desar tersebut. Sialnya, perut mendadak tidak mengenakkan petualangan itu. Mau tak mau saya harus… ah kamu tahu sendirilah, namanya juga sakit perut. Dan terpaksa juga menggunakan jurus alam, mengingat air yang dibawa tinggal 700 ml.

 

Eh… kamu jangan senyum-senyum atau tertawa cekikikan begitu! Biasa saja keules di alam bebas itu. Kalau sudah biasa mendaki gunung atau bermain di alam bebas, pasti sudah terbiasa hal yang begituan. Jadi ngapain juga harus malu! Emang mau ditahan-tahan, sampai tercecer si "kuning" di celana. Saya sih tidak! Toh, alam juga merestuinya, dan memang permainannya seperti itu. Jangan bilang! Ihhh… jorok!

 

Achhhh… setelah lega, kami lanjutkan petualangan yang seru ini. Ternyata tidak jauh dari tempat tadi di atas ternyata ada makam Syeh Nawawi A. Sidik. Makam tersebut dinaungi seperti rumah. Dan di halaman makam itu juga ada pelataran yang cukup luas dan beratap genteng. Area makam syeh tersebut sangat bersih, rapi, dan nyaman.

 

Karena merasa “berdosa” sudah melakukan di bawah tadi, saya coba keliling di sekitar. Mana tahu ada kamar mandi. Saya lihat ada kran. Horeee… ada air. Eh, saya putar, menetes pun tidak airnya. Huh.

 

“Airnya nggak ada, Mas,” kata Mbah Rosmi, penjaga makam Syeh Nawawi A. Sidik. Setelah dibilang tidak ada air, saya hanya ber-oh saja. Jadi mau bilang apa lagi ya, kan?

 

Karena rasa penasaran, kenapa ada makam di sini, jadi saya tanya dengan Mbah Rosmi tersebut.

 

“Mbah, kenapa ada makam di atas bukit ini?”

 

“Karena sudah takdir Allah,” jawab Mbah Rosmi.

 

Waduh… bingung juga saya menyambung percakapan selanjutnya, kalau sudah dijawab seperti itu.

 

“Memangnya itu kuburan siapa, Mbah?”

 

“Orang sakti,” jawab Mbah Rosmi lagi.

 

Berdebar jantung saya mendengar orang sakti. Lalu saya pancing lagi, “Syeh itu siapa, Mbah?

 

“Itu syeh dari Jepara, namanya Syeh Nawawi A. Sidik, anak dari Sunan Muria,” jelas Mbah Rosmi.

 

Hm, pantesan saja, anak dari salah satu Wali Songo ternyata. Nah, Sunan Muria (Raden Umar Said) sendiri adalah anak dari Sunan Kalijaga. Berarti Syeh Nawawi A. Sidik juga cucu dari Sunan Kalijaga.

 

Ketika ditanya ramai yang berziarah ke sini, Mbah Rosmi bilang cukup ramai. Terutama di hari-hari tertentu. Saat kami ke sana tidak ada yang berziarah, ya, mungkin karena hari biasa, hari Minggu. Mbah Rosmi yang menjaga makam syeh ini juga tampak rajin sekali membersihkan area makam. Terlihat sangat bersih pekarangannya.

 

“Nggak setiap hari saya datang ke sini, paling seminggu sekali,” kata Mbah Rosmi.

 

Saat ditanya kuat tidak naik dari bawah sampai ke atas sini, “Ya… kuat,” ujar Mbah Rosmi tertawa kecil.

 

“Mbah, boleh lihat makam Syeh Nawawi langsung?” tanya saya.

 

Makam Syeh Nawawi A. Sidik

 

Makam Syeh Nawawi A. Sidik | Foto smarainjogja, Rizka Wahyuni

 

Baca juga:

 

Menyingkap Keindahan Hutan Pinus Grenden

 

Berburu Foto di Hutan Pinus Top Selfie

 

Gereja Ayam Tempat Syuting AADC 2 yang Semakin Cantik

 

Makam Syeh Nawawi A. Sidik

 

Makam Syeh Nawawi A. Sidik | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni

 

“Ya, boleh, sini-sini!” Mbah Rosmi menggiring kami ke makam Syeh Nawawi.

 

Sebenarnya saya mau langsung masuk, namun mengingat kejadian beberapa menit lalu di bawah, saya urungkan diri. Kami hanya melihat dari luar pintu saja. Tepat di makam tersebut terlihat Al-Qur’an, tasbih, alat pengeras suara (ampli dan mikrofon). Dan alas duduk juga terhampar di depan makam Syeh Nawawi.

 

Tak lama kemudian setelah berbincang hangat dengan Mbah Rosmi kami langsung menuju gardu pandang Bukit Windusari.

 

“Dari sini jalannya!” kata Mbah Rosmi, pesannya lagi pada kami, “hati-hati, jangan terlalu main-main ke bawah, jurang di bawah itu.”

 

“Iya, Mbah,” jawab kami serempak.

 

Bukit Wundisari

 

Gardu Pandang Bukit Windusari | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

 

Sekitar 100 meter dari makam Syeh Nawawi itulah gardu pandang Bukit Windusari. Dari atas sini sangat jelas melihat indahnya Waduk Wadaslintang, dan perbukitan yang mengelilinginya. Hutan pinus dari lereng perbukitan sampai di puncak bukit juga seperti rumpunan rumput, sangat indah dan menggemaskan. Pengunjung di Bukit Windusari kami lihat kaum remaja tanggung saja. Mereka tampak asyik duduk bersantai di atas gardu pandang.

 

Bukit Windusari Erorejo

 

Bukit Windusari Erorejo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

 

Dari atas Bukit Windusari, waduk terluas di Jawa Tengah itu terlihat begitu jelas, dari sudut ke sudut. Bahkan tampak begitu dekat sekali di depan mata. Hawa di atas puncak juga sangat sejuk, nyaman, dan begitu tenang. Rasanya tidak ingin beranjak dari sini.

 

Oh ya, bagi kamu yang mau ke sini suatu hari nanti, bawalah perbekalan yang cukup. Minuman dan camilan, misalnya. Karena di atas puncak tidak ada yang berjualan. Boro-boro jualan, penghuni di atas saja yang datang seminggu sekali ke sini, ya, misalnya seperti Mbah Rosmi tadi.

 

Dan jangan lupa pula, area di sini sangat bersih, dan benar-benar bersih, bawa kembali sampah makanan dan minuman kamu. Lagian di sana juga tidak ada petugas kebersihan, dan juga tidak ada tempat sampah.

 

Gardu pandang tempat biasa untuk ber-selfie itu terbuat dari kayu. Memang terlihat cukup kokoh, namun tetap waspada, jangan terlalu ramai di atas. Bisa ambrol nanti. Nah, di bawah itu jurang, lho. Bisa meluncur ke bawah nanti. Ini bukan menakuti tapi serius, pakai banget malah. Mengingat kalau sudah ber-selfie ria, lupa keadaan. Saya hapal betul pengunjung wisata Indonesia ini.

 

Ajak sahabat-sahabat terbaik kamu di sini, nikmatilah keindahan alam dari Bukit Windusari. Saatnya bertualang tanpa harus menguras uang. Sudah sampaikan di atas tadi, ke Bukit Windusari itu gratis. Kamu tinggal bawa bekal makanan saja dari rumah. Dan fisik tetap dinomor satukan juga, sebab kamu sudah seperti mendaki gunung.

 

Nah, kalau teman-teman dari Yogyakarta, rute terdekat menuju ke Bukit Windusari. Sebaiknya ambil rute Jl. Godean – Jl Kaligesing – Purwerejo – Jl. Gebang – Jl. Kemiri-Bruno – Jl. Raya Pituruh-Kemiri – Jl. Raya Pituruh-Brengkol – Jl. Raya Wadaslintang. Kami mengambil rute tersebut, dan perjalanannya cukup cepat, sekitar 3 jam.

The only "Otto-Vu" with a body made of fiberglass

  

Take a look at my Fiat 8V-Gallery, too:

www.flickr.com/photos/63259268@N02/galleries/721577040360...

