View allAll Photos Tagged ilustrasi

Ilustrasi KA Bandara Soekarno Hatta versi gue

  

Gerimis turun ketika Bapak menutup telepon. “Masih banyak pekerjaan,” katanya.

 

Semenjak jadi mandor awal tahun ini, Bapak lebih giat bekerja. Memang dia sudah tak jadi kuli lagi, tetapi tak serta-merta bisa membuat dia leyeh-leyeh. Kini, Bapak sedang mengerjakan proyek pertama. Bapak tak ingin proyek itu gagal, sehingga kepercayaan pemodal hilang.

 

Semenjak Bapak memandori proyek di Batam, di rumah hanya ada aku, Ibu, Simbah, dan adik lelakiku. Adik sedang di TPQ, Ibu rewang di rumah Bude Nyami yang akan mengawinkan anak perawannya lusa.

 

Aku melangkah ke pintu rumah dan melihat ke luar. Gerimis kini telah menjadi hujan. Itu berarti aku harus melihat kamar Simbah yang lebih rawan bocor daripada kamar lain. Simbah berselimut tapih saat aku masuk kamar. Aku menghidupkan lampu neon di dekat pintu. Cahayanya membuat sarung kebanggaan Simbah yang tersampir di sampingnya terlihat jelas. Seingatku, Simbah jarang mengganti sarung itu, kecuali saat sedang dicuci sekali sebulan. Dia sendirilah yang mencuci. Biasanya saat pagi dan petang datang, dia akan mengenakan lagi.

 

Aku heran, meski telah dia gunakan puluhan tahun, sarung kotakkotak biruputih itu tak terlihat lusuh. Barang itu seolah baru dibeli tiga bulan lalu. Aku selalu bertanya bagaimana sehelai sarung bisa setahan itu. Namun kata orang-orang, sesuatu akan terus terlihat menyenangkan jika sang pemilik merawat dengan baik. Ia cermin kepribadian sang pemilik.

 

Aku masih ingat, dua tahun lalu Bapak bercerita tentang Simbah dan sarungnya. Kata Bapak, sarung itu hadiah dari Kiai Hasan untuk Simbah saat jadi juara satu azan sekecamatan.

 

“Ini sarung pilihanku. Pakailah. Kamu sudah begitu siap jadi muazin. Suaramu akan menuntun orang-orang mendekat,” kata Kiai Hasan saat memberikan sarung itu pada Simbah.

 

Kiai Hasan terkenal. Bahkan orang-orang menyebut dia waliyullah. Simbah senang bukan main. Bagi dia, sarung itu tidak sekadar hadiah atas prestasinya, tetapi juga amanah dari Kiai Hasan agar terus mengumandangkan panggilan Tuhan.

 

Kepercayaan itulah yang membuat Simbah benar-benar tak pernah meninggalkan salat lima waktu karena dialah penyeru bagi orang-orang agar mengingat Tuhan. Kecuali saat berada di tempat tertentu dalam keadaan tertentu, seperti berkunjung ke desa lain, Simbahlah yang jadi muazin. Orang-orang, termasuk aku, menyukai lantunan azan Simbah. Suaranya indah, halus, pas. Cara dia memainkan nada begitu unik, sedikit bercampur langgam Jawa.

 

Karena kemerduan dan keunikan itu, tak pernah ada yang protes saat Simbah azan. Azan Simbah sudah jadi bagian tak terpisahkan dari masjid kampung.

 

Namun manusia tak selamanya berada di puncak kejayaan. Waktu dan usia perlahan menjauhkan Simbah dari pelantang masjid. Aku masih ingat, dua tahun lalu volume suara Simbah jadi rendah, tak lagi begitu bertenaga. Pelan-pelan kejelasan pelafalan pun menurun. Kala itu aku melihat wajah Simbah tak begitu bersinar seperti sebelumnya. Barangkali dia tahu, kini giliran bagi muazin yang lebih muda.

 

“Memang sudah saatnya untuk kaum muda,” kata Simbah padaku. “Sana, kamu yang azan, Bu!”

 

Aku hanya menanggapi dengan senyum, tanpa melangkahkan kaki menuju ke masjid. Simbah bertambah sedih saat melihat kenyataan tak ada muazin tetap sebagai penerus. Masjid sepi karena hampir tak ada orang mau berazan. Orang-orang usia paruh baya, remaja, hingga anak kecil tak tertarik mendekati pelantang. Mereka sibuk bekerja dan bermain. Akibatnya, jumlah jamaah pun menyusut. Jika sudah masuk waktu salat, hanya ada beberapa orang berjamaah tanpa azan lebih dulu.

 

Bapak menuruni kelembutan suara Simbah. Dia juga mau mendekati pelantang. Sering kali dia menggantikan Simbah sebagai muazin, terutama saat sarung kebanggaan beliau dicuci. Namun pekerjaan membuat Bapak jauh dari kampung. Dia hanya bisa melantunkan azan di masjid kampung saat pulang.

 

“Kamu bekerja di sini sajalah, Man, biar ada yang jadi muazin di masjid kampung,” pinta Simbah saat Bapak pulang kampung. Bagiku, itulah buah kegelisahannya.

 

“Tidak bisa, Pak. Jika aku di kampung, sia-sialah apa yang sudah kukerjakan,” jawab Bapak.

 

Kulihat mata Simbah jadi sayu saat mendengarnya.

 

Keadaan masjid kampung tetap seperti itu; kehilangan muazin yang bisa mengajak orangorang mendekat ke rumah Tuhan. Azan makin jarang terdengar lewat pengeras suara masjid. Jika ada, yang melantunkan malah para musafir yang singgah untuk sembahyang dan beristirahat sejenak.

 

Hari demi hari kulihat Simbah makin sedih. Raganya makin tua dimakan usia, dan kurasa perasaannya tak bertambah tenang. Aku sedih saat suatu petang dia berusaha mendekati pelantang lagi. Dia mengucapkan takbir dan syahadat dengan pelan. Lalu saat masuk hayya ‘alaasshalaah, dia terbatuk-batuk, tak kuat melanjutkan.

 

Aku tak mampu melihat kejadian itu. Ada semacam keinginan menjadi muazin tetap masjid. Namun sebagian diriku menolak. Ada keraguan besar yang hadir dan menghalangi. Sebelumnya, Simbah juga telah berkali-ulang membujuk aku dan Adik menjadi muazin, hampir setiap hari malah. Namun berkali-ulang pula Simbah harus menelan pil pahit; aku dan adikku tak mengiyakan permintaannya.

 

“Kamu kok tidak mau jadi muazin kenapa?” tanya Simbah.

 

“Suaraku jelek, Mbah, tak sebagus Simbah atau Bapak. Orang lain pasti punya suara lebih baik,” balasku.

 

“Itu bukan alasan yang bisa diterima, Abu.”

 

“Bukankah dianjurkan memilih muazin bersuara indah, Mbah?”

 

Aku masih mencari alasan untuk membela diri, sementara Simbah menghela napas.

 

“Yang terpenting bukan itu, Abu. Sebagai muazin pilihan Nabi, Bilal memang punya suara begitu indah. Namun Nabi tentu tak hanya memilih karena hal itu. Lihatlah pula bagaimana keteguhan Bilal memeluk Islam dan berjuang untuk cinta-Nya kepada Allah. Itulah yang seharusnya kamu jadikan keyakinan. Dalam melantunkan panggilan-Nya, ketulusan dan kecintaanmulah yang seharusnya jadi pemicu untuk mengajak orang lain mendekat. Jika niatmu begitu, suaramu pasti menyenangkan didengar,” ujar Simbah lirih.

 

Aku tak bisa menjawab lagi.

 

Simbah terus melemah, sementara aku tetap tak mau menjadi muazin dan membiarkan masjid makin sepi. Kini Simbah sudah tak mampu berjalan, kecuali dibantu. Suaranya pun begitu lemah, sehingga tak bisa didengar, kecuali kita mendekatkan kuping ke mulutnya.

 

Ah, rasanya aku ingin meminta maaf pada Simbah atas ketegaanku tak mengiyakan permintaannya. Selama ini Simbah hanya meminta hal itu padaku. Tak pernah meminta yang lain. Dia tidak jadi kekanak-kanakan seperti orang-orang lain yang sudah lanjut usia. Mungkin juga Simbah seperti itu, tetapi mampu menutupi kesedihan.

 

Aku memandangi wajah renta Simbah lagi. Kali ini, kesedihan sama sekali tidak tampak di sana.

 

Aku keluar kamar, memandang ke luar rumah. Hujan masih cukup lebat. Sekarang sudah petang, jam dinding menunjukkan pukul 17.40. Astaga, aku belum salat asar. Ketiadaan azan di masjid membuatku sering lupa waktu salat.

 

Spontan aku mengambil sarung kebanggaan Simbah yang tersampir di dekat lampu. Aku berwudu dan salat di kamar sebelah. Sesaat setelah mengucapkan salam, aku mendengar suara azan dari kamar Simbah. Suara itu begitu kukenal, meski sudah lama tak kudengar. Tanpa menunggu lama, aku langsung ke sana. Kujumpai Simbah masih memejamkan mata. Namun bibirnya bergerak melafalkan kalimat demi kalimat azan begitu jelas.

 

Asyhadu an laa illaaha illallaahÖ/Asyhadu an laa illaaha illallaahÖ/Asyhadu anna Muhammadar rasuulullahÖ/Asyhadu anna Muhammadar rasuulullahÖ

 

Setelah dua kalimat syahadat itu, Simbah berhenti. Matanya perlahan terbuka. Dia memandang ke arahku yang memakai sarung kebanggaannya.

 

“Kamu sudah siap. Kamu lanjutkan,” ujarnya lirih, sebelum kembali memejamkan mata.

 

Aku memegang tangan Simbah dan memanggil-manggilnya. Namun dia hanya diam. Tak ada hayya ‘alaas-shalaah keluar dari mulutnya. (28)

 

Marcapada, 8 September 2018: 21.54 WIB

 

– Abu Rifai, kelahiran Pati, 23 April 1999, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

 

[1]Disalin dari karya Abu Rifai

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 7 Oktober 2018

 

The post Sarung Azan Simbah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2RzxXY6

  

“WIHHH…. udah dikerudung lu Del.”

 

“Ehh, awas ada ustazah lewat tuh. Assalamualaikum Ustazah.”

 

“Masyaallaah ukhti, hahahaha …”

 

BEGITULAH ketika aku memu-tuskan untuk hijrah, banyak sekali orang-orang yang mecibirku, mengataiku. Bukan satu dua, tetapi banyak sekali, mengingat aku adalah salah satu pelajar SMA yang terkenal nakal, suka bermain dengan laki-laki. Benar sekali ternyata kata orang, hijrah itu tidaklah mudah apalagi un-tuk orang sepertiku, yang memutuskan langsung totalitas dalam berhijrah. Ya, na-maku Delia Yunita. Aku adalah salah satu pelajar di sekolah swasta di Purwakarta, di SMA Pasundan. Aku pernah mendengar sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “Hidayah itu dikejar, bukan ditunggu”. Aku masih ingat ketika pertama kali aku berte-mu dengan sahabatku, Nania namanya. Dialah yang pertama kali membuat aku sadar bagaimana fitrah seorang Muslimah sesungguhnya.

 

“Assalamualaikum Nania, ini aku Delia, sekarang aku udah berhijab Nan, tapi kamu gak lihat kan gimana cantiknya aku pake hi-jab, hehe….”

 

“Oh iya Nan, ternyata bener kata kamu hijrah itu sangat membutuhkan proses, dan sekarang aku sedang menikmati proses itu. Sungguh, rasanya aku ingin menyerah mengingat tidak ada sahabat yang sebaik kamu. Kamu yang selalu ngingetin aku kalau aku salah,” kataku sambil menghapus air mata yang jatuh dari mata.

 

“Nan, aku ingin sepertimu, menjadi perempuan yang dapat memotivasi orang lain, menjadi perempuan yang dicintai orang lain, menjadi perempuan yang dapat memberikan manfaat untuk orang banyak. Nan, aku pulang dulu ya, semoga kamu ba-hagia di sana, semoga kebaikan kamu Allah ganti dengan hal yang terbaik. Aamiin.”

 

Satu tahun yang lalu,ketika bulan Ra-madan tiba, aku bertemu dengan Nania di depan masjid di daerah Purwakarta. Dia tidak melihatku, tetapi aku melihatnya. Aku melihat dia sedang memberikan makan un-tuk buka puasa kepada orang-orang yang lewat bersama dengan teman-temannya.

 

“Wah, udah azan Asar. Ayo temen-temen, kita salat dulu. Percuma kalau puasa tapi enggak salat. Yuk yuk…” ujarnya.

 

Jleb... kata-katanya masuk ke hatiku. Aku seperti tertampar mendengar penuturan dari Nania. Sudah satu minggu aku terus memperhatikan Nania, tetapi aku tidak be-rani untuk menyapanya. Aku tertarik untuk mempelajari Islam secara mendalam. Lalu pada akhirnya aku tertangkap basah sedang memperhatikan Nania.

 

“Assalamualaikum. Hai.. aku lihat seming-gu ini kamu terus datang ke sini. Ayo mau ikutan bagi-bagi takjil buat orang lain?” sapa Nania sambil tersenyum ramah sampai gingsulnya kelihatan.

 

‘Wah, ternyata dia pun memperhatikan aku,” ucapku dalam hati.

 

“Oh iya, nama kamu siapa? Aku Nania,” dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

 

‘Wa’alaikumsalam. Oh iya.. hehe namaku Delia. lya, aku sering memperhatikan kamu. Aku senang kalau melihat kebaikan orang lain,” jawabku.

 

Tidak dimungkiri, sisi kemanusiaanku ter-panggil ketika melihat Nania dan teman-te-mannya dengan semangatnya membagikan takjil untuk orang lain. Bagiku hal itu adalah sesuatu yang luar biasa, di saat kini banyak sekali orang-orang yang sudah tidak peduli lagi dengan oranglain.

 

Sudah satu minggu lebih aku mengenal Nania sebagai sosok perempuan yang aktif bagi kemaslahatan orang lain. Aku diberi tahu tentang perempuan-perempuan dalam Islam. Salah satunya adalah Fatimah Azzahra, seorang puti Rasulullah. Dia sangat menjaga kesucian serta kehor-matannya sebagaiwanita. Salah satunya dengan menutup aurat secara sempurna.

 

“Jadi, perempuan itu ibaratkan mutiara yang tersimpan di laut lepas yang megah. Mengapa demikian? Karena mutiara itu susah untuk didapatkan, dia tersembunyi dan orang yang ingin mendapatkannya harus berjuang. Maka, kita sebagai Mus-limah harus menjadi mutiara di mana tidak semua orang bisa melihatnya, di mana tidak semua orang bisa menyentuhnya.” Seperti itu penjelasan Nania sebagai pembukaan materi kajian minggu ini. Setiap Kamis me-mang kami sering berkumpul dalam satu wadah komunitas Muslimah.

 

Lalu seseorang bertanya, “Kak, bagaimana dengan seseorang yang punya masa lalu yang kelam, lalu dia ingin ber-hijrah tetapi dia merasa tidak pantas?”

 

“Begini ya teman-teman salihah. Kita se-mua ini manusia. Manusia adalah tempat-nya salah dan dosa. Jadi wajar jika kita melakukan kesalahan. Tetapi ingat, sebisa mungkin kita jangan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya. lngat! Rahmat dan ampunan Allah itu sangat luas dari apa yang kita pikirkan. Apa selamanya kita akan merasa tidak pantas untuk berubah menja-di ke arah yang lebih baik padahal kita tahu bahwa kebaikan itu perlu kita lakukan. Manusia tidak diukur dari masa lalunya, bukan? lngat kisah Umar bin Khattab. Dulu dia adalah seorang penjahat. Tetapi dia sadar bahwa kebaikan itu sudah ada di de-pan matanya dan menjadi sahabat rasul yang selalu berjuang demi Islam,” ujarnya menjelaskan.

 

Sungguh, aku sangat kagum mendengar penuturan dari Nania. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Nania. Dan aku merasa malu berada di tengah orang-orang yang berhijab syar’i , sedangkan aku masih pakai kerudung.

 

Selesai acara kajian,aku menghampiri Nania untuk bertanya lebih dekat seputar perempuan dalam Islam, “Nania… aku ingin menjadi sepertimu, apa yang harus aku lakukan pertama kali sebagai wujud dari perubahan diriku?”

 

“Tutup auratmu, cantik. Jangan mau mempertontonkan auratmu secara gratis kepada kaum Adam. Cukup kelak hanya untuk suamimu saja. Buat bidadari surga cemburu kepada kita sebagai muslimah,” tuturnya. Kata-katanya membuat aku berpikir, membuat aku terenyuh. Meng-ingat aku adalah perempuan yang masih sering lupa untuk hal satu itu.

 

Keesokan harinya, Nania menemuiku di masjid tempat kami biasa berkumpul. “Na-nia mengapa kamu baik sekali…” ucapku dalam hati, “semoga kamu menjadi manusia yang selalu dirahmati Allah.”

 

“Assalamualaikum Del, ini aku belikan ka-mu kerudung syar’i untuk kamu pakai menutup aurat.”

 

‘Waalaikumussalam, terima kasih Nania, kamu baik sekali, semoga aku bisa is-tiqamah seperti kamu. Bantu aku terus, bimbing aku terus ya untuk menjadi manu-sia yang lebih baik lagi,” ucapku sambil memeluk Nania. “lnsyaallah, semoga Allah selalu membantu kita ya. Aamiin,” tuturnya.

 

“Pesanku untuk kamu Del.. nanti di de-pan sana kamu akan menemui banyak rin-tangan, tidak mudah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, kamu pasti menemui orang yang tidak suka dengan perubahan kamu, tapi aku percaya kamu orang yang kuat. Nikmati proses itu ya, Del. Jangan menyerah!” katanya lagi.

 

“Terima kasih Nania, tapi aku belum siap untuk pakai kerudung, aku ingin menjadi orang yang lebih baik dulu sebelum aku pakai kerudung,” jawabku.

 

“Baiklah jika itu maumu, Del. Tapi ingat ya, permen yang terbuka dari cangkangnya akan banyak digerumuti se-mut, beda dengan permen yang masih ter-bungkus rapi. Kalau kamu ditawari per-men yang sudah terbuka dan masih rapi terbungkus, kamu akan pilih mana?” ujarnya.

 

“Pilih yang masih terbungkus,” jawabku

 

“Kenapa?” katanya lagi.

 

“Karena masih terjaga dari kotoran dan semut-semut yang menggerumutinya,” ujarku.

 

“Nah, tuh kamu tahu jawabannya. Lagipula berhijab itu wajib bagi wanita yang su-dah balig,” katanya.

 

Ting……. suasana hening, aku tertampar lagi. Berarti aku masih sangat jauh dari kata baik. Ya Allah…

 

Setelah mengenal Nania selama satu tahun, aku sadar Allah mempertemukan aku dengan Nania untuk mengejar hidayah, dan hari ini aku ingin menemui Nania untuk memberi tahu kalau aku ingin berhijab syar’i seperti Nania. Akan tetapi, Nania susah un-tuk dihubungi. Sudah satu bulan lebih tidak ada kabar dari Nania. Setelah aku caritahu ternyata Nania sedang dirawat, dia punya salah satu penyakit yang mematikan.

 

‘Ya Allah… kenapa Nania tidak pernah bercerita kalau dia punya penyakit yang membahayakan seperti itu,” aku menangis tidak tahan mendengar sahabat baikku menderita. Hingga pada akhirnya aku men-dapat sebuah kabar bahwa Nania mening-gal dunia.

 

“Assalamualaikum Bu, kenapa Nania tidak pernah menceritakan kalau dia punya penyakit yang sangat membahayakan bagi dirinya?” tanyaku kepada lbu Nania sambil menahan tangis.

 

‘Waalaikumussalam, Nania bilang, dia tidak ingin menceritakan soalpenyakitnya kepada siapa pun, dia tidak ingin membuat orang lain merasa khwatir dan dia tidak mau jika harus menyusahkan orang lain,” tutur lbu Nania menjawab disertai derai air mata.

 

Aku jadi teringat Nania pernah berucap, “Del, jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain, sebab hidup hanya sekali dan ki-ta harus mampu memanfaatkan hidup se-baik-baiknya, salah satunya bisa berguna untuk orang lain. Minimal kita bisa berman-faat untuk diri kita sendiri, sebagai bekal di akhirat kelak.” ***

 

[1] Disalin dari karya Melani Wulandari

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 23 September 2018

 

The post Menjadi Seperti Mutiara appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2xOmriJ

  

GERBONG nomor 3, dari rangkaian kereta eksekutif, yang berangkat 20.33 dari M — di 4 jam sebelumnya, dari S–: tidak pernah sampai ke B. Memang kereta itu terlambat, dari seharusnya 05.49 jadi 10.11, dikarenakan anjlok di K. Aku tak ingat detilnya: Begitu naik aku mengobrol, dengan yang terlebih dulu duduk. Permisi, karena akan memakai ja-tahku, yang telah membuatnya bisa meringkuk di dua tempat duduk. Mengobrol. Mena-warinya makan, meski hanya satu nasi bungkus. Dan setelah makan, minum air mineral, pamit ke kamar kecil, dan merokok di bordes–saat itu belum ada larangan merokok.

 

Balik. Dan si di sebelah telah tidur–berbalut selimut, bagai kepompong

 

***

 

SUDAH tengah malam. Semua sudah tidak mengobrol lagi–sudah bosan dan cape. Agak merebahkan sandaran kursi, dan di setengah berselonjor berkerodong selimut dan membenahkan kepala di bantal kecil–melupakan sekitar, tertidur, atau pura-pura tertidur dan asyik dalam kepala, berangan-angan. Rasanya, setelah menggeronjal ketika membe-lok di jembatan kecil–hentak tetak roda menimbulkan gaung di palung sungai alit itu–, loko tersengkelit, menggelincir serta terjungkir–menghunjam dengan meluncur sambil membongkar tanah sempadan rel. Rodanya terus berputar, mesin menderam, yang keras menggerung. Disusul lesakan gerbong kesatu, dan dilanjutkan dengan si gerbong kedua, menanduk gerbong pertama–bunyinya berdebum.

 

Gerbong berguncang–jerit orang yang dipaksa terjaga, kaget serta kesakitan. Aku ingat: gerbong ketiga menumbuk dan terpantul, dan kembali menumbuk lagi setengah di-dorong laju dan bbot berat gerbong keempat. Terlepas dari rangkaian, dengan ujung yang melambung, dan seluruh beratnya itu tersentak ke ujung rangkaian gerbong kedua. Mera-pung separuh lingkaran, dengan inti pusat rangkaian, lalu berdebam, jatuh menghantam sempadan. Kaca jendela, yang tebal itu, pecah. Lempeng kaca menghunjam ke panggkal kepala–saat terjerunuk–, dan menggelontorkan darah. Lantas aku tak ingat apa-apa.

