View allAll Photos Tagged RaPi
La palabra raquero (según algunos, del inglés wrecker -ladrón de barcos, saqueador de naufragios-; según otros, del latín rapio-is -arrebatar, arrastrar, llevar violenta o precipitadamente) designa a los niños marginales, huérfanos o de extracción humilde, que frecuentaban los muelles de Santander (Cantabria) durante el siglo XIX y principios del XX sobreviviendo de pequeños hurtos y de las monedas que los pasajeros y tripulantes de los barcos arrojaban al mar para que las sacasen buceando.
Según los habitantes de esta zona de la ciudad, el nombre de los raqueros se deriva del apelativo aportado por los tripulantes y pasajeros de los barcos ingleses en los que robaban, pronunciado castellanizado como raquers. Con el tiempo, estos niños llegaron a ser una atracción. Pescaban y pasaban el día en el muelle, bañándose generalmente desnudos o semidesnudos. La gente les tiraba monedas ("perras") al agua para que las sacaran buceando, y se les pagaba por rescatar cosas que caían desde el muelle, como sombreros, alpargatas, etc.
Manual 20 Mpxl, Iso Auto, WB Auto
norkandirblog.wordpress.com/2016/09/02/keutamaan-al-quran...
(Dinukil dan diedit oleh Abu Zur’ah dari Program Al-Qur’an)
Al-Qur`an adalah firman Allah. Muncul dari zat-Nya dalam bentuk perkataan yang tidak dapat digambarkan. Diturunkan kepada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu. Orang-orang Mu’min mengimaninya dengan keimanan yang sebenar-benarnya. Mereka beriman tanpa keraguan, bahwa Al-Qur`an adalah firman Allah dengan sebenarnya, bukan ciptaan-Nya seperti layaknya perkataan makhluk, barang siapa menganggap sebagai perkataan manusia, maka ia telah kafir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sifat kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur`an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat [41): 41-42)
Di dalam ayat yang lain Allah juga mensifatinya dengan firman-Nya:
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
“(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (QS. Hûd [11): 1)
Sungguh ayat-ayat Al-Qur`an ini sangat cermat dan teliti, jelas dan terperinci, yang telah ditetapkan oleh yang Maha Bijaksana, dan yang telah diuraikan oleh yang Maha Tahu. Kitab ini akan terus menjadi mukjizat dari segi keindahan bahasa, syariat, ilmu pengetahuan, sejarah dan lain sebagainya. Sampai Allah mengambil kembali bumi dan yang ada di dalamnya, tidak akan terdapat sedikitpun penyelewengan dan perubahan terhadapnya, sebagai bukti akan kebenaran firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15): 9)
Dunia secara keseluruhan belum pernah memperoleh sebuah kitab seperti Al-Qur`an yang mulia ini, yang mencakup segala kebaikan, dan memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus, serta mencakup semua hal yang akan membahagiakan manusia. Allah berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isrâ` [17): 9)
Al-Qur`an ini diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan, menuju cahaya. Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhîm [14): 1)
Dengan Al-Qur`an, Allah telah membukakan mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang lalai. Bila dibaca dengan benar, dipahami setiap surat dan ayat-ayatnya, dipahami secara mendalam setiap kalimat dan kata-katanya, tidak keluar dari batas-batasnya, melaksanakan perintah-perintah yang ada di dalamnya, menjauhi larangan-larangan, berakhlak dengan apa yang disyariatkan, dan menerapkan prinsip-prinsip dan nilai terhadap dirinya, keluarga dan masyarakatnya, maka akan menjadikan umat Islam merasa aman, tenteram dan bahagia di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah [2): 121)
Ibnu Abbas berkata, “Mereka mengikutinya dengan sebenarnya, menghalalkan yang telah dihalalkan dan mengharamkan yang telah diharamkan serta tidak menyelewengkannya dari yang semestinya.”
Qatadah berkata, “Mereka itu adalah sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beriman kepada kitab Allah, lalu membenarkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram serta melaksanakan apa yang ada di dalamnya.”
Makhluk jin sangat terkesan sekali tatkala mendengarkan bacaan Al-Qur`an; hati mereka dipenuhi dengan kecintaan dan penghargaan terhadapnya, dan mereka bersegera mengajak kaumnya untuk mengikutinya, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:
فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا
“Lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur`an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.’” (QS. Jin [72): 1-3)
Allah telah bercerita tentang mereka dalam Al-Qur`an:
قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Mereka berkata: Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqâf [46): 30-31)
Oleh karenanya, kitab yang mulia ini mengungguli kitab-kitab samawi sebelumnya. Dan kedudukannya pun di atas kitab-kitab itu. Allah berfirman:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (QS. Az-Zukhruf: 4)
Dan firman Allah dalam ayat yang lain:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Ma`idah: 48)
Para ulama tafsir berkata: “Al-Qur`an lebih unggul dari kitab-kitab samawi lainnya sekalipun semuanya turun dari Allah, dengan beberapa hal, diantaranya: jumlah suratnya lebih banyak dari yang ada pada semua kitab-kitab yang lain. Telah disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberi kekhususan dengan surat Al-Faatihah dan penutup surat Al-Baqarah.”
Di dalam Musnad ad-Darimi disebutkan, dari ‘Abdullah bin Masud Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata: “Sesungguhnya As-Sab’uth Thiwal (tujuh surat panjang dalam Al-Qur`an: Al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisaa, Al-Araaf, Al-An’aam, Al-Maa`idah dan Yunus) sama seperti Taurat, Al-Ma’in (Surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan lain sebagainya) sama seperti Zabur, dan Al-Matsani (Surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat: Al-Anfaal, Al-Hijr dan lain sebagainya) sama dengan kitab Zabur. Dan sisanya merupakan tambahan.”
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani, dari Wasilah bin Al-Asqa, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Telah diturunkan kepadaku As-Sab’uth Thiwal sebagai ganti yang ada pada Taurat. Diturunkan kepadaku Al-Mi’in sebagai ganti yang ada pada Zabur. Diturunkan kepadaku Al-Matsani sebagai ganti yang ada pada Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al-Mufashshal (surat-surat pendek).”
As-Sab’uth Thiwal adalah dari awal surat Al-Baqarah hingga akhir surat Al-Araaf yang berjumlah enam surat. Para ulama berselisih pendapat tentang surat yang ke tujuh; Apakah surat Al-Anfaal dan Al-Baraah sekaligus karena antara keduanya tidak dipisah dengan bismillah, maka dianggap satu surat, atau surat Yunus? ‘Al-Miun’ yaitu surat-surat yang ayatnya sekitar atau lebih dari seratus. ‘Matsani’ yaitu surat-surat yang jumlah ayatnya di bawah seratus. Dinamakan demikian karena ayat-ayatnya berulang-ulang melebihi yang ada pada surat-surat yang terhimpun dalam Sab’uthi Thiwal dan Miun. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘Al-Mufashal’ adalah surat-surat yang lebih pendek dari surat-surat dalam Al-Matsani. Para ulama berselisih pendapat tentang awal dari surat-surat itu. Ada yang berpendapat bahwa Al-Mufashal bermula dari awal surat Ash-Shaffaat, pendapat lain mengatakan diawali dari surat Al-Fath, dan yang lainnya berpendapat, dari surat Al-Hujuraat, dan ada juga yang berpendapat, dari surat Qaaf. Pendapat ini dibenarkan oleh Al-Hafiz Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar. Ada pula pendapat selain yang disebut di atas. Namun demikian para ulama sepakat bahwa akhir dari Mufashal adalah surat terakhir dalam Al-Qur`an.
