View allAll Photos Tagged ilustrasi
TERINGAT di suatu subuh yang kelabu di hari Selasa. Saat itu hujan gerimis menemani setiap detik para calon penumpang bus di sebuah halte kecil. Untuk melindungi dari hujan gerimis subuh itu, orang-orang membuka payung yang dibawanya, atau hanya mengandalkan mantel yang dipakainya, ada pula yang ikut merapat bersama para calon penumpang bus di bawah naungan halte.
Di belakang halte tersebut, ada seorang ibu yang menjajakan dagangannya untuk sekadar memberikan kehangatan kepada para calon penumpang bus. Kopi, susu, teh, gorengan, dan aneka minuman dan makanan lainnya siap disajikan dalam keadaan masih hangat. Para kenek angkutan antarkota berteriak-teriak menawarkan tujuannya kepada para penghuni halte menambah keramaian subuh kala itu.
Ketika bus tiba, aku pun bersama dengan para calon penumpang cepat-cepat merapat ke depan pintu bus yang telah dibuka. Ada yang berharap masih ada kursi kosong yang tersisa untuk diduduki. Ada juga yang sudah tahu bahwa bus di waktu subuh pastilah penuh, Jangan harap dapat kursi untuk diduduki sambil menuntaskan rasa kantuk yang melanda sisa malam tadi, karena halte ini adalah halte pemberhentian ketiga rute bus ini.
Desing suara pintu bus ditutup pun terdengar. Tak ada penumpang lain lagi yang akan masuk. Bus pun berjalan dengan kecepatan biasa meninggalkan keramaian di halte ketiga. Aku pun melihat-lihat seluruh kursi, tetapi tak kudapati satu pun yang kosong. Aku pun meraih pegangan yang menggantung di bagian atas bus ini. Mencoba menjaga keseimbangan. Kuperhatikan langit di luar. Semburat cahaya matahari mulai memperjelas pemandangan di sisi-sisi jalan. Orang-orang mulai membuka tokonya. Buruh-buruh mulai berdatangan menuju pabrik. Para pekerja berjalan cepat-cepat ke arah kantornya. Anak-anak sekolah diantar para orangtua.
Temanku bilang, semua orang dengan aktivitas yang berbeda itu sedang menuju tujuan yang sama. Dia mencoba bermain tebak-tebakan denganku kala itu.
“Coba jawab, Na!” ujarnya setelah melontarkan pertanyaannya.
“Apa ya?” tanggapku sambil berpikir.
“Bahagia?” jawabku ragu. Ia hanya tersenyum menatapku.
Desing suara pintu bus yang terbuka kembali terdengar. Seorang ibu membawa bayi kecil digendongannya pun masuk mendahului seorang pemuda berkemeja biru langit lengan panjang yang ia lipat sesiku. Halte keempat ini hanya menaikkan dua penumpang. Ibu tersebut mendapatkan kursi setelah seorang lelaki dewasa dengan tas kerjanya memberikan tempat duduknya.
“Makasih.” Ucap ibu itu dengan senyum sopan. Kemudian ia duduk dan memberikan sebotol susu formula untuk anaknya yang terbangun hampir menangis karena kedinginan memasuki bus AC di pagi hari yang dingin.
Untuk mencapai halte terakhir, rute bus ini melewati jalan yang terlintas di tengahnya rel kereta api sehingga terkadang pada jam-jam sibuk seperti ini kemacetan tak dapat dihindari. Bila kereta api lewat, palang pintu kereta api akan diturunkan secara otomatis. Palang pintu kereta api yang diturunkan ini lah yang membuat hentinya jalur lalu lintas sementara untuk mendahulukan kereta api yang lewat.
Sekejap angin berembus kasar di luar bus, menambah hawa dingin pagi itu. Suara khas gemuruh kereta datang pun terdengar selama beberapa menit kemudian hilang. Kulihat palang pintu kereta api otomatis itu telah dinaikkan kembali. Lalu lintas pun berjalan kembali. Satu per satu kendaraan maju melewati rel kereta api. Tepat ketika bus melewati rel kereta api sebelah kanan, seseorang menepuk pundak sebelah kiriku. Kutolehkan kepalaku kearahnya.
“Duduk mbak,” seorang ibu mempersilakanku menempati kursinya.
“Saya mau turun di depan,” lanjutnya.
“Oh. Terima kasih Bu,” jawabku sembari tersenyum.
Ketika aku hendak melangkahkan kaki menuju kursi itu, kulihat seorang petugas kereta api keluar terburu-buru seperti meneriakkan sesuatu sambil melambai-lambaikan tangan dari pos jaganya. Saat itulah, semua tak dapat dikondisikan lagi. Bus tiba-tiba berhenti, terjebak di tengah-tengah rel kereta api, sang sopir mengumpat marah. Semua penumpang panik bertanya-tanya apa yang terjadi. Bayi yang tertidur lelap terbangun mendengar kegaduhan. Tubuhku pun mematung, terlihat dari kejauhan kereta api berjalan ke arah bus yang kutumpangi dengan kecepatan penuh sulit untuk diberhentikan.
“Buka pintunya!!!!” aku berteriak sekencang mungkin, sambil berusaha menggerakkan kakiku yang gemetaran. Semua
orang pun terdiam menatapku nanar. Aku pun mengarahkan jari telunjukku ke luar jendela untuk memberi mereka penjelasan.
“Cepat buka pintunya Pak Sopir!!!” teriakku sekali lagi. Suasana di dalam bus pun berubah menjadi kacau. Semua orang berteriak menginterupsi konsentrasi sang supir bus. Supir bus itu masih berusaha menjalankan busnya dengan panik.
“Tak akan ada gunanya, bodoh!” Seorang bapak-bapak menghardiknya tak sabaran.
“Cepat buka saja pintunya!” Kali ini seorang wanita paruh baya meneriakinya dengan suara parau.
“Hanya dengan ini kita akan selamat semuanya!” balas sang supir keras kepala.
“Sungguh kau tidak tahu?!! Kalau sudah seperti ini, sekuat apapun kau menginjak pedal gasnya bus ini tetap tidak akan berjalan!!!!” ujar seorang pemuda berambut cepak dengan teriakannya.
Sang sopir bus pun menghela napasnya kasar, mengumpat kembali sambil terus menginjak pedal gasnya kuat-kuat. Jalan pikirannya tak dapat dikendalikan, serangan panik membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih.
“Yang benar saja??!!!” Seorang perempuan berteriak tak tahu lagi harus melakukan apa setelah melihat sang sopir masih keras kepala melakukan hal yang tak berguna.
Aku pun mengedarkan pandanganku kesekeliling bus, hingga kudapati di sisi bagian belakang bus sebuah benda merah alat pemecah kaca. Dengan terburu-buru aku berjalan untuk mengambilnya. Dengan susah payah aku melepaskan benda itu dari tempatnya hingga akhirnya dapat ter-lepas. Cepat-cepat kupukulkan benda itu pada pintu kaca bus yang berada di bagian tengah bus sebelah kanan.
Prangg!! Terdengar suara kaca pecah yang membuat perhatian semua orang ter-arah padaku. Kemudian seorang pemuda berkemeja lengan panjang yang tadi naik di halte keempat membantuku dengan menendangkan kakinya ke arah kaca yang sudah mulai retak.
Mulailah kaca-kaca tersebut berjatuhan hingga kiranya dapat mengeluarkan satu per satu orang dari bus itu.
“Saya akan mengeluarkan para wanita dan anak-anak terlebih dahulu. Kamu bantu saya memecahkan kaca di sebelah sana,” ucapku pada pemuda itu sambil me-nunjuk pintu kaca yang sebelah kiri. Lelaki itu pun menganggukkan kepalanya.
“Pak sopir tolong cepat bukakan pintunya. Kereta api itu semakin mendekat akan menabrak kita,” seorang anak laki-laki berkata dengan air mata yang berderai-derai sembari memegangi tangan ibunya kuat-kuat. Orang-orang di luar sudah meneriaki mereka tak sabaran, panik jika harus terjadi sesuatu yang tak diharapkan siapa pun.
“Tombol pembuka otomatisnya pun tak dapat berjalan.” ujar sang sopir dengan kepala menunduk pasrah.
Para penumpang pun menghembuskan napas paniknya. Berteriak-teriak tak jelas. Kemudian mendekat ke arahku, berebut hendak cepat-cepat keluar.
“Ayo, Bu. Ibu duluan,” ujarku pada ibu dengan bayi yang menangis di pelukannya.
Tiba-tiba seorang bapak-bapak menyerobot tubuhku berusaha untuk keluar lewat kaca yang aku dan pemuda itu pecahkan.
“Pak!!” sentakku sembari menariknya sekuat tenaga untuk menyingkir.
“Tolong kerja samanya! Ini bukan waktunya untuk mendahulukan ego kita! Kau mau semuanya kacau hanya karena kau terjebak dalam ernosimu?!!” seruku kesal. Namun, bapak itu tak mau mendengar, hingga pemuda yang membantuku tadi menariknya dengan sekuat tenaga dan menahannya.
“Lepaskan!!” Bapak itu mencoba melepaskan diri.
“Ayo, Bu. Cepat!” seruku terburu-buru.
Tepat ketika ibu dan anak bayinya itu melompat keluar, kereta itu mendekat. Hanya tinggal berjarak satu meter dari bus. Decitan roda kereta api dengan relnya berdesing tak tertahankan hingga mengeluarkan percikan-percikan api.
Namun, apa mau dikata, kita tak kuasa melawan waktu yang terus berjalan. Semua berubah menjadi gelap seketika. Usaha sekeras apapun tak dapat merubah takdir agung yang telah ditetapkan-Nya.
“Kok senyum?” tanyaku padanya.
“Benar tidakjawabannya?” tanyaku kembali. Tatapannya beralih ke arah depan, seperti membayangkan sesuatu.
“Bagaimana Aluna? Sudahkah kau bahagia?” tanyanya kembali.
“Kurasa, ya,” jawabku menatapnya yakin.
Suatu kesunyian pun menyergap suasana pagi itu. Seakan waktu berhenti, menyisakan asap pekat menutupi pandangan.***
[1] Disalin dari karya Juniar Amalia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 13 Januari 2019
The post Teriakan Aluna appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2FtWfjF
IBU selalu meninggalkan kami dan menyendiri di kamar ketika kenangan tentang Ayah meluap dalam pikirannya. Bila itu terjadi, kami tak akan mampu berkomunikasi dengan baik.
Kami, anak dan menantunya, harus menunggu sampai Ibu bersedia keluar kamar dengan mata sembap dan senyum terpaksa. Dulu, sebelum bisa menerima perilaku Ibu itu, kami akan merayu dan menghibur Ibu. Namun kami sadar, ajakan macam apa pun tak akan ia terima. Bahkan celoteh anakku yang berusia dua tahun pun tak mampu mengajak dia beranjak dari kasur.
Ibu bisa kapan saja berperilaku begitu. Ibu pasti menyendiri dalam kamar ketika kami sekeluarga menggelar hajatan untuk berkirim doa bagi Ayah.
Baik tiga hari, seminggu, empat puluh hari, maupun seratus hari Ayah meninggal. Pun hari ini, Ibu tak mau keluar kamar walau tahu kami sekeluarga sibuk memperingati seribu hari Ayah meninggal.
Setelah semua orang, selain anggota keluarga, meninggalkan rumah, baru Ibu mau keluar kamar. “Di mana Arai, Nak?” Ibu duduk meluruskan kaki. Kupijat kaki Ibu. Kulihat kaki Ibu mengecil. Ibu makin kurus.
“Di kamar, Bu. Dia kelelahan. Ibu melewatkan kejadian lucu ketika dia memaksa ikut melayani tamu yang mengaji. Ia meniruku menuangkan teh ke gelas para tamu. Ibu bisa dengar tangis Arai yang kepanasan karena teh hangat tumpah ke bajunya?”
“Iya, Ibu dengar. Arai tak terluka kan, Nak?”
“Tidak, Bu. Ia hanya kaget. Lebih lucu lagi, ia bilang maaf berkali-ulang.”
“Aku senang. Hati anakmu begitu lembut. Anak berusia dua tahun sudah mengerti rasa bersalah. Sayang….”
“Ibu, jangan lagi masuk kamar. Aku butuh Ibu sekarang.” Aku merebahkan kepala ke pangkuan Ibu. Ibu duduk bersandar ke lemari kayu di ruang tengah. Lemari itu sekaligus berfungsi sebagai penyekat agar para tamu tak bisa langsung melihat kegiatan di dapur keluarga kami.
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa sembuh atas kehilangan ayahmu,” ujar Ibu sambil mengusap kepalaku.
“Iya, Bu.” Kupejamkan mataku.
Aku mencium wangi tubuh khas Ibu. “Sampai kapan kau akan bermanja pada Ibu seperti itu, Mas?” celoteh Sari bila melihat kelakuanku seperti sekarang. Istriku anak pertama dari lima orang bersaudara. Dia terbiasa momong adik-adiknya sejak kecil. Tak heran bila ia tak bisa mengerti betapa manja anak tunggal seperti aku ini.
“Sari di mana, Nak?” tanya Ibu. Mungkin Ibu juga khawatir bakal mendengar celoteh Sari macam itu.
“Tenang, Bu. Dia menemani Arai tidur. Ibu juga ya, temani aku tidur malam ini.”
“Dasar anak manja. Kamu enggak malu pada Arai?”
“Biarlah, Bu. Aku malah ingin Arai tahu. Aku ingin Arai mengerti kasih Ibu tak pernah mengenal batas waktu,” jawabku sambil memutar badan. Sekarang wajahku menghadap ke perut Ibu.
“Ayah selalu tersenyum ketika melihatmu seperti ini, Nak.”
“Eh?” Sekarang aku telentang.
“Iya, Nak. Kau tak pernah tahu, karena sejak kecil ketika wajahmu menempel ke perutku, kau selalu tertidur. Melihatmu seperti ini, Ayah selalu tersenyum. Lalu ia angkat dan gendong kamu dari pangkuanku, membawamu ke kamar.”
“Jadi itulah jawaban atas pertanyaanku sejak kecil, Bu?”
“Tentang bagaimana kau bisa pindah ke kamar? Iyalah. Kau tak pernah berjalan sambil tidur,” jawab Ibu seraya tertawa.
“Selama ini Ibu bohongi aku ya? Padahal aku selalu bangga saat bercerita pada temanteman kuliahku dulu, Bu. Kusuruh teman-temanku berhati-hati karena aku sering mengigau dan berjalan saat tidur.” Kembali kutempelkan hidungku ke perut Ibu.
Malam sudah larut. Sari dan Arai pasti sudah terlelap. Aku ingin sejenak bernostalgia dengan kebiasaan lama. Sejak ada Arai, aku tak punya waktu melakukan ini. Perut Ibu adalah tempat ternyaman. Meski aku selalu terbuai pelukan Sari, perut Ibulah tempatku kembali. Aku yakin telah terlelap sampai ada beberapa tetes air membasahi pipi dan membangunkanku. Air mata Ibu!
“Ibu kenapa?”
Ibu diam saja.
“Bu?” ujarku setelah tak lagi berbaring di pangkuannya. Kugenggam tangan Ibu.
“Iya, Nak.” Ibu baru menjawab setelah beberapa saat kupijat tangan kanannya. Dia mengusap air mata dengan tangan kiri.
“Ini sudah seribu hari, Bu. Jangan sampai perjalanan Ayah terbebani oleh tangis Ibu.” Kuberanikan diri mendakwahi Ibu. Aku teringat ucapan Ustaz Fauzi, tangis keluarga hanya akan membebani perjalanan almarhum di alam barzah.
“Kau tahu kenapa Ibu tak bisa berhenti menangisi kepergian ayahmu?”
Aku diam. Tak tahu jawaban atas pertanyaan Ibu.
“Aku tak yakin semua yang kita lakukan setelah kematian Ayah akan sampai padanya.”
“Maksud, Ibu?”
“Aku tak yakin semua doa yang kita kirimkan untuk Ayah, sejak hari pertama kepergiannya sampai sekarang, akan sampai pada dia, Nak.”
Mata Ibu kembali mengair. “Ibu tak yakin semua doa yang kita kirimkan, lewat tahlilan pada peringatan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, bahkan seribu hari malam ini, akan sampai pada Ayah,” lanjut Ibu setelah tahu aku tak menanggapi pernyataannya.
“Kenapa Ibu meragukan itu sekarang?”
“Sejak dulu, Nak. Ketika ayahmu masih hidup pun, Ibu tak yakin.”
“Ibu tak yakin akan kekuatan doa kita?”
“Bukan pada doa kita, Nak. Ibu hanya tak yakin doa kita akan sampai.”
“Kenapa?”
“Pernahkah kau bermakmum pada Ayah ketika salat, Nak?”
Pertanyaan Ibu menohok batinku. Aku masih menggenggam tangan Ibu, sambil menekan-nekan telapaknya secara tak berirama. Pikiranku melompat-lompat, menyeleksi ingatan tentang kebersamaan salatku dengan Ayah.
“Ayah berjamaah di masjid kan, Bu?”
“Ayah tak pernah mengimami salatmu atau salat Ibu, Nak.”
“Ayah salat dan membaca Alquran kan, Bu? Aku menyaksikan itu setiap malam kok.”
“Ayah tak pernah membiarkan kita mengikut di belakang salatnya, Nak. Dia selalu munfarid, sendiri, ketika salat di rumah.”
“Lalu apa masalahnya, Bu?”
“Ayahmu selalu mendambakan moksa, Nak.”
Pernyataan Ibu melemparkanku pada kenangan itu.
“Ayah tak ingin mati, Nak,” kata Ayah saat terbaring di rumah sakit, menjelang kepergiannya.
Aku yakin kalimat Ayah tak terhenti di situ. Namun kalimat setelah itu tak jelas ia perdengarkan padaku.
“Ayah tak ingin mati, Nak. Ayah ingin moksa.”
Kalimat itu tersempurnakan oleh Ibu di antara linangan air mata.
“Sepanjang hidup Ayah, Ibu selalu berdoa semoga suamiku mau percaya apa yang kupercaya. Namun doaku tak terkabul, Nak. Ayah seagama dengan kita, tetapi tidak satu keyakinan.”
Aku diam, bingung. Bagaimana bisa seagama tetapi tak sekeyakinan? Memang benar, waktu kecil aku pernah bilang pada Ayah: aku ingin salat berjamaah dengannya. Ayah selalu mengajakku ke masjid dan bilang, “Kita sudah salat bersama kan, Nak?”
Aku mengangguk, walau tidak puas.
“Namun Ayah salat kan, Bu?” Ibu mengangguk.
“Ayah puasa, zakat, baca Alquran. Ayah konsisten melaksanakan perintah agama, Bu. Bagaimana bisa Ibu meragukan keyakinan Ayah?”
“Pernah Ayah memarahi kamu menggunakan dalil agama karena kenakalanmu?”
Kembali pertanyaan Ibu membuatku terenyak. Seingatku Ayah memang tak pernah mengucapkan dalil agama dalam mendidikku. Ayah hanya bertanya, “Sudah pantaskah yang kaulakukan, Nak?” Atau, “Benar kau tak membohongi hatimu tentang kebenaran tindakanmu itu?”
“Apa hubungan hal itu dengan keyakinan Ayah, Bu?”
“Salat dan ibadah Ayah berbeda tujuan dari salat kita, Nak. Ayah tak pernah menjadikan agama sebagai dasar kerangka berpikir. Karena itulah, dia tak pernah membiarkan kita mengikuti salatnya barang sekali saja. Ayah tak pernah meyakini keberadaan surga dan neraka. Ayah tak berdoa agar tenang dan mendapat kenikmatan di alam kubur. Ayah mengidamkan kembali ke sumber kehidupan, Nak. Padahal kita berdoa setiap hari untuk orang yang berada di alam kubur. Aku tahu, bukan alam kubur yang ayahmu tuju saat meninggal.”
“Lalu di mana sekarang Ayah, Bu?”
Pertanyaan itu tak berjawab; membentur keheningan malam dan Ibu yang membisu. (28)
Fahmi Abdillah, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes). Penabuh gender dan penulis cerita ini telah menerbitkan buku kumpuan cerita pendek berbahasa Jawa, Kalingan Ayang-ayang (2018).
[1] Disalin dari karya Fahmi Abdillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 30 September 2018
The post Ibu, Ayah di Mana? appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Rc71h3
1. Cara Mengusir Iblis
Ada dua iblis di dalam rumahmu. Iblis-iblis itu terlihat mengerikan. Iblis-iblis itu memiliki taring-taring tajam, mata besar warna merah, serta jari-jari kasar dan berkuku runcing. Iblis-iblis itu selalu bertengkar dan mencaci-maki apa pun yang melintas di kepala mereka. Terkadang kau sering terkena damprat amarah kedua iblis itu. Mereka, apabila sudah tersulut emosi, akan mencaci-maki atau memukulimu. Maka, karena tidak ingin terkena tulah dari kutukan dua sosok mengerikan itu, setiap kedua iblis itu bertengkar, kau selalu menyalakan petasan.
Itu sering kau lakukan sejak dahulu. Pertama yang melakukan adalah kakekmu. Pria itu meyakini petasan dapat mengusir iblis. Kau pun demikian. Kau percaya petasaan yang kausulut dapat mengusir iblis-iblis, yang bersemayam di dalam rumahmu itu, pergi jauh. Suara petasan yang keras mampu menakutnakuti iblis-iblis itu, sehingga akhirnya kau tak lagi menjadi tempat amukan kedua iblis laknat itu. Malam ini pun, seperti malam lain, dua iblis itu kembali bertengkar. Mereka tidak lelah meributkan hal-hal yang sebenarnya sangat sepele.
“Hari ini pasti kau selingkuh!” kata iblis jantan. “Maka kau pulang malam lagi.”
“Kau yang main serong dengan perempuan-perempuan tak tahu diri itu!” dengus iblis betina.
“Dasar keparat!”
Suara tamparan terdengar seiring denting lonceng gereja di ujung gang kampungmu. Kau, karena tak mau terlibat, termenung di serambi rumah seraya menggenggam sebuah petasan. Suara kedua iblis itu semakin kencang. Dan ketika bendabenda, berupa kaca atau benda padat lain berbenturan, itu pertanda bagimu untuk menyalakan petasan. Suara petasan akan mengaburkan suara para iblis. Paling tidak kau tak mendengar lagi gerutu atau dengus laknat para iblis dari dalam rumahmu. Begitulah. Setiap pertengkaran dua iblis itu memuncak, kau menyulut petasan. Yang lebih penting lagi, suara petasan yang memekakkan telinga dapat menghentikan pertengkaran dua iblis itu.
Karena ulahmu menyalakan petasan, mereka mencarimu. Mereka memanggil-manggilmu.
“Lastari!” panggil iblis betina itu. “Di mana kau, Lastari!”
Kalau melesat kabur. Kau juga tidak jera menyalakan petasan. Sekali lagi kauhidupkan petasan di depan rumah. Suaranya yang keras mendengung hingga mampu membelah gendang telinga. Iblis-iblis itu tak lagi bertengkar, tetapi mereka kini malah memanggil-manggilmu. Kau pun berpikir: iblis-iblis yang bersemayam di tubuh ayah tiriku dan Ibu sudah pergi.
2. Para Iblis yang Pemalas dan Pesta-pesta Mereka
Kau acap muak setiap kali melihat iblis jantan itu bermalas-malasan di depan televisi. Iblis itu hanya menghabiskan puluhan kaleng bir beralkohol dan tertawa-tawa mengamati tayangan televisi. Rumah menjadi gaduh. Apalagi kalau iblis itu sudah mengundang teman-temannya untuk bermain judi, susana rumah seperti nereka. Mereka ribut mempertaruhkan uang masing-masing, dan terkadang meniduri wanita secara bergantian.
Melihatnya kau menjadi mengerti, mengapa Ibu, iblis betina itu, sering marah pada iblis laki-laki tersebut. Iblis betina itu jengah atas tingkah iblis jantan yang gemar mabuk-mabukan, bermain judi, dan bergonta-ganti pasangan. Kau juga pernah melihat Ibu ditiduri salah satu teman iblis jantan karena uang untuk berjudi habis.
Tak ada pula yang dapat kaulakukan untuk membantu. Kau hanya menyalakan petasan ketika keadaan sudah semakin gaduh dan kacau. Dengan menyalakan petasan, kau berharap iblis-iblis itu segera enyah dari rumahmu. Namun yang terjadi sering sebaliknya. Terkadang usahamu mengusir para iblis gagal. Kau malah menjadi sering terkena tamparan, atau amukan dari salah satu iblis itu. Dari semua yang pernah terjadi, kau acap tak habis pikir: mengapa Tuhan membiarkan makhluk terkutuk itu berkeliran di dalam rumahku? Apakah rumah ini telah dikutuk? Kau tak tahu.
Namun dahulu rumah ini tampak indah seperti rumah-rumah umumnya. Sayang, keharmonisan itu hanya sementara. Tepatnya setelah ayah kandungmu meninggal dan Ibu menikah lagi dengan pria asing yang tak kau suka. Tuhan menciptakan kesempatan, tapi apabila seorang salah mengambil, hal buruk bisa terjadi. Demikianlah yang dilakukan Ibu waktu itu. Ia salah memilih langkah di dalam hidupnya; hingga menentukan juga terhadap hidupmu dan kebahagiaan rumah.
Rumah yang bahagia menjadi sarang iblis karena Ibu memilih menikahi pria asing yang dia temukan di tepi jalan. Ibu yang semula lembut, perlahan berubah menjadi binal dan liar. Bahkan Ibu menjadi iblis betina pada malam tahun baru dua tahun lalu. Dan seorang keparat yang Ibu temukan di jalan itu, sering memaksamu memanggilnya Ayah. Namun kau tidak pernah mau, karena laki-laki itu bukan ayahmu. Kau menganggap laki-laki itu iblis liar yang baru saja melarikan diri dari neraka.
Sejak kejadian itu rumahmu menjadi sarang bagi iblis-iblis berpesta. Iblis-iblis itu seakan tak kenal waktu ketika berpesta. Ibu, iblis betina itu, entah mengapa, sejak dipaksa iblis jantan tidur dengan temannya karena kalah berjudi, sering pergi bersama salah satu teman iblis jantan untuk berkencan. Namun ketika Ibu kembali, pertengkaran dimulai. Mereka akan saling mengutuk. Bahkan seakan ingin saling membunuh. Maka kau selalu menyalakan petasan agar iblis-iblis itu pergi.
3. Rencana Membunuh Iblis
Malam ini rasa rindu bergelayut di dalam hati. Kau ingat Ayah, yang sudah lama meninggal; pria baik yang telah membusuk entah di mana. Kau tahu sebenarnya Ayah mati bukan karena kecelakaan, melainkan setelah Ibu menikamnya dari belakang. Ibumu menikam Ayah dengan sebilah pisau dapur dan membuang mayat Ayah di sebuah sungai. Ibumu melakukan itu karena sudah hamil satu bulan dengan pria gelap yang dia temukan di jalan dan berakhir dengan keguguran.
Air matamu meretas jatuh mengingat takdir muram Ayah. Kau ingin memeluk ayahmu atau bermain petasan, seperti kakekmu ketika masih hidup. Karena dahulu, pada waktu malam tahun baru akan tiba, kau selalu bermain petasan berdua.
“Kakekmu benar. Suara petasan dapat mengusir setan, Lastari,” kata ayahmu. “Itu sebabnya petasan dinyalakan pada malam tahun baru. Semua setan akan pergi, tidak mengganggu manusia pada kehidupan berikutnya.”
Kau bergidik ngeri mendengar cerita Ayah mengenai setan.
“Iblis memang dapat terus berkeliaran hingga akhir zaman,” lanjut ayahmu lagi. “Maka kita harus mengusirnya.”
Lamunanmu terus melambung hingga mendadak terdengar sebuah ketukan di pintu, yang membuyarkan segalanya. Ketukan itu semakin keras. Namun kau kukuh tidak membuka.
“Lastari, buka pintu!” ujar iblis jantan itu. “Cepat buka pintu!”
Kau tak menggubris. Kau mendekam di kamar dengan tubuh mengigil ketakutan. Kau tak dapat membayangkan kejadian buruk yang mungkin akan menimpamu bila membuka pintu.
Suara ketukan itu semakin nyaring. Bahkan iblis itu berusaha merubuhkan pintu kamarmu. Iblis itu memekik-mekik lantang.
“Lastari! Buka pintu! Ayah ingin bicara denganmu!” Pitam iblis itu. “Ada sesuatu yang Ayah berikan padamu!”
Di dalam kamar, kau terus berdoa. Namun iblis itu terus memaksa agar dapat masuk ke kamarmu. Gesit, kau meloncat dan mengambil sebuah petasan di dalam kotak kecil. Kau nyalakan petasan itu berulang-kali sampai suara yang mengentak-entak di luar pintu berhenti. Apakah iblis itu pergi? Tidak. Iblis di dalam rumah ini tidak akan pergi! Iblis itu malah masuk melalui jendela kamarmu. Iblis itu kemudian menubruk tubuhmu dari belakang dan melucuti pakaianmu satu per satu. Iblis itu kembali membenamkan kutukan di dalam rahimmu untuk kali kelima.
4. Cara Menyalakan Petasan dan Membunuh Iblis Betina
Malam ini adalah malam tahun baru terindah. Kembang api di langit tak henti berdentang pada tengah malam yang penuh doa. Hati-hati, karena dendam dan amarah, kau menyelinap ke kamar iblis itu. Iblis betina itu tampak tidur lelap dengan mulut terbuka ketika kau membekap dan menjejalkan sebuah petasan ke dalam mulutnya.
“Mari kita rayakan malam tahun baru tanpa tangis dan kesedihan!” katamu sembari menghidupkan sumbu petasan.Dan, dor! Petasan itu meledak menghancurkan mulut wanita itu. Kau pun menyeringai melihat tubuhnya terkulai tak bergerak.
5. Cara Menyalakan Petasan dan Membunuh Iblis Jantan
Petasan dan kembang api semakin nyaring di luar dan kau kembali memanjatkan doa. Seorang pria datang dengan langkah limbung. Iblis jantan itu mendekat dan menubruk tubuhmu. Ia kembali menyeretmu ke dalam lingkar kutukan. Namun malam ini kau tak melawan. Bahkan kau melayani hingga ia puas dan lemas.
Setelah bercinta, hati-hati, kau mengikat kemaluannya dengan sebuah petasan.
Dan, dor! Kemaluan pria itu hancur!
Kau tertawa melihat pria itu meringkik kesakitan. Namun kau belum puas menikmati malam tahun baru ini. Kau telan semua petasan itu sampai menyumbat tenggorokan dan mulutmu. Kausulut sebuah petasan yang bersemayam di tenggorokan dan mulutmu.
Dan, dor! Semoga iblis-iblis itu pergi. (28)
– Risda Nur Widia telah menerbitkan buku cerpen tunggal Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016).
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 30 Desember 2018
The post Membunuh Iblis pada Malam Tahun Baru appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2R2TJap
SEPASANG mata Alira tertuju pada tong sampah yang teronggok dekat pintu pagar. Berharap dari sana muncul jin yang biasa mengabulkan tiga permintaan. Kepada jin itu, Alira ingin menyampaikan dua permintaan. Pertama, dia ingin seseorang yang sangat dia rindukan datang ke rumahnya. Kedua, dia ingin seseorang itu lalu menetap selamanya di rumahnya.
Jin itu mungkin tidak akan pernah muncul. Tapi, dia tidak mau berhenti berharap.
Di luar pagar, dunia lain sedang memainkan perannya. Menampilkan kesibukan rutinitas seperti biasanya. Tak ada yang baru, hanya menciptakan kebisingan-kebisingan di udara. Namun, itu tak mampu mengusik Alira. Dia hanya mau peduli pada tong sampah.
Dulu, sekitar dua satu tahun yang lalu, satu hari sebelum Hari Raya Natal, dia pernah punya satu keinginan. Tong sampah yang sedang dipandanginya bisa menjadi sebab seseorang yang sangat dirindukannya datang ke rumahnya.
Rancangan peristiwa yang terlintas di benaknya waktu itu cukup sederhana. Alira membuang surat ke tong sampah, lalu petugas kebersihan kota (pasukan kuning) mengambil tong sampah dan memindahkan isinya ke gerobak sampah. Surat itu lantas jatuh sebelum sampai ke tempat pembuangan karena pembawa gerobak sampah ugal-ugalan waktu mendorong gerobak. Surat itu kemudian ditemukan seseorang yang dirindukan Alira, yang terenyuh membacanya sehingga terpanggil untuk mendatangi Alira yang sudah mencantumkan alamat rumahnya di dalam surat. Lalu, seseorang itu memutuskan untuk menetap di rumah Alira selama- lamanya karena merasa kasihan pada Alira. Sangat masuk akal, bukan? Tapi, waktu itu, akhirnya Alira tidak pernah membuat surat.
“Andai jin pengabul tiga permintaan itu muncul, pasti apa yang aku harapkan bisa terkabul,” suara batin Alira, memecah lamunannya sendiri.
Matanya masih belum mau berpindah ke tempat lain. Misalnya ke sudut halaman rumah, kepada pohon belimbing yang berbuah, dan sebagian buahnya jatuh membusuk di rerumputan, atau kepada bunga mawar atau melati yang tumbuh di sekitar belimbing. Tidak. Dia tidak suka pada semua itu. Dia lebih suka memandangi tong sampah.
Kalau sedang di kamar tidurnya, dia suka memandangi dinding yang berisi banyak gambar. Alira memang suka menggambari dinding kamarnya. Ada banyak macam gambar di sana. Semua gambar berbentuk siluet hitam penuh: gambar wajah seorang lelaki tanpa mata dan mulut, gambar lelaki menggandeng tangan bocah, gambar lelaki bersama bocah dan seekor kucing, gambar lelaki menggandeng tangan perempuan, gambar lelaki bersayap, dan gambar kepala lelaki yang muncul dari tong sampah. Semua gambar itu memenuhi dinding kamar berlatar putih. Alira seperti sengaja menciptakan dunia lain yang bercerita tentang kebahagiaan di dinding itu, kebahagiaan yang hitam. Oleh sebab sudah tidak ada ruang, Alira tidak menggambar lagi, tapi lebih suka memandanginya. Manisa, ibunya, tak marah dengan perbuatan Alira. Bahkan, disuruhnya Alira menggambar sepuasnya.
Alira menggambar ketika hatinya sedang kesal. Biasanya dilakukan ketika dia pulang sekolah. Dia memang sering dibuat kesal oleh teman sekolahnya. Dia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, misalnya dipalak, diacuhkan, dan dijauhi. Tetapi, dia lebih sering kena palak salah satu teman sekolahnya yang konon anak orang miskin; bapaknya dipenjara karena mencuri dan ibunya hanya bekerja sebagai tukang cuci baju.
Alira sering mengadukan perbuatan temannya itu kepada Manisa. Manisa, yang sering tidak punya banyak waktu mengurusi Alira karena kesibukan pekerjaan kantor, sudah berkali-kali meminta tindakan tegas dari pihak sekolah agar teman Alira yang tukang palak itu dikeluarkan dari sekolah, atau dipindah kelas. Tapi, itu tidak pernah terwujud karena pihak sekolah tidak bisa bertindak hanya dengan laporan sepihak. Akhirnya, Manisa bersiasat. Alira tak lagi diberinya uang saku.
“Kamu sarapan saja yang kenyang, ya, tidak usah bawa uang saku, demi keselamatanmu,” begitu kata Manisa dan Alira menurut.
Tapi, Manisa memberi bekal roti berselai cokelat dalam kotak makanan dan ditaruh dalam tas Alira. Muslihat itu berhasil. Alira aman dari pemalakan. Tapi, tidak dari perundungan lainnya. Akhirnya, Manisa mendatangi sekolah dan meminta Alira dipindah kelas saja. Permintaan itu dituruti. Namun, di kelas baru, Alira belum menemukan teman yang cocok. Sebenarnya Manisa kasihan melihat kondisi Alira. Dia pernah memiliki niat menikah lagi, tapi takut. Dia takut menemukan lelaki yang salah. Sudah ada beberapa lelaki tampan dan berpenghasilan tetap mencoba mendekatinya. Namun, Manisa tidak berani membangun hubungan yang serius. Suatu waktu, ketika menemani Alira tidur, dia pernah bertanya, “Apa Alira ingin ayah baru?” dan Alira menjawab, “Tidak, Bu. Aku ingin Ayahku yang dulu.” Manisa menahan tangis saat mendengar jawaban Alira. Sejak saat itu dia hilangkan niat menikah lagi. Menolak siapa saja yang berusaha memilikinya, memilih menjadi janda selama-lamanya, demi menjaga hati Alira agar tak tersakiti.
Mandara, Ayah Alira, sebenarnya juga rindu kepada anak gadisnya itu. Tapi, tidak tahu cara mengungkapnya sebab sekarang dia menetap di tempat yang jauh, sangat jauh, yang tak mampu dijangkau mata manusia. Dulu, dia pergi meninggalkan Manisa karena pesawat yang ditumpanginya memilih laut sebagai landasan, lalu meledak, dan laut kemudian berubah menjadi kuburan massal bagi semua awak pesawat. Waktu itu, Alira masih berumur tiga bulan.
Manisa tidak pernah bercerita tentang peristiwa itu kepada Alira. Dia tidak memiliki kekuatan untuk menceritakannya.
Meski ditinggalkan waktu masih bayi, pada akhirnya Alira tahu siapa ayahnya. Itu karena Manisa masih memajang foto Mandara di dinding, di album foto, dan di atas meja kamar Manisa. Suatu waktu, karena rindu berat kepada sang ayah, Alira bertanya kepada Manisa, “Bu, kapan Ayah pulang?”
Manisa menjawab, “Hanya Tuhan yang tahu jawabannya, Lira.”
Alira bertanya seperti itu karena Manisa dulu pernah berkata, kalau Mandara sedang pergi ke sebuah tempat yang jauh, tempat indah yang hanya ada di langit. Tentu saja waktu itu Alira tidak mengerti tempat apa itu sebenarnya. Dia hanya tahu ayahnya pergi ke sebuah tempat yang jauh dan tak pulang-pulang. Lalu, di lain waktu, dengan sikap khusyuk, sambil bersimpuh di atas kasur, Alira bertanya kepada Tuhan:
“Tuhan, kapan Ayah pulang?” Dia sangat berharap Tuhan mau menjawabnya sehingga dia mengulang sampai tiga pertanyaan itu. Lalu, ada suara menggema di telinganya, berkata, “Ayahmu pasti pulang jika tiba waktunya, Lira.”
Dia pun senang bukan kepalang dengan jawaban yang dianggapnya berasal dari Tuhan itu.
Sampai jalanan di luar sana sepi dari kebisingan, Alira tetap terpaku pada tong sampah. Dia mulai teringat pada jawaban yang dia anggap datang dari Tuhan tempo hari. Dia tahu, besok Natal akan dirayakan kembali. Alira juga tahu Sinterklas, yang dia anggap sebagai pesuruh Tuhan, akan turun ke bumi untuk memberi hadiah kepada anak-anak. Hari Raya Natal kemarin, Alira mendapatkan hadiah boneka Panda yang besar. Hadiah itu dia anggap pemberian Sinterklas. Padahal, Manisa yang meletakkannya diam-diam di kursi belajar waktu Alira tidur.
Malam Natal pun tiba. Tepat pukul 9, Alira tidur tanpa harus ditemani Manisa atau Bik Nju, sang pembantu. Manisa masih ada di kantor, katanya ada beberapa tugas yang masih harus diselesaikan. Sebelum tidur Alira sudah berdoa. Meminta agar Sinterklas membawa pulang ayahnya. Saat sudah pulas dalam tidurnya, ada tangan yang mengguncang-guncang tubuhnya. Alira terbangun. Saat membuka mata, dia terkejut melihat wujud Sinterklas berdiri di samping kasurnya. Dia kucek-kucek matanya dan Sinterklas berjenggot putih itu masih berdiri sambil menyunggingkan senyum.
“Jangan takut Alira. Ini aku, Ayahmu.”
Mendengar kata ayah disebut, Alira merasa bahagia tak terbilang. Dia tak bisa bicara dan segera menghambur pada Sinterklas dan memeluk tubuhnya sambil menangis bahagia.
“Aku pulang untukmu, Alira.”
Alira tetap tak bisa bicara. Dia hanya ingin seseorang yang dipeluknya, yang sangat dirindukannya, tidak lepas lagi dari pelukannya. Dan dia tak peduli, kalau yang terjadi padanya itu cuma mimpi. Ya, cuma mimpi, yang hanya akan menjadi kenangan ketika dia bangun nanti. (M-2)
Asoka, 2018
Agus Salim, lahir di Sumenep, 18 Juli 1980. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.
[1] Disalin dari karya Agus Salim [2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 23 Desember 2018
The post Lelaki yang Menjelma Sinterklas appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2EI6xLO
Aku berdiri di balik bibir jendela, melayangkan pandanganku pada beberapa kupu-kupu yang sedang berteduh. Kuamati sayap kupu-kupu yang terlihat begitu indah. Pada sayapnya terdapat sisik-sisik yang berwarna-warni dan berderet rapat.
“Itulah kupu-kupu, meski sayap kupu-kupu tidak dapat terbang jauh lebih tinggi dari elang, bukan berarti kupu-kupu lemah. Mungkin jika bisa bertukar sayap, kupu-kupu juga mau terbang ke awan seperti elang. Tapi, kita tak bisa memaksakan ke hendak, semua sudah ada porsinya masing-masing,” ucap Ibu pada suatu sore yang hangat.
***
Sudah dua bulan sejak kedatangan tamu di hari itu, rumah kecil ini mendadak ramai. Tamu itu adalah seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, jurusan seni tari. Namanya Alina, anak-anak memanggilnya Kak Alin. Aku masih ingat sekali hari itu, hari kedatangannya. Saat itu kedatangannya baru yang pertama kali, tetapi mereka sudah sangat dekat. Semua anak sangat antusias menyambutnya, Kak Alin pun membalas sambutan mereka penuh hangat. Hanya aku yang masih diam di kursi ruang tamu, menatap mereka dari kejauhan, sama sekali tak ingin beranjak. Aku sudah mendengar tentang Kak Alin sebelumnya. Bunda Riani yang menceritakannya. Kudengar Kak Alin akan menjadi relawan guru tari di rumah singgah ini. Semua anak bersorak-sorai mendengar berita gembira itu, kecuali aku.
“Kak Alina sudah datang teman-teman!” Teriak Ratih sambil berlari menuju pintu diikuti anak-anak yang lainnya.
Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok berwarna merah muda. Ratih, Hani, dan Lila menggelayutkan tubuh mereka sambil menarik jemari Kak Alin, mereka terlihat sangat akrab. Satu per satu dari mereka mencium tangannya yang dibalas dengan pelukan hangat. Mereka bersama-sama menuju ke ruang tari yang telah dipersiapkan Bunda Riani kemarin. Kak Alin sempat menatapku dari kejauhan dan melemparkan senyumnya untukku. Aku memalingkan muka dengan tanpa membalas senyumnya. Aku iri.
Aku memilih mengintip mereka dari kejauhan. Kemudian, perlahan aku kembali ke kamar tanpa ada yang menyadarinya, kecuali Bunda Riani. Aku kembali ke kamar dengan jalan terseok-seok. Kurebahkan badanku di kasur sambil memandangi rinai yang mengalir di balik kaca jendela kamar. Pikiranku seperti hendak memasuki mesin waktu dan kembali pada masa itu. Aku berniat menuliskan sesuatu di sebuah kertas. Namun, rasanya seperti ada mencekat rahangku dan sesuatu yang meyesakkan dada. Aku hanya mampu diam, membiarkan detak jam terus berjalan dalam kekosongan di kamar.
***
“Sifa..”
Aku mendengar sayup-sayup suara seorang perempuan diikuti dengan suara laki-laki. Mereka menghampiriku dan kemudian memelukku. Aku memandangi wajahku di cermin, aku tampak cantik mengenakan kebaya berbahan katun sepasang dengan jarit bermotif batik. Kepalaku disanggul dan dihiasi bunga-bunga yang membuatku semakin anggun.
“Ayah dan Ibu bangga, Nak. Kamu tadi mendapat juara tiga.”
Perempuan itu masih memelukku.
“Kalau festival selanjutnya mendapat juara satu, ayah akan membelikanmu hadiah sepeda.”
Lelaki itu juga ikut berbicara, menjanjikan sesuatu yang kudambakan selama ini.
Kupu-kupu Bersayap Elang
Mereka adalah ayah dan ibuku. Aku dijanjikannya sepeda yang sangat kuingini. Namun, aku hanya mendapat juara tiga. Aku selalu berharap menjadi juara satu, aku ingin sekali sepeda.
Langit mulai gelap. Awan siap menumpahkan jutaan fluida dari bibirnya dan membasahi seluruh kota ini. Kami segera menepi di tempat yang teduh hujan. Ayah membelikan kami soto ayam. Aku dan ibu suka sekali soto ayam.
“Ayah, janji ya kalau juara satu, aku mendapat sepeda?” Tanyaku dengan wajah yang kuyup.
“Iya, sayang. Kamu harus rajin berlatih agar bisa menjadi penari yang hebat,” Ayah membelai rambutku yang ikal bergelombang.
Mataku berbinar bahagia mendengar ucapan Ayah. Aku sudah tidak sabar dapat mewujudkan impianku tersebut.
Kami bertiga pulang menaiki motor Ayah. Hanya motor Ayah kendaraan yang keluarga kami punya. Jalanan masih sangat licin, tapi kami harus segera pulang. Ayah memiliki urusan yang harus diselesaikannya. Ia sudah sengaja membolos kerja untuk melihat penampilanku di panggung dalam Festival Tari Jaipong tingkat SD se-Jawa Barat.