 

***

 

SUDAH berselang 3 tahun saat sadar: menemukan diri di rongga tanah, celah kubur. Aku panik. Tangan terulur mengorek tebing tanah yang menabir. Sukar sekali–itu tanah padas, yang masif, atau batu yang melapuk–, sebelum sadar bahwa aku ada dalam rong-ga, dengan dinding tanah padat, dengan papan yang hancur lapuk, dan ada celah di antara tanah padat dengan tanah galian yang dipadatkan. Aku menelusup, dan pelan ke luar, ba-gaikan asap rokok, yang di-sebul seusai diisap dan mematangkan paru, dan ke luar lewat hidung. Ke luar dari lahat–dan tiap saat aku bisa berada di luar kubur. Membubung atas kemboja, menyelidik ada di mana. Menerawang. Pergi ke mana mau–terutama stasiun. Aku menempel di gerbong kereta arah B. Menumpang untuk pulang kampung, dan tersadar ketika menelusuri kampung–kenangan membuat perih, karena semua ada di luar, menyelinap ke balik diding kaca, tempat aku diisolasi. Sendiri. Balik–kini, dengan meng-hentak, merapung dan berkepak arah matahari terbit, dan (lewat) tengah malam masuk ke rongga kubur. Tercenung. Sepi. Ke luar dan merapung lagi– menebal dalam kabut. Tahu, ada yang tak lampias, ada yang tak bisa dituntaskan–itu rasa terlanjur, ketertinggalan, ke-sadaran bahwa segala telah berlalu dan ini kini sudah bukan giliranku. Itukah arti kemati-an? Kenapa aku terus rindu Ayah dan Ibu– meski tahu, bahwa mereka ada dalam dimensi lain, karenanya kami tak akan bisa bertemu–? Lantas mengerti: dulu aku berniat pulang, karena rindu, dan ingin sekali lagi (sesaat) berkumpul dengan mereka. Dulu .

 

***

 

KERETAanjlok. Aku tersuruk. Kini–meski kapan saja bisa pergi ke B–, semua sudah telat: Ayah dan Ibu telah masuk rongga kubur–mengisi kubus waktu yang eksklusif: bisa melihat segala, tapi tak tergabung. Soliter–sediri. Sepi. ❑- c

 

7-8/1/2019

 

*) Beni Setia, pengarang tinggal di Caruban.

 

[1] Disalin dari karya Beni Setia

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 13 Januari 2019

 

The post Solituda appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2TND1Zj

==Ensiklopedia Anak Pintar==

 

Buku Ensiklopedia Anak Pintar

-Khusus Untuk Anak (13 Jilid)

Spesikasi Buku :

Setiap set buku ini terdiri dari 12 jilid + 1 Buku panduan untuk orang tua. Setiap jilid terdiri dari 72 halaman berwarna dengan 64 halaman isi. Selebihnya adalah halaman cover dalam, daftar isi, halaman prancis dan halaman penutup.

  

Isi Buku Ensiklopedia Anak Pintar

 

==Aku Tahu Biologi==

Sungguh menyenangkan belajar ilmu Biologi! Dalam seri Aku Tahu Biologi ini, anak-anak diajak untuk menjelajahi kebesaran Allah SWT lewat beragam jenismakhluk hidup ciptaan-Nya. Setiap fakta dasar ilmupengetahuan dalam buku ini disajikan dengan gaya bahasa yang lugas, serta divisualisasikan dengan ilustrasi menarik dan penuh warna sehingga pemahaman dasar biologi menjadi lebih mudah disampaikan.

 

==Aku Bisa Seperti Mereka==

Kita bisa kok, jadi ilmuwan terkenal dunia! Dalam seri Aku Bisa Seperti Mereka ini, anak-anak diajak untuk mengenal tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dunia. Sejarah ilmu pengetahuan dan pro log singkat para ilmuwan dituturkan melalui gaya bahasa yang sederhana namun lugas, visualisasi ilustrasi menarik yang penuh warna tentunya membuat anak betah membaca buku ini.

 

==Super Fisika==

Tidak benar jika belajar Fisika itu rumit dan susah! Dalam seri Super Fisika ini, anak-anak diajak untuk mempelajari ilmu sika dengan cara menyenangkan. Ragam pengetahuan dasar disampaikan dalam bahasa dan ilustrasi gambar yang menarik, sehingga pemahaman mengenai metode pengukuran, besaran hingga fakta seputar sains lainnya menjadi lebih menarik.

 

==Keajaiban Bumi dan Penduduknya==

Bumi yang kita tempati ini ternyata ajaib, lho! Lewat seri Keajaiban Bumi dan Penduduknya ini, anak-anak diajak untuk mengenal bumi lebih dekat. Ilustrasi gambar yang atraktif dan relevan dengan materi yang dibahas, membuat anak tidak mudah bosan dan lebih tertarik untuk membaca.

 

==Cerdas Matematika==

Siapa bilang belajar Matematika sulit? Lewat seri Cerdas Matematika ini, membuat anak-anak menguasai kecakapan matematis dengan cara yang menyenangkan. Konsep dasar matematika yang cenderung teoritis disampaikan melalui gaya bahasa yang lugas. Disajikan dalam gambaran visual yang menarik sehingga pemahaman teori dasar berhitung dan fakta unik seputar angka menjadi lebih mudah disampaikan.

 

==Keajaiban Ilmu==

Mau tahu ragam keanehan ilmu pengetahuan? Lewat buku Keajaiban Ilmu, anak-anak akan diajak mengungkap keajaiban dan sejarah ilmu pengetahuan. Fakta mengagumkan mengenai ilmu pengetahuan yang terkadang sukar diterima logika disampaikan melalui bahasa yang mudah dimengerti, serta digambarkan lewat visual menarik sehingga setiap materi dalam buku ini menjadi lebih mudah untuk ditangkap oleh anak.

 

==Tonggak Sejarah Dunia==

Benarkah belajar Sejarah itu membosankan? Ternyata tidak. Lewat seri Tonggak Sejarah Dunia ini, anak-anak diajak untukmengetahui peristiwa penting yang pernah terjadi di masa lampau. Ragam cerita dan fakta emosional diungkap secara cermat lewat bahasa yang lugas, sehingga mempelajari sejarah menjadi menyenangkan. Visual yang menarik berupa teks dan ilustrasi pendukung yang atraktif, membuat rangkuman lengkap sejarah dunia menjadi begitu menarik bagi anak.

 

==Aku Pasti Bisa==

Tidak ada yang mustahil dikerjakan asal mau belajar. Iya, dalam seri Aku Pasti Bisa ini, anak-anak akan ditantang kemampuannya dalam memecahkan soal latihan. Tapi tidak usah khwatir, tantangan ini pasti menyenangkan buat anak-anak. Setiap soal latihan dikemas secara menarik dalam bentuk permainan sederhana. Ragam pertanyaan seputar ilmu pengetahuan dari serial buku sebelumnya dirangkum secara inovatif melalui daftar pertanyaan, yang mana jawabannya bisa ditemukan dari buku lainnya.

 

==Kamus Cerdas==

Jangan biarkan anak Anda melewatkan sumber informasi seputar pengetahuan yang ada di muka bumi ini. Dalam seri Kamus Cerdas ini, anak-anak diajak menggali segala macam sumber informasi seputar pengetahuan umum. Format buku ini disusun dengan baik sehingga mempermudah pencarian entri, tanpa harus membuang waktu mencari versi lengkapnya didalam buku.

 

==Kehebatan Seni==

Selalu ada darah seni yang mengalir dalam diri anak-anak. Tidak percaya? Seri Buku Kehebatan Seni Dunia ini jawabannya. Dalam buku ini, anak-anak diajak mengenali berbagai ragam seni dunia sekaligus menggali potensi seni dalam diri mereka. Kisah seputar perjalanan dan bakat seni para maestro dunia disampaikan melalui tata bahasa yang ringan, bersama visualisasi yang menarik dengan ilustrasi pendukung teks yang relevan.

 

==Keindahan Sastra Dunia==

Keindahan sastra sungguh sayang untuk dilewatkan. Dalam seri Keindahan Sastra Dunia ini karya sastra daripara sastrawan dunia dikisahkan dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap tampil berkualitas. Sehingga membuat anak-anak terdorong dalam mengapresiasi produk kesusastraan, sambil memotivasi mereka untuk turut berkarya.

 

==Teknologi Terkini==

Tidak mau kan, dijuluki gagap teknologi (gaptek)? Dalam seri Teknologi Terkini, anak-anak diajak untuk mengenal dan memahami teknologi dan aplikasi dunia modern. Berita perkembangan teknologi yang pesat dibahasakan secara ringan namun tetap ilmiah, dideskripsikan melalui visualisasi menarik dengan ilustrasi yang mendukung teks, menjadikan pembahasan perkembangan teknologi menarik bagi anak-anak.

 

==Petunjuk Orang Tua==

Para orang tua juga harus berperan aktif dalam proses pembelajaran terhadap anak-anak. Karena sukses tidaknya anak-anak di masa depan juga menjadi tanggung jawab orangtuanya. Seri Petunjuk Orang Tua ini menyajikan sebuah referensi menarik yang berisi tata cara seputar mendidik anak, serta petunjuk dalam memperkenalkan buku seri Aku Anak Pintar kepada anak. Berbagai macam pola didik dalam mempertajam intuisi serta intelektualitas anak yang berbasis Islam, disampaikan secara sederhana dan informatif.

 

indonetwork.co.id/tokoislampedia/

  

SETELAH perpisahan diresmikan oleh ketuk palu hakim seminggu yang lalu, Mimisa segera membuat dunia baru untuk Nora. Dunia tanpa gambar lelaki yang pernah hidup di rumah itu. Lalu menggantinya dengan gambar lain: lukisan gunung, burung-burung, pohon-pohon dan ikan-ikan.

 

Kemarin, Sinta, sahabatnya, datang berkunjung, membawa beberapa pertanyaan dan satu nasihat. Mimisa jawab semuanya dengan keyakinannya.

 

“Seburuk apakah hubungan kalian sampai harus berpisah?”

 

“Sangat buruk dan aku tidak bisa merincinya.”

 

“Kau tahu keputusanmu itu menyakiti banyak hati, termasuk Nora?”

 

“Aku tahu. Tapi rasa sakit itu tidak abadi. Lambat laun pasti sembuh, dan menjadi kenangan. Untuk Nora, biar aku sendiri yang menyembuhkannya, sampai tuntas.”

 

“Kau tahu, Misa, seorang istri akan terus terikat oleh hukum suaminya selama suaminya itu hidup. Kau pasti sangat paham ajaran agama kita, kan?”

 

“Aku paham. Tapi, ajaran agama apa yang tidak bisa dilanggar manusia?”

 

“Lalu bagaimana dengan hari raya Natal nanti? Siapa yang akan jadi Sinterklas di rumah ini?”

 

“Aku akan beli boneka Sinterklas yang besar, sebagai ganti laki-laki itu. Dengan sedikit penjelasan, Nora pasti akan memahaminya.Toh dia masih belum paham, apa yang sebenarnya terjadi.”

 

Mimisa sudah membeli boneka Sinterklas itu, dan disembunyikannya di kamar tengah. Ia yakin, Nora pasti bahagia saat melihat boneka itu, meski itu bukan ayahnya.

 

Saat ini Mimisa sibuk menghias pohon berbentuk kerucut. Nora sedang nonton TV bersama Bik Awa, sang pembantu. Lalu ponsel Mimisa bergetar di dalam saku celananya. Ia turun dari kursi dan melihat apa yang terjadi. Ada nomor tak bernama mengirim pesan lewat WA.

 

“Apa kita tidak bisa bersatu lagi? Pikirkan anak kita.”

 

Tanpa pikir panjang, pesan dihapus. Laki-laki yang biasa menyamar jadi Sinterklas waktu hari raya Natal, dihapus. ❑-e

 

Asoka, 2018

 

*) Agus Salim, lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980, tinggal di jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.

 

[1] Disalin dari karya Agus Salim

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 23 Desember 2018

 

The post Boneka Sinterklas appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2CxPkTN

  

IA telah terlempar dari kematian. Dari ruang yang penuh dengan napas-napas terakhir, air mata kering yang membekas di sekitarnya menguap untuk memanggil kematian. Ia terlempar dari mobil-mobil besar yang menggaungkan penghakiman, asapnya menusuk-nusuk hati, mengajak siapa pun untuk segera pergi ke akhirat ia terlempar dari sungai-sungai yang mengalirkan darah, menciptakan aroma kemenangannya sendiri. Ia terlempar dari kematian.

 

TELAH lama ia mencari sesuatu, mencari kematian yang telah membuatnya bersalah begitu hebat. Terlempar dari kematian bukanlah jalan terbaik ternyata, terlempar dari kematian justru membuatnya ingin mati beribu kali lipat, sakitnya bukan main. Setiap hari ia harus memikirkan cara jika ada seseorang yang datang ke rumahnya, lalu menyeretnya dan menagih kematian yang pernah tertunda, ia harus menyusun berbagai cara baru yang bisa menyelamatkannya dari hunusan arit di lehernya.

 

Ia meraung-raung, meminta siapa pun untuk mengirimkannya seseorang yang bisa melindunginya. Inginnya seorang ibu, agar ia bisa melindunginya di balik tangan kecil dan kerudung panjangnya. Ia bisa masuk ke dalam kerudung panjang seorang ibu agar tidak terjun ke ke-matian. Ia tidak perlu berlari karena mereka tidak akan membunuh siapa pun yang berada dalam lindungan kerudung ibunya. Meskipun anaknya tidak berkerudung.

 

Kalau tidak ada seorang ibu, ia memikirkan untuk memiliki seorang ayah saja. Seorang ayah yang akan membangunkan rumah dengan kubah di atasnya. Ia dapat tinggal di dalamnya, tidur di atas seprai berwarna hijau atau merah, mem-bangun sendiri kebahagiaan yang ia impikan. Semua anak yang tinggal di dalam rumah berkubah tidak akan jatuh pada kematian, walaupun anak itu tidak tahu apa tujuan ayahnya menyimpan kubah di atas rumah.

 

Namun, seorang ibu dan ayah ter-lalu sulit untuk didapatkan, apalagi untuk seorang anak yang terlempar dari kematian. Tidak akan ada yang mengakui siapa pun yang terlempar dari kematian sebagai keluarganya, sebab mereka terlalu takutjika nanti kematian menjemput mereka pula.

 

Ia, yang terlempar dari kematian, masih bersembunyi di ruang kesunyian dan ketakutannya. Ia menulis ribuan puisi dan doa, ia menyesali kenapa ia harus hidup di tempat yang bahan pokok pangannya nasi, ia hanya ingin menolong sesamanya, tetapi ia yang malah terjerumus ke dalam jurang tanpa kemanusiaan. Ia menangis dengan sejadi-jadinya, ia menyesali semuanya. Ia menghapus bekas air matanya dengan air mata baru. Harus bagaimana lagi, tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis.

 

Ruang kesunyian semakin mengimpitnya, pori-pori dari din-dingnya membisikan angin yang bercerita tentang kronologis kema-tian. Ia meraung-raung kembali, sulit sekali baginya saat ini, bahkan do-ngeng sebelum tidur pun bercerita tentang bagaimana perihnya kema-tian seseorang yang terlempar dari kematian.

 

Keadaannya semakin parah, ia tidak bisa tidur saat ini, padahal ia selalu berharap bisa tidur nyenyak dan ketika tersadar ia sudah berada di alam lain dan terlepas dari kema-tian yang mengejarnya. Walaupun ia tahu, ia telah ditangkap kematian, ia tidak merasakan sakitnya.

 

Ruangan semakin menyempit membuat otaknya semakin sakit. Ia berpikir untuk segera pergi dan berlari ke mana pun yang tidak memiliki ruang agar ia dapat berna-pas dengan baik dan ia dapat berpikir lebih jernih untuk mencari seorang ibu atau seorang ayah. Ia berdiri, menghempaskan ruang yang menjepitnya, dinding-dinding menusuk hatinya, membuatnya sakit karena ketakutan. Akan tetapi, ia tetap menghempaskannya, ia berhasil lolos. la berlari meninggalkan ruang tempatnya bersembunyi. Ia berdiri di atas bukit, meneriakkan amarahnya agar terbang bersama angin yang selalu menghantuinya dengan bisikan-bisikan menakutkan.

 

Ia melihat sekelilingnya, hutan yang penuh dengan aroma kematian pula, lagi-lagi, kematian ada di seki-tarnya, tetapi saat ini ia merasa lebih bebas. Ia melihat kematian hanya tinggal jejak saja. ia melihat bayang-bayang temannya yang diseret, meronta-ronta, ditekuk, lalu disem-belih hingga kepalanya menggelin-ding ke sungai, sementara si penja-gal berbicara lagi, lagi, dan lagi sambil tertawa. la melihat bangkai temannya dari atas bukit, bangkai-bangkai yang mengambang di aliran sungai darah, kepala dan badannya terpisah berjauh-jauhan.

 

Ia masih terus melihatnya dari atas bukit, aliran darah itu mengalir ke sawah-sawah. Di sawah itu, ia melihat dirinya sendiri dan teman-temannya sedang bersemangat be-kerja, tanpa mereka sadari bahwa kematian sedang menuju ke sawah-nya. Darah-darah sudah menyentuh kaki ia dan teman-temannya, namun tak ada satu pun yang sadar akan kematian itu.

 

Ia melihat dirinya lagi, ia melihat dirinya diringkus oleh banyak orang, diseret dengan paksa, ia melihat dirinya pergi meninggalkan sawah dan hilang dari pandangannya, lalu angin berbisik, angin mengajak matanya terbang menuju sebuah ruang, ruang di mana ia dikumpulkan untuk menunggu pergiliran pembunuhan. la meme-jamkan matanya, ia tidak ingin meli-hatnya lagi, ia tidak ingin melihat dirinya menunggu hal yang menya-kitkan dan menyesakkan.

 

Di atas bukit ia menangis, ia bersimpuh, sesegukan dengan hebat, lalu tertawa. Terlalu lucu un-tuk dirinya menakuti hal yang sudah berhasil ia lalui.

 

Angin semakin jahat, angin terus menceritakan kisah buruk, kisah pa-ling kelam dalam hidupnya. Ia tidak sanggup membayangkannya lagi, tetapi angina terus membawa ter-bang matanya, ia menutup matanya, menutup matanya dengan kuat menggunakan tangan keringnya, ia tidak ingin matanya dibawa berke-lana oleh angin, angin tetap meng-ajaknya, ia tidak bisa menahan matanya lagi, ia memutuskan untuk mencungkil matanya sendiri, agar ia tidak merasa kesakitan lagi melihat dirinya sendiri kesakitan. Matanya ia keluarkan dengan paksa, lalu menggelinding dari atas bukit menu-ju sungai darah yang pernah ia lihat.

 

Ternyata, sarafnya masih ter-hubung, matanya yang terjun ke dalam sungai justru melihat semua bangkai teman-temannya di dasar sungai, ia semakin menangis, tapi saat ini ia tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, matanya sudah hilang dan penuh oleh mayat

 

Ia memaksakan agar otaknya tidak bekerja, agar sarafnya terhenti, tetapi sulit sekali menghentikan sesuatu yang terlindungi oleh sesuatu yang amat kuat. Ia menjerit lagi, menyesal telah menggelindingkan matanya ke dalam sungai.

 

Sesuatu yang bisa ia andalkan hanya tinggal kaki dan tangannya saja. ia berdiri di atas bukit, ia tidak akan bersimpuh, ia mengambil apa pun yang terpegang pertama kali oleh tangannya, ia mengambil batu besar, ia menekuk kakinya sendiri, ia ditekuk di atas bukit, ditekuk oleh kakinya sendiri, ia mengambil batu itu dan memaksa memecahkan kepalanya agar otaknya tidak berfungsi lagi dan tidak akan mendengarkan cerita buruk yang saat ini dikabarkan angin. la terus memukul kepalanya, menghan-curkan kepalanya hingga darah berlumuran dan kakinya yang tertekuk mulai lemas, dan angin membawa raganya terbang. Angin mengajaknya pergi menuju apa yang ia rindukan, kematian.***

 

[1] Disalin dari karya Faris Rega

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 16 Desember 2018

 

The post Mencari Kematian appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QB7Enx

  

HASAN terburu menarik tangan yang hendak dicium pengemis yang baru saja ia beri makan.

 

“Di kamar belakang ya, Pak. Di sebelahnya dapur. Di sana sudah ada sarung dan peci. Kalau sudah, mari kita makan bareng di sini,” ujar Hasan seramah mungkin.

 

Kesedihan itu akhirnya jebol juga saat mereka makan bersama. Lelaki tua itu tergugu saat menceritakan leliku hidupnya yang seolah baru saja terjadi kemarin sore.

 

Cerita itu terdengar sayup-sayup di telinga Hasan. Ia seperti melihat sehelai daun yang telah menguning dan lalu gugur ke tanah. Hanya tinggal menunggu waktu membusuk dan kemudian hilang terurai kembali ke asalnya. Ada berderet kenangan tiba-tiba menyembul tanpa kendali. Hasan berusaha membenamkannya kembali ke dalam ketenangan hati. Tapi gagal. Pengemis tua ini benar-benar seperti punya daya magis.

 

***

 

Untuk mengetahui apa yang tengah terjadi dengan Hasan, kau juga mesti tahu dengan potongan kisah ini.

 

Pada sebuah rapat RT yang tak dihadiri Hasan, beberapa orang memang tergelitik membicarakan kelakuan Hasan.

 

“Iya, menangis! Hanya gara-gara anakku tak jadi beli dan malah bilang mainan buatannya jelek. Saat salat Subuh tadi, aku sempat minta maaf atas kelakuan anakku. Tapi ia bilang anakku tak punya salah kepadanya,” cerita Pak Yudho.

 

“Kok kejadiannya hampir sama? Waktu itu anakku juga sedang membanting mainan yang kami beli darinya. Entah mengapa dia tiba-tiba saja menangis lalu buru-buru meninggalkan kami. Aku mengejarnya. Tapi ia bilang tak ada apaapa,” cerita Pak Sobro.

 

“Masak setua dia, masih gampang tersinggung dan menangis hanya lantaran masalah sepele begitu?” sambung Markasan.

 

Gosip itu kemudian menyebar ke perbincanganperbincangan pinggir jalan dan warung kopi. Dagangan Hasan pun jadi sepi pembeli.

 

Mulanya Hasan memang tak ambil pusing ketika semua sampai ke telinganya juga. Ia merasa tak perlu memberikan penjelasan kepada orang lain, lantaran ini adalah masalah pribadi.