Fiat Otto Vu

Coachwork by Carrozzerie Speziali Lingotto (Rapi)

 

Classic Days 2013

Schloss Dyck

Jüchen - Germany

August 2013

Länge 4.976mm

Breite 1.963mm

Höhe 1.435mm

Radstand 2.959mm

Antrieb 2xDrehstrom-Asynchron-Motor

Leistung 515kW (Frontmotor 165kW/Heckmotor 350kW/700PS)

Drehmoment 930Nm im gesamten Drehzahlbereich bis 5.300U/min

Höchstgeschwindigkeit 250km/h

Radformel 4x4 (Allrad)

Beschleunigung 0-100km/h 3,3s

Reichweite 460km

Speicher Lithium-Ionen-Akku

Akkuanzahl über 8.000

Batterieapazität 85kwh

Ladezeit 3h

Leergewicht 2.108kg

Batteriegewicht 750kg

Preis ab € 95.000

Polizeiliches Kennzeichen RA-PE1001

 

Hier der blühende Unsinn dazu:

die Buchstabenkombination des Kennzeichens läßt sich als das Wort RAPE lesen, rapieren (mit der Stichwaffe Rapier in etwas stechen) ist die englische Erscheinung des deutschen Wortes vergewaltigen.

Mit der Ziffernfolge 1001, die Dualzahl bedeutet 9, könnte das für die Rapierung verwendete Werkzeug kodiert sein, ein Zweizack.

 

1001 ist auch das Produkt aus der Operation 11x7x13

todos se curan y quieren rapiar dibujan un par de basura se compran una maquina y se creen tatuadores

juventud bastarda tan lolipasa oi mas que nunca me agrada ser de mi crew

y mantenerme al margen . es un a lastima que la gente no diferencie entre lo verdadero y los que tergibersan todo y lo prostituyen sin criterio .seguir dandole por placer por odio por amor darle no mas sin esperar nada del rebaño !!!!!!

saludos a noise y exez

fuck toys !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Setelah lama di ruang dalam rumah-rumah orang lain, aku merindukan rumahku sendiri dan memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah kudapati keadaan rumahku sama seperti waktu aku pergi meninggalkannya, kecuali kotak pos yang berisi beberapa surat dari orang-orang yang tak kukenal yang menyampaikan pujian atas karya dan hal lainnya.

 

Ya, keadaan rumahku sama seperti waktu aku pergi meninggalkannya. Kosong. Ruang-ruang yang telah kusiapkan dalam keadaan rapi untuk orang-orang yang kuharapkan menempatinya masih tetap kosong. Mereka tak pernah datang, mungkin lupa atau terlalu sibuk. Tak ada jejak, tak ada barang yang berpindah. Semuanya persis sama kecuali debu.

 

Ternyata aku masih tinggal sendiri dan tak ada seorang pun di rumahku yang menunggu aku pulang. Uh, aku lelah dan mataku sembab. Lebih baik aku pergi tidur dan menganggap semuanya baik-baik saja. Semoga memang begitu.

 

____

paper. Bandung, 28 November 2010.

Sudah lama ingin menulis tentang kemalangan yang berlaku baru-baru ini, tetapi asyik tidak berkesempatan. Kejadian yang berlaku kalau diikutkan hanya melibatkan kerosakan yang kecil, tetapi hikmah disebalik kejadian, dan pengajaran yang boleh diambil bagi diri saya dan keluarga amatlah besar. Baiklah, ia berlaku di kawasan Kok Lanas, Kelantan semasa kami dalam perjalanan ke Kota Bharu untuk majlis kahwin adik perempuan.

 

1130: Berhenti di lampu isyarat Kok Lanas, berada di hadapan sekali.

1132: Lampu isyarat menunjukkan hijau, tangan memegang gear untuk tukar dari 'N' ke 'D'. Tiba-tiba bunyi kuat merempuh belakang kereta. Terus melihat ke belakang, dan nampak dengan jelas, gril depan Mitsubishi Pajero (tahun 80-an) melekat di belakang kereta.

Mujurlah Faheem & Nuha yang yg sedang berbaring tido di kerusi belakang kereta tidak tercampak ke depan. Bahkan, mereka tak sedar pun. letih benar nampaknya.. :)

1135: Untuk mengelakkan kesesakan lalu lintas, terus melintas lampu isyarat dan kami berhenti di tepi jalan.

1140: Perasaan bercampur baur, bila melihat pemandu Pajero yang melanggar belakang berkali-kali meminta maaf kerana katanya tidak sengaja. Mungkin ada sedikit perasaan merah dan tidak puas hati kerana ianya berlaku kerana kelalaian org lain. Cuma mungkin perasaan itu hanya sebentar, dan hilang dlm masa yg sekejap kerana mengingatkan ketentuan Allah yang perkara tersebut berlaku. Cuma perasaan yang berlarutan ialah memikirkan kesusahan yang bakal dihadapi nanti, jika perlu masuk bengkel dan sebagainya. Tambahan pula kereta amatlah diperlukan untuk persiapan majlis perkahwinan adik pada esok hari.

1150: Berlalu dari tempat kejadian, dengan bonet dan bumper yang kemek selepas mangambil nombor telefon pemandu Pajero - Suhaimi. Dia berjanji yang semua kerosakan akan diuruskan esok hari. Tapi saya perlu menghantar kereta ke bengkel nya di Tumpat. Aahh..satu hal lagi nak kena ke Tumpat plak esok. Kerja mesti lah banyak, terutama di dewan untuk majlis perkahwinan malam nya. Sabar...bertahan...

 

Esoknya:

 

0930: Menuju ke Tumpat, berhampiran JKR. Selepas pusing2, baru laa jumpa JKR Tumpat. Suhaimi kemudian sampai dengan Pajero Hitam (yg langgar kami tu laa) dan meminta kami ikut ke bengkel berdekatan.

1000: Suhaimi ni kelihatan tenang jer, tapi memang tengok gaya memang komited untuk repair kerosakan kereta saya tuh. Lepas sampai ke bengkel, 'pomen' pun keluar tgk bahagian yg rosak. Selamba jer pomen nih, dengan kain pelikat, baju pun tak pakai. Bila tengok jer, ermmm..."Boleh ni Be, takdop hal nih, buleh buat...tapi kereto demo keno tinggal laa sinih..tengok laa esok pagi ko siap, bulem amik"...naahh...style konfiden gitu.

1010: Setuju dengan urusan untuk meninggalkan kereta di bengkel.

"Mi, kawe tinggal keto sini, pahtu kawe nih xdop keto doh nok balik Kota Bharu nih. pahtu arinih nok pakai

keto pasal nok setel urusan adik kahwin nih, banyok benda lagi tok siap", kata saya.

"Gini Be, demo amik pajero kawe nih dulu, esok siap kito hantar keto Abe kat KB, takdop hal", jawabnya

Suhaimi. Memang tak berkira mamt nih, senang urusan.

Pejero pun, Pajero lahh. Bila tengok pajero yang akan di pinjam, fuuhhh....sempoi, memang cukup

lengkap dengan tayar dengan lumpur dan sebagainya. Tapi apa nak kesah, janji ada kenderaan. Terus di

hulurkan kunci, dan saya yg ditemani adik lelaki balik ke KB dengan bajero bagak tu.

 

Tiba di rumah KB, terus mengangkut barang2 hiasan dan keperluan untuk dihantar ke dewan di Bazar Tg Anis, KB. Oleh kerana ruang belakang pajero yg amat luas, kebanyakan barang boleh sumbat sekali jalan sahaja. Kalau guna kereta, konfem 2-3 trip berulang. Jimat masa dan tenaga.

Petang nya pulak, pemilik dewan buat hal. Dewan tempah untuk 20 meja, tapi hanya disusun 18 meja sahaja. Alasan = tak cukup ruang untuk muatkan lagi meja. Adik lelaki saya yg sudah lama bekerja di hotel dan menguruskan majlis2 yg besar, kelihatan tersenyum sahaja. Kitaorang pun susun semula meja di dewan tersebut mengikut hotel punya 'standard arrangement' dan hasilnya boleh memautkan 2 lagi meja kosong dengan ruang legar seluas 5' X 10' lagi dihadapan pentas.

Tapi pemilik dewan tak puas hati kerana dia terpaksa menyuruh anak buah nya untuk mengambil kerusi tambahan sebanyak 20 bijik di hotel berdekatan (hanya 500 meter dari dewan). Jadi dia buat alasan mengatakan tiada orang untuk menolong, tetapi jika kami masik hendak menambah 2 meja, kerusi hendaklah kami ambil sendiri dari hotel tersebut dan bawa ke dewan. Beginilah kalau orang Melayu berniaga. Sama agama pun tak boleh nak tolong. Haprakk....

Jadi sekali lagi 'Pajero Hitam' digunakan untuk mengangkut 20 buah kerusi dari hotel ke dewan. Hanya sekali perjalanan sahaja, 20 buah kerusi disusun rapi di bahagian belakang.