Pandanganku tiba-tiba gelap. Aku tidak melihat apa-apa lagi. Aku hanya mendengar suara. Suara ibu yang memanggilku, suara Ayah yang menjerit kesakitan, dan ibu yang kemudian menangis memanggil Ayah.
***
Kak Alin selalu datang sesuai jadwalnya. Kak Alin datang setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Anak-anak sudah siap menyambut Kak Alin seperti biasa. Sementara, aku masih enggan bergabung dengan mereka.
“Ayo, anak-anak kita berkumpul,” ajak kak Alin sambil menggelar tikar plastik untuk mereka semua duduk.
Di hadapan kak Alin kini sudah berjajar sebelas anak yang siap mendengarkannnya berbicara.
“Sebelum kita melakukan gerakan tari, Kak Alin akan menjelaskan tentang tarian jaipong. Tarian ini adalah tarian khas di Jawa Barat, bahkan populer hingga di luar Jawa Barat. Tari Jaipong ini sangat Kak Alin sukai. Mengapa? Karena tari jaipong dapat membuat penarinya merasa senang karena gerakan-gerakannya yang dinamis dan membuat orang jadi lincah. Jadi, kalau kalian sedih, kalian tidak akan merasa sedih lagi kalau menari ini,” ucap kak Alin seraya tersenyum.
“Kakak akan ajarkan gerakan-gerakan dasarnya terlebih dahulu. Perhatikan baik-baik. Dimulai dari gerakan kepala.” Kak Alin memutar-mutar kepalanya.
Aku pernah mempelajarinya dulu. Dari balik semak, tidak jauh dari saung, aku mengintip mereka. Secara tidak sadar aku mengikuti gaya mereka.
“Kalau ini namanya galier, gerakan yang memutarkan kepala. Nah, yang ini namanya gilek, gerakan menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri.”
Diam-diam aku meniru gerakan Kak Alin dan teman-teman dari balik pintu. Aku masih ingat semuanya.
“Sekarang gerakan tangan. Ada bermacam-macam, yang pertama ukel gerakan memutarkan tangan. Selanjutnya, selut gerakan tangan kanan dan kiri yang digerakkan ke depan atau ke atas dengan cara bergantian. Ada lagi, tepak bahu, gerakan tangan yang menepuk-nepuk bahu baik itu satu atau dua tangan dan dua tangan saling bergantian.”
Tanganku masih lincah mengikutinya. Aku masih benar-benar mengingat sekaligus menginginkannya.
“Masih pada gerakan tangan, namanya capang. Capang adalah gerakan tangan yang membengkokkan salah satu dari tangan. Selanjutnya, nyawang, yaitu gerakan tangan seperti melihat orang dari kejauhan. Ada juga lontang kiri atau kanan, lontang adalah gerakan tangan yang menggunakan dua tangan dan digerakkan saling bergantian.”
Kali ini aku mundur, tidak lagi meniru gerakan tari mereka dari kejauhan. Mencoba berlari seperti mengejar laju angin, tapi aku tak mampu.
“Sekarang gerakan kaki. Gerakan ini juga bermacam-macam..”
Tak lagi kudengar suara Kak Alin berikutnya. Aku menutup telinga sekencang-kencangnya. Rasanya ingin mengenyahkan seluruh orang yang ada di ruangan ini.
Aku kembali ke kamar, seperti biasa. Aku selalu menuliskannya di sebuah kertas, tentang apa pun yang pernah kualami, kejadian-kejadian di rumah singgah, tentang teman-teman yang mungkin mereka sudah lupa. Aku masih mengingatnya, menjadikannya bingkai cerita yang akan mereka baca suatu hari nanti, jika mereka mau. Aku jadi ingat, sudah sebulan aku mencari kotak kesayanganku. Isinya hanya pensil, kertas, dan buku-buku usang yang selalu menemaniku ke manapun aku pergi. Aku sudah menanyakannya berkali-kali pada Bunda Riani hingga beliau bosan. Meski begitu, beliau selalu menjawab sambil tersenyum.
“Ayo, coba Sifa ingat-ingat lagi. Mungkin lupa menaruhnya?”
Aku ingat betul terakhir kali aku menaruhnya di meja belajar. Hal yang membuat aku yakin bahwa tak akan ada yang mau mengambilnya, itu hanya sebuah kotak usang. Bagiku, kotak itu adalah sebagian dari nyawaku.
Aku menundukkan kepalaku dan meliuk-liuk di kolong kursi ruang tamu. Tiba-tiba mataku mendarat pada sebuah sepatu kaca berwarna biru.
“Sifa, sedang apa?”
Aku menarik kepalaku ke luar kolong, menghadap arah suara yang barusan bertanya padaku. Rupanya Kak Alin sudah datang. Kak Alin hanya tersenyum, sedetik kemudian tangan yang semula dilipatnya ke belakang kini menunjukkan sesuatu di hadapanku. Mataku membelalak, mengamati sesuatu yang selama ini kucari. Kini, lebih rapi dan bagus, tidak lagi usang. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.
“Ini yang kamu cari? Maaf Kak Alin pinjamnya ngga bilang-bilang Sifa, ya?”
Di atas kotak kecilku ada sebuah majalah yang sudah sengaja dilipat pada halaman delapan, kolom cerpen.
Kupu-Kupu Bersayap Elang.
Aku baca judulnya dengan saksama. Kuamati baris-baris huruf yang tertera di sana, aku seperti mengenalinya.
“Kak Alin minta maaf ya. Selama ini Kak Alin selalu meminjam kotak kecilmu diam-diam pada Bunda Riani.”
Kutelusuri bacaan itu. Isinya sama persis dengan kata-kata yang pernah kutuliskan.
Karya: Sifa Anastasia
(Juara I Lomba Cipta Cerpen).
Rasanya malu meski hanya ingin menatap mata Kak Alin. Dari awal pertemuan aku selalu membencinya, menuduh kedatangannya sebagai penghancur impianku. Aku menangis bukan lagi karena marah. Kali ini dengan nada bahagia. Aku tersenyum, mungkin untuk yang pertama kali, untuk Kak Alin.
Shinta Putri Wulandari
Alamat e-mail: shintawulandariii@gmail.com
Blogspot: shintawulanda.blogspot.com
[1]Disalin dari karya Shinta Putri Wulandari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi Minggu 14 Oktober 2018
The post Kupu-Kupu Bersayap Elang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2NNSk0I
BU Sulasih melontarkan pertanyaan, sebelum mengakhiri pelajaran kimia. ”Siapa ingin menjadi guru?” Tak satu pun murid menjawab. Semua diam.
”Tak adakah yang ingin jadi guru? Menggantikan saya kelak ketika pensiun?” Bu Sulasih mengulang pertanyaan. Namun semua murid tetap diam.
”Mirna?”
”Tidak, Bu. Mirna tak ingin jadi guru.”
”Bayu?”
”Tidak, Bu. Jadi guru susah, murid nakal- nakal,” jawab Bayu. Sontak suasana kelas menjadi ramai. ”Nyadhar ta kowe, nek muride kaya awakmu, gurune susah 1),” timpal murid lain.
”Dari satu kelas ini tak adakah yang ingin jadi guru?” ulang Bu Sulasih.
”Tidak!” Kali ini semua murid menjawab serempak.
Bu Sulasih kecewa dan sedih. Tidak inginkah anak-anak sekarang bercita-cita jadi guru? Bu Sulasih menutup pelajaran. Dengan hati sedih, dia meninggalkan kelas.
***
”Mau melanjutkan ke nama, Asih?” tanya Pak Santo kepada Sulasih yang saat itu bakal lulus dari SMA.
”Ilmu gizi, Pak.”
”Bagus. Tidak inginkah kamu jadi guru?” tanya Pak Santo lagi.
Sebenarnya sejak kecil Sulasih bercita-cita menjadi guru atau dokter. Itu cita-cita masa kanak- kanak. Namun, entah kenapa, semenjak duduk di bangku SMA, Sulasih tak ingin lagi jadi guru. Rasa-rasanya profesi guru kurang menarik lagi bagi dia. Menurut Sulasih, guru bukan profesi bergengsi.
”Menjadi guru memang tak memberikan kekayaan materi. Namun batin guru sangat kaya,” kata Pak Santo, seolah-olah tahu pikiran Sulasih. ”Apa pun yang kamu pilih, lakukanlah sungguh- sungguh. Jika kelak pilihan kamu tidak tercapai dan kamu harus menghadapi kenyataan lain, lakukanlah dengan sungguh-sung- gun pula. Siapa tahu kamu jadi guru yang hebat.”
”Nggih 2), Pak,” jawab Sulasih ketika Pak Santo hendak berlalu.
Pak Santo lalu melangkah menuju ke ruang guru di pojok gedung SMA Harapan, Kota Demak.
Sulasih sangat menaruh hormat pada Pak Santo, guru di sekolahnya. Pak Santo bukan orang kaya. Namun semua anaknya berpendidikan tinggi, sopan, dan baik. Mereka rajin dan dapat menjaga nama baik keluarga. Sulasih mengenal betul keluarga Pak Santo, karena mereka tinggal di satu desa. Mereka berbeda dari anak-anak orang kaya di desanya. Kebanyakan anak dari orang tua yang sukses dalam materi, justru tidak dapat membawa diri. Rusak dalam pergaulan. Sulasih melangkah pergi, menyusul teman- temannya.
Mereka hendak mendaftarkan diri mengikuti seleksi masuk ke perguruan tinggi.
***
Sulasih memandangi gedung SMA Harapan, tempat dulu dia bersekolah. Namun saat ini dia bukan murid. Dia telah menjadi guru. Dia teringat kembali kata-kata almarhum Pak Santo. ”Perkataan Bapak benar. Aku sekarang jadi guru, Pak,” gumam Sulasih.
Pagi hari. Sejuk, seperti pagi-pagi sebelum- nya. Murid-murid berdatangan. Ada yang ber- jalan santai sambil mengobrol. Ada pula yang berlari-lari kecil ketika gerbang sekolah perla- han ditutup.
Sulasih selalu suka melihat pemandangan itu. Dia berdiri di depan gerbang menyambut mereka. Mata Sulasih menangkap tiga laki-laki berseragam polisi berjalan tergesa menuju ke sekolah. Dia sangat mengenal salah seorang di antara mereka. Pak Gede.
Lelaki itu berbadan tinggi besar, berkulit cenderung gelap. Sesuai dengan namanya. Namun wajahnya tak menunjukkan keramahan. Ia salah seorang wali murid. Menjadi polisi makin membuat dia bersikap gemedhe. 3)
”Ada apa lagi ini?” Sulasih menerka-nerka. Seperti yang sudah-sudah, kedatangan Pak Gede pasti membawa bencana.
Mereka mendekat. Hanya satu yang ada dalam pikiran Sulasih. Gawat!
”Pak Kepala ada? Pak Ridwan ada?” ucap Pak Gede kasar, tanpa salam, dan bernada per- intah. Ia tak pernah menghargai orang lain.
”Ada, Pak,” sahut Sulasih cepat.
Ketiga tamu tak diundang itu segera melangkah menuju kantor Kepala Sekolah. Tak berapa lama, terdengar Pak Gede mengumpat- umpat. Kepala Sekolah berupaya menenangkan dan bernegosiasi. Sulasih menajamkan telinga. Untunglah, hampir seluruh murid telah masuk ke kelas sehingga suasana sudah tidak ramai.
”Saya akan memproses kasus ini ke peng- adilan, Pak. Saya akan pidanakan Pak Ridwan,” terdengar suara Pak Gede marah.
”Sabar, Pak. Masalah ini bisa kita selesaikan baik-baik secara kekeluargaan,” jawab Kepala Sekolah.
”Ini kekerasan dan penganiayaan.”
”Maaf, Pak Gede. Itu hanya usaha Pak Ridwan mendisiplinkan siswa. Pak Ridwan orang baik. Saya yakin beliau tidak akan meng- aniaya murid.”
”Saya sudah membuat laporan dan sudah ada surat penangkapan Pak Ridwan.”
”Tapi, Pak….”
Kata-kata Kepala Sekolah menggantung. Lawan bicaraya telah keluar ruangan bersama kedua temannya dengan arogan. Mereka kini menuju ke ruang guru. Tergesa Kepala Sekolah menyusul.
Sulasih segera menghampiri Kepala Sekolah. Ada seribu tanya di kepalanya. Namun tidak terucap, hanya berupa isyarat; dia meman- dang Kepala Sekolah. Dengan isyarat pula Kepala Sekolah meminta Sulasih tenang.
Sulasih menyaksikan ketiga polisi itu meng- giring Pak Ridwan. Wajah Pak Ridwan tetap tenang. Dia tidak membantah atau melawan. Benar, kedatangan Pak Gede merupakan bencana.
Memang Pak Ridwan menampar Topan, anak Pak Gede. Namun bukan tanpa alasan. Pak Ridwan mendapati Topan hendak meraba- raba salah seorang murid perempuan sambil mengucapkan kata-kata kasar dan menjijikkan. Baru kali ini Pak Ridwan menampar murid. Hanya tamparan kecil. Tamparan yang pantas didapatkan Topan.
Namun tindakan Pak Ridwan menurut Undang-undang tentang Perlindungan Anak merupakan tindak kekerasan yang tak boleh dilakukan. Bagaimanapun kronologi peristiwa itu dan apa pun alasannya, guru tak boleh menampar siswa.
Kini, Pak Ridwan di penjara. Topan bebas berbuat sesuka-suka. Tak ada lagi guru berani berurusan dengan dia. Mereka tak lagi peduli untuk memperbaiki sikap dan karakternya. Buat apa repot-repot mendidik Topan jika akhirnya masuk penjara?
***
Jumat, 3 Februari 2018, pukul 05.00 WIB.
Kring! Kring! Telepon Sulasih berdering. Ia bergegas mengambil telepon yang tergeletak di meja. Tertera nama sahabatnya di layar. Ujung jarinya menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan.
”Hallo, Fit?”
”Asih, Mas Budi meninggal semalam,” suara Fitri lirih.
Fitri mengabarkan perkara Budi, kakak tingkat mereka sewaktu kuliah.
Memilukan. Kemarin, Sulasih sudah mendapat kabar tentang seorang murid memukul guru hingga sang guru dilarikan ke rumah sakit. Kini, guru itu yang ternyata orang yang sangat dia kenal telah terbaring kaku.
Pagi ini, Sulasih melangkah gontai menuju ke sekolah. Berita kematian Mas Budi menjadi topik serius di ruang guru.
Kejadian demi kejadian di sek- itarnya, dari kasus Pak Ridwan dan Mas Budi, telah mengubah segalanya; harapan, impian, dan idealismenya. Sulasih berdiam diri, duduk di belakang meja kerja di ruang guru. Sulasih masih muda, dengan segala angan- angan. Namun kini angan-angan itu melayang diempas kenyataan.
”Bu Asih, inilah pendidikan kita saat ini. Jika ingin selamat tak usah terlalu idealis. Nanti malah celaka.”
Sulasih menoleh ke sumber suara. Seorang rekan kerja yang sudah senior berdiri di samping mejanya.
”Awake dhewe mung saderma mulang, ngarahke lan ngelingke yen bisa dielingke. Yen gak kena dielingke, ya wislah,” imbuh sang rekan.
Para guru seolah-olah telah kehilangan harapan dan semangat. Tugas administrasi merapat. Beban di pundak makin berat. Susah- payah guru menasihati dan memberikan contoh di sekolah, dengan mudah luntur oleh pergaulan siswa di luaran.
Sulasih berada di kelas siang ini. Di kelas itu ada murid yang sangat bengal. Murid itu terus-menerus membikin ulah, memancing kemarahan. Dia mengingatkan dengan lisan. Tak mempan. Namun dia ingat, tak ingin berna- sib sama seperti Pak Ridwan dan Mas Budi. ”Biarlah dia bengal,” pikir Sulasih.
Dia merasa jiwanya sebagai guru harus mati, seiring kematian seorang guru, kakak tingkatnya ketika kuliah. (28)
Catatan:
1) Kamu sadar ya jika muridnya seperti kamu, guru memang jadi susah.
2) Iya
3) Pongah, jemawa.
4) Kita sekadar mengajar, mengarahkan, dan mengingatkan kalau bisa kita ingatkan. Jika tidak bisa kita ingatkan, ya sudahlah.
Ismul Farikhah, guru SMP Negeri 5 Kepil, Wonosobo
[1] Disalin dari karya Ismul Farikhah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 25 November 2018
The post Matinya Guru appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2AnkNpj
Siapa pun penduduk Mêdoc tahu, Mabelle seorang perempuan tua bertubuh ringkih serupa batang kayu kering. Seluruh helai rambut panjangnya sempurna putih. Ia hidup sendiri di rumah peninggalan mendiang suaminya, Beltane. Setiap hari Mabelle tak pernah dimangsa bosan duduk berjam-jam di belakang jendela yang kacanya buram. Tak lupa ia sajikan secangkir cokelat hangat untuk mengusir kecemasan yang semakin menjadi. Terkadang croissant pemberian Merry menjadi teman pelengkap pada ritual perjamuan untuk diri sendiri.
Hamparan kebun anggur Carbenet Sauvignon tak lagi berbentuk. Ranting-rantingnya gundul. Rumput-rumput liar tumbuh dengan subur. Namun jika melihat lebih jauh lagi di belakang sana, akan tampak perkebunan anggur yang subur, itu milik Tuan Fedrick. Usahanya makin pesat setelah kematian Beltane.
Mabelle memandangi dua lembar foto dalam album di sebelah piring berisi croissant. Terpampang dua lembar foto hitam-putih. Foto pertama memperlihatkan sosok Beltane dan dirinya tengah tersenyum bahagia berlatar Sungai Gironde yang membelah Bordeaux. Kawanan camar terbang di atas permukaan muara. Waktu itu adalah perayaan setahun pernikahan mereka. Beltane mengajak Mabelle ke Grand Théâtre, sebuah mahakarya Victor Louis yang megah, khas dengan deretan pilar bergaya Corinthian. Saat itu, Beltane benar-benar memanjakan Mabelle. Ia mengajaknya menyusuri jalanan di keramaian Bordeaux menikmati nyanyian jalanan. Sebelum pulang, ia membawanya melewati Sungai Gironde untuk melihat kapal-kapal yang tertambat di dermaga.
Beltane mulai berceloteh tentang hal-hal yang selalu membuat Mabelle berpikir keras, seperti sebuah pertanyaan tentang apakah ada yang tahu ke mana camar-camar itu terbang. Sedangkan Mabelle hanya menggeleng. Lalu dengan sabar Beltane menjelaskan bahwa kawanan camar itu akan terbang bebas mencari apa yang akan membuat mereka bahagia. Kebebasan mungkin. Sesederhana itu.
Foto kedua menampilkan Beltane yang terlihat bahagia berlatar sibuknya aktivitas memetik anggur pada pertengahan September di perkebunan milik keluarga, yang diwariskan kepadanya.
Pandangan Mabelle terganggu dengan kedatangan mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di depan rumah. Tak lama keluarlah seorang pria muda mengenakan mantel berwarna krem lengkap dengan sepatu bot kulit. Perlahan Mabelle beranjak dari kursi dan berjalan ke arah pintu. Saat hampir sampai di ambang pintu, ketukan dari luar terdengar. Ia segera membuka pintu, meski sebenarnya ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Benar. Orang itu lagi. Pemuda yang memperkenalkan diri dengan nama Aldric, yang sudah dua tahun belakangan ini kerap datang bermaksud membeli Beltane Carbenet Sauvignon, sebotol wine spesial yang dibuat dan diberi nama sendiri oleh Beltane. Tapi Mabelle tidak akan menjualnya. Aldric seperti Beltane muda yang pantang menyerah. Bahkan Mabelle merasa ada kemiripan antara Aldric dan Beltane. Lihat mata cokelatnya yang indah dan jambang tipis yang dirawatnya. Hidung bangir itu pun milik Beltane.
Mabelle tidak tahu dari mana ia mengetahui bahwa Beltane mati meninggalkan sebotol wine Carbenet Sauvignon yang spesial. Seingatnya, tidak ada yang tahu soal wine itu. Bahkan Beltane sudah mewanti-wanti untuk benar-benar menjaganya, jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Kemudian Beltane bercerita tentang sejarah wine itu tercipta.
Beltane kecil sudah akrab dengan anggur dan wine. Orang tuanya adalah petani anggur sekaligus pembuat wine terkenal di Mêdoc di sekitaran muara Gironde, kawasan paling strategis karena dekat dengan dermaga yang menjadi lalu lintas padat perdagangan maritim. Mereka memiliki château yang cukup besar di belakang rumah. Kapal-kapal milik bangsawan Inggris yang merapat sering membawa serta wine mereka. Salah satunya adalah Lenard Carbenet Sauvignon, nama wine legenda buatan nenek moyang Beltane yang diwariskan turun-temurun. Perkebunan dan château adalah tempat bermain Beltane. Di sini ia belajar membuat wine. Kegagalan-kegagalan membuat wine tak menghentikan langkahnya. Sebaliknya, ia semakin tahu mana wine yang bagus dan tidak.
Setelah sekian banyak gagal, akhirnya ia mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Ia memetik dan memilah sendiri Carbenet Sauvignon dari atas bukit dan di bawah. Red wine dari anggur Carbenet Sauvignon yang menurutnya sangat enak, bahkan akan bertambah enak jika disimpan dalam waktu yang lama. Beltane menegaskan bahwa wine ini khusus ia buat untuk istrinya nanti. Dan itu adalah wine yang masih Mabelle simpan sampai sekarang.
Mendengar semua cerita itu Mabelle jadi benar-benar peduli dengan wine tersebut. Mabelle bersumpah atas nama cinta dan kesetiaan di hadapan mayat Beltane yang meninggal di umur empat puluh tahun, berapa pun orang akan menawar, ia tidak akan menjualnya. Apa pun yang terjadi!
***
Kematian Beltane karena serangan jantung adalah duka bagi Mabelle. Beltane adalah pria paling romantis yang pernah ditemui. Meski tak dikaruniai keturunan, Mabelle merasa sangat beruntung bisa menikah dengan Beltane. Mabelle ingat betul bagaimana Beltane melamar di kebun anggur yang sedang kompak berbuah. Latarnya adalah matahari sore yang malu-malu yang mengintip dari balik bukit. Di atas bukit berdiri deretan château yang menyimpan minuman surgawi.
Sepertinya tidak hanya Mabelle yang dirundung kesedihan, karyawan perkebunan milik Beltane pun berduka karena kehilangan majikannya yang baik. Atau mungkin takut akan nasib perkebunan, yang berarti berimbas pada nasib mereka.
Semua tahu bahwa Mabelle sama sekali tidak suka minum wine. Benar-benar sangat berbeda dengan Beltane yang begitu menggilai wine. Namun perbedaan itu tidak pernah membuat mereka bertikai. Mabelle lebih menyukai cokelat asli Bordeaux. Saat jamuan makan, orang-orang bahagia meneguk wine, sedangkan ia tetap setia dengan cokelat. Dan tidak ada yang mempermasalahkannya. Beltane pun pernah mengajaknya ke kedai cokelat terkenal milik Madame Loui yang berada di tepian Sungai La Garonne yang di depannya adalah Jembatan Pont de Pierre.
Pegawai perkebunan berangsur keluar karena tak lagi terlihat ada aktivitas produksi. Biasanya Beltane sendiri yang mengolah anggurnya, menuangkan ragi dan menyimpannya dalam tabung-tabung kayu oak yang disimpan rapi dalam château. Sekarang anggur-anggur sudah siap petik, tapi mangkrak begitu saja. Tidak ada yang bisa mengolahnya. Ada yang bisa tapi tidak berani karena takut rasanya berbeda. Sedangkan Mabelle tak bisa berbuat apa-apa.
Masih ada stok wine di château. Kebun anggurnya tak terawat. Bahkan banyak yang mati. Rumput liar tumbuh dengan suburnya. Mabelle mengutuki dirinya, karena tak bisa membuat wine. Sungguh Mabelle tak pernah berpikiran tentang kemungkinan-kemungkinan buruk ini, karena yang ada di pikirannya hanya bahagia bersama Beltane. Bahkan Mabelle memilih mati terlebih dahulu, daripada menanggung kesedihan ditinggal Beltane. Nyatanya takdir berkata lain.
***
Sudah tiga tahun lalu akhirnya stok wine habis. Padahal permintaan wine masih saja berdatangan. Mabelle tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu apa yang akan terjadi. Karyawan keluar semua, karena sudah tidak ada pekerjaan. Setelah itu Aldric mulai menganggu hidupnya.
Ia muncul memperkenalkan diri sebagai kolektor wine yang siap membeli Beltane Carbenet Sauvigon dengan harga mahal. Mabelle tak menyangka Aldric tahu wine itu. Mustahil. Di sini Mabelle mulai merasa apa yang dikatakan Beltane tentang rahasia adalah hal keliru. Ia merasa semakin cemas.
Di setiap kunjungannya, Aldric bercerita panjang lebar mengemukakan kesombongannya, dan pada akhirnya akan menawar Beltane Carbenet Sauvignon. Tapi Mabelle selalu menolak. Aldric akan datang lagi paling cepat dua pekan setelahnya dan paling lama sebulan, untuk menanyakan hal yang sama. Mabelle akan menjawab hal yang sama pula.
Kehidupan Mabelle semakin memprihatinkan, ditambah Aldric yang tak bosan menghantuinya. Ia sudah tak punya uang. Chateau sudah melompong. Tabung-tabung oak berserakan di dalamnya, selebihnya adalah debu dan sarang laba-laba. Ia sudah berusaha menjual kebun, tapi tak ada satu pun yang mau membeli, bahkan setelah dibanting harga, hasilnya sama. Mabelle mengira ini ada hubungannya dengan Aldric yang begitu terobsesi pada Beltane Carbenet Sauvignon. Untung saja masih ada Merry yang masih rutin memberinya persediaan bubuk cokelat, biskuit, keju, dan croissant untuk menyambung hidupnya yang kian merana.
Kelihatan benar Aldric tak akan menyerah. Perjuangan selama dua tahun terakhir baginya adalah suatu keseriusan yang luar biasa. Meski Mabelle akan mengatakan hal yang sama, Aldric mengajak Mabelle tenang. Dengan pelan ia menyuruh Mabelle untuk tabah dan bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakannya, sebuah hal rahasia. Aldric menerangkan bahwa ia mengetahui Beltane Carbenet Sauvignon dari Beltane sendiri. Ia mengaku bahwa Beltane memberitahunya sebulan sebelum Beltane meninggal. Aldric bilang bahwa ia adalah anak hasil perselingkuhan Beltane dan Paule, wanita yang ditemuinya di sebuah klub di Paris. Ia memperlihatkan secarik foto yang memperlihatkan kemesraan Beltane, seorang wanita, dan laki-laki kecil. Aldric menyadari tak berhak atas warisan Beltane, karena ibunya hanya selingkuhan.
Mabelle terlihat benar-benar terkejut. Mendadak ia merasakan sakit yang luar biasa. Apa-apa yang dipertahankan selama ini, diganjar dengan pengkhianatan lama yang baru terungkap.
“Datang kembali besok, langsung masuk. Wine-nya ada di atas meja makan di depan perapian.”
***
Aldric melelang Beltane Carbenet Sauvignon di New York dengan harga tinggi. Sebotol wine yang hanya ada satu. Tak menunggu lama, wine langka itu terjual dengan harga fantastis. Pemenang lelang terlihat gembira. Ia memamerkan botol wine mahal itu sebelum pada akhirnya dicicipi. Pembeli dari Amerika itu sangat kecewa. Ia merasa ditipu.
“Ini bukan wine. Ini darah!”
Kawanan camar tak pernah terlihat di Gironde. Tidak ada yang tahu ke mana mereka bermigrasi. Di samping itu tidak ada yang tahu pula ke mana Mabelle dan di mana Beltane Carbenet Sauvignon yang asli.
Reyhan M. Abdurrohman lahir di Kudus, Jawa Tengah, 18 Mei 1994. Karya-karyanya, antara lain novel Ajari Aku Melupakanmu (Zettu, 2014) dan Mendayung Impian (Elex Media Komputindo, 2014). Nomine Cerpen Terbaik #KampusFiksiEmas2015 ini kini sebagai Ketua Komunitas Fiksi Kudus.
[1] Disalin dari karya Reyhan M. Abdurrohman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 16 – 17 Maret 2019.
The post Beltane Carbenet Sauvignon appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Y2Z553
KESETIAAN, katamu, adalah ketabahan menunggu. Dan itulah yang kulakukan.
Di sini, bangku yang kududuki telah berlumut, daun-daun berguguran, kering, mati, dan tumbuh kembali. Pepohonan yang ada di seberangku, dulu, masihlah seukuran anak kecil. Kini tinggi memancang dengan dahan-dahan dan akar yang semakin lebar dan kekar. Jalanan berbatu itu sudah licin beraspal. Rawa-rawa dengan sebuah sungai kecil di tengahnya telah mewujud rumah-rumah yang saban tahun kebanjiran. Rumah pohon yang sempat kau buat untukku, sudah lama dirobohkan. Sebuah menara satelit datang menggantikan.
Selebihnya kuyakin masih banyak hal-hal telah berubah. Namun, sejauh mataku memandang, hanya itulah yang dapat kulihat.
Tidak seperti hal-hal di sekelilingku, aku sama sekali tidak berubah.
Pakaian yang kukenakan masih sama. Kaus putih polos lengan pendek dengan cardigan biru laut membalutnya. Rok sepan hitam yang kukenakan pun masih selutut, tidak berkurang atau bertambah panjang sesenti pun. Payung ungu bermotif bunga-bunga yang kau hadiahkan pada hari ulang tahunku ke-20 juga masih bersandar di tepi kursi dalam keadaan setengah mengembang. Mirip bunga yang kuncup. Telapak tangan kananku pun tetap mengatup. Menggenggam sesuatu yang kau titipkan.
“Jaga bunga ini sampai aku kembali,” katamu. Sebelum kau membalikkan badan lalu belum kembali hingga kini.
Tapi aku percaya kau akan kembali.
Detik-detik kulalui dengan kesabaran yang kian subur. Aku tidak beranjak sedikit pun. Boleh dibilang tubuhku nyaris tidak bergerak. Kecuali bola mata dan cuping telingaku yang terkadang berdenyut. Sekadar memastikan apakah sosokmu telah muncul atau suaramu telah timbul.
Aku tidak pernah menghitung waktu sehingga aku tak tahu telah berapa lama aku menunggu. Kupikir diriku masih semuda dan secantik dulu. Gadis berambut sebahu berusia 22 tahun yang ceria dan suka mengumbar senyum kepada siapa saja. Namun, aku salah. Sekelompok anak-anak berseragam putih-merah pernah lewat di hadapanku. Kemudian mereka saling berbisik satu sama lain. Bisikan yang masih mampu kudengar. Berkat kebiasaan menanti suaramu, kemampuan pendengaranku hampir menyerupai burung merpati. Mampu menangkap bunyi infrasonik.
“Hei, nenek keriput itu kenapa diam saja, ya?”
“Kata ibuku, nenek itu sudah berdiam di tempat duduk itu sejak ibuku masih remaja.”
“Aneh sekali. Tapi aku lihat matanya kadang-kadang mengedip. Ia pasti bukan patung.”
“Sebenarnya ia sedang menunggu siapa ya?”
“Yang jelas bukan menunggu Pak Guru Doni. Meskipun Pak Guru Doni suka terlambat masuk kelas, tapi ia tidak pernah membuat para siswa menunggu hingga bertahun-tahun.”
Sungguh, aku ingin memeriksa apakah wajahku telah setua itu hingga bocah tersebut menyebutku nenek keriput. Tapi seluruh persendianku kaku. Kelu. Seolah-olah ada lem mahalekat yang menempel di antara pantatku dan permukaan bangku.
Aku menyimpan cermin saku di dalam tas tangan yang teronggok di sebelahku. Ingin rasanya kuambil cermin itu agar aku tahu kondisi parasku. Tapi kaku sekali, berat sekali. Aku hanya bisa menggerakkan mata dan telingaku. Itu pun hanya bisa kulakukan sangat perlahan.
Aku percaya kau akan kembali. Dan ketika waktu itu tiba kuyakin tubuhku akan kembali berfungsi normal.
“Kau pasti lapar, kan? Dari tadi kita berjalan kaki. Namun, tak menemukan lapak penjual makanan. Aku akan membeli makanan dulu sebentar. Kurasa di sebelah sana ada rumah makan. Aku akan membeli dua bungkus. Kau lebih suka ayam goreng atau pecel lele?”
“Aku suka dua-duanya.”
“Ayam goreng atau pecel lele?”
“Ayam goreng saja, deh.” Setelah tuntas kujawab pertanyaanmu, kau menguncupkan payung. Meletakkannya di tepi kursi. Kau tampak melihat-lihat langit. Barangkali menakar hari akan tetap cerah atau hujan turun lagi seperti tadi. Kau memutuskan pergi. Berbelok kiri, lalu lenyap ditelan tikungan.
Kau tahu, selama aku menunggumu di sini, pikiranku sering bercabang-cabang, merambati ingatan demi ingatan. Terlebih jika hari telah gelap, dingin, dan pekat dengan keheningan. Kepalaku terlempar menggelinding ke jurang-jurang waktu yang telah jadi silam.
Aku teringat masa kecilku yang sekelam malam. Aku teringat ayah yang pergi entah ke mana meninggalkan aku dan ibu setelah ia puas menampar dan memukul punggung ibu dengan tongkat baseball. Aku teringat ibu yang sakit-sakitan dan meninggal dunia tak lama sesudahnya.
Begitu pula aku teringatmu. Bagaimana kau datang ke dalam hidupku seperti matahari pagi. Menyinariku yang sedang muram-muramnya. Kau tidak hanya membawa lilin atau lampu, kau membawa matahari untukku. Masih kuingat betul peristiwa di kelab malam itu. Waktu itu ibuku baru wafat dan aku masih mahasiswa semester awal yang labil. Kesadaranku hilang dan tubuhku sempoyongan karena menenggak berbotol-botol minuman. Seorang lelaki mabuk hampir memerkosaku. Lalu, kau, mahasiswa semester akhir yang sedang meneliti kehidupan di kelab malam, datang menyelamatkanku.
Kau lepaskan aku dari cengkeraman lelaki teler berbau amis itu. Kau bawa tubuhku ke rumah teman perempuanmu yang terletak tak jauh dari situ. Begitu aku sadar, ribuan terima kasih kuucapkan padamu. Kemudian kau memintaku berjanji. Oh tidak, bukan meminta. Kau tidak pernah menuntutku apa-apa. Kau hanya menyampaikan harap.
“Sebaiknya kamu tidak perlu ke tempat-tempat semacam itu lagi, Dina.”
Memang aku tidak pernah lagi berkunjung ke tempat-tempat semacam itu. Apalagi setelah aku resmi menjadi kekasihmu. Kau selalu ada buatku. Paling tidak, kau selalu berusaha untuk itu. Sejak itu, aku merasa menemukan bahu tempat bersandar yang telah lama hilang.
“Maukah kamu berjanji untuk selalu setia sama aku, Hendi?” ucapku suatu hari. Suatu hari ketika aku betul-betul merasakan tak ingin kehilanganmu.
Kau tidak menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Kau hanya mengatakan: “Kesetiaan adalah ketabahan menunggu.”
Sebetulnya aku berharap jawaban yang lebih dari itu. Namun, pandangan matamu yang sejernih mata kanak-kanak sudah cukup untuk membuat hatiku luluh.
Kadang aku heran pada diriku sendiri. Mengapa mau-maunya aku menantikanmu dalam jangka waktu yang tak masuk akal–setidaknya begitulah kata orang-orang yang mengenalku–ketika mereka melewatiku, sambil menggeleng-geleng prihatin. Mengapa aku tetap saja merasa yakin kau akan kembali. Mengapa aku kerap mengarang-ngarang permakluman sendiri, yang lebih sering adalah imajinasi–aku membayangkan rumah makan itu jauh sekali, di luar benua, atau bahkan di luar planet yang aku dan kau tempati, dan kau rela menempuh perjalanan sejauh itu, demi diriku. Kupikir, jika kau rela berkorban bepergian sejauh itu demi aku, kenapa aku mesti tak rela menunggu kedatanganmu selama ini. Bukankah sebagai sepasang kekasih, sudah selayaknya kita saling menerima dan memberi.
Waktu demi waktu berlalu. Malam demi malam melintasiku. Dan masih tanpa kau.
Tengah malam ini dingin sekali. Sekujur tubuhku seperti ditempeli berbalok-balok es. Selain dingin, juga gelap dan senyap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah bulan yang bulat penuh menyerupai martabak manis kesukaanmu. Hanya ada bebunyi derik serangga malam dan goyangan daun-daun. Telingaku pengar. Mataku nanar. Tapi tenang saja, bunga pemberianmu ini masih kugenggam dengan tegar.
Oh ya, dulu, tak berapa lama setelah kau pergi dan aku menunggumu di sini, seorang lelaki yang telah jadi masa lalu pernah merayu dan membujukku. Ia ingin aku kembali menjadi kekasihnya. Ia bilang kau hanyalah lelaki berengsek, yang pandai membohongiku dan meninggalkanku begitu saja. Tapi aku tak percaya padanya. Aku lebih memercayaimu. Aku tahu dan aku yakin kau pasti kembali. Dan aku akan tetap menunggumu. Meski dalam kondisi sedingin, segelap, sesenyap, dan semengilukan ini.
Kau pasti akan datang kembali, bukan?
***
Pagi itu, daun-daun pepohonan di sepanjang jalan itu kompak berguguran. Jalanan penuh dengan serakan daun seolah musim gugur. Daun-daun itu basah. Padahal, tidak ada hujan dan tidak ada orang yang iseng menyirami daun-daun itu. Para warga bergotong-royong membersihkan serakan daun-daun tersebut.
Kasak-kusuk bertebaran liar.
“Mungkin saja daun-daun itu menangis.”
“Ah, ada-ada saja, mana ada daun menangis.”
“Lihat, lihat, ada mayat!”
“Ini kan perempuan tua yang suka duduk di kursi usang itu.”
***
Orang-orang telah membubarkan diri dari kompleks permakaman. Seorang lelaki berpakaian lusuh dengan rambut awut-awutan dan muka kumal muncul dari balik pohon beringin di dekat gerbang permakaman. Ia menghampiri sebuah makam yang masih basah.
“Dina, ini nasi lauk ayam goreng yang kau mau,” katanya sambil meletakkan sebuah bungkusan di tepi nisan. (*)
Bandung, Oktober 2018
Erwin Setia lahir pada 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media, seperti Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.
[1]Disalin dari karya Erwin Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 28 Oktober 2018
The post Kesetiaan Adalah Ketabahan Menunggu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2EMpApK
LAPANGAN tempat pembakaran mayat itu telah senyap. Sebentar lalu, suara gemeretak kayu yang membakar jasadnya masih terdengar riuh. Kini, tubuhnya telah habis dilalap api, meninggalkan abu dan segenggam sisa tulang-belulang yang tak bisa lebur dimakan bara. Tak lama setelahnya, dia melihat sisa tubuhnya dibawa pergi seorang kawan lama. Di dalam kendi yang dicat serupa emas itu, sisa tubuhnya disemayamkan. Entah mau dibawa ke mana sisa dirinya itu, ia tak peduli.
Senja kala yang ditingkahi mendung telah melahirkan malam jauh lebih gegas. Dia tak juga beringsut dari tempatnya berdiri sejak tadi. Tempatnya untuk melihat upacara pembakaran mayat. Pembakaran dirinya sendiri. Di bawah naungan pokok mahoni, dia seperti patung yang baru saja selesai dipahat. Bergeming tanpa adanya nafsu untuk beranjak dari tempatnya berdiam. Sampai akhirnya dia sedikit terperanjat, saat telapak tangannya yang telah mati dan dingin itu dijilati benda lunak yang basah.
Seekor lembu berwarna hitam berada di sampingnya. Entah dari mana lembu itu datang, ia tak tahu. Lembu itu menggoyang-goyangkan ekornya. Dengusnya terdengar memburu, seolah ingin mengajak perempuan yang sepucat pualam itu beranjak pergi. Sesekali lidah lembu itu masih menjilati telapak tangannya.
“Dari mana kau datang?” bisik perempuan itu sembari mengelus kepala si lembu.
Tak ada jawaban. Hanya lenguhan pendek yang terdengar.
“Kau lihat, di tengah lapangan itu, masih ada sisa gosong bekas pembakaran mayatku. Kau tak takut denganku? Kini aku tak lebih dari sesosok hantu,” perempuan itu tersenyum simpul.
Lagi, ekor lembu itu bergoyang-goyang. Lenguhannya terdengar perlahan namun tidak lemah. Seolah-olah dia sedang menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya. Dia seekor lembu, yang tak mengenal takut apalagi pada sesosok hantu perempuan.
Perempuan itu tak lagi mengeluarkan kata-kata. Dia kembali ke posisinya awal. Bergeming. Matanya hanya menatap lurus. Malam mulai merambat. Senyap dan gelap kawin menjadi kekasih kelam yang sedikit menakutkan. Dari balik pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri, perempuan yang tubuhnya telah habis dibakar api itu melihat sesosok tubuh kecil melompat ke tengah lapangan. Tubuh gadis kecil berumur tak kurang dua belas tahun. Gadis kecil itu, tak lain adalah dirinya sendiri. Kini, gadis kecil bayangan dirinya itu melakukan hal sama. Gadis bertubuh kurus dengan dua kepang di kepalanya itu sedang mengamati sisa pembakaran jasadnya. Meski tak lama setelahnya, dia lesap dibawa angin yang berembus secara perlahan.
Perempuan itu masih terdiam. Meski lembu yang sedari tadi berada di sampingnya melenguh beberapa kali.
“Kau tahu, di tubuh gadis kecil itulah kali pertama aku melakukan pengembaraan sebagai perempuan yang selalu meneguk luka. Mungkin kau belum tahu itu,” ucap perempuan itu sembari menatap mata si lembu.
***
Api di tungku bergoyang-goyang terkena udara dari tiupan ibu. Meminang malam tanpa makanan di tengah dingin yang menusuk-nusuk tulang, gadis kecil berkepang dua itu lebih memilih berdiang di depan perapian bersama ibunya. Ibunya, seorang wanita yang sejatinya masih cukup muda. Namun gelombang hidupnya yang kerap pasang seakan membawa dirinya dalam kerentaan yang lebih cepat dari semestinya. Rambutnya telah berwarna dua. Wajahnya yang belum berlumur banyak kerutan itu terlihat senantiasa lesu. Tubuhnya begitu ringkih dan menyedihkan di ambang umur empat puluh tahun.
Gadis kecil berkepang dua yang belum genap dua belas tahun umurnya itu hanya menggerak-gerakan kedua telapak tangannya di bibir perapian. Ibu telah lama kehabisan beras. Singkong yang bisa mereka makan telah habis direbus tadi pagi. Siang sampai malam ini, mereka tak makan apa pun. Air putih saja yang mereka teguk untuk mengisi perut yang semakin melilit diterkam rasa lapar.
Suara pintu depan yang berdebam itu membuat mereka terperanjat. Gigil lantaran lapar menyilih menjadi gigil lantaran ketakutan. Suara langkah kaki yang berat namun memburu itu terdengar. Sebentar lagi manusia menakutkan itu akan muncul di pintu dapur. Benar saja, lelaki itu berdiri dengan sedikit limbung. Matanya yang merah menyala bagai sepasang mata milik lampor yang kerap merampas kedamaian malam kanak-kanak.
“Kau punya uang? Aku minta uang. Bajingan Sulaman itu mengalahkanku di meja judi hari ini,” suara berat itu terdengar. Basah dan serak. Aroma tuak yang membuat pening kepala menguar dari mulutnya yang busuk itu.
“Tidak ada uang, Bang. Bahkan beras habis. Singkong saja tak terbeli,” jawab perempuan yang merenta lebih cepat itu dengan rasa takut.
Lalu pukulan menghantam kepalanya. Perempuan itu terjerembap. Tangisnya tertahan. Tak lama lelaki pemabuk yang gila judi itu menghilang ke dalam gelap. Entah mau ke mana dia, mungkin mencari pinjaman uang ke kenalan untuk kembali berjudi. Gadis kecil berkepang dua hanya melihat ibunya dari sudut dapur. Dia menggigil sembari menangis. Tak lama gigilnya menjadi gemetar yang hebat tatkala dia melihat ibunya mengakhiri semuanya dengan pisau dapur yang memutus urat nadi di leher. Kali pertama dalam hidupnya, gadis kecil itu melihat seseorang membunuh diri. Ibunya sendiri.
***
Lelaki bermulut busuk yang kerap mabuk tuak itu menyimpan pura-pura dalam dukanya. Selepas pelayat pulang, di bergegas ke tempat judi. Uang dari pelayat dalam sekejap amblas di meja judi. Dengan badan sempoyongan, dia kembali ke rumah. Kali ini dia pulang dengan seorang lelaki asing.
“Dia anakku satu-satunya. Sudah mulai remaja, sebentar lagi dewasa dan matang. Kau bisa membawanya. Tentu saja dengan ketentuanku tadi,” ujar pria pemabuk itu dengan lelaki asing yang dibawanya.
Tak lama, gadis berkepang dua telah berpindah tangan. Dari tangan ayahnya yang kerap mabuk dan gemar berjudi ke tangan lelaki asing yang bahkan kali pertama ini dia lihat. Di tangan orang baru itu, dia diajak berkeliling ke tempat-tempat asing. Dari meja judi satu ke tempat meja judi lain, gadis berkepang dua selalu dibawa.