Diantara keunggulan Al-Qur`an juga, bahwa Allah menjadikan gaya bahasanya mengandung mukjizat, sekalipun kitab-kitab lain juga mengandung mukjizat dari segi pemberitaan tentang yang gaib dan hukum-hukum, namun gaya bahasanya biasa-biasa saja, maka dari segi ini Al-Qur`an lebih unggul. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (QS. Az-Zukhruf: 4)
Dan firman Allah:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya, Fadhailul Quran (keutamaan-keutamaan Al-Qur`an) halaman 102-123, mengatakan: “Hal ini mereka raih berkat Al-Qur`an yang agung, yang mana Allah telah memuliakannya dari semua kitab yang pernah diturunkan-Nya, dan Dia jadikan sebagai batu ujian, penghapus dan penutup bagi kitab-kitab sebelumnya, karena semua kitab terdahulu diturunkan ke bumi dengan sekaligus, sedangkan Al-Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa yang terjadi, demi untuk menjaganya dan menghargai orang yang diberi wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur`an turun, seperti keadaan turunnya kitab-kitab sebelumnya.”
Kitab yang mulia ini telah mengungkap banyak sekali kebenaran ilmiah kosmos, dalam ayat-ayat yang membuktikan wujud Allah, kekuasaan dan keesaan-Nya. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiyaa [21]: 30)
Al-Qur`an juga menganjurkan agar memanfaatkan apa yang dapat ditangkap oleh indra mata dalam kehidupan sehari-sehari dari ciptaan Allah, sebagaimana difirmankan: “Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus [10]: 101) Dan Allah berfirman: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Al-Jaatsiah: 13)
Kaum Muslimin hendaknya mempelajari ilmu-ilmu alam, serta menikmati manfaat dari kekuatan-kekuatan yang tersimpan di langit dan bumi.
Sesungguhnya pembicaraan tentang Al-Qur`an tidak akan ada habis-habisnya. Al-Qur`anlah yang menganjurkan kaum Muslimin untuk bersikap adil dan bermusyawarah, dan menanamkan kepada mereka kebencian terhadap kezaliman dan tindakan semena-mena. Syiar para pemeluknya adalah kekuatan iman, tidak sombong, solidaritas dan bersikap kasih sayang antara sesama mereka.
Hendaknya kita hidup dengan Al-Qur`an, membaca, memahami, mengamalkan dan menghafal. Hidup dengan Al-Qur`an adalah perbuatan yang paling terpuji, yang patut dilakukan oleh orang Mu’min. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mengerjakan Shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30)
Dalam dua ayat tersebut di atas, Allah menganjurkan bagi orang-orang yang membaca Al-Qur`an agar disertai dengan perenungan, sehingga akan menimbulkan pengetahuan yang pada gilirannya akan menimbulkan pengaruh. Tidak diragukan lagi bahwa pengaruh membaca Al-Qur`an adalah melaksanakan dalam bentuk perbuatan.
Oleh karena itu Allah iringi amalan membaca Al-Qur`an dengan mendirikan Shalat, menafkahkan sebagian rezki yang dikarunia Allah secara diam-diam dan terang-terangan, kemudian dengan demikian orang-orang yang membaca Al-Qur`an itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi. Mereka mengetahui bahwa karunia Allah lebih baik dari apa yang mereka infakkan. Oleh karena mereka mengadakan perniagaan di mana Allah menambahkan karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Berterima kasih, mengampuni kelalaian, dan berterima kasih atas pelaksanaan tugas.
Oleh karena itu kita harus selalu membaca Al-Qur`an dengan perenungan dan kesadaran, sehingga dapat memahami Al-Qur`an secara mendalam. Bila seorang pembaca Al-Qur`an menemukan kalimat yang belum dipahami, hendaknya bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan. Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43)
Mempelajari Al-Qur`an sangat diperlukan. Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata: Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat, dan mereka akan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat), dan barang siapa amalnya kurang, tidak dapat ditambah oleh nasabnya. (Diriwayatkan oleh Muslim, 2699)
Sabda Rasul dalam hadits ini, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah”, “Rumah” di sini bukanlah batas, terbukti dengan sebuah hadits riwayat Muslim yang lain yang mengatakan: “Tidaklah suatu kaum berzikir kepada Allah, melainkan akan diliputi oleh para malaikat….” Jika berkumpul di tempat lain, selain rumah Allah (Masjid) maka bagi mereka keutamaan yang sama dengan mereka yang berkumpul di Masjid. Pembatasan “di rumah Allah” dalam hadits di atas, hanyalah karena seringnya tempat itu dijadikan tempat berkumpul, akan tetapi tidak ada keharusan. Berkumpul untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur`an dan kandungan hukumnya, di mana pun tempatnya akan mendapatkan keutamaan yang sama. Adapun jika berkumpul untuk belajar di masjid lebih utama, hal itu dikarenakan masjid mempunyai keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh tempat yang lain.
Diriwayatkan oleh Ibnu Masud Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur`an, maka ia akan memperoleh kebaikan. Kebaikan itu berlipat sepuluh kali. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif adalah huruf, Lam huruf, dan Mim huruf. (HR. At-Tirmizi no. 3075)
Dari Usman bin Affan Radhiyalallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ia bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 4739)
Hadis ini menunjukkan akan keutamaan membaca Al-Qur`an. Suatu ketika Sufyan Tsauri ditanya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Al-Qur`an? Ia berkata, membaca Al-Qur`an, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya kepada orang lain.”
Imam Abu Abdurrahman As-Sulami tetap mengajarkan Al-Qur`an selama empat puluh tahun di masjid agung Kufah disebabkan karena ia telah mendengar hadits ini. Setiap kali ia meriwayatkan hadits ini, selalu berkata: “Inilah yang mendudukkan aku di kursi ini.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: “Maksud dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkan kepada orang lain’ adalah bahwa ini sifat-sifat orang-orang Mu’min yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain. Allah berfirman:
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ
“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan.” (QS. An-Nahl [16: 88)
Sebagaimana firman Allah: “Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur`an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya.” (QS. Al-An’aam: 158)
Penafsiran yang paling benar dalam ayat ini, dari dua penafsiran ahli tafsir adalah bahwa mereka melarang orang-orang untuk mengikuti Al-Qur`an, sementara mereka sendiri pun menjauhkan diri darinya. Mereka menggabungkan antara kebohongan dan berpaling, sebagaimana firman Allah: “Atau agar kamu (tidak) mengatakan: ‘Maka siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya?’” (QS. Al-An’aam: 157)
Beginilah perihal orang-orang kafir yang jahat, sedangkan orang-orang Mu’min yang baik dan pilihan selalu menyempurnakan dirinya dan berusaha menyempurnakan orang lain, sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (QS. Fushilat [41]: 33)
Ayat ini menggabungkan antara seruan kepada Allah, baik dengan azan atau yang lainnya, seperti mengajarkan Al-Qur`an, hadits, fikih dan lainnya yang mengacu kepada keridhaan Allah, dan dengan perbuatan shalih, dan juga berkata dengan ucapan yang baik.
Rahmat Allah akan dilimpahkan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur`an dan mereka yang menegakkan hukumnya, juga mencakup orang-orang yang mendengarkan bacaannya. Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mengerjakan Shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal [8]: 2-4)
Dari Abdullah Ibnu Masud Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku: “Bacakan Al-Qur`an kepadaku.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Aku harus membacakan Al-Qur`an kepada Anda, sedangkan kepada Andalah Al-Qur`an itu diturunkan?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku.” Aku lalu bacakan surat An Nisaa. Ketika sampai pada firman yang berbunyi:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا
‘Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).’ (QS. [4]: 41) Beliau berkata: “Cukup.” Lalu aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba aku lihat beliau mencucurkan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 4582, Muslim no. 800, dan Abu Dawud no. 3668)
Imam Nawawi berkomentar, “Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadits ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Al-Qur`an, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al-Qur`an agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al-Qur`an, dibandingkan dengan membaca sendiri.”