 

Malam nya, majlis resepsi berjalan lancar. Alhamdulillah.

Pukul 11 malam selepas majlis, Suhaimi menelefon mengatakan kereta saya sudah siap di baiki.

Saya bertanya, kenapa dia tergesa-gesa untuk mengambil Pajero malam itu juga, dan katanya Pajero tersebut nak digunakan nya untuk mengangkut pasir pula di kawasan rumahnya di Tumpat esok harinya. Tersenyum.

Kami berjumpa di depan 7-Eleven Taman Uda Murni. Berborak-borak seketika sambil saya melihat keadaan bumper dan bonet kereta saya yang dibaiki. Wah..memang seperti baru. Cat pun sudah kering. Bagus kerja bengkel nih. Kemudian, masing-masing menyerahkan kunci. Kami semua tersenyum lega. Saya pula telah lupa dengan perasaan gelisah tak senang duduk yang dialami semalam selepas kena langgar dengn 'Pajero Hitam' Suhaimi. Selepas mengucapkan terima kasih dan memberi salam, kami semua beredar pulang.

 

Owh, sebelum terlupa. Malam itu juga pasukan bolasepak Kelantan menjadi Juara Piala Malaysia tahun 2012!!

 

Kegembiraan berganda...

 

Nota kaki:

Sungguh banyak hikmah di sebalik kejadian yang menimpa kami ini. Allah hanya menguji hamba-Nya dengan kesusahan yang sedikit, tetapi diberikan nikmat dan kemudahan yang banyak di sebalik itu. Masya Allah..

Tetapi kita (secara spesifik nya 'saya') telah gagal dalam melihat semua ini, disaat saya diuji, di saat ianya berlaku, betul di hati saya redha, tapi keluhan masih terkeluar dari mulut akibat kebodohan dan kejahilan diri.

Sesungguhnya, Allah lah perancang yang Maha Hebat.

 

Ya Allah...Aku pohon keampunan dari-Mu!

 

Fiat 8V (Otto Vu) (1952-54) Engine 1996cc V8 Production 114 (all types)

Registration Number DAH 292 C

FIAT SET

www.flickr.com/photos/45676495@N05/sets/72157623665060711...

  

The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi and unveiled at the 1952 Turin Motorshow.. Fiat chose to use the name 8V because they believed that Ford had a copyright on the name V8. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats though there was a crossover of parts with Siatta

The engine was a V8 originally designed for a luxury sedan, but that project was stopped..The Fiat V8 had a 70 degree V configuration, displaced 1,996 cc and was fitted with two twin-choke Weber 36 DCF 3 carburettors. with an output of 104bhp and a top speed of 118mph, which was uprated to 113bhp and finally 125bhp.

The cars did well in yhe Italian 2 litre GT Championship, with production ending in 1954, the cars continued to race winning the Italian 2 litre GT Championships every year until 1959..

Always a rare car with 114 of the high-performance coupés built, 34 of which were bodied by Fiat's Reparto Carrozzerie Speciali ("Special Bodies Department"). and 30 by Zagato Ghia and Vignale also made bodyworks. Most were coupés, but some spyders were made as well.

This car is a Mark 2 of which only 34 were built, the Mark 1 had its headlights positioned in the grille aperture

 

This car is beleived to be the only example in the UK..

 

Many Thanks for a fan'dabi'dozi 28,641,400 views

 

Shot 28:07:2014 at Silverstone Historic Festival REF: 103-822

Dijual Jimny Jangkrik 1981, 4x4, AC, Cat Baru, Jok Rapi, Bekleding Rapi. Call: 081221208333 / 022-92568002 (Bp.Rizal). SMS: 08164201482 (Bp.Riri).

  

Seorang laki-laki paruh baya berjalan mendekati sebuah pintu. Dia sudah mendapatkan tiket untuk masuk melewati pintu itu. Pintu itu sangat megah, dengan segala ornamen apik dan menawan. Jika seseorang melewati pintu itu, ketika keluar dari sana akan mendapatkan gelar. Itulah cita-cita banyak orang. Sungguh, sangat luar biasa ruangan di balik pintu itu.

 

Bayangkan. Konon, ketika seseorang sudah masuk ke dalam, akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatan sebelum masuk. Ada yang mendapatkan hal-hal menyenangkan. Namun ada pula yang berkali-kali sengsara. Orang-orang yang sudah keluar dari ruangan itu sering menceritakan kejadian-kejadian yang ganjil dan tak wajar. Istimewa pula, ruangan itu dapat mengubah watak manusia.

 

Ada orang-orang yang makin merunduk, merendahkan hati, setelah keluar dari sana. Namun ada pula yang makin sombong dan angkuh. Laki-laki paruh baya itu terlihat semringah nan cerah. Senyum di bibirnya terus mengembang indah. Berbeda dari senyum keseharian yang berat, ketika ia terpaksa tersenyum kepada orangorang yang dia cintai, padahal dia mesti berpikir keras bagaimana bisa makan esok hari. Dia gunakan kaki sebagai kepala. Kali lain, dia gunakan kepala sebagai kaki. Begitulah yang selalu dia lakukan.

 

Kini, lihatlah pakaiannya. Sungguh rapi dan bersih. Warna putih itu menambah pangling orang yang mengenal dia. Berbeda dari pakaian keseharian yang penuh lumpur dan peluh karena dia selalu berkubang di sawah. Pintu itu makin dekat. Degup jantung laki-laki paruh baya itu pun makin kencang. Sebentar lagi ia akan melewati bersama orang-orang berbaju putih lain yang berkelompok-kelompok. Tampak juga tetangganya dalam sebuah kelompok.

 

***

 

“Assalamu’alaikum, Pak Zuri,” ujar seseorang. Lelaki paruh baya itu tak menjawab. Dia sedang duduk melamun di galengan sawah.

 

“Assalamu’alaikum, Pak Zuri.” Zuri, laki-laki paruh baya itu, lagi-lagi belum menyadari ada seseorang uluk salam.

 

“Assalamu’alaikum, Pak Zuri,” ujar orang itu untuk kali ketiga.

 

“Wa’alaikumsalam,” jawab Zuri terkejut. Ia baru menyadari, ternyata ada seseorang di hadapannya. Sejak tadi dia melamun, lantaran padi di sawah yang seharusnya siap panen dan montok-motok merunduk, dalam waktu semalam telah berubah memutih dan mendongak, diserang hama. Seakan dengan congkak padi itu berkata, “Aku kini tidak bisa kaupanen.

 

Mau marah pada siapa kau, Petani? Rasakan kau!” Samar-samar terdengar suara padi lain yang masih merunduk, “Sabarlah petani, teruslah memohon dan berserah diri. Ini kehendak-Nya.” Namun suara itu sangat lirih. Suara padi congkak dan padi merunduk bersahut-sahutan. Tanpa berkata-kata, ia melihat padi congkak hasil kerja kerasnya siang-malam dengan nelangsa. Kini, penglihatannya berganti gelap dan kosong. Seakan-akan hari yang terik mendadak diliputi mendung tebal. Suara-suara padi yang berisik membuat kepalanya terasa makin berat. “Njih, dalem. Pripun, Pak?” sahut Zuri. Ia tak percaya di tengah sawah di bawah terik matahari berdiri seseorang yang gagah dengan jubah dan kopiah serbaputih, berwajah tenang dan teduh. Laki-laki berjubah putih itu tersenyum.

 

Sungguh, senyum yang sangat sejuk. Senyum yang membuat Zuri sejenak terlupa pada padi yang berubah congkak. Dengan senyum tanpa sepatah kata pun, laki-laki berjubah putih itu memberikan sebuah amplop putih kepada Zuri. “Assalamu’alaikum,” ucap laki-laki berjubah putih sambil menempelkan telapak tangan ke pelipis dengan sedikit mengentak, khas-orang-orang Timur Tengah memberikan salam, sambil berlalu pergi. “Wa’alaikum salam,” jawab Zuri bingung.

 

Dia tidak sempat bertanya apa pun, ketika lelaki berjubah itu telah berlalu pergi. Zuri makin bingung. Di amplop itu tertulis namanya. Ia pun tidak ragu membuka. Seketika gelap dalam pandangan sirna berganti terang. Bibirnya bergetar membaca undangan dan tiket di dalam amplop. Dengan kaki telanjang yang kotor penuh lumpur, ia berlari pulang.