Waktu seakan cepat sekali berlalu. Bulan demi bulan berganti, bahkan tahun baru seakan cepat bertandang. Gadis kecil berkepang dua telah menjadi seorang perempuan muda yang mengembara. Selama bertahun-tahun mengikuti lelaki asing, dia merasa ada yang berbeda dari lelaki yang memeliharanya. Lelaki itu, yang ahli di meja judi, tak pernah menyentuhnya sebagai mana layaknya seorang lelaki kepada seorang perempuan. Dia hanya menjadikan perempuan muda itu tak ubahnya pesuruh dalam hal-hal tertentu. Padahal, di hati kecil perempuan muda itu telah tumbuh rasa yang begitu purba bagi manusia. Cinta kepada lelaki asing yang selama ini menjadi tuannya.
“Aku tak bisa menyentuh seorang perempuan. Aku tak bisa jatuh cinta, kepada seorang wanita,” ujar lelaki asing itu suatu hari tatkala perempuan muda memberanikan diri bertanya, mengapa lelaki yang selalu bersamanya sama sekali tak menyentuhnya.
Tak lama setelahnya, lelaki asing membawa perempuan muda pengembara itu ke kota asing. Di sana, dia menyerahkan perempuan muda itu kepada seorang perempuan tua. Seorang induk semang.
“Aku tak menjualmu. Hanya menitipkanmu kepadanya. Sebentar lagi aku akan mati. Sayang jika kau kubiarkan hidup sendiri.”
Ucapan lelaki itu menerbitkan sendu di dada perempuan muda. Hari itu juga, dia tinggal di kota yang terlahir di jantung kota besar. Tumbuh di dalam kota yang menua dengan degup yang berbeda. Kota yang sesak dengan rumah-rumah petak. Di kota ini, perempuan-perempuan muda tak perlu memiliki malu. Mereka kerap meneguk bergelas-gelas bir layaknya meminum sari buah. Got-got aliran air di kota kecil yang kerap dihujani kutukan itu kerap mampat lantaran karet-karet alat kontrasepsi dibuang ke dalamnya. Jorok dan penuh dengan hal-hal bedebah.
Perempuan muda yang dulu kerap mengembara dari meja judi satu ke meja judi lain, kini mengembara ke satu tubuh lelaki ke tubuh lain. Luka demi luka dia reguk saban waktu. Tangisnya tak lagi terdengar. Bukankah hidupnya sudah menderita sejak dalam kandungan? Ayah durhaka telah melahirkan luka di usianya yang masih begitu muda. Ibunya yang tak berdaya menerbitkan duka panjang bagi dirinya. Lalu lelaki asing yang dicintainya, melemparkan dirinya ke kota yang sarat dengan hal-hal celaka.
“Ada yang ingin aku lakukan sebentar lagi. Mimpi yang kujadikan kembang tidur saban malam,” ucap perempuan muda itu kepada kawan lama yang kebetulan hari itu bertandang.
Kawan lama, seorang lelaki setengah baya. Kawan karib lelaki asing yang dulu kerap mengajaknya mengembara. Malam itu, mereka bercakap-cakap layaknya dua manusia yang selama ini memendam rindu untuk bertemu. Tentu saja, setelah perempuan muda itu memberikan kepuasan di atas tilam untuk kawan lama yang baru saja bersua.
“Memangnya apa mimpimu itu?” tanya kawan lama sembari mengusir kantuk yang tiba-tiba melanda kedua matanya.
“Kematian,” ucap perempuan muda itu datar.
Mata kawan lama urung memicing. Dia menoleh dengan kaget. Dan keterkejutannya bertambah tatkala perempuan muda itu kehilangan napasnya. Entah bagaimana mulanya, dia tak tahu. Ajal itu datang secara tiba-tiba. Seakan alam menjawab mimpi perempuan muda yang dulu dikenalnya sebagai pengembara. Kematian itu datang, bahkan sebelum mereka beringsut dari atas tilam di kota kecil yang sarat dengan hal-hal celaka.
Lembu itu mengeluh. Suaranya terdengar tak sabar. Kali ini perempuan itu beranjak dari tempatnya. Dielusnya kepala si lembu. Di atas punggung lembu yang hitam kelam itu, dia duduk dengan khidmat.
“Ajaklah aku pergi dari sini. Tapi aku tak ingin kau ajak terbang ke langit. Aku belum hendak pergi ke nirwana. Bawalah aku keliling dunia. Jika kita temui perempuan sepertiku, ajaklah ia turut menunggangi punggungmu ini, karena menjadi perempuan dengan nasib buruk sepertiku adalah luka di atas luka,” ujar perempuan itu perlahan.[]
Salatiga, 25 Desember 2017
Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994. Beberapa cerita pendeknya tersiar di sejumlah surat kabar. Selain menulis cerita pendek, dia menulis novel. Saat ini berdomisili di Salatiga.
[1] Disalin dari karya Artie Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 29 – 30 September 2018
The post Perempuan Pengembara yang Menunggangi Seekor Lembu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Nib6Nw
Setagaya di musim dingin tampak putih berselimut salju. Dari balik jendela kamar, kusaksikan orang-orang bermantel tebal berjalan cepat menembus udara yang membuatnya menggigil.
Suhu yang begitu dingin seperti inilah yang membuatku enggan melakukan aktivitas di luar ruangan. Terlebih di usiaku yang tak lagi muda, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar untuk sekadar beristirahat.
Terdengar bel beberapa kali dibunyikan dari luar pintu kamar. Aku terbangun dari istirahatku, dan bergegas membuka pintu.
“Sumimasen! 1,” ucap seorang lelaki yang tak pernah kukenali sebelumnya. Di depan pintu yang baru saja kubuka, lelaki itu membungkukkan badan kemudian tersenyum.
Aku tak pernah berpikir akan ada yang menemuiku setelah lama tinggal di sini. Sejak kepergian Taizan−suamiku−lima tahun silam, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen kecil di kawasan ini. Kepergiannya menghadap Sang Kuasa membuatku larut dalam kesepian dan kesedihan. Aku berpikir akan sangat menderita jika harus tetap bertahan di rumah yang pernah kutinggali bersamanya. Dengan tekad bulat, kuputuskan untuk mengubur kenangan dan memulai kehidupan baru.
“Gomenashai 2, sedikit menunggu,” ucapku sembari membungkukkan badan sebagai bentuk permintaan maaf. Aku membuka lembaran ingatanku ketika menatap sesosok di hadapanku. Namun, wajah lelaki itu memang tak kukenal sama sekali.
“Daijobu 3. Ini ada paket untuk Anda!” Masih dalam raut wajah yang sama, lelaki itu menyodorkan sebuah kotak berbalut kertas berwarna cokelat. Dengan rasa penasaran, tanganku gemetar menerima paket yang dibawakannya.
Paket berisi baju hangat itu bertuliskan dari seseorang yang tak kuingat lagi siapa dia. Rupanya usia telah memudarkan ingatan ku akan beberapa orang yang pernah kukenali sebelumnya.
“Eh, tunggu sebentar. Apakah Anda orang Indonesia?” tanyaku pada lelaki berkulit sawo matang itu.
“Bagaimana Anda bisa tahu?” lelaki itu terkejut mendengar pertanyaanku. Meskipun aku belum mengenalinya, wajah sepertinya sudah tak asing lagi bagiku.
“Mari masuk sebentar. Ayo kita minum teh bersama. Kau pasti kedinginan kan?” pintaku pada lelaki itu.
Ia menuruti ajakanku, dan kami berbincang cukup lama di dalam kamar sambil menikmati seduhan teh hijau yang hangat. Lelaki pengantar paket asal Indonesia itu bernama Bayu. Ia bekerja sebagai kurir di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang sembari menamatkan studi S-2-nya di University of Tokyo.
Bak kejatuhan durian runtuh, bertemu dengan orang sebangsa di negeri asing adalah satu hal yang menggembirakan. Sebab, dengan begitu kami bisa sedikit menuntaskan kerinduan terhadap kampung halaman dengan berbagi cerita mengenai kehidupan di tanah rahim.
Kehadiran Bayu-san mengingatkanku pada Yoshida, putra semata wayangku yang telah jauh meninggalkanku. Bersama gadis bermata biru yang dipinangnya tujuh tahun silam, ia pergi meninggalkan Jepang dan tinggal di negeri istrinya berasal.
Awalnya tidak ada masalah mengenai keputusan Yoshida untuk tinggal di benua biru. Namun, sepeninggal suamiku, aku benar-benar merasa kesepian. Mungkin ini yang dirasakan ibu dan bapak ketika dulu aku memutuskan tinggal di Jepang dan berpindah kewarganegaraan.
Hari demi hari berganti. Menjumpai masa tua membuatku menjadi sangat perasa. Aku kian merasa kesepian dan dilupakan oleh orang-orang tersayang. Bukan maut yang kutakuti dalam hidupku ini yang menjelang malam. Namun, kesedihan yang membunuh jiwaku akibat terlalu lama hidup dirundung sepi. Kini tiada lagi asa selain dapat berpulang dengan tenang. Apa mungkin ini balasan Tuhan atas perlakuanku terhadap ibu dan bapak dahulu. Taizan, lelaki sandaran hidupku telah berpulang, dan anak semata wayangku telah lama meninggalkanku.
Polandia terasa begitu mustahil untuk kujangkau. Meski kerinduanku terhadap Yoshida kerap memuncak, aku tetap berusaha berdamai dengan keadaan. Aku cukup tahu diri bahwa tidaklah mungkin bagi seorang wanita renta sepertiku ini menempuh perjalanan yang begitu jauh. Lagi pula, andai saja memang ada biaya untuk membeli tiket pesawat, aku akan memilih untuk pulang ke Indonesia dibandingkan menyusul mereka di sana.
Kesibukan sebagai seorang wartawan membuat Yoshida tak ada waktu meski sebatas untuk menanyakan keadaanku. Ponsel yang tergeletak di atas meja kamar sudah sangat lama tak berdering. Tidak ada lagi kabar darinya. Acap kali aku bertekad untuk menghubunginya, tapi segera kuurungkan. Aku takut mengganggunya, atau bahkan membuatnya marah karena menelepon di waktu yang tidak tepat.
Sekuat tenaga kusingkirkan kesedihan akibat rundungan sepi. Meskipun terkadang ia hadir secara tiba-tiba, dan aku tak dapat menolaknya.
***
“Apakah Rumini-san sudah lama tinggal di Jepang?” tanya Bayu-san sambil menikmati teh yang kusuguhkan.
“Sudah. Setelah menikah, saya mengikuti suami untuk menetap di Jepang. Mungkin sudah sekitar tiga puluh tahun saya meninggalkan Indonesia dan tidak pulang sama sekali,” jawabku.
“Bagaimana dengan keluarga di Indonesia, apa Rumini-san merindukan mereka?” tanyanya lagi.
“Tentu saja aku sangat rindu,” jawabku singkat, dan mataku terasa basah secara tiba-tiba.
Kami bertukar cerita hingga tak terasa waktu menjelang petang. Tak terasa pula percakapan itu sudah empat pekan berlalu, dan besok ia akan datang menemuiku lagi. Kehadiran Bayu-san, lelaki pengantar paket itu membuat gairah hidupku lahir kembali.
Aku telah berjanji akan membuatkannya sayur lodeh spesial sebagai bentuk ucap an terima kasihku sebab ia akan datang menemuiku lagi. Aku juga berharap, dengan memasak makanan khas Indonesia, kerinduan kami akan kampung halaman sedikit terobati.
Saika-chan, tetangga kamarku dengan suka hati kutitipi sayuran dan aneka bumbu. Perempuan muda asli Jepang yang lama kukenal itu memang sangat baik dan kerap membantuku.
Aku menyadari bahwa tanganku tak lagi piawai dalam meracik bumbu. Ditambah daya ingatku yang melemah, tak terasa banyak hal yang tiba-tiba hilang dari kepala dan membuat proses memasakku terganggu. Meskipun berat mengingat resep yang telah lama tidak kupraktikkan, masakan spesial itu berhasil kusiapkan. Walau pun rasanya tak sesedap sayur lodeh buatan ibu di kampung dulu, bagi lidah seorang Indonesia masakan yang kubuat kali ini sedikit lebih baik dibandingkan rasa masakan ala negeri sakura.
Lama sudah aku menunggu Bayu-san datang untuk mencicipi masakan yang telah kusiapkan sedari pagi. Namun, hingga larut malam tiba, tiada tanda ia akan hadir. Aku yakin lelaki itu tidak akan mengingkari janji. Benar saja, bukan salahnya, tapi aku. Setelah kulihat agenda di smartphone-ku, baru kusadari bahwa Bayu-san tidak berjanji datang di hari ini. Rupanya ketidaksabaranku menanti kedatangannya membuatku lupa bahwa ia akan datang tepat sebulan setelah pertemuan pertama kami.
***
“Ting-Tong!”
Seorang lelaki tegap berkulit sawo matang berdiri dengan gusar. Semenit berlalu setelah bel ditekan, tibalah pintu terbuka secara perlahan.
“Aku datang, Rumini-san!” lelaki itu berteriak riang dengan senyum yang tersungging lebar. Namun, seketika ia menjadi salah tingkah sebab yang ditemui bukanlah Rumini-san.
Lelaki itu mengeluarkan sebuah catatan kecil dari dalam tasnya. Ia membuka di salah satu halaman, lalu menengok nomor yang tertera di pintu kamar. Tidak ada yang salah. Alamat yang ditujunya tepat.
“Gomenashai 2, Anda pasti Bayu-san?” tanya seorang wanita muda setelah pintu kamar terbuka.
“Benar. Apakah Rumini-san ada di dalam?” senyum canggung terlempar dari wajah lelaki itu.
“Tunggu sebentar,” wanita itu bergegas kembali ke kamar dan mengambil sesuatu.
“Ini ada sesuatu untukmu,” ucap wanita itu sambil menyodorkan sebuah kotak kayu berukir bunga sakura.
“Untukku, dari siapa?” dengan diliputi kebingungan Bayu-san menerima kotak itu.
“Bukalah! Kau akan tahu sendiri nanti,” jawab wanita itu.
Lelaki itu hanya mengangguk berusaha untuk memahami ucapan wanita itu.
“Maaf, aku harus segera kembali beristirahat,” ucap wanita itu kemudian menutup pintu.
Lelaki berbadan tegap itu berdiri mematung di depan pintu. Perlahan ia membuka kotak kayu yang diberikan padanya, dan membaca sebuah surat di dalamnya.
“Teruntuk Bayu-san,
Terima kasih telah menepati janjimu untuk menemuiku lagi. Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu denganmu, lelaki yang mengingatkanku akan Yoshida, putra semata wayangku yang telah lama meninggalkanku.
Tepat kemarin Yoshida dan istrinya menjemputku dan mengajakku tinggal bersamanya. Aku tak pernah menyangka mereka akan datang menemuiku lagi. Mereka memutuskan untuk meninggalkan Polandia dan menetap di Osaka. Sebenarnya kerinduanku akan kampung halaman sudah teramat dalam. Namun, aku tak mau menolak ajakan Yoshida dan kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Tak perlu cemas ataupun sedih. Kau bisa mengunjungiku ketika rindu. Alamat rumahku ada di balik surat ini.
– Rumini-san -”
Mata lelaki itu berkaca-kaca. Ada kesedihan yang menyelinap sebab ia terlambat menjumpai Rumini-san. Kejutan istimewa berupa tiket pesawat menuju Indonesia yang disiapkan untuk wanita itu urung ia berikan.
“Tak apa, Rumini-san. Kau akan menjumpai kebahagiaanmu saat ini,” lelaki itu tersenyum, kemudian bergegas meninggalkan apartemen.
Catatan:
1 Sumimasen = Permisi
2 Gomenashai = Maaf
3 Daijobu = Tidak apa
AGUNG ZAKARIA
lahir di Malang, 07 Desember 1998. Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya ini memiliki ketertarikan pada dunia sastra sejak duduk di bangku SLTA. Salah satu cerpennya yang berjudul “Ibu dalam Secangkir Ingatan” pernah dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat.
[1] Disalin dari karya Agung Zakaria
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 10 Maret 2019
The post Setagaya Aku Ingin Pulang appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2JakFRZ
Aku sedang memperhatikan seorang perempuan yang tengah duduk depan cermin ketika menulis cerita ini. Ia sibuk memoles wajahnya dengan sepuhan bedak, dengan bibir warna merah menyala. Aku heran dengan caranya mengenakan sepatu hak tinggi yang membungkus kakinya. Bagaimana tidak, aku merasa kasihan barangkali kaki itu dapat berbicara, mungkin saja ia berteriak kesakitan. Perempuan itu mengencangkan tali sepatu tanpa ampun. Agar kakinya terlihat ramping, katanya kemudian setelah memelototkan mata ke arahku. Aku hanya tersenyum datar.
“Mau ke mana?” tanyaku kepadanya.
“Hidup ini harus dibuat bersenang-senang,” balasnya dengan mulut menyeringai. Hampir menyerupai singa yang hendak menerkam mangsanya. Namun, ia begitu santai dengan jawabannya.
“Anakmu bagaimana? Dia belum bangun.”
“Biarkan saja.” Nanti dia pasti akan mencari Mbok Nah, pembantu yang sudah menemaninya sejak mula ia menikah dengan Iyas, suaminya. “Lagi pula itu sudah menjadi tugas yang harus dilakukannya.”
Aku hanya diam mencerna kata-katanya. Barangkali yang ada di benak perempuan itu bahwa mungkin tak akan ada gunanya ia bersusah payah mengupah pembantunya jika pembantunya itu tak melakukan yang semestinya ia lakukan. Ia memang sudah sering tidak menghiraukan Mbok Nah. Para tetangga sudah lama menggunjingkan atas ketidakhormatannya terhadap segala orang tua seusia Mbok Nah.
Pernah suatu kali ia memaki habis-habisan seorang peminta-minta yang mendatangi pintu rumahnya dengan suara mengiba. Pengemis itu lelaki kira-kira berusia sepantaran dengan Mbok Nah, barangkali sedikit lebih tua.
Saat itu Ahad, semua orang di keluarga perempuan itu hendak menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan. Lelaki tua itu sangat letih, hampir tak bertenaga, aku hanya bisa memperhatikan dari balik jendela, tidak berani mendekat karena biasanya perempuan itu tidak akan mengizinkan, bahkan marah besar.
Harapan lelaki tua itu tidak banyak, hanya mengharap segelas air putih karena letih sudah seharian ini ia berjalan. Namun, seketika itu juga perempuan itu mendorong Pak tua keluar gerbang, kemudian menutupnya rapat. Sementara mobilnya buru-buru meninggalkan garasi. Suaminya sudah memperingatkannya, tapi selalu saja ada alasan yang membuat suaminya menghela napas—menyerah. Kemudian lelaki tua itu kelihatan sangat murung wajahnya. Ia berjalan dengan langkah limbung karena tidak memiliki tenaga, hampir saja terjatuh. Berjalanlah mobil perempuan itu, bersamaan dengan suara parau Pak tua, “Kau akan menyesal kelak, perempuan muda. Sebab perlakuan anakmu sendiri!”
***
Perempuan itu tidak saja keras, tetapi juga jarang mengurusi anaknya dan hampir tidak pernah mempedulikan Iyas, suaminya. Hal yang terpenting baginya adalah ia dapat memberikan segala sesuatu yang diinginkan anak semata wayangnya. Karena menurutnya segalanya bisa dibeli dengan uang. Dengan uang itu, ia bisa membeli mobil, rumah, mengupah pembantu, jalan-jalan ke luar negeri, atau sekadar jajan di luar rumah dan mentraktir teman kerjanya di kafe dekat kantor. Sementara, ia selalu melarang-larang suaminya melakukan sesuatu, tapi tak pernah sedikit pun mengerti yang dikehendaki suaminya itu. Masalah setelan baju, dasi, atau tas kerja tidak pernah sedikit pun digubrisnya. Yang ada di pikirannya hanya uang, uang, dan uang.
Aku pernah secara tidak sengaja mendengar percakapannya dengan anak lelakinya, yang masih berusia delapan tahun.
“Bu, Tiar ingin ibu memasak untuk Tiar. Tiar bosan dengan masakan Mbok Nah yang itu-itu saja.”
“Sama Mbok Nah saja, ya. Ibu masih sibuk.”
“Sudah, ya. Ibu pergi kerja dulu. Nanti biar Ibu minta Mbok Nah untuk memasak makanan kesukaan Tiar. Ibu kerja kan untuk Tiar juga.”
Ah, perempuan itu selalu saja punya alasan untuk menolak permintaan anaknya. Mestinya itu bukanlah permintaan yang sulit bagi seorang ibu. Bukankah sudah patut ia curahkan rasa kasih dan sayangnya untuk anaknya? Tidak melulu yang ada di pikiran selalu saja uang.
Ia menciumi kedua pipi anaknya, kemudian bergegas mempercepat langkah sepatu hak yang menyerupai sepatu kuda, tik-tok-tik-tok! Kontan saja wajah anak lelaki itu berubah masam, seperti buah yang terlanjur panen sebelum masak.
Diam-diam suami perempuan itu kerap mengeluarkan seluruh isi kepala kepada Juan, teman dekatnya. Ia sering kali membusakan mulutnya yang berisi segala macam keluhan mengenai istrinya itu.
“Menurutmu, apa yang meski kulakukan terhadap istriku?”
“Terserah kau saja. Namun mestinya kau nasihati istrimu itu. Kuperhatikan selama ini kamu saja yang kurang tegas terhadapnya,” sergah Juan.
“Aku kurang tegas? Kau belum tahu saja, bagaimana menakutkannya istriku saat sedang mengamuk. Aku hanya tak ingin mencari masalah terhadapnya. Mestinya kau tahu itu.”
“Kau terlalu lemah. Makanya ia seenaknya terhadapmu.”
Iyas sering kali berpikir, selama sem bilan tahun ini hampir tak pernah ia mendapat sambutan hangat dari istrinya. Bahkan, ketika ia kelihatan sangat letih. Bajunya penuh dengan peluh yang memenuhi sekujur tubuh. Ia mencoba berulang kali mengetuk pintu dengan sekuat tenaga, tapi tak sekali pun jawaban dari balik pintu ia dapatkan. Barangkali Mbok Nah tengah sibuk merampungkan pekerjaannya, sementara perempuan itu masih asyik menghamburkan uangnya.
Sebagai seorang lelaki yang mempunyai istri, sudah sepantasnya jika ia mendapatkan sambutan hangat saat tubuh merasa lelah sepulang kerja, lalu bersegera membawakan tas dan menyeduhkan secangkir kopi panas, atau sekadar memberikan pijitan kecil pada persendian yang kaku setelah seharian bekerja.
Namun, tidak. Tidak demikian untuk Iyas. Ia justru harus menahan segala kepahitan yang ditanggungnya. Ia selalu melakukan pekerjaanya sendiri tanpa bersusah payah meminta bantuan pada istrinya. Mulai bangun tidur, menyeduh kopi, menyiapkan setelan baju, tas kerja, sepatu, serta berbagai rangkaian pekerjaan lain ia kerjakan sendiri.
Pak lurah pernah bercerita kepadaku, ia sangat bosan jika harus berkunjung ke rumah perempuan itu. Bukan, bukan karena rumah itu berhantu, tapi karena tak pernah sekali pun pak lurah berhasil bertemu penghuni rumah, hanya ada aku dan Mbok Nah yang tidak punya urusan dengan Pak lurah. Mereka terlalu sibuk, bahkan untuk sekadar menyapa tetangganya. Bagi mereka siang dan malam hampir tidak ada bedanya. Malam bisa saja menjadi siang, dan siang pun bisa menjadi malam.
***
“Tapi, kan …”
Tetangga Srukat, perempuan itu, kerap menggunjing karena hampir setiap harinya tak ia luangkan untuk anak dan suaminya. Ia selalu menyerahkan urusan anak kepada Mbok Nah.
Sepulang kerja, perempuan itu langsung merebahkan tubuhnya, yang ia anggap ramping itu, ke atas tumpukan kasur. Ah, siapa bilang tubuhnya ramping? Itu hanya pujiannya saja untuk menghibur dirinya sendiri. Siapa lagi?
Iyas adalah lelaki yang cukup sabar dan setia. Kalau suami Srukat adalah lelaki lain, mungkin saja saat ini sudah memilih pergi. Banyak di luar sana yang masih lebih menawan dan lebih memiliki kepedulian ketimbang Srukat.
Pernah juga suatu kali anaknya mengadu.
“Bu, kapan ibu bisa menemaniku ke danau? Aku jenuh di rumah terus. Mainan yang ibu belikan tidak mengubah apa pun. Aku tak mengerti apa-apa yang ada di luar sana. Sedangkan, ibu selalu sibuk keluar rumah, yang ibu bilang bekerja itu. Mbok Nah juga tak selalu bisa menemaniku karena ia sibuk membereskan pekerjaan.”
“Nanti kalau pekerjaan ibu sudah selesai, lagi pula ayahmu masih banyak urusan.” Bicaranya kasar, mungkin saja ia terlampau lelah.
“Kapan Ibu ada waktu? Apa perlu aku menceburkan diri ke dalam danau, baru Ibu akan mencari-cari beradaku? Atau justru itu yang Ibu harapkan?”
Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
Biji matanya yang cokelat kehitaman memancarkan tatapan tajam ke arah anaknya. Ia seolah tak percaya, anak semata wayangnya berkata demikian kepadanya. Ia menundukkan wajahnya, mungkin ia hatinya sedikit tergugah bahwa selama ini ia telah salah memperlakukan keluarganya.
“Bukan itu maksud Ibu.”
“Lalu? Aku bahkan tidak mengerti apakah Ibu masih menganggapku sebagai anak.”
Perempuan itu semakin tercengang. Kepalanya tiba-tiba mendongak dengan dua biji mata yang semakin berkaca-kaca. Kemudian beranjak dari duduknya di atas dipan di teras rumahnya.
***
Biarkan perempuan itu memilih ceritanya sendiri, barangkali menjadi dengan terlebih dahulu menjadi orang lain akan mengubahnya menjadi dirinya yang seutuhnya.
“Mbok, mana Tiar? Katakan padanya, ada oleh-oleh untuknya. Dan sampaikan juga, besok lusa aku dan Mas Iyas akan mengajaknya ke danau.”
“Em. Anu, Nyonya …”
“Kenapa Mbok?”
“Den Tiar tidak pulang sejak empat hari yang lalu,” ungkap Mbok Nah resah.
“Apa? Kenapa kamu tidak menghubungiku atau Mas Iyas?”
“Sudah berkali-kali, Nyonya. Maafkan saya.” Wajah Mbok Nah seketika lesu dan tak berdaya.
***
Ingatan Srukat membawanya pada sederet kalimat paling hening, “Kapan Ibu ada waktu? Apa perlu aku menceburkan diri ke dalam danau, baru Ibu akan mencari-cari beradaku? Atau justru itu yang Ibu harapkan?” Lidahnya tercekat. Ia berlari dengan kecepatan yang hampir menyerupai kilat yang menyambar-nyambar ketika hari menjelang turun hujan. Sampailah ia pada tepian danau. Kemudian memanggil-manggil nama anaknya. Hening. Tidak ada jawaban. Di kepalanya berkelebat sederet kalimat, “Kau akan menyesal kelak, perempuan muda. Sebab perlakuan anakmu sendiri!”
Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.
[1] Disalin dari karya Fina Lanahdiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 23 September 2018
The post Danau dan Sepotong Cerita appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QQepP3
“Kalau keindahan surga hanya sebatas gambaran kitab suci atau imajinasi Dante dalam The Divine Comedy,” kata Siti Zindiki, istri saya, “maka aku tidak tertarik untuk mati.”
“Tapi hidup abadi itu cuma dongeng, Sayang,” kata saya. “Dan, setelah mati, Tuhan hanya menyediakan dua tempat untuk kita: surga atau neraka.”
“Bukankah sudah sering aku katakan,” katanya. “Bagiku, tuhan itu cuma anagram dari hutan, tahun, dan hantu. Atau kalau kau mau dengar yang lebih acakadut: nthau!”
“Sayang,” kata saya, “kamu boleh-boleh saja tidak percaya kepada Tuhan. Tapi bagaimanapun juga kamu harus percaya pada kematian.”
Jauh sebelum bertemu dengan Siti Zindiki, saya hanya seorang bocah dekil dari dukuh terpencil yang sudah terbiasa menyaksikan Pasukan Tentara dan Gerombolan Tiga Huruf [1] saling membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan yang sama. Mereka berharap menang atau mati sebagai martir, tapi sampai sekarang saya masih belum bisa memastikan harapan pihak manakah yang benar-benar dikabulkan. Seperti semua orang yang tinggal di dukuh itu, satu-satunya harapan yang bisa saya banggakan adalah bertemu dengan hari esok; sekaligus menjadikan rasa pesimistis sebagai belenggu yang senantiasa menggerogoti nalar kebebasan liar di puing-puing benak masa kecil saya. Tapi sejujurnya: saya harus berterima kasih kepada siapa pun yang telah membawa perang ke dukuh kami, karena situasi tersebut sangat berandil besar dalam membentuk diri saya hingga menjadi seperti sekarang.
Meskipun demikian, perang memang bukan satu-satunya ancaman paling menakutkan yang mengoyak-ngoyak rasionalitas penghuni dukuh kami—tidak punya listrik dan akses informasi yang memadai saja sudah membuat kami tertinggal dalam semua hal nyaris setengah abad. Nyatanya, sumber bacaan yang tersedia di dukuh kami hanya Al-Quran dan kitab-kemitab kuno yang dijejali dengan huruf Jawi belaka, dan itu pun cuma didaras dengan serius oleh generasi lontok yang sudah kehilangan selera untuk menuruti godaan duniawi, sehingga hampir tidak ada seorang pun yang melek aksara Latin atau memahami fungsi angka melebihi hitung-hitungan jumlah ternak. Karena itu, pada masa-masa awal ketika Pasukan Tentara mulai membangun barak minimalis sebagai mastautin sementara, banyak warga yang melempari tempat itu dengan bongkahan batu dan balok kayu hanya karena menemukan sebuah buku saku UUD ‘45 milik salah seorang tentara yang tercecer di jalanan dan mereka curigai sebagai lembaran laknat yang berisi ajaran sesat.
Sayangnya, Pasukan Tentara malah salah kaprah dalam menanggapi aksi konyol tersebut, lantaran mereka menganggap sekumpulan warga yang protes itu sebagai utusan Gerombolan Tiga Huruf, sehingga menembak mati semua orang yang mencoba untuk melawan. Tidak dapat dimungkiri: perkara sepele semacam itu pada akhirnya berhasil membentuk kesepakatan kolektif yang membuat kami merasa hidup lebih nyaman bersama Gerombolan Tiga Huruf yang tidak menjanjikan apa-apa ketimbang bersama Pasukan Tentara yang berkoar-koar untuk membawa perdamaian dan kesejahteraan bagi dukuh kami.
Sebenarnya momen masa kecil yang paling saya ingat jauh lebih memilukan dari sekadar urusan orang dewasa. Setelah Pasukan Tentara menetap di sekitar area dukuh, kami merasa segalanya benar-benar telah berubah. Salah satu yang paling mencolok adalah hubungan harmonis yang terjalin antara warga dan Gerombolan Tiga Huruf.
Saban hari Jumat tiba—sementara orang dewasa dan Pasukan Tentara tengah mendengarkan khotbah dan menunaikan salat berjemaah di menasah-saya dan semua anak-anak dukuh berusia 7 sampai 10 tahun ditugaskan oleh Pak Kejurun [2] agar menyusup ke hutan secara berpasangan. Untuk menghindari pengawasan dari tentara, kami disuruh berjalan kaki dengan sembunyi-sembunyi menuju sebuah pondok reyot berdinding gedek yang terletak di tepi rimba. Di sana kami sudah ditunggu oleh seorang perempuan paruh baya yang menyerahkan sebuah berunang berisi makanan dan beberapa jeriken air bersih sebagai bekal harian bagi Gerombolan Tiga Huruf. Waktu itu kami masih terlalu kecil untuk memahami kenyataan, sehingga dengan diiming-imingi hadiah berupa beberapa butir guli, kami langsung menerima tugas itu dengan sukacita.
Saya lupa entah sudah berapa kali menjadi relawan dalam misi tersebut, tapi saya selalu mengingat misi terakhir yang membuat hidup saya berubah untuk selamanya. Saat itu saya ditugaskan untuk mengambin berunang yang berisi makanan, sedangkan Fathoni Wantona—teman saya yang berusia lebih tua dua tahun—bertugas menenteng jeriken. Seperti hari-hari berbahaya lainnya, kami, sepasang bocah polos, sedang meniti jalan lecak sembari bercerita ihwal serunya permainan guli yang akan kami lakukan setibanya di rumah nanti. Tapi tiba-tiba Fathoni Wantona merisak kebahagiaan semu itu dengan mengatakan bahwa kami berdua akan pulang ke rumah melalui jalan yang berbeda. Mulanya saya menanggapi ucapannya secara harfiah, sehingga di pertengahan jalan kami benar-benar memutuskan untuk berpisah. Namun, tidak lama setelah saya mengambil jalan lain melalui rimbunan semak belukar, sekonyong-konyong seorang tentara mencegat langkahnya. Untungnya saya masih sempat bersembunyi dan menyaksikan langsung momen tersebut.
“Bukankah tidak baik anak kecil main sendirian di tengah hutan?” tanya tentara itu sok ramah dan pura-pura tidak tahu. “Bawa bekal pula.”
Fathoni Wantona hanya diam.
“Biarkan paman menebaknya,” kata tentara itu. “Air dalam jeriken yang kamu bawa pasti untuk seseorang, kan?”
Fathoni Wantona masih diam.
“Oh, jangan-jangan dia bukan satu orang,” kata tentara itu gigih, “tapi banyak orang.”
Fathoni Wantona lagi-lagi cuma diam, tapi hanya sejenak.
“Paman benar,” dia mulai buka suara. “Ini memang bukan untuk satu orang, tapi untuk puluhan orang. Tapi Paman salah kalau mengatakan ini minuman. Sebenarnya ini obat kebal.”
“Ha-ha-ha…,” tentara itu tergelak dengan tawa yang meremehkan.
“Aku serius, Paman,” kata Fathoni Wantona. “Paman pasti belum tahu bahwa orang-orang yang ingin Paman temui itu tidak mempan ditembak. Itulah sebabnya semakin hari mereka bertambah banyak. Tapi berjanjilah Paman tidak akan memberi tahu siapa pun tentang rahasia ini, termasuk kepada mereka. Sebab, kalau mereka tahu, aku pasti akan dibunuh.”
Tentara itu mengernyit.
“Kalau Paman tidak percaya pada omonganku,” kata Fathoni Wantona meyakinkan, “mari kita buktikan.”
“Caranya?”
“Aku akan menuangkan air ini ke seluruh rambutku,” katanya. “Setelah itu Paman boleh menembak kepalaku.”
“Jangan bergurau, Nak!” kata tentara itu kaget.
“Aku bersungguh-sungguh, Paman,” kata Fathoni Wantona.
Tentara itu tampak wagu karena tidak bisa menyembunyikan kebimbangannya. Dari gelagat dan delik matanya yang tidak pernah bisa saya lupakan, saya sangat yakin dia termasuk golongan orang yang percaya pada mitos dan hal-hal adikodrati lainnya. Karena itu, dia hanya termangu dan berkeringat dingin menyaksikan Fathoni Wantona yang tengah masyuk menuang dan mengusap sisa tetesan air dari jeriken yang ditentengnya hingga merata ke seluruh rambut dan kepalanya.
“Aku sudah siap, Paman,” kata Fathoni Wantona. “Sekarang Paman boleh menembakku.”
“Kamu jangan main-main, Nak,” kata tentara itu ragu.
“Aku bersungguh-sungguh, Paman,” kata Fathoni Wantona mengulangi ucapannya. “Bergegaslah…, sebab kita tidak punya banyak waktu. Aku takut salah seorang dari mereka melihat kita; dan jika itu terjadi, aku pasti akan dibunuh.”
Tanpa berpikir panjang, tentara itu langsung mengokang pelocok senapannya. Setelah itu, dengan tangan gemetaran, dia melepaskan sebuah tembakan dengan suara yang menggema ke seantero hutan sehingga membuat sekumpulan burung kucica terbang berhamburan karena merasa terusik. Tentu saja peluru yang dilepaskan oleh senapan itu berhasil menembus kepala Fathoni Wantona, sehingga tentara itu berkaru setelah menyadari kedunguannya—persis seperti orang tulu. Dalam keadaan kalut, saya langsung lari kalang kabut sonder mengacuhkan segala kemungkinan yang barangkali akan membuat saya mati. Dari kejauhan, saya masih sempat mendengar satu suara tembakan lagi.
Jauh setelah peristiwa itu, takdir mempertemukan saya dengan Siti Zindiki; hingga kami menikah dan saling bersawala sebagaimana percakapan di awal kisah ini.
“Bagi saya,” kata Siti Zindiki, “kematian itu hanya gejala alamiah biasa.”
“Itu karena kamu belum mengalaminya, Sayang,” kata saya.
“Kamu bicara seperti itu seolah-olah sudah pernah mati saja.”
“Saya memang belum pernah mati,” kata saya. “Tapi, ketika negeri ini masih dilanda perang, saya telah menyaksikan banyak momen kematian yang mengerikan.”
“Untuk masalah jumlah, barangkali kamu menang,” katanya. “Tapi apakah kamu pernah melihat ayahmu menembak kepalanya di hadapan matamu sendiri?”
“Tidak.”
“Saya pernah,” kata Siti Zindiki. “Seharusnya saat itu saya masih sempat untuk menghentikan ayah. Dulu saya percaya tidak ada orang yang lebih baik ketimbang dia. Tapi, sebelum tewas, dia masih sempat menulis sepucuk surat pengakuan yang membuat saya terperanjat. Katanya, sewaktu perang masih berkecamuk, dia pernah menembak kepala seorang bocah di tengah hutan; dan peristiwa itu membuatnya dihantui oleh rasa bersalah di sepanjang sisa hidupnya. Meskipun sesaat setelah membunuh si bocah dia menembak betis kakinya sendiri sebagai cara untuk menebus dosa, tapi hal itu sama sekali tidak membantu. Sebagai wasiat terakhir, dia meminta kami—keluarga yang dia tinggalkan—agar tidak pernah mendoakannya untuk masuk surga. Sejak saat itulah saya mulai memikirkan arti kebaikan yang pernah dia lakukan. Pada akhirnya saya putus asa sehingga menyelesaikan ikatan sepihak dengan Tuhan yang membuat saya yakin bahwa agama tidak lagi saya butuhkan. Nah, sekarang coba kamu ceritakan, dari sekian banyak momen kematian yang telah kamu saksikan, manakah yang paling membuatmu percaya kepada Tuhan dan kematian?”
Setelah mendengar ceracaunya yang mengejutkan, saya hanya termangu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk kali ini dan sampai akhir hidup saya nanti, saya benar-benar telah dikalahkan sepenuhnya oleh Siti Zindiki. Kalah telak!
Aceh, September-Oktober 2018
Catatan:[1] Gerombolan Tiga Huruf adalah istilah untuk menyebut GAM. Istilah ini populer di kalangan orang Gayo yang mendiami wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.
[2] Kejurun adalah pemimpin dusun dalam sistem adat orang Gayo.
Nanda Winar Sagita, lahir di Takengon, Aceh Tengah, pada 24 Agustus 1994. Saat ini bekerja sebagai pengajar sejarah dan penulis lepas. Karyanya dimuat di berbagai media massa. Kumpulan cerpen perdananya, Menjadi Pascamodern dalam 17 Detik, akan segera diterbitkan
[1] Disalin dari karya Nanda Winar Sagita
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 17-18 November 2018
The post Saya Menikahi Seorang Ateis appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Bz5I61
Di banyak tempat, di banyak kota, bermunculan baliho-baliho besar bergambar Kakek Ane disertai kepsen “Hidup Kakek Ane!”, “Kakek Ane adalah kita!”, “Kita adalah Kakek Ane!”. Nama aslinya Ane Raisinan. Namun semua orang memanggil dengan sebutan Kakek Ane, karena dia memang lelaki tua.
Kakek Ane sangat terkenal sejak kalangan mahasiswa yang menentang rezim Orde Baru memekikkan tuntutan reformasi. Setiap ada aksi unjuk rasa proreformasi, Kakek Ane pasti terlihat di tengah kerumunan. Sebagai figur paling tua dalam unjuk rasa, Kakek Ane selalu menarik perhatian wartawan.Sosoknya jadi mirip selebritas, sering muncul dalam pemberitaan media. Kalangan mahasiswa menganggap dia tokoh reformasi.
Sikap politik Kakek Ane cenderung oposan dan plinplan. Banyak orang menyebutnya tokoh oposisi abadi. Sebutan itu sebetulnya olok-olok karena Kakek Ane memang selalu bergabung ke barisan oposan yang suka mengkritik kebijakan pemerintah.Bahkan mentang-mentang oposan, dia tentang semua kebijakan pemerintah. Sikap politik itu membuat dia sangat populer, tapi juga dibenci kalangan pejabat dan pihak propemerintah. Mungkin karena plinplan, semula Kakek Ane antikorupsi, tapi sekarang malah akrab dengan sejumlah koruptor. Bahkan Kakek Ane baru-baru ini menyatakan akan mencalonkan diri pada pemilihan presiden mendatang untuk mengembalikan keadaan seperti pada era Orde Baru.
“Keadaan sekarang lebih buruk dibandingkan era Orde Baru. Kalau keadaan sekarang tidak bisa diperbaiki, sebaiknya kembali saja seperti pada masa Orde Baru!” tegas Kakek Ane ketika diwawancarai media.
Penegasan Kakek Ane itu mengecewakan banyak pihak yang dulu sama-sama menentang rezim Orde Baru. Banyak orang menganggap Kakek Ane sudah putus asa karena reformasi ternyata tidak bisa melahirkan pemerintahan yang mampu mewujudkan keadilan dan kemakmuran bangsa dan negara. Kakek Ane tak peduli dibenci kalangan penentang rezim Orde Baru, karena menurut dia sekarang banyak rakyat merindukan kembalinya Orde Baru. Bahkan Kakek Ane hendak mendirikan posko relawan di pelosok desa dan kota untuk menjadi mesin politik guna membangkitkan kembali rezim Orde Baru.
“Kebangkitan kembali rezim Orde Baru adalah harga mati! Tak bisa ditawar-tawar lagi!” seru Kakek Ane dalam pidato pembukaan posko relawan di suatu kampung.
Banyak pemuda kampung bersedia bergabung menjadi anggota. Banyak rakyat yang makin miskin pada era reformasi ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai anggota yang akan mendukung dia menjadi calon presiden.
Di antara kerumunan rakyat di depan posko relawan juga muncul dukungan agar Kakek Ane berani maju menjadi calon presiden. Namun jika kelak menang, harus memimpin bangsa dan negara ini sama seperti rezim Orde Baru.
“Kakek Ane pasti mampu meniru gaya kepemimpinan Pak Harto!” seru seseorang di tengah kerumunan.Yang lain beradu komentar.
“Ya, sebaiknya Kakek Ane segera mendeklarasikan diri sebagai calon presiden.”
“Kalau tidak ada partai yang mendukung, Kakek Ane bisa maju sebagai calon independen. Banyak rakyat pasti mendukung!”
“Hidup Kakek Ane!”
“Hidup Kakek Ane!”
“Hidup Kakek Ane!”
Aspirasi dari tengah kerumunan rakyat itu bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar. Tanpa komando, banyak orang memakai baju dan topi bergambar wajah Kakek Ane dengan kepsen “Calon Presiden”. Banyak umbul-umbul dan spanduk bergambar wajah Kakek Ane dengan tulisan itu bermunculan di berbagai sudut desa dan kota.
Sejumlah pengamat politik menulis opini berisi ulasan dan dukungan kepada Kakek Ane. Judul-judul opini itu cukup menarik: “Kakek Ane Makin Populer”, “Kakek Ane Makin Ngetopî, “Kakek Ane Layak Jadi Presiden”.
Judul-judul opini itu menjadi trending topic dan dibahas dalam talk show televisi dengan narasumber pakar politik.Kakek Ane juga tampil sebagai narasumber talk show di televisi hampir setiap hari.
Tiba-tiba muncul isu Kakek Ane akan direkrut menjadi penasihat utama Presiden agar tidak terus menerus menentang kebijakan pemerintah. Isu itu meresahkan rakyat yang menginginkan Kakek Ane menjadi calon presiden. Banyak orang menggerutu.
“Politik memang licik.Setelah Kakek Ane makin populer, Presiden ingin merangkulnya.”
“Sekarang Presiden tampak takut kepada Kakek Ane.”
“Kakek Ane pasti menolak menjadi penasihat utama Presiden.” Dari kalangan pakar politik banyak komentar berhamburan di forum wawancara khusus sejumlah media. “Kalau mau, sekarang Kakek Ane pasti mampu memimpin gerakan revolusi untuk melengserkan Presiden!”
“Semua partai yang ingin menikmati kue kekuasaan secara bersama-sama, sebaiknya segera membangun koalisi baru untuk mendukung dan mengusung Kakek Ane menjadi calon presiden.”
“Kakek Ane berpotensi menjadi calon presiden tunggal pada pemilihan presiden mendatang, jika popularitasnya terus meningkat dan didukung koalisi banyak partai.”
Sementara itu, dari kalangan wakil rakyat muncul desas-desus hendak mendirikan partai baru dari gabungan sejumlah partai untuk mengusung Kakek Ane menjadi calon presiden, kalau partai-partai yang ada sekarang ingin mengusung figur lain.