 

“Aku sudah dengar cerita itu dari orang-orang. Memang, cara terbaik untuk mendinginkan perkara adalah dengan menyerahkan semua kepadaNya. Meskipun perkara sepele sekalipun. Saya yakin Pak Hasan ini orang baik,” Pak Malikóimam masjid pun bahkan akhirnya urun suara. Hasan kira, lelaki tua ini hanya sedang mencari bahan perbincangan, lantaran saat itu sang imam sedang menunggu kedatangan seseorang.

 

“Memangnya apa yang Pak Malik dengar?”

 

“Tentang mainan buatanmu, dan segala prasangka orang terhadapmu.”

 

Hasan tersenyum saja. Badai pasti akan pergi, pikirnya. Ia pun lantas bercerita kepada Pak Malik perihal masa lalunya sewaktu masih seorang preman di Jakarta. Dan kini, setiap kali melihat apa pun yang teraniaya, kemudian menimbulkan halusinasi tentang orang-orang yang pernah ia peras, aniaya, perkosa, bahkan bunuh.

 

“Setiap kali melihat ciptaanNya mendapatkan perlakuan buruk, apa Pak Malik tak berpikir Ia tidak menangis?” Hasan mengakhiri ceritanya. Sementara Pak Malik tertegun memandangi Hasan. ❑-e

 

Kalinyamatan – Jepara, 2017

 

[1] Disalin dari karya Adi Zamzam

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 17 Februari 2019

 

The post Tangis Pembuat Mainan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2T3FqT1

  

PARMIN bergegas berlari kecil mengejar pria paruh baya itu. Menyadari ada yang berlari ke arahnya, si pria berhenti berjalan. Pria berkopiah putih itu tertegun mendapati tubuh kurus Parmin di hadapannya. “Parmin, maafkan saya, ya,” pintanya.

 

Parmin hanya tertunduk saja. Pria dewasa di depannya mendengus. “Seharusnya, jatahmu tidak perlu dihentikan. Saya akan coba bicara lagi sama Bu Hajah.”

 

Usai menepuk bahu ringkih Parmin, ia melangkah pergi. Ada beberapa amplop berisi uang yang harus segera ia sampaikan kepada pemilik nama yang sudah dicatatnya. Parmin mengangkat wajah melihat pria yang beberapa bulan menjadi malaikatnya itu hilang di tikungan jalan kampung. Beberapa jenak, ia baru berbalik. Pulang.

 

Nenek yang melihatnya tampak dekil dengan baju lusuh itu lekas berseru, “Parmin, lekaslah mandi. Bapakmu hari ini mau pulang sama perempuan sundal itu. Bagaimana pun, perempuan itu kini adalah bini bapakmu.”

 

Parmin tidak menggubris perkataan Nenek. Ia masuk rumah reyotnya yang sungguh tidak layak huni. Perutnya lapar. Entah ada tidak yang dimasak Nenek hari ini. Ia meringis saat nasi hanya berkawan sambal yang ia dapati.

 

Parmin masih ingat pria paruh baya yang selalu memakai kopiah putih itu tempo hari berkata, “Parmin, maafkan saya, namamu sudah dicoret Bu Hajah. Kamu bukan piatu lagi.”

 

“Tapi cucuku anak yang malang, tidak bisakah Bu Hajah mengecualikan dia?” tanya Nenek.

 

“Amanat dari almarhum Pak Haji, amplop bulanan ini hanya untuk anak yatim atau piatu. Tidak punya ayah, atau tidak punya ibu.”

 

“Tapi, tidakkah kau lihat kemiskinan di gubuk reyot ini?”

 

“Saya akan bicara sama Bu Hajah. Meski saya yakin, nama Parmin tetap disilang.”

 

Lamunan Parmin terganggu suara kasar Bapak di luar. Nenek menyambut dua tamunya itu dan menyuruhnya masuk. Parmin tiba-tiba teringat Emak. Kalau saja dulu Bapak peduli pada kondisi kesehatan Emak, pasti Emak tidak secepat itu dikubur di pemakaman kampung. Tapi Bapak tidak pernah lepas dari minuman keras dan judi. Bahkan, perempuan yang dikawininya sebagai ganti Emak juga bukan perempuan baikbaik, begitu Nenek pernah bilang.

 

Tiba-tiba, mata Parmin menumbuk ke sebilah pisau dapur yang tergeletak di dekatnya. Terngiang kata-kata pria berkopiah putih. Dan ia merindukan status piatunya. Ia mendengus sambil menggenggam gagang itu dengan penuh gelegak. ❑ – g

 

Suden Basayev, Ketua Umum Komunitas Menulis One Day One Post (ODOP). Tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.

 

[1] Disalin dari karya Suden Basayev

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 27 Januari 2019

 

The post Piatu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2RZse1U

  

Setiap kali bercermin, ia makin melihat jelas apa yang ada di raut wajahnya. Kadang ia berkaca sambil menilik-nilikkan muka. Ya, menilik-nilikkan muka bukan karena ada bekas coretan luka di pipi kanan. Namun lebih dari itu.

 

Malam itu, di hadapan cermin, dia terus membiarkan pikirannya melayang jauh ke suasana yang ia lihat sebelumnya, ketika sepasang matanya melirik padang rumput hijau yang terhampar di belakang kamarnya. Di sana tampak sebuah siluet dari masa yang menarik keinginannya untuk memutuskan tinggal di tempat itu.

 

Waktu itu ia masih seumuran anak SMP. Banyak hal menarik di tempat itu. Negeri Barbar, begitu orang-orang menyebut. Negeri yang lumayan jauh dari pantai. Namun keindahannya jauh melebihi pemandangan dan suasana pantai ketika matahari bersenyawa dengan warna jingga. Juga burung-burung yang beterbangan kala sore meredup menjemput kembali para nelayan ke peraduan, tempat mereka akan menghitung bulir keringat dari keluasan samudra tanpa tepi.

 

Negeri Barbar punya keindahan lain. Alam yang bersih, berbagai bunga berjejer rapi di tepi jalan menuju rumah Kiai Halim. Warganya pun ramah. Apalagi ada cerita seorang perempuan seumuran yang berambut merah. Dia sangat senang bila Ramadan hampir tiba. Saat itulah, Negeri Barbar mengadakan syukuran.

 

Sebagai adik dari seseorang yang menjadi abdi di Negeri Barbar, tepatnya di rumah Kiai Halim, ia senang. Karena, saat itulah ia akan bertemu kembali dengan perempuan berambut merah, anak Kiai Halim. Telah lama dia memuja, walau sebatas saling pandang dari jauh. Bagi dia, sangat tidak mungkin mendekati. Apalagi sampai menjalin hubungan serius dengan perempuan berdarah biru itu. Ia hanya tamu dari sang kakak yang menjadi abdi.

 

Namun masa itu sudah hambar. Tidak ada lagi yang patut dia banggakan dari Negeri Barbar dan perempuan berambut merah itu, selain puing-puing kenangan yang berserakan di tempat yang sering dia lihat. Semenjak kepergian Kiai Halim, suasana di Negeri Barbar mendadak berubah. Berbagai tanaman yang dulu berjejer rapi di jalan menuju rumah Kiai Halim, kini mati. Penduduk kampung tak lagi ramah. Apalagi setelah kabar yang menghantam dia bahwa perempuan itu telah diusir beberapa warga, karena menyekap seorang lelaki di dalam kamarnya. Sungguh, itu di luar dugaan.

 

***

 

Lelaki itu beranjak keluar, meninggalkan beberapa potong ingatan di sebuah cermin yang sejak tadi menggambarkan wajahnya. Malam itu, dari depan kamar, ia melihat seorang kakek yang setiap kali menjelang sore selalu menaburkan kembang di atas kuburan Kiai Halim yang selalu terlihat basah. Entah air apa dan dari mana. Yang jelas, bukan siraman air hujan.

 

Tidak mungkin ada hujan pada musim seperti ini. Langit masih seterang kemarin. Tidak ada gumpalan mendung yang mengabarkan hujan akan datang. Namun setiap kali dia melihat tanah kuburan Kiai Halim di samping jalan itu selalu lembap oleh air yang terus mengalir ke samping kuburan. Kadang air itu menggenang di atas gundukan tanah. Kadang mengalir sampai ke jalan-jalan, bahkan ke segala arah.

 

Lelaki itu kini beranjak dari depan kamar. Dia menghampiri kakek yang masih sibuk menaburkan kembang di atas kuburan Kiai Halim.

 

“Mengapa Kakek sering sekali ke sini?” tanyanya.

 

Kakek itu diam sejenak, kemudian bersimpuh di atas rumputan yang basah oleh aliran air dari kuburan Kiai Halim. Buliran air di atas rumput itu tampak seperti butiran-butiran mutiara berserakan ketika sinar rembulan membagikan cahaya pada malam yang begitu sunyi.

 

“Entahlah, Kakek juga tidak tahu. Namun banyak hal mesti kamu ketahui tentang kuburan ini,” kata kakek itu sambil menundukkan muka ke kuburan Kiai Halim yang sejak tadi dia taburi kembang.

 

Lelaki itu menghampiri. Ia duduk di samping kakek itu dengan rasa heran. Dahinya mengerut.

 

“Dulu, saat Kiai Halim masih hidup, negeri itu begitu tenteram. Kehidupan warga tidak seperti sekarang. Namun semenjak ia pergi, kerisauan menebar. Bahkan keturunannya pun dipandang buruk oleh sebagian warga. Apalagi setelah diketahui putri pertama itu menyimpan seorang lelaki di kamarnya. Sungguh, itu membuat orang-orang kabur dari kampung mereka.

 

Perlu kau tahu, air yang mengalir di kuburan Kiai Halim bukanlah siraman dari para peziarah. Bukan pula siraman air hujan dari langit. Itulah air tangisan.”

 

“Air tangisan?”

 

Lelaki itu makin heran mendengar perkataan si kakek.

 

***

 

Ya, itulah air mata kesedihan. Beberapa hari lalu, saya bermimpi melihat almarhum menangis. Ia mengenakan baju putih yang sebagian terselempangkan di satu bahu. Dengan air mata terus berlinang, dia memohon kepada sesosok makhluk yang saya tidak tahu itu siapa. Makhluk itu begitu aneh. Ia seperti semburat cahaya. Mata saya tak bisa melihat jelas sosok makhluk itu.

 

Berkali-kali ia memohon kepada sosok makhluk aneh itu agar dihidupkan kembali dari kematian. Namun sosok aneh itu tidak mengizinkan ia kembali ke dunia. Sebab, kematian dan kehidupan tidak bisa dipinta siapa pun, apa pun alasannya. “Kematian hanyalah kuasa-Nya,” kata sosok bercahaya itu.

 

Namun ia tetap memohon dengan segala cara agar kembali dihidupkan. Ia memohon dengan sangat. Kadang ia bersujud di hadapan makhluk aneh itu sambil terus menangis. Namun tetap saja makhluk aneh itu tidak membolehkan.

 

“Mengapa kau masih memilih hidup di sana daripada tempat yang nyaman di alam ini?” kata makhluk itu sebelum pergi.

 

Beberapa saat setelah itu, mata saya hanya bisa melihat almarhum Kiai Halim yang terus menangis. Lalu, almarhum menghampiri saya yang melihat dari kejauhan mereka bercakap-cakap. Ia menghampiri saya sambil menangis dan berkata, “Jika kau melihat kuburanku penuh genangan air yang terus mengalir, ketahuilah itu air mata tangisku untuk anak-cucuku dan orang-orang di Negeri Barbar.”

 

Lalu almarhum menghilang dari pandangan saya.

 

***

 

Usai menuturkan cerita, kakek itu menunduk seraya memejamkan mata. Seakan ia menyimpan kesedihan mendalam.

 

Malam itu, langit makin gelap. Tak ada bintang. Cahaya bulan pun perlahan meredup.

 

“Bagaimana kabar putrinya, Kek?”

 

“Entahlah, saya juga tidak tahu,” ujar kakek itu pelan. (28)

 

Kutub, 2018

 

Saleojung, kelahiran Sumenep, Madura, kuliah di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Sanggar Nuun Yogyakarta. Email: saleojung@gmail.com

 

[1] Disalin dari karya Saleojung

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 23 September 2018

 

The post Tangisan dari Bawah Tanah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QVNJfM

Budaya Indonesia, mencium tangan orangtua/yang dihormati.

  

KIAI Maimun tergolong ulama paling tua. Santri yang pernah mondok di pesantrennya jumlahnya jutaan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Mereka juga sudah dikenal di daerah masing-masing sebagai kiai dan mengajar di pesantren sehingga juga punya banyak murid. Karena itu wajar saja jika menjelang pileg dan pilpres seperti sekarang kandidat-kandidat bergantian datang minta doa restu kepada Kiai Maimun.

 

Meski mengaku netral secara politis, Kiai Maimun tetap saja bersedia menerima kedatangan kandidat-kandidat yang hendak bertarung di pileg dan pilpres. Baginya, semua kandidat yang datang di rumahnya adalah tamu yang tak boleh ditolak. Sebaliknya, mereka sebagai tamu harus dihormati, karena menghormati tamu itu bagian dari iman.

 

Tapi Kiai Maimun sering merenung sendirian di dalam kamarnya, setiap habis menerima kandidat yang bertamu di rumahnya. Renungannya tentang doa restu yang telah diminta mereka. Padahal, mereka semua ingin menang. Sedangkan keinginan mereka itu mustahil bisa terwujud, karena dalam pileg dan pilpres pasti ada yang kalah dan ada yang menang.

 

Doa restuku pasti saling beradu atau berbenturan di hadapan Tuhan,î gumam Kiai Maimun. Dadanya terasa agak sesak. Dibayangkannya Tuhan tidak mengabulkan doa restunya untuk kandidat-kandidat karena urusan demokrasi itu sepenuhnya hak rakyat. Bahkan selama ini ada pepatah bilang suara rakyat adalah suara Tuhan. Artinya, Tuhan sepenuhnya menyerahkan urusan demokrasi kepada manusia.

 

Kiai Maimun lalu teringat ayat suci yang menganjurkan manusia untuk berdoa kepada Tuhan. Bahkan Tuhan pun menegaskan: Berdoalah kepadaku, maka aku akan mengabulkan. Masalahnya, kalau doa harus diadu dengan doa, apakah semua akan dikabulkan?

 

Mustahil!î Kiai Maimun bergumam lagi. Ya, Tuhan pun punya sifat mustahil alias mokal, bukan? Dalam ilmu tauhid, Tuhan punya sifat wajib tapi juga punya sifat mokal alias mustahil. Sifat mokal Tuhan bisa dibuktikan oleh manusia dengan berdoa yang mustahil dikabulkan. Misalnya, manusia meminta Tuhan agar memberinya satu kontainer penuh berisi uang dalam bentuk terikat seperti uang yang ada di bank-bank. Ya jelas Tuhan mustahil mengabulkan doa seperti itu.

 

Lalu Kiai Maimun menduga kandidatkandidat yang datang di rumahnya maupun di rumah kiai-kiai lain sedang lupa bahwa Tuhan punya sifat mokal dan ada doa yang juga mustahil dikabulkan Tuhan. Atau, bisa saja mereka memang tak peduli apakah doa restu yang diminta itu tak akan dikabulkan Tuhan, karena bagi mereka yang penting mereka datang menemui ulama sehingga kesannya seolah-olah mereka didukung ulama.

 

Dalam kalkulasi politis, kandidat yang didukung ulama bisa lebih mudah meraup dukungan rakyat karena banyak rakyat yang ingin makmum kepada ulama termasuk makmum politik.

 

Kiai Maimun kembali membayangkan kandidat-kandidat yang pernah datang di rumahnya minta doa restu itu betul-betul cerdas, karena ingin membangun kesan seolah-olah ulama mendukung mereka. Sedangkan kesan itu sangat penting di ranah politik.

 

Dengan kata lain, di ranah politik, halhal yang hanya sebatas kesan alias hanya seolah-olah, memang sering dibangun untuk menarik dukungan rakyat. Faktanya, banyak rakyat mudah terkecoh oleh kesan yang dibangun politisi. Jadinya, tidak semua yang menang kontestasi demokrasi itu baik. Bahkan, faktanya, banyak yang menang kontestasi demokrasi ternyata busuk, misalnya terlibat korupsi, karena rakyat memang telah terkecoh dan memilihnya.

 

Tiba-tiba Kiai Maimun berlinang air mata. Tangisnya tersedu-sedu, karena tiba-tiba dirinya menyadari bahwa banyak rakyat terkecoh kemudian memilih kandidat yang busuk karena kandidat yang busuk itu pernah datang minta doa restu kepadanya sehingga muncul kesan seolah-olah kandidat itu baik dan mendapat dukungannya.

 

Tangisan Kiai Maimun sulit dihentikan, karena dirinya membayangkan kandidatkandidat yang hendak bertarung di pileg dan pilpres nanti mungkin juga akan busuk alias korupsi karena dipilih rakyat yang terkecoh oleh kesan seolah-olah mereka baik.

 

Kepala Kiai Maimun mendadak pusing. Matanya berkunang-kunang. Lalu dirinya ambruk di atas ranjang. Sebentar kemudian sudah tertidur lelap. Lalu bermimpi mengerikan: Kiai Maimun terkapar di tengah tanah lapang, dikelilingi kandidatkandidat yang pernah datang minta doa restunya. Mereka seperti serigala sedang lapar dan tiba-tiba serentak menyerangnya, mencabik-cabik sekujur tubuhnya. Kiai Maimun kesakitan dan tak berdaya. Tapi mereka makin ganas mencabik-cabik tubuh Kiai Maimun hingga menjadi serpihan-serpihan kecil… ❑-g

 

Kota Wali, 2018

 

Asmadji As Muchtar, Lahir di Pati, 06-07-1961. Dekan FIK Universitas Sains Al-Quran Wonosobo Jawa Tengah. Banyak menulis cerpen, esai dan puisi yang dimuat di sejumlah media.

 

[1]Disalin dari karya Asmadji As Muchtar

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 28 Oktober 2018

   

The post Kiai Maimun appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2F1kaYr

  

Tafsir Gunung (1)

 

seperti menhir

batu panjang menjulang tunggal

tegak pada putaran masa dan kuasa nasib

bukan karena perkasa namun disekap pasrah

tak sanggup menerka ramalan-ramalan

cuaca, arah dan bilangan-bilangan

 

serupa menhir

batu tunggal menjulang panjang

hanya mampu menjadi sekedar penanda

batas-batas asing yang kabur

lambang tubuh yang dipendam pasir dan batu

 

2018

 

Tafsir Gunung (2)

 

di ketinggian serupa phalus menjulang

adam menyembunyikan sisa rusuknya

yang kelak akan dimantrai menjadi gairah bercumbu

 

“di antara batu-batu itu akan kusembunyikan perempuan pesona itu!

guru tak akan tahu dan segala kitab alpa mencatatnya!”

 

segala tebing serupa phalus tetap bergetar

oleh syahwat di ubun-ubun

berubah kelelawar-kelelawar berdesir

beterbangan berebut merajut sangkar di selangkang

 

di batu-batu itu, di ketinggian itu

dipahat riwayat birahi sepasang perayu

 

2018

 

Tafsir Pesisir

 

lebih beku dari larut paling malam

lebih muskil dari siluet kabur di halimun

mencatat jejak-jejak samar di pasir pesisir

maka:

kisah-kisah itu bangkit kembali

melambai-lambai pada keanehan-keanehan masa kecil

yang diabukan matahari dan asin air laut

 

ah, pesisir ini cuma ceruk waktu

pasir yang mengocok langit dan garam

merangkum kembali sorak-sorai anak-anak memburu

ubur-ubur dan cipratan-cipratan gelombang pasang

 

pesisir ini adalah ritual raksasa menghitung mundur

putar jarum jam

tempat menunggu nelayan pulang mengalahkan

musim

: melawan keriput menolak uban!

harapan dan ingatan boleh dikikis dan terkikis

seperti ganggang yang dipreteli debur ombak dan

sayatan mulut ikan

namun usia tak boleh takluk pada kehendak waktu

seperti para mualim tak pernah menangisi rindunya

pada segala syahbandar

 

di sepanjang pesisir legenda-legenda itu bangkit

kembali melambai

bertabik pada geliat karang dan kegaduhan perahuperahu

di sepanjang pesisir selalu ada yang menunggu mereka

yang melambai

di sepanjang pesisir masih ada yang mempertanyakan

sisa-sisa yang kabur.

 

2018-2019

 

Menuju Fana

 

/1/

selalu saja ada yang terbang. lepas dan melenggang

begitu saja.

seperti laron yang memburu pagi. memburu arah utara

 

/2/

dipanggilnya nama-nama itu, segenap nama yang

dihafalnya

namun semuanya berkelebat dengan diam.

dia mendengar lonceng-lonceng bergemerincing. seolah

berbisik

: mungkin ini malam terakhir. melambailah!

 

gemerincing lonceng itu mengguncang pelan

 

/3/

terburu-buru, ia akhiri doa yang mestinya panjang itu.

: ini musim penghujan. mendung meratapi bulir-bulir

airnya

sekejap lagi menetes diserap tanah atau ditelan laut

dahaga

 

/4/

antara ranting cemara dan gugur daun akasia

manakah yang lebih dicintai bumi?

Ngawi-gresik, februari 2019

 

*) Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969 dari keluarga guru. Saat ini sedang menyelesaikan program doktoralnya di Unesa. Menulis puisi, cerpen, esai sastra, budaya, sosial dan pendidikan dipublikasikan di berbagai media massa. Tingga; di Jalan Teuku Umar Ngawi.

