View allAll Photos Tagged batik
Made from an old school art project batik!
Blogged about how I made it on my blog - freshlyfound.blogspot.com/2010/01/story-of-batik-bag.html
fabric: assorted Batiks
pattern: iDo by Cherry House Quilts
pieced by: Jennifer Greene
quilted by: Sue Baddley, Summit Creek Quilts
the circles are raw-edge appliqued
The exhibition of Batik Nyonyas - Three Generations of Art and Entrepreneurship at Peranakan Museum. Armenian Street.
All pieced using 2" squares of batik scraps.
Status: Pieced waiting to be quilted.
If I recall correctly this top is about 35" x 35"
I used the New Wave pattern from Oh, Fransson! but changed it a little - first, I made it at 75% of her numbers so it's a baby quilt and also added two rows so the stripes go horizontally. I love it! Measures 37x40 with those changes
BATIK PEKALONGAN FULL TULIS, BAHAN KATUN HALUS, resmi BISA santai pun BISA. Dijamin model tidak pasaran.
Ukuran XL
Harga eceran Rp. 180rb/pcs jika membeli secara grosir dapatkan diskon yang menarik.
Copyright © 2012 Elise Arod Photography. You may not use, modify, reproduce, distribute, or publicly display any of my photos without my permission.
see also;
SUDAH sekian menit tatapannya masih berlompatan di atas hamparan kain batik berlatar cekelat pekat di hadapannya. Memerhatikan posisi tiga gambar burung yang berekor panjang dan paruh menganga, di antara lingkaran-lingkaran peta. Peta-peta itu berisi tangkai-tangkai bunga, garis-garis tikar, noktah bintang tabur, lengkung pelangi kecil-kecil bertindihan mirip sinyal Wifi, sisik-sisik ikan, kembang melati mekar.
Kemudian, tatapannya beralih pada gunung(an) di pinggir bawah. Puncaknya tidak sama tinggi dan palungnya tidak sama rendah. Lalu, melompat lagi pada burung paling tengah yang seharusnya berada di tengah punggung pada pola kemeja yang akan dipotong, namun posisi gambarnya justru tidak pas di tengah kain. Selain menyamping, posisi burung itu juga tidak selurus puncak gunung(an) atau di palungnya saja.
“Begini kalau pembatik tidak mengerti pemotongan pola baju!” rutuknya.
“Ada apa, menggerutu begitu?” suaminya yang baru pulang ënarik becak, melirik sebentar.
Tanpa menjawab ia kembali memeriksa catatan ukuran. Lingkar badan, 110 cm. Lebar Bahu, 16 cm. Panjang lengan 57 cm. Panjang kemeja, 73 cm. Sementara, panjang kain kurang dari 200 cm, karena setelah mengalami proses pembatikan, kain berkurang dari ukuran sebelumnya. Lebarnya pun tidak sampai 115 cm.
Kepalanya berdenyut. Otaknya semakin sibuk menimbang ketika suaminya datang mendekat.
“Ada apa?” lelaki itu kembali bertanya sambil memerhatikan hamparan kain.
“Lihat! Jika posisi burung menyamping seperti ini, namun akan tetap dipertahankan di tengah punggung kemeja, bagian lengan harus dikorbankan. Kalau tidak mau dibuat lengan pendek, paling tidak ada sambungan vertikal di depan atau belakang. Risikonya, motif kotak-kotak peta akan pecah!”
“Buat lengan pendek saja!” “Ini kemeja calon DPR yang akan dipakai berfoto. DPR Gerbang Salam masa lengan pendek?” suaranya sedikit meninggi.
“Ini kemeja calon DPR?”
“Iya! Milik Pak Fulan yang berjanji akan memerhatikan nasib perempuan berketerampilan jika menang.”
“Kalau begitu tak usah bingung. Sebagai orang politik, beliau akan mengerti, bahwa demi keseimbangan kadang harus ada yang dikorbankan!” suaminya menunjukkan berita dalam koran yang baru saja dibaca di tempat mangkal. ❑-e
Madura, 2018
Muna Masyari, cerpenis tinggal di Pamekasan Madura
.
[1] Disalin dari karya Muna Masyari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 25 November 2018
The post Kemeja Batik appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2TF3wB3