“Ada kemungkinan bakal lahir partai baru bernama Partai Kakek Ane, jika tidak ada partai yang sudi mendukung Kakek Ane maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden mendatang,î tutur seorang wakil rakyat dalam wawancara di televisi.
“Sekarang, cita-cita reformasi sudah tidak jelas lagi, ibarat makin jauh panggang dari api. Terbukti, negara makin terbelit banyak utang. Korupsi juga merebak. Karena itu, bangsa ini perlu pemimpin yang mampu mewujudkan cita-cita reformasi atau sebaliknya mampu mengembalikan keadaan seperti pada era Orde Baru. Kakek Ane adalah tokoh paling senior yang layak didukung untuk memimpin bangsa dan negara kita mendatang,” tutur wakil rakyat yang lain.
Dari kalangan militer juga muncul isu, militer akan mendukung Kakek Ane menjadi calon presiden. Jika Kakek Ane menjadi calon presiden, maka calon wakil presiden yang akan mendampingi adalah tokoh militer.
“Kakek Ane layak didukung segenap rakyat, agar bangsa dan negara kita segera maju dan makmur,” tutur seorang purnawirawan jenderal yang pernah menjadi anggota kabinet pada masa Orde Baru.
“Kakek Ane sangat dicintai rakyat, maka militer harus mendukung,” tutur purnawirawan jenderal yang lain yang pernah menjadi wakil rakyat pada masa Orde Baru.
Sementara itu, di media sosial bermunculan banyak dukungan. Banyak pihak membuat grup-grup di Facebook, BBM, dan WA untuk mendukungnya menjadi calon presiden. Tak ada menit berlalu tanpa diskusi mengenai popularitas Kakek Ane.
Kalangan seniman tak mau ketinggalan mengekspresikan dukungan politik kepada Kakek Ane. Sejumlah pelukis menggelar pameran lukisan wajah Kakek Ane di sejumlah kota besar. Sejumlah pematung ramai-ramai membuat patung Kakek Ane yang dipajang di galeri masing-masing. Para pencipta lagu bergabung untuk membuat lagu baru berjudul “Kakek Ane”, berisi syair yang menarik.
Kami cinta Kakek Ane Kami sayang Kakek Ane Kakek Ane Kakek Ane
Syair lagu itu dihafalkan banyak anak kecil dan remaja. Ibu-ibu juga suka menyanyikan.Petani di sawah dan pedagang di pasar pun gemar menyanyikan sambil bergoyang-goyang. Siang-malam televisi dan radio sering mengumandangkan berulangulang.
Kakek Ane sangat gembira melihat makin banyak rakyat memakai baju dan topi bergambar dia. Semua lembaga survei menempatkan dia sebagai tokoh terpopuler.
Sebagai tokoh sangat populer mengalahkan semua selebiritas, Kakek Ane selalu dikejarkejar banyak orang yang hendak berfoto bersama. Kakek Ane jadi sering kelelahan. Padahal, pada usia tua seharusnya Kakek Ane banyak istirahat agar tidak kelelahan.
Siang itu, Kakek Ane muncul di seminar nasional “Menyongsong Pileg dan Pilpres”. Tiba-tiba semua peserta seminar, ratusan orang, mengepung dia hendak berfoto bersama. Mereka berdesak-desakan. Saling dorong. Ada yang terjatuh, lalu terinjak-injak.
Kakek Ane pun terjatuh dan terinjak-injak. Kakek Ane pingsan. Tubuhnya babak-belur, segera diangkut ke rumah sakit. Semua yang melihat menangis sambil berseru, “Kakek Ane! Kakek Ane! Kakek Ane!”
Sehari kemudian, di media sosial muncul foto Kakek Ane berwajah lebam seperti habis dipukuli dengan benda keras yang langsung viral karena disertai kepsen provokatif: “Kekerasan politik itu nyata. Kakek Ane adalah korbannya!”
Dalam waktu singkat, banyak tokoh oposan berkumpul menggelar rapat untuk merancang agenda aksi unjuk rasa besar-besaran menuntut Presiden bertanggung jawab atas kekerasan politik yang menimpa Kakek Ane.Di banyak tempat, di banyak kota, bermunculan baliho-baliho besar bergambar Kakek Ane disertai kepsen “Hidup Kakek Ane!”, “Kakek Ane adalah kita!”, “Kita adalah Kakek Ane!”.
Griya Pena Kudus, 2019
– Maria M Bhoernomo, lahir di Kudus, 23 Oktober 1962. Dia menulis prosa, puisi, dan esai dalam bahasa Indonesia dan Jawa. (28)
[1] Disalin dari karya Maria M Bhoernomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 3 Maret 2019.
The post Kakek Ane appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2HmczmO
Tidak mudah membedakan rintihan kesakitan dan erangan kematian. Apalagi dalam ruang gawat darurat yang dipenuhi pasien pasien kritis. Mendengarkan rintihan sambil menahan sakit tentu lebih susah. Terlebih lagi jika badan tidak bisa digerakkan. Karena itu aku hanya memutar-mutar bola mata mencoba melihat siapa saja yang merintih memanggil ibu, emak atau mamanya.
Upayaku untuk memutar kepala dan mencoba mendapatkan sudut pandang lebih baik tidak berhasil, karena ikatan yang membelit dadaku menyebabkan pergerakan sangat terbatas. Bayang-bayang dokter, yang menyarankan agar aku selalu tersenyum menghadapi tekanan di dada, rasanya tidak terlalu banyak menolong. Tapi saat tersenyum, ada rasa nyaman menyeruak ke rongga dada, yang membuat aku bisa membuka mata.
“Bagus, senyuman pertama yang terpenting,” ujar dokter yang terus menggerakkan stetoskop di seputaran dadaku. “Sekarang tarik napas yang dalam,” tambahnya.
Dengan pengerahan napas perlahan dari perut ke dada terus keluar melalui hidung, aku mencoba menjernihkan pikiran sambil membuka mata, melihat berkeliling. Ternyata brankarku, tempat tidur beroda, terletak persis di pintu masuk, berdekatan dengan seorang ibu yang tiap sebentar merintih. Di kiriku seorang bapak tua dengan bantuan pernapasan kelihatan sedang berjuang menghirup oksigen. Seorang perawat tiba-tiba memindahkan bapak tua tersebut, tapi hanya satu dipan bedanya dari aku.
“Tidak banyak pilihan tempat di ruang gawat darurat,” dokter yang memeriksa denyut jantungku berkomentar seolah tahu persis apa yang kupikirkan. Aku hanya bisa tersenyum. Upaya mengumpulkan kata rasanya sangat sulit. Setiap tarikan napas untuk melafazkan satu kata seperti memerlukan ribuan kekuatan yang sulit didapatkan.
“Oke, saya sudah selesai, tidak ada yang mengkhawatirkan, hanya kecapekan dan butuh istirahat. Tapi harus tersenyum terus supaya tekanan terhadap dada berkurang,” ujar dokter yang terus meninggalkan brankarku dan memeriksa si ibu yang masih merintih kesakitan.
Dari wajahnya kelihatannya ibu tersebut setidaknya sudah berusia sekitar 70-an. Dalam sakit dan sendirian, ibu tampaknya sosok terdekat yang otomatis kita ingat untuk dimintai tolong. Mungkin itu yang menyebabkan dia terus merintih memanggil ibunya.
“Dokteer, sakiit,” tiba-tiba terdengar teriakan menggema memenuhi ruangan, diikuti entakan kaki berkali-kali dan teriakan lebih keras minta tolong. Hampir semua mata memandang seorang anak perempuan kurus yang berusaha keras melepaskan ikatan di tangan dan dadanya.
“Nina tenang saja di tempat tidur,” ujar perawat berusaha menenangkan pasien bernama Nina yang tidak berhenti mengentakkan kakinya.
“Enggak mau, Nina enggak mau diikat, lepaskan, sakiiit,” teriaknya semakin keras sambil mengentak dan meliukkan badan.
Ibu tua di sampingku yang tadinya tertidur, terbangun dan merintih memanggil lagi mamanya. “Sakit, Ma,” rintihnya perlahan diikuti koor teriakan memanggil “mama” disuarakan hampir semua pasien yang terbangun akibat teriakan Nina.
Aku separuh tersenyum melihat berkeliling mendengarkan gaung suara kesakitan memanggil mama yang tertutup teriakan keras minta tolong Nina.
“Dokter ada orang gila,” tiba-tiba Nina berteriak sambil menunjuk ke arahku, diikuti pandangan mata semua perawat ruang gawat darurat. Senyumku langsung menghilang dan aku berusaha menutup mata seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi teriakan Nina semakin keras menuding aku gila. “Orang kesakitan dia tersenyum-senyum. Gilaa,” teriak Nina membahana.
Suster yang berusaha menenangkannya tidak berhasil mendiamkan Nina. Entakan kaki dan teriakannya yang semakin keras membangunkan hampir semua pasien di ruang gawat darurat.
Namun rintihan dan erangan kesakitan hampir semua pasien malah membuat Nina semakin kesetanan. Teriakan dan entakan kakinya mengalahkan semua teriakan kesakitan di ruang gawat darurat. Ibu yang di depanku dengan napas tertahan kembali merintih memanggil mamanya. Tidak terlalu jelas apa yang diucapkannya karena ia lebih banyak menyuarakan kesakitan. Untung suster tidak lama kemudian mendekati ibu tersebut, dan dibantu perawat lain ia dibawa ke ruang operasi.
Tidak lama kemudian beberapa suster memindahkan aku ke bagian yang berdekatan dengan Nina, yang sedang terlelap, kemungkinan setelah diberikan obat tidur. Dengan leluasa aku mengamati wajah tirusnya dengan mata yang seolah melesak ke dalam. Sulit membayangkan apa saja yang telah dialami Nina dan kenapa ia harus diikat, serta apa yang menyebabkan dia tidak pernah tenang.
Dari bisik-bisik perawat yang kudengar, Nina diperkirakan mengonsumsi flakka, jenis narkoba baru yang punya efek dahsyat dan mengakibatkan pemakainya selalu berteriak seperti orang kesetanan. Jika tidak mendapatkan perawatan tepat dan segera, pemakai terancam keselamatan jiwanya.
Namun saat itu aku lebih khawatir Nina terjaga, daripada membayangkan efek mengonsumsi flakka. Aku tidak berani menduga apa lagi yang akan diteriakkan Nina, jika dia terbangun dan melihat posisi aku yang sangat berdekatan dengannya.
Tentu saja tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendengar teriakan Nina lagi. Seperti tersambar petir aku mendengar Nina berteriak menuduh aku pengedar narkoba yang memberinya flakka. “Dokter, ini orang yang mencekoki Nina dengan flakka,” tudingnya diiringi entakan kaki berkali-kali.
Seluruh mata di ruang gawat darurat serentak memandangku. Rasanya aku berharap lantai di bawahku amblas atau plafon di atas dipanku membuka dan aku terisap ke atas. Hilang dari tatapan semua mata di ruang gawat darurat. “Dokter, tolong, Nina jangan dibiarkan dekat pengedar tersebut. Ia akan terus mengejar Nina,” teriaknya sambil terus menunjuk ke arahku.
Aku melihat dokter dan perawat berbicara dan tak lama kemudian dua perawat mendatangiku dan langsung mendorong brankarku ke luar ruang gawat darurat, masuk ke ruang kardiologi. Sambil memasang elektrokardiograf (EKG), alat pengukur denyut jantung, perawat bertanya di mana aku kenal Nina sebelumnya? “Di ruang gawat darurat,” jawabku.
Perawat itu menatapku dengan tajam dan mengulang pertanyaannya, “Maksud saya sebelum di ruang gawat darurat bapak pernah ketemu Nina di mana?” Dengan tegas aku menjawab: “Belum pernah.”
Dengan agak keras perawat tersebut mencabut salah satu EKG, yang menimbulkan rasa nyeri, dan memasangnya ke bagian pinggangku. Ia terus bercerita bahwa Nina punya ingatan kuat dan bisa menceritakan semua kronologis sampai ia dibawa ke rumah sakit karena dicecoki flakka oleh teman-temannya. Tapi sejak itu tidak ada lagi yang menjenguk Nina.
“Dunia sempit ya. Nina tampaknya kenal betul bapak dan sampai dua kali menunjuk bapak,” tambah si perawat sambil menatapku tidak berkedip. Ia menjelaskan bahwa rumah sakit serasa ditinggalkan beban berat mengurus Nina yang hampir setiap hari berteriak ketakutan. Selalu dihantui, dikejar-kejar pengedar narkoba.
Aku tidak menjawab. Selain tidak tahu bagaimana harus menanggapi masalah pasien korban narkoba, aku juga bingung apa kaitanku dengan Nina. Dokter yang memeriksa denyut nadi dan jantungku juga ikutan menjelaskan bahwa pengedar narkoba biasanya tidak pernah melepaskan pasien korban narkoba begitu saja. Melalui keluarga, mereka akan terus berusaha memasok narkoba. Untuk menutup malu serta menghindarkan pasien berteriak-teriak, keluarga biasanya membiarkan pengedar mencekoki pasien. Sampai akhirnya keluarga kehabisan uang dan harta, serta tidak sanggup lagi membeli narkoba, baru pengedar melepaskan pasien.
“Beban kami mulai dari situ,” tutup dokter sambil menambahkan bahwa tentu saja tidak mungkin aku menjadi pengedar narkoba. “Walaupun tidak ada yang enggak mungkin, tapi mustahil bapak pengedar,” tambahnya sambil tersenyum.
Setelah mengecek bolak-balik hasil pemeriksaan denyut jantung dan berkas serta riwayat penyakitku, dokter menyatakan aku bisa kembali ke ruang gawat darurat. Ia bahkan menambahkan jika tidak ada perkembangan yang memberatkan aku bisa keluar segera dari rumah sakit. “Kelamaan di rumah sakit lama-lama malah bisa jadi pengedar beneran,” tambahnya sambil tertawa lebar.
Aku tidak sempat menanggapi pernyataan dokter yang terakhir karena si perawat langsung mendorong brankarku ke luar ruangan kardiologi dan melewati Nina yang kelihatannya sudah tertidur pulas.
Lampu ruang gawat darurat yang sudah dimatikan karena malam semakin larut membuat aku sangat mengantuk. Suasana di ruang gawat darurat yang sangat senyap serta tidak ada lagi teriakan kesakitan, membuat hampir semua pasien dan perawat tertidur pulas. Aku perlahan mulai memicingkan mata.
Persis saat menutup mata aku melihat seorang perawat mendekati brankar Nina dan terlihat seperti menyuntikkan sesuatu ke lengannya. Tak lama kemudian Nina terdengar berteriak keras sekali: “Sakiiit, kepala Nina sakit sekali, dokter toloong.”
Lampu ruang gawat darurat otomatis menyala semuanya. Nina kelihatan sangat kesakitan dan membenturkan kepalanya ke tempat tidur, sambil mengentakkan kaki dan meliuk-liukkan badan. Dokter dan semua perawat memenuhi ruang gawat darurat. Tidak lama kemudian petugas keamanan rumah sakit masuk sambil menyerahkan sesuatu kepada dokter yang terus meninggalkan ruangan diikuti sejumlah perawat.
Suasana sangat tegang. Apalagi polisi kemudian tampak memasuki ruang gawat darurat dan terus menyisir semua tempat serta berkali-kali melewati brankarku. Tak lama kemudian Nina dibawa ke ruang operasi. Pintu masuk ruang gawat darurat dikunci dan tidak ada yang diperbolehkan masuk dan juga keluar ruang gawat darurat. Anehnya, dalam keadaan tegang tersebut, tidak terdengar teriakan dan keluhan pasien kesakitan. Suasana menjadi hening dan mencekam.
Perawat yang biasanya saling melontarkan lelucon mengatasi rasa bosan, semuanya terdiam. Hanya suara langkah bolak-balik petugas keamanan yang menyisir dan memeriksa setiap sudut ruang gawat darurat mulai terdengar menyiksa.
Tak lama kemudian dokter kepala bagian ruang gawat darurat terlihat mengumpulkan para perawat. Setelah mendengarkan briefing dokter kepala dan petugas keamanan, seorang perawat terlihat digiring ke luar ruangan oleh petugas keamanan. Tidak ada penjelasan atau keterangan apa pun sampai lampu ruangan gawat darurat dipadamkan.
Menjelang pagi, ruang gawat darurat kembali hiruk-pikuk menerima pasien kritis dan silih berganti memindahkan pasien yang masuk hari sebelumnya menggantikannya dengan yang baru datang. Aku termasuk yang dikeluarkan dari ruang gawat darurat. Dua perawat mendorong brankarku dan memasukkan aku ke mobil ambulans menuju ruang perawatan. Dan dalam ruangan tersebut aku melihat Nina sedang tiduran. Kelihatannya aku akan berbagi kamar dengan Nina, yang terlihat sangat sehat serta penuh senyum.
Tidak banyak yang dikatakannya kecuali bahwa ia petugas yang berusaha mengungkapkan jaringan pengedar narkoba di rumah sakit dan kebetulan aku berada di ruang gawat darurat saat jaringan pengedar hampir terungkap. Keberadaanku menurut Nina sangat membantu karena anggota sindikat pengedar di rumah sakit merasa aman untuk meracuninya guna menghilangkan bukti. Tapi untung usaha tersebut tidak berhasil dan Nina dapat diselamatkan. Ketika kutanya apakah dia akan lama bersamaku di ruang perawatan, Nina hanya berkata singkat: “Siapa yang mau sekamar dengan pengedar narkoba.”
Des Alwi lahir 3 September 1960 di Pariaman dan saat ini bekerja di Kementerian Luar Negeri. Bercita-cita sebagai penulis, ia pernah menjadi wartawan di majalah Fokus (1982) dan harian ekonomi Bisnis Indonesia (1985). Cerpen pertamanya dimuat di majalah SMA 2 Padang tahun 1978 dan cerpen keduanya, “Ms. Watso”, masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 2014.
Susilo Budi Purwanto lahir di Magelang, 26 Juli 1966. Menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta dan kemudian menetap di kota yang sama. Pertama kali berpameran tahun 1999 di Edwin’s Gallery, Jakarta. Susilo juga menjadi salah satu komponen dalam Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas tahun 2012 di Bentara Budaya Jakarta. Alamat surel: susilobp@gmail.com. Selebihnya ia sudah berpameran puluhan kali di sejumlah galeri di Tanah Air.
[1] Disalin dari karya Des Alwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 30 September 2018
The post Suatu Ketika di Ruang Gawat Darurat appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2zLHtR8
Si Buah Hati
Si buah hati
berjalan mengelilingi hati
dengan corak mekar.
Di sentuhnya kebekuan hati
atau mata yang hampir buta.
Tubuhku geli,
kami terkekeh di padang rumput
Mengejar bola
Menanam bunga
Bermain air
Tiba-tiba hujan.
Aku cemas.
Telunjuknya keluarkan pelangi.
Kami pungut bersama
“Ayah, ini buat Ibu, ya?”
“Bukan, Anakku.
Tetapi buatmu.”
“Lalu buat Ibu, mana?
Buat Ayah, mana?”
Kusisipkan telunjuk
yang berisi harap
yang berisi kasih
yang berisi petuah
pada dadanya yang mungil.
“Di sini, Anakku.”
2016
Sebelum Tidur
Sebelum tidur,
kecup dulu cita-citamu, Nak!
Di jidat biar manis.
Di pipi, di lesung pipit
yang berlubang itu.
Jangan lupa mimpikan
bambu yang menjulang.
Mimpikan kelapa yang lebat.
Dan simpan urat-uratmu
dengan kokoh.
Kelak di pagi hari
jangan lagi cari ayah.
Ayah telah hidup dalam mimpimu.
Menyimpan sekotak emas
di sana. Di sini.
2016
Bernyanyi
Chord: C F G
Lihatlah anakku sayang
Hijaunya alam nan indah permai
Ada pelangi di setiap taman
Warnai semua kehidupan ini*)
dalam matamu ada suara
yang menembus jantung
(berhenti sejenak)
tiba-tiba aliran darah berlarian
berkejaran dengan tingkahmu.
“ayo kejar daku, ayah!”
tawamu saling kejar dengan tangisan
tangkap-menangkap. siapa dapat.
dia mengejar. dan kembali menunggu:
Chord: C Dm G C
oo, zizi.
jangan menangis
mari bernyanyi
tentang langit biru
oo, zizi.
jangan menangis
kalau menangis
digigit kangguru … )*
tawamu mengejar tangis.
“aku menyerah,” serunya.
dan tawamu pecah.
2017
***
*) Cuplikan lagu Mari Bernyanyi yang saya tulis sebelum Zizi dilahirkan. Biasanya lagu ini sering saya nyanyikan bersama dengan keluarga. Zizi selalu ikut bernyanyi.
Bernyanyi, 2
“Ini lagu apa, Yah?”
tanyamu sembari memetik senar
gitar.
nada mengalun memenuhi binar
matamu.
beberapa kelopak mawar, mekar
semerbak memenuhi ruangan.
Di dapur ada pelangi
tempat ibumu memasak.
“Zizi suka sup ayam, Ayah.”
Ia suka pahanya
suka sayapnya.
“Mau jadi pilot, ya, Zi?
Mau terbang ke mana?”
“Mau terbang sambil
bernyanyi, Ayah.”
Aroma pagi hari terus
menyejuki dada.
Yang biasa debar saat kurang.
Yang biasanya degup saat susah.
Yang biasa sakit saat teriris.
Cahaya mentari bersinar lembut
dari sela-sela matamu.
Suaramu terus membelai.
2017
Kau yang Lahir
Kau lahir dari dua putaran matahari bersinar terik di
antara dua kepala ayah-ibu berbentuk bulat dan bujur
sangkar dengan tangan-tangan kecil yang mengeras
menggenggam harap dari doa-doa, mimpi dan niat
baik-baik terhadap hidup atau masa depan yang
sebagian orang diperolok-olok dengan rasa malas dan
putus asa tanpa kaki dan tangan yang bergerak dan
tubuh gemuk dengan perut buncit yang dipenuhi ego
dengan gigi tanpa taring yang sebagian lainnya patah
tanpa pernah dipakai kecuali melalui bualannya
tentang tulang-tulang keras yang telah dikunyahnya,
dan kautetap saja lahir dengan senyum kembang
menikam jantung mereka keras-keras hingga ayah-
ibu berteriak sambil berkata, “Berperanglah, Nak!
Bunuh ego mereka, kelak di setiap belahan bumi,
kau akan terus lahir dan hidup di antara hati dan
pikiran mereka yang coba-coba untuk hidup dalam
keputusasaan dan prasangka yang membunuh harap
setiap insan!”
2016
Indra Intisa, yang sering dipanggil dengan sebutan Ompi telah menulis puluhan buku antologi bersama. Penulis yang lahir pada 27 September 1984 itu juga sudah menerbitkan buku solo, seperti puisi mbeling Panggung Demokrasi (2015), puisi lama–syair, gurindam, pantun, seloka, karmina, talibun, mantra Nasihat Lebah (2015), puisi imajis Ketika Fajar (2015), Putika (Puisi Tiga Kata) Teori dan Konsep (2015), Dialog Waktu (2016), novel Dalam Dunia Sajak (2016), Sang Pengintai (2017), Kuberi Kau Nama: Tuan. Bukan Fulan (2018), Kumpulan Esai: Apresiasi Puisi (2018). Penulis yang suka menulis lagu itu dapat dihubungi melalui e-mail indraintisa@gmail.com atau Facebook Indra Intisa (Ompi). Saat ini tinggal di Dharmasraya, Sumatra Barat.
[1] Disalin dari karya Indra Intisa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 23 September 2018
The post Si Buah Hati – Sebelum Tidur – Bernyanyi – Bernyanyi, 2 – Kau yang Lahir appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QSHIAr
DI pagi yang masih kelewat dini, orang-orang berduyun ke tonsaoh dengan wajah penuh amarah. Mereka tidak lagi memedulikan udara yang gigil, atau perut keroncongan karena sama sekali belum diisi. Mereka tidak takut masuk angin. Tidak. Tidak ada yang mereka pedulikan selain aliran air yang kecil dan sawah yang gagal panen.
Kemarau panjang masih belum berak- hir. Tanah mulai kerontang dan air malah diselewengkan beberapa warga. Belum lagihama terus menerjang ladang padi. Mereka harus mempertahankan sawah- nya agar masih bisa memanen meski dengan hasil sedikit Ya. Daripada nol sama sekali.
Hampir setiap pagi dan petang orang- orang bergantian ke tonsgoh. Tempat di mana aliran air menjadi pusat itigasi sawah landeuh. Kadang seorang, kadang dua, atau tiga. Mereka membuka penyumbat aliran air ke sawah landeuh yang disumbat warga tonggoh untuk keperluan sawah mereka, sehingga sawah landeuh hanya teraliri air seadanya dari susukan. Terkadang, hal inilah yang mengundang perselisihan besar antar kampung. Barangkali hal itu pula yang membawa para warga landeuh kompak mendatangi irigasi ditonggoh dengan raut wajah penuh amarah.
Hanya Mujib yang tidak ikut membe-narkan saluran air. la pun seorang petani padi tetapi tak pernah terlihat sekali saja berada di batisan orang-orang itu. la seperti tidak peduli pada sawahnya, mes-ki istrinya terus menceramahi ia untuk merawat sawah dengan baik sebelum panen.
“Kang, sawah sudah dilongok?” Marni, istrinya tiba-tiba ke luar menemui Mujib yang sedang mencabuti rumput di sekitar kebun singkong, di belakang rumahnya. Perempuan itu kesal melihat orang-orang yang sedang berjalan ke utara, ke pusat pengaliran air, sementara suaminya masih berkutat dengan kebun singkong yang tidak begitu banyak membeti keuntungan.
“Sudah,”jawabnya sembati terus me-mangkas rumput di sekitar tanaman. Ia tidak ingin ada eutih yang merusak kuali- tas singkong.
“Kebagian air?”
“lya.”
“Jangan bohong, Kang. Orang-orang ke tonggohjang neang cai. Sawah mereka kekeringan. Sawahmu juga mustahilke- bagian air.”
Mujib diam saja. la memang sudah memeriksa sawahnya tadi malam. Urusan kebagian air banyak atau tidak ia tidak peduli. Toh padinya akan tetap panen meski dengan sedikit air.
Semut-semut mulai berdatangan dari segala arah. Berkerumun di mana saja, hampir di setiap tempat Sebuah pertanda bahwa beras akan mahal. Dan sebab itulah Marni terus menceramahinya untuk mengurus sawah dengan benar. Agar panennya lebih banyak dan tentu akan menuai banyak pundi-pundi rupiah. Keinginan Marni membeli perhiasan seperti para tetangga bisa segera terwujud.
Meski beras bakal mahal, harga jual padi tidak akan berubah. Tetap murah dan mutlak harga dari tengkulak. Mujib tidak berencana menjual hasil panen padinya pada tengkulak.
Ia akan menyimpan padi untuk keperluan makannya sehari-hari. Jika ia menjual padi dan dibayar murah, sementara harga beras naik, tentu akan membuat- nya rugi besar. Dari mana ia akan mem- beli beras untuk sehari-hari? la bisa men- jual singkong untuk membeli keperluan lainnya. Yang jelas ia tidak akan menjual padinya.
“Kang, malah diam. Ayo ikut benerin saluran air yang disumbat orang tonggoh. Akang kenapa sih enggak pernah den-gerin nasihat istri.”
Mujib tidak benar-benar mendengarkan ocehan Marni. la lebih memilih fokus pada rumput yang sedang dikored-nya. Percuma bicara pada orang yang mudah terpengaruh tetapi tidak tahu apa-apa.
“Berdebat dengan orang yang tidak tahu apa-apa jauh lebih menjengkelkan daripada dengan orang serba tahu,” pikir Mujib.
“Akang! Cepat ikuti mereka. Betulkan saluran irigasi ke sawah kita.” Marni bersuara dengan nada tinggi, penuh kekesalan.
“Kita tidak perlu ikut-ikutan, Mar. Urusan air, kita sudah kebagian. Walau sedikit tetap harus disyukuri. Daripada ingin banyak dan rela bertengkar untuk satu hal yang belum tentu didapat,” jawab Mujib.
”Tetapi….”
“Mar, ayo ikuti aku,” katanya seraya berjalan ke arah landeuh, ke tempat di- mana ia menanam padi. Ada yang ingin ia perlihatkan pada Marni, sebagai cara agar perempuan berusia kepala tiga itu diam.
“Lihatlah Mar!” Mujib menunjuk ke be- berapa kotak tanah berlumpur yang baru ditanami padi. Belum berbuah sama sekali. la menunjuk setiap sawah-sawah yang baru ditanami padi itu yang hampir seluruhnya baru ditandur dan menyebut pemiliknya satu per satu.
Terakhir, Mujib membawa Marni ke sawah paling landeuh. Di sanalah sawah Mujib. Hamparan padi terlihat kuning dan buahnya merunduk. Beberapa hari lagi siap di panen. Hanya sawah itu yang siap panen. Sementara yang lain masih jauh.
Seharusnya mereka panen serempak. Perselisihan antara warga landeuh dan tonggoh mengakibatkan orang-orang saling merusak sawah. Semua karena perebutan irigasi sawah masing-masing.
Mereka berebut air agar tidak gagal panen sebab kemarau. Padahal kegagalan panen tidak melulu akibat kurang air. Per-cuma saja sawah teraliri air, tetapi ta-naman habis diserang hama. Apalagi jika hamanya manusia. Seperti mereka yang saling merusak sawah dan tanaman, alhasil mereka harus mengulang lagi dari awal.
ltulah sebabnya Mujib tak ingin ikut- ikutan seperti mereka. la masih bisa mensyukuri aliran air yang kecil. Ia tidak ingin terlibat dalam perselisihan tak berujung itu. Memperebutkan air demi sawah yang tak begitu luas. Sementara itu, tali silaturahmi semakin renggang bahkan ber-ujung permusuhan hingga terancamnya keselamatan nyawa.
Hal itu tidak disadari oleh sejumlah orang. Mereka hanya menyalurkan hawa nafsu saja. Tidak memikirkan apa yang di- hasilkan dari perbuatan mereka. Semen- tara itu, Mujib berpikir tenang. Dan kini dia akan memetik hasilnya.
Marni terdiam setibu bahasa. la tidak mengatakan apa pun. Untuk ketidak- tahuannya, dan omelannya pada Mujib pun ia tidak meminta maaf. Tidak ada reaksi kagum atau apa pun dari Marni se-lain diam.”**
[1]Disalin dari karya Bia R
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 28 Oktober 2018
The post Menjelang Panen appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2ENBVKj
TUKANG Cukur itu mencukur dengan jarinya. Tak ada sisir, gunting, pisau, atau alat cukur apa pun. Hanya dengan jari tengah dan telunjuk, dan kres kres kres, rambut kita dipotongnya rapi. Tak hanya itu, selesai cukur, perasaan menjadi lebih lega…
Cerita itu berkembang sejak empat bulan lalu. Sejak Tukang Cukur itu muncul di alun-alun kota. Di sebelah selatan berderet pepohonan beringin besar dan rindang. Di situ banyak pedagang nangka. Beberapa gerobak tukang bakso dan mi ayam. Penjual es cendol, warung pecel, penjual siomay dan gorengan. Kau bisa juga menemukan tukang ojek yang mangkal, orang-orang yang berteduh santai ngobrol atau main catur. Orang-orang silih datang pergi di alun-alun itu. Makanya, semula ia disangka gelandangan yang hanya sedang numpang berteduh. Kemeja dan celananya kumal. Bersandal jepit dan berpeci hitam yang sudah buduk. Perawakannya kurus, terlihat ringkih, dengan kulit cokelat gelap dan wajah tua yang muram. Mungkin berusia 70 tahun lebih. Ia mulai dikenali karena hari-hari kemudian selalu muncul dan duduk di tempat yang sama, baju yang tak pernah ganti, menggelar koran, dan termangu menunggu. Tak ada yang menyangka bahwa ia seorang tukang cukur.
Begini. Kau pasti dengan gampang mengenali seorang tukang cukur dari peralatan yang dibawanya. Bertahun lalu, pernah ada tukang cukur yang mangkal di pojokan alun-alun. Di bawah pohon beringin ia pakukan cermin dan menyiapkan bangku meja kayu. Dari kejauhan pun, kau akan segera tahu bahwa itu adalah tempat potong rambut. Tapi, tukang cukur itu sudah meninggal. Tempat mangkalnya diganti anaknya yang lebih memilih jualan es cendol. Ketika makin banyak salon dan barbershop, usaha tukang cukur seperti itu memang sama sekali tak menguntungkan.
Berbeda dengan Tukang Cukur ini, yang tak membawa peralatan cukur apa pun. Ia hanya menenteng tas kain bekas kantong terigu kusam lusuh dan kursi lipat kayu, yang kemudian diletakkan di sampingnya. Bila tak ada potongan kardus bertulisan CUKUR RAMBUT yang sepertinya ditulis asal-asalan dan ditaruh begitu saja di sisi kursi lipat itu, orang tak akan tahu bahwa ia tukang cukur.
“Bener Sampean bisa nyukur?” tanya orang yang penasaran.
“Semua orang itu ya sebenarnya bisa nyukur. Nyukur itu sesungguhnya bersyukur, Mas.”
“Jawabannya kok muter-muter gitu.”
“Kalau Mas mau cukur, ya mari saya cukur.”
“Masak nyukur nggak ada alat cukur? Nggak bawa gunting?!”
“Lho motong rambut kan ndak mesti pakai gunting.”
“Lah Sampean mau motong rambut pakai apa? Pakai cangkul?”
Orang-orang yang mendengar percakapan itu tertawa.
Mungkin karena penasaran atau mungkin juga karena kasihan melihatnya berhari-hari hanya bengong, akhirnya ada yang minta dicukur. Bahkan sebelum dicukur, orang itu sudah memberinya uang. Barangkali niatnya hanya ngasih rezeki. Tukang cukur itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, kemudian mempersilakan duduk di kursi lipat.
Pada saat itulah orang-orang tercengang melihat Tukang Cukur itu. Dan cerita tentangnya dengan cepat menyebar ke seantero kota.
***
KAU bisa mendengar suara rambut tergunting jari-jari itu. Ketika helai demi helai rambut tercukur, rasanya seperti ada yang perlahan dibebaskan dari pikiran. Terasa ada semilir lembut yang merayap hangat di kulit kepalamu ketika jari-jari itu menggunting rambutmu. Kepalamu jadi segar, perasaanmu jadi ringan dan tenang. Terlebih ketika ia mulai memijiti kepalamu pelan-pelan.
Ia tak pernah mau menjelaskan, kenapa bisa memotong rambut dengan jarinya. Orang-orang hanya menduga, mungkin ia pernah tirakat atau sejenisnya, hingga diberi kelebihan seperti itu. Tukang Cukur itu hanya tersenyum bila ada yang menganggapnya punya kesaktian. Saya selalu menganggap rambut itu seperti kebaikan, katanya. Bukankah kita tak perlu bertanya dari mana kebaikan datang? Dari mana pun kebaikan datang, ya mesti kita terima dengan syukur. Begitu saja. Dan seperti rambut ini, kebaikan akan selalu tumbuh kembali meskipun dihabisi berkali-kali.
Sebenarnya ia tak banyak bicara saat mencukur. Bila ditanya, ia lebih sering menjawab dengan gumam atau anggukan. Dan ia akan terus diam bila ada yang ingin tahu nama dan riwayatnya. Karena tak pernah mau menyebutkan namanya, orang-orang kemudian memanggilnya “Pak Kur”, dari cukur, Tukang Cukur.
Cerita ajaib makin banyak disampaikan mereka yang telah bercukur. Kang Wahyudi, misalnya. Orang sering heran dengan Kang Wahyudi. Kepalanya gundul plontos, tapi selalu rajin bercukur. Ia selalu bilang bahwa ia sesungguhnya tak hanya bercukur, tapi ingin membersihkan rambut. Bila kepala kita bersih, begitu juga pikiran kita. Pikiran orang gundul lebih terbuka, begitu kelakarnya. Begitu tumbuh rambut sedikit saja, ia pasti langsung bercukur membersihkannya. Hampir semua barbershop dan salon cukur di kota ini sudah pernah ia datangi. Baru kali ini saya merasa begitu nyaman menggunduli rambut, katanya, ya dengan Tukang Cukur itu. Dan ia tak mau pindah-pindah tukang cukur lagi.
Biasanya, sebelum rambut dikerik, kepala dibasahi lebih dulu dengan busa sabun atau pelicin agar tak timbul perih atau tergores luka. Makanya saya merasa aneh, ketika Pak Kur tak membasahi kepala saya dengan apa pun, kata Kang Wahyudi sambil mengelus-elus kepalanya yang kinclong. Tetapi, kepala saya begitu adem ketika jari Tukang Cukur itu mengerik rambut saya dengan jarinya. Seperti ada embun membasahi kulit kepala saya. Benar seperti kata Tukang Cukur itu, kata Kang Wahyudi, bercukur itu sebenarnya membersihkan diri. Karena itulah, orang yang ibadah haji mesti bercukur. Ini tak sekadar rambutmu dipangkas atau dirapikan. Tapi, membuat kita merasa bersih dan nyaman. Terasa seperti berembus dingin udara pegunungan yang membuat pori-pori kepala saya menjadi begitu peka, kata Kang Wahyudi. Seakan ada yang perlahan merembes keluar. Rasanya semua persoalan beban hidup menguap lewat kepala saya.
Mungkin benar seperti yang dikatakan Pak Kur, semua orang memang harus bercukur, karena itu tanda kita bersyukur. Itulah kelebihan orang gundul. Karena berarti orang gundul orang yang paling tulus bersyukur, Kang Wahyudi tertawa. Dan jari-jari itu, ah, jari-jari Tukang Cukur itu, saya bisa merasakan kulit jarinya yang kasar bergesekan dengan kulit kepala saya. Jari-jari itu lebih tajam daripada pisau cukur baja yang paling tajam sekalipun.
Kang Wahyudi bercerita tentang bocah bajang yang diantar ibunya ke Tukang Cukur itu. Rambut bocah itu panjang gimbal dan sudah seperti akar. Diantar ibunya, yang sudah menjamas rambut gimbal anaknya dengan air tujuh sumber, bahkan telah meruwatnya dengan upacara potong rambut, tetapi rambut anak itu tak pernah bisa dipotong. Pisau dan gunting yang digunakan untuk mencukur rambut gimbal bocah itu selalu patah. Rambut gimbal itu terus memanjang. Kepala bocah itu penuh bintil-bintil merah koreng. Si ibu tahu tentang Tukang Cukur itu karena bermimpi didatangi seseorang—ia yakin itu adalah Nabi Khidir. Mulamula bocah itu ketakutan dan meronta, tetapi perlahan tenang setelah Tukang Cukur itu mengusap-usap rambut gimbalnya. Bahkan kemudian tertidur pulas. Setelah itu, dengan tenang, Tukang Cukur tersebut memulai memangkas. Kres kres kres kres. Jari-jari itu terlihat ringan memotong. Seperti pisau tajam memangkas alang-alang. Koreng di kelapa bocah itu seketika bersih.
Kadang, kata Kang Wahyudi, saya membayangkan, dengan pelan pun jari Tukang Cukur itu bisa menyayat urat leher atau memotong kayu yang keras.
Berkali-kali Kang Wahyudi menyarankan agar ia bercukur ke Tukang Cukur itu.
***
IA menganggap semua cerita itu hanyalah bualan yang dilebih-lebihkan, tetapi juga membuatnya penasaran. Seorang kenalan yang bertahun-tahun selalu mengeluh kepalanya gampang pusing berkata kepadanya, “Entah kenapa, setelah saya cukur sama Pak Kur, kepala saya tak lagi pening. Kini terasa enteng.” Ia punya keluhan serupa, merasa ada yang tak beres di kepalanya. Sudah mencoba berobat ke banyak tempat. Tapi tak kunjung membaik. Itu membuatnya makin tergoda untuk mendatangi Tukang Cukur itu.
Sore yang cerah dan ia merasa itu saat yang baik untuk bercukur. Ia mengendarai mobil menuju alun-alun. Mobil ia parkir tak jauh dari tempat mangkal Tukang Cukur itu. Baru saja hendak membuka pintu, ia langsung terkesiap. Tangannya gemetar. Wajah Tukang Cukur itu! Dan ia melihat juga jari-jari itu. Di dunia ini ada ha-hal buruk yang tak akan pernah bisa kau lupakan. Pelan ia bersandar dan memejam. Bahkan, bila wajah itu tersembunyi dalam kegelapan pun, ia pasti akan mengenalinya.
Kini ia tahu kenapa orang-orang bercerita bahwa Tukang Cukur itu tak pernah mau mengungkap nama dan masa lalunya. Siapa pun tak ingin mengingat masa lalu yang buruk. Sepanjang malam ia terus-menerus disergap kegelisahan. Bayangan Tukang Cukur itu hilir mudik dalam ingatannya. Perawakan Tukang Cukur itu memang tak seperti 20 tahun lalu, tapi ia tetap mengenalinya. Tubuhnya lebih ringkih dan wajahnya tak setegar ketika ia melihatnya dalam tahanan.
Saat itu, sebagai tentara muda, ia bertugas sebagai interogator. Di antara para tahanan yang terlihat bingung dan pasrah pada nasibnya, lelaki itu satu-satunya yang tetap bersikeras bahwa ia tak tahu-menahu soal semua gegeran yang terjadi di Jakarta. Berkali-kali diinterograsi, lelaki itu tetap bersikukuh bahwa ia tak terlibat dengan semua kekacauan yang terjadi. Lelaki itu terus menjelaskan: saya memang sering main ketoprak di acara-acara yang diselenggarakan partai itu, tapi saya bukan orang kiri! Sikap keras itulah yang membuatnya jengkel sebagai interogator. Ia ingat perintah komandannya: tugasmu adalah membuat mereka semua mengaku!
Bermacam siksaan tak membuat lelaki yang ia kenal sebagai pimpinan Kelompok Ketoprak Mardi Budaya itu goyah. Sebagai anak muda, ia suka menonton pentas-pentas ketoprak. Termasuk saat Mardi Budaya manggung di kampungnya. Yang paling diingatnya ialah ketika ia terpesona oleh lelaki itu, yang memainkan Mangir dalam lakon Mangir dan Pembayun. Seakan ia menyaksikan Mangir yang sesungguhnya di atas panggung. Ia merasakan suasana gaib yang membuatnya merinding. Kisah cinta di tengah intrik kekuasaan Mataram itu sungguh-sungguh menancap dalam ingatannya. Cinta yang kuat tak akan gentar menghadapi takdir paling buruk sekalipun. Lelaki itu mampu menghadirkan tokoh Mangir yang tegar, bahkan saat mengetahui kematiannya akan tiba.
Saat lelaki itu terus-menerus disiksa dalam tahanan, ia seperti menyaksikan lagi keteguhan Mangir. Bahkan ketika istrinya diseret dan ditodong pistol di hadapannya, sorot mata lelaki itu tak juga goyah. Kematian tak akan pernah mengubah kebenaran, katanya. Ia begitu jengkel pada keteguhan lelaki itu.
Sampai kemudian, lelaki itu dipindah ke tahanan pusat. Setelah itu, ia mendengar lelaki tersebut ada di antara ratusan tahanan yang dibuang ke Pulau Buru…
***
MESKI Tukang Cukur itu tak pernah menceritakan nama dan riwayat hidupnya, ia yakin Tukang Cukur tersebut pastilah lelaki Mangir itu. Wajah itu tak pernah bisa ia lupakan. Terutama jari-jarinya. Ia memutuskan pindah ke kota ini karena ingin melupakan lelaki itu. Bila ia tetap tinggal di kota kelahirannya, ia cemas suatu kali akan bertemu dengan lelaki itu. Tetapi, masa lalu seperti punya cara sendiri untuk muncul kembali. Adakah Tukang Cukur itu muncul ke kota ini karena tahu ia tinggal di sini?
Jari-jari Tukang Cukur itu, ah, jari-jari Tukang Cukur itu. Tak pernah bisa ia lupakan, saat ia begitu jengkel pada tahanan yang terus tak mau mengakui semua tuduhan itu. Ia memaksa lelaki itu meletakkan telapak tangan dan membuka jari-jarinya di atas meja. Ketenangannya membuat ia mendengus jengkel. Di atas meja, jari-jari tangan yang hitam kusam itu terlihat seperti lembaran daun kering.
Ia selalu teringat bagaimana lelaki itu menggambarkan adegan kematian Mangir dalam lakon ketoprak: saat Mangir sujud menyembah Panembahan Senopati. Kepala Mangir bukan dihantamkan ke batu penopang singgasana, tapi dikepruk dengan batu itu. Lebih memperlihatkan kekejaman. Kekuasaan selalu membutuhkan darah untuk menegakkannya. Sambil membayangkan kepala Mangir dihantam dengan batu Sela Gilang hingga pecah bersimbah darah, ia mengambil palu besi, dan berkali-kali menghantam jari-jari itu. Lelaki itu menjerit dan pingsan. Tulang jari-jari itu remuk. Terutama jari tengah dan telunjuknya. Menjadi gepeng.
Seperti pisau. Seperti sepasang bilah gunting.
Jakarta, 2018
Agus Noor
Sastrawan kelahiran Tegal yang salah satu karyanya, “Cerita buat Para Kekasih”, populer pada 2014
[1] Disalin dari karya Agus Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 23 September 2018
The post Misteri Seorang Tukang Cukur appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QTqTp7
KAU pernah bilang, apa pun di dunia ini tidak mampu untuk membunuhmu. Bahkan, kematian itu sendiri tidak sanggup membunuhmu sebab apa? Karena kesepian menjadi pelindungmu. Tuhan tidak sanggup menurunkan kematian untuk lelaki kesepian sepertimu. Itulah sebabnya, kau tetap hidup dengan napas bara kesepian. Dingin dan kegelapan.