Setiap orang muslim hendaknya tahu akan hak-hak Al-Qur`an: menjaga kesuciannya, komitmen terhadap batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama saat mendengarkan bacaannya, dan meneladani para salaf (pendahulu) shalih dalam membaca dan mendengarkannya. Sungguh mereka itu bagaikan matahari yang menerangi dan dapat diteladani dalam kekhusyukan yang sempurna dan meresapi, mengimani firman Allah: “Dan sesungguhnya Al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syuara [26]: 192-195)
Memang benar adanya, bahwa Al-Qur`an, baik lafal maupun makna adalah firman Allah, yang merupakan sistem dari langit untuk seluruh makhluk, khususnya manusia. Selain itu ia merupakan rujukan utama perkara-perkara agama dan sandaran hukum. Hukum-hukum yang ada di dalamnya tidaklah diturunkan sekaligus, akan tetapi diturunkan secara berangsur selama masa kerasulan. Ada yang turun untuk menguatkan dan memperkokoh pendirian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada yang turun mendidik umat yang baru saja tumbuh dan ada pula yang diturunkan oleh karena peristiwa keseharian yang dialami oleh umat Islam di tempat dan waktu yang berbeda-beda. Setiap kali ada peristiwa, turunlah ayat Al-Qur`an yang sesuai dan menjelaskan hukum Allah atas peristiwa itu. Di antaranya adalah kasus-kasus dan peristiwa yang terjadi pada masyarakat Islam, pada masa pensyariatan hukum, di mana umat Islam ingin mengetahui hukumnya, maka turunlah ayat yang menjelaskan hukum Allah, seperti larangan minuman keras.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata, “Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah dan mendapati orang-orang meminum minuman keras, dan makan dari hasil berjudi. Lalu mereka bertanya kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang masalah itu, maka Allah menurunkan ayat: ‘Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)
Lalu orang-orang berkata: ‘Tidak diharamkan, hanya saja pada keduanya dosa yang besar.’ Selanjutnya mereka masih juga banyak yang minum khamar (minuman keras), sampai pada suatu hari, seorang dari Kaum Muhajirin mengimami sahabat-sahabatnya pada Shalat Maghrib. Bacaannya campur aduk antara satu dengan yang lain, sehingga Allah menurunkan ayat Al-Qur`an yang lebih keras dari ayat sebelumnya: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.’ (QS. An-Nisaa [4]: 43)
Akan tetapi, Orang-orang masih juga banyak yang meminum minuman keras, hingga salah seorang melakukan Shalat dalam keadaan mabuk. Lalu turunlah ayat Al-Qur`an yang lebih keras lagi: ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.’ (QS. Al-Maaidah: 90)
Mereka berkata: ‘Kami tidak akan melakukannya lagi wahai Tuhan!’ Lalu orang-orang berkata: ‘Wahai Rasulullah banyak orang yang terbunuh di jalan Allah, atau mati di atas kasurnya, padahal mereka telah meminum khamar dan makan dari hasil perjudian, sedangkan Allah telah menjadikan keduanya najis yang merupakan perbuatan setan.’ Maka turunlah ayat: ‘Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebaikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.’ (QS. Al-Maaidah: 93)
Nabi bersabda: ‘Jika diharamkan atas mereka sebelumnya, niscaya mereka akan meninggalkannya sebagaimana halnya kalian meninggalkan.’” (Musnad Ahmad 2/251 dan 252)
Dalam Shahih Bukhari, hadits no. 4620, disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata: “Dulu aku pernah jadi penyuguh minuman (khamar) di rumah Abu Thalhah, dan turunlah ayat pengharaman minuman keras. Lalu diutuslah seseorang untuk menyerukan larangan ini. Abu Thalhah berkata, ‘Keluarlah dan lihat suara apakah itu.’ Lalu aku keluar, dan aku berkata: ‘Sungguh minuman keras telah diharamkan.’ Ia berkata kepadaku: ‘Pergi, dan tumpahkanlah.’ Anas berkata: ‘Aku pun keluar dan menuangkannya. Saat itu khamar mengalir di jalan-jalan Madinah.’ Anas berkata: ‘Jenis khamar pada saat itu adalah yang terbuat dari kurma.’ Sebagian orang berkata: ‘Telah banyak yang terbunuh, sedangkan minuman itu ada di dalam perut mereka.’ Ia berkata, lalu turunlah ayat: ‘Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu.’”
Dari yang disebutkan di atas, kita mengetahui bahwa larangan meminum khamar (minuman keras) terjadi dalam tiga tahap, yaitu ketika turun surat Al-Baqarah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’”
Ayat ini mengandung larangan meminum minuman keras dengan cara yang halus. Maka yang meninggalkannya ketika itu hanya sekelompok orang yang tingkat ketakwaan mereka sangat tinggi. Umar Radhiyalallahu ‘Anhu berkata, “Ya Allah, berikanlah penjelasan yang terang tentang hukum meminum minuman keras.” Lalu turunlah ayat yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” Lalu umat Islam menghindari untuk meminumnya pada waktu-waktu mendekati Shalat. Umar Radhiyalallahu ‘Anhu berkata, “Ya Allah, berikanlah penjelasan yang terang tentang minuman keras. Maka turunlah surat Al-Maaidah: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan, Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”
Saat itulah ketika diserukan dan dibacakan ayat ini, Umar Radhiyalallahu ‘Anhu berkata, “Kami berhenti (dari melakukannya).”
Demikianlah proses pensyariatan yang bertahap, di mana Allah menyucikan umat Islam dari adat istiadat yang bertentangan dengan sistem Islam, dan melengkapi mereka dengan sifat-sifat yang mulia, seperti: pemaaf, penyabar, kasih sayang, jujur, menghormati tetangga, berlaku adil dan perbuatan baik yang lain.
Hanya Allah semata yang menetapkan syariat untuk para hambanya. Allah berfirman: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. Al-An’am: 57)
Syariat itu ditetapkan tiada lain kecuali hanya untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia, baik hikmah yang terkandung di dalamnya tampak atau pun tidak. Al-Qur`an adalah sumber pertama syariat.
Adapun sumber kedua adalah Sunah, dan tidak ada perselisihan antara para ulama bahwa sunah merupakan hujah dalam syariat di samping Al-Qur`an. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 59)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)
Dan firman Allah: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya I’lamul Muwaqqi’in ‘An Rabil Alamin halaman 263 menjelaskan tentang peran Sunah terhadap Al-Qur`an, ia berkata: “Peran Sunah terhadap Al-Qur`an ada tiga: Pertama: Mempunyai maksud sama dengan Al-Qur`an dilihat dari semua segi. Sehingga masing-masing ayat Al-Qur`an dan hadits Nabi yang sama-sama menunjukkan kepada hukum yang sama termasuk dalam kategori suatu yang hukum mempunyai lebih dari satu dalil. Kedua: Menjelaskan maksud dari Al-Qur`an dan penafsirannya. Ketiga: Menetapkan suatu hukum, wajib atau haram, yang tidak ada terdapat dalam Al-Qur`an. Peran itu tidak keluar dari tiga hal ini dan tidak ada pertentangan sama sekali antara Al-Qur`an dan sunah.
Oleh karenanya, sunah menegaskan suatu hukum dari Al-Qur`an, kadang kala ia menafsirkan teks Al-Qur`an atau menguraikan hukum yang dijelaskan secara ringkas dalam Al-Qur`an, bahkan juga menetapkan suatu hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur`an. Namun demikian Sunah tidak menetapkan sebuah hukum, kecuali bila di dalam Al-Qur`an tidak diketemukan hukum yang dimaksud. Sunahlah yang menjelaskan kepada kita -umat Islam- bahwa Shalat yang diwajibkan adalah lima kali sehari semalam, darinya juga diketahui jumlah rakaat dalam Shalat dan rukun-rukunnya, menjelaskan hakikat zakat, dan ke mana disalurkan serta berapa nisabnya. Dan sunah juga yang menjelaskan kepada kita cara-cara haji dan umrah, dan bahwa ibadah haji hanya wajib sekali dalam seumur hidup, dan ia pula yang menerangkan tentang miqat-miqat haji, zamani dan makani (waktu dan tempat) dan jumlah putaran tawaf.