 

[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 24 Februari 2019

 

The post Menuju Fana appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2GLaWPK

  

Saksi

:Kepada pencari caya

 

Geriap angin memangku doa

Sekerat senja dan seringkih rel jadi saksi

Seorang pemuda mencangkuli harap

Peluhnya basahi sukma

Menerjemahkan waktu jadi titian caya

Di ladang zikir sunyi yang memapahnya

Langkahnya jadi sepecut mimpi

Untuk bagian jantung-jantungnya

 

Bandung, 1 September 2018

 

Wajah Senja

 

Ada mimpi yang menggumpal

Di landai matamu

Melayang bersama liuk angin

Menjadi gugusan awan harap

Di rona pipi senja kali ini

 

Tasikmalaya, 28 Juli 2018

 

Kepada Dirimu

 

: Untuk Putri Anisa

 

Zikirku mengalir deras

menguyupkan doa-doa

kepada dirimu di hilir sepertiga malam

melangitkan harap

menggugurkan gigil sunyi

sebab dirimu

telah termaktub di eloknya waktu

kala semesta bertakbir

di tepi sujud sajadah tiga dekade

embus napasku

 

Bandung, 15 Juni 2018

 

Kepada Ibunda

 

Saat purnama tiba

Raut wajah itu berkelebatan

Di dalam kandil sukmaku yang lindap

Yang bertasbih pada sulur-sulur doa

 

Membuka tingkap rindu

Dan memapah harap yang rida

Air mataku menangis

Sementara ragamu raib ditelan bumi

 

Bandung, 25 April 2018

 

Turnolov

 

Sang dewi malam belah

Dan jatuh di pelupuk netra kekasih

 

Cihampelas, 16 September 2018

 

Katarsis

 

/1/

Di antara gurat dan pekat malam

kau menjelmajadi denting-denting sunyi

di balik kerlip kandil

yang tak pernah padam itu

 

/2/

Kau suguh bongkahan memori

di kala aku berjalan di sudut waktu

memakai kemeja putih polos

berkancing hangatmu

 

/3/

Kesabaranmu pertanda langit

yang ikhlas mengungkung hujan

doa-doamu kini mengental di samudra nadiku

 

/4/

Tanpamu aku seumpama perahu

yang berlayar tanpa arah

 

/5/

Ayah

 

Majalaya, 17 Oktober 2018

 

– Adytia Nugraha lahir di Bandung, 15 Juni 1989. Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (2012) ini menerbitkan buku puisi tunggal Puisi dan Intuisi (2018). (28)

 

[1] Disalin dari karya Adytia Nugraha

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 230 Desember 2018

 

The post Saksi – Wajah Senja appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2R2Lz1t

  

MINGGU lalu, ada bangkai anjing tergeletak di pinggir jalan dekat pematang. Dan hari ini lagi, tapi bukan anjing. Mayat seorang laki-laki ditemukan mengambang di sungai dengan tangan dan kaki terikat. Awalnya mungkin mengerikan. Namun, di tempat ini, karena begitu banyak mayat tergeletak begitu saja hampir setiap minggu, kejadian ini pun akhirnya dianggap biasa.

 

“Mayat manusia ternyata…”

 

“Lagi?”

 

“Ya.”

 

Begitu kiranya obrolan orang-orang. Singkat dan sederhana. Wajah mereka datar, tidak menggambarkan simpati dan kengerian. Barangkali di tempat lain orang-orang bakal heboh, dan akan timbul dugaan macam-macam. Polisi bakal langsung melakukan penyidikan. Tapi itu tidak terjadi di tempat ini. Biasa saja, bahkan polisi hanya mendeham dan menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Tuan-tuan dan Nyonya tidak perlu risau, kita sedang bekerja keras mengatasi ini semua. Jadi tenang, semua cukup tenang saja. Minggu depan semoga tak ada mayat lagi karena sejujurnya kuburan di tempat kita ini juga mulai penuh. Jadi sebisa mungkin jaga diri Tuan-tuan dan Nyonya, dan satu lagi; banyaklah berdoa dan jangan lupa makan.”

 

Ya, begitulah kata pejabat di kota ini melalui radio.

 

Namun ternyata kejadiannya tak sesederhana itu. Karena hampir setiap minggu selalu ditemukan mayat, entah itu manusia atau makhluk lainnya, tempat ini akhirnya jarang dikunjungi orang-orang dari luar. Banyak perusahaan bangkrut dan sebagian orang mesti jerih payah berkebun untuk bisa makan. Dan akhirnya begitulah, terembus kabar bahwa tempat ini dinamai Kota Mayat oleh orang-orang luar.

 

Mayat, mayat, ada mayat mengapung… mayat tidur di jalanan. Orang-orang lapar jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak kurus curi ayam, bayi dijual. Mayat, mayat….

 

Namun, seperti baik dan buruk yang selalu ada, kejadian di tempat ini juga demikian. Banyak mayat tergeletak tak mesti menyebabkan keburukan. Baiknya adalah setiap orang-orang kelaparan mendadak menjadi manusia yang paling baik. Persaudaraan terjalin karena mereka merasakan hal yang sama. Meskipun miskin dan sering lapar, mereka tak pernah lupa saling berbagi satu sama lain. Bukan apa, karena tak akan ada yang tahu mayat siapa besok yang bakal tergeletak. Barangkali mayatku, mayatmu, atau entah mayat siapa.

 

***

 

“Ada mayat lagi di selokan.”

 

“Manusia?”

 

“Entah, tapi besar. Barangkali sapi, atau babi.”

 

“Manusia juga bisa.”

 

“Tidak, tidak, yang ini besar. Orang-orang di sini kurus semua.”

 

“Tidak semua, kamu tahu ada mereka, kan?”

 

“Justru tidak mungkin kalau bagian dari mereka.”

 

“Lantas?”

 

“Entah, siapa peduli memang? Toh, itu cuma mayat.”

 

“Benar juga. Biarkan polisi yang cari tahu, kita cukup cari makan.”

 

“Nah…”

 

Ditemukan mayat lagi hari ini. Cukup besar juga, dan ternyata setelah polisi mendeham dan menggeleng, mereka memastikan bahwa itu mayat manusia, tergeletak begitu saja di selokan dengan mulut tersumpal karung beras.

 

“Mayat manusia ternyata…”

 

“Ya. Tapi besar juga ya.”

 

“Bahaya.”

 

“Ya.”

 

Selanjutnya, tak seperti hari-hari biasa saat ditemukan seonggok mayat. Hari ini lain, beberapa orang di kota kami mendadak sibuk dan pandangannya itu, pandangan tajam seperti menaruh curiga saat memandang. Berarti kejadian ini mulai dianggap serius, pejabat tak lagi sekadar menenangkan lewat radio, polisi tak lagi sekadar mendeham dan menggeleng-gelengkan kepala. Semua mendadak sibuk mencari tahu. Karena mayat yang ditemukan hari ini adalah bagian dari mereka. Sebelumnya ini tak pernah terjadi, mayat besar baru ditemukan kali ini.

 

Mayat, mayat, ada mayat besar mengapung… mayat besar tidur di jalanan. Orang-orang kenyang jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak gemuk kekenyangan, bayi dibeli. Mayat, mayat….

 

Mayat yang ditemukan hari ini begitu penting. Semua orang mesti berduka dan berkabung tidak terkecuali. Semua kegiatan cari makan harus dihentikan, semua mesti datang ke rumah duka untuk berduka.

 

Maka berbondong orang-orang di kota menuju rumah duka. Semua tampak mengerikan seperti barisan mayat berjalan yang sedang diawasi malaikat pencabut nyawa dan burung pemakan bangkai. Begitu kurus, mata orang-orang itu sayu, pakaian compang-camping, dan mereka semua diarahkan berbaris rapi selayaknya orang-orang normal.

 

“Semua mesti berduka tidak terkecuali! Dan selepas ini, jangan harap kami bakal memberi jatah beras lebih untuk kalian. Semua jatah bahan pokok akan kita potong karena kalian sudah berani memberontak.”

 

Apa maksudnya?

 

“Saya tahu, satu di antara kalian atau bahkan kalian semua adalah pembunuh!”

 

Ooo, jadi begitu. Orang-orang kurus-yang seperti mayat berjalan-itu dicurigai sebagai pembunuh mayat yang ditemukan hari ini.

 

“Tapi sekarang, berkabung dulu!”

 

Mereka-orang-orang kurus itu-hanya menurut, berbaris macam ular dan semua wajah menggambarkan kesedihan. Wajah sedih itu memang tidak dibuat-buat, barangkali mereka memang benar-benar sedih. Bukan perkara soal mayat yang ditemukan hari ini, itu tidak perlu, yang lebih penting adalah soal nasib dan perut mereka. Hari ini mesti berkabung dan artinya satu hari penuh mereka bakal lebih lapar.

 

Kota mendadak sepi, semua orang berada di rumah duka itu. Tangis pecah, tangis yang dibuat-buat. Tapi tidak semua, mereka—orang-orang berperut besar—mungkin menangis sungguhan. Terutama keluarga yang ditinggalkan. Apalagi rumah duka ini sangat besar, halaman seluas lapangan sepak bola dan bertingkat empat. Barangkali mereka juga sedih karena rumah besar ini berkurang satu penghuninya. Dan tentu, akan terasa lebih sepi dan sunyi dari biasanya. Tapi baiknya, pejabat di kota ini sepakat akan memberi tunjangan besar kepada keluarga yang ditinggalkan, juga sebagai permohonan maaf karena sebuah kelalaian.

 

“Tolong, secepatnya ini diusut. Saya ingin tahu segera siapa yang membunuh suami saya,” kata istri mayat yang ditemukan hari ini itu. Ia berkata sambil berkacak pinggang di hadapan banyak pejabat lain. Tubuhnya juga gemuk dan perhiasan miliknya berkilauan memantulkan cahaya lampu.

 

“Tentu, Nyonya. Segera, masalah ini akan segera kami selesaikan, supaya tidak terulang. Selepas ini kami akan menanyai mereka, bila perlu akan kami gunakan ketegasan supaya ada yang mengaku. Nyonya tenang saja.”

 

Pimpinan pejabat di kota segera keluar dari ruang tamu menuju luar rumah. Di halaman, orang-orang kurus itu tetap saja berbaris dan pura-pura menangis. Pimpinan pejabat itu lantas berbicara lantang di hadapan mereka semua.

 

“Siapa!? Siapa pembunuh itu!? Cepat mengaku! Kalau tidak, besok dan seterusnya tak akan ada lagi jatah beras! Biar semua mati kelaparan. Mayat harus dibayar mayat! Pemberontak harus mati atas nama hukum!”

 

Dalam barisan, orang-orang kurus itu saling pandang satu sama lain. Mereka masih saja diam meskipun atas nama hukum telah dilontarkan.

 

“Baik, kalau tidak ada yang mau mengaku, saya akan berikan ketegasan saya!” ujarnya geram.

 

Tiba-tiba ada satu orang kurus yang mengacungkan jari. Semua memandangnya, menunggu.

 

“Atas nama hukum juga, kita mesti bayar mayat dengan mayat, lapar dengan lapar, tidak boleh tidak! Inilah saatnya! Gunakan sisa lapar terakhir kita!” orang itu bersorak, diikuti oleh seluruh orang kurus yang sebelumnya berbaris rapi. Dari balik baju, mereka mengeluarkan berbagai macam senjata tajam: arit, golok, pisau dapur karatan, dan banyak lagi.

 

Dan begitulah, hari ini akan menjadi penentu, apakah esok dan seterusnya mayat yang ditemukan adalah mayat besar atau mayat kecil, mayat kurus, atau mayat gemuk. Atau bisa jadi keduanya, dan nama Kota Mayat akan selalu melekat selamanya.

 

Mayat, mayat, ada mayat mengapung… mayat tidur di jalanan. Orang-orang lapar jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak kurus curi ayam, bayi dijual. Mayat, mayat. Mayat dibayar mayat, orang-orang lapar marah menuntut kebiadaban mati jadi mayat….

 

Haryo Pamungkas, lahir di Jember, Jawa Timur. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring.

 

[1] Disalin dari karya Haryo Pamungkas

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi Akhir Pekan 27-28 Oktober 2018

 

The post Kota Mayat appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2CRMEBc

  

Di Kota Baru Baucau

 

:Faustino

 

kau punya hujah sendiri untuk berdiri di gerbang itu

memberi hormat ketika merah putih berkibar

kau selalu memiliki helah untuk selalu lewati jalan itu

mendengarkan suaranya memantul dari bahu-bahu

jalan

 

lalu kau resapi tembang Jembatan Merah

yang membuat matamu basah

tanyamu: apakah kita sama-sama punya hati yang

tinggal sebelah?

dia wanita Jawa, diamnya adalah kesepakatannya

dan sepotong hatimu utuh kembali

 

tapi waktu tak abadi

sejarah bicara dari dua kepala

di kota Baucau, kalian berjalan ke arah yang berbeda

menahan kesakitan, membekap separuh hati yang

memar

 

Di Dili

 

tolong bacakan nama-nama jalan yang susah kueja itu

entah berapa purnama aku belajar melafalkan

dan aku masih di distrito ini, berputar-putar di rua-

rua

dari sucos ke sucos, dari aldeias ke aldeias

 

hanya perihal nama, ucapmu

tanah ini masih tempat terbitnya matahari

fajar tetap potongan harapan yang menunggu orang-

orang datang

seperti sajak abadi yang tersimpan di sepanjang

pantai kelapa

 

ini hanya tentang garis batas yang dibuat manusia,

katamu

sementara kau pergi berdansa dengan kekasihmu

aku di dapur, merebus mi instan,

sendirian.

 

Di Ermera

 

barangkali benar, pertemuan hanya seusia embun

tapi kisah-kisah mengabadi dengan caranya sendiri

kau tahu pasti, bagaimana aku jatuh hati

pada tanah di mana kau bernapas

bukit-bukitnya, sabananya, madrecacaunya, aroma

kopinya

 

di tepi Sungai Gleno kita lepas kacamata hitam putih

saat membaca sejarah

seperti hari ini, masih kutulis sajak perihal tanahmu,

tempat terbit matahari itu

dan sekali lagi, aku menamainya

:esperansa

 

Di Kota Lama

 

:Faustino

 

ini perihal lelaki yang memesan dua cangkir kopi

katamu; untuk yang bernama kenangan

kita bersisian, menyusuri jalanan melingkar di

perbukitan Baucau

di kota tua, tak ada ingatan yang merapuh bersama

waktu

surat-surat kecil di keramaian mercado municipal

gadis Portugis yang berjalan dengan keranjang

belanja

bagaimana diam-diam kau masukkan lipatan amplop

ke dalam keranjangnya

 

kalian bertukar mimpi, berbagi harapan

namun semua lebur ketika revolusi bunga mekar

kekasihmu pergi,

membawa separuh hatimu yang tak pernah kembali

 

Di Comoro

 

perihal rencanakan pertemuan itu

aku tahu, kita sama-sama tak ingin mengingatnya

tapi kartu pos bergambar bandara Comoro itu

membuatku seperti dormouse

yang terbangun oleh embun beku

di musim dingin

 

Di Atambua

di atas jembatan air mata,

yang menjadi batas negerimu dan negeriku

kau dan aku pernah membaca sajak Neruda:

“Kita bahkan telah kehilangan senja ini”

 

ribuan senja kemudian

aku baru menyadari

sesungguhnya, hanya senja itu

yang pernah kita miliki

 

Romantique 5

 

bagi penyair, pertemuan pendek adalah

sajak panjang di serentang jalan pulang

pagar-pagar,

rumah-rumah,

daun pintu,

bangku kayu di beranda

adalah halaman-halaman tempat menjatuhkan kata-

kata

di mana kenangan dibangun dan disimpan

untuk kelak dibuka-buka kembali

 

bagi penyair

pertemuan sekejap, adalah sajak panjang

yang tak habis-habis dituliskan

meski berkali-kali, meski berulang-ulang

 

Shabrina Ws, tinggal di Sidoarjo. Beberapa novel yang telah terbit, di antaranya Rahasia Pelangi, PING, Always Be in Your Heart, Betang; Cinta yang Tumbuh dalam Diam, dan Sauh.

 

[1] Disalin dari karya Shabrina Ws

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 14 Oktober 2018

 

.

   

The post Di Kota Baru Baucau appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QQmLFl

  

Hingga kini kau masih di dasar kedung1 di daerah Jojogan2, menjaga mayatmu sendiri, yang tak lapuk meski terendam air dalam kurun bertahun-tahun. Mayat yang sungguh menyedihkan; dadanya terluka dan kakinya diikat dengan tali yang disangkutkan pada batu besar sehingga tak mungkin untuk mengapung. Kau tidak ingin hidup kembali karena perempuan yang kau agungkan sudah memilih mengurung diri di gua sampai mati, di balik air terjun biru tua (air terjun yang gaduh, riuh, seolah itu ungkapan ‘aduh’ dari air yang jatuh), tepat di atas kedung itu. Dan, toh, meskipun ingin kembali, kau tidak mungkin bisa melakukannya. Tubuhmu sudah menjadi mayat.

 

Perempuan yang kau agungkan mati tidak meninggalkan apa-apa kecuali keris lancip berukiran naga tua. Keris peninggalan seorang ibu yang pernah menembus jantungmu.

 

Itu terjadi pada suatu pagi yang tak sempat kau catat sebagai hari paling mengerikan seumur hidupmu. Kau mengunjungi rumah perempuan yang kau cintai. Perempuan yang kelak dalam sebuah dongengan Tuban disebut sebagai Putri Nglirip.

 

Seorang gadis cantik, yang kira-kira deskripsi lengkapnya seperti ini: berambut panjang hitam legam, kulit putih alami, gigi rapi, hidung mancung, dan wajah mungil yang menyimpan bahagia.

 

Kau mengetuk pintu rumahnya dan ia membuka pintu itu. Ia menyambutmu. Ia, dengan kesendiriannya, mengaku bosan di rumah setiap hari. Tanpa banyak bicara, kau menggandeng tangannya dan berjalan menuju lembah tempat air terjun berada. Sepanjang jalan, wajahnya ceria dan memang semenjak mengenalmu, ia selalu terlihat ceria. Padahal, sebelumnya, kau tahu ia selalu murung sejak kehilangan seorang ibu yang kebetulan sudah janda. Seorang ibu yang mati karena sakit dan tak punya biaya berobat ke dukun.

 

Di situlah, di sebuah lembah, kalian duduk berdua memandangi air terjun, atau orang-orang di situ memanggilnya grojogan. Kau selalu suka dengan suara air terjun. Meski gaduh, kau tetap menyukai suara itu. Suara yang tidak mengganggu sebagaimana sorak-sorai manusia menyanjung rajanya, atau lantunan tembang-tembang dari mulut orang buta nada. Jadi, kau selalu bisa merenungkan sesuatu jika berada di tempat itu. Sesuatu yang kadang-kadang bisa menjadi kidung-kidung sederhana untuk menyanjung Si Putri atau menjunjung keagungan Roh Nenek Moyang.

 

Tetapi, pagi itu kau tidak merenungkan apa pun. Sebab, kau akan mengajak Putri bicara tentang suatu hari ketika kau harus menikahinya. Bagaimanapun juga, ia orang yang kau cintai dan kau orang yang dicintainya. Kau tak ingin hari-harimu penuh dengan pekerjaan membosankan: dari waktu ke waktu hanya memintal rindu, hanya melumat jarak dengan khayalan-khayalanmu. Kau ingin satu rumah dengannya dan mengisi rumah itu dengan cerita-cerita bahagia.

 

Di tengah perbincangan mengenai pernikahan itulah, tiba-tiba datang seorang lelaki dengan tubuhnya yang kekar, memakai baju perang dan di tangannya terdapat keris yang ia genggam. Bagaimana ia bisa ada di sini dan kenapa ada keris di tangannya, kau tidak tahu. Yang jelas, kau kenal persis, keris itu milik ibumu. Ah, bukan. Keris itu sudah milik Putri Nglirip.

 

Kau masih ingat satu tahun yang lalu, benda itu kau berikan pada Putri Nglirip yang kira-kira begini kronologinya:

“Aku punya sesuatu untukmu,” katamu sambil mengeluarkan keris lancip sepanjang lengan manusia yang kau selempangkan di balik punggung. Ia terperanjat. Tetapi, perlahan, tangannya menyentuh keris itu. Matanya menatap matamu seolah tak percaya di dunia ini kau punya sesuatu yang berharga selain kelamin dan kesetiaan.

 

“Anggap saja sekarang aku melamarmu,” katamu. Ia mula-mula tertegun, kemudian tak lama, kalau dalam hitungan waktu kira-kira satu menit lebih dua detik, ia tersenyum. Senyum yang membungkam semua perkataan dan hanya menghasilkan anggukan. Kau akhirnya mengikuti gerak-geriknya: tersenyum dan mengangguk-angguk.

 

“Siapa dia?” bisikmu ke telinga Putri ketika lelaki itu mendekat.

 

“Aku tidak tahu,” balasnya dengan nada suara bergetar. Kakinya perlahan mundur. Ia ketakutan. “Kenapa keris itu dia yang pegang?”

 

Putri menundukkan kepala. “Aku tidak tahu. Keris itu hilang sudah tiga hari yang lalu. Aku ingin memberi tahumu, tapi takut kamu marah. Aku takut kamu.

 

Belum lengkap Putri bicara, ada banyak orang datang dari arah belakangmu. Semuanya memakai peralatan lengkap. Lengkap di sini berarti baju perang khas prajurit, tameng, pedang yang mengilat, dan wajah bengis yang tega melihat darah siapa pun mengalir. Itu sebenarnya sungguh tidak adil bagi peraturan peperangan di tempat mana pun. Tetapi, sebagai lelaki, kau akan tetap berusaha melawan.

 

Jelas, sekarang kau telah terperangkap. Di sekitar grojogan itu, tidak ada siapa-siapa, kecuali kau, Putri, dan orang-orang yang akan membunuhmu. Dan ketika mereka menyerbumu, kau berusaha melawan, dan tentu saja sudah bisa diduga pada akhirnya. Dalam waktu singkat, kau sudah menjadi orang paling menderita.

 

Sebelum benar-benar mati, kau dibawa ke hadapan seorang lelaki tua. Pikirmu itu adalah raja. Dan, ya, memang benar. Itu adalah rajanya. Dalam keadaan yang tidak berdaya, kau ditenteng, dan tanpa aba-aba, lelaki tua dengan tawa liciknya, menusukkan keris itu ke dadamu.

 

Dadamu bersimbah darah, matamu berkunang-kunang, dan entah detik ke berapa, detak jantungmu berhenti. Kau tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Ah, bukan, bukan itu maksudnya. Kau tetap tahu apa yang terjadi selanjutnya. Hanya, kau bisa tahu karena mata arwahmu, dan kau tidak mungkin melawan atas itu. Ketika tanganmu mengepal dan memukul satu per satu dari mereka, kau hanya memukul kehampaan. Duniamu dan dunia mereka sudah berbeda.

 

Ketika orang-orang itu mengikatkan mayatmu (tepatnya di bagian kaki) ke batu besar dan batu itu diceburkan ke dalam kedung, kau kecewa dengan dirimu sendiri karena tidak bisa melawan.

 

Lantas kau menangis ketika tahu orang-orang itu membawa kekasihmu, dan kau juga tidak bisa berbuat apa pun. Kau mengikuti arah langkah mereka dan menyesal kenapa hal itu kau lakukan. Mereka menaikkan Putri ke andong secara paksa. Mereka membawa Putri ke utara, yang kau pasti tahu, kerajaan Tuban. Dan kau berpikir bahwa pastilah Putri akan dijadikan istri raja itu (entah istri yang keberapa).

 

Orang-orang Jojogan tidak tahu apa yang terjadi (atau memang mereka takut ikut campur ketika pasukan beserta rajanya datang ke grojogan?). Kebanyakan mereka datang ke sana seusai kejadian pembunuhan itu. Mereka tahu ada pembunuhan di sana karena darah berceceran. Tetapi, mereka tidak tahu siapa korbannya.

 

Baru setelah beberapa hari berlalu, mereka tahu. Ada yang hilang di antara mereka: dirimu dan Putri Nglirip.