 

***

 

Tinggal beberapa langkah lagi pintu itu terbentang di depannya. Namun mendadak lakilaki paruh baya itu berhenti. Sekelebat muncul bayangan istri dan anaknya. Teringat malam tadi mereka tersenyum bersama di sebuah rumah reot. Ia gamang. Senyumnya mendadak hilang. Kakinya ingin segera melangkah lagi, tetapi hatinya ragu. Pandangannya kini mencari-cari sesuatu. Ia memejamkan mata sambil merapalkan doa. “Tuhan, izinkan hamba menukar tiket ini untuk kebaikan anak-anak hamba,” lirih ucap laki-laki paruh baya, mungkin ribuan kali. Matanya terpejam, mulutnya terus meminta. Pengharapannya menimbulkan lelehan peluh terus yang mengalir, membasahi tubuh hingga dia kedinginan dan menggigil. “Pulanglah. Teruslah meminta kepadaku.” Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa.

 

Sontak laki-laki paruh baya itu membuka mata. Kini, ia telah berdiri di tengah sawah dengan pakaian kebesaran; penuh lumpur. Peluh sudah membanjiri baju. Siang ini matahari sangat terik. Ia menoleh ke sekeliling. Hampir selesai ia mencangkul sawah saudara yang digarapnya. “Tuhan, berikanlah kebaikan kepada keempat anakku,” ujar ia sambil terus mencangkul.

 

***

 

Laki-laki paruh baya itu kini sudah berusia senja. Buku rekening dan tawaran dari keempat anaknya mengingatkan dia pada kejadian 20 tahun lalu. Ia kembali termenung. Tadi pagi tetangganya datang dengan wajah sangat lesu. Pabrik tempatnya bekerja bangkrut, sehingga ditutup. Kini, ia jadi pengangguran dengan enam anak masih kecil-kecil. Mereka minum kopi bersama dalam diam. “Pak, besok Bapak dan Mamak kami antar mendaftar njih?” suara anak sulung laki-laki itu mengagetkan. “Nak, boleh Bapak gunakan uang itu untuk keperluan lain?

 

Ibu kalian pasti setuju.” Sang istri tersenyum. Tak pernah sekali pun ia membantah sang suami. Keempat anak sang lelaki bersamaan mengangguk. Mereka paham maksud sang bapak.

 

***

 

Hari ini, 9 Dzulhijah. Fajar sebentar lagi menyingsing, menggantikan kegelapan malam. Laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu rumah sang pengangguran baru beranak enam. Pintu rumah itu sangat usang. Namun itulah pintu yang dia pilih, pintu yang tak menjanjikan gelar. Tak seorang tetangga tahu, itulah pintu pilihan dia.

 

Tangannya menadah. Seulas senyum muncul di bibir. Perasaan aneh luar biasa merasuki hati. Rasa puas dan lega tak terkira memenuhi jiwa. Hanya laki-laki itu yang bisa merasakan. Setiap kali fajar tiba, selalu ada wajah tersenyum karena dia datang mengetuk pintu reot rumah mereka. Tangan keriputnya pelan mengetuk pintu. Namun cukup didengar pemilik telinga di balik pintu. Ketukannya dijawab dengan suara deritan pintu reot yang perlahan terbuka. Lelaki itu menantikan dengan debar luar biasa.

 

Menunggu senyum dari pengangguran yang sedang membuka pintu. Pada saat yang sama, di balik pintu yang megah, orang-orang sedang melaksanakan puncak ibadah. Tak terkecuali Jupri. Jupri melihat laki-laki berusia senja tetangganya itu bersamasama menuntaskan ibadah. Sama seperti harihari lalu, laki-laki senja itu tak bicara sepatah kata pun. Cuma tersenyum. Senyum sapaan. (28)

 

Ismul Farikhah, guru SMP Negeri 5 Kepil, Wonosobo.

 

[1]Disalin dari karya Ismul Farikhah

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 28 Oktober 2018

 

The post Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2AwCIeu

manuscript ink on laid paper

210 x 330 mm folded in half vertically, making four pages. Text is written on first two pages.

 

Judging by the paper, handwriting, and content this appears to be a mid-17th century English neo-Latin panegyric. It appears to be original and not a translation, except for lines 5 & 6 which are copied directly from Vergil's Eclogues Book 5.

 

Below is the text as I transcribed it (minus a few punctuation marks like the "2" above "clarorum" (line 8), and the upside down "7" above "mellifluo" next to it) and an accent mark over "Jon." in the writer's name, along with a woeful translation courtesy of Google Translator.

 

Carmina pro premiis

 

O vox Silvarum nemorumque O summa voluptas

Ambrosiaque o vocis honos, Philomela vireta

O declis Syren! Quam sua ves gutture voces

Tu sola ingeminas formis variesque figuris

5 Lenta salix quantum pallenticedit olivae,

Puniceis humilis quantum saliunca rosetis [5, 6 ex Vergilius, Bucolica, Eclogus V]

Tantum tu saeras superas modulamine muscus

Nam modo clarorum mellifluo oracla virorum

Canta efferrere juvat, cum pleno, Daulias ales

10 Assurgis tracta, et lento spiramina canto

Impendis tenera subitas modo vocis habemas

Stringis, et arguto salticus nunc fundis abore

Dulce melos, sursum modulamine rapta relaxas

Mox laxata rapis; diversa squarere voces

15 Nunc prodest, nullos quas posses reddere cantos

Gutture pro dulci: Modulos irrumpis in altos

Jucundamque premis vocem variasque vagaris

Per cantus, nunc lacta bono vox habitus aequo

Nunc formis colitur variis, arguta [scil: vox] tropisque

20 Innumeris rapite, tamen est discordia exors

Nunc levis atque gravis nunc magna et parva pererrat

 

Page II

 

Nunc artis vir certa sua suavissima fauces

Musica et indubio gratas haerere triumphas

Credimus et cantus ipso ex spirase sub aura

25 Ex curritque iterum est mediis tratur in auris:

Non seras atque prius plenis inclusa pharetris

Spicula et ex rato cornu vibrata feruntur

Perlongos coeli tractus ceu pollice lento

Per cutius cordas fidicen nutante soporem

30 Cervice intentat mox canta pellit eundem

Dum pleno repetit modulamina dulci amota

Voces et arte super surgit gratisque quietem

Ablatum fidibus redemit modulamine suavi:

Horum tu similis verum haec te plura decorant

35 Te blanda et resona, te voce gravisque levique,

Te tremula et firma, letâ pariterque gementi,

Te rapida et miti modulari carmina voce

O dulcis Philomela suis est Pindarus impar

Te superare modus Cytharâ nec Phoebus Apollo

40 Et nec dulcisona Orpheus testudine vincit.

  

Finis coronat opus

 

[Monogram?]

 

Compositio pro premiis in factica et adept summum

filius Rich. Jon.

  

English translation:

 

Carmina for prizes

 

O the sounds of woods and forests O great pleasure

Ambrosiac a word of honor, Philomel greens

O declaration Siren! How much of your own throat

You only repeat forms and varied shapes,

5 As far as the limber willow is inferior to the pale olive,

and humble lavender to crimson beds of roses (these two lines are

from Vergil, Bucolica, Eclogue V - spoken by Menalcas)

Shrines moss, you can only overcome the traditional songs

For now famous mellifluous oracles of men

Sing carried assists, with full, Daulian Bird

10 Stand treat and slow breath sing

[You] Spend tender sudden sound of a musical way

Strings, and soothing dancing now slings above

Sweet melody, rhythm, snatched up and relax

Soon slackened thought; squares of different voices

15 Now profit, none of which could buy [your] songs

From the sweet throat: Measured burst in high

A pleasant voice, which obscures the various wanders

Through song, now falls equally good sound live

Now cultivated in various forms, shrill (namely, voice) like dregs of wine

20 Countless catch, however, is to go without discord

Now ranging light and heavy now large and small

 

II

 

Now exchange a certain sweetest throat

Music and indubitable by grace of clinging to triumph

We sing it out and blow in the breeze.

25 As from running again it balances in the ear:

No bars not before included in the quiverful

Shafts and carried out by pulsating horn, fixed

Slow his thumb, over the long expanse of the heavens

Through the skin playing the strings sleep falters

30 The neck stretches drives to sing just the same

While full of sweet repeated melodies removed

Words and art freely rest on the rise

Taken stringed redeemed songs sung

The truth is that you like more than you decorate

35 You soothing and echoing, your voice heavy and light

You trembling and firm, happy together they will tweet

The voice of the gentle rhythm of the songs, and you are caught

Oh sweet Philomel and Pindar is unequal

You could surpass the lyre of Phoebus Apollo

40 And neither sweet Orpheus' harp overcomes you.

 

The end crowns the work

 

[Monogram?]