Maka bagi mereka yang hanya berpegang terhadap Al-Qur`an dengan meninggalkan sunah, hendaknya segera memperbaharui keimanannya dan segera kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha: 82)
Al-Qur`an dan Sunah, kedua-duanya merupakan wahyu Allah kepada Rasul-Nya, dan dua sumber syariat Islam yang mengembalikan manusia pada fitrahnya, dan menjadikan manusia mengetahui jalan hidupnya. Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-Araaf: 43). Selesai.
Allahu A’lam.[]
Nor Kandir
Artikel norkandirblog.wordpress.com
Raddampfer Stadt Rapperswil verlässt Rapperswil.
Paddle steamer "City of Rapperswil" leaves Rapperswil.
Gebaut wurde die Stadt Rapperswil im Jahr 1914 von Escher, Wyss & Cie. in Zürich.
On May 29, 1914, Stadt Rapperswil started her maiden voyage, housing members of cantonal and municipal authorities, representatives of Lake Zurich shore communities, and Escher, Wyss & Cie. and further prominent guests on board.
Foto: 23. Juli 2008
Membentang gapura bermahkota rumah adat Batak Toba, sedangkan di tiang sebelah kanan berhias patung china dengan tangan terkatup pengungkapan gongxi patchai. Dan di sebelah kiri terdapat patung perempuan india yang sedang menari.
Kemegahan Gereja Annai Valengkanni sudah tampak saat memasuki area rumah ibadah umat kristen Katholik. Gereja ini sangat unik, eksotik, dan menarik. Pada atap gereja terdapat tiga kubah besar, menyerupai kubah-kubah seperti masjid. Dan di atas kubah itu terdapat salib yang tertancap kokoh. Secara keseluruhan pada bangunan gereja ini menyerupai sebuah kuil.
Menuju ke ruangan ibadah yang berada di lantai dua, para jemaat atau pengunjung menaiki tangga yang melengkung, dan dari atas gereja itu sendiri tangga yang melengkung tersebut membentuk seperti gambar kedua tangan yang ingin memeluk.
“Setiap bentuk bangunan pada gereja mempunyai arti. Misalnya saja di depan gereja ini ada pohon pisang, kenapa harus pohon pisang yang dijadikan simbol, ada yang tahu?” tanya Pastor James Barathaputra saat menyambut jemaat dari Tanah Karo di depan Gereja Annai Valengkanni, Sabtu (2/7/2016).
Seorang jemaat menjawab, namun jawabannya salah. Sementara yang lain hanya terdiam, menunggu jawaban dari pastur James Barathaputra.
“Karena pohon pisang merupakan lambang kehidupan kekal,” terang Pastor James yang saat itu berkemeja lengan biru kotak-kotak dan bersarung.
Cukup lama Pastur James menerangkan kepada jemaat mengenai beragam keistimewaan yang dimiliki oleh Gereja Annai Valengkanni. Kemudia pria yang sudah sepuh dengan tongkat di tangan kanan menyuruh para jemaat untuk memasuki ruangan yang ada di belakang gereja.
Di saat sendiri itu pula saya menghampiri Pastor James.
“Gereja Valengkanni adalah gereja yang tiada duanya di dunia. Ya, karena saya sendiri yang mendesain. Gereja ini bukan sekadar rumah ibadah milik agama Katholik saja, tapi merupakan sebuah warta kepada manusia bagaimana penciptaan dunia, karena sesungguhnya setiap bagunan pada gereja itu berbicara (pen: memiliki arti), dan juga sebagai tempat yang bisa dikunjungi semua suku, dan semua agama,” terang Pastor James pada saya.
Di sebelah kanan depan gedung juga terdapat replika taman tanah suci. Jadi bagi pengunjung yang belum pernah ke tanah suci, taman mini itu bisa memberi gambaran saat berada di tanah suci bagi umat agama Katholik.
Selain itu, terdapat pula gedung aula tempat beribadah di hari-hari biasa yang berada di sebalah kanan gereja. Dan di belakang aula itu terdapat sumber air yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
“Kalau kita yakin dengan air ini, maka penyakit yang kita derita bisa sembuh,” kata Betty pada saya, sambungnya lagi sambil tersenyum, “sakit hati juga bisa sembuh.”
Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, saya menaiki tangga di gedung lantai dua. Di dalam ruangan begitu sejuk, lantainya begitu bersih dan mengkilap, dan berjejer pula kursi yang tersusun rapi. Saat itu tidak ada kebaktian, jadi ruangan itu tampak sepi, hanya beberapa pengunjung saja. Pada langit-langit gedung terdapat ukiran gambar yang berkisah.
Kalau diperhatikan sejak awal, hampir di setiap sudut gereja tidak pernah lepas dari patung atau ukiran Bunda Maria. Dan menurut agama Kristen Katholik sendiri Bunda Maria merupakan sosok manusia yang paling suci. Pada ruangan di lantai dua ini patung Yesus berada di sebelah kanan depan, sedangkan ibunya (Bunda Maria) berada di sebelah kiri.
Dan bagi jemaat atau pengunjung yang ingin membeli souvenir, asesoris seperti kalung, gelang, dan lain-lain tersedia di sana yang didatangkan dari pulau Jawa. Misalnya saja harga kalung, mulai dari Rp 30.000 sampai Rp 70.000. Buku mengenai Gereja Annai Valengkanni jug ada, yang dibandrol Rp 35.000. Semua barang yang dijual di sini sudah diberkati. Maksud sudah diberkati itu adalah barang-barang yang dijual ini sudah didoakan oleh pastur.
Nah di sebelah kiri bangunan gereja, terdapat sebuah kantin. Jadi bagi pengunjung yang lapar atau haus bisa menikmati kemegahan dan kecantikan Gereja Annai Valengkanni sembari makan dan minum. Kalau sahabat travel tertarik ke Gereja Annai Valengkanni? Alamatnya berada di Jln. Sakura III, Taman Perumahan Sakura Indah, Tanjung Selamat, Tuntungan, Medan, Sumatera Utara.[]
Que mi talento no te deje sin aliento
Porque lo que ago lo ago sin pensamiento
mucho sentimiento
dejo delao el ego; no canto pa impresionar
canto pa apasionar al qu todavia no siente lo que es el rap
Pal hermano, el chileno y el extranjero.
Sueño, con esperanza
nunca la dejo, la fe y el h2 son mi alimento.
No temo a tu argumento, es mas lo eskucho; pero no lo asepto
se que sere grande y espero qe tu tambien lo seas, mientras no trates de psarme en tu paso a ser grande.
Hermana la paz es una cosa, otra es peliar por lo que tiene razon.
Cuantos se dejan pisotiar para implantar la paz.
En esta faz no ai persona que aya sido capas de cambiar al cuico.
Porque el qe nace en cuna de oro muere en ataud de oro.
que pena qe das. cuando tratas de rapiar
dices qe es tu pasion, pero su razon de acer h2 es solo moda, no pasion.
No te critico ni te ashico, solo digo la verdad.con sinceridad te digo no tienenes talento, solo tienes lucro. Ese qe te ace llegar a donde estas.
No es tu talento ni tu pasion, menos tu dedicacion.