“Tuhan itu aneh. Dia mencabut nyawa orang baik secepat kereta api listrik. Dia malah membiarkan nyawa orang biasa-biasa saja untuk hidup lama. Tidakkah itu menjengkelkan?” gerutumu.
Ya, begitulah dirimu. Kau ini lelaki yang kesepian. Segala kesepian melekat padamu. Dari pagi hingga ke pagi lagi. Rutinitasmu mudah dihafalkan. Jika kau tidak bekerja, kau pasti tidur. Jika kau tidak tidur, kau pasti bekerja. Hanya itu. Pekerjaanmu sebagai penjaga jalan lintasan kereta api semakin menguburmu ke dalam dasar kesepian.
Kau sangat bangga ketika mengatakan kematian pun tidak sanggup membunuhmu, tetapi baru saja, kau bilang ada yang mampu membunuhmu. Ini kedengaran lucu. “Senja itu mampu membunuhku. Warna jingga keemasan yang berkilau itu mampu meledakkanku menjadi abu. Sebelumnya mataku akan lebih dulu buta karena silaunya. Senja yang singkat itu, mampu meremukkanku dalam sekejap. Secepat mata mengedip,” tuturmu.
Lagi-lagi ini kedengaran lucu jika kau yang mengucapkannya. Kau ini lelaki dewasa, tetapi bicaramu begitu melankolis seperti anak remaja tanggung yang baru melepas masa kanak-kanaknya. Kau meledak-ledak seperti baru mengalami masa pubertas.
Bagi lelaki dewasa sepertimu, agaknya senja tidak lagi melambangkan romansa. Senja hanya menyisakan luka menganga yang lebar dan dalam. Menyayat bagian terdalam tubuhmu tanpa belas kasih sekalipun kau meminta ampun. Senja telah meluluhlantakkan harapanmu. Ya, harapanmu akan cinta.
“Ketika dia meninggal, senja telah membunuhku. Aku tidak lagi merasakan apa-apa sejak senja pertama hilang setelah kepergiannya. Sekarang hanya ada tubuh, tanpa jiwa,” ucapmu.
Kau menyedihkan. Tidak hanya jiwamu yang kosong. Perasaanmu juga membeku. Mati dan tidak merasakan apa-apa. Sekarang kau lebih cocok disebut sebagai lelaki dewasa melankolis yang kesepian. Wajah kakumu bertolak belakang dengan ucapan puitismu. Wajah yang walaupun tersenyum atau lebih tepatnya merentangkan urat bibirmu, tetap tidak kelihatan sebagai senyuman. Itu hanya sebuah tarikan bibir, tanpa remah-remah ketulusan.
Dulu kau jauh dari kata melankolis. Sungguh ini bukanlah kebohongan. Lantas suatu senja, dia—perempuan dengan dekik curam di kedua pipinya–datang. Bukan, dia tidak menemuimu. Dia hanya datang kala senja dan pergi setelah senja hilang. Parahnya lagi, dia hanya duduk diam di bangku panjang di belakang pos penjaga jalan lintasan kereta api, tempatmu bekerja. Tatapannya hanya fokus pada satu hal. Pada senja yang mengudara.
Kau tak tahu kapan pastinya dia datang. Hari Senin kah? Hari Minggu kah? Kau tidak dapat memastikannya. Kau hanya tahu, dia datang ketika senja. Menurutmu, dia perempuan yang cantik. Dekik di kedua pipinya menggemaskan. Ketika dia tersenyum, manisnya mengalahkan madu murni yang baru dipanen dari sarang lebah. Sinarnya lebih menyilaukan daripada senja. Perempuan macam dia, mungkin hanya ada di cerita fiksi.
Kau dengan dia adalah dua kutub magnet yang berbeda. Barangkali itu yang membuat kalian tertarik satu sama lain. Tidak, menurutmu, hanya kau yang tertarik padanya. Perempuan semenawan dia, tak mungkin menyukai lelaki kesepian yang kaku.
Sejak kehadirannya di belakangmu, kau diam-diam mencuri pandang padanya. Tingkahmu begitu menggelikan. Setiap kau ingin melihat wajah senjanya, kau bergerak aneh. Kadang kau berdiri tegak seolah mengawasi jalannya lalu lintas di depanmu, tetapi setiap 10 detik, kau akan menengok ke belakang. Kadang juga kau pura-pura bersin, padahal kau mengawasinya, dan sederet tingkah unik yang kau lakukan.
Entah kau mendapat ide dari mana, kau menaruh cermin berukuran sedang di sampingmu sewaktu bekerja. Cermin ini diletakkan di posisi yang tepat agar bisa melihat pantulan dirinya. Sungguh ide yang gemilang. Kau tak perlu lagi bertingkah aneh. Sambil bekerja, kau setiap saat bisa melihat wajah dan dekik curam manisnya.
Ketika kau kebagian shift kerja pagi hari, kau tidak langsung pulang. Dulu kau akan mengeluh lelah dan berkata akan tidur setelah sampai di rumah, tetapi kini kau malah duduk di bangku itu selama berjam-jam. Menunggu senja datang. Terutama dia. Kau sangat gugup hanya melihat dirinya dari kejauhan. Dia menuju ke tempat ini dengan berjalan kaki. Kegugupanmu terang adanya di wajahmu. Wajah kakumu sungguh menggelikan.
Kau tidak tahu caranya untuk membuka pembicaraan dengan perempuan dewasa. Lantas kau hanya diam ketika dia duduk di sampingmu. Kau diam dan dia juga. Dia seakan tidak merasa terganggu. Matamu bergerak ke sana ke mari. Kau pasti ingin mengajaknya mengobrol, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutmu sampai senja hilang. Dia pun pergi. Kau menyesali sikap pengecutmu.
“Lihatlah, besok aku akan berani. Aku pasti bisa,” janjimu.
Kau sangat yakin ketika dia tidak ada. Esok senja, kau tetap diam dan hanya mencuri pandang. Di mana janjimu itu? Hingga suatu senja–entah senja yang ke berapa kalinya–dia lebih dulu membuka pembicaraan.
“Sudah berapa lama kau bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api?”
Kau terbuai dengan suara merdu dan lembutnya. “Ah iya? Saya sudah enam tahun bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api.”
Mata sipitnya melebar. “Lama juga. Apa selama enam tahun, kau pernah merasa bosan bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api?”
“Tidak. Tidak pernah. Mana mungkin saya merasa bosan jika menjadi penjaga jalan lintasan kereta api adalah impian sejak kecil. Menjaga lintasan demi keselamatan banyak orang,” jawab kau berapi-api. Ciiih, yang benar saja. Kau malah bosan setiap detiknya.
“Kau sangat keren,” pujinya.
“Terima kasih,” jawabmu malu-malu.
“Karena aku telah memujimu, kau harus menjadi kekasihku,” titahnya.
Kau kaget. Sampai kau terjengkang ke belakang. Itu bukan permintaan, melainkan perintah. Ini kali pertama kau mendengar perempuan ingin menjadi kekasihmu. Kau berdiri malu-malu dan menerimanya.
Kalian resmi menjadi sepasang kekasih dengan disaksikan senja dan kereta api yang melintas. Sejak kau pacaran, wajah kakumu pelan-pelan memudar. Kau bisa tersenyum dengan tulus. Bahagia. Kata yang jarang kau alami, dulu. Sekarang hanya ada kebahagiaan dan masa depan cerah di wajahmu.
Kau dan dia pasangan kekasih yang aneh. Pacaran di belakang kantormu. Tempat yang jauh dari kata romantis sebab debu-debu dan polusi dari jalan raya menjadi santapan empuk setiap hari. Ketika senja, malah lebih parah. Kala itu asap kotor dari kendaraan, lebih banyak karena bertepatan dengan waktu pulang kerja, tetapi kalian tidak menghiraukannya. Kalian tetap asyik menikmati senja sembari menjilat es krim.
“Aku bahagia bersamamu,” ucapnya.
“Aku jauh lebih bahagia,” balasmu. “Kenapa kamu mencintai lelaki kaku dengan pekerjaan terlewat biasa ini? Menjadi kekasih seorang masinis jauh lebih menyenangkan. Kau bisa bepergian mengejar senja, sedangkan aku? Aku hanya penjaga jalan lintasan kereta api dekat Stasiun Senja.”
“Aku tidak bisa menolak pesonamu. Lelaki yang menjaga senja setiap hari tidak bisa kutolak. Itu adalah cintaku,” ungkapnya.
Seketika kau melamarnya. Kau bilang, tidak ingin lama-lama melajang. Perempuan yang mencintaimu setulus hati tidak boleh dibiarkan tanpa ikatan yang jelas. Itu katamu. Lamaran itu tidak mungkin ditolak karena kau melamarnya di bawah guyuran senja.
“Ini lamaran yang paling kuidamkan,” ucapnya terharu.
Lantas keesokan harinya, kau menemui orangtuanya. Meminta izin untuk menikahi putrinya. Lamaran berjalan lancar. Tanggal pernikahan pun ditentukan hari itu juga. Satu bulan. Itu waktu untuk menyiapkan pernikahan.
Seharusnya ini kisah cinta yang berakhir bahagia. Akan tetapi, Tuhan itu aneh. Tuhan itu menjengkelkan. Bagaimana bisa sepasang kekasih yang saling mencintai harus dipisahkan? Ini skenario yang kejam. Inilah takdir di dunia ini. Dia meninggal ditelan oleh senja dan tercabik-cabik oleh kereta api.
Lantas kau berakhir dengan kesepian yang semakin menyiksa. Kau tetap harus melanjutkan hidup. Bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api. Berjumpa dengan senja dan kereta api yang telah merenggutnya. Begitulah akhir dari cerita pendek ini dan senja yang tidak melulu soal romantisme. (M-2)
[1] Disalin dari karya Umi Salamah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 17 Februari 2019
The post Senja itu Membunuh Kalian appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara klipingsastra.com/id/senja-itu-membunuh-kalian.html
Aluna menyapu-nyapu semut di atas meja dengan tisu. Ia tak habis pikir. Pelayan mengantar segelas besar jus alpukat lima menit yang lalu dan semut-semut itu sudah trengginas berkeliaran di atas mejanya.
PAGI itu ia memutuskan untuk bersantai di sebuah kafe. Kafe yang terletak di lantai paling atas sebuah mall. Ia duduk di pojok ruangan, di dekat jendela besar yang menghadap ke arah perumahan yang padat. Dari jendela besar itu ia bisa menikmati hamparan langit yang membentang seperti lukisan. Dari tempat duduknya, perumahan yang berdesakan di bawah seolah mengajaknya untuk meninggalkan segala rupa kesedihan, kepadatan, dan juga kesepian. Dinding dan genting-genting terlihat lusuh kaku. Mobil-mobil yang melintas di jalanan nun jauh di bawah sana pun tak terdengar kebisingannya. Dengan alunan musik kafe yang halus dan lirih, sempurnalah tempat itu sebagai pelarian. Ia ingin bersantai dan meletakkan semua kesedihan. Namun semut-semut itu menyita perhatiannya. Ia baru duduk beberapa saat ketika semut-semut itu menjelajah ke mejanya. Ia tak tahu dari mana semut itu datang. Jumlahnya tak banyak, barangkali tak lebih dari dua puluh, namun makhluk itu kelayapan ke sana ke mari di atas meja.
Ia yakin semut-semut itu tidak datang untuk mengerubuti jus alpukat yang ia pesan. Mereka jenis semut lembut dengan kaki panjang, semut-semut pemakan kue, jelas mereka tak menginginkan jus alpukat dingin di gelasnya. Mereka, semut-semut itu, berjalan mengelilingi meja. Lalu apa yang mereka cari?
Semut-semut itu berkeliaran menuju arah sembarang seolah kehilangan radar. Ia tahu, makhluk kecil itu memiliki sensor terhadap gula dan makanan, sedang di mejanya, tak secuil makananpun bakal mereka temukan. Ia memang hanya memesan jus alpukat dan tidak tertarik untuk memesan makanan. Ia menerapkan prinsip memakan sayur dan buah. Ia harus mematuhinya karena pola makan sembarangan membuatnya ngeri ketika melihat wajah dan tubuhnya sendiri saat bercermin. Ia tidak akan memesan makanan apapun karena kafe itu -sebagaimana kafe-kafe yang lain- hanya menyediakan makanan dengan kolesterol dan lemak jenuh tinggi. Ia tak akan memesan makanan. Jadi, untuk apa semut-semut itu mendatangi mejanya? Sensor apa yang membuatnya berjalan di atas mejanya?
Ia hampir menyerah ketika melihat semut-semut itu tak berkurang meski berkali-kali ia mengibaskannya. Mereka berjalan-jalan ke segala penjuru, dan ia terus menyapu-nyapunya dengan tisu.
Ia tak ingin membunuh semut-semut itu. Ia ingat cerita ayah tentang seorang panglima perang yang dibantu oleh kawanan semut sebelum mereka maju berperang. Semut-semut itu membantu mengumpulkan biji-biji jewawut yang tersebar di padang rumput, Aluna. Bayangkan, kalau saja tak ada kawanan semut itu, maka prajurit-prajurit itu akan kelaparan. Tak ada manusia yang memenangkan perang dalam keadaan lapar. Kisah itu selalu diceritakan ayahnya sebelum tidur, membuatnya bergidik ngeri membayangkan jumlah semut yang membantu mengumpulkan tujuh karung jewawut yang tersebar di padang rumput yang luas sebelum matahari tenggelam.
Aluna memang harus berterima kasih pada semut. Ayahnya pernah diselamatkan oleh semut-semut hutan. Paman Deni, adik ayah yang seorang pelaut, memberikan semut-semut jepang pada ibu untuk pengobatan ayah. Itu langsung kubawakan dari hutan, kata Paman Beni, sangat ampuh untuk mengobati penyakit gula.
Bertahun-tahun gula darah ayah tinggi. Dua tahun terakhir ayah hanya bisa duduk di kursi roda dan tak melakukan apapun selain mengomel dan meracau sepanjang hari. Mengapa kau biarkan sampah dan kotoran menggunung di dekatku, Layla? teriaknya pada ibu. Mengapa meja makan selalu berantakan? Mengapa kau tak juga mengerti, Aluna? Bergeraklah lebih cepat, Aluna! Semua itu membuat Aluna dan ibunya lelah. Lelaki itu tiba-tiba menjadi diktator ulung yang kemauannya harus dipenuhi dengan cepat. Padahal sebelumnya ayah adalah seorang yang ramah dan ceria. Ayah pula yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bercerita bersamanya, sementara ibu akan lebih banyak sibuk dengan pekerjaan rumah.
Mereka berdua, ia dan ibu, harus berterima kasih pada semut-semut itu. Semut-semut itu mengurangi penderitaan ayah di kursi roda selama beberapa bulan. Sebelumnya kaki ayah tak mampu menopang berat badannya yang terlalu besar. Ayah harus menggunakan kursi roda. Dua bulan menelan semut-semut itu, ayah kembali bisa berjalan meski hanya di sekitar rumah dan sesekali mengelilingi perumahan. Aluna selalu menemaninya setiap pagi. Semut-semut itu telah mengembalikan kaki ayah.
Ibu menyimpan semut-semut itu di toples kaca. Semut-semut hitam pekat itu terus bergerak dan saling berhimpitan. Ibu memberinya garam batu. Semut-semut itu berebut memakannya. Garam batu itu pelan-pelan terkikis dan benar-benar habis sekitar tiga bulan. Ibu mengambilnya, dua-tiga ekor semut setiap hari, memasukkannya ke dalam kapsul dan memberikannya pada ayah. Semut-semut itu tak boleh mati, kata Paman Deni, Semut-semut itu harus hidup dan memakan gula dalam tubuh. Ayah menelan kapsul-kapsul itu sebelum tidur dan sebelum makan. Dan benar saja, semut-semut hitam pekat itulah yang membuat ayah kembali sehat.
Ayah kembali ceria. Ayah kembali bercerita tentang panglima perang yang memenangkan perang karena pertolongan sekawanan semut yang mengumpulkan tujuh karung jewawut sebelum matahari tenggelam. Mereka bisa mengalahkan raja yang bengis dengan bantuan semut, Aluna. Sikap ayah kembali manis. Ayah tak lagi membentak-bentak ibu, tak lagi memakinya dengan kasar. Dan Aluna membalas cerita ayah dengan cerita tentang semut yang memasuki dirinya dan membuat sarang di tubuhnya, layaknya semut-semut yang telah menyembuhkan kaki ayah.
Aluna bercerita tentang Paman Deni yang juga telah memasukkan semut-semut ke dalam dirinya, dalam perutnya yang lama kelamaan membuncit. Ia membayangkan perutnya kini dipenuhi semut. Ia ingin semut-semut itu terus tumbuh seperti halnya semut-semut di dalam toples. Mendengar cerita itu, ibunya menangis. Ayahnya berang. Ayah membuang toples semut ke sungai seberang rumah yang airnya kecoklatan. Toples semut itu berlayar di atas sungai seperti halnya Paman Deni. Lelaki pembawa semut itu sedang berlayar ke Eropa dan tak tahu menahu tentang semut-semut yang tumbuh cepat di dalam tubuh Aluna.
Kesehatan ayah kembali memburuk sementara semut yang ada dalam tubuh Aluna semakin membesar. Ayah membiarkan dirinya kembali ke kursi roda dan menjatuhkan dirinya dengan keras hingga mengenai pinggiran kamar mandi dan tak bisa bangun lagi. Dokter menyalahkan semut-semut itu. Semut-semut hutan itu hidup di dalam tubuh ayah. Semut itu tak hanya memakan gula dalam darah ayah, tetapi juga memakan dan menggerogoti ginjalnya, membuatnya kesakitan sepanjang hari-hari terakhirnya. Ayah meninggal di hari kelima perawatan di ICU.
Aluna menangis, baginya itu kepergian yang mendadak. Ibu menangis lebih keras lagi. Berkali-kali ibu pingsan, menyalahkan Paman Deni yang membawakan semut itu untuk ayah, dan juga semut yang telah bersarang di tubuh Aluna. Sejak itu ibu dan Aluna lebih banyak diam. Ibu menyalahkan dirinya sendiri yang meracik dan memasukkan semut-semut itu ke dalam kapsul, dan memberikannya pada ayah setiap malam, sementara Aluna menyesal telah membiarkan Paman Deni memasukkan sarang-sarang semut ke dalam tubuhnya dan membuat ayahnya sedih. Ibu menyusul ayah sebulan setelah hari itu. Kini Aluna tinggal seorang diri.
Di bulan keenam kematian ayahnya, Aluna mengunjungi makam. Ibu dan ayahnya dimakamkan berdampingan. Ia membawa serta toples besar berisi semut ke makam ayahnya. Suatu malam yang tenang, ia melahirkan bayi merah dengan bantuan seorang bidan. Ia kecewa, karena bayi itu bukan semut sebagaimana yang ia bayangkan, sebagaimana yang telah dikatakan Paman Deni kepadanya. Ia kecewa. Ia membawa pulang bayinya dengan gontai.
Di rumah, ia memasukkan bayi itu ke dalam toples besar, dan berharap bayi itu berubah menjadi semut. Benar saja, semut-semut kecil berbondong-bondong begitu saja ke arah toples mengerubuti si bayi. Ia gembira. Pagi-pagi, ia segera membawa toples besar berisi bayi dan semut-semut itu ke pemakaman untuk berbicara dengan ayahnya. Aluna masih berharap ayah kembali menceritakan pasukan semut pengumpul biji-biji jewawut yang telah menyelamatkan sekelompok prajurit dari kelaparan sebelum berperang.
Sejak ayah meninggal, setiap hari Aluna berdiri di tepi sungai di seberang rumahnya, melihat ke arah sungai kecoklatan yang arusnya tak juga lancar. Sungai yang lebih banyak membuat banjir daripada mengalirkan air. Berkali-kali ia mencari ke mana kiranya toples semut itu berlayar. Ia ingin kembali menimang toples berisi semut dan mendengar kembali cerita tentang tentara semut yang mengumpulkan tujuh karung jewawut.
Hari itu, toplesnya kembali dipenuhi semut-semut. Ia meletakkan begitu saja toples besarnya di makam ayah dan ibu. Tapi tak ada ayah, tak ada ibu, tak ada lagi kisah-kisah tentang semut. Kini Aluna yakin ayah telah benar-benar marah dan tak ingin kembali. Ia pulang sambil bersenandung lagu Semut-semut Kecil yang diajarkan ayah padanya. Sebuah lagu di masa kanak-kanaknya yang ceria, sebelum ayah sakit dan menjadi pemarah. Ia ingin melupakan kemarahan ayahnya. Melupakan semut-semut itu. Ditinggalkannya toples semut itu di dekat makam ayah ibunya.
Ia berjalan ke kafe dan duduk di sudut ruangan, di dekat sebuah jendela besar yang menghadap ke jalan. Dulu ayah sering mengajaknya ke tempat itu. Ia memesan segelas jus alpukat dingin sambil melihat ke arah jendela besar di sebelahnya. Di luar sana, atap-atap rumah mengecil seperti semut. Mobil-mobil berlalu lalang sepi seperti barisan semut. Manusia yang berjubel di jalanan seperti rentetan semut.
Semut datang dan pergi dari hidupnya. Dan semut-semut di atas mejanya masih juga bergerak ke sana ke mari, membuatnya tak bisa duduk tenang. Ia mengibaskan tisu, mengusir semut-semut dari mejanya. Dari mana datangnya semut? Ia terus menerus bertanya pada dirinya sendiri. Rupanya semut itu sudah memenuhi kepalanya. (*)
Karisma Fahmi Y lahir di Kota Pare, Kediri. Buku cerpennya berjudul Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian.
[1] Disalin dari karya Karisma Fahmi Y
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara NTB” edisi Sabtu, 13 Oktober 2018
The post Semut-Semut di Kepala Aluna appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2CIuBOz
DI BAWAH langit Meksiko mereka telah menyambutku. Bergelas-gelas tequilla dituangkan merata. Di sudut dekat sebuah meja kayu yang telah dipernis, tergantung sebuah lukisan mendiang penyair ternama yang kukagumi, Renato Leduc. Setahun sekali ia pulang dan kami bertemu di tempat kesukaannya ini. Pada mulanya hanya Renato sebelum kemudian ia mengisahkan tentang kawan-kawan barunya yang telantar dalam keadaan menyedihkan.
“Mereka adalah para penyair malang yang terbunuh oleh kediktatoran Porfirio Diaz. Karena tak terkenal, dan tak ada lagi keluarga yang mengenang, mereka terancam lenyap di alam sana.” Renato berkata padaku tepat pada malam Dia De Los Muertos lima tahun lalu. Aku lalu mencari gambar-gambar mereka di tumpukan arsip di tempatku bekerja. Dan berkat sisa-sisa gambar sebelum eksekusi yang dapat kutemukan, setiap setahun sekali kini mereka dapat pulang, seperti malam ini.
Mereka terlihat kurus dengan tulang pipi menonjol. Tetapi senyum mereka memancarkan sikap keras kepala dan semacam ketololan sehingga tampak seolah di sana tak pernah ada duka. “Don Pedro, tak kusangka, bandot juga kau rupanya!” Salah satu dari mereka berkata. Semuanya tertawa, aku tersenyum saja. Mereka merujuk pada sebuah puisi panjang yang kutulis untuk seorang perempuan di alam sana. Puisi itu muncul di koran ternama ibu kota.
“Tapi kau perlu belajar lebih banyak dariku. Ada bumbu gairah yang perlu ditambah,” ia berkedip nakal, sembari menggesekkan jari telunjuk di pipinya sendiri. Aku tersenyum dan berkata, “Katakan padaku, apa yang dapat dipelajari dari pembual yang sok puitis seperti kalian?” Dan di bawah kepulan asap cerutu tak berhenti kami tertawa sehingga berjam-jam waktu berlalu tanpa kami menyadarinya.
Di luar sana bintang berpendar-pendar dan sejenak langit menurunkan keheningan. Renato berkata padaku, “Ketika kau sudah di alam di sana, kau akan paham betapa berartinya sebuah ingatan, ya, semacam puisi yang dikirim oleh yang hidup kepada mereka yang telah mati.”
Dan ketika malam mulai larut, satu per satu pamit pergi melihat tempat-tempat lain yang menyimpan kenangan. Terpancar jelas dari wajah mereka ingin tinggal lebih lama. Tetapi waktu mereka tidak banyak. Semua hanya terjadi setahun sekali, di saat malam Dia De Los Muertos yang singkat seperti ini. Setelah ini mereka harus pulang kembali ke alam sana.
Di bar itu lalu aku tinggal sendiri. Pada akhirnya semua akan pergi, aku berkata pada diri sendiri. Kata-kata Renato terngiang. Mereka yang sudah di alam sana bergantung pada ingatan orang yang hidup. Aku membayangkan ketika aku meninggal nanti. Adakah yang akan mengenangku? Aku beranjak dari bar. Rintik hujan menyapa dan menyebarkan dingin ke sekujur badan. Ada yang menyeruak dalam diriku.
Orang-orang berkata waktu dapat mengalir meluruhkan usia tetapi tidak kenangan. Dan ia telah hadir lagi di pikiranku.
“Aku akan selalu mencintaimu, Pedro!” Terlihat matanya yang teduh memancarkan ketulusan dari kedalaman jiwanya.
Ia Sofia, wanita yang kucintai. Ia telah memilih melompat dari lantai sebuah bangunan tua di sudut kota ini dua tahun lalu. Itu ketika ia tahu diam-diam aku mengkhianatinya. Aku mempunyai kekasih lain. “Kenapa kau tidak membunuhku saja?” Ia berkata. Aku tidak dapat mengelak. Setelah itu ia menolak menemuiku. Dan tak lama kemudian dengan mata kepala sendiri kulihat tubuhnya remuk dan kepalanya pecah di jalur yang sedang kulintasi ini.
Bagaimanakah aku akan memaafkan diri sendiri? Tidakkah tanganku ini berlumur darah? Bagaimanakah keadaannya sekarang di alam sana? Aku ingin meminta maaf. Pada malam Dia De Los Muertos tahun lalu aku menyiapkan fotonya, membakar lilin, menyediakan roti kesukaannya, dan beberapa botol tequilla. Tetapi ia tak kunjung hadir. Aku merasa terlalu dalam aku melukainya.
Minggu lalu, ia berulang tahun. Aku menulis sepotong puisi. Melihat bait-bait itu muncul di koran, aku sedikit bahagia, seperti menemukan bagian dari diriku yang telah lama hilang. Kuletakkan potongan koran berisi puisi itu di samping fotonya yang dikelilingi oleh lilin-lilin. Tetapi ia tetap tidak hadir sehingga kuputuskan bertemu Renato Leduc dan kawan-kawan di bar tua itu.
Di langit terdengar halilintar dan hujan mulai mengguyur. Aku berjalan pulang. Mungkin selamanya ia tidak akan pernah datang lagi padaku, aku berpikir. Mengapa tidak kumulai saja lembaran baru? Dan tiba-tiba aku ingin menulis puisi lagi; berharap dapat melupakan ini semua. Puisi untuk perempuan yang nyata, yang dapat kusentuh, perempuan hidup yang dapat mencintaiku.
Sampai di rumah, aku membuka pintu dan tiba-tiba aku dapat mencium wangi parfum yang akrab. Tidak lama kemudian aku melihat satu sosok bergerak mulus seperti sehelai kafan putih. Ia berpindah dari meja makan ke samping wastafel lalu melayang melewati dapur dan menghilang. Perlahan aku mendekati jendela dan melihatnya sedang duduk menunduk memunggungiku di balkon.
“Sofia,” aku memanggil. Hanya ada hening yang dingin.
“Aku kira kau masih bersama perempuan itu,” ia berkata terbata-bata.
“Tidak, Sofia. Perempuan itu mengkhianatiku. Ia pergi bersama laki-laki lain,” aku berkata. “Barangkali begini cara Tuhan menghukumku. Demi Tuhan, maafkan aku, Sofia!”
Dalam sekejap ia berdiri di depanku dan meraih kedua tanganku. Aku menatapnya. Ia menyeka bulir-bulir kristal yang bergelayut di mataku. Aku mencoba memeluknya. Tetapi rasanya seperti meraih gumpalan kabut. Ia telah menjadi hantu.
“Puisimu membuatku yakin untuk pulang,” ia berkata.
Dan dalam waktu sejenak kami memulai hidup bersama lagi. Ini membuatku teringat pada saat pertama kami bertemu. Ia mahasiswi filologi dari universitas Nacional Autónoma de México. Ia magang di Badan Arsip tempatku bekerja. Aku membantunya mencari dokumen kuno untuk penelitiannya. Perlahan kami dapati diri kami saling jatuh cinta.
Dan sejak saat itu aku mengajaknya ke tempatku di setiap akhir pekan. Kami semakin dekat. Ia mulai menemaniku memasak dan terkadang mengomeliku sebab membiarkan piring kotor yang tak kucuci selama berhari-hari. Namun kemudian sesuatu yang tak kuinginkan itu terjadi.
Sekarang tak seorang pun mengetahui kebersamaan ini. Barangkali cuma seorang lelaki tua yang sesekali mengetuk dinding saat kami terlalu larut dalam tawa. Aku mulai dapat sedikit memaafkan diri sendiri. Kebahagiaan lama telah kembali meski tak lagi sempurna.
“Andai saja kita dapat hidup bersama lebih lama, Pedro!” Sofia menghela napas.
Aku melihat keluar melalui jendela. Malam sebentar lagi berakhir. Detik-detik perpisahan menjelang. Aku merasa sesak karena ia akan segera pergi. Ia mengajakku berdiri di hadapan fotonya yang dikelilingi lilin-lilin, roti, dan botol-botol tequilla. Ia memberiku kecupan dan tersenyum. Kami berpelukan. Sofia meraih tequilla lalu menuangkannya untuk kami berdua.
Aku melihat ia minum tetapi tequila hanya mengalir dari mulutnya dan merembesi lantai. Aku menunjukkan cara minum yang patut dan mulai menenggak gelas yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi ketika ia melakukan itu lagi sama seperti ia sengaja menuangkannya ke lantai. Dan itu membuatku tertawa.
Kami terus menikmati detik-detik terakhir itu. Di gelas yang kesekian aku merasa bumi berputar begitu ganas dan membuatku oleng beberapa kali. Aku bangkit perlahan dan melihat Sofia menertawakanku. Dan akhirnya dengan lembut ia mengulurkan tangan dan aku melangkah ke arahnya
“Berjanjilah kita akan selalu bersama begini, Pedro. Mau kah kau?”
Aku mengangguk dan terlihat jelas wajahnya merona berseri-seri. Ia begitu bahagia dan aku mulai menari menikmati suasana. Rasanya gerak-gerakku menjadi leluasa seperti orang lumpuh yang tiba-tiba menyadari dapat berlari. Aku merasa takjub. Di bawah terlihat orang-orang berkumpul seperti heboh mengerumuni sesuatu tetapi kami tidak peduli.
Ketika orang semakin ramai, aku memutuskan turun. Gerakanku terasa lebih ringan dan lebih cepat dari biasanya. Dan aku mendapati satu sosok yang telah remuk. “Itu aku …” Aku terkejut melihat tubuhku sendiri terkapar di sana. “Tenang saja!” Sofia tersenyum dan meraih tanganku, membawaku semakin tinggi. Dan aku pun pasrah. Aku melihat gemintang di alam baru yang melebihi luas semesta raya.
Kelak orang-orang menyebutkan nama kami ketika menjelaskan tempat ini, ketika ia diubah menjadi sebuah museum. Lalu setahun sekali kami pulang dan melihat foto kami terpampang dan kliping koran yang dibingkai. “Tempat ini milik sepasang hantu yang malang”. Mereka kasihan dan percaya aku bunuh diri lantaran depresi ditinggal pasangan yang juga mengakhiri hidupnya sendiri.
“Barangkali orang ramai memang senang tertipu dan akan selalu begitu,” Sofia berkata dan kami tersenyum.
Kami berpegangan tangan dan berdansa di angkasa; beterbangan di langit Meksiko dan tertawa. Ia mencintaiku dan aku mencintainya. Meski orang-orang mengenang kami dengan cerita yang buruk, tak seorang pun tahu di alam ini kami begitu berbahagia.
Catatan:
Dia De Los Muertos atau hari orang meninggal adalah tradisi upacara kematian di Meksiko dan beberapa negara di Amerika Latin. Pada hari tersebut orang-orang yang telah meninggal dipercaya pulang dan mereka disambut penuh sukacita oleh orang-orang yang dicintai.
Tequilla: Minuman khas Meksiko
Putra Hidayatullah menyelesaikan studi Contemporary Art and Art Theory of Asia and Africa di SOAS, London. Selain menulis cerita pendek, ia terlibat dalam kegiatan kuratorial. Ia terpilih sebagai salah satu kurator muda Jakarta Biennale 2015. Karya-karyanya tersebar di sejumlah media. Saat ini ia tergabung dalam Liga Kebudayaan Tikar Pandan, Banda Aceh.
[1] Disalin dari karya Putra Hidayatullah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 22 – 23 September 2018
The post Los Muertos appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2PX3UrK
SETELAH lama terpisah dua sandal beda kelas yang dulu pernah sama-sama menghuni salah satu mal di kota ini kembali bertemu di tempat sampah. Sebut saja Meli dan Pakalola. Meli sandal jepit kelas jelata sedang Pakalola sandal kulit yang konon kelahiran Eropa.
Ketika melihat Pakalola tiba di tempat sampah Meli yang sudah lama di situ betul-betul kaget.
“Lola, bagaimana ceritanya kau bisa sampai di sini, padahal kau masih kuat begitu?”
“Mel, kau tahu sendiri kan setiap manusia yang melihatku pasti terpikat, tetapi akhirnya Tuan Dinarlah yang berhasil memilikiku. Awalnya kupikir akan bahagia mengabdi pada wakil rakyat seperti dirinya. Tidak, aku malah sangat tersiksa. Dinar itu bukan manusia, tapi babi. Aku hanya dipakai untuk pamer dan bermaksiat. Aku sangat muak. Dan puncaknya saat aku diajak pergi ke kamar hotel mewah. Dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan si Bedebah itu menerima suap sekoper uang dolar ditambah tubuh mulus si pemberi suap yang berambut pirang. Habislah kesabaranku. Kugigit kuat-kuat tubuhku sendiri hingga robek-robek. Dinar murka. Dengan iringan serapah aku dibanting ke tong sampah. Namun aku tak pernah menyesal karena hanya dengan itu aku bisa lepas dan tidak menjadi gila.”
“Posisimu memang sulit, Lola,” tanggap Meli. “Tapi tak seharusnya kau melukai dirimu sendiri seperti itu. Kau masih terlalu muda untuk menghuni tempat sampah saat ini.”
“Mel, sumpah, lebih indah menjadi sampah daripada mengabdi kepada si Bedebah itu! Aku betulbetul muak! Sekarang, ceritakan kisahmu padaku…”
“Lola tak lama setelah kau meninggalkan mal itu ada seorang manusia tua menuju tempatku. Ia betul-betul memilihku. Aku gembira karena aku akhirnya bisa mengabdi dan membantu manusia. Bukankan itu misi setiap sandal? Aku tak berpikir lain. Kegembiraanku bertambah saat tahu kalau aku akan dijadikan hadiah bagi istrinya yang ia panggil Sumi. Selanjutnya aku mengabdi pada Sumi. Ia sangat menyayangiku. Ia selalu mengajakku untuk melakukan hal-hal baik semisal memasak, mencuci, berwudhu, berangkat ke masjid, dan memulung.”
“Dan, ketika aku mulai menua Sumi tetap sayang. Ia merawatku dengan hati-hati sampai aku benar-benar tidak mampu diajak jalan. Ia lama menyimpanku sebelum kemudian ia menghantarku ke sini. Aku sangat sedih. Aku tahu ia masih membutuhkanku dan suaminya, Sukri belum bisa membelikan yang baru.”
“Sungguh mujur nasibmu, Mel. Seandainya seandainya aku bisa terlahir kembali aku hanya ingin seperti kamu, menjadi sandal jepit saja.”
“Jangan berkata begitu, semua sudah membawa takdirnya sendiri-sendiri. Mari kita menatap ke depan saja….”
“Aku sudah tamat. Tidak ada masa depan bagiku!”
“Tidak. Kita selalu punya masa depan…”
“Aku tak yakin…”
***
Lusanya Meli terbangun tiba-tiba. Ia terkejut oleh langkah tergesa dan teriakan gembira. Meli tersenyum saat tahu kalau yang bikin gaduh adalah Daki, bocah yang memang saban hari datang ke situ untuk membantu neneknya memulung. Meli kenal betul bocah itu karena dia adalah cucu Sumi.
“Nek, aku menemukan sandal kulit,” teriak Daki sembari lari ke arah neneknya yang sedang berjongkok tak jauh dari tempat ia menemukan sandal. “Masih bagus, kan, Nek? Cuma rusak sedikit.” Ia menyodorkan sandal itu pada si nenek.
“Iya, sudah sana bawa pulang, biar yang rusak dibetulkan Kakek lalu dijual, pasti laku.”
Daki pun berlari membawa sandal itu pulang.
Meli tersenyum bahagia ketika tahu sandal yang dibawa bocah belasan tahun yang tak lagi sekolah itu tak lain adalah Pakalola. Dia senang sahabatnya itu masih bisa menemukan masa depannya kembali. Masa depan yang, semoga, lebih indah dari masa lalunya, doanya. ❑-e
Moh Romadlon, penulis lepas, pengurus di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sumber Ilmu, Desa Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren Kebumen.
[1] Disalin dari karya Moh Romadlon
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 3 Februari 2019
The post Percakapan Sandal appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2t4eLXK
“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”
Bila malam tiba, suara itu terus memanggil-manggilku dan Ibu. Suara tersebut berasal dari kamar kosong di samping kiri kamarku. Kamar yang belakangan menjadi hantu bagiku, begitu pun bagi Ibu. Pintunya tak pernah terbuka. Ibu sengaja menggemboknya dari luar rapat-rapat. Gorden hitam terpasang di seluruh jendelanya seolah malam dan siang tak pernah masuk ke sana.
Hanya ada tiga kamar di rumahku. Kamar di arah jam dua belas dari pintu masuk adalah kamarku. Sebelah kanannya, dapur. Di sebelah kiri itu, kamar Bapak dan Ibu.
Malam ini adalah malam ke-86 Ibu tidur bersamaku. Sejak seminggu setelah Bapak meninggal, Ibu pindah kamar. Sebagai anak laki-laki, aku ingin sekali berontak, mengusir Ibu. Tapi, mana mungkin aku tega melihat Ibu tidur di dapur atau di emper sendirian, apalagi di waktu malam.
Bila malam, rumah kami seperti tak berpenghuni. Itu terjadi setelah Bapak meninggal. Tak ada lagi jamuan makan malam. Aku dan Ibu selalu terburu-buru menjemput tidur di atas kasur.
Setiap malam, aku tak berani membuka mata sekadar melihat wajah Ibu. Ibu pun begitu. Terkadang, kami sampai lupa membaca doa sebelum tidur.
Suara yang memanggilku dan Ibu sangat akrab di telinga kami. Persis suara Bapak ketika dulu memanggilku, memerintahkan sesuatu. Tapi, Bapak sudah meningggal dan minggu depan adalah hari ke-100 beliau meninggalkanku dan Ibu.
“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”
Suara itu lagi terdengar bila malam. Tak pernah berubah. Paling nadanya saja yang berbeda. Terkadang seperti suara tukang orator, kadang lirih sekali serupa angin menyapu dadar daun jati dini hari. Bagaimana pun nada suaranya, tetap saja mengerikan, dan selalu berhasil mengusikku dan Ibu. Kami sengaja pura-pura mendengkur. Supaya rasa takut tak semakin mengakar. Dan kami akan tetap demikian sepanjang malam. Tidur dengan kepura-puraan.
Aku dan Ibu sebenarnya bisa pindah rumah. Tapi, sebelum Bapak meninggal, beliau pernah berpesan, “Rawatlah rumah ini jika saya meninggal dan ingat jangan sampai kalian jual.”
Aku dan Ibu hanya mengangguk. Andai saja waktu itu kami mampu melihat masa depan, tentu kami berpikir ulang, bukan langsung meresponsnya dengan anggukan santun. Nasi sudah jadi bubur. Bapak seolah sengaja merencanakan semua, dan kami tak tahu maksudnya.
Minggu depan haul Bapak yang pertama. Aku dan Ibu mulai mempersiapkan segala kebutuhan, terutama hidangan yang bakal disuguhkan, untuk kondangan Kamrat Jumatan. Begitulah cara kami merayakan haul Bapak yang pertama, merayakan dengan tradisi doa-mendoa.
Haul Bapak yang pertama sengaja kami gelar siang hari, pukul 01.30 WIB. Berharap suara gaib yang memanggil-manggilku dan Ibu hanya kami berdua yang tahu. Kalau sampai tetangga tahu, hanya akan melahirkan praduga-praduga buruk mengenai nasib Bapak di kehidupan yang sekarang beliau jalani. Aku dan Ibu berharap arwah Bapak berada di tempat yang damai, meski kami tak pernah tenang menjaga rahasia suara yang mengiau-ngiau itu. Sebisa mungkin kami tetap akan merahasikan peristiwa tersebut.
***
Siang itu, rumahku ramai sekali. Ibu sibuk mempersiapkan segala kebutuhan di dapur, dibantu Juhairiah, tetangga sebelah. Sementara Nyi Rasit sibuk mengemas segala macam Bul-tambul, kemudian memasukkannya dalam plastik kresek. Aku di luar sendirian menyambut kondangan yang mulai berdatangan.
Kira-kira 40 orang menghadiri acara haul pertama Bapak ini. Mereka semua duduk sampai memenuhi beranda rumah. Seperti biasa, tuan rumah memberi salam salam pembuka yang berkaitan dengan tujuan utama mengundang Kompolan Jum’atan. Aku dengan gamblang menjelaskan, kalau maksud kami tidak lain demi menyambut haul pertama Bapak. Meminta kepada mereka semua untuk mendoakan Bapak supaya terhindar dari segala macam siksasaan. Khalayak menganguk pertanda mereka siap dengan ikhlas mendoakan Bapak. Dan terakhir, aku meminta maaf jika ada sesuatu perbuatan Bapak semasa hidup yang kurang mengenakkan hadirin, juga meminta kejelasan, terutama mengenai tanggungan, supaya jangan sungkan-sungkan mengatakan kepada ahli waris (aku), lebih-lebih tanggungan utang-piutang.
“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”
Aku baru saja selesai memberi sambutan. Suara itu tiba-tiba memanggil-manggilku dan Ibu. Semua orang bersitatap satu sama lain. Suasana hening seketika. Aku mulai salah tingkah. Aku langsung mengernyitkan kening kepada Ustad Arif agar ia melanjutkan acara. Alhamdulillah, Ustad Arif tanggap dan memulai yasinan. “Ila Hadratin…”
“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”
Suara itu kembali terdengar. Bibir Ustaz Arif yang tadinya khusyuk komat-kamit, terhenti. Semua orang mulai saling berbisik. Suara itu kemudian semakin keras, terus-menerus memanggilku dan Ibu. Aku tak tahu apakah harus menyahut atau tidak. Aku benar-benar bingung.
Ibu tiba-tiba keluar mendekatiku. Jelas muka beliau terlihat putih masam. Melihat wajah Ibu begitu, orang-orang semakin bingung tak karuan, saling menatap penuh risau.
“Suara siapa yang memanggil-manggil?” Aku tak tahu Ustaz Arif bertanya kepada siapa. Aku dan Ibu sama-sama bingung. Sama-sama diam. Sementara itu, suara yang memangil-manggilku dari kamar bergembok itu semakin nyaring menyambar kuping. Semua orang ikut-ikutan mengekpresikan ketakutan. DKompolan Jum’atan dengan sekejap kocar-kacir. Mereka semua pasti masih mengenali suara yang memanggil-manggil namaku dan Ibu. Firasatku.
“Demi Ibu dan kau, Bapakmu rela melakukan apa saja. Beliau sangat bertanggung jawab pada kewajibannya. Bahkan, beliau rela kehilangan nyawa demi kita. Barangkali beliau memanggil-manggil kita itu bentuk dari tanggung jawabnya yang sekarang. Kita harus berani menemui panggilan itu, anakku. Jangan takut, kita barengan masuk!”
“Ibu yang di depan, aku belakangan,” jawabku penuh perasaan takut.
***
Ibu dan Bapak tak pernah bertengkar. Bapak sangat baik padaku juga terhadap Ibu. Setiap akhir pekan, aku selalu mendapat hadiah buku-buku kesukaanku. Setiap ulang tahun, tinggal menyebut permintaan, Bapak langsung mengabulkan.
Semasa Bapak hidup, beliau adalah Kepala Desa di Kampung Guluk-guluk tempat kami tinggal. Bapak menjabat selama dua dekade. Tapi, Bapak meninggal sewaktu masa jabatannya tinggal 2 tahun 2 bulan 12 hari.
Aku ingat betul. Waktu itu malam hening. Aku, Ibu, dan Bapak, sedang tidur pulas ketika tiba-tiba kampungku dipenuhi kerusuhan di mana-mana.