 

Setahun kemudian, ketika kau termenung di bawah air terjun, pada suatu malam yang menyediakan bulan purnama di atas langit, Putri datang kembali. Entah bagaimana cara ia kembali. Yang jelas tubuhnya tak seindah dulu dan wajahnya tidak sebahagia pada saat bersamamu. Putri menjadi pendiam, dan bahkan bisa dikatakan bisu. Kau terus menyaksikan apa yang dilakukan Putri: berenang di permukaan kedung dan menuju gua di balik air terjun.

 

Arwahmu kemudian melayang mengikutinya. Tetapi, entah kenapa ketika ketika ingin memasuki gua itu, arwahmu terpental. Apakah gua ini hanya diciptakan untuk perempuan, pikirmu. Dan memang, gua itu hanya diciptakan untuk perempuan. Akhirnya, kau kembali bersedih, turun ke dasar kedung dan menunggui mayatmu sendiri. Mayat yang tidak bisa lapuk. Entah kenapa.

 

Ya, kau adalah Joko Lelono, pemuda miskin dari Jojogan itu. Pemuda yang berusaha setia terhadap perempuan yang dicintainya. Tetapi, di dunia ini memang kesetiaan selalu kalah dengan kekuasaan.

 

Waktu-waktu berikutnya, kau akan lihat betapa setiap tahun air terjun itu selalu meminta tumbal seorang perjaka sehingga orang-orang Jojogan mengubah namanya dari grojogan menjadi Nglirip. Mereka percaya, Putri Nglirip telah menjadi ratu di air terjun itu, dan umumnya ratu, selalu meminta tumbal untuk kebahagiaannya.

 

[1] Disalin dari karya Daruz Armedian

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 4 November 2018

 

The post Keris Lancip Putri Nglirip appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2RD2C6l

  

SUATU pagi di bulan Desember 2118, seorang lelaki turun dari surga melalui kran air yang sedang terbuka. Ia menyusuri pipa-pipa logam, pipa-pipa paralon dan akhirnya melewati kran stainless mendarat di sebuah wastafel di apartemen ini. Kulit lelaki itu beberapa kali tergores benda-benda tajam yang mencuat di beberapa bagian pipa.

 

Kini ia berada di sini, di sebuah kamar apartemen yang entah di mana. Ia menarik napas dalam-dalam menikmati oksigen, menikmati penyejuk ruangan yang menyala, dan berjuang untuk tidak buru-buru berusaha mencari tahu di mana ia kini berada.

 

Tidak ada orang di ruangan utama apartemen ini. Ia sendirian, tetapi ia tidak begitu yakin. Ia muncul dari lubang kran air dengan pakaian serba putih yang kini basah dan bernoda lumut hijau kecokelatan, rambutnya berwarna kemerahan yang disisir ditarik ke belakang. Lelaki itu melirik ke kiri lalu ke kanan, mengamati sekeliling. Gerak-gerik lelaki itu terlihat perlahan dan tampak santai.

 

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke sebuah kamar. Perempuan itu memejamkan mata. Membukanya. Menyipitkan mata. Kenapa cahaya ini terang sekali? Perempuan itu lantas terbangun dengan gusar ketika ia mendengar suara air yang mengalir dari kran. ”Ah, aku lupa menutup kran air,” pikirnya. Ia membuka matanya, mengira dirinya terbaring di tempat tidur bukan miliknya. Ia bangkit menuju pintu kamar.

 

Langkah perempuan itu terhenti begitu ia melihat sosok lelaki dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia lantas mendorong pintu. Perempuan itu sedang gundah, tertegun karena kehadiran lelaki berpakaian serba putih dengan rambut kemerahan.

 

Lelaki itu tersenyum penuh arti saat melihat perempuan itu tertegun. “Ini saatnya!”

 

Kepala perempuan itu berdentam begitu keras sampai ia berpikir kepalanya akan meledak. Ia merasa lidahnya terasa kering dan terbakar seolah ada makhluk kecil merayap masuk dan mati di dalamnya. Lelaki itu adalah satu-satunya hal yang patut dikenang dari kehidupan perempuan itu sebagai manusia yang mengidap penyakit parah tak tersembuhkan.

 

***

 

Suatu pagi di bulan Desember 2018, Aku meninggalkan istriku tanpa memberikan penjelasan apa pun, aku pergi meninggalkan apartemenku di Kalibata City, Jakarta Selatan. Semalamnya aku pun tak pulang ke rumah. Aku hanya kembali untuk berkemas seolah aku akan mengadakan perjalanan dinas.

 

Memang bukan sekali itu saja aku meninggalkan rumah, menginap entah di mana. Berkali-kali pula aku berkencan dengan perempuan-perempuan lain, dan ini berlanjut dengan pertengkaran antara aku dan istriku, disusul oleh pembaharuan janji setia, yang akan kulanggar pula sesaat sesudahnya. Kali ini, aku pergi dan tak akan benar-benar kembali.

 

Namun, 100 tahun kemudian aku diminta turun dari surga melalui kran air yang sedang terbuka ke sebuah apartemen sebagai malaikat pencabut nyawa. ❑-e

 

Jakarta, 11-11-2018

 

*) Bamby Cahyadi, lahir di Manado 5 Maret 1970. Ia hanya menulis berbagai tema cerita pendek. Kesehariannya ia bekerja di industri Food and Beverages sebagai Operation Manager. Buku kumpulan cerpen terbarunya ’Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah’ (2016).

 

[1] Disalin dari karya Bamby Cahyadi

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 17 Maret 2019

 

The post Lelaki Surga appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2W9rCnZ

  

Gerimis Menulis

 

Gerimis baru saja menulis di reranting (di jalan-jalan yang buram

tak berhuruf). Rambu-rambu hilang sebagai isyarat arah

kota masih basah. Jam berkelonengan di ujung musim

 

kau masih bersidekap, mengekalkan masa silam sebagai catatan

yang diam-diam disimpan dalam kenangan, yang kembali pada

kalimat yang menyisakan air mata. Ke manakah bayanganmu?

 

tak ada yang bisa dibaca. Tak ada cinta yang sisa di malam ini

ketika waktu menyergap dalam gelap, dan kita tergagap mencari diri.

 

Februari 2018.

 

Huruf yang Menjadi Isyarat

 

Sampai berapa huruf akan menjadi isyarat, kita telah sampai

Pada masa silam yang lupa kita tulis di dalam bayang

Bayang yang sembunyi di dalam cermin, berkabut dan kusut

 

Berapa abjad yang telah kita rekonstruksi menjadi sunyi

Dari mimpi dan kenangan yang buram, yang kita

Biarkan melayang, melesap ke atas ketinggian langit

‘Tak ada makna lagi. Huruf-huruf berdiam dalam tafakur.’

 

Februari 2018.

 

Sebuah Patung yang Duduk di Bangku

 

siapakah yang menyihir? Diam-diam kau menjadi sebuah patung batu

sendiri bermenung di antara guguran salju. Sebuah gerimis atau musim

dari yang berpulang pada laut, dan ombak yang menghampir tak bersuara

 

“Kaukah yang terbenam di antara lalu lalang orang yang gigil dan terisak mencari sesuatu yang hilang dari masa silam yang memanggil”

 

Matahari dari arah utara, dan angin yang membawa gumpalan awan

bertemu dalam garis horison, pada sebuah titik yang membiaskan cahaya

memencar di balik layar dan palka kapal yang tertunda bersandar di dermaga

 

Siapakah yang menyihir? Tubuhmu kaku, dingin dan serupa patung batu

diam di dalam cuaca yang berputar, seperti ada yang kehilangan rindu.

 

Vollendam, Desember 2017.

 

Zeralda

 

Apa yang terpikir dalam diam-mu? Selain senyap

Waktu pun diam-diam lindap

Ruang-ruang menyimpan suara yang menyelinap

Ketika kekekalan menjadi gelisah tertangkap

 

Udara berubah cepat, cuaca tergantung pucat

Cahaya menyala, suara-suara tak sampai

Di antara kursi, meja dan tempat tidur yang berat

Menahan kantuk dan tubuh yang letih sangsai

 

Di luar malam, seseorang membawa gerimis air mata

Kepada siapa ia akan membawa-mu di balik warna

Gelap yang tak tergambar apa-apa, kaukah yang lupa?

 

Akan sampai juga suara jejak langkah kita

Di tanah yang basah, di antara dedaunan dan reranting rebah

Menghampir jarak perjalanan menuju sunyi marwah.

 

Oktober 2016.

 

Narasi di Koran

 

tak ada lagi kalimat yang bening. Huruf-huruf dan kata mengalir

dari lidah yang membusuk dan anyir. Helai-helai masa silam tanggal

dari dinding headline yang pucat dan berdarah

 

selalu ada ledakan dan bom. Dalam pikiran yang terluka dan lupa

untuk menjaga sebuah peradaban dari tubuh senyawa air mata

kita tak lagi membicarakan rumah dan anak-anak yang kehilangan makna

 

pada jejak langkah bapak dan ibu yang berbagi suara dan rindu

tak ada lagi kalimat yang sampai. Orang-orang diam dan tak bicara

 

menjadi patung yang tegak dan berkedip-kedip.

 

Takdir Daun

 

mengapa daun-daun harus luruh? Dan kau masih setia menunggu

waktu mencatat gugurannya di musim yang telah dirindu

 

seseorang yang memetik waktu sebelum cuaca jadi senyap

dan basah di dinding kota di antara taman dan jalan cahaya

 

selembar daun yang koyak, urat syarafnya terbukakaukah yang membawa suara? Menjadi gaung di denyut tubuh

 

: siapa yang meluruhkan daun-daun sebelum kau terkesiap

dan gemetar menatap bayang-bayang memintas gelap.

 

Desember 2017.

 

Nubuat Kerinduan

 

“Kautulis aku di dedaunan sebagai

embun waktu yang bening bercahaya

Menetes di urat syaraf reranting

merasakan kesenyapan napas musim”

 

# Pertemuan kita adalah antara cahaya dan gelap

Dalam cahaya ada lorong

yang mengalirkan air mata

 

Dalam gelap ada ruang

yang tak pernah berakhir dalam arah

 

Mencari jejak yang tak berbagi langkah

dalam gelisah tubuh senyap

 

Kita ada di kedalaman diam, menggigil

dan napas terus berzikir memanggil

 

#

Kita tak menghitung jarak, seberapa jauh denyut dan jantung

seberapa dekat napas dan embus

 

Kita membaca kata, seberapa dalam makna yang tertulis

antara kalimat dan suara-suara yang mengiris

 

Kita tak berbagi jarak: satu antara tiada dan cahaya.

 

Jakarta, 27 Agustus 2017.

 

Irawan Sandhya Wiraatmaja. Lahir di Jakarta. Buku puisinya, Giang Menulis Sungai, Kata-Kata Jadi Batu (2017) memenangi Anugerah Puisi Utama HPI 2017.

Korrie Layun Rampan memasukkan penyair ini ke dalam Angkatan 2000. Karya-karyanya dimuat dalam beberapa media cetak di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin, Semarang, Riau, Lampung, dan Padang, serta beberapa antologi puisi bersama.

Kumpulan puisi tunggalnya Anggur, Apel dan Pisau Itu (2016), Dan Kota-Kota Pun (2016), Giang Menulis Sungai, Kata-Kata Jadi Batu (2017), dan Air Mata Topeng (2017), serta Serpihan Esai Sastra dan Sosial Politik, Teror di antara Dua Ideologi (2016). Kumpulan puisinya yang terbaru, Ideologi Ibu dan Baju yang Koyak (2018). Sekarang sebagai Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

 

[1] Disalin dari karya Irawan Sandhya Wiraatmaja

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 02 Desember 2018

 

The post Gerimis Menulis – Zeralda appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2EbteIC

 

Rindu Najwa

 

Tak pernah aku lihat namamu

 

Dalam buku-buku rindu

 

Meski lembaran-lembaran hujan

 

Selalu membasahi ingatan

 

Adapun mawar-mawar

 

Yang mekar dalam tulisan

 

Ia begitu pandai menyimpan alasan

 

Tentang bagaimana aku harus bersabar.

 

Lubtara, 2018

 

Di Perantauan

 

Keserasian cinta di ladang bayang-bayang

 

Merupakan nota-nota kebencian, ketika

 

Di antara senyum dan tawa mulai kausembunyikan.

 

Di sana, telah saya tanam sebuah rindu dari berbagai

 

Catatan yang bisu, walau hujan masih memburu

 

Dan kemarau pun baru saja berlalu, merabat per-

 

jalanan

 

Yang ragu, aku merasa asing dalam tatapanmu,

 

Sebab

 

Mata dan keindahan bukan lagi milik pengharapan,

 

Melainkan sebuah kesaksian yang bersimbang

 

dalam bayangan.

 

Sepertinya waktu telah berjalan kekal, tepat pada

 

pengujung

 

Musim kemarau, aku tanam mawar-mawar merah

 

Barangkali di antara kelopaknya akan jadi sejarah,

 

menukar

 

Kebencian menjadi luka yang sederhana, seperti tat-

 

apan rindu

 

Yang kausembunyikan di balik suasana.

 

Lubtara, 2018

 

Riak Rindu

 

Aku merindukan gerimis yang kaukirimkan

 

Menjelang kematianku yang pertama, alangkah

 

Harum aroma mawar di atas kuburanku, memikat

 

Rindu ketika dulu kita masih bermain cinta

 

Di bawah pohon bambu, di sana angin-angin meni-

 

upnya

 

Sedang aroma rambutmu telah aku lupa, pohon

 

Melati yang kautanam di dasar hati, rupanya selalu

 

berkembang

 

Dalam bayangan, seperti jatuhnya hujan di tanah

 

Titipan, yang tak pernah menemukan kesejatian.

 

Lubtara, 2018

 

Riak Luka

 

Pada kecerahan wajahmu

 

Sebuah rindu berwarna biru

 

Melukis cinta begitu syahdu

 

Dalam rona indah doaku

 

Aku telentang

 

Mengingat hujan di perantauan

 

Sementara di balik dedaunan

 

Seekor capung berdiam kedinginan

 

Warna renung bertutur kelam

 

Menceritakan perjuangan perempuan

 

Yang gagal dibunuh kenangan,

 

Apa yang terurai pada sinar purnama

 

Kecuali bayangan menjadi kepedihannya.

 

Lubtara, 2018

 

Melukis Rindu

 

Sudah aku lukis wajahmu

 

Dengan sunyi dalam mimpiku

 

Warna apaÖ? yang pantas untuk menjadi kesejatian

 

Kalau bukan kuning, biru dan merah

 

Yang menjadikan lekuk wajahmu kekal dalam

 

sejarah

 

Sungguh aku terhibas dalam keterasingan

 

Ingatan-ingatan aku pahat dengan pelan

 

Seperti memeluk bayangan, yang

 

Membingungkan jalan arah menju pulang.

 

Lubtara, 2018

 

– BJ Akid, santri Pesantren Annuqayah Madura, pegiat Literasi SMK Annuqayah Sumenep, aktif di Komunitas Laskar Pena PPA Lubangsa Utara. (28)

 

[1] Disalin dari karya BJ Akid [2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 10 Maret 2019.

 

The post Rindu Najwa appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2SW9FqL

  

KABAR itu seperti ikut terbawa daun-daun yang dihembuskan angin segala arah. Kabar tentang pintu yang tiba-tiba ada di pinggir hutan belantara, pintu yang dapat membawamu ke tempat yang kauinginkan.

 

Orang-orang di sekitar tempat itu kemudian segera teringat bila beberapa hari sebelumnya, ada seorang laki-laki yang melintasi desa sambil menyeret sebuah pintu besar dengan tali yang dikalungkan di dadanya. Ia tak bicara apa- apa. Tapi beberapa orang yang melihatnya menyimpulkan kalau ia hanyalah orang gila yang kebetulan lewat.

 

Tapi tentu saja ia bukan orang gila. Ia memang memutuskan tak banyak bicara, karena yang dibawanya memang bukanlah pintu biasa. Itu adalah pintu yang dikabarkan oleh kabar angin hari ini. Pintu yang dapat membawa siapa pun ke tempat yang diinginkannya.

 

\Bertahun-tahun, laki-laki itu tak pernah tahu kalau pintu yang diletakkan begitu saja di halaman rumah, bukanlah pintu biasa.

 

Ayahnya tak pernah membicarakan apa-apa tentang pintu itu. Rasanya ada banyak hal yang lebih perlu dibicarakan ketimbang sekadar itu. Walau sebenarnya keberadaannya cukup menimbulkan tanda tanya. Ukurannya sedikit lebih besar dari pintu-pintu rumah pada umumnya, dan posisinya yang dibiarkan berdiri begitu saja dengan kondisi tergembok dengan rantai besi yang mulai berkarat.

 

Tapi, itu seperti dibiarkan seakan bukan suatu yang penting. Saat ia berusia 10 tahun, ayahnya malah lebih memilih menceritakan tentang jati dirinya, kalau ia bukanlah anak kandungnya.

 

“Kau tahu, aku tak pernah menikah, jadi aku tentu tak akan memiliki anak,” ujar ayahnya. “Sejak muda, aku tahu kalau aku ditakdirkan untuk hidup sendirian. Tapi, Yang Kuasa berbaik padaku. Melalui burung besar yang kerap melintasi gunung ini, ia mengirim dirimu ke sini. Dan aku merawatmu hingga sekarang.”

 

Laki-laki itu mengingat sekali kisah itu. Itulah yang membuatnya merasa kalau sejak kecil ia sudah mengalami kisah luar biasa. Apalagi sampai sekarang, ia masih melihat burung besar itu mampir ke sekitar rumah ini ditemani kawanannya. Ia akan hinggap di pohon besar di sebelah kursi panjang di mana ayahnya selalu duduk. Kadang ia membawa sesuatu di paruhnya yang dilemparkan begitu saja di dekat kaki ayahnya.

 

Seingatnya, barang-barang yang pernah dibawa burung-burung besar itu bukan barang sembarangan. Sebagian tak pernah ia lihat sebelumnya, seperti: ular penuh warna, sejenis buah berbentuk tangan manusia, atau akar pohon yang menguarkan aroma amis.

 

Barang-barang ini sangat dibutuhkan ayahnya. Tak banyak yang tahu, bila ayahnya sebenarnya adalah seorang tabib, tapi ia menolak untuk mengobati siapa pun, karena dulu pernah gagal saat mengobati adik kesayangannya. Maka hari-harinya hanya dipenuhi dengan membuat ramuan. Bila didengarnya di sebuah desa terjangkit penyakit tertentu, ia akan datang ke sana sambil membawa ramuannya.

 

Barulah ketika ia berusia 15 tahun, ayahnya mulai menceritakan perihal pintu itu. “Kau mungkin sejak dulu bertanya-tanya kenapa pintu itu berdiri di situ. Tapi aku tak pernah mau menjawabnya. Kini kupikir, waktuku untuk menjawab semuanya. Pintu ini… bukanlah pintu biasa. Itu pintu yang dapat membawamu ke manapun kau mau. Ayahku membawanya ke sini, untuk menjaganya. Karena bila pintu ini ada di tangan orang yang salah, aku tak bisa membayangkan malapetaka yang akan terjadi.”

 

Laki-laki itu sebenarnya tak terlalu yakin dengan apa yang ditangkap telinganya. Tapi ayahnya kemudian berkata, “Coba kau masuk ke dalamnya! Bayangkan suatu tempat yang kau inginkan lebih dahulu, sebelum kau masuk.”

 

Laki-laki itu membayangkan sebuah pantai yang indah dengan perahu-perahu nelayan berderet di tepiannya. Setelah menyingkirkan gemboknya, ia mulai membuka pintu. Dan begitu kedua kakinya melewati ambang pintu, yang dilihatnya di depan matanya adalah sebuah pantai seperti yang dibayangkannya.

 

Ia buru-buru keluar dengan tatapan tak percaya. Ia kemudian mencoba untuk kedua kalinya. Kali ini dibayangkan sebuah kota besar di mana jalanannya dipenuhi orang-orang. Dan kembali, begitu kakinya melewati ambang pintu, dilihatnya sebuah kota seperti yang dibayangkannya.

 

“Ayah ini menyenangkan,” serunya. “Semua bisa jadi lebih mudah karena pintu ini. Tapi kenapa ayah bilang tadi, tak bisa membayangkan malapetaka yang akan terjadi?”

 

Ayah menarik napas panjang. “Sebelum pintu ini dibawa ke mari, pintu ini ada di sebuah kota. Penguasa kota membiarkan orang-orang bebas memakainya. Kau tahu apa yang kemudian terjadi? Beberapanya memang hanya mencoba mencari tempat-tempat yang indah. Namun beberapa di antaranya, memanfaatkan pintu ini untuk mengambil barang-barang berharga di tempat yang dibayangkannya. Itulah kenapa penguasa kota itu kemudian menyuruh ayahku membawa pintu ini pergi sejauh mungkin, dan menjaganya agar tak dimanfaatkan orang lain.”

 

Dan kini, telah hampir 10 tahun lebih sejak perbincangan itu. Ayahnya telah lama meninggal. Laki-laki yang awalnya mencoba meneruskan menjaga pintu itu, merasa tak bisa terus begini. Orang- orang terus beranak-pinak, desa-desa kecil di sekitar gunung yang awalnya hanya ditinggali segelintir orang, terus tumbuh. Beberapanya bahkan sudah ada yang pernah datang ke sini.

 

Sungguh, ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

 

Laki-laki itu memutuskan untuk membawa pintu itu pergi dari gunung. Ia teringat ucapan gurunya di hari-hari terakhirnya. “Satu- satunya jalan agar tak pernah terjadi kejadian mengerikan seperti dulu adalah menghancurkan pintu ini. Dan tempat yang bisa menghancurkannya hanyalah Sumur Akhirat.”

 

Sumur Akhirat adalah semacam lubang raksasa di mana lahar gunung bersemayam sejak beratus-ratus tahun lalu. Di situlah pintu ini harus dilemparkan agar hancur. Karena pintu itu memang tak mempan dihancurkan dengan cara biasa.

 

Tapi tentu, itu bukan perjalanan yang mudah. Jaraknya begitu jauh. Bahkan tak terlukis di peta yang dimiliki ayahnya. Terlebih pintu itu juga begitu berat.

 

Laki-laki itu kemudian mengikat pintu itu dengan tali yang ujung lainnya dikalungkan di dadanya. Di jalan yang lurus, cara ini nampak mudah. Namun di jalan berbatu dan yang dipenuhi pohon, tentu ini bukan cara yang mudah.

 

Baru melintasi sebuah desa saja, tubuh laki- laki itu terasa remuk. Ditambah lagi gangguan orang-orang yang nampak ingin tahu. Tapi ia mencoba tak peduli dengan ucapan- ucapan itu. Ia berpikir, begitu ia berusaha akrab, orang-orang itu akan semakin banyak bertanya. Dan ia takut salah bicara.