Espero qe entiendas, atacas al gobierno, ese que te tiene en cuna de oro y a tu hermano rapero muriendo bajo cartones
Ese mismo qe a hecho que el rapero sea mal visto
Ese mismo que a golpiado, humillado y astta matado cuantos gobiernos a ellos los an encarado
Con mucho orgullo digo qe este tema es mio.
implantando crecimiento.
Un poco de argumento es lo qe falta para convenser al pueblo
Se necesita un poco mas de mente y un poco menos de orgullo
Que nacer con todo no implica ser nadie
implica tener las armas para ayudar al qe tepida ayuda sin voz de tanto agote y dolor
Es qe nadie hoy se da cuenta que el que esta alado tiene los mismos derechos avivir sonrreir y poder disfrutar, de lujos que dios nos le pudo dar
que no alcanse para todos, es solo una mentira mal implementada.
gracias al señor mis ojos estan destapados a que todo sobra y mal distribuidas.
como dejamos que unos tengan mas qe otros.
no te da verguenza? dejar niños sin una entretencion mientras tu hijo tiene celular y no sabe hablar.?
Conciencia es solo lo qe pido, gracias al señor tengo paciensia.
si no esto seria solo decadencia.-
Atentamente Freack priincess Unica; has lo tuyo mira pa delante qe el qe nace copiando muere de envidia. Buen dicho; ya te pico el bicho ;). ( 8 )
{ Saludos a todos los que estan en mi corazon; & a mis fieles comentadores }
Coachwork by Zagato
Chassis no. 00062
The Fiat 8V (or "Otto Vu") is a sports car produced by Fiat from 1952 to 1954. The car was introduced at the 1952 Geneva Motor Show. The 8V got its name because at the time of its making Ford had a copyright on the term V8. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats (but many parts were made by Siata and they used them for their cars).
The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi. The Fiat V8 had a 70 degree V configuration with up to 1996 cc, at 5600 rpm the engine produced 105 hp in standard form giving a top speed of 190 km/h.
Only 114 of these high-performance coupés had been produced by the time the cars were withdrawn from production in 1954. Nevertheless, they continued to win the Italian 2-litre GT championship every year until 1959.
34 Otto Vu’s had a factory produced bodywork by ‘Carozzeria Speciale’ FIAT. Some cars had the bodywork done by other Italian coachbuilders. Carozzeria Zagato made 30 that they labelled "Elaborata Zagato". Ghia and Vignale also made bodyworks. Most were coupés, but some spyders were made as well.
This particular 8V Zagato was only registered in 1955 by its first owner Lumir Leo Vesely of the Club Scuderia Ital-France, Milano. He participated in 6 races that same year with this car finishing 39th overall in the Mille Miglia.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016
Google is launching a new model of Chrome for iOS today that guarantees to be both a lot quicker and much more steady than previous variations.
In accordance to Google, Chrome forty eight for iOS now crashes seventy percent a lot less generally and the browser really should experience much ...
honestechs.com/2016/01/27/chrome-for-ios-is-now-more-rapi...
The Fiat 1200 TV Cabriolet was technically based on the 1200 Berlina. The body however was shared with the predecessor: the Fiat 1100 TV Trasformabile, which was first presented at the 1955 Geneva Motor Show.
The 1100 TV Spider and this 1200 Spider was designed by Fabio Luigi Rapi (It, 1902-?) and was launched at the October 1957 Torino Motor Show.
In 1959 the 1200 TV was replaced by the restyled 1200 Cabriolet, redesigned by Pininfarina.
I don't know why the Pininfarina emblem is on the dashboard. This 1957-59 1200 TV wasn't deigned by Pininfarina. Maybe this spider was built in the Pininfarina assembling plant. I have to look this up to be sure.
1221 cc L4 petrol engine.
Performance: 55 bhp.
C. 930 kg.
Production Fiat 1200 Granluce Berlina: late 1957-1961.
Production Fiat 1200 TV Spider: late 1957-1959.
Original first reg. number: 1957.
New, special Belgium reg. number.
This temporary exhibition was set up to honour the old Ghislain Mahy, by bringing back some iconic items from his collection to the place where it all began: the Ghent Wintercircus.
Unfortunately there were only 10 vehicles on display.
Ghislain Mahy (1907-1999) was a Fiat car dealer and classic car enthusiast who rented this old Wintercircus building for over forty years. Starting in the early 1950s he built up a collection of old and classical cars from more than 950 items. He bought them mainly in France. And many of them were just saved from the hands of car scrapers.
In 1995 Mahy had to leave this special place. His collection was partly sold, the rest was divided over two museums. Restored top cars went to classic car museum Autoworld, Brussels (about 230 items). But the majority, most unrestored cars, found a new home in a new founded car museum in the south of Belgium called Mahymobiles, Leuze-en-Hainaut.
More photos will follow...
More info about Wintercircus: nl.wikipedia.org/wiki/Wintercircus_(Gent), second option!
For Autoworld see: en.wikipedia.org/wiki/Autoworld_(museum)
For Mahymobiles see: nl.wikipedia.org/wiki/Mahymobiles
Number seen: 1.
Gent (B), Lammerstraat, Sept. 5, 2025.
© 2025 Sander Toonen Halfweg | All Rights Reserved.
The Fiat 1200 TV Cabriolet was technically based on the 1200 Berlina. The body however was shared with the predecessor: the Fiat 1100 TV Trasformabile, which was first presented at the 1955 Geneva Motor Show.
The 1100 TV Spider and this 1200 Spider was designed by Fabio Luigi Rapi (It, 1902-?) and was launched at the October 1957 Torino Motor Show.
In 1959 the 1200 TV was replaced by the restyled 1200 Cabriolet, redesigned by Pininfarina.
1221 cc L4 petrol engine.
Performance: 55 bhp.
C. 930 kg.
Production Fiat 1200 Granluce Berlina: late 1957-1961.
Production Fiat 1200 TV Spider: late 1957-1959.
Original first reg. number: 1957.
New, special Belgium reg. number.
This temporary exhibition was set up to honour the old Ghislain Mahy, by bringing back some iconic items from his collection to the place where it all began: the Ghent Wintercircus.
Unfortunately there were only 10 vehicles on display.
Ghislain Mahy (1907-1999) was a Fiat car dealer and classic car enthusiast who rented this old Wintercircus building for over forty years. Starting in the early 1950s he built up a collection of old and classical cars from more than 950 items. He bought them mainly in France. And many of them were just saved from the hands of car scrapers.
In 1995 Mahy had to leave this special place. His collection was partly sold, the rest was divided over two museums. Restored top cars went to classic car museum Autoworld, Brussels (about 230 items). But the majority, most unrestored cars, found a new home in a new founded car museum in the south of Belgium called Mahymobiles, Leuze-en-Hainaut.
More photos will follow...
More info about Wintercircus: nl.wikipedia.org/wiki/Wintercircus_(Gent), second option!
For Autoworld see: en.wikipedia.org/wiki/Autoworld_(museum)
For Mahymobiles see: nl.wikipedia.org/wiki/Mahymobiles
Number seen: 1.
Gent (B), Lammerstraat, Sept. 5, 2025.
© 2025 Sander Toonen Halfweg | All Rights Reserved.
Coachwork by Rapi
Following the Fiat 8V coupé limited edition, the auto maker introduced a prototype at the 1954 Turin car show, with its body built out of fibreglass (it only weighed 48.5 kg), an innovative material at the time. In a way, this marked the end of the brief career of the only sports car with eight cylinder engine ever made by Fiat. In total, 114 Fiat 8V cars were built.
1.996 cc
V8
105 PS @ 6.000 rpm
Vmax : 190 km/h
114 ex.
Techno Classica 2018
Essen
Deutschland - Germany
March 2018
Autobianchi was created in 1955 by Bianchi, Fiat and Pirelli.
The Bianchina was the first car of Autobianchi: a luxury minicar based on the Fiat 500 (engine, technics and floorpan).