Dari luar kamar, terdengar suara orang berteriak-teriak memanggil Bapak. Tapi, rumahku waktu itu dijaga ketat oleh 12 bajing yang dikontrak Bapak. Bajing-bajing tersebut bertubuh kekar, bermuka beringas dan selalu siap mengusir apa pun atau siapa pun yang datang. Semua orang di kampungku takut betul pada 12 bajing yang lebih suka kekerasan dari pada bicara setiap menyelesaikan masalah itu.
Meski di luar huru-hara bertebaran, kami nyenyak tidur di dalam kamar, seolah tak ada masalah.
Semua itu berakhir ketika rumah kami dikepung oleh segerombolan orang berseragam lengkap. Di pinggang mereka, senapan-senapan menyilang. Dan alangkah sialnya kami karena 12 bajing yang dikontrak Bapak lari tunggang- anggang setelah tembakan peringatan dilepas.
Aku dan Ibu hanya diam melihat tubuh Bapak yang jangkung serupa tarebung ditendang-tendang karena mencoba melawan. Tangan belia kemudian diborgol, dan mereka masukkan Bapak secara paksa ke dalam mobil jip lantas membawanya entah ke mana. Aku dan Ibu hanya bisa menangis menjerit-jerit ketika sosok Bapak semakin terlihat menjauh dan kemudian menghilang dalam pandangan samar-samar.
Aku tak tahu pasti siapa orang yang telah begitu keji menjadikan aku anak yatim. Kabarnya, Bapak sengaja dibunuh atasannya sendiri.
Bapak disidang karena terjerat kasus penggelapan pajak, penggelapan raskin, penggelapan pembangunan. Seorang hakim memvonis Bapak mendapat hukuman tembak mati. Eksekusi harus di depan banyak orang lantaran telah sengaja melahap uang hak banyak orang demi kepentingan keluarga. Maka, kematiannya pun layak dipertontonkan. Ditayangkan di seluruh saluran televisi secara langsung. Besoknya, Bapak jadi headline di semua surat kabar.
Jogjakarta, 2018
Catatan:Naon adalah tradisi orang-orang Madura untuk menyambut seratus hari kematian seseorang.
Sengat Ibrahim, lahir di Sumenep, Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, merupakan buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Yogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.
[1]Disalin dari karya Sengat Ibrahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 21 Oktober 2018
Sengat Ibrahim
The post Naon appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2R64S5w
1.
Laki-laki itu masih terdiam. Tampaknya menunggu jawaban. Pesanan sudah datang, secangkir kopi cappuccino. Lelaki itu mengangkat cangkir, kemudian dia dekatkan ke hidung. Lalu dia dekatkan ke bibir dan meminum. Kemudian dia letakkan lagi. Kembali dia menikmati wajah perempuan di depannya. Namun masih saja kaku. Keduanya nampak ragu untuk memulai pembicaraan.
“Jadi bagaimana?” lelaki itu nekat membuka kata.
Dan hasilnya sama saja. Hanya menimbulkan senyum di sudut bibir perempuan di hadapannya. Suara tetap beku, yang ada hanya isyarat tubuh yang tak mampu diterjemahkan dalam kata. Tampaknya perempuan itu tengah asyik dengan dunianya. Berkali-kali dia membolak-balik lembaran kertas yang dipegang.
Laki-laki itu mengaduk kopinya. Lalu meminumnya. Mengaduk lagi. Dan meminumnya lagi. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Wajahnya menampakkan kegelisahan. Namun matanya tetap tertuju pada perempuan di hadapannya. Entah perempuan macam apa yang sukses menyiratkan kegelisahan dari kedua mata lelaki itu. Perempuan di hadapannya masih saja membaca lembaran kertas yang diberikan oleh lelaki itu sepuluh menit lalu.
“Bagaimana?” lelaki itu memancing pembicaraan lagi.
Perempuan itu pun menoleh dan hanya tersenyum. Lelaki itu diam kembali. Wajahnya tambah gundah. Ada sesuatu yang mengganjal bibirnya untuk berbicara, atau sekadar berucap satu kata. Tangannya mengambil buku dari tas. Lalu menulis kata. Kemudian timbul kalimat-kalimat. Lalu semua dia coret. Dia sobek dan buang. Menulis lagi. Mencoret. Menyobek dan membuang. Dia layangkan tatapan ke sisa gerimis hujan malam ini. Masih saja sepi. Tak ada perubahan berarti. Dingin tetap mencengkeram kedua anak manusia di meja dua puluh satu itu.
“Bagus!” Perempuan itu melahirkan kata setelah sekian menit terdiam.
“Apanya?” Laki-laki itu tanya keheranan.
Perempuan itu tersenyum sambil mengembalikan lembaran kertas ke lelaki di hadapannya. Aku pun kembali datang mengantar pesanan ke meja itu.
2.
“Mereka sedang kasmaran!” teriakan Karman lagi-lagi membuat pelanggan kami menoleh kepadanya.
“Kedai kita ini memang tidak henti-henti mengukir kenangan ya!” ucapku sambil tertawa.
Waiters-ku yang satu ini memang sering sekali mencari tahu asal-usul pelanggan di kedai kami. Terkadang dia sering menghampiri pelanggan sekadar menanyakan alamat rumah. Tentu saja dengan pembawaannya yang kocak, sehingga tidak mengganggu pelanggan kami. Bahkan pelanggan kami sering hanyut dalam pembicaraan bersama Karman. Sampai-sampai ketika Karman tidak masuk kerja, pelangganku pun bertanya-tanya mengenai lakilaki itu.
Belum lama aku mengenal Karman ñ setidaknya seusia dengan kedai ini berdiri. Aku merasa beruntung bisa bertemu orang jujur seperti Karman. Kami dipertemukan karena Karman menemukan dompetku yang tertinggal di kursi bus. Dengan percaya diri, dia mendatangi alamat yang tertera di kartu identitasku. Karena kejujurannya itulah, aku mengajak laki-laki yang belum kutahu asal-usulnya saat itu untuk membuka usaha. Dan sampai saat ini, kami menjadi bukan sekadar mitra kerja, lebih tepatnya keluarga.
Karman yang memang mudah bergaul, akhirnya selalu dekat dengan pelanggan kami. Semua kejadian unik tentang pelanggan kami, selalu dia bahas denganku. Kemudian dari sekian pelanggan yang datang malam ini, hanya pelanggan di meja dua puluh satu yang paling menarik bagi kami.
Perempuan itu masih terdiam dengan lembaran kertas yang dibaca. Namun laki-laki di depannya tampak gelisah menunggu sesuatu. Bahkan kopi ini menjadi pesanan ketiganya malam ini. Berbeda dari malam-malam sebelumnya, dua pelanggan setia kami itu tampak tegang membunuh waktu.
“Bagus!” perempuan itu berteriak girang.
Namun laki-laki di depannya hanya menampakkan raut keheranan. Beberapa kali lelaki itu berbicara panjang lebar ñ entah tentang apa karena suaranya tidak terdengar sampai sini. Namun, berkalikali pula perempuan di hadapannya membalas dengan tersenyum simpul. Tak ada penjelasan yang panjang, bahkan barangkali kepastian pun tak ada.
Hujan malam ini tampaknya menambah gelisah laki-laki itu. Namun perempuan di hadapannya tampak santai menikmati lembaran- lembaran kertas yang dipegang. Berkali-kali laki-laki itu membuka pembicaraan, tetapi hanya menyisakan kekakuan di meja dua puluh satu itu.
Laki-laki itu tampaknya sudah menyerah. Karena dia kembali memesan secangkir kopi cappuccino.
“Perempuan memang susah, Mas,” tiba-tiba Karman menceletuk pada laki-laki itu.
“Bukan susah, Mas, melainkan kita yang belum bisa memahami.” Laki-laki itu hanya tersenyum, lalu kembali ke mejanya.
3.
Menunggu adalah sesuatu yang membosankan. Ada orang yang mengatakan, menunggu adalah simbol dari kata menyerah yang tak terungkapkan. Menunggu karena sudah menyerah untuk berusaha. Menunggu karena menyerah untuk menikmati kegagalan. Ada pula yang mengatakan, menunggu adalah hal paling egois di dunia. Menunggu karena menanti orang lain untuk berusaha. Namun menunggu yang kulakukan kali ini bukanlah sekadar menunggu. Bukanlah menunggu karena aku sudah menyerah atau karena aku egoistik. Namun perempuan di depanku memaksaku kembali menunggu.
“Jadi bagaimana?” aku membuka percakapan, meski tampaknya sia-sia.
Perempuan ini hanya tersenyum menatapku, kemudian melanjutkan membaca cerita pendek yang tadi kuberikan. Raut wajahnya begitu serius mendalami kertas yang sejak sepuluh menit lalu dia pegang. Cerita pendek untuk sebuah kisah yang pendek. Bukan sekadar kisah. Lebih tepatnya kenangan. Barangkali lebih bagus, sebuah cerita pendek untuk kenangan yang pendek.
Waktu itu hujan mengguyur Solo. Aku dan dia masih saja berdebat demi mempertahankan pendapat yang entah siapa yang akan tahu kebenarannya. Sebenarnya hal kecil yang kami perdebatkan. Siapa yang menyangka sebuah puisi yang kami baca bersama bisa menimbulkan perdebatan yang sampai sekarang barangkali belum tahu ujung jawabnya.
“Bukan! Ini Chairil masih galau ya? Menunggu jawaban cinta Sri Ajati.” Dia masih ngotot dengan pendapatnya itu.
Berbagai argumen aku lontarkan untuk memupus pandangannya tentang puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar. Namun dengan teguh, dia bertahan. Dari perdebatan itulah aku mengenal sosoknya. Perempuan yang selalu kutemui saat hujan tiba.
Seperti saat ini, hujan yang masih mengguyur lingkaran kampus, barangkali akan menjadi saksi keberadaan cinta yang kupendam selama ini. Belum lama aku mengenalnya, mungkin hanya lewat status media sosial yang dia miliki. Bahkan untuk sekadar bertegur sapa pun kami jarang. Perempuan ini selalu menyembunyikan tatap matanya ketika bertemu denganku. Namun aneh, karena itulah aku ingin menangkap tatap matanya. Sekadar untuk kuselami hingga relung hatinya. Walaupun sampai detik ini pun dia masih kukuh menyembunyikan pelangi di wajahnya itu.
Sudah dua puluh menit, dia membiarkanku membeku oleh waktu. Berkali-kali aku mencoba membuka kata, tetapi hanya senyum kecil di sudut bibirnya. Aku mulai beranjak untuk memesan kopi ketigaku malam ini. Namun tetap saja, kepergianku tidak mengacaukan keasyikannya dengan lembaran kertas yang perempuan ini pegang. Aku pun duduk kembali dengan secangkir cappuccino yang mengepuli wajahku.
“Bagus!” akhirnya dia melahirkan kata.
“Apanya?” tanyaku heran.
Dia hanya tersenyum sambil memberikan lembaran kertas itu padaku.
***
Akhirnya perempuan itu melahirkan kata. Meski awalnya menimbulkan keheranan di wajah laki-laki di depannya. Layaknya bayi baru lahir, kata pertama yang terucap dari bibir perempuan itu pun langsung ditimang dengan senyum oleh laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu mulai berbicara antusias seolah tak mau kehilangan sepasang bola mata yang ditatapnya ini. Perempuan itu pun mengangguk, sesekali tersenyum, tetapi sangat sedikit berbicara.
“Apa?” Tiba-tiba perempuan itu menampakkan wajah keheranan.
“Iya! Aku, aku mencintaimu tanpa tendensi apa pun. Aku ingin mencintaimu tanpa alasan yang memperkuat cintaku padamu. Karena jika alasan itu telah memudar, aku takut cintaku hilang bersama alasanku.”
Suasana pun kembali beku. Hanya ada sepasang bola mata yang saling menatap di antara rintik hujan malam ini.
Aku pun beranjak menghampiri majikanku di meja kasir. (28)
Surakarta, September 2017
– Sapta Arif NW, aktivis pramuka yang menyukai puisi, cerita-cerita, dan diskusi hingga pagi. Baru saja menjuarai Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru kategori cerita pendek. Kini, aktif sebagai ketua Gerakan Menulis Buku Indonesia, dapat dihubungi melalui surat elektronik saptawnd@gmail.com, IG @saptaarif, Twitter @saptaarifnw, FB Sapta Arif,(WA/SMS/telepon 085716286686).
[1] Disalin dari karya Sapta Arif NW
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 24 Februari 2019.
The post Tiga Cerita Satu Malam appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Eabnj8
Sudah satu minggu Tuan Kuasa tidak bisa tidur nyenyak. Saat malam tiba, rasa cemas memakan kantuknya, mengganti dengan penglihatan berulang akan bara, api, mulut-mulut manusia yang meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.
Siang hari, rasa letih dan putus asa mendera. Di antara mata yang setengah membuka dan pikiran setengah sadar, ia terus teringat percakapan dengan Bapak Suci, lelaki tua agung yang bertugas memberi nasihat bijak tentang kehidupan bumi dan Langit.
Saat itu ia sedang mengunjungi Kuil Putih, tempat di puncak gunung tertinggi, yang dipersiapkan untuk upacara memuja Langit. Seperti biasa, seusai melakukan ritual Langit, Tuan Kuasa duduk berbincang dengan Bapak Suci.
Percakapan mereka hangat dan pribadi. Hanya ada mereka berdua, teh panas dan penganan di atas pinggan, serta kesunyian yang menggigit.
Tuan Kuasa ingat, sebelum percakapan itu terjadi, mereka tekun memandang lekuk desa dan kota yang kerdil di kejauhan.
”Pembangunan tampaknya berjalan lancar,” suara Bapak Suci memecah sunyi.
”Ya, begitulah. Kehendak Langit memudahkan semua upaya saya membangun negeri ini,” timpal Tuan Kuasa. Ia mencoba merendah, tetapi nada jemawa tak bisa disembunyikan dari kalimatnya.
Bapak Suci tersenyum, mengangguk.
”Akhirnya saya bisa membawa negeri ini ke keadaan aman, damai, dan tenteram,” tambah Tuan Kuasa.
Lagi-lagi Bapak Suci tersenyum, mengangguk.
”Oh ya, Bapak Suci, katakan kepada saya, apakah saya pemimpin yang baik? Saya sudah tak muda lagi dan akhir-akhir ini mulai mengingat mati. Jika Langit menghendaki saya mati, apakah Langit menerima saya dan menempatkan saya di surga?”
Hening.
Bapak Suci terdiam. Senyumnya samar, lalu pelan-pelan menghilang.
”Kenapa diam, Bapak Suci? Katakanlah sejujurnya,” suara Tuan Kuasa terdengar gusar.
Bapak Suci menghela napas pelan. Ia memandang lekat pada Tuan Kuasa.
”Sejujurnya saya sudah lama ingin mengatakan hal ini kepada Tuan. Namun Tuan terlalu sibuk. Saya rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk mengutarakan.”
”Ada apa, Bapak Suci? Ceritakan pada saya segera!” pintanya tak sabar.
Dengan wajah muram, Bapak Suci pun berkata, ”Selama tiga bulan ini saya bermimpi. Mimpi yang selalu sama: bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.”
”Oh, tidak! Itu sangat menyeramkan. Namun apa hubungannya dengan saya?”
Bapak Suci bermenung sejenak. Tuan Kuasa menggeser duduk, tak sabar menunggu jawaban.
”Tuan ada di sana,” jawab Bapak Suci murung, ”di antara tubuh-tubuh yang menyala oleh bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, serta suara jeritan yang tak terselesaikan.”
Mendengar itu, seolah darah menghilang dari wajah Tuan Kuasa. Sesaat ia takut. Namun yang terjadi kemudian, ia malah marah dan gusar.
”Tidak mungkin saya ada di sana! Bapak Suci tahu, saya telah berbuat banyak untuk rakyat dan negeri ini. Banyak orang memuji dan meniru cara saya menjalankan kekuasaan. Mana mungkin saya ada di tempat mengerikan sebagaimana Bapak Suci katakan?”
Wajah Bapak Suci makin muram. Ia menunduk. Ia tahu persis bagaimana Tuan Kuasa menjalankan kekuasaan sehari-hari. Ia pun telah memberi banyak nasihat. Namun tak semua Tuan Kuasa jalankan.
”Saya mengubah desa dan kota yang sepi dan muram menjadi pusat-pusat perdagangan yang ramai. Saya membangun tempat-tempat indah di segala penjuru agar seluruh dunia tahu betapa megah negeri yang kita huni. Saya pun membuat aturan yang mampu menertibkan kejahatan, menjadikan negeri kita tempat aman untuk dikunjungi. Saya mendapat banyak penghargaan dari negara-negara lain atas keberhasilan saya memimpin. Lantas, bagaimana mungkin saya tidak diterima Langit?”
Bapak Suci mengangkat wajah, kembali memandang lekat Tuan Kuasa, berharap kali ini Tuan Kuasa benar-benar mendengar nasihatnya.
”Tuan Kuasa yang bijaksana, datanglah ke pelosok-pelosok negeri, ke sudut-sudut tersembunyi oleh kemegahan bangunan. Ketuklah pintu rumah penduduk. Jika Tuan masih menemukan orang tua, perempuan, dan anak-anak berperut lapar akibat kemiskinan, Langit tak akan menerima Tuan, bahkan Tuan pun tak akan mencium aroma surga.”
Tuan Kuasa terdiam. Lalu katanya dengan sedih, ”Jika ternyata saya tak memiliki rakyat miskin yang kelaparan, apakah itu berarti mimpi Anda keliru dan sesungguhnya saya akan masuk surga?”
”Jika Tuan memang pemimpin yang adil dan bijaksana, yang menempatkan kepentingan dan kesejahteraan seluruh rakyat kecil, saya yakin tak ada yang bisa menghalangi Tuan membuka Gerbang Langit dan memasuki surga-Nya!”
Itulah kata Bapak Suci. Itu pula yang selalu terngiang dalam kepala Tuan Kuasa yang menyebabkan dia kini hidup tak tenang dan menderita.
Sepulang dari Kuil Putih, Tuan Kuasa segera memerintah para menteri pergi ke pelosok-pelosok, mengetuk pintu rumah penduduk, mencari tahu adakah orang tua, perempuan, dan anak-anak yang lapar akibat kemiskinan.
Laporan para menteri sangat mengejutkan. Tuan Kuasa duduk terenyak di kursi setelah mendapati begitu banyak angka yang memperlihatkan jumlah rakyat miskin dan kelaparan di negerinya. Seluruh tubuhnya gemetar. Terbayang lagi bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.
Tuan Kuasa mencoba menenangkan diri, berpikir jernih. Ia mengadakan rapat dengan para menteri dan kalangan intelektual, mencari jalan keluar bagaimana menghilangkan kemiskinan. Namun apa pun yang mereka ajukan sebagai penyelesaian, tidak mungkin ia laksanakan.
Jumlah kaum miskin terlalu besar. Negeri ini akan bangkrut jika harus memberi subsidi demi mengisi perut lapar mereka. Para menteri juga protes ketika kaum intelektual menyarankan para pejabat negara menyerahkan setengah kekayaan mereka untuk dibagikan kepada si miskin.
Tak ada jalan keluar! Itulah yang membuat Tuan Kuasa gusar. Tak ada yang tahu kapan seseorang mati. Namun Tuan Kuasa ingin mati dengan tenang, dan masuk surga.
Minggu demi minggu berlalu. Tuan Kuasa makin menderita karena penglihatannya yang makin jelas tentang bara, api, mulut-mulut manusia meleleh dan jeritan yang tak terselesaikan. Akhirnya, ia pun sakit.
Namun, sakit dan obat-obatan tak dapat membuatnya tertidur nyenyak barang sebentar. Kantuknya benar-benar dimakan rasa takut dan depresi. Ketika demam mencapai puncak, di antara gigil dan peluh tak berkesudahan, Tuan Kuasa mendapat penglihatan lain dari biasa.
Dalam penglihatannya, orang tua, perempuan, dan anak-anak berkumpul di sebuah lubang sangat besar dan dalam. Berbaju lusuh bertambal. Sebagian mengangkat kedua tangan ke udara, sebagian memegangi perut dengan wajah pilu. Ratapan dan erangan tergambar dari mulut-mulut mereka yang tak bersuara.
Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari langit. Mereka bersorak, memperebutkan benda yang makin deras jatuh ke dalam lubang. Orang-orang tua meraup benda itu dan dengan gemetar memasukkan ke dalam mulut, para perempuan mengunyah cepat-cepat dan tak sabaran, anak-anak menggigit dan menjilati sisa-sisa benda di tangan dengan rakus. Cokelat-hitam wajah dan tubuh mereka. Semua menjadi cokelat hitam hingga akhirnya Tuan Kuasa tak dapat lagi melihat tangan atau kepala mereka. Terkubur oleh benda cokelat hitam yang jatuh dari langit. Tanah.
***
Pagi ini, Tuan Kuasa sembuh dari demam. Darah mengalir hangat di sekujur tubuh. Cemas dan sakit lenyap dari badan. Setelah demam semalam, penglihatan akan bara, api, mulutmulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan telah menghilang, berganti penglihatan baru tentang orang tua, perempuan, dan anak-anak yang berkumpul di dalam lubang sangat besar dan dalam.
Tuan Kuasa tersenyum lega sekarang. Ia menemukan cara jitu menghapus kelaparan dan kemiskinan, sehingga kelak langkahnya ke surga tak terganjal lagi.
Segera ia bangkit dan mengumpulkan pasukan. (28)
– Nilla A Asrudian, cerpenis dan penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Buku cerpennya Warna Cinta(-mu Apa?). Cerpennya dimuat Kompas dan Suara Merdeka. Tulisan lain dimuat di blog lifestyle beritasatu.com, jakartabeat.com, galeribukujakarta.com.
[1] Disalin dari karya Nilla A Asrudian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 17 Maret 2019.
The post Sebuah Cara Jitu Menghapus Kelaparan dan Kemiskinan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2HHIMVy
Sudah empat tahun Tarno bekerja sebagai guru tidak tetap di sebuah sekolah negeri. Selama itu juga pemuda tersebut hidup dengan gajinya yang kecil untuk melengkapi kebutuhan pokok keluarganya. Memang untuk urusan menikah, Tarno baru melaluinya selama dua tahun terakhir. Namun, ia sudah lelah hidup dalam kekurangan karena gajinya yang tak mencukupi. Bisa dibayangkan, selama sebulan, ia hanya digaji tiga ratus ribu rupiah dengan kebutuhan pokok yang banyak. Padahal, pekerjaannya sama beratnya seperti guru-guru lainnya yang sudah tetap di sekolah. Ia harus berangkat pagi, pulang sore, merekap nilai, dan merangkap menjadi guru bantu lembaga bimbingan belajar di luar sekolah.
Memang mau tidak mau Tarno harus bekerja tambahan di luar. Selain menjadi guru, Tarno juga bekerja sebagai pembimbing lembaga belajar. Dari pekerjaan itu, Tarno mendapatkan gaji yang lumayan untuk menutupi kebutuhan pokok. Tujuh ratus ribu setiap bulan. Sayangnya, gajinya itu belum cukup juga. Akhirnya ia dan istrinya membuka usaha kecil-kecilan, yaitu berjualan secara online. Hasil jualan secara online itu lumayan menambah penghasilannya. Namun, usaha jualan yang dilakukan Tarno dan istrinya ini tidak bisa dijagakan setiap bulannya karena tidak tetap. Makanya, jika kini Tarno tampak tua lebih lima tahun daripada usiannya, hal itu adalah wajar. Tarno sudah bekerja keras bagaikan kuda.
Hidup yang berliku dihadapi oleh Tarno sebagai guru honor dan pedagang serabutan di dunia maya. Rasanya, apabila mengingat semua itu, Tarno bosan dan ingin mengakhirinya. Sialnya, ia tidak tahu cara mengakhiri hidupnya yang begitu-begitu saja. Tarno hanya bisa menjalaninya dengan berharap kalau suatu saat hidupnya akan berubah. Begitulah. Dan, seakan apa yang diharapkan oleh Tarno didengar Tuhan, beberapa hari kemudian dirinya mendapati kabar kalau dalam dua hari lagi pemerintah akan membuka lowongan pegawai negeri sipil. Pemerintah memastikan pula akan menerima kuota pegawai yang banyak. Mendengar itu lekas membuat Tarno—dan beberapa rekan guru honor lainnya—bahagia.
“Ini bukan hoax kan?” Tanya Tarno. “Nanti hoax kayak yang sudah-sudah.”
“Tidak kok, ini benar! Saya dapat beritanya dari koran ini,” rekannya itu menunjukkan bukti berita di koran mengenai tes rekrutmen pegawai negeri. “Peluang ini harus kita manfaatkan. Aku bosan memiliki gaji rendah.”
Tarno melirik ke arah temannya yang mengeluh tersebut. Tarno juga di dalam hati mengamini apa yang dikatakan temannya. Tarno benar-benar sudah bosan menjadi buruh dengan bayaran kecil. Ia ingin mendapatkan jenjang karier dan gaji yang lebih baik. Ia ingin menjadi salah satu pegawai negeri tetap dengan bayaran tinggi. Tarno pun akhirnya ikut terobsesi dengan cita-cita hidup lebih baik sebagai pegawai negeri. Tarno menjadi sangat antusias saat menyambut pendaftaran tes pegawai negeri itu. Sampai-sampai, demi memotivasi diri, ia membawa pulang kliping koran itu dan menempelkannya di dinding rumahnya.
Istrinya yang melihat gelagat Tarno menjadi penasaran. Wanita itu mendekat ke arah suaminya yang baru pulang. Istrinya lekas sibuk membaca kliping koran tersebut. Hingga kemudian wanita itu sedikit terlonjak karena mendapatkan kabar baik itu.
“Kamu harus mencobanya, Mas!” Tandas istrinya. “Kamu harus diterima agar hidup kita berubah lebih baik.”
“Betul, Dek!” Jawab Tarno optimis. “Aku harus diterima. Aku sudah bosan miskin.”
Dua hari kemudian setelah menempelkan kliping koran di dinding, pemerintah lekas mengabarkan rekrutmen pegawai negeri tersebut. Melalui perwakilannya—yang Tarno lihat di televisi—pemerintah membuka pendaftaran bagi ribuan pegawai untuk diangkat sebagai PNS. Tarno pun tanpa menunda waktu cepat mengumpulkan persyaratan dan mendaftar dengan semangat. Namun, ketika ia tahu ternyata saingannya begitu banyak—bahkan hingga ribuan—Tarno mulai ragu. Tarno pesimistis dengan peluang dirinya: Apakah bisa diterima sebagai pegawai atau tidak?
***
Malam harinya setelah mengetahui saingannya yang banyak, Tarno tidak bisa tidur. Siang harinya sepulang kerja pun ia mengalami kegelisahan yang sama. Istrinya sendiri sempat menanyakan: Mengapa ia menjadi pelamun dan tidak menghabiskan makanannya? Tarno menjawab dengan gelengan kepala dan senyum. Demikian pula kini, saat malam datang, ketika sebelum tidur tadi istrinya kembali mencoba membahas mengenai pendaftaran tes pe gawai negeri itu. Tarno pun kemudian menyentak sedikit ketus istrinya. Tarno melakukan itu—apabila bisa jujur terhadap istrinya—karena ingin menghindari pembicaraan mengenai tes CPNS tersebut. Tarno depresi.
“Bagaimana, Mas? Kamu sudah mendaftar untuk ujian CPNS?” Tanya istrinya kepada Tarno saat ingin berangkat tidur. “Semoga kamu bisa diterima ya, Mas?”
“Oh…” Tarno tergeregap karena lamunannya. “Iya, Dek, doakan aku ya.”
“Iya, Mas. Aku selalu mendoakanmu, Mas,” kata istrinya. “Dan anak kita ini…”
Tiba-tiba, istrinya tersenyum manis. Istrinya juga mengusap perutnya yang tampak datar seperti hari-hari biasa. Tarno mengernyitkan keningnya. Tarno mencoba mencari jawaban atas konteks antara ‘doa’ dan ‘anak’ yang dikatakan istrinya. Tarno melihat secara bolak-balik dan seksama antara perut dan senyum istrinya. Sementara istrinya masih tersenyum senang di samping Tarno. Memang, istrinya sangat bahagia saat pagi tadi mendapatkan jawaban atas mual-mual dan hilangnya selera makannya dua hari terakhir. Dari hasil uji klinis yang dilakukan menggu nakan tes kehamilan, wanita itu dinyatakan positif mengandung.
“Aku hamil, Mas,” lanjut istrinya. “Kau akan menjadi seorang ayah.”
Tarno tentu senang mendengarnya. Apalagi, Tarno dan istrinya sudah menunggu dua tahun kehamilan itu. Dan karena kehamilan istrinya ini, Tarno sejenak bisa melupakan masalahnya. Tarno pun lekas mencium kening dan perut istrinya. Sejalan itu juga Tarno menggumam di dalam hati kalau dirinya akan menjadi ayah. Hanya kebahagiaan itu mendadak hilang ketika istrinya kembali membuka pembicaraan mengenai tes CPNS tersebut.
“Semoga dengan hadirnya bayi ini, bisa menjadi berkah untuk kita, Mas,” ucap istrinya lembut.
Tarno termenung mendengarkan kalimat istrinya. Di dalam kepala Tarno sedang berkecamuk sesuatu. Hati Tarno gelisah. Terlebih lagi, saat melihat wajah istrinya yang sangat berharap ia bisa diterima sebagai pegawai.
“Kalau kamu nanti bisa diterima sebagai pegawai, biaya persalinan dan hidup anak kita pasti lebih mudah, Mas.”
Tarno hanya bisa menelan ludah getir mendengar semuanya.
***
Beban yang dirasakan Tarno semakin menumpuk. Kepalanya bahkan terasa berat memikir semuanya. Hari-hari yang Tarno lalui akhirnya dihabiskan untuk melamun. Memang selain melamun, Tarno juga berusaha mengerjakan latihan soal ujian masuk. Namun, Tarno tidak bisa memecahkan soal-soal itu. Bagi Tarno, soal-soal itu malah memberikan beban lain—berupa tekanan yang membuatnya semakin depresi. Tarno menyerah. Hanya, ketika mengingat istri dan anaknya, membuat Tarno tidak bisa begitu saja meninggalkan masalah ini. Sampai kemudian Tarno berpikir pendek untuk mendatangi orang pintar yang dipercayai memiliki ilmu gaib.
Karena tak bisa lagi mengharapkan pada kemampuannya sendiri, Tarno nekat mendatangi orang pintar. Lalu di sana ia disarankan untuk melakukan beberapa ritual khusus. Salah satunya adalah mengambil tali pengikat kafan miliki seorang mayat yang baru saja mati.
“Kau harus mengambil dengan mengeduk makamnya menggunakan tanganmu. Ambillah tali pengikatnya. Ambil juga sejumput tanahnya. Lalu, tanah itu tebarkan di depan rumahmu. Nanti akan ada yang datang memberikan jawaban atas masalahmu!”
“Apakah tidak ada syarat lainnya? Aku rasa itu terlalu sulit untukku,” Tarno mencoba.
“Tidak ada! Ini pilihanmu! Tapi ingat, kau harus melakukannya sebelum pagi. Kalau tidak, kau akan terkena kutukan.”
Orang pintar itu menjelaskan ada risiko dari apa yang diperbuatnya. Selain bisa dihajar habis-habisan oleh warga bila ketahuan, Tarno juga bisa mendapatkan kutukan kalau gagal menjalankan niatnya. Karena sebelum menjalankan ritual itu, ia harus membaca sebuah mantra khusus agar semua yang diperolehnya memiliki khasiat ajaib.
***
Selama seminggu Tarno menunggu kabar dari salah satu tetangganya yang me ninggal. Dan waktu pagi hari mendapatkan kabar duka itu—yang juga menjadi kabar keberuntungannya—malam harinya Tarno lekas mendatangi kuburan. Tarno pun—sekitar pukul 11.30 malam, lekas mengendap ke makam si mayat. Tarno cepat melakukan apa yang disyaratkan oleh orang pintar tersebut.
Tarno mulai menggali kuburan itu dengan kedua tanganya. Dengan cepat dan gesit Tarno bisa menggali tanah kuburan yang masih basah dan gembur tersebut. Sebelum tengah malam bahkan Tarno bisa mengambil salah satu tali pengikat kavannya. Namun, bukannya tidak ada masalah, ketika ingin menguburkan ulang mayat itu, datang segerombol anjing yang menyerang Tarno. Anjing-anjing itu berusaha merebut tali pengikat kafan. Dan sama seperti dalam sebuah kisah pendek berjudul Anjing-Anjing Menyerang Kuburan karya Kuntowijoyo, Tarno bertarung dengan anjing-anjing itu.
Tarno terus berusaha melindungi tali kavan itu. Ia tidak menyerah untuk melawan. Ia bahkan tak memedulikan tangannya yang koyak dan luka-luka karena gigitan anjing. Di dalam kepalanya, Tarno bertekad ingin mendapatkan kemudahan agar dapat lulus cpns.
***
Istrinya sempat curiga dengan luka-luka yang diderita oleh Tarno. Namun, Tarno selalu berkilah ketika ditanya mengenai luka itu. Tarno mengatakan kalau dirinya diserang hewan liar saat pulang sekolah. Istrinya percaya. Hanya apa yang diharapkan Tarno mengenai kemudahan dari jimat itu belum tampak juga. Bahkan, ketika harian ujian semakin dekat. Mimpi yang dijanjikan oleh orang pintar itu belum juga datang. Hingga akhirnya Tarno mendapatkan informasi dari berita kalau orang pintar itu ditangkap polisi. Orang pintar itu dianggap sudah penipu banyak orang. Dan Tarno yang menjadi salah satu dari korbannya hanya terpekur menyesali uang dua juta serta waktunya yang terbuang. Padahal ujian masuk tinggal menunggu jam lagi. ■
Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016) dan Novel Igor: Sebuah Kisah Cinta. Cerpennya telah tersiar di berbagai media
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 02 Desember 2018
The post Hikmah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2EdmESb
SEORANG perempuan muda, dari arah kiri, melihatmu dengan tatapan iba. Kau benci tatapan semacam itu. Mungkin benar kau sedang bersusah hati, tapi kau tak menginginkan tatapan yang membuatmu merasa seperti gembel di jalanan, apalagi dari seorang perempuan, yang tak kau kenal.
Kau menggaruk ujung besi kursi, agak keras sehingga menimbulkan decit yang mengilukan. Itu kebiasaanmu jika merasa gelisah. Menggaruk-garuk apa pun yang berada di dekatmu. Cara orang menahan geram beraneka ragam, ada yang menggerematakkan gigi dengan mata menyala dan rahang mengeras bak peran antagonis di sinetron, ada yang menonjoki tembok hingga buku jarinya terluka, ada yang menangis di balik selimut, dan banyak lagi kau bisa menelitinya sendiri jika mau. Tapi, kau memilih cara menggaruk. Dan sepertinya itu cara yang tepat sebab tak menimbulkan mudarat bagi sesiapa.
Burung-burung berwarna krem melesat dari gerumbul pohon, melintasi langit. Burung-burung yang tak kau kenal namanya dan memang tak ingin kau kenal namanya. Kau berpikir, dirimu kini sebebas burung-burung itu. Tapi, apa itu kebebasan?
Sebelum pertanyaan yang menerbitkan lampu di atas kepalamu terjawab, perempuan itu, perempuan yang tadi menatapmu dengan iba, mendekat ke kursimu. Ia, sebelumnya berdiri seperti menunggu sesuatu, lalu menempatkan bokongnya yang berbalut rok hitam berukir garis-garis ungu di atas kursi di sampingmu. Kau memindahkan tas kerjamu ke pangkuan, meluaskan tempat untuk perempuan di sebelahmu. Harum lavender menyemerbak.
Mulanya perempuan itu tak mengucapkan apa-apa. Hanya melakukan gerakan-gerakan ringan dengan pandangan linglung. Ia tak lagi menatapmu, tidak dengan tatapan model apa pun. Beberapa saat lamanya ia tetap begitu, tetap bungkam dan kau mulai menduga ia bisu. Saat keyakinanmu akan kebisuannya semakin menguat, ia menoleh, menatapmu dengan tatapan jauh lebih bersahabat ketimbang sebelumnya.
Kini kau bisa melihat wajahnya secara jelas, anak-anak rambut di dahi, rahang, bibir, bentuk hidung, dan lubang hidung ya, pada bagian itu kau mengingat sesuatu. Wajah perempuan itu mengingatkanmu pada teman SMP-mu. Temanmu itu perempuan yang memiliki kebiasaan ganjil: suka mengorek-ngorek hidung ketika mengobrol.
Teman perempuanmu sesungguhnya jelita, tapi kebiasaan mengorek-ngorek hidung agak mengganggumu, meski perkara seremeh mengorek-ngorek hidung, bagimu itu sangatlah mengurangi estetika dirinya.
“Apa kiranya alasan seorang lelaki muda duduk sendirian di kursi taman sore-sore begini?” Suara perempuan itu muncul tiba-tiba seperti televisi yang mendadak menyala dalam volume tinggi.
Kau terhenyak dan melupakan soal teman perempuanmu. Perempuan itu merapikan rambut di sela telinga dengan jemari, mengusap-ngusap mata, seolah ingin tampil lebih cantik ketika berbincang denganmu. Apakah ia tertarik denganku atau memang semua perempuan memiliki kebiasaan begitu bila berhadapan dengan lelaki yang baru ditemuinya, tanyamu, tentu saja tanpa suara.
Setelah tenang, kau menimpalinya.
“Apa kiranya alasan seorang perempuan muda tiba-tiba duduk di sebelah lelaki muda yang sedang duduk sendirian di kursi taman sore-sore begini?”
Kau membalas pertanyaannya dengan pertanyaan baru, serupa serangan balik dalam pertandingan sepak bola.
Perempuan itu mengerdip, bukan kerdipan menggoda, melainkan lebih mirip kerdipan seorang yang kelilipan debu. Ia lalu tertawa, ringan sekali tawanya seperti kapas, lalu ia terbahak, keras sekali bahaknya seperti pantulan batu-batu, lalu ia menutup mulutnya dan meminta maaf.
“Seorang lelaki tak seharusnya membalikkan pertanyaan seorang perempuan. Seorang lelaki seharusnya menjawab. Bertanggung jawab, kau pasti sering dengar kata itu, bukan?”
Tapi, apa hubungannya? Kau ingin mengatakan itu, tapi kemudian sadar itu termasuk ‘membalikkan pertanyaan’, itu bukan jawaban. Kau menatap mata perempuan itu lekat-lekat, mata yang kembali mengingatkanmu pada teman SMP-mu, bola mata lonjong seperti telur yang sempurna. Seusai menyusun kata-kata dalam kepala, kau menjawab, jawaban yang sama yang kau berikan pada seorang lelaki keras kepala berkumis tadi siang di ruangannya yang dingin.
“Aku sudah berusaha bertanggung jawab semampu yang aku bisa.”
Memang itu sebuah jawaban. Namun, sebagaimana bisa dilihat pada ekspresi perempuan di sebelahmu yang menyiratkan ‘kau ngomong apa sih?’, kata-katamu seperti kata-kata yang kau ucapkan pada seseorang yang jauh, yang hanya ada dalam imajinasimu, yang tidak ada di hadapanmu.
“Maaf. Pikiranku sedang tak keruan.”
“Sedang ada masalah?”
“Ya, begitulah. Hidup selalu penuh dengan masalah.”
“Berkaitan dengan pekerjaanmu?”
“Mengapa kau bisa tahu?”
“Kau masih berpakaian rapi, membawa tas kerja, hari masih sore, dan kau bilang pikiranmu sedang tak keruan, memang apa lagi kiranya arti sepaket pertanda itu kalau bukan karena urusan pekerjaan?”
Kau diam tak menimpalinya. Hanya mendengus. Menggaruk besi kursi dengan kuku telunjuk tangan kanan. Burung-burung krem yang tak kau kenal namanya kembali dari langit mengerumuni ranting-ranting pohon. Warna langit mengelabu. Apa pun nama burung itu, mereka pasti burung yang pintar, pikirmu. Petir berdenyar, getarnya sampai merambati kursi yang kau dan perempuan itu duduki.
“Aku juga sedang ada masalah yang kurang lebih sama denganmu. Tapi, aku mampir ke taman ini bukan untuk merutuki nasib. Aku justru ingin merayakannya.”
Mata perempuan itu berbinar, suaranya terdengar lebih lantang dan renyah, menyuntikkan jarum kegembiraan ke dalam pikiranmu. Kau berusaha menyamai sikapnya yang santai, tenang, dan tampak seperti orang yang ke taman sekadar untuk bersenang-senang belaka. Kau berbeda. Kau tidak langsung pulang ke rumah, kau menyempatkan mampir ke taman yang begitu sepi pada sore hari ini untuk mengambil jeda. Untuk menyesali keterburu-buruanmu. Keputusan keliru telah kau buat dan garis hidup berbelok ke arah yang tak pernah kau harapkan.
Tak memedulikan ketakacuhanmu, perempuan itu meneruskan bicaranya.
“Kau tahu, aku mengharapkan momen ini sejak lama. Tapi, aku tak pernah berani berterus terang. Aku khawatir teman-temanku akan menyebutku sombong, tak tahu diuntung, tak bersyukur. Padahal, aku memang sudah tidak nyaman dan memaksakan diri dalam ketidaknyamanan itu tidak enak. Untunglah hari ini momen yang kuharapkan akhirnya tiba.
Kini aku terbebas dari kungkungan ketidaknyamanan, aku bisa bebas memilih apa saja yang aku inginkan. Kau tahu apa yang kuinginkan?”
Perempuan itu kian antusias, tapi kau seperti tengah berada di dunia lain. Kau masih larut dalam ingatan peristiwa siang tadi.
“Hei!”
Kau menoleh dan spontan berujar, “Ya, ada apa?”
“Kau memperhatikan perkataanku, tidak?”
“Ya, kau bilang kini kau bebas.”
“Iya. Kau tahu apa yang kuinginkan?”
“Bahagia?”
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu? Banyak uang? Pekerjaan bagus? Pasangan yang baik? Waktu luang?”
“Mendekati itu. Aku ingin mendirikan toko bunga. Kau tahu, mendirikan toko bunga adalah bisnis yang takkan membuatmu bersedih. Jika bunga-bungamu laku, kau akan senang.
Jika bunga-bungamu tak laku, setidaknya kau masih dapat menikmati kemolekan bunga-bunga itu. Bisnis yang membahagiakan, bukan?”
Perempuan itu makin percaya diri, ia berbicara denganmu seperti berbicara dengan orang yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Begitu lepas dan akrab. Kau mencerna kata-katanya beberapa saat, kemudian tercengang. Kau mulai tertarik pada apa yang dikatakannya.
“Luar biasa. Itu ide yang sangat brilian. Sebelumnya kupikir orang-orang yang mendirikan toko bunga adalah orang-orang putus asa, rasanya anggapan itu mesti kuralat. Orang-orang yang mendirikan toko bunga adalah orang paling bahagia! Aku suka idemu.”
Tiba-tiba kau menjadi antusias. Rasanya jarum suntik kegembiraan perempuan itu sudah menusuk dirimu terlalu dalam sehingga kegembiraannya menular kepadamu.
“Untuk itulah aku ke taman ini. Untuk melihat bunga-bunganya. Untuk merayakan hidup. Karena besok aku akan langsung memulai bisnis bahagiaku itu. Ah, betapa bahagianya lepas dari hidup kantoran yang menjenuhkan, dan memasuki kehidupan penuh dengan bunga-bunga tiap harinya.”
Mendengar kata ‘kantor’ mengingatkanmu pada bosmu yang keras kepala, gebrakan tanganmu di meja, pemecatan yang tak terhormat, pandangan teman-teman sekantor yang menyebalkan dan malah terlihat senang dengan nasib buruk yang menimpamu, gedung kantormu yang menjulang angkuh seperti umumnya gedung-gedung perkantoran di sepanjang Ibu Kota.
Kau lekas mengenyahkan ingatan itu. Sekarang, kau menyusun suatu taman berisi bunga-bunga aneka rupa, warna-warni dan menguarkan harum yang menyegarkan dada. Betapa indah dan manisnya.
Kau merogoh saku celanamu. Dompetmu masih cukup tebal. Saldo di rekeningmu juga masih cukup banyak.
Angin menderu kian menusuk. Petir berdenyar lagi.
“Bagaimana jika kita bekerja sama? Aku akan menginvestasikan uangku untuk bisnis bungamu itu.”
“Wah, aku setuju. Aku senang ada orang mau bekerja sama denganku.”
Sebelum hujan turun, kau dan perempuan itu keluar dari taman, mengunjungi kedai kopi tak jauh dari sana. Dua cangkir kopi panas cukuplah.(M-2)
[1] Disalin dari karya Erwin Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 20 Januari 2019
The post Toko Bunga Bahagia appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2R27jWt
Berita tentang apa sanggup mendidihkan darahmu?
“Musim semi dan festival bunga tulip adalah dua bagian paling diburu di seluruh Turki. Kau harus tahu bahwa Tulip itu berasal dari Turki, bukan Belanda.” Sejenak kubiarkan tubuhku digenggam bulan Desember : beku.
“Berkunjunglah ke Istambul.” Kalimat itu bagaikan gelombang tsunami yang menghajar seluruh peradaban. Sedikit, namun telak.
Sam, Aku telah menunggu kabar tentangmu begitu lama. Entah sudah berapa kali musim semi, berapa kali festival bunga tulip terlampaui.
“Sudah kau terima email itu?”
“Ya, tapi…”
“Anggap saja, kau memenangkan lotere.”