 

Berhari-hari kemudian dilewatinya. Ia merasa perjalanannya seperti tak pernah berakhir. Namun di sepanjang jalan, saat ia merasa begitu kesepian, ia mencoba menghibur dirinya. Diam- diam ia akan menegakkan pintu dan membuka gembok pintu. Ia kemudian membayangkan tempat-tempat tertentu yang ingin didatanginya. Di sebuah istana milik penguasa kota, di sebuah restoran tempat di mana makanan paling enak dibuat, bahkan di tempat yang seharusnya tak pernah dipilihnya: di sebuah tempat di mana seorang gadis jelita yang dicintainya berada.

 

Dan pintu itu benar-benar membawanya ke sana. Gadis itu benar-benar melampaui apa yang dibayangkannya. Tubuhnya tinggi semampai, senyumnya merekah bagai cawan kehidupan yang selalu ingin diteguknya, dan suaranya saat mendendangkan sebuah lagu terdengar begitu merdu. Sungguh ia adalah gadis paling jelita yang pernah ditemuinya.

 

Laki-laki itu mengamatinya sepanjang hari. Dari saat ia menjemur pakaian, memasak makanan, hingga akhirnya ia pergi ke arah sungai untuk mengambil air.

 

Saat itulah laki-laki itu memutuskan menghampiri gadis itu. Ia menawarkan diri menolong membawakan kendi air gadis itu. Tapi sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Laki-laki itu hanya bisa melirik gadis itu berkali-kali. Hingga keduanya tiba di depan rumah gadis itu.

 

Saat gadis itu masuk, laki-laki itu hanya berdiri termangu. Ia mulai ragu untuk kembali ke arah pintu. Terlebih saat gadis jelita itu muncul di jendela dan tersenyum padanya. Ia seperti terbang ke awang- awang. Sungguh, sepanjang hidupnya ia tak pernah mengalami perasaan seperti ini.

 

Ia menyadari kalau tak seharusnya di sini. Ayahnya akan marah bila ia mengesampingkan tugas ini. Tapi sisi batinnya yang lain mencoba membela diri. Sekian lama ia menjadi anak yang penurut, tak pernah sekali pun ia mengecewakan ayahnya, walau sebenarnya ia hanyalah anak angkat. Kini, saat sebuah bayangan tentang kebahagiaan terpampang jelas di hadapannya, ia benar-benar tak ingin meninggalkannya.

 

Sambil meminta maaf dalam-dalam pada ayahnya, ia memutuskan untuk tak kembali.

 

Pintu itu ditinggalkan begitu saja di tepian hutan itu. Seorang pemburu melihatnya dan mencoba membukanya. Saat itu ia sedang membayangkan sebuah tempat berburu yang dipenuhi rusa dan babi liar. Dan betapa terkejutnya ia saat melangkahi ambang pintu itu, ia menemukan tempat seperti yang dibayangkannya.

 

Ia segera menyebarkan apa yang dialaminya itu pada kawan-kawannya. Dan kabar itu bagai menjadi daun-daun luruh yang terhempas angin tak tentu arah. Hanya sehari berselang, orang-orang di sekitar hutan itu mulai berdatangan.

 

Semakin hari orang-orang semakin menyemut. Satu persatu mulai mendekati pintu itu. Namun di saat seorang yang berada paling dekat mulai meraih gagang pintu itu, seekor burung besar tiba-tiba muncul di sana. Dengan cengkeramannya, ia segera menarik pintu itu dan membawanya pergi entah ke mana… ***

 

Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa buku. Buku terbarunya: Sang Penggesek Biola, sebuah roman tentang Wage Rudolf Supratman (Imania).

   

[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 23 September 2018

 

The post Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2DyOcC6

  

“SELAMAT datang Bapak Matohar!” teriak penyanyi itu di sela-sela ia menyanyikan lagu Jaran Goyang. “Dimohon para hadirin semua berdiri!” lanjutnya lantang.

 

Para tamu yang duduk di depan panggung serentak berdiri. Matohar menebar senyum sambil melambailambaikan kedua tangannya. Empat laki-laki berseragam dan bertubuh kekar mencari jalan untuknya. Dua di depan, dua di belakang.

 

“Hidup Bapak Matohar!” teriak penyanyi tadi. Langsung disahut dengan tepuk tangan yang riuh oleh orang-orang di lapangan itu. Beberapa orang mengibar-ibarkan bendera. Ada juga yang melempar topi ke udara.

 

“Jaran goyang-jaran goyang…. Para hadirin boleh duduk kembali!” Orang-orang itu seperti kena hipnotis, langsung kembali duduk di tempatnya masing-masing.

 

“Apa salah dan dosaku, sayang,

 

Cinta suciku kau buang-buang

 

Lihat jurus yang kan kuberikan

 

Jaran goyang, jaran goyang…..

 

Hoooiiiii, terima kasih!” Penyanyi dengan rok ketat di atas lutut itu lalu membungkuk tanda ia akan turun panggung. Kembali tepuk tangan meledak di lapangan. Juga suitan-suitan nakal dari beberapa anak muda.

 

“Lagi! Lagi!” teriak beberapa orang.

 

“Bojo Galak! Bojo Galak!” teriak yang lain.

 

“Baik, baik. Nanti akan kita goyang lagi dengan lagu Bojo Galak. Sekarang saatnya kita semua mendengarkan pidato Bapak Matohar. Beliau idola kita semua. Pembakar semangat agar jiwa kita jadi berkobar-kobar. Jangan sampai jiwa kita melempem seperti kerupuk kena angin. Maka, kami mohon, Bapak Matohar untuk berkenan naik ke atas panggung!” teriak pembawa acara dengan suara lantang.

 

Matohar mengangguk-angguk. Ia membetulkan letak dasi dan merapikan jasnya. Sebelum berdiri ia menoleh kepada perempuan yang duduk di samping kanannya. “Jadi aku harus bicara sesuai rencana?” bisiknya.

 

“Ya. Samakan dirimu seolah-olah seperti Mahapatih Gajah Mada saat mengucapkan Sumpah Palapa!” jawab perempuan itu dengan suara lirih.

 

“Aku tidak hapal semua isi teks,” lanjut Matohar.

 

“Katakan saja semua yang kamu ingat. Mereka tidak akan protes! Suaramu jauh lebih penting dibanding isi teks.”

 

“Begitu ya?”

 

“Hemmm.”

 

Empat lelaki kekar tadi segera mengawal Matohar naik ke atas panggung. Begitu sampai di depan pelantang, Matohar langsung mengepalkan tangan. “Merdeka! Merdeka!” teriaknya.

 

Beberapa orang yang duduk di barisan depan menyambut yel yel itu dengan kata yang sama.

 

“Saudara-saudara, hari ini aku merasa seperti Mahapatih Gajah Mada saat mengucap Sumpah Palapa. Tahu di mana sumpah itu diucapkan?” Tidak ada yang menjawab. “Di Trowulan Mojokerto. Persisnya di belakang Pendapa Agung kraton Majapahit. Saat itu jagad seperti bergetar. Bumi berguncang. Namun angin berhenti. Daun-daun diam. Matahari pun seolah ingin tahu isi sumpah itu. Ada yang tahu isi Sumpah Palapa?” teriak Matohar.

 

Kembali orang-orang hanya saling pandang satu dengan yang lain.

 

“Isinya tidak penting kita ingat. Tetapi sekarang ini, ketika matahari selalu muncul dari timur dan tenggelam di ufuk barat, kita semua harus sadar. Bumi memang bundar. Tidak pernah rembulan muncul dari utara dan tenggelam di selatan. Benar?”

 

Orang-orang berteriak menyahut, “Benar!”

 

“Ehh, kamu tahu, ke mana arah pidato itu?” tanya seseorang kepada temannya.

 

“Mana kutahu. Biar saja dia mau omong apa. Kita di sini menunggu tampilnya penyanyi seksi tadi kok,” jawab yang ditanya.

 

“Jadi Saudara-saudara, kalian tahu?” Tanya Matohar

 

“Tidaaaakkkk!” jawab orang-orang itu seperti koor.

 

Matohar menelan ludah. Sangat pahit rasanya. Ia sendiri mulai bingung, tidak tahu lagi apa yang harus diucapkan.

 

“Bojo Galak! Bojo Galak!” teriak orang-orang itu tidak sabar.

 

Jakal, penghujung 2018

 

[1] Disalin dari karya Budi Sardjono

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 3 Maret 2019

 

The post Sang Orator appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2H1ZhMK

  

Doa Dalam Tubuh Ibu

 

Doa menjadi perihal yang sangat sakral

Sebagai penutup dari segala dosanya

Untuk menjadi orang yang paling mulia di hadapan Nya

 

Baginya doa adalah segalanya

Sebagai penyelamat untuk anak dan cucunya

 

Doa telah menjadi darah dalam tubuh ibu

Dan seorang ibu adalah manusia pertama

Yang diharapkan menjadi perantara keselamatan kehidupan seseorang

Sebab di bawah telapak kakinya Tuhan menaruh surganya

 

Yogyakarta, 2019

 

2018 Telah Selesai dan 2019 Telah Tiba

 

2018 telah usai, bu

Usiaku semakin menua

Aku sangat mengkhawatirkanmu

Dalam sisa umurku

Aku takut belum bisa menyembuhkan lukamu

Luka yang kau anyam untuk kehidupanku

dan dari kehidupanku

 

2018 telah usai, bu

Aku tidak memikirkan tentang umurku yang bertambah usia

Tapi dari sisa umurku

Mampukah aku menghapus air matamu

 

2018 telah usai, bu

dan 2019 telah tiba

Aku ingin segala hidupku terbaktikan untukmu

 

Yogyakarta, 2019

 

Doa Ibu

 

Menggapai mimpi adalah pertarungan dengan waktu

Dan aku mengerti semuanya akan sia-sia

Setelah doa-doa untukmu hilang dalam keangkuhan

 

Aku telah menggapai segala kebahagiaan

Dan tiada kebahagiaan yang lebih hakiki

Selain doa-doa kepadamu menjadi ritual paling awal

Setelah melaksanakan ibadah kepada tuhan

Ketabahan dan kesabaranmu

Dalam menjadi seorang ibu

Mengajarkan, bahwa kehidupan bukan untuk dikeluhkan

Ia hanya meminta sebuah ketabahan dan kesabaran

Dari proses perjuangan yang tidak kenal lelah dan kadang menyakitkan

 

Yogyakarta, 2019

 

Ibu

 

Engkau adalah doaku

Dan tidak pernah lupa kudoakan

Sebagai ingatan disaat aku hilang arah tujuan

Terlalu angkuh dan murka

 

Ketika dalam perncarian kebahagiaan

Aku tidak melibatkanmu

Sebab segala kebahagiaan

Adalah kemurkaan tanpa izinmu

 

Aku tidak mengizinkan tubuhku menyentuh

Segala kenikmatan dunia

Jika ia harus menambah luka dan air mata untukmu

Sedangkan aku telah meyakini

Bahwa engkau telah membesarkanku

Melewati segala hantaman ombak dan sebuah derita

Yang tidak mungkin engkau ceritakan kepadaku

 

Yogyakarta, 2019

 

Surat Untuk Ibu di Tahun Baru

 

Bu, surat ini ditulis saat hatiku dalam keadaan rindu dan saat orangorang sudah beramai-ramai pergi pojok kota, melaksanakan ritual

tahun baru dengan keluarga, kawan, dan kekasihnya menyaksikan

kembang api dan suasana yang baginya sangat menyenangkan

 

Disaat semua orang pergi ke kota, aku lebih memilih tahun baru di

kamar menikmati dengan segelas kopi dan sebatang rokok, mengingat perjuanganmu untuk membawaku kepada singgana kebahagiaan dengan rajutan berbagai luka dan air mata

 

Dalam pahitnya kopi dan hisapan rokok, aku lebih memilih menggambar garis tua wajahmu pada sebuah doa dan harapan, untuk

memberimu segala suatu yang sangat menyenangkan selain dari

doa-doa

 

Sekalipun doa-doa adalah keinginan terbesarmu, memberikan sesuatu yang lebih besar dari itu pun tidak lah cukup dibandingkan luka dan air mata semenjak engkau memberikan asi untukku sampai

aku mengetahui sendiri asal muasal asi itu

 

Di malam pergantian tahun, aku menikmatinya di kamar dengan

segelas kopi dan sebatas rokok dengan harapan di tahun setidaknya aku bisa sedikit menyembuhkan luka yang kau rasakan puluhan tahun

Di malam tahu baru, aku tidak menikmatinya dengan keriuhan yang

hanya sesaat itu sesaat itu, aku lebih memikirkan rasa khawatirmu

atas anakmu yang selalu mengharapkan baik-baik saja, aku

mengerti bahwa engkau pun tidak menikmati tahun baru dan lebih

memilih melepas rasa lelahmu yang seharian di sawah serta di dapur memasak buat ayah, kaka, dan adik-adik

 

Panjang umur dan kesehatanmu adalah doaku yang tidak pernah

lelah kuminta kepada Tuhan, sebab engkau adalah asal muasal tujuanku dalam mencapai segala mimpi-mimpiku

 

Yogyakarta, 2019

 

*) Rudi Santoso, lahir di Sumenep Madura. Mahasiswa Fishum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alumni Teater Kertas Pondok Pesantern Banyuanyar Pamekasan, Nominasi 30 Puisi Terbaik Tingkat Asia Tinggara UNS 2017. Buku Puisi Pertamanya “Kecamuk Kota” Yang Diterbitkan Oleh Halaman Indonesia

 

[1] Disalin dari karya Rudi Santoso

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 13 Januari 2019

 

The post Doa Dalam Tubuh Ibu – Doa Ibu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Fo075z

  

TIBA-TIBA sekelompok orang berkerumun di depan warungku. Orang-orang kota itu sungguh harum. Bawaannya macam-macam. Ada poster, kalender, dan entah apa. Di antaranya ada wanita cantik yang bertanya siapa namaku. Lalu kusebutkan namaku. Dia bertanya tentang warung dan kondisi keuanganku. Setelah mengobrol singkat, aku dapat amplop darinya. Aku tidak kenal dia. Begitupun beberapa orang di sekitarku yang juga dapat amplop. Tak ada yang kenal dia. Tak lama, orang-orang bersorak, membuat bunyi klakson di jalan raya ujung pasar tak kedengaran jelas.

 

Kamera-kamera, semakin ke sini, semakin banyak jumlahnya. Mungkin belasan. Atau puluhan. Entah. Aku tidak pandai menghitung. Seorang bapak yang menjadi pusat perhatian, yang tadi membuat setiap penjual bersorak-sorai, melangkah masuk ke gang pasar yang becek. Aku pernah sekali waktu lihat si bapak tersebut di televisi. Dia calon pemimpin. Calon wakil rakyat yang kerap bersumpah di iklan: “Ini demi rakyat!”

 

Tentu aku senang; pasarku yang kumuh didatangi calon pemimpin, diliput entah berapa TV, dipotret sana-sini. Siapa tidak girang? Sumarni, tetangga belakang rumahku, yang berjualan bumbu dapur, senang bukan main bisa memeluk si calon pemimpin. Aku sendiri pengen, tapi karena kondisi begitu padat, berdesakan sampai nyaris semaput, dan setiap orang enggan mengalah, aku cuma bisa gigit jari.

 

Sempat kusentuh tangan si bapak tersebut walaupun sebentar. Kunjungan ini berisi pidato beberapa menit oleh calon pemimpin, lalu orang-orang dengan kamera dan Hp mengajukan pertanyaan, foto-foto sebentar, kemudian selesai.

 

Malam harinya, anak-anakku berkumpul di depan TV dan bertanya-tanya apakah aku juga akan terlihat di sana. Di cari ke sana kemari, ketika berita itu muncul, rupanya tidak ada aku di sana. Jelas saja, orang-orang yang lebih gesit mendapat tempat di dekat bapak calon pemimpin. Aku yang kalah cepat, cuma melongo tidak kebagian tempat.

 

Meski begitu, aku senang juga karena kedatangan calon pemimpin itu membuatku dan beberapa teman penjual di pasar ini mendapat beberapa pelanggan baru. Hanya saja, itu tidak lama. Saat pemilihan berlangsung, kami jelas mencoblos foto si bapak. Kami coblos dengan bangganya karena beliau pernah dengan rela hati mendatangi pasar kami yang kotor dan bau. Sungguh sebuah kesenangan yang sederhana. Sayangnya yang terjadi sebatas itu. Hari-hari berikut, terasa tak ada beda. Bahkan sama saja, meski bapak tersebut kini resmi menjadi pemimpin daerah kami. Nyaris tiap hari, kami berharap mendapat kunjungan dan amplopnya sekali lagi. Tapi, tentu saja, itu hanyalah harapan semu. ❑ – g

 

Gempol, 17 Desember 2018

 

*) Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018) dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

 

[1] Disalin dari karya Ken Hanggara

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 24 Februari 2019

 

The post Blusukan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2VkGVd5

  

Peristiwa Kopi

 

/1/

sebelum tidur saya tidak lupa

berdoa diakhiri minum kopi

 

saat tidur saya tidak lupa

membangun mimpi; jamuan minum kopi

 

saat bangun saya sadar

kasurku beraroma basah kopi

 

/2/

sesekali teguklah segelas air bening

agar komposisi kopi beredar lancar

di tubuh puisimu

 

sesekali teguklah segelas puisi

agar kewarasan selalu mengalir

dalam kepalamu

 

sesekali teguklah segelas kopi

agar kejernihan merenangi bening

air dalam sungai di tidur kepalamu

 

Purwokerto, 2018

 

Kamus Bahasa Kopi

 

kopi adalah biji-biji

ranum sebagai mata

hari dipetik

dengan jari tangan

menggenapi

genggaman

 

pada awal perjumpaan

di akhir panen

serbuk jatuh dalam gelas

bening menggumpal

hitam mata

 

Purwokerto, 2018

 

Dzikir Ikan

 

aku tak perlu

melafal apapun

pada bening udara

lewat kepak sirip

menenggelamkan diri

berdiam dalam rongga

air mengambangkan

nama-namamu

 

Purwokerto, 2018

 

Kalimutu

 

[1]

matahari pagi,

warna kelimutu

terbit di paras

tenggelam di matamu

membuat rindu tak perlu

mempersoalkan arah kiblat

dan lima warna di tubuh

telagamu

 

[2]

ingin kulukis lagi

kelimutu di tengkukmu

seperti waktu itu;

malam diresmikan hujan,

dingin; tangan menyusup punggung,

lampu-lampu jalan; berkedip

di mata dan bibir kita;

sibuk melerai

pertengkaran kosong

kata-kata.

 

Purwokerto, 2018

 

Gunting dan Perekat

 

aku belum mengajari

cara memegang gunting,

rupanya dia belajar

pada waktu

sendiri.

 

aku belum menjelaskan

fungsi perekat,

tapi dia sambung suwiran

suwiran sejarah

di keningku

 

Purwokerto, 2018

 

Posterior

 

siapa pun

tak boleh alpa

membayar denda ñkerinduansebagai hak paling asasi

setelah hujan melepas diri

dari kamus bahasa

dan cuaca

 

Purwokerto, 2018

 

*) Teguh Trianton, lahir di Purbalingga, bermukim di Purwokerto,

aktif di Komunitas Beranda Budaya (Purwokerto), pernah bekerja

sebagai jurnalis dan guru. Menulis puisi dan prosa di sejumlah

media. Buku puisinya yang telah terbit berjudul Ulang Tahun

Hujan.

 

[1] Disalin dari karya Teguh Trianton

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 30 Desember 2018

 

The post Peristiwa Kopi – Kamus Bahasa Kopi appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2LMKgOB

  

Dunia Karet

 

Aku kenali jiwamu yang berkarat dalam hiruk-pikuk perburuan

Dunia ini telah rapat dibungkus karet yang mementalkan kepalamu

Dan kau saksikan abad yang makin gusar

Komputer-komputer yang makin dungu dan liar

Tidak tunduk lagi pada program programmer

Dan cinta? Masih percayakah kau pada yang namanya cinta

Dan pintu-pintu jiwa bersalju ternganga untuk sekedar berkeluh-kesah

Dari keruwetan-keruwetan sehari-hari yang dipojokkan dalam perebutan

Kaisan sebutir nasi. Makin gamblang kau saksikan dunia karet

Yang berkristal-kristal terbentuk dari kecanggihan rekayasa manusia itu sendiri

Dunia lempung dan batu-batu dari wujud dunia yang asli

Telah lama masuk ke dalam museum seperti fosil-fosil manusia purbani

Dan kau, sadarkan bahwa kau hanya bola

Ya, bola yang ditendang dari sudut-sudut benua

Kau adalah jamaah dari chanel-chanel televisi yang mengambang di udara

Kau adalah setancapan wayang kulit di gedebok dari sebuah negeri masa depan

Kau adalah bangkai masa kini yang mengapung di rawa-rawa semilyah wajah berdebu

Asing dan sendiri

 

Kudus, 2018

 

Gunung

 

Aku ini gunung

Paku bumi di gegar tanah mati

Di jerit perih kemarau

 

Aku pertapa agung

Pantang pulang sebelum bumi digulung

Sebelum langit bosan berkalung bintang

Dan embun

 

Tapi para pemulung

Yang perutnya busung

Kami lebih dulu digulung

 

Kini aku mayat tanpa kepala

Tanpa nisan dan pusara

Buat ziarah dan cerita

Tentang cinta dan cahaya.

 

Kudus, 2018

 

Langit

 

Aku ingin seperti langit yang tak kenal timur

dan barat, utara dan selatan

Tapi ia pemilik seluruh arah untuk meneruskan

perjalanan

Entah aku akan tiba di taman atau rejam penjara

 

Sesudah melewati beratus-ratus tikungan

Sesungguhnya aku ingin berbalik dan memulai

dari awal,Tuhan

Banyak langkah yang harus aku luruskan

Tetapi engkau selalu menghardik untuk terus

berjalan

Dan membisikkan dengan nada yang memperingatkan

Jejak hanyalah abu dari sampah yang dibakar!

 

Kudus, 2018

 

Laut

 

Aku ini laut

Ombak yang seperti kemelut

Yang seperti maut

Nikmat harum terhirup

Pantai batas gelisah gelombang

Bagi ikan, ganggang dan batu karang

 

Pantai debu-debu rindu yang selalu dicumbu

Oleh lidah ombak yang sarat kisah dan lagu

 

Tak pernah kubiarkan gelombang surut

Sebab aku sudah kadung kepincut

Oleh julur ombak yang seperti kemelut

Yang seperti maut.