 

Composition for practice in obtaining greatest prizes,

Rich. Jon. Junior

 

Chutes et Rapides de la rivière Richelieu à Chambly - Chambly Falls and rapids of Richelieu river.

Una discusión en pareja puede llevar a situaciones variopintas, pero el hombre siempre tiene las de perder, la pela es la pela y la mujer va a luchar hasta el final, si no es con uñas y dientes será por el frío hierro en la garganta, pareja de esgrimistas de Toulouse en Santillana del Mar, provincia de Santander, Cantabria (norte de España) año 2013, festiva y curso de esgrima antigua y escénica en su 3ª edición, en la plaza del ayuntamiento de Santilana; foto en colaboración con la asociación fotográfica de Torrelavega, Stela Fotográfica.

Vira bruk is a village and an historic iron works in Österåker in Sweden.

'STADT RAPPERSWIL'

Ablegemanöver bei Rapperswil (Rückwärtsfahrt)

 

1910, nach der Inbetriebnahme der„Stadt Zürich“, konnte nach 75 Jahren zum ersten Mal ein Schifffahrtsunternehmen auf dem Zürichsee eine Dividende ausschütten. Der Schifffahrtsgesellschaft ging es gut, und so bestellte man ein neues Schiff. An Pfingsten, am 29. Mai 1914, wurde der von Escher Wyss, Zürich, gelieferte Dampfer „Stadt Rapperswil“ (1000 Personen) in Betrieb genommen.

 

Die Salonraddampfer „Stadt Zürich“ und „Stadt Rapperswil“ unterscheiden sich äusserlich wenig. Die "Stadt Rapperswil" erkennt man von weitem am vorderen Kreuzmast. Im Salon 1. Klasse ist die "Stadt Rapperswil" gediegener ausgestattet. Die dunkle Mahagoni- und Birnbaumtäferung vermittelt einen vornehmen Eindruck, und die Treppe zum Oberdeck mit dem zierlichen Geländer wirkt wie eine Kirchenorgel. Dieses Schiff ist ein interessanter Zeuge der Industriekultur zu Beginn des 20. Jahrhunderts.

Foto: 23. Juli 2008

Boks multi fungsi,kokoh ringan rapi dan tidak bocor.

O seht, die liebe Sonne lacht

 

1.) O seht, die liebe Sonne lacht,

Die Wiese kleidet sich in Pracht!

Zerronnen ist der Winterschnee

Und Blumen dringen aus dem Klee.

 

2.) Die Lerche schwingt sich hoch empor,

Im Wald ertönt der Vögel Chor, -

Vor allem aber reizt der Schall

Der lieben kleinen Nachtigall.

 

3.) Dich, Schöpfer, preist die bunte Flur,

Die junge prangende Natur,

Mit allen ihren Kindern preist

Dich, der du sie nun blühen heißt.

 

4.) Zu dir, Allmächtiger, empor

Blickt Aug' und Herz. Des Frühlings Flor

Erweckt auch meinen Lobgesang.

Für deinen Frühling sei dir Dank!

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Autor: Christoph Christian Sturm

Melodie: Christ, der du bist der helle Tag

oder: Nun jauchzt dem Herren alle Welt

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Vollständiges Gesangbuch für Kinder von reiferm Alter

von Christoph Christian Sturm

verlegt bei Carl Hermann Hemmerde

Halle/Saale, 1777

Liednummer 106

Thema: Frühlingslied

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Christoph Christian Sturm (* 25.01.1740 in Augsburg als Sohn eines Notars, + 26.08.1786 in Hamburg) war lutherischer Theologe, Prediger und Kirchenliederdichter.

Er studierte in Jena evangelische Theologie und war von 1763 bis 1765 Lehrer am Pädagogium der Francke'schen Anstalten in Halle an der Saale, danach 1769 Pfarrer in Magdeburg, ab 1778 war er Hauptpastor an St.Petri in Hamburg.

Seine theologischen Ansichten standen unter dem Einfluss eines aufgeklärten Moralismus in der zweiten Hälfte des 18. Jahrhunderts, der die Predigten dahingehend beeinflusste, dass der Betrachtung der Natur ein breiterer Spielraum eingeräumt wurde. Sturm dichtete 300 Kirchenlieder. Einige seiner Lieddichtungen wurden von Carl Philipp Emanuel Bach vertont.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

¸¸,ø¤º°`°º¤ø,¸¸,ø¤º°`°º°´°º¤ø,¸¸,ø¤º°`°º¤ø,¸

Christoph Christian Sturms Lieder/ Hymns

¸¸,ø¤º°`°º¤ø,¸¸,ø¤º°`°º°´°º¤ø,¸¸,ø¤º°`°º¤ø,¸

 