The Bianchina series was designed by Fabio Luigi Rapi. The Eden Roc Cabriolet was a special version.
499 cc 2 cylinder air-cooled engine.
Production Bianchina series: 1957-1970 (plus a small fourgonnette till 1977).
Original first reg. number: 1968.
New French reg. number: 1986 (Seine-Maritime).
Number seen: 1.
See also: www.musee-automobile-reims-champagne.com/en
Reims (Marne, Fr.), Musée Automobile Reims-Champagne, Avenue Georges Clémenceau, July 26, 2019.
© 2019 Sander Toonen Amsterdam | All Rights Reserved
te cantaria de la vida
pero esa no e mi movida
lo mio es la competencia de hay no tengo salida
soy un pelao que no se pue peinar
soy el ma pesao el que te puede hacer cagar
que vas a dar si solo estoy rapiando
se va armando vo rolando depues fumando en primera
rima la hago sinsera
dema que te gusta mi disco
que "sale de la atmos ferA !"
The basic design for the Vedette-Series came from Ford, Detroit, but the finishing off was done by Fabio Luigi Rapi (It, 1902-?). The Vedette had all luxury of those days incorporated.
In the first years the Vedette Series was also sold in the Netherlands and Germany as Ford Vedette.
For 1958 a restyle for the tail and front was done (2nd generation Vedette). Also received the body a new panoramic windscreen.
The Beaulieu was the cheapest of the Vedette Phase II range.
After 1961 production was continued in Brazil.
2351 cc 8 cylinder engine (V8).
Production Vedette Series: 1954-1961.
Production Vedette Beaulieu: 1957-1961.
This Vedette Beaulieu was restored entirely in 2010.
Seen in front of Renault Garage Ets. Heinen, Sankt Vith.
Collection Ludwig Heinen.
See also: www.google.nl/maps/place/Heinen+%2F+Ludwig/@50.2902313,6....
Number seen: 1.
Sankt Vith / Schönberg-Waldecho (B.), N626, Manderfelderstrasse, May 25, 2017.
© 2017 Sander Toonen Amsterdam | All Rights Reserved
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 00100
Displacing just under two liters, the Tipo 104 motor V8 featured an unusual 70° architecture, as well as advanced racing components such as a finned aluminum sump, forged crankshaft, polished intakes and ports, and tubular 4x1 stainless steel exhaust manifolds. As Giacosa later noted of the V-8 in his autobiography, "the idea of mounting it on a sports car for a small production run was attractive and aroused the keenest interest among the design engineers."
And so was born the Fiat 8V, which featured the only overhead-valve V-8 that Fiat ever built during its long and storied history. Known in Italy as the Otto Vu, the new model was positioned as a luxury grand touring sports car.To maintain the necessary quality-control for such a high-end product, the fabrication of the chassis was farmed out to Giorgio Ambrosini's Siata, the tuning specialists that had long served as Fiat's in-house competition and customization department. This choice was probably further facilitated by Ghia owner Mario Felice Boano's 1950 hiring of Luigi Segre, a former Siata sales manager, as Ghia's sales director.
The Otto Vu made its public debut at the Geneva Salon in March 1952, and immediately impressed all who saw it with Fiat's ability to produce such a jewel-like automobile. Over the following two years, about two hundred tipo 104 motors were produced (though more than fifty of these were eventually installed in the upcoming Siata roadster).
The Otto Vu automobile was even more rare, with approximately 114 examples built through 1954. While at least forty of these cars were bodied with the factory coachwork by Rapi, the other chassis were clothed by coachbuilders such as Balbo, Pinin Farina, Vignale and Zagato.
Delivered new to Heilbronn, Germany, this unrestored 8V Rapi was bought early in its life by Larry Vivian, a US soldier remaining in Germany, during the cold war. Larry raced the car in Germany and took it with him to the US and kept it until some 5 years ago, when it moved to Belgium. Larry was the second owner and has had the car over 40 years while keeping it totally original with only 47.000 kms on the odometer. Incredible archive photos come with the car even photos when it was transported by air plane.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 00100
Zoute Grand Prix 2019
Knokke - Zoute
België - Belgium
October 2019
The Ariane was presented in April 1957.
In fact it was a kind of hybride: it had the Flash engine of the Aronde 1300 and the body of the Vedette Trianon, the most simple version of the Vedette-Series.
The basic design for the Vedette-Series came from Ford, Detroit, but the finishing off was done by Fabio Luigi Rapi (It, 1902-?). The Vedette had all luxury of those days incorporated.
Simultaneously there was also offered a Ariane 8 with the famous V8 Vedette engine.
The Ariane Miramas was a luxury version with a Beaulieu interior and a stronger 4 cylinder Rush engine.
The Ariane was replaced in 1963 by the new 1300/1500.
This car was for sale in Sarrebourg, France. I found her on the digital trade site 'Leboncoin'. Asking price: € 5500, including Carte Grise, but without Contrôle Technique.
1290 cc Rush engine.
1050 kg.
Production Ariane Series: 1957-1963 (Ariane 8: 1957-1961).
Production Ariane Miramas: 1961-1963.
Production this Ariane Miramas SL: Sept. 1963.
© 2017 Sander Toonen Amsterdam | All Rights Reserved
Fiat 8V 'Otto Vu'
1.996 cc
V8
115 HP
Vmax : 190 km/h
114 ex. (Otto Vu)
Italian Car Passion
Autoworld
Brussels - Belgium
Januari 2016
The Ariane was presented in April 1957.
In fact it was a kind of hybride: it had the Flash engine of the Aronde 1300 and the body of the Vedette Trianon, the most simple version of the Vedette-Series.
The basic design for the Vedette-Series came from Ford, Detroit, but the finishing off was done by Fabio Luigi Rapi (It, 1902-?). The Vedette had all luxury of those days incorporated.
Simultaneously there was also offered a Ariane 8 with the famous V8 Vedette engine.
The Ariane Miramas was a luxury version with a Beaulieu interior and a stronger 4 cylinder Rush engine.
The Ariane was replaced in 1963 by the new 1300/1500.
This car was for sale in Sarrebourg, France. I found her on the digital trade site 'Leboncoin'. Asking price: € 5500, including Carte Grise, but without Contrôle Technique.
The emblem left of the license plate says: 'Records du Monde' to memorize the achievements of the Aronde during the 1957 Montlhéry races. All 1958 and 1959 Arondes are wearing them
at the back. So this emblem here is probably not original for this is a 1963 model.
1290 cc Rush engine.
1050 kg.
Production Ariane Series: 1957-1963 (Ariane 8: 1957-1961).
Production Ariane Miramas: 1961-1963.
Production this Ariane Miramas SL: Sept. 1963.
© 2017 Sander Toonen Amsterdam | All Rights Reserved
Membentang gapura bermahkota rumah adat Batak Toba, sedangkan di tiang sebelah kanan berhias patung china dengan tangan terkatup pengungkapan gongxi patchai. Dan di sebelah kiri terdapat patung perempuan india yang sedang menari.
Kemegahan Gereja Annai Valengkanni sudah tampak saat memasuki area rumah ibadah umat kristen Katholik. Gereja ini sangat unik, eksotik, dan menarik. Pada atap gereja terdapat tiga kubah besar, menyerupai kubah-kubah seperti masjid. Dan di atas kubah itu terdapat salib yang tertancap kokoh. Secara keseluruhan pada bangunan gereja ini menyerupai sebuah kuil.
Menuju ke ruangan ibadah yang berada di lantai dua, para jemaat atau pengunjung menaiki tangga yang melengkung, dan dari atas gereja itu sendiri tangga yang melengkung tersebut membentuk seperti gambar kedua tangan yang ingin memeluk.