 

Kudus, 2018

 

Pemahat

 

Pemahat waktu melumat remah usia lalu

Jajaran tanah bisu tunduk mendebu

Langit setia mengirim kabar rindu

Yang tak habis disusu seperti rumah ibu

 

Pada sebuah negeri selalu ada kota perbatasan

Yang dilatih hanya untuk mengucap salam terakhir

Bersama maut angin dan awan menari

Di tepi sunyi bayi-bayi riang bernyanyi

 

Cukilan pahatan terus menggunung

Kita semakin tak sempat merenung

Kini pahatan kian penuh ukiran

Menampak wajah Tuhan dan Setan.

 

Kudus, 2018

 

Penulis lahir dan bermukim di Kudus. Kini sedang menyelesaikan buku yang bertajuk: Orang-orang Usiran.

 

[1] Disalin dari karya Amir Yahyapati ABY

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 2 Desember 2018

 

The post Dunia Karet appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2RPhzTh

  

TANAH adalah daratan tempat berpijak, adalah butiran debu di musim kemarau, adalah tempat segala benih tumbuh, adalah tempat longsor karena pohon0pohon ditebang, adalah tempat yang hidup kembali mati, adalah tempat oleh Yang Maha Kuasa diberi pesan jangan main-main dengannya, sebab jika kalian nekad melakukannya, nyawa kalian akan digantung. Seperti gema gumam para jelata mengekalkan akal yang mulai menipis.

 

Di atas sepetak tanah warisan. Tabah, salah satu dari warga setempat, telah bertahun-tahun menjalankan kedai kopi untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Mereka hidup sederhana, tapi mereka bahagia, sampai satu saat segerombolan pejabat datang memberi kabar bahwa bangunan kedai kopinya harus pindah. Di sana akan dibangun gedung mewah yang akan dipakai para pejabat rapat. Istri Tabah bernama Siti, yang punya paras cantik dan bertubuh sintal menjadi gundah. Siti menangkap isyarat, tak lama lagi akan ada yang menimpa keluarganya. Dia berpesan kepada Tabah agar hati-hati bersikap. Jangan grusa-grusu, sebab menurut Siti, mereka adalah orang-orang tamak.

 

“Siti itu milik siapa?”

 

“Dia milik Tabah, Tuan.”

 

“Ambil paksa dan bawa ke sini!”

 

“Untuk apa Tuan? Bukankah urusan kita tanah, bukan Siti?”

 

Orang-orang berteriak. Bagaimana jika ada penjarahan? Bagaimana jika ada penggusuran paksa? Mereka semakin keras berteriak. Azab akan datang tanpa kompromi. Bagaimana jika orang berpangkat yang melakukan? Azab akan berlaku sepuluh kali lipat. Jika ada pejabat yang tahu kesepakatan ini dan tidak bertobat, nyawanya akan melayang-layang menjadi setan yang kerjanya minta belas kasihan sebagai balasan karena semasa hidupnya kerap menghina dan tak segan menginjak-injak harapan orang jelata yang meminta pengayoman, meminta relokasi sepantasnya, meminta ganti rugi sepadan.

 

Tanah adalah mantra yang jika salah menggunakannya, darah menjadi tumbal, menetes tiada henti. Tanah adalah azimat yang jika kau tak hati-hati memperlakukannya kepalamu akan terpenggal, menjadi gundul pringis yang menghantui turunanmu hingga 100 tahun generasi. Hai warga Sidoarjo, hai warga Tambak, hai warga Kendeng, hai warga Jebres, bersatulah. Sebab kekuatanmulah yang akan meremukkan jiwa para penjarah. Dengan gumam mereka menyebar. Tidak keras tapi tikamannya menelusup jantung serupa teluh.

 

Perampasan terhadap Siti terjadi di depan mata Tabah, tapi Siti tak mau harga dirinya terkoyak. Dia memilih mati daripada menjadi jarahan para bajingan. Jerit membelah angkasa. Siti gugur. Hening menyergap. Awan muram lalu gemuruh guntur menggetarkan jiwa. Mereka seperti merapal kata-kata Tanah adalah nyawa, adalah jiwa, adalah raga, adalah sikap, adalah napas leluhur sebagai perawat identitas. Tanah adalah harga diri yang tak tergantikan. Tabah berdiri. Matanya memerah. Tangan kirinya mengangkat gambar para keparat. Tangan kanannya menunjuk gambar itu. Lantang suara terdengar dari mulutnya. “Tannah adalah kepalamu! Tanah adalah ndhasmu! ❑-g

 

Yuditeha, tinggal di Karanganyar. Menulis puisi dan cerita. Kumcer terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018). Novel terbarunya Tjap (Basabasi, 2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan Pendiri Kamar Kata Karanganyar.

 

[1] Disalin dari karya Yuditeha

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 2 Desember 2018

 

The post Tanah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2EfRXvH

  

GADIS kecil itu duduk sendiri di pojokan jalan, menjuntai kaki di atas trotoar, dan badannya yang mungil itu nampak menggigil. Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya, hanya anak pengemis, mungkin. Atau hanya seorang anak yang kebetulan kesasar dan kehilangan orangtuanya. Bisa saja itu terjadi. Tapi, yang pasti, tidak ada yang peduli dan merasa ingin tahu siapa gadis kecil itu, termasuk saya. Saya hanya mengamati gadis kecil itu sepanjang malam. Hanya bergeming, tidak melakukan apa- apa. Hanya mengamati. Sudah.

 

Sejujurnya ada rasa ingin tahu dalam diri saya. Barangkali dia butuh pertolongan atau semacamnya, barangkali dia memang kehilangan orangtua dan sudah tidak makan seharian. Mungkin dia juga kedinginan. Tapi, kemungkinan-kemungkinan itu terasa tidak masuk akal, gadis kecil itu barangkali hanya seorang gadis kecil biasa. Tidak perlu dilebih- lebihkan.

 

Malam hari berikutnya, saya masih melihat gadis kecil itu seorang diri di pojokan jalan yang sama. Bajunya tetap sama, posisi duduknya pun juga tetap sama. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Saya mulai merasa aneh sebab orang-orang tetap melewatinya begitu saja, kendaraan-kendaraan tetap tak ada yang mau berhenti, bahkan untuk sekadar bertanya, “Adik tinggal di mana? Adik sedang apa malam-malam begini sendirian? Orangtua adik di mana?” Tidak ada yang seperti itu. Diam-diam saya membatin, apa orang-orang sudah kehilangan rasa peduli ya? Apa waktu sedemikian berharganya, hingga sedikit waktu untuk sekadar peduli pada orang lain sudah tidak ada? Eh kok saya membatin begitu, toh saya juga tidak melakukan apa-apa.

 

Saya menepis pikiran itu jauh- jauh. Siapa gadis kecil itu tidak akan terjawab bila hanya dipikirkan. Saya harus mendekatinya. Antara ragu dan tidak, saya mulai melangkah menuju tempat gadis kecil itu. Malam masih saja dingin, dan jalanan sudah mulai sepi. Saya melirik arloji, sudah pukul 10 lewat ternyata. Ini kebetulan. Orang- orang tidak akan berprasangka macam-macam jika saya dekati gadis kecil itu. Tidak akan ada yang mengira bahwa saya adalah keluarga gadis kecil itu, atau tak akan ada yang menganggap bahwa saya adalah penculik anak dan sengaja memperkerjakanya demi kepentingan perut saya. Tidak akan. Malam sudah sepi, kebanyakan orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.

 

Saya meninggalkan tempat saya dan melangkah perlahan menuju gadis kecil itu. Pikiran saya hanya satu: saya harus menyapanya selembut mungkin. Barangkali perasaannya sedang kacau.

 

Saya melangkah dan melangkah sampai berjarak kira-kira sepuluh meter darinya. Di bawah lampu jalan saya mulai berpikir ulang, apakah mendekatinya hanya satu-satunya pilihan? Ah, lagi- lagi pikiran itu datang. Apakah ini semacam skenario penjahat untuk mencelakai saya? Barangkali setelahnya segerombolan penjahat akan datang dan membawa saya entah ke mana. “Sudahlah, demi kemanusiaan. Lakukan demi kemanusiaan. Lakukan apa yang selayaknya manusia lakukan saat ini.” Tiba-tiba pikiran itu datang menguatkan niat saya. Tanpa pikir panjang, saya melangkah kembali menuju tempat gadis kecil itu.

 

Gadis kecil itu tetap tak bergeming saat saya berada di belakangnya. Saya melangkah dan menyentuh pundak kecilnya. Aneh, pundaknya terasa dingin, saya merasa pernah mendapati perasaan seperti ini, tapi mungkin bukan perasaan yang sama.

 

“Gadis kecil….” Saya mulai menyapanya selembut mungkin. Saya harus berhati-hati, salah-salah justru bisa membuatnya takut.

 

Gadis kecil itu tetap bergeming.

 

“Asalamualaikum….” Saya ulangi menyapanya.

 

Tetap saja ia bergeming. Ada apa sebenarnya? Apa ia bukan manusia? Eh kok pikiran macam- macam saya datang lagi. Ingat satu hal: demi kemanusiaan! Tapi, bila memang benar ia bukan manusia, apakah slogan demi kemanusiaan masih berlaku?

 

Tiba-tiba saat saya sedang asyik bergelut dengan pikiran yang bermacam-macam itu, gadis kecil itu membalikkan badannya. Saya kaget dan mundur beberapa langkah.

 

Beberapa detik kami hanya bertatapan. Sesaat kemudian saya seperti tersadar akan suatu hal.

 

Ini tidak mungkin. Saya seperti pernah melihat gadis kecil itu di suatu tempat. Tapi, di mana? Wajahnya begitu saya kenali, sorot matanya, rambut hitam panjangnya, motif bunga di bajunya. Semua seperti saya kenali. Saya mulai mengingat-ingat siapa dia sebenarnya. Di mana saya pernah bertemu?

 

“Kakak. Alenia sudah menunggu kakak. Tapi, kakak cuma melihat Alenia dari jauh. Apa kakak sudah lupa?”

 

Tunggu sebentar. Saya semakin yakin bahwa saya pernah melihatnya di suatu tempat. Ya, saya yakin pernah bertemu gadis kecil ini. Suaranya saya kenali, Alenia, nama yang tak asing di telinga saya. Saya terus berupaya untuk mengingat gadis kecil ini. Astaga. Dalam keadaan begini ternyata pekerjaan mengingat sangat susah dilakukan. Menyebalkan!

 

“Kakak.” Suara Alenia menggema dalam kepala saya. Berulang-ulang.

 

Saya mendadak seperti orang linglung. Berupaya mengingat terlalu keras membuat kepala saya pusing. Badan saya menjadi berat, seperti ada gada raksasa yang menghantam dan memaksa tubuh saya untuk rebah. Samar- samar pandangan saya mulai gelap, sebelum semua menjadi gelap total saya masih sempat melihat Alenia tersenyum, lalu kembali membalikkan badannya dan tetap duduk seperti sebelumnya.

 

“Kakak….” suara Alenia tetap menggema dalam kepala saya.

 

***

 

Saya terbangun di suatu tempat. Dan suara gadis kecil itu tetap saja terbayang dalam kepala saya.

 

“Kakak… Kakak….”

 

Senyumnya, matanya, rambutnya. Semuanya tetap saja terbawa. Berarti ini bukan mimpi. Saya memang pernah bertemu dengan gadis kecil itu. Tapi, sekarang saya di mana? Apa ini justru mimpi? Atau ini surga? Apa ini mimpi tentang surga?

 

Belakangan saya tahu bahwa saya berada di rumah sakit. Entah apa yang terjadi dengan saya. Mungkin saat itu karena terlalu kaget, dan terlalu keras mengingat membuat saya pingsan. Tapi, itu masih kemungkinan, bisa saja salah.

 

Kepala saya tetap pusing, badan saya tetap terasa berat. Saya hanya bisa tiduran dan saya lihat banyak alat-alat aneh dan jarum infus sudah tertancap di tangan kiri saya. Saya mendengar langkah kaki pelan. Ternyata seorang dokter dan perawat masuk ke kamar saya. Kebetulan, saya akan tanyakan banyak hal pada mereka.

 

Tapi aneh, suara saya sungguh berat untuk keluar. Apa sakit saya sebegitu parahnya? Saya hanya bisa mendengar samar-samar dokter itu berbicara dengan seorang perawat. Ia semacam menunjukan selembar kertas yang entah apa isinya. Seorang lagi masuk dan saya ingat siapa dia: Ibu saya. Semacam ada perdebatan kecil yang tidak jelas terdengar dalam telinga saya. Kemudian ibu saya menangis, sang dokter memegang pundaknya, perawat ikut-ikutan memegang tangannya. Suasana berubah mellow dan saya ingat ini seperti drama kesukaan saya. Ada apa ini sebenarnya? Entah mengapa dalam keadaan seperti ini saya justru teringat gadis kecil bernama Alenia itu.

 

“Kakak… Kakak…,” suaranya tetap saja bergema dalam kepala saya, membuat saya tenang. Sejurus kemudian semakin banyak yang masuk ke kamar saya. Teman-teman, keluarga, istri, bahkan mungkin wartawan juga ada. Hal ini membuat saya semakin bingung. Ada apa dengan saya sebenarnya? Mengapa saya tidak bisa mengingat satu hal pun tentang rentetan kejadian ini? Apa hubungan Alenia dengan rumah sakit ini? Saya ingin tanyakan ini semua pada mereka. Tapi, saya tidak tega, mereka semua nampak menangis.

 

Kemudian perawat itu mencopot infus saya, melepas alat-alat aneh yang entah apa fungsinya. Saya semakin heran, saya ingin tanyakan ini semua tapi suara saya sangat berat untuk keluar. Samar- samar saya hanya bisa mendengar percakapan orang-orang,

 

“Kasihan ya semuda itu…”

 

“Kasihan juga istrinya sedang mengandung anak pertamanya.”

 

“Anaknya bakal yatim.”

 

“Tuhan memanggil orang-orang baik lebih dulu.”

 

“Dia memang baik.”

 

“Apakah keluarga sudah yakin?”

 

“Benar dok, ini pesan almarhum. Dan memang hanya ini kemaunnya.”

 

Baiklah saya mulai mengetahui alur cerita ini. Potongan ingatan mulai menyatu dalam kepala saya. Kemanusiaan, rumah sakit, kecelakaan minggu lalu. Semua mulai kembali ke tempat masing- masing.

 

“Jantungnya akan didonorkan?”

 

“Benar, dok.” S

 

aya semakin yakin satu hal: Alenia, gadis kecil itu, entah saya pernah mengenalnya di mana, atau barangkali saya memang belum pernah bertemu dengannya. Tapi saya tahu arti senyumnya,

 

“Kakak… Kakak…, terima kasih sudah memberikan Alenia kesempatan hidup lebih lama.” Suara Alenia masih saja terbayang dalam kepala saya. Senyumnya, matanya, rambut panjangnya masih saja terlihat jelas.

 

Bukan, sayang. Bukan kakak yang memberi Alenia kesempatan hidup. Hanya Tuhan yang bisa begitu. Hanya saja itu tugas kakak sebagai manusia. Kakak selalu berpegang teguh pada satu hal: demi kemanusiaan…. (*)

 

Haryo Pamungkas, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring.

 

[1] Disalin dari karya Haryo Pamungkas

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 7 Oktober 2018

 

The post Gadis Kecil Bernama Alenia appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Nwb4Sq

  

Penjual Tawa dan Kunang-Kunang

 

Di telapak tanganku, ada yang telah menuliskan takdir

Kisah seorang penjual tawa dan sekelompok kunang-

kunang dalam botol

Yang selalu ia bawa ke mana-mana

Untuk ditawarkan dengan selendang bidadari.

 

Suatu hari penjual tawa meletakkan mahkota di

kepalanya

Lalu-ditumbuhkan bunga melati di matanya

Tempat kunang-kunang berteduh dan membawa

dendam rindu

Pada ranting-ranting waktu.

 

Kunang-kunang pengantar tidur bermandikan cahaya

bulan

Diselipkan satu persatu dalam selendang

Berderailah senyum dari wajah pualam

Sebab pohon hikayat telah terdedah

Dari epitaf cinta yang terbelah.

 

Cirebon, 26 September 2018

 

Bulan dan Bayangan

 

Zha…

Izinkan aku menari dengan bulan dan bayangan

Di pucuk malam bersama selimut tebal

Di bawahnya mengalir sungai kehidupan.

 

Ketika matahari tercelup di kolam

Adalah separuh tubuhku hinggap di haluan dan

sisanya hilang bersama anai.

Tidak. Tidak kubiarkan hari-hari gigil

Awan menangis

Ataupun

Lidah ombak kembali menjilat pasir.

 

Zha… itukah kau?

Ah, ilalang masih saja gersang

Ketika tangan waktu memotong suaramu

Dari tatapan yang terbuang

Dan segalanya menjadi remang

Dalam percakapan bulan dan bayangan

Kau masih saja mengigau.

 

Cirebon, 13 Juli 2018

 

Angin September

 

Angin September

Menghantam langit

Biji kalender berjatuhan

Dalam kota kering.

 

Angin September

Menyapu sekujur tubuh

Tunas gerimis tumbuh

Dan Tuhan sedang tidak ingin

Bermain-main.

 

Cirebon, 26 September 2018

 

Setetes Embun

 

Jika aku mampu menangkup setetes embun pada

cangkirku

Adalah taring waktu yang semakin meruncing

Menunggu pohon awan begitu lengang

Dan jambu muda yang telah lama diperam oleh garis

tangan

Cerukannya tersesap mengikuti hulu

Berkelok

Di bawah jembatan batu

Adalah titih yang berhamburan di udara

Jika dinding jiwa lembab

Dan terkulai mati pada trembesi.

 

Cirebon, 9 September 2018

 

Mata yang Bersuara

 

Sungguh tak dapat kukantongi huruf-huruf

Yang jatuh dari mulutku

Saat kulihat keagungan-Mu mencipta segala warna

Dengan bait cinta paling suci

Hanya zikir kulantunkan kepada-Mu

Di sela-sela jantungku segala napas merekat dan

berakar

Menjalar di tunas kehidupan

Tunduk dan merenung:

“Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”

 

Cirebon, 26 September 2018

 

Hidup

 

Di tubuhnya sungai terbaring

Bersama angin menghitung usia kian merambat

Di antara rimbunan puisi-tak pernah mati

Hidup pada akar hayat, sekedar pengelana

Sejenak singgah dan khusuk pada kembara

Menunggu pagi terbit

Juga senja berwarna saga

Saling membagikan potongan kisah

Dalam cangkir tualang paling tabah.

 

Cirebon, 25 September 2018

 

Tumbuh

 

Ada yang tumbuh di kepalamu

Di pangkal malam setia menemani tidurmu

Ia tak bersuara

Mengelilingi hari yang kian berdenyut

Hinggap dan enggan menanggalkan semua yang

didendangkan rembulan.

 

Ada yang tumbuh di jantungmu

Berdetak

Mengikuti darah yang berjalan di suatu pagi dengan

banyak tanya

“Apakah Tuhan sudah menghidupkan semua pohon di

tubuh?”

 

Ada yang tumbuh di matamu

Sebiru laut

Merentangkan semua lanskap

Yang disediakan Tuhan

Lindap di kantung hari yang dikeringkan matahari.

 

Ada yang tumbuh di kakimu

Berjalan mengikuti desir angin

Terkadang pincang

Hanya mengandalkan awan.

 

Semua yang tumbuh di tubuhmu

Adalah rumah

Tempat segala tubuhku bermukim

Pada serbuk cahaya yang dikirimkan

Tuhan di segala musim.

 

Cirebon, 13 September 2018

 

Neni Yulianti, lahir dan dibesarkan di Kota Cirebon. Anggota komunitas Dapur Sastra Jakarta (DSJ) dan Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Barat. Beberapa karyanya telah masuk dalam antologi buku tunggal Sang Sajak Tepi dan antologi bersama penyair Nusantara di antaranya (Hikayat Secangkir Robusta) Krakatau Award 2017 Provinsi Lampung, (Kunanti di Kampar Kiri) HPI Provinsi Riau 2018, (Gema Membelah Gema) GAPENA KE-20 Malaysia, dan (Epitaf Kota Hujan) Temu Penyair Asia Tenggara Padang Panjang 2018.

 

[1] Disalin dari karya Neni Yulianti

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 7 Oktober 2018

 

The post Penjual Tawa dan Kunang-Kunang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2C0pW9q

ilustrasi teknik dasar dalam hal mengurus anak.

 

  

Yesus Milenial

 

Aku ingin beli gadget termutakhir

Aku ingin liburan dahsyat ke ujung bumi

Aku ingin kalahkan dunia

Karena Dia sudah mati bagiku

 

Desember

 

Kota-kota bersiap

Menyambut hari lahir sang juruselamat

Pundi-pundi mereka

 

Merayakan Natal

 

Desember telah tiba

Keluarkan pohon terang itu dari kardus

Bebaskan dari debu dan cuci baik-baik

Periksa semua hiasan dan lampu kerlap-kerlip

Bayi Yesus, palungan, Maria, Yusuf, para Majus,

bintang dan gembala

Singkirkan yang kusam, beli baru kalau perlu

Beri judul mas kemenyan mur pada kotak-kotak

hadiah

Kue-kue manis dan minuman warna-warni di atas

meja bertaplak

Makanan berlemak daging dan sayur berkuah

Jangan terlewat hari ini tanpa mengenangNya

Apa nanti kata tamu-tamu yang mampir ke rumah

kita?

 

Maaf

 

Maafkan aku, Yesus

Kau harus berkali-kali mati

Supaya aku berkali-kali lahir

 

Mimpi seorang pendeta

 

Semalam aku bermimpi

Tuhan bersabda kepadaku

Bangunlah pohon Natal tertinggi di Negeri

Rayakan kelahiran AnakKu di stadiun sepak bola

Jangan lambat-lambat

Beri yang terbaik

Lihat, apa tidak tingkap-tingkap langit terbuka

Mencurahimu berkat

 

Sepotong Doa Desember

 

Tuhan,

Kumohon bonus dua setengah kali gaji

Ditransfer awal bulan

Toh kau akan terciprat juga

Persepuluhanku

 

Harapan Natal

 

Tolong periksa kalender tahun depan

Adakah Natal terjepit

Biar cepat kita rancang vakansi

Tiket lebih murah

Diskon melimpah

Menurut sabda Tuhan

Hendaklah kamu cerdik seperti ular

Dan tulus seperti merpati

 

Rawasari, Desember 2018

 

Ita Siregar, novelis, penyuka puisi dan penggiat sastra Kristiani. Dua novelnya yang terbit 2011 adalah Emeritus-Memoar Seorang Pendeta dan novel anak berjudul Satu Hari Penuh Keajaiban. Ia juga menulis buku digital biografi , Semua adalah Karunia-Nya pada 2014. Saat ini ia tinggal di Jakarta.