“Ya. Hanya saja…”
“Aku telah menyewa properti tak jauh dari Masjid Biru, hanya beberapa ratus meter dari lapangan Sultan Ahmed. Dua kamarnya menghadap selat Bosphorus. Kau tak perlu mencemaskan cuaca, ada pemanas dimusim dingin, juga pendingin udara di musim panas. ”
Tentang musim, cukup bagiku menikmati sihirmu, ratusan surel berisi hasil bidikanmu. Caramu itu berhasil menyemai mimpi pada dinding khayalku.
“Itu tiket pulang pergi sudah tertera atas namamu. Jadilah tamuku.”
“Kau baik sekali…” terasa datar namun aku menuliskannya dengan melunjak-lunjak.
“Itu hadiah buatmu. anggap saja traktiran gaji pertamaku di kampus ini. Kamu sudah tahu bahwa bahasa Indonesia mulai dijadikan kelas khusus di Turki?”
“Kudengar begitu…”
“Maukah kau menjadi dosen tamu disini?”
Sengaja atau tidak, terencana atau spontanitas, kau pintar membuat kejutan. Sejak dulu. Harus kuakui, ini fakta yang menyebalkan tentangmu. Empat tahun yang penuh dengan busa. Riuh selalu, namun tak ada muara yang menandakan kita akan menujunya. Tiba-tiba sekarang, kau menjanjikan dirimu sebagai tuan rumah selama aku berkunjung ke Turki, menyiapkan tiket pesawat round trip senilai delapan juta. Dan menawarkanku untuk menjadi dosen tamu pula. Wow pangkat berapa harus kuterakan?
“Tugasmu hanyalah mendapatkan cuti. Selebihnya adalah urusanku.” Betapa manisnya kau Sam.
“Jika kau tertarik, dapat ditindaklanjuti soal untuk dosen tamu. Tidak lama kok, hanya tiga bulan.”
Seketika, perang di dadaku bergemuruh laksana pasukanberkuda dua bala tentara. Satu pihak berjuang atas namamu. Pihak lain adalah amarah, ketika menyadari aku, perempuanmu, nyaris busuk menunggu di sudut perpustakaan. Tidakkah kau berpikir bahwa pertemuan dua manusia diantara rak buku adalah hal paling romantis di dunia ? Matamu yang tajam dan alismu yang tebal, adalah daya.
(*)
Sebuah siang di perpustakaan …
“Hai, Namaku Sam.” sebuah tangan terulur di mukaku. Mataku merebut wajahmu yang tersamar di keremangan cahaya jendela dan rak buku.
“Cantik tapi sombong.” Kau mendengus kesal saat aku tak menanggapai salam perkenalanmu yang norak.
“Kamu tak punya nama?” Kejarmu diantara upayaku melangkah pergi.
“Satu kata saja.” Desakmu. Aku menuju parkir motor, memasang helm, kau berdiri di ambang pintu perpustakaan.
“Nama!!” teriakmu.
Demi melihat wajahmu yang kesal dan penuh permohonan, maka sambil berlalu dengan motor kuteriakkan…
“Rosalia!!”
“Itu bus pariwisata!!”
Hey Tengik!. Ayahku memberi nama itu melalui puasa, kau dengan enteng mengatakan bus pariwisata. Ingin rasanya melempar sneaker ini ke arahmu. Aku melaju sambil merapal doa: Tuhan, jauhkan aku dari lelaki tak beradab semacam dia. Lelaki rombeng yang gaduh hanya di kalengnya.
Beberapa hari kemudian…
“Rosalia!”
Refleks kepalaku berputar, mataku menghisap sepasang mata menyembul dari balik terali pagar.
“Bagaimana kau temukan alamatku?” Lelaki itu nyengir, lalu membuka pagar, masuk tanpa kupersilakan.
“Lelaki memiliki 1.001 cara untuk menemukan apa yang ingin dia temukan.”
Kemudian kau menjadi catatan penting pada perjalanan hidupku selanjutnya.
(*)
Hey, Sam…
Sekarang, aku dalam pesawat Turskish Air menujumu. Kau akan menjemputku dengan wajah barumu yang sedikit matang. Kita akan berjumpa di Atatürk Uluslararası Havalimanı, bandara utama negeri keduamu. Kita akan menyelami kota sejarah yang penuh catatan darah dan air mata, perpaduan timur dan barat yang rupawan.
Kau akan menemaniku mengunjungi rumah sang Mevlana Rumi di Konya, sembari melantunkan sebait doa di tepi nisannya yang bertaburan kaligrafi. Ini bulan April, festival tulip akan menghiasi kota kecil Konya dan kota-kota lain di seluruh wilayah Turky.
Jika cuaca bagus, kita akan mengendarai balon udara di Capadoccia. Seratus dollar pasti bukan masalah buatmu, dan kita mengakhirinya dengan menenggak anggur merah non alcohol. Inilah impian setiap pelancong dari seluruh dunia. Jadilah guide yang baik saat aku menjelajah reruntuhan Efesus, mencoba bagaimana rasanya duduk di kloset pembuangan umum yang berjajar secara massal tanpa sekat dan pelindung. Ah, tentu, kau juga harus menemaniku mengelilingi selat Bosporus dengan kapal yang legendaris itu, dan menungguiku mengenakan baju tradisional Turki.
Hari penting itu menjadi sebuah debar berganda dan berpangkat. Aku berhasil melampaui antrian meliuk-liuk di terminal kedatangan Ataturk. Lalu pertanyaan dalam bahasa Turki, yang, baru kali ini kudengar dan petugas imigrasi tidak seluruhnya berbahasa Inggris. Setelah ujian pertama usai, ujian berikutnya adalah, menemuimu. Di barisan penjemput yang semuanya berjaket warna gelap, udara berkisar 10 celcius- Aku menemukan seraut wajah khas yang tak mudah kuhapus dari ingatan.
Kau berlari
Menubrukku
Aku mengambil jarak
Mundur selangkah
Kuberi dia tempat untuk menjabat tanganmu.
Kau menatapnya terperangah, matamu melebar. Kau dan dia berjabatan.
Sam,
Aku memang tidak datang sendirian. Tiga bulan lalu aku menjalani kehidupan baru sebagai isteri dari seorang lelaki. Bukan laki-laki hebat, hanya lelaki sederhana yang hidup dari kata-kata. Dirangkainya sebait puisi nan gurih untuk melamarku, dan aku menyerah. Sementara kabarmu nihil. Setahun kau mengilang. Sementara aku bimbang antara menerimanya, atau menunggumu?
Bolehkah kami berbulan madu ke Turki? Ini negeri impianku sejak Orhan Pamuk dengan My Name is Red menjadi bacaanku belasan tahun lalu. Dan kau, Sam, adalah lelaki peri yang mewujudkan impianku.(*)
Wina Bojonegoro, pengarang Surabaya. Bukunya yang sudah terbit, Moonlight Sonata, The Souls, Episode Surat Kejantanan, dan Negeri Atas Angin.
[1] Disalin dari karya Wina Bojonegoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 3 Februari 2019
The post Lelaki Peri appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2TCCk5j
Jam yang aku genggam menunjukkan pukul 23.45. Lelaki itu masih berdiam diri. Tubuhnya seperti membatu di kursi ruang tunggu. Dia duduk sendirian dengan kedua tangan menopang dagu. Wajahnya kuyu. Sorot matanya sendu. Sesekali bibirnya bergemetar seakan sedang mendremimilkan sesuatu.
Tak lama berselang, dia menangkupkan kedua tangan. Membiarkan gelap menyungkup wajahnya. Aku menerka, barangkali kini benaknya riuh dipenuhi pertanyaan yang menuntut jawaban.
Sepertinya aroma obat bercampur bau cat yang sepenuhnya belum kering di dinding membuat kepalanya menjadi lebih pening. Satu per satu keringat dingin bermunculan di kening.
Kedua mataku lekat menatap lelaki itu dari jauh. Sejurus kemudian aku berjalan bersijingkat mendekati dia. Aku berharap kedatanganku tak mengusik atau menambah keruh benaknya. Aku duduk tepat di sampingnya. Dia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Dia masih tertunduk lesu. Dia seolah tenggelam dalam kekalutan yang pelan-pelan membunuh kesadaran.
Beberapa menit berlalu. Aku dan dia sama-sama membisu. Kesunyian terasa begitu pekat. Namun sayup-sayup suara jeritan melengking dari salah satu kamar. Lelaki itu tiba-tiba menggelenggeleng, seakan sedang mengembalikan kesadaran. Aku agak bingung. Secepat kilat dia melesat dari kursi. Setengah berlari dia menuju arah sumber suara. Namun langkahnya tertahan di depan kamar nomor 005. Kedua tangannya memegangi gagang pintu. Bola matanya menatap tajam kaca buram persegi panjang. Mencoba menilisik lebih jauh apa yang sedang terjadi di dalam sana. Terselip rasa penasaran yang mengganjal dalam dada.
Lelaki itu kini terpaku di depan pintu sembari menggigiti kuku. Kegelisahan mungkin sedang mengoyak benaknya. Tanpa permisi aku diam-diam masuk menerobos pintu; lelaki itu seperti menjaga ketat. Sejenak aku mengedarkan pandangan. Dari balik tirai warna hijau, aku melihat seorang perempuan terbaring di ranjang. Kedua kakinya mengangkang. Tangan kanannya menggegam seprai yang lecek. Tangan kirinya mencengkeram erat gorden di belakang kepala. Urat-urat di lehernya menegang. Napasnya tersengal-sengal.
Mataku tersita oleh papan pipih yang menggapit secarik kertas. Aku mengamati dengan saksama. Nama, usia, dan tanggal lahir tercetak di papan itu, sama persis dengan yang tertulis di daun gugur yang beberapa menit lalu kupungut. Aku merogoh saku. Jam dalam genggamanku menunjukkan pukul 23.55. Kurang dari lima menit lagi.
“Sedikit lagi, Bu,” ucap seorang perempuan.
Aku melihat dia beberapa kali memberikan arahan. Dia sebegitu bersemangat. Juga cermat. Dia bak pemandu musik dalam sebuah orkestra. Dia tahu bagaimana membawa musik dalam irama pelan atau tempo kencang. Terkadang dia menyingkap sedikit kain yang menutupi kedua kaki perempuan yang terbaring di ranjang. Lalu melongokkan kepala ke dalam, ke balik kain itu, seperti sedang memastikan sesuatu.
Perlahan aku mendekati mereka. Aku berdiri di sebelah kiri ranjang. Perempuan yang terbaring itu masih terus berteriak lantang. Berkaliulang dia menarik napas panjang, lalu mengembuskan disertai jeritan. Peluh memandikan wajahnya. Tampak mengilat tertempa cahaya. Tiba-tiba perempuan itu menoleh kepadaku. Bola matanya menghunjam mataku. Aku tersentak. Apakah dia melihatku?
Kedua pasang mata kami beradu. Seolah waktu membeku. Jarum jam baru saja bergeser dari pukul 23.59 menuju pukul dua belas tepat tengah malam. Dari pancaran sepasang mata perempuan itu aku menangkap kepiluan mendalam. Sepasang matanya seolah mengiba, meminta dikasihani.
“Tunggulah sebentar lagi. Aku mohon.”
Entah kenapa aku merasakan kenyerian teramat sangat. Tubuhku seperti tersayat sesuatu yang tak terlihat. Kali pertama keanehan macam ini terjadi. Sebelumnya, aku tak pernah sedikit pun merasa canggung. Aku selalu terbiasa dengan berbagai macam situasi, terkeculi malam ini. Dan, entah, aku sedemikian kasihan bila harus segera merenggut sesuatu yang berharga, yang mungkin sebentar lagi dia rasakan. Barangkali sesuatu itu telah lama dia nantikan, dia harapkan, dan dia idam-idamkan.
Aku mengangguk pelan. Aku menangkap kelegaan keluar bersama embusan napasnya. Tak terasa air mengalir perlahan dari pelupuk mataku. Lalu menderas, membasahi pipiku. Aku segera menyeka air dari pelupuk mata dengan telunjuk jariku agar tak banyak lagi yang tumpah. Apakah aku sedang menangis? Apakah aku sedang bersedih?
Suara tangis pecah di ruangan. Tangis itu seperti penawar rasa sakit perempuan yang terkulai lemas di atas ranjang. Napasnya sedikit demi sedikit kembali beraturan. Sejak tadi aku hanya mematung. Kedua mataku tak henti-henti mengalirkan air mata.
“Selamat! Ibu melahirkan bayi laki-laki,” kata perempuan yang membantu melahirkan seraya menyerahkan bayi itu ke pelukan perempuan di atas ranjang.
Samar-samar aku mendengar derap kaki mendekat. Langkah itu seperti bersicepat dengan degup jantungya. Lelaki datang dengan wajah semringah. Dia menghambur mendekati perempuan di atas ranjang. Dia membelai rambut perempuan itu sepenuh kasih.
“Selamat, Sayang. Kau resmi jadi ibu,” bisik lirih lelaki itu. Lalu, perlahan dia mengumandangkan azan ke telinga kanan sang bayi.
Aku menunduk, mendengarkan dengan khusyuk. Perempuan itu mencium kening bayi, lalu memeluk erat.
Setelah selesai, aku kembali mengamati jam yang kugenggam. Waktu menunjukkan pukul 00.05. Ini telah melewati batas ketentuan. Aku telah melakukan satu kesalahan. Tak pernah sekali pun aku melanggar ketetapan yang telah digariskan. Ah, maafkanlah aku.
Aku merapatkan diri lebih dekat pada perempuan itu. Sekilas aku menangkap sebaris senyum terlukis di belah bibirnya. Aku membalas dengan senyuman pula. Perlahan aku menangkupkan kedua kelopak mata. Aku membayangkan sedang menarik seutas benang yang rantas dalam gumpalan tepung. Aku menarik dengan segenap kehati-hatian. Aku berharap tak ada yang tertinggal atau benang itu terputus.
Setelah membuka mata, aku melihat seberkas cahaya keluar dari tubuh perempuan itu. Cahaya itu menjelma menjadi kupu-kupu dengan kepakan sayap begitu menyilaukan. Dia terbang mengitari aku. Aku mengangkat telunjuk jari, lalu kupu-kupu itu hinggap di atasnya.
“Terima kasih telah memberiku sedikit waktu untuk mencium dan memeluk bayiku.”
Kupu-kupu itu kembali terbang. Lalu merupa menjadi serpihan cahaya seperti kunangkunang. Perlahan memudar, lalu hilang. Aku bergegas meninggalkan ruangan, yang menyisakan tangis kehilangan. (28)
– Dicky Qulyubi Aji, kelahiran Jepara, mahasiswa Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.
[1] Disalin dari karya Dicky Qulyubi Aji
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 10 Maret 2019.
The post Kali Pertama Aku Menangis appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2TRuxEp
Meditasi Siang Hari
tempat dudukku ingin berbicara kepadamu,
menggunakan bahasa matahari siang
hari. tentang, populasi kesedihan madura
& jogjakarta. pembantaian yang terjadi
kira-kira dua ratus tahun yang lalu: pemerintahan
(direct rule) voc terhadap
( pasukan barisan ) dibawah pimpinan
trunojoyo; abad sembilan belas, pasukan
imam bonjol dilibas; muasal silsilahku sebagai
suku keras, menjamur dalam diriku.
evolusi sperma cibogo hingga ke chicango.
pemberontakan binatang dalam pikiran.
demonstrasi sepi yang menuntut kebebasan
dari puisi. politik keindahan yang
berkeliaran di luar perasaan. meditasi
siang hari. tempat dudukku ingin berbicara
kepadamu, menggunakan bahasa diam. bahasa.
diam. bahasa yang diam bersamamu.
Jogjakarta, 2018
Sejarah Kota I
maya. aku berlindung pada bahaya, maya.
aku bersaksi bahwa ‘mencari’
adalah agama paling kugemari, maya. di
sini, segalanya adalah iklan.
pasar dan tuhan di posisi yang sama: kebutuhan.
kebutaan. maya. setiap
saat bahasa membangun keributan, maya.
menjadi nafasku, maya. televisi
dipenuhi acara tikus-tikus makan ktp,
maya. cita-citaku ingin menjadi
polusi, maya. sumpah. aku ingin menjadi polusi
bukan polisi. sampah, maya.
sampaikan salamku pada sampah. sampah
itu pemerintah. tolong sampaikan
salamku pada sampah. dari ribuan sejarah
penjajahan di dunia, samapah satusatunya
penjajah paling mudah menjarah
tempat tinggalku, maya. tempat
tinggalku berdiri di bawah kekuasaan sampah.
sampah itu pemerintah, maya.
Jogjakarta, 2018
J.17:57.27.09.18
malam terbuat dari lampu padam. mesin
politik berhenti menciptakan
pahlawan. udara belum bisa menciptakan
masa depan yang digunakan
semua orang. sorban, peci, baju koko menjadi
vitamin a bagi seluruh
surat kabar. bergentayangan. orang-orang
beramai ñberamai menikmati
kehancuran. pikiran. pikiran seperti lapangan
sepak bola yang bisa
membuat mainan menjadi identitas manusia.
lalu, pak eko masuk.
pak eko masuk. masuk pak eko ke dalam
dirimu. mengendarai udara.
menjadi pengetahuan yang tak perlu
didiskusikan. menjadi iklan 1998
bagiku: ingatan anak -anak yang bisa
menangkap kenyamanan hidup
melampai kebenaran. pembantaian. setelah
itu, aku kehilangan negeriku.
maksudku negeriku sibuk membangun jalan
menuju kota kehilanagan.
termasuk kehilangan pembaca yang masih
menggunakan pikiran. pikiran.
Jogjakarta, 2018
Blora
(sebuah kota yang ingin kutinggali)
selalu ada warna malam di matamu
mungkin di mataku juga begitu.
di kota-kota fotocopy kita bertemu. saat aku
menangkap keramaian
dengan cara bersembunyi. sendiri. seperti
puisi yang tak pernah tahu
bahwa dirinya adalah puisi. komunikasi. kominikasi
bagi kejahatan
sekaligus kesehatan. kematian. kematian
adalah tempat kedua paling
nyaman menyembunyikan diri setelah
tulisan. katamu. kematian?
atau jangan-jangan kematian adalah
satu-satunya tentara yang
berhasil membuatmu bungkam. atau satusatunya
penjara yang bisa
menjauhkanmu dari tulisan. setelah kau
berhasil bersembunyi, kini,
bangsa besar itu tahu bahwa separuh tubuhnya
ada dalam kepalamu.
Jogjakarta, 2018
Demontasi Suara di Luar Bahasa
hujan nabrak seng. api perkosa kayu.
batu nampar kaca. angin
nendang daun kering. gunting gigit kertas.
palu sembunyikan
paku. cangkul nggaruk tanah. mesin
minum bensin. listrik konslet.
: kota metropolitan sibuk ngejahit baju masa
depan. kau mau pesan?
Sengat Ibrahim. Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, merupakan buku puisi pertamanya. Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.
[1] Disalin dari karya Sengat Ibrahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 7 Oktober 2018
The post Meditasi Siang Hari appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2C1gRxa
Dia tidak akan meneguk racun itu bila peristiwa kemarin tak terjadi. Seminggu sebelumnya, di dalam mimpinya seorang perempuan berbaju merah dengan rambut panjang sebahu datang menghampirinya di sebuah tepi pantai yang asing baginya. Tanpa sempat melihat wajahnya dengan jelas, perempuan itu langsung memeluknya dari belakang. Begitu erat hingga tulang-tulangnya serasa ingin remuk.
Saat mendengar bunyi retak disertai kesakitan yang tak terkira, barulah dia terbangun.
Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh dua menit. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar. Dia putuskan untuk kembali memejamkan mata dan sama sekali tak mengingat apa yang terjadi di mimpinya. Tapi rasa sakit di bagian belakangnya terasa hingga dia harus beberapa kali mengubah posisi tidurnya.
Dia berhasil tidur dan bangun pada pukul sepuluh pagi. Biasanya, dia bangun di siang hari setelah begadang menerjemahkan beberapa naskah yang ada di laptopnya.
Rasa sakit di bagian belakangnya, membuat dia bangun lebih pagi. Meskipun tidurnya sudah terganggu saat dini hari. Dia mencoba mencari kemungkinan penyebab sakit itu.
“Mungkin posisi tidur saya yang bermasalah.”
“Tunggu, mungkin juga karena terlalu lama duduk bekerja.”
“Tidak, sepertinya karena semalam saya kurang minum air.”
Di antara kemungkinan yang dia pikirkan, tak sedikit pun terbesit di kepalanya tentang mimpi itu.
Sembari memikirkan sakitnya, dia teringat janjinya pada Eka, pemilik penerbit yang hendak mencetak terjemahannya. Sudah dua kali dia meminta perpanjangan waktu untuk membuat terjemahannya semakin matang. Enam hari lagi tenggat waktu itu pun akan berakhir. Dia juga tak ingin meminta perpanjangan lagi, tapi di sisi lain, dia masih merasa belum selesai dengan terjemahannya itu.
Dengan melawan rasa sakit di bagian belakang tubuhnya, dia berjalan pelan menuju kamar mandi sambil berpegang pada dinding rumahnya. Langkahnya persis seperti seorang lelaki tua yang kehilangan tongkat. Satu tangannya di dinding, yang satunya lagi di belakang—memijit bagian pinggangnya sendiri.
“Kenapa ini? Mengapa harus sakit seperti ini Tuhan?” batinnya.
Tak ada siapa-siapa di rumahnya. Dulu, dia pernah memelihara seekor kucing dan diberi nama Maret—bulan kelahiran dirinya juga beberapa penulis favoritnya. Sekarang, jarak menuju kamar mandi terasa jauh baginya
Dia mundur beberapa langkah lalu menjatuhkan dirinya di sebuah kursi empuk berwarna coklat di bagian ruang kerjanya. Dia menarik napas panjang, kembali mencari posisi yang tepat untuk menghilangkan rasa sakitnya. Duduk di kursi itu membuatnya merasa lebih baik.
Dia lalu mengambil sebuah buku yang ada di meja kecil di samping kursinya. Di meja itu, ada beberapa buah novel yang sedang dia baca, sebuah buku catatan tipis dengan sampul putih tanpa ada gambar sama sekali. Juga dua pulpen yang sering dia gunakan untuk mencatat atau membuat daftar di bukunya. Jika tidak untuk mencatat, pulpen itu acap kali jadi alat untuk menghilangkan cemasnya dengan cara mengetuk-ngetuk meja dengan bagian bawah pulpennya.
Buku yang dia baca masih menyisakan sekitar seratus dua puluh tiga halaman lagi sebelum tuntas. Perasaannya menjadi lebih baik setelah duduk dan membaca beberapa halaman buku. Dia bersandar dan membiarkan punggungnya tertelan empuk kursinya.
Tiba-tiba dia merasa ingin buang air kecil namun posisi nyaman itu membuatnya malas untuk berdiri. Di samping kanannya jendela belum terbuka hingga sinar matahari tak sepenuhnya masuk ke dalam rumah. Tapi, rasa hangat kemudian terasa di sela-sela pahanya setelah dia membiarkan dirinya buang air di tempat. Dia menutup mata, menghayati aliran air kencingnya yang terasa hangat.
Dia baru meninggalkan kursinya setelah menghabiskan bukunya.
***
Setelah kembali membaca terjemahannya, dia membaringkan badannya di lantai. Siang tadi, setelah menghubungi Wiliam, salah seorang temannya yang bekerja sebagai dokter umum di sebuah puskesmas, dia diminta untuk tidak tidur di atas kasur. Dia belum ingin tidur, tapi rasa sakit di bagian belakangnya semakin menjadi-jadi. Hanya dengan berbaring, dia merasa lebih baik. Sebelum tidur, dia kembali menghubungi Nadira, kekasihnya.
Dua hari sebelumnya, Nadira kembali ke Selayar untuk mempersiapkan pernikahan mereka yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan tahun ini. Tapi Nadira tak kunjung mengangkat telepon, atau bahkan membalas chat-nya.
Sehari sebelum Nadira pulang, cuaca di Selayar sedang memasuki masa yang ekstrem hingga sinyal pun terganggu. Kemarin Nadira masih sempat berkabar, dia memberitahu jika cuaca semakin tampak buruk dan komunikasi mungkin akan terganggu.
Dari sebuah media yang memberitakan Selayar, dilihatnya angin kencang serta gelombang tinggi yang terus menghantam. Tak ada kabar dari Nadira, malam itu firasatnya mulai merasakan sesuatu yang menakutkan. Rasa sakitnya kadang tak terpikirkan kala dia kembali mencari kabar tentang Nadira. Sembari menunggu keajaiban, dia membaca chat di WhatsApp beberapa hari sebelumnya. Membaca itu, membuatnya tersenyum, lalu tertawa sendiri. Hingga tanpa disadari, dia tertidur sambil menggenggam ponselnya malam itu.
Lagi, mimpi itu kembali terulang. Selama lima malam berturut-turut. Pada akhirnya, semua yang terjadi dalam mimpi itu terekam jelas di ingatannya. Dia mampu mengingat apa yang terjadi tapi tak bisa mengenali siapa perempuan dan di mana pantai tempat mereka berada.
Malam itu juga, sebelum tidur kembali dia mencoba menghubungi Nadira, menceritakan tentang mimpi dan cemasnya yang tertahan selama beberapa hari ini. Tapi, firasat buruk kembali mendesak di dadanya. Ada sesuatu yang mungkin terjadi. Media yang memberitakan Selayar pun tak kunjung mengabarkan berita terbaru setelah cuaca ekstrem beberapa hari terakhir ini terjadi.
Rasa sakit di bagian belakangnya kemudian menjalar menuju satu titik, tulang ekornya. Malam itu juga, dia tak lagi bisa duduk dan membiarkan dirinya berbaring di lantai. Dia melihat langit-langit kamarnya, memperhatikan cahaya lampu yang tampak berpendar. Lampu di kamar kemudian mati, seketika tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali.
Beberapa saat kemudian, lampu menyala dan kembali dilihatnya sosok perempuan berbaju merah dengan rambut panjang yang selama ini ada di mimpinya. Bedanya, kali ini dia bisa melihat wajahnya, dan perempuan itu adalah Nadira.
Dadanya sesak, bukan karena takut melainkan firasat buruk yang selama ini dia rasakan sepertinya terjawab. Sesuatu terjadi dengan Nadira. Sosok itu menghilang dengan cepat, hanya sekali tarikan napas. Saat itu juga, tubuhnya kembali normal dan dia bangkit melawan rasa sakit di tulang ekornya.
Laptopnya masih terbuka, naskah terjemahannya masih belum rampung. Kabar Nadira tak kunjung tiba. Rasa sakitnya semakin tak tertahankan. Dia berdiri sambil menahan sakitnya, dia meringis kesakitan. Hidupnya terasa kalut. Sebuah suara di kepalanya meminta dia segera berjalan ke dapur. Sebuah botol racun serangga tersimpan di balik pintu belakang dapur.
Sosok yang dilihatnya barusan mungkin saja adalah Nadira, kekasihnya. Maut telah menjemputnya lebih dulu. Dia tak mampu menerjemahkan peristiwa sebaik dia menerjemahkan naskah yang ada di laptopnya.
Dia tertatih melangkah menuju botol racun itu. Pada saat dia mulai mendekat, akulah yang kemudian memeluknya dari belakang hingga segala yang ada dalam dirinya remuk. Sedang Nadira lebih dulu kupeluk dalam gelombang tinggi yang menghantam. Mengapa dia tak menerjemahkan aku lebih dulu?
Wawan Kurniawan, menulis puisi, cerpen, esai, novel dan menerjemahkan. Mengikuti kelas menulis cerpen Kompas (2015), menerbitkan buku puisi berjudul Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Salah satu novel karyanya yang berjudul Seratus Tahun Kebisuan menjadi Novel Pilihan Unnes International Novel Writing Contest 2017.
Nyoman Sujana Kenyem, lahir di Ubud, Bali, 9 September 1972, menempuh studi di STSI Denpasar (1992-1998). Pameran tunggalnya, antara lain A Place Behind The House di Komaneka Gallery Ubud, Bali (2016), Silence of Nature, di Lovina, Bali (2015), dan pameran tunggal di G13 Gallery, Kelana Jaya, Selangor, Malaysia (2013).
[1] Disalin dari karya Wawan Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 24 Maret 2019
The post Kematian Seorang Penerjemah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2HDizIz
Sejak bertahun-tahun lalu sungai itu merekam jejaknya sendiri di pikiranku. Pada suatu hari, seorang pria dengan tubuh berdarah-darah merangkak ke halaman rumahku yang berada persis di tepi sungai. Aku berusaha sebisa mungkin dan bahkan keluargaku juga meluangkan waktu untuk membuatnya sembuh dan mampu bicara. Pada akhirnya lelaki itu mati setelah tiga hari tiga malam mengigau.
Pria tanpa nama tadi kami kubur dengan doa ala kadarnya dan upacara tersepi yang pernah ada. Tidak ada kejadian ganjil setelah beberapa minggu dikuburnya pria itu. Lalu, suatu malam, saat aku dan sepupu mencari adik terkecil kami yang belum juga pulang, seorang pria paruh baya menyeret-nyeret tubuhnya yang berlumuran darah dan meminta pertolongan.
Kami tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang tersebut. Dalam sembilan tahun, sungai itu membawa para lelaki tidak kurang dari sebelas orang, dan mereka terluka parah sebelum mati tanpa memberi penjelasan apa-apa. Jika suatu kali seseorang pergi berkunjung ke desa kami, dia cenderung bertanya-tanya kuburan siapa saja yang tiada berbatu nisan itu?
Untuk diketahui, desa kami terpencil. Tidak ada yang terpikir melaporkan kematian mereka ke petugas berwenang, kecuali beberapa bulan setelah kematian orang kedua, karena kami mulai ketakutan ada kejadian yang sama persis untuk ketiga atau keempat atau bahkan lebih dari itu. Kami juga cemas jika semua yang terjadi pertanda datangnya sebuah kutukan, tetapi laporan itu tidak ditanggapi secara serius.
Para petugas yang berdinas di desa terdekat, yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari desa ini, waktu itu hanya berkata, “Banyak pendaki ilegal yang sengaja melepaskan diri mereka karena jenuh dengan kehidupan kota. Orang-orang itu sengaja minggat dari kota demi menyatu dengan alam, tetapi kita tahu tidak ada yang mampu bertahan dan para pendaki itu pun mati.”
Aku tak yakin dengan penjelasan tersebut. Dugaan yang para petugas sebut terkait binatang buas atau gangguan alam di pegunungan yang ada tidak jauh dari sungai itu, sempat dipercayai selama beberapa waktu, hingga datangnya lelaki ketiga yang terluka dan mati dengan cara lebih aneh: di perutnya tertancap beberapa bilah pisau kecil dan kami sempat mengeluarkan beberapa butir peluru dari paru-parunya. Binatang liar, apa pun itu, tak mungkin melakukannya.
Sayangnya orang-orang desa telanjur muak pada petugas yang tidak pernah serius menanggapi laporan kecuali yang memberi mereka peluang untuk mengeruk sebanyak mungkin uang atau emas dari korban atau pelaku kejahatan tertentu. Maka, kami semua sepakat untuk tidak lagi melapor.
Sembilan tahun berlalu. Kematian demi kematian terus terjadi dan teka-teki soal ini belum juga terungkap hingga aku sendiri mulai merasa terbiasa dan sering kali terpikir, di beberapa kesempatan, bahwa jika suatu kali kutemukan seorang lelaki berdarah-darah merangkak menuju desa kami dari arah sungai dan pegunungan, maka itu tandanya aku harus berbuat kebaikan sekali lagi untuk orang lain, meski pada akhirnya kebaikanku itu sia-sia belaka.
“Mereka tetap mati dan begitu takdir menggurat ketentuannya di sungai dan desa ini,” demikianlah pikiranku berkata.
Sungai itu tidak lagi jadi sungai biasa setelah kematian orang ke sekian. Ia tempat yang sakral dan beberapa orang desa memutuskan untuk berdoa di sana untuk mendapat keselamatan. Mereka percaya, kami, orang-orang asli desa ini, dapat tetap hidup dan tak menjumpai binatang ganas atau pembunuh atau apa pun di luar sana yang menghabisi sebelas lelaki asing tadi, adalah karena kami telah mendapat kebaikan dari apa pun atau siapa pun itu yang belum kami tahu. Maka, kami patut berterima kasih.
“Sungai ini batas antara kehidupan dan kematian,” begitu tutur beberapa sesepuh di depan kami. “Barang siapa yang tidak dikehendaki untuk pergi menyeberangi sungai ini untuk mencapai hutan dan pegunungan di depan, tak akan kembali dengan nyawanya!”
Beberapa orang kemudian mengganti sesembahan mereka; mereka mulai giat pergi ke sungai untuk menyembah batu-batuan, rerumputan, pepohonan, ikan-ikan, katak dan ular, belalang, semut, kadal, dan segala yang tersedia di sungai tersebut, dan ini terlihat begitu serius karena orang-orang tadi mulai membangun tembok agar tidak ada seorang pun yang mampu menyentuh air sungai keramat kecuali untuk keperluan sembahyang. Dalam waktu yang tak berapa lama, sungai itu berubah menjadi kuil dan tentu saja kuil yang terlihat begitu aneh, karena di balik lantai papan kayunya terdapat air sungai yang mengalir begitu jernih dan deras.
Agama baru ini, bagiku sendiri, sangat membuat repot. Agama baru yang tak perlu hanya karena ketidaktahuan orang-orang tentang sumber kematian para lelaki asing tadi. Sebagian besar anggota keluargaku memilih patuh pada wejangan para sesepuh dan ikut pergi ke kuil baru tersebut. Aku sendiri yang tidak pernah tertarik untuk ikut dan malah merasa jengkel karena tanpa sungai itu, kini kami harus mengusung air dari lokasi lain, dari suatu danau yang terletak cukup jauh dari desa agar bisa memenuhi kebutuhan akan air setiap hari. Ini pun harus membayar sejumlah uang karena danau tersebut berada di wilayah yang dikuasai oleh para petugas berwenang.
Pada suatu hari, setelah tahun demi tahun tak lagi ada orang asing yang datang ke desa ini dengan tubuh berlumuran darah, tinggallah aku yang masih menyembah Tuhan lama. Orang-orang sini yakin sebetulnya selama tahun-tahun belakangan ini masih saja ada para pendaki (atau apa pun itu, karena kami tak sepenuhnya percaya omongan para polisi korup dan bejat) asing yang mati karena mencoba pergi ke pegunungan dan hutan itu, tetapi tubuh mereka tak bisa memanjat tembok kuil yang panjang dan tinggi hingga mati di seberang sana tanpa pernah kami tahu.
“Bagaimana jika suatu hari nanti anak-cucu kita menemukan bahwa di balik kuil ini ada begitu banyak tulang belulang manusia? Tidakkah mereka mengira kita hanyalah makhluk egois yang tak peduli pada nyawa orang-orang tersesat?” tanya seseorang suatu ketika.
Asal-muasal Agama Sungai
Tidak ada yang dapat menjawab itu, bahkan para sesepuh yang sedari awal gencar mendirikan agama baru ini dengan disertai ancaman-ancaman mengucilkan siapa pun yang menolak kebenaran versi mereka. Tentu saja akulah yang selama ini tak mendapat keadilan karena hanya aku yang mereka kucilkan. Mengetahui sikap masa bodoh soal kemungkinan adanya jasad para lelaki yang keduabelas, ketigabelas, dan seterusnya itu, membuatku angkat bicara.
Aku katakan di depan orang-orang ini, “Jika benar suatu hari nanti anak-cucu kita menemukan ada banyak tulang belulang manusia di balik tembok kuil kalian, jangan salahkan jika agama baru kalian mendadak tidak populer. Jangan salahkan jika mereka berpaling ke keyakinan lama, lalu menganggap kalian semua nenek moyang yang tidak patut diikuti. Segala bentuk warisan rohani yang tertinggal di sini sama sekali hilang tak berbekas!”
“Itu hanya omongan orang tak tahu terima kasih sepertimu. Alam atau siapalah itu, yang di luar sana telah membiarkan kita hidup, selagi menghabisi orang-orang asing itu, telah berbuat sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi. Boleh jadi para pendaki yang dibilang para polisi itu bukanlah pendaki, melainkan para kriminal atau buron yang jelas berbahaya untuk kehidupan para penghuni desa!”
Aku tidak berminat melanjutkan perdebatan. Malam itu juga aku diusir dan sejak itu aku tidak lagi kembali ke desaku. Sungai yang sejak kecil merekam kenangan indah dan terbaik dalam hidupku itu, yang kemudian menorehkan memori buruk soal sebelas manusia asing yang terluka dan mati secara misterius, tetap bertahan di pikiran hingga bertahun-tahun kemudian. Dalam pada itu, aku telah hijrah ke tempat yang jauh, ke kota yang besar dan modern dengan orang-orang yang peduli hanya pada hidupnya sendiri.
Perihal apa yang menyebabkan sebelas lelaki asing tadi terluka dan mati, aku tidak tahu hingga suatu hari, tanpa sengaja kudengar dari seorang yang kukenal di kota besar, bahwa dirinya tak lagi ingin hidup sebagai manusia kota.
“Aku ingin hidup di tempat yang jauh dari sini, di sebuah pegunungan yang sangat terpencil. Banyak yang sudah melakukannya. Kabar ini kudengar dari ahli spiritual yang tempo hari mengadakan seminar di sela waktu sibukku. Orang-orang ini tidak butuh apa pun selain tekad dan keberanian, dan memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar sembuh dari luka masa lalu. Mereka bahkan tidak lagi dapat terluka, karena yang tersisa dari mereka hanyalah arwah-arwah yang tenang dalam keabadian.”
Gempol, 25 Desember 2018
________________________________________
KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku-buku karyanya, Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).
[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 12-13 Januari 2019
The post Asal-muasal Agama Sungai appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2AKk5Uh
AROMA sedap rempah hangat yang khas merebak ke seluruh ruangan. Tampak seorang pria mengeluarkan berloyang-loyang kue berbentuk manusia dengan aksesori tiga kancing baju dari oven. Serbak jahe memanja indra penciuman, membuat ingin segera menyantap barang dua buah. Sesekali ia menyingkirkan peluh yang sedikit mengganggu dengan lengan baju yang ditekuk hingga siku. Hawa sauna dari kepulan asap menyerbu ruangan berbata merah itu.
“HAI, Pria Jahe. Baru matang?” Se-orang pemuda yang sebaya dengannya menyapa dengan basa-basi seperlunya.
“Oh, hai juga. Seperti yang kau lihat, baru dikeluarkan dari oven. Akan tetapi, kue pesananmu sudah kusiapkan terlebih dahulu. lni pesananmu. Masih hangat”
Setelah mengucap sepatah kata terima kasih, orang itu menyodorkan beberapa uang dan pergi. Pria Jahe,begitulah orang memanggilnya, segera beranjak dengan meninggalkan banyak kuejahe yang masih panas.
Ketika berniat menyimpan beberapa penghasilan di tempat biasa, pandang-annya teralihkan pada kalender yang menggantung menutupi retakan kecil di dinding. la sadar bahwa hari semakin mendekati angka yang dilingkari tinta merah. Hatinya bergemuruh, sementara kedua tangan yang setiap hari bergulat dengan adonan kue itu mengambil se- buah wadah di sudut kamar dan me- ngeluarkan isinya.
“Satu, dua, tiga…”
Lembar demi lembar ia cermati tanpa satu pun terlewati. Setelah wadah itu be-nar-benar kosong, Pria Jahe berdesah dengan isi wadah yang telah berpindah ke tangannya dengan genggaman se-mierat. Kedua bola mata dengan iris se-cokelat kue yang tiap hari dibuatnya itu menyusuri ruangan, tak tahu harus berbuat apa. la seperti insan yang kehi-langan kunci pintu kebahagiaan.
“Masih kurang banyak.” Berkatalah ia dengan pelan. Berharap hanya rayap penggerogot dipan yang mendengamya.
“Ada apa, Nak?”
Terdengar suara lemah nan mendayu dari seorang perempuan renta yang berdiri di dekat pintu. Rangka dan raga yang tak lagi sekuat dulu mengharuskan-nya menggunakan sepotong tongkat sebagai alat bantu. Dengan segera, Pria Ja-he menaruh kembali semua uang ke wadahnya. la bungkam seribu bahasa, seakan seluruh kosakata hilang dari be-nak. Tak mau membuat keadaan menjadi pilu, ia pun tersenyum dan berkata seadanya.
“Tidak ada apa-apa, Bu.”
lbu yang sepertinya kurang yakin den-gan jawaban putra semata wayangnya itu hanya menatap Pria Jahe dengan ragu dan khawatir, tetapi sarat akan kasih sayang.
“lbu istirahat saja. Saya harus mengan-tar pesanan,” kata Pria Jahe sambil mengecup kening sang ibu lembut Usai bersiap, berangkatlah dia.
**
“Dari mana aku mendapat kekurangan uang sebesar itu dalam waktu dekat?” pikir Pria Jahe tatkala melangkahkan kaki dari peradaban pemesan kuenya. Tak disangka ia tadi bertemu lintah darat yang ia pinjam uangnya beberapa bulan lalu untuk pengobatan sang ibu.
“Lunasi dalam seminggu, atau tinggalkan rumahmu!”
Kata-kata bernada ancaman yang tadi dilontarkan mulut lintah itu terngiang dalam pikirannya. Singkat, tidak bertele- tele, tetapi pedang kalimat itu sukses menghunusnya tepat di ulu hati. Pasti orang awam bisa melihat dengan jelas kegundahan yang melanda pria seperem-pat abad itu.
Semua hal tentang utang-piutang yang membebani Pria Jahe berkecamuk dalam pikiran. Selama perjalanan pulang, sesekali kedua tangannya menggaruk kulit kepala yang sama sekali tidak gatal. Langkahnya gontai seperti orang yang tidak tidur tiga hari lamanya. Orang-orang yang lalu lalang tidak digubrisnya. Peda-gang kaki lima yang kebanyakan tetang-ganya heran dengan sikap Pria Jahe kare-na biasanya bibir itu basah dengan sapaan “selamat siang”, “hai”, dan sejenis-nya.
Setelah dua kilometer melangkahkan kaki di jalan aspal yang sedang berfata- morgana, akhimya Pria Jahe tiba di se-buah bangunan berbata merah yang berada di sisi kiri jalan.Tak ada yang tahu nasib rumah itu beberapa hari lagi. Apakah orang setara tikus berdasi itu akan menancapkan bendera kemenangan di peradaban rakyat jelata yang dibodohi kala kesempatan tiba?
“Aku harus mempertahankan rumah ini demi ibu. Jika disita, aku bisa merantau. Aku bisa tinggal beratapkan langit. Na-mun, ibu? Sengat matahari dan angin malam tidak boleh menemani masa tuanya,” pikir Pria Jahe sambil terisak dalam hati.
“Hai, Pria Jahe!”
Orang yang merasa disapa pun menoleh.
“Hai, Bob! Dari mana, kau?” balasnya menutupi hati yang gundah gulana.
“Aku baru saja meminjam uang dari bank kota untuk modal usahaku. Mereka memberikan bunga yang kecil,” ujar yang dipanggil Bob itu.
“Benarkah?”
“Benar. Baiklah, aku pergi dulu.” Orang itu pun beranjak sambil melambaikan satu tangannya kepada Pria Jahe.
“Tahu seperti itu, aku tidak akan mem-injam pada rentenir sarkastis itu! Nahas. Hm, apa aku harus…” Seketika segurat senyum terpoles di bibimya.
**
“Ke kota, Tuan,” ucap Pria Jahe ketika sebuah kereta kuda berhenti. Dengan bekal beberapa kue jahe dan uang seadanya, ia mencoba mencari nasib di sebuah bank tengah kota.
“Hari ini aku akan berdagang di kota, Bu,” ucapnya sedikit tidak jujur kala itu.
**
“Akhirnya kau melunasinya juga,” ucap rentenir sambil tersenyum sarkastis. Pria Jahe hanya tersenyum pahit dan segera pergi dari sana. Satu utang telah kandas. Paling tidak rumahnya aman.
“Pria Jahe, Pria Jahe! Akhimya kau kembali. Rumahmu….” Salah satu tetang-ga berkata dengan napas terengah--engah. Tanpa tahu duduk persoalannya, Pria Jahe segera berlari menuju rumah yang baru saja diselamatkannya.
Pemandangan di depannya sangat di luar nalar. Jago merah berkobar dengan ganasnya, melahap rumah berbata merah itu. Berpuluh-puluh ember diayunkan un-tuk menghempaskan air di dalamnya.
“lbu!” Pria Jahe panik. Tanpa memedu-likan sekitar,tubuh tegap itu menembus rumah yang sudah tertutup api. Orang- orang yang sibuk memadamkan kelakuan jahanam api itu tak menyadari seseorang telah melanggar garis keselamatan. Panas menyelimutinya. Sosok yang dicari tidak ditemukan jua. Sahutan demi sahutan kalah dengan suara merah yang marah. Hingga akhimya….
“Aarrgghh!”
**
Di sebuah rumah kecil di ujung jalan, seorang perempuan tua menatap kosong jalanan di depannya. Mata yang sudah tak awas lagi tengah menanti seseorang. Satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki untuk menemani hari tua.
Sendok bernasi yang disodorkan orang di sampingnya, si pemilik rumah, tak kun-jung digubris.
“Apa ada kabar darinya? Anakku belum kembali.”
Orang-orang yang ada di sana tak mampu berbuat apa-apa. Hanya menatap iba seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya.
“Pria Jahe mungkin masih di kota,” ucap salah satu dari mereka.