“Setiap bentuk bangunan pada gereja mempunyai arti. Misalnya saja di depan gereja ini ada pohon pisang, kenapa harus pohon pisang yang dijadikan simbol, ada yang tahu?” tanya Pastor James Barathaputra saat menyambut jemaat dari Tanah Karo di depan Gereja Annai Valengkanni, Sabtu (2/7/2016).
Seorang jemaat menjawab, namun jawabannya salah. Sementara yang lain hanya terdiam, menunggu jawaban dari pastur James Barathaputra.
“Karena pohon pisang merupakan lambang kehidupan kekal,” terang Pastor James yang saat itu berkemeja lengan biru kotak-kotak dan bersarung.
Cukup lama Pastur James menerangkan kepada jemaat mengenai beragam keistimewaan yang dimiliki oleh Gereja Annai Valengkanni. Kemudia pria yang sudah sepuh dengan tongkat di tangan kanan menyuruh para jemaat untuk memasuki ruangan yang ada di belakang gereja.
Di saat sendiri itu pula saya menghampiri Pastor James.
“Gereja Valengkanni adalah gereja yang tiada duanya di dunia. Ya, karena saya sendiri yang mendesain. Gereja ini bukan sekadar rumah ibadah milik agama Katholik saja, tapi merupakan sebuah warta kepada manusia bagaimana penciptaan dunia, karena sesungguhnya setiap bagunan pada gereja itu berbicara (pen: memiliki arti), dan juga sebagai tempat yang bisa dikunjungi semua suku, dan semua agama,” terang Pastor James pada saya.
Di sebelah kanan depan gedung juga terdapat replika taman tanah suci. Jadi bagi pengunjung yang belum pernah ke tanah suci, taman mini itu bisa memberi gambaran saat berada di tanah suci bagi umat agama Katholik.
Selain itu, terdapat pula gedung aula tempat beribadah di hari-hari biasa yang berada di sebalah kanan gereja. Dan di belakang aula itu terdapat sumber air yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
“Kalau kita yakin dengan air ini, maka penyakit yang kita derita bisa sembuh,” kata Betty pada saya, sambungnya lagi sambil tersenyum, “sakit hati juga bisa sembuh.”
Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, saya menaiki tangga di gedung lantai dua. Di dalam ruangan begitu sejuk, lantainya begitu bersih dan mengkilap, dan berjejer pula kursi yang tersusun rapi. Saat itu tidak ada kebaktian, jadi ruangan itu tampak sepi, hanya beberapa pengunjung saja. Pada langit-langit gedung terdapat ukiran gambar yang berkisah.
Kalau diperhatikan sejak awal, hampir di setiap sudut gereja tidak pernah lepas dari patung atau ukiran Bunda Maria. Dan menurut agama Kristen Katholik sendiri Bunda Maria merupakan sosok manusia yang paling suci. Pada ruangan di lantai dua ini patung Yesus berada di sebelah kanan depan, sedangkan ibunya (Bunda Maria) berada di sebelah kiri.
Dan bagi jemaat atau pengunjung yang ingin membeli souvenir, asesoris seperti kalung, gelang, dan lain-lain tersedia di sana yang didatangkan dari pulau Jawa. Misalnya saja harga kalung, mulai dari Rp 30.000 sampai Rp 70.000. Buku mengenai Gereja Annai Valengkanni jug ada, yang dibandrol Rp 35.000. Semua barang yang dijual di sini sudah diberkati. Maksud sudah diberkati itu adalah barang-barang yang dijual ini sudah didoakan oleh pastur.
Nah di sebelah kiri bangunan gereja, terdapat sebuah kantin. Jadi bagi pengunjung yang lapar atau haus bisa menikmati kemegahan dan kecantikan Gereja Annai Valengkanni sembari makan dan minum. Kalau sahabat travel tertarik ke Gereja Annai Valengkanni? Alamatnya berada di Jln. Sakura III, Taman Perumahan Sakura Indah, Tanjung Selamat, Tuntungan, Medan, Sumatera Utara.[]
Suatu pagi yang indah, diantara padi yang menjuntai terdapat butiran embun yang berbaris, layaknya sebuah melodi alam yang tersimpan rapi... Selamat pagi, dunia!
The Fiat 8V (or "Otto Vu") is a V8-engined sports car produced by the Italian car manufacturer Fiat from 1952 to 1954. The car was introduced at the 1952 Geneva Motor Show. The Fiat 8V got its name because at the time of its making, Fiat believed Ford had a copyright on "V8". With 114 made, the 8V wasn't a commercial success, but did well in racing. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats (but many parts were made by Siata and they used them for their cars). The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi. The engine was a V8 originally designed for a luxury sedan, but that project was stopped.
The Fiat V8 had a 70 degree V configuration, displaced 1,996 cc and was fitted with two twin-choke Weber 36 DCF 3 carburettors. In its first iteration (type 104.000) the engine had a compression ratio of 8.5:1 and produced 105 PS (77 kW; 104 hp) at 5,600 rpm, giving the car a top speed of 190 km/h (118 mph). Improved type 104.003 had different camshaft timing for 115 PS (85 kW; 113 hp) at 6,000 rpm; finally type 104.006 with an 8.75:1 compression ratio, revised camshaft timing and fuel system put out 127 PS (93 kW; 125 hp) at 6,600 rpm. The engine was connected to a four speed gearbox. The car had independent suspension all round and drum brakes on all four wheels.
Top management were preoccupied with more run of the mill projects, however, and only 114 of the high-performance coupés had been produced by the time the cars were withdrawn from production in 1954. Nevertheless, they continued to win the Italian 2-litre GT championship every year until 1959.
Ghia designed and produced a limited run of cars named 'Supersonic', with special 'jet age' bodywork. Ghia had recently been sold by Boano to Luigi Segre, and a one-off Alfa Romeo 1900 had been built for a wealthy entrant in the 1953 Mille Miglia race. The car was displayed at the Turin show same year and the reaction inspired Segre to plan a limited production of cars based on the Otto Vu, aimed at the American market. Only eight were completed, after mechanical issues ended the project. Design of 'Supersonic' is credited to Giovanni Savonuzzi.
Battle Timeless, Batalla Intemporal, creación de la Compañia Torre de la Vega, en competición Campeonato del Mundo de Esgrima Artística, en Kolomna - Oblast de Moscú. La compañia Torre de la Vega de la Sala de Armas Louis XIV de Torrelavega, área de Santander - Cantabria , cerca de Bilbao en el norte de España
The basic design for the Vedette-Series came from Ford, Detroit, but the finishing off was done by Fabio Luigi Rapi (It, 1902-?). The Vedette had all luxury of those days incorporated.
In the first years the Vedette Series was also sold in the Netherlands and Germany as Ford Vedette.
For 1958 a restyle for the tail and front was done (2nd generation Vedette). Also received the body a new panoramic windscreen.
The Beaulieu was the cheapest of the Vedette Phase II range.
After 1961 production was continued in Brazil.
2351 cc 8 cylinder engine (V8).
Production Vedette Series: 1954-1961.
Production Vedette Beaulieu: 1957-1961.
This Vedette Beaulieu was restored entirely in 2010.
Seen in front of Renault Garage Ets. Heinen, Sankt Vith.
Collection Ludwig Heinen.
See also: www.google.nl/maps/place/Heinen+%2F+Ludwig/@50.2902313,6....
Number seen: 1.
Sankt Vith / Schönberg-Waldecho (B.), N626, Manderfelderstrasse, May 25, 2017.
© 2017 Sander Toonen Amsterdam | All Rights Reserved
This exotic Rapi studious release promises plenty of magic and swordplay - very rare Korean VHS release.
Center City Las Vegas within several weeks of it's grand opening. Construction continues at a rapis pace 24/7 on this project.