 

[1] Disalin dari karya Ita Siregar

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 23 Desember 2018

 

The post Yesus Milenial – Desember – Merayakan Natal – Maaf – Mimpi seorang pendeta – Sepotong Doa Desember – Harapan Natal appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2ELDrvI

  

MATANYA yang sudah sedikit kabur itu menatap warung pecelnya untuk terakhir kali. Kerut di wajahnya semakin ketara. Esok atau lusa, warung itu akan dirobohkan. Lahan tempatnya berjualan akan dijadikan lahan parkir. Baginya, mungkin ini jalan terbaik. Sudah tiga bulan semenjak mall yang memunggungi warungnya itu beroperasi, warungnya menjadi tak seramai dulu. Warung pecel yang kerap semarak saban hari, setelahnya lebih kerap sepi. Sisa sayuran rebus itu selalu tak habis, dengan berat hati Yu Supi selalu membuangnya. Memakai sisa sayuran basi akan lebih membuat warungnya bertambah sepi.

 

Warung itu telah berdiri sekian puluh tahun lalu. Dulu, Yu Supi hanya mendirikan tenda sederhana untuk menggelar dagangan pecelnya. Tapi seiring berjalannya waktu, pembeli silih berganti datang ke warung sederhananya. Pecel gendar miliknya semakin dikenal banyak orang. Sambal kacang yang selalu menggugah selera, sayuran rebus segar yang selalu baru serta gendar yang gurih dan enak itu menjadi kesukaan banyak orang. Menuju siang, biasanya gendar pecel milik Yu Supi sudah tandas, menyisakan pembeli-pembeli yang kecewa lantaran terlambat datang untuk menikmati sepincuk gendar pecel miliknya.

 

“Aku sudah mengikhlaskan warung pecelku ini dilebur menjadi lahan parkir mall itu, Sam. Bagiku rezeki itu datangnya dari mana saja,” ujar Yu Supi kepada Samadi, tukang becak yang membantunya mengangkut barang-barang dari warung ke rumahnya.

 

“Tapi sebenarnya emaneman ya, Yu. Banyak yang suka dengan gendar pecel njenengan soalnya,” sahut Samadi sembari mengangkat cobek besar tempat Yu Supi menggiling kacang tanah dan bumbu pecel ke atas becak miliknya.

 

“Itu dulu, Sam. Sekarang lain lagi. Sudah dua bulan ini aku lebih kerap merugi. Daganganku kerap tak habis meski kutunggu sampai sore hari. Entah, rezeki orang tak ada yang tahu. Tapi kata orang, semenjak ada toko-toko makanan di mall itu, daganganku menjadi kurang laku. Kudengar mereka juga menjual gendar pecel seperti daganganku. Harga sama tapi dikemas lebih bersih dan bagus. Entahlah aku sendiri tak tahu, benar atau tidak kabar itu.” Yu Supi menghela napas pendek.

 

Yu Supi tak pernah tahu, apakah benar berita yang dia terima dari beberapa orang yang sempat jajan ke warungnya. Tapi semenjak mall itu berdiri, anak-anak muda dari kampus seberang jalan itu tak pernah lagi berkunjung ke warungnya. Hanya beberapa gelintir saja yang masih kerap terlihat datang, namun beberapa waktu belakangan pun ikut menghilang. Yu Supi paham benar, semata-mata kesalahan itu tak hanya lahir dari mall yang kini berdiri mentereng di depan matanya, melainkan jalannya rezeki dari Gusti Allah juga turut andil. Di atas becak Samadi yang mengantarnya pulang ke rumah, kini dia sudah ikhlas, sudah tega warungnya akan dilebur menjadi lahan parkir. Gusti Allah tidak tidur, dia yakin rezeki akan datang meski tak lagi terlahir dari warungnya yang siap dibongkar. ❑ – g

 

Artie Ahmad, lahir di Salatiga, 21 November 1994. Novel terbarunya, ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018.

 

[1] Disalin dari karya Artie Ahmad

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 16 Desember 2018

 

The post Warung Yu Supi appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Qzj5vX

  

AKU tahu, tidak mudah merajut kembali hubungan keluarga yang telah retak oleh kebencian. Ketika kebencian menempati sebuah ruang dalam hati yang seharusnya diisi cinta dan kehangatan, seisi rumah seperti dipenuhi api neraka.

 

Aku telah melewatkan dua jam lebih sejak Ubay menelpon dan bercerita bahwa ia bertengkar hebat dengan mertuanya hanya karena berbeda dukungan dalam pilkades yang akan dilaksanakan dua hari lagi di desanya.

 

“Aku sebenarnya lelah terus-terusan perang mulut setiap hari. Apalagi dengan mertuaku sendiri. Tapi aku juga tidak bisa diam kalau dia bicara macam-macam soal tokoh pilihanku,” katanya dengan suara tinggi.

 

Dengan setengah berkelakar aku berkata bahwa sebaiknya mereka berdua bertengkar saja terus sampai sama-sama merasa jenuh dan letih. Ubay tertawa mendengar saranku yang dia tahu itu hanya gurauanku saja.

 

“Berhentilah bergurau. Aku ingin kamu memberiku saran,” pintanya dengan suara ditekan.

 

“Yakin mau ikuti saranku?”

 

“Ya. Aku lelah, malu,” jawabnya.

 

“Kalau begitu, datangi saja mertuamu. Pandang wajahnya, jabat tangannya. Setelah itu, duduklah di dekatnya. Duduk saja, dan diam. Lakukan setiap hari selama lima belas menit.”

 

“Kau gila. Hanya duduk diam begitu, mana mungkin berhasil,” sanggah Ubay.

 

Aku kemudian bercerita soal kenalanku di Amerika. Namanya Beau. Dia karyawan sebuah panti sosial yang ditugaskan menghibur dan mengajak berbicara orang-orang yang hatinya diliputi kebencian sehingga menganggap setiap orang yang berbeda dengan mereka adalah musuh. Suatu waktu Beau menangani seorang nenek yang menganggap anak-anaknya adalah musuh karena sering berbeda pendapat, di mana si nenek itu cenderung memaksakan pendapatnya. Di kamarnya, nenek itu selalu menatap tembok seharian dengan kedua mata penuh amarah. Dia tak pernah mau berbicara dengan siapa pun sejak dikirim ke panti itu.

 

“Setiap hari selama lima belas menit, Beau selalu datang. Dia menatap wajah nenek itu dengan hangat, menyentuh tangannya dan duduk di sampingnya. Mereka tidak berbicara apa-apa, dan hanya diam. Sampai suatu waktu nenek itu mengusap kepala Beau, membalas tatapannya dengan lembut, tersenyum dan memeluk Beau dengan hangat. Mulai saat itu si nenek berubah. Ia kembali berkumpul dengan keluarganya, saling mencintai sebagaimana seharusnya,” aku mengakhiri ceritaku.

 

“Mulianya orang itu. Aku terkesan dan ingin mencoba,” seru Ubay.

 

“Oh, dia bukan manusia, tapi seekor anjing.”

 

Kami tertawa. Setidaknya cerita Beau membuat temanku itu merasa bahwa tak ada perlunya merawat pertengkaran.

 

“Kalau dengan cara diam Beau bisa meredakan hati yang lagi amarah dan benci, kenapa kita justru malah banyak bacot, ya?” kata Ubay sebelum menutup teleponnya.

 

Yogyakarta, 2019

 

Salman Rusydie Anwar, staf pengasuh Pondok Mahasiswa Hasyim Asy’arie dan pengelola Lembaga Kutub Yogyakarta. ❑-e.

 

[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 20 Januari 2019

 

The post Beau Memilih Diam appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2FCOSq5

  

Tertinggal Aku

 

Sudah terlampau jauh aku tertinggal,

diam dan hanya meratapi tepian jalan dari kerikil-kerikil yang

berserakan.

Terus terang aku inginkan malam, namun pagi segera menanti, lalu

menyinari.

Terus terang aku inginkan pagi, namun senja segera tiba membawaku

ke dalam lamunan. Aku ingin kembali, mengejar arah yang sudah

memisahkan jarak yang begitu jauh.

Detik merangkak ke menit, menit berjalan ke jam, lalu jam berlari ke

hari, dan waktu menertawakan keadaan. Tubuhku terlumpuh di makan

jaman.

Masaku di telan kesepian. Asaku di robek kegelisaan.

Citaku direnggut kegelapan.

 

Tik Tak Tik Tak Irama Rinduku

 

Rintik jarum rindu

Satu satu menghujam jantungku

Berdebaran dikejar angan

 

Aku terduduk syandu

Merajut kenangan demi kenangan

Yang koyak dimakan jarak

 

Gelisah kadang mengajakku

Menuruni tangga waktu

Tik-tak-tik-tak irama detak asa

Berlompatan menggapai bayangmu

 

Antara sebentar gumaman

Memuntahkan kata dari rongga hampa

“aku kangen”

“aku merana”

“apalah aku tanpamu”

 

Arakan mega yang indah dalam bingkai raksasa

Menjelma nestapa cuaca dalam amuk amarah

Gerimis tak sabar membadai hujan

Aku tercengkeram cemburu,

Sedang bersama siapa di sana kasihku?

 

Soeartjie, merupakan nama pena dari Suwaji. Hobl mendengarkan lagu, menulls, menonton, dan menggambar ilustrasi ini Iahir di Jakarta. Tak banyak mimplku, tetapi satu yang pasti adalah membuat kedua orangtua bahagia dan bangga.

 

[1] Disalin dari karya Soeartjie

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 2 Desember 2018

 

The post Tertinggal Aku appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Uc96ep

  

SLAMET

 

kalong-kalong gua yang disatir gerujuk

air curuk

darimu belajar menaklukkan cahaya

dan angin malam pembunuh

 

darimu burung gelatik

menakhsis sarang

dari dingin kabut yang mencabik

cinta tebal selaput

betina dan anaknya

poyang baturraden

 

kuncup runcing bunga-bunga palawija

kian rekah menengadah

taburlah gerimis dari arah

angin meniup gerujuk curuk

terbang menari embun

seperti abu nafasmu

buah-buah merunduk takzim

pada ibu

Sri kesuburan

 

embun-embun fajar dijatuhkan

dari sajadah daun rerumputan

sepanjang pematang berbadan ramping

sebab langkah terburu anak-anakmu

menuju fajar yang bersembahyang

 

itu hari menjelang malam

anak-anakmu hendak

memagar jalan datang senja

ditanami pematang petilasan

dengan benih-benih

mengecambah akar, batang, daun, bunga,

hingga buah

api

 

tapi, malah ia

tumbuh meraksasa

menggurita

menghisap darah anak-anakmu

dalam pelukan yang erat dan hangat

membakar daging dan tulangnya

dalam gelak tawa

tanpa sisa seabu

 

SERAYU

 

Kau menyeru cinta padaku

dari seberang serayu

air dan pasir serta batu

ikan dan cucuk urang

serta rerumputan

bergeming

 

Hilir hatimu yang menjadi

kubang gelap kalderapencuri nafas yang

mendinginkan udara di sudut-sudut rumah

setelah memuntahkan apa saja

tertolak tanah, air, dan udara

bahkan api

 

Aku tak mendengar

ingin terus menangis

tak juga tipis

Air, pasir, dan batu

telah bersumpah tak akan bicara

sebelum ketiganya kembali satu

Sedangkan ikan dan cucuk urang

takkan mendustai gembalanya

menyimpan segala rahasia

yang diajarkan kepada mata dan telinga yang

sepasang

hingga bangkit segala rahasia dalam wujud

gembala

Rerumputan itu,

alangkah dia kekasih yang setia

sehingga langit dan bumi mengijabah doa

samarlah gerak-geriknya

 

Sayup kudengar

air, pasir, dan batu

ikan dan cucuk urang

dan rerumputan di antara tubuh kita

meratap pilu

seruan cintamu tak dikenal, hanya amsal

 

KAMANDAKA

 

dia adalah mata air

yang harus membasuh badan dan jiwa

anak-anak yang diemong serayu dan slamet

:cinta adalah makanan ruhani

yang mesti diperebutkan di padang kurusetra

 

ia mengecil

di sudut sunyi terpencil

menempa dan menyepuh badan dan batin

menjadi kudi

ia meninggikan candi dari renik berserakan

di kawah slamet

dan lubuk serayu

bersama sekawanan segawan

 

ia adalah pemenang

dalam perang

tanpa pedang

untuknya adalah kemulyaan bercahaya perak

pancaran hati ciptarasa

bunga pustaka, 2017

 

Mufti Wibowo, lahir dan berdomisili di Purbalingga. Menulis cepen, puisi dan esai.Bergiat di Komunitas Bunga Pustaka.

 

[1] Disalin dari karya Mufti Wibowo

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 4 November 2018

 

The post Slamet appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Rve6bU

ilustrasi karya imam yunni tentang keluarga bung kate.

ilustrasi teknik dasar dalam hal mengurus anak.

 

  

MALAM ini Benu sulit memejamkan matanya. Pikirannya kembali teringat permintaan Surti yang sekarang tengah tidur pulas di sebelahnya. Perempuan yang dinikahi lima bulan lalu itu, empat hari lalu punya permintaan agar dibelikan sebuah cermin yang ukurannya cukup besar.

 

Bagi Benu, permintaan Surti seperti itu dianggap wajar, sederhana, dan tidak neko-neko. Selain di rumahnya belum ada cermin untuk berkaca atau dandan setiap harinya, jika membeli barang itu tentunya tidak harus mengeluarkan uang banyak. Permintaan istrinya itu pasti bisa dipenuhi.

 

Karena itu, untuk memenuhi permintaan istrinya itu pagi-pagi Benu sudah berangkat ke kota untuk membeli sebuah cermin. Di sepanjang perjalanan pulang sambil membawa cermin yang diboncengkan dengan sepeda motor tua, hati Benu tiba-tiba merasakan kebahagiaan luar biasa karena bisa memenuhi keinginan istrinya yang baru sekali ini dilontarkan setelah dinikahi.

 

Cermin dengan ukuran cukup besar itu kemudian dipasang di dalam kamar. Setiap hari cermin itu dipakai untuk berkaca dan dandan Benu sewaktu akan berangkat kerja atau acara lainnya. Begitu pula dengan Surti, merasa amat senang karena sekarang bisa dandan di depan cermin sebagaimana yang diinginkan.

 

***

 

Beberapa pekan kemudian, setelah di rumah itu terpampang sebuah cermin, perubahan pun terjadi. Surti, yang sebelumnya jarang dandan, kini berubah total. Hampir setiap hari dia sering berlama-mana di depan cermin. Melihat perubahan pada diri istrinya itu, Benu pun bertanya-tanya sendiri.

 

“Sur, boleh aku tanya?” ucap Benu suatu malam ketika akan tidur.

 

“Mau tanya apa, Mas?”

 

“Tapi, janji tidak boleh marah ya.”

 

Surti hanya menganggukkan kepalanya.

 

“Aku melihat perubahan yang terjadi pada dirimu. Sebelum rumah ini ada cermin kamu jarang dandan, tetapi sekarang tidak demikian. Kamu sering berlama-lama berada di depan cermin.”

 

Surti tersenyum tipis. Benu ditatap lekat-lekat. “Mengapa masalah seperti itu kamu tanyakan, Mas? Jika setiap hari aku sering di depan cermin dan dandan mestinya Mas merasa senang. Bisa memandang istrinya yang kelihatan bersih, segar, dan tambah cantik. Mestinya begitu.”

 

Benu hanya diam.

 

“Mas, sekarang aku yang ganti bertanya. Apa Mas merasa cemburu jika sekarang aku sering berada di depan cermin? Tidak mungkin aku melakukan hal yang tidak semestinya. Percayalah, Mas, cintaku hanya untuk kamu. Sumpah!”

 

Benu sekarang menarik napas panjang.

 

“Bukan itu maksudku,” ucapnya kemudian terdengar agak berat.

 

“Kalau bukan itu, apa yang menyebabkan Mas bertanya seperti itu?”

 

“Aku hanya merasa heran dengan perubahan yang ada pada dirimu.”

 

“Mas, setiap kali aku berada di depan cermin dan dandan sebenarnya ini hanya untuk Mas. Maksudku, agar Mas semakin sayang dan cinta padaku. Seperti waktu pacaran dulu,” ucap Surti lalu memeluk Benu erat-erat.

 

Pembicaraan antara keduanya berhenti sampai di situ. Benu dan Surti lalu tidur. Merangkai mimpi-mimpinya.

 

***

 

Perubahan di rumah itu ternyata tidak sebatas itu saja. Ada perubahan lain yang terjadi pada diri Surti yang mau tidak mau membuat Benu semakin tidak mengerti dan bingung.

 

Suatu hari Surti bercerita kepada Benu jika setiap kali berada di depan cermin, menurut penglihatannya, wajahnya terlihat semakin cantik. Cantik sekali. Seperti bidadari dari kahyangan.

 

Tidak hanya itu. Setiap kali melihat cermin itu, saat itu pula muncul bayangan seperti kalung, gelang, cincin, dan barang-barang berharga lainnya. Mendengar penuturan Surti seperti itu tentu saja menjadikan Benu seketika kaget bukan kepalang. Tidak masuk akal, pikirnya.

 

“Benar, Mas, setiap kali aku berdiri di depan cermin itu tiba-tiba bayangan barang-barang itu selalu muncul. Tampak jelas di depan mata. Jika Mas tidak percaya bisa dibuktikan sendiri,” ucap Surti meyakinkan.

 

“Itu jelas tidak masuk akal,” Benu bersikukuh dan tetap tidak percaya dengan omongan istrinya.

 

Karena rasa penasarannya yang meletup-letup Benu pun akhirnya ingin membuktikan omongan istrinya. Pelan-pelan kakinya diangkat mendekati cermin yang ada di kamarnya. Setelah berdiri tepat di depan cermin, dengan tatapan mata yang tajam, cermin itu pun diamati dengan saksama. Tetapi setelah diperhatikan beberapa saat lamanya bayangan yang terlihat hanya bayangannya sendiri. Bayangan seorang buruh pabrik dengan upah yang tidak begitu besar dalam setiap pekannya.

 

“Mana bayangan barang-barang seperti kalung, gelang, dan lainnya yang kau katakan itu? Aku tidak melihatnya.”

 

“Masak sih, Mas. Setiap kali aku berdiri di depan cermin itu bayangan barang-barang itu pasti muncul.”

 

“Kenyataannya aku yang sekarang berada di depan cermin tidak melihat barang-barang yang kau sebutkan itu.”

 

Karena Benu tetap tidak percaya dengan bayangan barang-barang itu, Surti akhirnya mendekati Benu yang masih berada di depan cermin. Setelah keduanya berdiri berjajar di depan cermin, Surti pun lalu tersenyum dan mengatakan kalau barang-barang yang disebutkan itu terpampang jelas di depan matanya. Sementara Benu yang juga melihat cermin tetap tidak bisa melihat barang-barang itu. Bayangan yang terlihat hanya Surti dan dirinya.

 

Kejadian di depan cermin itu mau tidak mau menjadikan perdebatan yang tiada habisnya. Bahkan hari-hari berikutnya perdebatan antara Benu dan istrinya semakin menjadi-jadi. Untuk mencari jalan keluar akhirnya Benu memutuskan akan mengajak Surti periksa mata ke dokter spesialis mata. Dengan hasil pemeriksaan itu nantinya akan diketahui mata siapa yang sebenarnya tidak normal.

 

***

 

“Menurut hasil pemeriksaan, mata Pak Benu dan istri normal. Sehat,” kata dokter spesialis mata, setelah melakukan pemeriksaan.

 

Mendengar perkataan dokter itu hati Benu pun menjadi lega. Tetapi tidak demikian dengan Surti. Ia tetap bersikukuh dengan penglihatannya yang telah dialami.

 

“Sungguh, Dok, setiap kali saya berdiri di depan cermin di kamar saya, bayangan seperti kalung, gelang, dan lainnya itu selalu muncul. Tampak jelas sekali.”

 

“Tetapi mata Ibu normal.”

 

“Ini kenyataan yang saya alami, Dok. Saya tidak berbohong.”

 

“Tetapi dari hasil pemeriksaan secara ilmiah ilmu kedokteran, mata Ibu tidak ada gangguan.”

 

“Itu kan menurut ilmu kedokteran. Tetapi mata saya yang melihat itu kenyataannya……”

 

Belum sampai Surti melanjutkan perkataannya Benu cepat-cepat mengajak istrinya pulang. Sementara dokter yang sekarang sendirian di ruang praktiknya itu masih amat penasaran dengan pasien yang baru saja ditangani. Baru kali ini ia mendapatkan pasien dengan kasus mata seperti itu.

 

Meski matanya dinyatakan normal oleh dokter yang ahli di bidangnya, kenyataannya tidak membuat hati Benu merasa tenang. Sebab dalam kesehariannya istrinya selalu terus mengajak berdebat tentang penglihatannya di depan cermin. Kenyataan itu pun menjadikan Benu semakin bingung sendiri.

 

Tidak ingin larut dalam perdebatan yang mengakibatkan keluarganya tidak harmonis, suatu hari tiba-tiba Benu mengambil kursi kayu dan kemudian dilemparkan dengan sekuat tenaga ke arah cermin. Cermin itu pun hancur berkeping-keping. Sementara istrinya yang melihat dari kejauhan hanya bisa diam dan tidak bisa berkata-kata lagi.

 

Irul S Budianto lahir di Boyolali, 22 Juli. Selain cerpen juga menulis puisi dan esai sastra-budaya. Kini tinggal di Boyolali, Jawa Tengah.

 

[1]Disalin dari karya Irul S Budianto

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi Minggu 30 September 2018

 

The post Riwayat Cermin appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2NUqYLg

perumahan 4

 

tips membuat gambar ilustrasi:

-Jika bertujuan membuat gambar photoreal, maka pastikan tidak banyak campur tangan photoshop didalamnya, karena banyak kasus untuk objek building terlihat photoreal tetapi orang dan pohonnya terlihat tempelan.

-Jika bertujuan untuk gambar brosur, banner, media cetak atau promosi maka baiknya tidak menggunakan gambar photoreal murni akan tetapi menggunakan gaya campuran ala digital drawing (more handjob in photoshop) karena corak warna dan garis bisa lebih keluar dan suasana bisa lebih didramatisasi, karena memang bertujuan untuk menarik perhatian orang, meskipun sedikit terlihat seperti gambar kartun.

 

please, add your comment

 

contact:

randysandiya@yahoo.com

perumahan 2

 

tips membuat gambar ilustrasi:

-memberi skala pada bangunan dengan karakter manusia atau pohon atau kendaraan.

-jangan menberikan status kendaraan yang jauh lebih mahal daripada harga rumahnya sendiri.

-pergunakan karakter orang lokal dan bukan orang luar/asing.

 

please, add your comment

 

contact:

randysandiya@yahoo.com

fee desain mulai dari 1/2 gold dinar

www.facebook.com/home.php?ref=home#/profile.php?id=148304...

  

1 2 4 6 7 ••• 79 80