-------------------------

Abendmahl

-------------------------

So lang ihr auf der Erde lebt

-------------------------

Advent

-------------------------

Also hat Gott die Welt geliebt, dass er aus freiem Trieb

-------------------------

Aussaat und Ernte

-------------------------

So weit der Fluren Grenzen blühen

-------------------------

Bittgesänge, Gotteslob und -dank

-------------------------

Dir, Herr, gebühret Preis und Stärke

Du wollest, Gott, dass alles glücklich werde

Du, Herr, bist meine Zuversicht, mein einzger Trost

-------------------------

Christuslied

-------------------------

Zu dir erhebt sich mein Gemüte

-------------------------

Frühlingslied

-------------------------

Erwacht zum neuen Leben

Ich will den Frühling noch genießen

-------------------------

Gottes Reich und Eigenschaften

-------------------------

O Gott, dess starke Hand die Welt

-------------------------

Gottvertrauen, Kreuz und Trost

-------------------------

Mein Vater, der mich nährt und schützt

-------------------------

Herbstlied

-------------------------

Das schöne Jahr ist nun entflohn

So weit der Wesen Millionen

-------------------------

Himmelfahrt

-------------------------

Mit allen Engeln beugen wir

-------------------------

Mittags- und Tischlied

-------------------------

Herr, du schenkst uns, so väterlich

-------------------------

Offenbarung

-------------------------

Wenn der Erde Gründe beben

-------------------------

Ostern

-------------------------

Amen, Lob und Preis und Stärke sei dem Vollender

Vom Grab, an dem wir wallen, soll

-------------------------

Passion

-------------------------

Du denkest in der tiefen Not

Einst, als dich im Gerichte

Erlöser sieh, wir fallen anbetend

Gott, welche Schmach und Plagen

Jesu, lass mich still, wenn dein Rat

Nacht und Schatten decken

Sieh Jesum Christum leiden

-------------------------

Sommerlied

-------------------------

Allgütiger, dich will ich fühlen

Allgütiger, dir will ich singen auf jeder segensreichen Flur

So weit die Menschen, Gott, auf Erden

-------------------------

Tod und Ewigkeit

-------------------------

Einst geh ich ohne Beben zu meinem Tode hin

-------------------------

Trinitatis

-------------------------

Mein Glück im kurzen Raum der Zeit

-------------------------

Weihnachten

-------------------------

Auf, Kinder, preiset Jesum Christ

Gelobt seist du, Herr Jesu Christ, von aller Menschen

-------------------------

Winterlied

-------------------------

Des Jahres Schönheit ist nun fort

Schöpfer, deine Herrlichkeit

-------------------------

Derzeit noch nicht erfasst / Currently not scanned

-------------------------

Ach, Jesu, welche Kümmernis littst du

Ach, könnt ich doch, mit meinen Brüdern

Ach, könnt ich mit der Kirche Gliedern

Ach, wie viel Böses wohnt in mir

Allgegenwärtiger, ich schwöre

Allgütiger, ich fühl von neuem wieder dich

Allgütiger, mein Leben lang ist meines Liedes Lobgesang

Als, Herr, dich im Gerichte der Sünden Fluch

Anbetung werde Gott gebracht

Auch diesen Tag hab ich vollbracht

Auch jetzt gibst du mir, Gott, mein Heil

Auch mich, o Herr, hast du gemacht

Auf ewig ist der Herr mein Lied

Auf, frohe Jugend, singe

Auf, junge Christen, auf zum Streit

Auf, zur Freude, auf, zum Singen

Beglücke, Vater, meinen Fleiß

Betet an vor Gott, ihr Sünder

Bringt Ehr und Dank dem Heiland dar

Christ, sei achtsam, sei bereit

Da sink ich hin zu deinen Füßen

Da stehest du, Sohn Gottes

Dank und Anbetung bringen wir, Herr, unser Gott

Dein bin ich, Vater, dein zu sein

Dein Leben, Jesu war auf Erden voll Liebe

Dein Wille, bester Schöpfer, ist

Den Ratschlag deiner Güte, Herr

Denkt mein Geist an jene Stunden, da du

Der du die Liebe selber bist und gern

Der Grund ist fest, auf dem mein Glaube ruht

Der Grund, auf dem mein Glaube ruht

Der Herr ist meine Zuversicht, auf ihn hofft

Der Herr ist meine Zuversicht, mein einzger Trost

Der Herr steht im Gerichte

Der Morgen kommt, und meine Klage

Der Tugend Beispiel gabst du mir, mein Heiland

Des Jahres erster Morgen soll

Dich bet ich an, Herr Jesu Christ

Dich, Herr und Vater aller Welt preist jetzt mein Lied

Dich, treuer Freund, den Gott mit gab

Die ganze Welt ist, Gott, dein Werk

Dies ist der Tag, an welchem deine Frommen

Dies ist der Tag, zum Segen eingeweihet

Dir danke dich für mein Leben

Dir, Ewiger, sei dieser Tag geweihet

Dir, Gott, sei Ehr, bei uns nicht mehr

Dir, Gott, sei mein Dank geweiht

Dir, Jesu, dir sei dieser Tag geweihet

Du bist, o Unermesslicher und wirkst

Du hörst es, Gott, mit Wohlgefallen

Du siehst mich, Allwissender und prüfest

Ein fröhlich Herz, gesundes Blut

Ein Pilger bin ich in der Welt

Ein ruhiges Gewissen lass, Herr, mich stets genießen

Einen Vater haben wir, der uns alle liebet

Eins bitt ich Gott, das hätt ich gern

Einst selig dort zu werden

Erbarmer, ach, noch spotten sie

Ermuntre, Seele, dich und sei dem Gott

Erwacht aus eures Schlummers Nacht

Fern vom Ziel, wonach ich ringe, fleh ich

Flüchtig sind des Tages Stunden unter Lust und Schmerz

Für deine Leiden danken wir

Für mich schuf deine Güte, o Gott

Geht, Kinder, zum Altar hinan

Gelobt sei Gott, ich bin ein Christ

Gepreiset seist du, Jesu Christ, dass nun der Tag

Gepriesen seist du, Jesus von allen Menschenzungen

Gott gibt uns Kraft und Munterkeit

Gott sei mit dir, Amen, Amen, entschlaf

Gott, dem ich lebe, dess ich bin

Gott, dessen starke Hand die Welt erschaffen hat

Gott, dich preiset meine Brust

Gott, dir sei Preis, ich weiß

Gott, wenn mein Aug, der Welt entrückt

Groß ist der Herr, von seiner Macht

Habe deine Lust, o Jugend, immer gern

Halleluja, Jesus lebet, auf, ihr Erlösten

Herr der Zeit, du hast die Tage meiner Pilgerschaft

Herr meiner Jugend, Dank sei dir

Herr meines Lebens, dank sei dir von Herzensgrund

Herr, ach, ich bin ein armes Kind

Herr, denk an mich, wie oft hab ich mit Sünden

Herr, dessen Gnade alles schafft

Herr, dessen Gnade alles schafft

Herr, dir gelob ich neue Treue, und neuen Fleiß

Herr, du bist meine Zuversicht, du lebst

Herr, es gescheh dein Wille, gern duld ich

Herr, gedenke an die Sünden meiner Jugendjahre nicht

Herr, heute gab mir deine Huld das Leben

Herr, mein Heil, voll sanfter Freuden

Herr, sei gnädig deinem Kinde, das ich Demut

Herr, von meinem kurzen Leben

Herr, was ich Gutes habe

Herr, wir genießen brüderlich

Heut öffnet sich die neue Bahn auf meines Lebens Reise

Hinweg mit eitlen Kinderspielen

Hör uns flehen, Geist des Herrn

Ich armes, vaterloses Kind

Ich bin ein Christ, mein Herz ist ruhig

Ich danke dir, o Gott, dass heut uns wieder

Ich komme, Friedensfürst zu dir

Ich lag und schlief in Sicherheit

Ich nahe mich voll Ruh und Freude

Ich rufe, Gott, zu dir und du, du schweigest stille

Ich trete vor dein Angesicht, du Schöpfer

Ich weiß, an wen mein Herz sich hält

Ich weiß, dass mein Erlöser lebt, kommt

Ihm, dem Todesüberwinden, dem Heiland seiner Menschenkinder

Immanuel, dein freu ich mich

Jerusalem, mit frecher Wut

Jesu, Herr der Herrlichkeit, Gott voll Macht

Jesu, Jesu, stärke mich, willig jede Not

Kinder, geht zur Biene hin

Klagt, Gespielen, um ihn her

Komm, o Geist, von Gott gegeben

Kommt, fromme Kinder, seid bereit

Kommt, Verlorne, glaubt und lebet

Lasset uns beweinen das, was wir getan

Lasst unserm Gott uns singen

Lobsingend nah ich mich zu dir

Lobt den Höchsten, Jesus lebet

Lobt Gott in seinem Heiligtum

Mein Erlöser, auch für mich gingst du

Mein Erlöser, der du mich dir zum Eigentum

Mein Geist erstaunt, Allmächtiger

Mein Glück in meiner Pilgerzeit

Mein Gott, du sorgest väterlich für alles

Mein Heiland, wenn mein Geist erfreut

Mein junges Leben preise dich

Mit Beten geh ich an mein Werk

Mit dankerfüllter Seele

Mit diesem Tage geht ein Lebensjahr

Mit freudigem Gemüte sing ich Gott meinen Dank

Mit fröhlichem Gemüte, o Herr, lobsing ich dir

Mit heilgem Schauer blick ich hin

Mit Mäßigkeit und frohem Dank

Mit Munterkeit erwachen wir

Mit Wehmut und Vertrauen, Gekreuzigter

Nicht dieses Welt, die in ihr nichts vergeht

Nicht um ein flüchtig Gut der Zeit

Nie bist du, Höchster, von uns fern

Noch bin ich dein Gast, o Erde

Noch bin ich ein Pilger

Nun ist es Tag, mit frohem Dank

Nun lass mich sterben oder leben

O du, mein Mittler und mein Gott

O Gott, mein Vater, dein Gebot

O Gottes Lamm, unschuldig am Kreuz

O Herr, voll Trost und Dank und Freuden, geh ich von deinem Mahl

O seht, die liebe Sonne lacht

O Vater, neig dich väterlich zu deinem schwachen Kinde

O Welterlöser, sei gepreist

O wie groß ist deine Güte

O wie lieblich ists, wenn Brüder

O, sei mir, sei mir gegrüßet

Rühme, Welt, dein eitles Wissen

Schau hin, dort in Gethsemane klagt, trauert, bebt

Schmal ist der Pfad, auf welchem Christen gehen

Schon frühe setzt mich Gottes Hand

Schon wieder ist von meiner Zeit

Schöpfer, Vater und erhalter

Seht Jesum, den Gerechten, seht seine Schmach

Sei mir gegrüßt, du Heil der Welt, willkommen

Sei stark, o Christ, wenn dir mit holden Blicken

Sei uns gesegnet, Tag der stillen Feier

Sei, Welterlöser, sei gepreist

Sichrer Mensch, noch ist es Zeit

Sieh, Herr, uns zu freun

Sieh, Vater, dein beglücktes Kind

So flüchtig, als des Tages Stunden

So hab ich, Gott, durch deine Macht

So tret ich denn aufs neue ein Jahr jetzt

Stärke, Mittler, stärke sie, deine Teurerlösten

Still, wie mein Lamm, stark, wie sein Blick

Um Gnade für die Sünderwelt, rufst du

Umsonst empört die Hölle sich

Unaussprechlich schnell entfliehn

Unwiederbringlich schnell entfliehn

Unzählbar, Herr, sind deine werke

Verborgner Gott, wer kann den Rat

Voll Blut und Wunden hängt er da

Voll Dank und Freude weih ich dir des Lebens erstes Alter

Voll Liebe war, o Herr, dein Leben

Vollbracht ist unser Tagewerk

Von dir, unendlich Gütiger, von dir kommt Licht

Von Kindheit an war über mir

Vor deinen Blicken schwebte der nahen Martern Heer

Vor dir, Allmächtiger, tritt unser Chor zusammen

Vor Tausenden der Kleinen, die in der Stille

Was sind wir, Herr und Gott

Was soll ich ängstlich klagen

Was soll ich trostlos sorgen, Gott scheint mit zwar verborgen

Wer weiß, wie nah der Tod mir ist, vielleicht

Wie feierlich bist du für mich, o Tag

Wie mannigfaltig sind die Gaben

Wie zärtlich, Jesu, ist dein Herz

Wir glauben an den eingen Gott

Wir, deine Kinder, danken heut

Wo ist ein solcher Gott, wie du

Zu Gott im Himmel beten

Zu Gottes Lob erwecke dein Herz, o junger Christ

Zur Arbeit gib mir, Vater, Kraft

  

Aku berdiri di balik bibir jendela, melayangkan pandanganku pada beberapa kupu-kupu yang sedang berteduh. Kuamati sayap kupu-kupu yang terlihat begitu indah. Pada sayapnya terdapat sisik-sisik yang berwarna-warni dan berderet rapat.