Coachwork by Vignale
Chassis no. 00051
The Fiat 8V (or "Otto Vu") is a sports car produced by Fiat from 1952 to 1954. The car was introduced at the 1952 Geneva Motor Show. The 8V got its name because at the time of its making Ford had a copyright on the term V8. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats (but many parts were made by Siata and they used them for their cars).
The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi. The Fiat V8 had a 70 degree V configuration with up to 1996 cc, at 5600 rpm the engine produced 105 hp in standard form giving a top speed of 190 km/h.
Only 114 of these high-performance coupés had been produced by the time the cars were withdrawn from production in 1954. Nevertheless, they continued to win the Italian 2-litre GT championship every year until 1959.
34 Otto Vu’s had a factory produced bodywork by ‘Carozzeria Speciale’ FIAT. Some cars had the bodywork done by other Italian coachbuilders. Carozzeria Zagato made 30 that they labelled "Elaborata Zagato". Ghia and Vignale also made bodyworks. Most were coupés, but some spyders were made as well.
This 8V was presented when new at the Salon de l'Automobile in Paris in 1953. At the Salon it was sold to a French Fiat customer. Int the late 1950s this 8V was exported to California, USA where it stayed for 35 years in unrestored condition at the Woodland Hills. The car was only restored in 2003 and was taken to multiple concours after that, with a lot of class prices as result. It became 1st in class at Pebble Beach and received the award for most significant coachbuild design. 1st in class at Amelia Island in 2013.
This is a one-off Fiat 8V because of the special chassis it has and the color lay-out being especially made for the Paris Salon.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 00100
Displacing just under two liters, the Tipo 104 motor V8 featured an unusual 70° architecture, as well as advanced racing components such as a finned aluminum sump, forged crankshaft, polished intakes and ports, and tubular 4x1 stainless steel exhaust manifolds. As Giacosa later noted of the V-8 in his autobiography, "the idea of mounting it on a sports car for a small production run was attractive and aroused the keenest interest among the design engineers."
And so was born the Fiat 8V, which featured the only overhead-valve V-8 that Fiat ever built during its long and storied history. Known in Italy as the Otto Vu, the new model was positioned as a luxury grand touring sports car.To maintain the necessary quality-control for such a high-end product, the fabrication of the chassis was farmed out to Giorgio Ambrosini's Siata, the tuning specialists that had long served as Fiat's in-house competition and customization department. This choice was probably further facilitated by Ghia owner Mario Felice Boano's 1950 hiring of Luigi Segre, a former Siata sales manager, as Ghia's sales director.
The Otto Vu made its public debut at the Geneva Salon in March 1952, and immediately impressed all who saw it with Fiat's ability to produce such a jewel-like automobile. Over the following two years, about two hundred tipo 104 motors were produced (though more than fifty of these were eventually installed in the upcoming Siata roadster).
The Otto Vu automobile was even more rare, with approximately 114 examples built through 1954. While at least forty of these cars were bodied with the factory coachwork by Rapi, the other chassis were clothed by coachbuilders such as Balbo, Pinin Farina, Vignale and Zagato.
Delivered new to Heilbronn, Germany, this unrestored 8V Rapi was bought early in its life by Larry Vivian, a US soldier remaining in Germany, during the cold war. Larry raced the car in Germany and took it with him to the US and kept it until some 5 years ago, when it moved to Belgium. Larry was the second owner and has had the car over 40 years while keeping it totally original with only 47.000 kms on the odometer. Incredible archive photos come with the car even photos when it was transported by air plane.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016
The Fiat 8V (or 'Otto Vu') is a V8-engined sports car produced by the Italian car manufacturer Fiat from 1952 to 1954. The car was introduced at the 1952 Geneva Motor Show. The Fiat 8V got its name because at the time of its making, Fiat believed Ford had a copyright on 'V8'. With 114 made, the 8V wasn't a commercial success, but did well in racing. Apart from the differential the car did not share any parts with the other Fiats (but many parts were made by Siata and they used them for their cars). The 8V was developed by Dante Giacosa and the stylist Luigi Rapi. The engine was a V8 originally designed for a luxury sedan, but that project was stopped.
The Fiat V8 had a 70 degree V configuration, displaced 1,996 cc and was fitted with two twin-choke Weber 36 DCF 3 carburettors. In its first iteration (type 104.000) the engine had a compression ratio of 8.5:1 and produced 105 PS (77 kW; 104 hp) at 5,600 rpm, giving the car a top speed of 190 km/h (118 mph). Improved type 104.003 had different camshaft timing for 115 PS (85 kW; 113 hp) at 6,000 rpm; finally type 104.006 with an 8.75:1 compression ratio, revised camshaft timing and fuel system put out 127 PS (93 kW; 125 hp) at 6,600 rpm. The engine was connected to a four speed gearbox. The car had independent suspension all round and drum brakes on all four wheels.
Top management were preoccupied with more run of the mill projects, however, and only 114 of the high-performance coupés had been produced by the time the cars were withdrawn from production in 1954. Nevertheless, they continued to win the Italian 2-litre GT championship every year until 1959.
Ghia designed and produced a limited run of cars named 'Supersonic', with special 'jet age' bodywork. Ghia had recently been sold by Boano to Luigi Segre, and a one-off Alfa Romeo 1900 had been built for a wealthy entrant in the 1953 Mille Miglia race. The car was displayed at the Turin show same year and the reaction inspired Segre to plan a limited production of cars based on the Otto Vu, aimed at the American market. Only eight were completed, after mechanical issues ended the project. Design of 'Supersonic' is credited to Giovanni Savonuzzi.
18x24 clear glass ambrotype.
Darlot petzval 240mm f4,5 (aprox)
Qcollodion
rapis fixer
strobes (500+300 Wats.)
4 sec exposure
Coachwork by Rapi - Fiat
Chassis no. 00100
Displacing just under two liters, the Tipo 104 motor V8 featured an unusual 70° architecture, as well as advanced racing components such as a finned aluminum sump, forged crankshaft, polished intakes and ports, and tubular 4x1 stainless steel exhaust manifolds. As Giacosa later noted of the V-8 in his autobiography, "the idea of mounting it on a sports car for a small production run was attractive and aroused the keenest interest among the design engineers."
And so was born the Fiat 8V, which featured the only overhead-valve V-8 that Fiat ever built during its long and storied history. Known in Italy as the Otto Vu, the new model was positioned as a luxury grand touring sports car.To maintain the necessary quality-control for such a high-end product, the fabrication of the chassis was farmed out to Giorgio Ambrosini's Siata, the tuning specialists that had long served as Fiat's in-house competition and customization department. This choice was probably further facilitated by Ghia owner Mario Felice Boano's 1950 hiring of Luigi Segre, a former Siata sales manager, as Ghia's sales director.
The Otto Vu made its public debut at the Geneva Salon in March 1952, and immediately impressed all who saw it with Fiat's ability to produce such a jewel-like automobile. Over the following two years, about two hundred tipo 104 motors were produced (though more than fifty of these were eventually installed in the upcoming Siata roadster).
The Otto Vu automobile was even more rare, with approximately 114 examples built through 1954. While at least forty of these cars were bodied with the factory coachwork by Rapi, the other chassis were clothed by coachbuilders such as Balbo, Pinin Farina, Vignale and Zagato.
Delivered new to Heilbronn, Germany, this unrestored 8V Rapi was bought early in its life by Larry Vivian, a US soldier remaining in Germany, during the cold war. Larry raced the car in Germany and took it with him to the US and kept it until some 5 years ago, when it moved to Belgium. Larry was the second owner and has had the car over 40 years while keeping it totally original with only 47.000 kms on the odometer. Incredible archive photos come with the car even photos when it was transported by air plane.
Zoute Concours d'Elegance
The Royal Zoute Golf Club
Zoute Grand Prix 2016
Knokke - Belgium
Oktober 2016