 

“Itulah kupu-kupu, meski sayap kupu-kupu tidak dapat terbang jauh lebih tinggi dari elang, bukan berarti kupu-kupu lemah. Mungkin jika bisa bertukar sayap, kupu-kupu juga mau terbang ke awan seperti elang. Tapi, kita tak bisa memaksakan ke hendak, semua sudah ada porsinya masing-masing,” ucap Ibu pada suatu sore yang hangat.

 

***

 

Sudah dua bulan sejak kedatangan tamu di hari itu, rumah kecil ini mendadak ramai. Tamu itu adalah seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, jurusan seni tari. Namanya Alina, anak-anak memanggilnya Kak Alin. Aku masih ingat sekali hari itu, hari kedatangannya. Saat itu kedatangannya baru yang pertama kali, tetapi mereka sudah sangat dekat. Semua anak sangat antusias menyambutnya, Kak Alin pun membalas sambutan mereka penuh hangat. Hanya aku yang masih diam di kursi ruang tamu, menatap mereka dari kejauhan, sama sekali tak ingin beranjak. Aku sudah mendengar tentang Kak Alin sebelumnya. Bunda Riani yang menceritakannya. Kudengar Kak Alin akan menjadi relawan guru tari di rumah singgah ini. Semua anak bersorak-sorai mendengar berita gembira itu, kecuali aku.

 

“Kak Alina sudah datang teman-teman!” Teriak Ratih sambil berlari menuju pintu diikuti anak-anak yang lainnya.

 

Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok berwarna merah muda. Ratih, Hani, dan Lila menggelayutkan tubuh mereka sambil menarik jemari Kak Alin, mereka terlihat sangat akrab. Satu per satu dari mereka mencium tangannya yang dibalas dengan pelukan hangat. Mereka bersama-sama menuju ke ruang tari yang telah dipersiapkan Bunda Riani kemarin. Kak Alin sempat menatapku dari kejauhan dan melemparkan senyumnya untukku. Aku memalingkan muka dengan tanpa membalas senyumnya. Aku iri.

 

Aku memilih mengintip mereka dari kejauhan. Kemudian, perlahan aku kembali ke kamar tanpa ada yang menyadarinya, kecuali Bunda Riani. Aku kembali ke kamar dengan jalan terseok-seok. Kurebahkan badanku di kasur sambil memandangi rinai yang mengalir di balik kaca jendela kamar. Pikiranku seperti hendak memasuki mesin waktu dan kembali pada masa itu. Aku berniat menuliskan sesuatu di sebuah kertas. Namun, rasanya seperti ada mencekat rahangku dan sesuatu yang meyesakkan dada. Aku hanya mampu diam, membiarkan detak jam terus berjalan dalam kekosongan di kamar.

 

***

 

“Sifa..”

 

Aku mendengar sayup-sayup suara seorang perempuan diikuti dengan suara laki-laki. Mereka menghampiriku dan kemudian memelukku. Aku memandangi wajahku di cermin, aku tampak cantik mengenakan kebaya berbahan katun sepasang dengan jarit bermotif batik. Kepalaku disanggul dan dihiasi bunga-bunga yang membuatku semakin anggun.

 

“Ayah dan Ibu bangga, Nak. Kamu tadi mendapat juara tiga.”

 

Perempuan itu masih memelukku.

 

“Kalau festival selanjutnya mendapat juara satu, ayah akan membelikanmu hadiah sepeda.”

 

Lelaki itu juga ikut berbicara, menjanjikan sesuatu yang kudambakan selama ini.

 

Kupu-kupu Bersayap Elang

 

Mereka adalah ayah dan ibuku. Aku dijanjikannya sepeda yang sangat kuingini. Namun, aku hanya mendapat juara tiga. Aku selalu berharap menjadi juara satu, aku ingin sekali sepeda.

 

Langit mulai gelap. Awan siap menumpahkan jutaan fluida dari bibirnya dan membasahi seluruh kota ini. Kami segera menepi di tempat yang teduh hujan. Ayah membelikan kami soto ayam. Aku dan ibu suka sekali soto ayam.

 

“Ayah, janji ya kalau juara satu, aku mendapat sepeda?” Tanyaku dengan wajah yang kuyup.

 

“Iya, sayang. Kamu harus rajin berlatih agar bisa menjadi penari yang hebat,” Ayah membelai rambutku yang ikal bergelombang.

 

Mataku berbinar bahagia mendengar ucapan Ayah. Aku sudah tidak sabar dapat mewujudkan impianku tersebut.

 

Kami bertiga pulang menaiki motor Ayah. Hanya motor Ayah kendaraan yang keluarga kami punya. Jalanan masih sangat licin, tapi kami harus segera pulang. Ayah memiliki urusan yang harus diselesaikannya. Ia sudah sengaja membolos kerja untuk melihat penampilanku di panggung dalam Festival Tari Jaipong tingkat SD se-Jawa Barat.

 

Pandanganku tiba-tiba gelap. Aku tidak melihat apa-apa lagi. Aku hanya mendengar suara. Suara ibu yang memanggilku, suara Ayah yang menjerit kesakitan, dan ibu yang kemudian menangis memanggil Ayah.

 

***

 

Kak Alin selalu datang sesuai jadwalnya. Kak Alin datang setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Anak-anak sudah siap menyambut Kak Alin seperti biasa. Sementara, aku masih enggan bergabung dengan mereka.

 

“Ayo, anak-anak kita berkumpul,” ajak kak Alin sambil menggelar tikar plastik untuk mereka semua duduk.

 

Di hadapan kak Alin kini sudah berjajar sebelas anak yang siap mendengarkannnya berbicara.

 

“Sebelum kita melakukan gerakan tari, Kak Alin akan menjelaskan tentang tarian jaipong. Tarian ini adalah tarian khas di Jawa Barat, bahkan populer hingga di luar Jawa Barat. Tari Jaipong ini sangat Kak Alin sukai. Mengapa? Karena tari jaipong dapat membuat penarinya merasa senang karena gerakan-gerakannya yang dinamis dan membuat orang jadi lincah. Jadi, kalau kalian sedih, kalian tidak akan merasa sedih lagi kalau menari ini,” ucap kak Alin seraya tersenyum.

 

“Kakak akan ajarkan gerakan-gerakan dasarnya terlebih dahulu. Perhatikan baik-baik. Dimulai dari gerakan kepala.” Kak Alin memutar-mutar kepalanya.

 

Aku pernah mempelajarinya dulu. Dari balik semak, tidak jauh dari saung, aku mengintip mereka. Secara tidak sadar aku mengikuti gaya mereka.

 

“Kalau ini namanya galier, gerakan yang memutarkan kepala. Nah, yang ini namanya gilek, gerakan menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri.”

 

Diam-diam aku meniru gerakan Kak Alin dan teman-teman dari balik pintu. Aku masih ingat semuanya.

 

“Sekarang gerakan tangan. Ada bermacam-macam, yang pertama ukel gerakan memutarkan tangan. Selanjutnya, selut gerakan tangan kanan dan kiri yang digerakkan ke depan atau ke atas dengan cara bergantian. Ada lagi, tepak bahu, gerakan tangan yang menepuk-nepuk bahu baik itu satu atau dua tangan dan dua tangan saling bergantian.”

 

Tanganku masih lincah mengikutinya. Aku masih benar-benar mengingat sekaligus menginginkannya.

 

“Masih pada gerakan tangan, namanya capang. Capang adalah gerakan tangan yang membengkokkan salah satu dari tangan. Selanjutnya, nyawang, yaitu gerakan tangan seperti melihat orang dari kejauhan. Ada juga lontang kiri atau kanan, lontang adalah gerakan tangan yang menggunakan dua tangan dan digerakkan saling bergantian.”

 

Kali ini aku mundur, tidak lagi meniru gerakan tari mereka dari kejauhan. Mencoba berlari seperti mengejar laju angin, tapi aku tak mampu.

 

“Sekarang gerakan kaki. Gerakan ini juga bermacam-macam..”

 

Tak lagi kudengar suara Kak Alin berikutnya. Aku menutup telinga sekencang-kencangnya. Rasanya ingin mengenyahkan seluruh orang yang ada di ruangan ini.

 

Aku kembali ke kamar, seperti biasa. Aku selalu menuliskannya di sebuah kertas, tentang apa pun yang pernah kualami, kejadian-kejadian di rumah singgah, tentang teman-teman yang mungkin mereka sudah lupa. Aku masih mengingatnya, menjadikannya bingkai cerita yang akan mereka baca suatu hari nanti, jika mereka mau. Aku jadi ingat, sudah sebulan aku mencari kotak kesayanganku. Isinya hanya pensil, kertas, dan buku-buku usang yang selalu menemaniku ke manapun aku pergi. Aku sudah menanyakannya berkali-kali pada Bunda Riani hingga beliau bosan. Meski begitu, beliau selalu menjawab sambil tersenyum.

 

“Ayo, coba Sifa ingat-ingat lagi. Mungkin lupa menaruhnya?”

 

Aku ingat betul terakhir kali aku menaruhnya di meja belajar. Hal yang membuat aku yakin bahwa tak akan ada yang mau mengambilnya, itu hanya sebuah kotak usang. Bagiku, kotak itu adalah sebagian dari nyawaku.

 

Aku menundukkan kepalaku dan meliuk-liuk di kolong kursi ruang tamu. Tiba-tiba mataku mendarat pada sebuah sepatu kaca berwarna biru.

 

“Sifa, sedang apa?”

 

Aku menarik kepalaku ke luar kolong, menghadap arah suara yang barusan bertanya padaku. Rupanya Kak Alin sudah datang. Kak Alin hanya tersenyum, sedetik kemudian tangan yang semula dilipatnya ke belakang kini menunjukkan sesuatu di hadapanku. Mataku membelalak, mengamati sesuatu yang selama ini kucari. Kini, lebih rapi dan bagus, tidak lagi usang. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.

 

“Ini yang kamu cari? Maaf Kak Alin pinjamnya ngga bilang-bilang Sifa, ya?”

 

Di atas kotak kecilku ada sebuah majalah yang sudah sengaja dilipat pada halaman delapan, kolom cerpen.

 

Kupu-Kupu Bersayap Elang.

 

Aku baca judulnya dengan saksama. Kuamati baris-baris huruf yang tertera di sana, aku seperti mengenalinya.

 

“Kak Alin minta maaf ya. Selama ini Kak Alin selalu meminjam kotak kecilmu diam-diam pada Bunda Riani.”

 

Kutelusuri bacaan itu. Isinya sama persis dengan kata-kata yang pernah kutuliskan.

 

Karya: Sifa Anastasia

 

(Juara I Lomba Cipta Cerpen).

 

Rasanya malu meski hanya ingin menatap mata Kak Alin. Dari awal pertemuan aku selalu membencinya, menuduh kedatangannya sebagai penghancur impianku. Aku menangis bukan lagi karena marah. Kali ini dengan nada bahagia. Aku tersenyum, mungkin untuk yang pertama kali, untuk Kak Alin.

   

Shinta Putri Wulandari

 

Alamat e-mail: shintawulandariii@gmail.com

 

Blogspot: shintawulanda.blogspot.com

 

[1]Disalin dari karya Shinta Putri Wulandari

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi Minggu 14 Oktober 2018

 

The post Kupu-Kupu Bersayap Elang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2NNSk0I

Da’s nog eens een fijn rendement: onze landgenoot Jan Martens telde in 1976 een paar duizend pond neer voor deze Alfa Romeo. Het veilinghuis dat hem binnenkort onder de hamer brengt verwacht dat zijn zoon Jan Willem er nu tussen de €16 en €22 miljoen voor zal vangen.

Het is natuurlijk nog even afwachten hoe heftig de biedingenstrijd zal worden, maar het moet gek lopen wil deze Alfa Romeo 8C 2900 B Touring Berlinetta uit 1939 binnenkort niet worden opgenomen in deze ranglijst van duurste auto’s die ooit via een veiling een andere eigenaar vonden.

 

Onnodig om te zeggen dus dat we het hier over een zeer bijzonder exemplaar hebben. Het is niet alleen de snelste productiewagen die je voor de oorlog kon kopen, maar ook 1 van de zeldzaamste. Er zijn er namelijk maar 5 gebouwd.

 

Jan Martens had de potentie van deze wagen dus goed gezien, toen hij deze auto in 1976 kocht, van een Fransman die klaagde dat de biedingen op £3750 bleven steken, terwijl hij er toch echt £4000 voor wilde hebben.

 

Het karretje is inmiddels overgegaan naar zijn zoon Jan Willem, die er net als zijn vader geregeld in reed. Maar wees niet bang dat hij voortaan de bus moet nemen, want we lezen dat hij onder andere nog een Fiat 8V Rapi, een Alfa Romeo 6C 2500 SS cabriolet Pinin Farina, een Alfa 6C 1750 roadster en een Aston Martin DB5 in zijn garage heeft staan.

VW kodok 1303 '74 • nopol cuantik AB1303VI • BPKB + STNK kumplit • pajak hidup • noka dan nosin asli bukan trik • dek kolong utuh • mesin full chrom • alus dan bertenaga • AC duingin • instalasi rapi • AUDIO CD pioner power dkk • cat mulus • interior semi custom • scat shifter • central lock • velg mercy 5 hole blink blink asik menarik • ster tdk berat • handling ok • naikan msh empuk • lokasi Jogja 35 jt • Hub.: 0812 279 3349 - susilohadi

A Nankai 50000 Rapi:t Limited Express train in Osaka.

The Fiat 8V (or "Otto Vu") is a V8-engined sports car produced by the Italian car manufacturer Fiat from 1952 to 1954. The car was introduced at the 1952 Geneva Motor Show. The Fiat 8V got its name because at the time of its making, Fiat believed Ford had a copyright on "V8". With 114 made, the 8V wasn't a commercial success, but did well in racing. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats (but many parts were made by Siata and they used them for their cars). The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi. The engine was a V8 originally designed for a luxury sedan, but that project was stopped.

 

The Fiat V8 had a 70 degree V configuration, displaced 1,996 cc and was fitted with two twin-choke Weber 36 DCF 3 carburettors. In its first iteration (type 104.000) the engine had a compression ratio of 8.5:1 and produced 105 PS (77 kW; 104 hp) at 5,600 rpm, giving the car a top speed of 190 km/h (118 mph). Improved type 104.003 had different camshaft timing for 115 PS (85 kW; 113 hp) at 6,000 rpm; finally type 104.006 with an 8.75:1 compression ratio, revised camshaft timing and fuel system put out 127 PS (93 kW; 125 hp) at 6,600 rpm. The engine was connected to a four speed gearbox. The car had independent suspension all round and drum brakes on all four wheels.

 

Top management were preoccupied with more run of the mill projects, however, and only 114 of the high-performance coupés had been produced by the time the cars were withdrawn from production in 1954. Nevertheless, they continued to win the Italian 2-litre GT championship every year until 1959.

 

Ghia designed and produced a limited run of cars named 'Supersonic', with special 'jet age' bodywork. Ghia had recently been sold by Boano to Luigi Segre, and a one-off Alfa Romeo 1900 had been built for a wealthy entrant in the 1953 Mille Miglia race. The car was displayed at the Turin show same year and the reaction inspired Segre to plan a limited production of cars based on the Otto Vu, aimed at the American market. Only eight were completed, after mechanical issues ended the project. Design of 'Supersonic' is credited to Giovanni Savonuzzi.

Dijual Jimny Jangkrik 1981, 4x4, AC, Cat Baru, Jok Rapi, Bekleding Rapi. Call: 081221208333 / 022-92568002 (Bp.Rizal). SMS: 08164201482 (Bp.Riri).

1 2 ••• 7 8 10 12 13 ••• 79 80