Entah sampai kapan perempuan tua itu harus menanti, sebab yang dinanti sudah pergi. Pria Jahe, lelaki bujang yang mati-matian menyelamatkan rumah demi sang ibu, kini sudah mati. Bersama puing-puing rumah berbata merah dan kue-kue jahe yang menjadi abu. Si merah sudah mela-hap semuanya. Termasuk harapan Pria Jahe menemani masa senja sang ibu, di rumah itu. ***
[1] Disalin dari karya Febbi Sena Lestari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 14 Oktober 2018
The post Pria Jahe appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2yCxwUf
KAU tahu kenapa aku memanggilmu datang? Aku kira sudah terlalu lama kau sembunyi. Sudah waktunya beraksi lagi. Ya, aku tahu, perjalanan menuju kota ini memang berat. Melelahkan. Tapi tenang. Aku tak akan mengecewakanmu. Begini. Aku mendapat musibah berat dan besar. Ini semua karena Marda. Dia yang membuat aku jadi begini. Aku ingin melihat dia juga menderita. Agar kau paham duduk perkaranya, aku ingin ceritakan tentang sesuatu kepadamu.
Ya, malam itu, karena lelah setelah seharian mengikuti rapat di kantor, tanpa terasa aku tertidur di kursi ruang kerja rumahku. Tak lama kemudian, aku bermimpi. Aku melihat lima burung bertengger di atas meja kerjaku. Suasana begitu mencekam. Aku tidak suka dengan keberadaan mereka. Ingin mengusir mereka. Tapi tidak bisa. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Seperti ada kekuatan gaib mengunci tubuhku. Hanya mulut dan dua bola mataku saja yang bisa digerakkan. Akhirnya, kerena tidak bisa berbuat apa-apa, aku membiarkan mereka.
Kemudian aku merasakan suatu keanehan. Rumahku yang biasanya ramai dengan suara Noni, tiba-tiba menjadi sepi. Padahal, hari masih siang. Bahkan, detak jam pun tak terdengar. Ke mana suara-suara pergi, juga di mana Noni berada, aku tidak tahu. Aku pun menaruh curiga. Jangan-jangan burung- burung itu telah memangsa Noni. Sebab mereka sama sekali tak tampak seperti burung yang biasa aku lihat di sawah-sawah, atau di ranting-ranting pohon, atau di kabel-kebal listrik, atau di TV, atau di tempat lainnya. Tubuh memang kecil, tapi paruh mereka panjang dan besar. Mereka memiliki daun telinga lancip, ekor panjang, bulu- bulu hitam legam dan mata merah seperti bola api yang membara. Aku pun berprasangka, mereka burung kiriman dan memiliki kekuatan gaib. Langsung aku menuduh Marda. Ya, hanya dia musuhku. Dia yang selalu berusaha mencelakai aku dengan cara-cara halus (sihir/ilmu hitam). Untung tubuhku sudah diberi mantra penangkal sihir sama Pakde. Kalau tidak, aku pasti mampus pada serangan sihir pertama.
Karena Noni tidak muncul- muncul dalam waktu lama, aku pun meyakini dia memang sudah dimangsa burung-burung itu. Tapi, anehnya, aku tidak bersedih. Bahkan aku merasa senang. Merasa bebas. Lalu, aku mendengar suara melontarkan pertanyaan: Buat apa memiliki kebebasan kalau tubuhmu tidak bisa bergerak? Aku tidak tahu dari mana suara itu berasal. Pertanyaan itu benar sekali. Aku pun berpikir keras, mencari cara agar tubuh bisa bergerak. Pada saat berpikir itulah aku mendengar salah satu dari burung itu berkata: Salam, Tuan. Dia menyapaku. Terus terang aku terkejut. Bukan karena suara burung itu, melainkan karena burung itu bisa bicara. Dan itu semakin melengkapi keyakinanku, burung-burung itu bukanlah burung sembarangan. Burung-burung itu adalah burung kiriman. Pasti Marda yang mengirim. Lalu burung itu bicara lagi.
”Saya Ababil, dan empat kawan saya ini adalah panglima- panglima saya. Pasukan saya banyak.”
Betapa kagetnya aku saat burung itu menyebut nama. Membuat aku bertanya-tanya, apakah benar burung kecil dengan bentuk tubuh aneh ini adalah Ababil? Kami pun terlibat dalam percakapan panjang.
”Untuk apa kamu datang ke sini?” tanyaku.
”Mengambil jantung Anda,” jawab burung yang mengaku sebagai Ababil itu. Melototlah mataku. Aku pun bepikir kalau mereka juga sudah melahap jantung Noni. Gawat, batinku.
”Untuk apa jantungku kamu ambil?” tanyaku lagi.
”Untuk diberikan kepada anjing- anjing neraka. Mareka sangat senang memakan jantung manusia macam Anda ini,” jawab burung itu.
”Kamu pasti bergurau,” tegasku.
”Tidak, saya tidak sedang bergurau,” tegas burung itu.
”Siapa yang memberi perintah kepadamu?” tanyaku.
”Tuhan,” jawabnya lugas.
”Tuhan yang mana?” tanyaku mencecar.
”Tuhan Anda, Tuhan saya, Tuhan sekalian alam,” jawabnya lagi.
”Mustahil Tuhan memberi perintah semacam itu kepadamu. Kamu bukan malaikat, nabi, atau rasul. Kamu cuma penghuni udara yang jika mati akan menjadi debu dan tak dikenang lagi,” tandasku.
”Kenapa mustahil? Dia Maha Pencipta dan Maha segala- galanya. Dia bisa memberi perintah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, termasuk kepada saya. Saat ini, saya adalah utusan- Nya,” tegas burung itu.
”Kamu bukan utusan. Kamu hanya burung kiriman, burung jadi-jadian,” bantahku.
”Saya bukan burung kiriman, apalagi jadi-jadian. Saya burung yang telah diberi kekuatan membunuh dan menghancurkan oleh Tuhan. Jangankan mengambil jantung Anda, membakar Anda saya juga bisa,” tegas burung itu.
”Kalau kamu memang sudah mendapatkan perintah, pasti ada alasan kenapa Tuhan menyuruhmu mengambil jantungku,” tanyaku.
”Tentu. Tuhan menyuruh saya dan kawan-kawan saya mengambil jantung Anda karena Anda sudah terlampau jahat sebagai manusia,” jawab burung itu.
”Jahat bagaimana? Kamu mengada-ada,” tanyaku.
”Saya tidak mengada-ada. Tuhan juga tidak mengada-ada. Coba Anda ingat-ingat. Sudah berapa luas tanah yang Anda beli untuk dikuasai. Anda ancam para petani dan tanah mereka Anda beli dengan harga murah. Anda banguni tanah-tanah itu dengan rumah-rumah untuk dijual lagi. Tak hanya itu, Anda juga telah mengkhianati kepercayaan masyarakat yang telah memilih dan menaruh harapan kepada Anda. Banyak mata menumpahkan air mata gara-gara mulut Anda. Banyak jiwa menderita gara-gara ketidakpedulian Anda. Apa Anda sudah lupa dengan semua itu? Bukan hanya orang miskin dan tidak berdaya yang Anda sakiti, tapi juga burung- burung sawah teman kami. Anda itu jahat sekali sebagai manusia,” oceh burung itu.
”Aku tidak paham apa maksudmu,” tukasku.
”Anda tidak paham atau pura-pura tidak paham? Atau jangan- jangan otak Anda sudah tidak bisa lagi digunakan dengan baik,” sergahnya.
”Baiklah, aku paham. Tapi, apa hubungannya dengan jantungku?” aku menyerah dan balik bertanya.
”Saya juga tidak tahu. Saya hanya menerima perintah. Kalau Anda ingin tahu jawabannya, jantung Anda harus saya ambil dulu. Setelah itu, Anda mati dan bisa menghadap Tuhan dan silakan bertanya sepuasnya,” jawab burung itu.
”Ah, kamu semakin ngawur bicaranya. Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Cepat pergi dari sini. Dasar burung jadi-jadian. Pasti yang mengirim kamu Marda, kan? Tukang sihir yang rumahnya di ujung jalan itu? Dia itu memang selalu iri kepadaku karena dulu kalah saingan denganku waktu nyalon jadi anggota dewan kota. Sekarang dia mencalonkan diri kembali. Jadi, karena takut kalah lagi, dia mengirimmu untuk mencelakaiku. Benar begitu, kan?” tandasku.
”Anda yang ngawur, Tuan. Saya tidak kenal Marda! Sekali lagi, dengar baik-baik, saya ini adalah utusan Tuhan,” hardik burung itu.
”Sudahlah jangan mengelak,” timpalku.
”Sepertinya Anda sukar diyakinkan, dan rasanya percuma juga saya bicara panjang-lebar lagi hanya untuk meyakinkan Anda. Sebaiknya saya dan kawan-kawan melakukannya sekarang,” tegas burung itu.
”Kamu mau melakukan apa?”.
”Sudahlah, diam saja mulut Anda.”
Burung-burung itu lantas terbang. Berputar-putar di atas kepalaku. Kemudian, dengan kecepatan penuh, mereka menukik ke dalam dadaku secara bersamaan. Tak lama, mereka membawa jantungku pergi. Itulah yang membuat aku terperanjat bangun karena merasa ada yang hilang di dadaku.
Mataku terbuka dan segera disambut dengan suara dering ponsel. Staf di kantorku yang menelepon. Dia mengabarkan ada yang membakar rumah-rumah yang baru aku bangun; rumah- rumah yang sudah menghabiskan biaya miliaran rupiah; rumah- rumah itu sudah dibeli orang. Gara-gara kabar itulah jantungku jadi sakit. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus mendekam di rumah sakit mahal ini. Aku telah mengalami kerugian besar.
Begitulah ceritanya. Apa kau sudah paham sekarang? Jadi, apa yang menimpaku ini tak lain tak bukan ialah gara-gara perbuatan Marda, musuh bebuyutanku.
Sekarang, tugasmu ialah membuat Marda menderita. Tapi, jangan sampai terbunuh. Kau mau apakan dia, terserah. Ingat, jangan sampai terbunuh. Bukankah kau sudah mahir melakukan hal-hal macam itu? Nah, begitu. Jadi, segera laksanakan perintahku ini. Kalau berhasil, ada imbalan besar untukmu. Tak usah khawatir. Ini foto Marda. Kau ingat baik-baik. Jangan sampai salah orang.
Asoka, 2018
Agus Salim, lahir di Sumenep pada 18 Juli 1980. Ia tinggal di Jalan Asoka, Madura, Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdananya berjudul Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring.
[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 14 Oktober 2018
The post Musuh Bebuyutan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2CKXkC2
MARNI mendayung perahu kecilnya lebih jauh. Air kembang berwadah mangkuk perlahan ia percikkan pada keluasan samudra. Warna air laut tampak jernih. Cahaya rembulan malam itu sempurna membuat air laut berwarna keemasan. Segalanya tampak berkilau. Pernak-pernik beberapa lampu perahu terlihat seperti kawanan kunang-kunang di tepian pantai. Tak ada ombak. Laut begitu tenang. Desir angin mengalun lirih.
MARNI terus mendayung perahu kecilnya ke tengah samudra luas itu lebih jauh. Perahu kecil yang hanya cukup menampung dua orang itu ia kayuh sendiri.
Tak lama kemudian, kira-kira dari jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai, ia berhenti. Ada rasa takut yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Bukan karena tengah malam, tapi ada hal lain yang membuatnya harus berdiam dan menyelam kembali ke dalam ingatannya. Dari atas perahu kecil yang ditungganginya, perempuan itu menatap jauh keluasan samudra. Tak ada satu pun sesuatu yang bisa ia tangkap dari pandangannnya, selain kekosongan. Sesekali sorot matanya menabrak sebuah kapal besar yang mendarat di kejauhan sana. Tapi bagi Marni, itu tetap sebuah kekosongan. Kapal pengangkut barang- barang. Begitu yang ia ketahui. Entah sudah berapa malam kapal besar itu mendarat di kejauhan sana. Sebagai perempuan yang tak pernah bepergian lintas pulau, ia tidak begi-tu tahu tentang hal itu.
Marni hanya mendayung dan memutar- mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai. la tidak tahu ke arah mana lagi perahu itu akan ia kayuh. Sudah genap empat puluh hari kematian suaminya, Marto. Namun, sampai saat ini mayatnya tidak juga ditemukan.
Berbagai pencarian pun sudah dilakukan, tapi tidak juga membuahkan hasil. Marni tidak ingin bila dirinya juga ikut tenggelam di tengah keluasan samudra itu jika ia terus mendayung perahu kecilnya lebih jauh ke tengah. Laut ini hanya akan melenyapkan nayawaku. Gumamnya, lirih.
Marni kembali memercikkan air kembang berwadah mangkuk itu dari atas perahu ke-cilnya. Langit bersih, cahaya bulan masih sempurna menerangi air laut dengan warna keemasan.
“Bila laut sepenuhnya kuburmu, haruskah aku mengarungi samudra luas ini lebih jauh, sementara aku tidak pernah tahu, di laut mana engkau tiada.”
Ada nada sedih saat mulutnya mengucap-kan kalimat itu. Air kembang bercampur doa terus ia percikkan tanpa henti. Perem-puan itu begitu benci terhadap laut. Bahkan, jauh sebelum suaminya mati tenggelam, sangat jarang Marni pergi ke laut walaupun jarak rumahnya dengan laut berdekatan. Ia lebih memilih berdiam di rumahnya. Semen-jak itu pula, Marni tidak lagi menekuni pekerjaannya sebagai penjemur ikan di tepi pantai, apalagi sampai berperahu sendirian seperti yang ia laukan malam itu.
Baginya, laut tidak lebih dari sesosok maut. Dulu, Bapaknya seorang pelaut besar juga mengalami hal yang sama, tenggelam dan meninggal di tengah keluasan samudra. Setelah kematian Bapaknya, Marni merasa trauma hidup di kampungnya sendiri, kampung pesisir, pulau garam. Ia selalu membu-juk suaminya untuk pergi ke Jakarta.
Malam itu, sambil mendayung dan memutar-mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meterjauhnya dari tepian pantai, Marni berkeinginan untuk me-ngakhiri kehidupannya di pulau garam, pu-lau yang dipercaya sebagai penghasil garam terbesar di kampungnya. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari laut ini. Gumamnya lirih. la akan pergi ke Jakarta untuk memulai kehidupan barunya sebagai penjaga toko kelontong. la tidak bisa lagi membendung kabar yang terus menerus menghujani telinganya bahwa hidup di bumi Jakarta bisa mengubah perekonomian orang-orang yang senasib dengan dirinya. Di Jakarta kita bisa hidup mewah, bisa membangun rumah, beli mobil, tanpa bekerja keras. Begitu kabar yang selalu ia dengar.
Ketika suaminya hidup, Marni selalu men-gusulkan hal itu. Tapi Marto, suaminya tidak pernah setuju. Marto merupakan lelaki yang tangguh, ia tidak ingin meninggalkan tanah moyangnya sekalipun harus hidup terlunta- lunta.
Di tengah kehidupan kampungnya yang semakin sepi oleh penduduk, Marto tidak setuju jika dirinya juga ikut dalam peran-tauan itu. Baginya, hidup di Jakarta belum tentu menjamin kehidupannya menjadi lebih baik. Sebagai biaya ongkos, tentu ia harus menjual sebagian lahannya ke pihak asing. ltulah yang dilakukan kebanyakan orang di kampungnya. Dalam kondisi sosial seperti itu, pihak-pihak asing pun banyak yang datang untuk membeli lahan-lahan mereka dengan harga yang sangat mahal.
Marto tidak ingin hal itu terjadi pada keluarganya. la tidak ingin jika kampungnya harus ditanami bangunan-bangunan beton bertingkat tinggi. Sebagai orang yang hidup di kampung pesisir, pulau garam, Marto ingin tetap mempertahankan pendiriannya sebagai seorang pelaut. Ia ingin membuk-tikan kepada penduduk kampungnya bahwa bukan karena pergi ke Jakarta kehidupan seseorang bisa lebih baik dan lebih mewah
Namun, usia Marto tidak sepanjang harapannya. Di tengah musim hujan saat ia sedang berlayar, tiba-tiba badai besar me-lenyapkan semuanya. Marto tenggelam bersama perahunya yang karam. Hingga sampai usia kematiannya mencapai empat puluh hari,mayatnya masih tidak juga dite- mukan. Kepingan-kepingan perahunya yang hancur,semakin memperkuat dugaan Marni bahwa suaminya benar-benar tiada.
“Jika saja kau tidak keras kepala, mungkin kita masih bisa berpelukan. Seperti mereka yang sudah membangun rumah baru di tempat jauh, punya mobil, hidup mewah, tidak seperti kita yang hidup terlunta-lunta. Laut ini sudah tidak menjanjikan apa-apa la-gi. Tak ada apa pun yang dapat kita peroleh darinya, selain kesedihan yang sepenuhnya Tuhan peruntukkan kepadaku. Namun, kau masih tetap dengan pendirianmu. Kau
masih menaruh harapan besar pada laut ini.”
Sambil mengucapkan kalimat itu, Marni terus memercikkan air kembang bercampur doa ke tengah keluasan samudra. Seakan malam itu benar-banar malam terakhir baginya melakuan ziarah. Sebagai seorang janda yang ditinggal mati suaminya, Marni tidak punya pilihan lain, selain tetap pergi ke Jakarta sebagai penjaga toko kelontong. la tidak punya siapa-siapa lagi. lbunya juga meninggal akibat penyakit sesak napasnya yang tak kunjung sembuh. Keinginannya untuk pergi ke Jakarta sudah bulat. la telah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Sebagai ongkos, ia sudah menjual sebagian lahannya kepada pihak asing.
Marni tidak lagi peduli terhadap perkataan suaminya, sekalipun perkataan itu masih melekat dalam hatinya. Saat Mar-to masih hidup, beberapa kali mereka selalu didatangi pihak asing dan dibujuk agar men-jual tanah miliknya. Namun, Marto selalu menolak. la juga berpesan pada Marni agar sewaktu-waktu, jangan sekali-kalimenyer- ahkan tanah itu pada siapa pun, dan apa pun alasannya. Karena menjual tanah moyang sama halnya dengan menjual harga diri. Begitu ucap Marto.Tapi, Marni tidak lagi mementingkan perkataan itu. Kehidupan di kampungnya sudah membuat ia lupa segalanya. Apalagi tentang laut yang baginya hanya membawa penderitaan.
**
REMBULAN perlahan buram. Warna langit akan segera berganti. Sayup-sayup kokok ayam pun terdengar bersahut- sahutan. Namun, Marni tetap saja di tengah laut itu. la tetap mendayung dan memutar- mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai. la ingin menghabiskan waktunya di tengah laut itu sampai pagi, sebelum akhirnya ia be-nar-benar pergi memulai kehidupan barun-ya di bumi Jakarta.***
[1] Disalin dari karya Saelojung
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 30 Desember 2018
The post Marni appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2VjFpIQ
ANGIN gurun berkesiur pada telinga Naseer. Matanya lekas terbelalak, memastikan sekitar tempatnya bersembunyi aman dari kejaran musuh. Langit masih gelap. Napasnya perlahan ia atur. Nyeri di paha dan punggungnya terasa lagi. Lelap dan kantuknya hilang seketika. Darah yang mengucur di kakinya mulai melambat. Kain putih yang diikatkan oleh Narayya bekerja sebagaimana mestinya. Meski malam, ia bisa memastikan kain itu telah berubah warna menjadi merah legam.
Naseer perlahan bangkit. Ia ingin memastikan apakah Narayya sudah terjaga. Agak pincang, kakinya membawa ia ke sebuah goa kecil, tempat Narayya merebah lelah. Sebelum ia betul-batul masuk, pandangan ibanya sekali lagi ia tujukan pada kuda hitam yang membawa mereka berdua sampai ke sana. Luka akibat lemparan panah dan tombak tak sedikit menggores di tubuhnya. Namun, ia yakin, kuda kesayangannya itu kuat. Ramuan tumbuhan yang dibuat Narayya sepertinya cukup ampuh sebab jelas sekali kuda itu tenang, tidak lagi meringkik dan merintih.
Di dalam goa lumayan terang. Nyala obor masih bertahan walau hanya tersisa satu. Tiga yang lain telah padam. Perasaannya mulai sedikit khawatir. Sorot matanya kembali awas melihat ke sekeliling. Gegas ia memacu langkahnya. Tepat ketika ia menoleh ke arah kiri, Narayya tidak ada di tempatnya. Ia yakin betul perempuan dari kerajaan Moor itu ada di sana dan ia yang memintanya untuk masuk ke dalam goa dan rehat di ruang sempit itu. Naseer merasa kecolongan! Padahal ia pikir tidak lelap-lelap amat sewaktu berjaga di luar. Kalaupun ada seseorang yang masuk, kuda hitamku pasti akan meringkik, lebih-lebih pada orang asing yang tak dikenalnya, pikir Naseer. Akan tetapi, mengingat kudanya ia malah tercekat untuk beberapa saat. Kuda? Kudaku!
Dugaannya benar. Kuda hitam, tinggi, dan penuh luka itu, telah mati. Naseer mengutuki dirinya sendiri. Ia melepas tudung dan jubahnya lalu ia hempaskan ke hamparan pasir. Tidak ada suara selain angin yang berkesiur masuk ke rongga-rongga bebatuan goa. Angin gurun menerbangkan pasir-pasir halus ke udara, mengabarkan pada langit aroma anyir kematian.
Naseer pikir kuda itu hanya sedang tertidur lelap. Sejak mula memang kuda itu merebahkan tubuhnya dengan kepala menyentuh tanah. Namun, entah bagaimana caranya, mulut kuda miliknya menyisakan bau racun, dan leher sebelah kanannya robek oleh sayatan pedang. Pasir di bawah kepalanya cekung dan ada kubangan darah. Aku benar-benar lengah!
Kesatria payah! Pecundang gurun!
Sejauh mata memandang hanya ada hamparan gurun nan luas. Undakan-undakan pasir yang jumlahnya ribuan seolah hendak menyentuh langit gelap di atasnya. Tiada yang bisa ia lakukan sekarang. Meski bintang-bintang mengabarkan ke mana arah permukiman, serasa percuma. Tak soal kalau hanya 10-50 km yang mesti ia tempuh, tetapi ada puluhan mil yang harus ia lalui dengan luka di sekujur tubuhnya. Tanpa kuda? Tanpa unta? Lebih baik mati tertimbun pasir dan lenyap ditelan bumi, pikirnya.
Kemudian ia menyesali hal yang sampai membuatnya terlibat pada pengejaran ini. Bahkan Narayya baru ia kenal tiga hari lalu. Sewaktu mereka menaiki karavan yang sama menuju sebuah rumah bordil. Ia tak berniat meniduri perempuan mana pun setidaknya waktu itu. Ia datang ke sana hanya untuk berjudi. Hasratnya berjudi memang yang paling kuat hingga membawa ia mengembara dari satu perkampungan hingga ke sebuah kerajaan lain.
Naseer turun dari karavan. Matanya sudah tertuju pada kuda hitam yang diikat di dekat pintu masuk. Ia tersenyum. Wajahnya tampak begitu tertarik. Jari-jarinya yang memakai banyak cincin berhiaskan batu-batu itu mengelus rambut kuda. Ia tampak begitu akrab. Sorot matanya yang tajam itu, tiada berkedip sewaktu melihat pelana kuda di depannya. Ia hanya mengangguk kecil seperti mendapati satu jawaban yang memuaskan entah apa.
Seorang putri, yang beberapa jam setelahnya akan ia kenal dengan nama Narayya, juga turun. Mereka melangkah masing-masing. Perempuan itu lebih dulu memasuki rumah bordil. Selang beberapa orang asing lain masuk, barulah Naseer menyusul di belakangnya. Tidak ada yang istimewa. Orang-orang biasa saja memandangnya. Meski saat itu ia membawa logam, emas, dan uang yang cukup lumayan. Sesaat lagi mereka akan paham dari mana pria hitam berambut kriting itu mendapatkan hartanya.
“Perkenankan aku bergabung di meja kalian.” Naseer menaruh barang bawaannya di atas meja. Bandar dan penjudi lainnya menyilakan. Dadu berbentuk pentahedron, yang terbuat dari tulang atau gading hewan itu dikocok dalam gelas kayu. Tapi sebelum dadu dilempat Naseer menahannya. “Kupertaruhkan semua harta milikku ini untuk kuda hitam di luar sana.”
Ia mendorong harta bendanya hingga ke tengah meja. Melihat keberaniannya, para penjudi bisa mengira kalau semua harta bendanya itu hasil berjudi.
Seseorang, yang tak lain pemilik kuda itu, keberatan. Namun, beberapa orang yang duduk melingkari meja itu memberi tanda. Naseer menangkapnya kalau akan ada satu muslihat yang bakal mereka mainkan.
“Aku setuju. Karibku ini hanya butuh diyakinkan. Maklum, itu kuda yang baru ia peroleh dari seorang pengembara,” ucap pria tambun yang beserban hitam di kepalanya, si bandar.
“Katakan, berapa angka keberuntunganmu?”
Mulanya Naseer tampak ragu, sebab ia sudah masuk dalam perangkap. Namun, demi mendapatkan kuda hitam miliknya lagi, ia harus memenangkan pertaruhannya. “Angka 3, entah mengapa aku tak pernah seyakin ini saat berjudi,” ia menggertak.
Lalu si bandar bertanya pada penjudi yang lain, setuju untuk ikut atau tidak. Karena gengsi, mereka yang tak memiliki kuda hitam, pantang mundur. Segala emas, perak, perunggu, uang, logam, dan benda berharga lainnya mereka pertaruhkan di meja judi itu. Sementara itu, si pemilik kuda hitam mau tidak mau harus turut dalam permainan. Si pria tambun menatapnya penuh ancaman Naseer menangkap gelagat itu.
Dan Narayya, matanya membahasakan sesuatu kepada Naseer. Ia memberi kode dan petunjuk apa yang mesti ia lakukan kalau menang. Ia berdiri tidak jauh dari balik punggung si bandar. Naseer tidak tahu bagaimana ia tahu kalau perempuan itu memang sedang menyampaikan sesuatu yang ia tangkap dalam kepalanya. Ia yakin betul pesan itu yang ingin si perempuan berikan.
Lalu dadu segi delapan itu di lempar ke meja judi. Tidak ada angka lain yang keluar selain titik tiga berada di atas. Semua penjudi tidak yakin. Mereka semua berdiri dan memastikan kalau angka lain yang muncul. Tak soal karibnya yang menang asal bukan si pengembara asing itu.
Apa mau dikata, nasib mujur memang sedang menimpa Naseer. Narayya tanpa aba-aba maju ke dekat meja dan membantu mewadahi hasil taruhan ke dalam tas milik Naseer. Dari air mukanya, semua penjudi tampak geram. Jangan ditanya bagaimana wajah si bandar; merah kehitam-hitaman dengan urat-urat menjalari kedua sisi dahinya.
“Sebaiknya kita pergi sekarang,” bisik perempuan berkalung manik-manik yang berkilauan itu. “Perkenalkan, namaku Narayya.”
“Tuan, angkat aku jadi budakmu. Aku tak punya apa-apa lagi, kumohon,” salah seorang penjudi mengiba. Namun, belum Naseer menjawab, Narayya mendorong si calon budak itu.
“Ingat, di tanah asing, jangan memercayai siapa pun.” Sekali lagi Narayya meyakinkan Naseer.
Dengan menggondol tiga karungan besar hasil judi, perempuan itu berlari keluar menuju kuda hitam. Naseer bingung mengapa perempuan itu tiba-tiba membantunya.
“Terima kasih atas kebaikanmu. Ambillah ini dan biarkan aku pergi sendiri,” dua bongkah emas batangan ia serahkan pada perempuan itu.
“Apa maksudmu? Aku tidak ingin hartamu. Aku hanya butuh tumpangan sampai ke permukiman bangsa Moor. Aku seorang putri. Ayahku memiliki harta benda semacam ini seratus kali lipat dari yang kau punya,” ucapnya sembari menaiki pelana kuda.
Naseer tidak mau ambil pusing. Kuda hitam miliknya yang sempat dicuri orang telah kembali ke tangannya. Ia hanya perlu mengantarkan perempuan itu ke tempat asalnya. Lalu ia bisa kembali melanjutkan perjalanan. Lagipula, pandangan orang-orang di tempat judi itu sudah tidak mengenakkan. Bahkan beberapa berpindah dari tempat duduknya untuk mengambil…. senjata masing-masing. Ia harus segera pergi dari sana!
“Lekaslah! Mereka murka atas kemenanganmu!” Narayya menarik lengan Naseer. “Pegangan yang erat. Pastikan kau tidak merusak hari keberuntunganmu.”
“Kau boleh mengerti wilayah ini, tapi urusan menunggang kuda, serahkan pada ahlinya.” Naseer ambil sikap. Ia memacu kuda hitam kesayangannya itu. Entah bagaimana bisa ia menuruti apa kata si perempuan asing yang baru dikenalnya bahkan mengenalkan diri tanpa ia pinta. Orang-orang berlari dan berteriak. Mereka tak terima dengan kekalahannya.
Bergegaslah mereka menaiki kuda dan unta milik masing-masing. Panah, pedang, dan tombak tak luput mereka bawa. Naseer jadi buronan seperti kijang dalam kepungan harimau.
Beruntung Narayya tahu ke mana mesti Naseer membawa kudanya. Meski pendatang, perempuan itu begitu hafal lekuk jalan dan watak orang-orang di sana, pikir Naseer. Namun ia tak mau banyak bertanya. Ia mesti fokus dan keluar dari masalah ini.
Sialnya, para penjudi itu membawa banyak kawanan. Situasinya betul-betul seperti dalam perang dua negara yang tak usai-usai. Bahkan hingga ke gurun Naseer dan Narayya dikejar-kejar. Sehebat apa pun mereka menghindar, beberapa anak panah dan tombak melukai tubuh mereka masing-masing, termasuk si kuda hitam.
“Dan sekarang aku di sini, di tengah gurun pasir, seorang diri. Di tanah asing, seharusnya aku tidak memercayai siapa pun. Termasuk perempuan keparat dari bangsa Moor itu!”
[1] Disalin dari karya Ade Ubaidil
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 17 Maret 2019
The post Narayya dari Moor appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2UHWAmy
NAMAKU Muhamad Bagaskara, teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Bagas. Aku sering dijuluki si anak batu, mungkin karena aku memiliki karakter yang sangat pendiam. Tapi aku sama sekali tidak pernah marah dengan julukan itu, pikirku itu hak mereka menjulukiku seperti itu.
SEBENARNYA aku hanya tidak ingin banyak omong apalagi jika omonganku itu tidak bermakna rasanya tidak penting bagiku. Usiaku sekarang menginjak 13 tahun, angka yang bagi sebagian orang memiliki makna yang sangat buruk.
“Aku merinding jika aku ingat angka itu, rasanya ngeri sekali, kata orang sih itu angka sial!” Aku mencoba untuk tidak percaya tentang angka itu.
“Aaah… semua angka bagiku sama.” Aku sering menepis tentang hal ini. Tapi rasa itu begitu kuat manakala teman-temanku selalu mengatakan akan hal itu. Perlahan aku pun terpengaruh dengan mitos itu, angka itu memang sial bagiku dan aku memiliki buktinya. Di saat usiaku 13, aku memiliki pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan, bagiku itu cukup bahwa angka itu memang sial bagiku.
Miris memang di zaman milenial ini masih memercayai hal mistis seperti itu. Tapi itulah yang terjadi, di usiaku yang ke 13 aku mengalami kesialan itu. Pengalaman itulah yang membuatku yakin akan mitos angka itu. Tiga belas adalah angka sial dalam hidupku. Dalam satu kesempatan aku pernah bertanya tentang hal itu pada ibuku.
“Bu! Percaya enggak kalau angka 13 itu adalah angka sial?” tanyaku pada ibu sambil menatap ke arah ibu yang sedang terduduk sambil mengerjakan sulaman pesanan orang tidak jauh dariku.
“Apa? Kok, kamu bertanya seperti itu, Gas?” jawab ibuku sambil beranjak dan duduk persis di sampingku, dia hentikan sulamannya. Sesaat kemudian tangannya membelai kepalaku. Entahlah aku merasa nyaman setiap kali ibu membelai kepalaku. Seperti halnya saat itu, terasa sangat nyaman, aku memang sangat dekat dengan ibu.
“Iya, Bu! Banyak temanku yang bilang kalau angka itu begitu sial…!” ujarku tersendat. Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena ada desakan kesedihan dalam dadaku yang begitu hebat menerjang. Aku hanya bisa menarik napas yang panjang sekali. Aku tidak sanggup berkata-kata, lidahku terlalu kelu untuk berucap. Terasa dadaku terimpit desakan kesedihan yang teramat dalam. Hingga membuat napasku tersenggal-senggal.
“Memangnya kamu merasakan kesialan apa?” Tanya ibuku sambil tersenyum kecil kepadaku. Anak dan ibu itu terdiam untuk beberapa saat, suasana pun menjadi hening. Sesekali mereka hanya beradu pandang penuh tanya. Aku terdiam dan terdiam belum mampu memberi sebuah jawaban yang akan membenarkan pendapat tentang angka 13 itu. Pikirku bergejolak, pandanganku hanya tertuju pada ibuku. Kini ibu adalah segalanya bagiku. Ibuku seorang yang sederhana, dialah orang terhebat dalam hidupku, yang melahirkan, merawat, menjaga, dan membesarkanku hingga tumbuh sehat seperti ini. Ibuku menjadi tulang pungung keluargaku saat ini.
“Bu!” tanyaku singkat sekali. Tatapanku tertuju pada ibuku yang terlihat penasaran. Entah dorongan dari mana tiba-tiba aku menghambur dan merangkul ibu erat sekali. Saat itu aku begitu melankolis, seakan menjadi laki-laki yang sangat cengeng.
“Kamu kenapa? Ceritalah pada Ibu, jagoanku!” Jawab ibuku seraya membelai kepalaku penuh kasih dan sayang. Aku masih belum bisa menjawab tanya itu, aku masih terdiam seribu bahasa. Angin pun seakan berhenti berembus dan bersiap mendengarkan jawabanku tentang sebuah tanya yang ibu lontarkan.
“Memangnya kamu merasakan kesialan apa?” kembali ibu mengulang pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu kembali membuat emosi jiwaku bergejolak sampai ke dasar hati yang paling dalam.
“Iya, Bur jawabku pendek sambil terisak menahan tangis.
“Apa buktinya kalau angka 13 itu sial bagimu?” tanya ibu sambil
menatap ke arahku penuh arti, kemudian lagi-lagi ibu membelai kepalaku penuh kasih. Aku merasakan kenyaman itu lagi dan lagi. Hatiku merasa tenang dibuatnya.
“Apakah Ibu tidak akan marah jika aku jujur, Bu?” tanyaku seraya menatap wajah ibuku yang selalu berada di sisiku di saat aku dalam masalah. Terlihat ada gurat kelelahan di wajahnya karena harus banting tulang mencari nafkah untuk keluarga. Sementara aku belum bisa apa-apa karena aku masih duduk di bangku SMP. Itu semua jadi tanggung jawab ibu karena ayahku telah meninggal beberapa waktu yang lalu disebabkan penyakitnya yang tak kunjung sembuh.
Orangtuaku selalu bercerita padaku agar suatu hari aku harus menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang banyak dan tidak egois memikirkan diriku sendiri. Ayahkulah yang selalu memotivasiku agar selalu maju dan terus berjuang demi mencapai semua yang aku cita-citakan sejak aku masih kecil dahulu. Cita-citaku adalah ingin punya banyak uang dan punya rumah mewah yang bertakhta emas dan permata. Hal itu menjadi sebuah kenangan terindah bagiku.
“Nak, jangan bengong, ayo ceritakan pada Ibu, kenapa kamu percaya angka 13 itu sial bagimu?” desak ibuku dengan gaya bicara yang sangat enak didengar. Aku sangat kenal ibuku, seingatku ibu belum pernah marah padaku, meski kadang aku melakukan kesalahan.
“Aku, tau Ibu tidak pernah marah.” Jawabku sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
“Ibu tidak akan pernah marah padamu, Sayang!” Jawab ibu sambil menatapku. Aku tidak sanggup membalas tatapan itu
“Aku percaya bahwa angka 13 itu sial bagiku, Bu!” jawabku sambil tertunduk lebih dalam lagi. Tak sanggup aku menatap wajah ibu.
“Iya tapi apa buktinya?” tegas ibuku lagi. Untuk sesaat aku terdiam, air mataku mulai berderai membasahi pipiku. Tak kuasa aku menahan rasa yang begitu mengiris hati. Tangisku pecah saat itu sebelum aku mampu menjawab pertanyaan itu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan kelaki-lakianku, aku ingin menangis dan menjerit meratapi nasib ini.
“Bagas! Apa yang membuatmu sesedih ini?” Tanya ibuku dengan air muka yang menyiratkan kesedihan melihat kondisiku seperti sekarang ini. Aku mencoba menenangkan emosiku, meski sangat susah karena emosiku terus mendesak.
“Iya, Bu!” jawabku singkat sekali.
“Ceritakanlah pada Ibu, kenapa kamu merasa sial dengan usiamu yang ke-13 itu?” Tanya ibunya lagi. Tangannya mengusap air mataku yang terus berderai membasahi pipiku. Perlahan akhirnya aku mencoba menjelaskan pada ibu kalau mitos itu benar sekali menimpa hidupku di usia ke-13.
“Di usiaku yang ke-13, aku kehilangan sosok ayah untuk selamanya dan kini aku menjadi anak yatim, Bu!” ujarku seraya membenamkan kepalaku di pangkuan ibu yang hanya bisa terdiam mendengar penjelasanku. Sesaat aku mendengar isakan tangis ibu pecah, terasa tangan lembutnya membelai kepalaku. Dalam isak tangisnya, ibu terdengar berujar.
“Jadi ini yang kamu anggap sial, Nak!” ujar ibu dengan nada suara memarau di sela isakan tangisnya yang seakan tidak bisa tertahankan lagi. Aku mencoba menegakkan kepalaku dan mencoba menatap wajah ibuku penuh dengan kepiluan. Aku hanya mampu menganggukkan kepala pertanda mengiyakan pernyataan ibu.***
[1] Disalin dari karya Agus Nurjaman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 27 Januari 2019
The post Usiaku 13 appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2GifbBz
POTONGAN-POTONGAN kenangan tentangmu beranak pinak dalam ingatan. Satu demi satu kenangan itu mendatangiku setelah tiba-tiba kau menghubungiku kembali. Rupanya kau dengan sengaja ingin menyelinap dalam hidupku. Aku sudah lama tidak melihatmu, kini kau menghubungiku kembali. Katamu, beberapa hari terakhir ini kau tak bisa tidur. Namun, adakah kau berharap agar kelak aku bisa membuatmu jatuh tertidur setelah aku datang menemuimu?
Kata-katamu yang penuh rahasia mampu melipat jarak di antara kita. Menyeretku untuk menemuimu dari luar kota dan saat itulah kali pertama aku melihatmu meringkuk dalam kecemasan yang sangat. Jalan pikiranmu kurasa telah terperangkap dalam kegelapan panjang tanpa harapan. Menatapmu kembali setelah sekian lama tak berjumpa membuat jantungku berdebar, bukan karena nostalgia, melainkan karena keluhan-keluhanmu yang menyudutkan dirimu sendiri pada suatu ketidakwajaran. Dalam ingatanku, kini kondisimu bertolak belakang dengan gaya hidupmu yang penuh rasa semangat dan percaya diri pada saat aku mengenalmu jauh di masa lalu.
Aku menahan kecewa. Pertemuan yang harusnya penuh tawa rupanya hanya tersimpan dalam angan-angan.
Malam itu, bayanganmu di masa lalu tiba-tiba kembali memburu. Dulu, kita dalam kondisi sama, belum menanggalkan masa lajang. Padahal, usia kita juga telah sama berada pada kepala tiga. Memasuki kepala empat, kita juga sama-sama termenung. Jalan untuk menemu jodoh memang tak bisa dijelaskan. Meski demikian, di antara kita tak ada yang kecewa, tetap tertawa dan gembira.
Kekosongan hatimu mulai terisi pada usia empat puluh tujuh. Kau menemukan separuh jiwamu yang lama hilang pada seorang gadis berumur dua puluh tujuh. Akhirnya, kau resmikan hubungan kalian yang membuatku pelan-pelan menyingkir darimu dan berkelana sampai ke luar kota.
Kini, lewat sepuluh tahun setelah kalian meresmikan hubungan, aku tidak percaya kembali menemuimu dalam sebuah kecemasan.
“Kapan kau mulai tak bisa tidur?”
“Oh, kuharap kau bisa membantu.”
Beberapa saat kau diam.
“Kau ingat dengan Pak Sumin yang menjadi guru ngaji di langgar tempat kita biasa mengaji sewaktu kecil dulu?” tanyamu.
Aku mengernyitkan dahi. Apa hubungan antara Pak Sumin dan kondisimu yang tak bisa tidur?
“Kau sudah lupa?” tanyamu kembali.
Mau tidak mau, aku memaksa ingatanku kembali ke puluhan tahun silam. Ketika itu, kita masih sama-sama di bangku sekolah dasar. Benar, di kampung kita memang ada satu langgar tempat kita selalu mengaji. Bukan karena rajin, melainkan karena Pak Sumin selalu memaksa dan menakut-nakuti. Kita tak berani menolak perintah Pak Sumin karena ia selalu memiliki banyak cara untuk membuat nyali kita redup.
“Aku sama sekali tidak lupa,” jawabku.
“Aku percaya dengan kata-kata Pak Sumin.”
Aku tidak mengerti maksud kata-katamu. Mengapa hingga kini kau masih sengaja mengingat seorang tua yang kita takuti pada masa kanak kita dulu? Apakah kau memintaku datang hanya untuk mengingat kenangan masa lalu?
“Kau ingat pada malaikat yang disebut-sebut Pak Sumin untuk menakut-nakuti kita dulu?”
Aku termenung, “Untuk menakut-nakuti kita bila tidak mengaji?”
Kau mengangguk.
Malaikat apa gerangan? Untuk yang ini aku mengaku lupa. Selama puluhan tahun, aku hanya ingat memang benar Pak Sumin selalu menakuti kita jika tak mau mengaji di langgar, tapi mengapa kau masih mengingat kejadian yang sudah lampau? Padahal, Pak Sumin sudah lama tiada.
“Malaikat Izrail?” tanyaku setengah berkelakar.
“Salah,” jawabmu singkat.
Aku terdiam, bukan karena ingin mengingat kenangan sewaktu kecil, melainkan justru karena urat yang bertonjolan di dahimu menunjukkan bahwa kau sedang tidak bercanda.
“Kau masih ingat dengan Malaikat Zabaniyah?” bisikmu nyaris tak terdengar. “Pak Sumin selalu menakut-nakuti kita dengan menyebut-nyebut Malaikat Zabaniyah. Kata Pak Sumin, jika kita malas mengaji, malaikat itu akan mencari kita karena malaikat itulah yang dipanggil Tuhan untuk menyiksa orang-orang yang berdosa.”
Ketika kau membisikkan nama malaikat itu, kulihat matamu membulat serupa burung hantu yang sedang berburu.
“Kenapa diam saja?” tanyamu.
Matamu kini kulihat menyipit. Sebenarnya apa maksud di balik ucapanmu?
“Berhari-hari malaikat itu menungguku,” jelasmu.
Aku ingin mengerti maksud ucapanmu. Namun, tiba-tiba lidahku kelu.
“Malaikat itu menungguku ketika aku tidur,” bisikmu dengan wajah kaku.
Perlahan kau membuatku heran.
“Aku yakin malaikat itu sengaja menungguku di alam mimpi.”
“Dari kapan?” tanyaku.
“Kurasa beberapa hari terakhir ini.”
Kau tak bisa tidur karena takut pada Malaikat Zabaniyah yang kau sebut-sebut selalu menunggumu di alam mimpi?
“Percaya atau tidak?” tanyamu menyelidik.
Setelah kuanggukkan kepala, barulah kau mulai menceritakan kondisi rumah tanggamu selama ini dengan gadis pilihanmu yang usianya selisih dua puluh tahun denganmu itu.
Kau tampak melihat-lihat sekeliling. Adakah kau melempar pandang untuk mengetahui bahwa istrimu memang tidak sedang mengikutimu atau kau justru sedang memastikan bahwa malaikat yang kau ceritakan padaku itu memang tidak menunggumu di alam nyata?
Kau mengingatkanku kembali pada istrimu yang masih muda, yang dulu membuatku selalu merasa iri dan cemburu pada nasibmu. Bagaimana kini kau bisa merasa tak bahagia?
Kau katakan padaku bahwa kau memang seorang suami yang tak mampu menciptakan rasa bahagia. Sewaktu istrimu mengharapkan keadaan yang berkecukupan, kau sadar kau tak bisa memberikan. Kau juga sadar, setiap kali istrimu meminta, kau selalu tak punya dan tak bisa. Dalam segala hal, katamu. Kau selalu gagal memenuhi setiap keinginan istrimu. Sejak itu, kau memasabodohkan apa pun yang dilakukan istrimu di hadapanmu. Kau hanya ingin melihat istrimu bahagia.
Suatu hari, ketika kau membukakan pintu dan seorang yang mengetuk pintu itu ialah seorang lelaki seumuran istrimu, kau hanya tersenyum kecut dan menyilakan lelaki itu masuk dalam rumahmu, menunggumu memanggilkan istrimu. Ketika istrimu mengenalkan lelaki itu padamu sebagai seorang kawan di masa silam, kau hanya mengatakan: “Oh.” Namun, kau sendiri yakin bahwa hubungan istrimu dengan lelaki itu lebih dari itu.
Setelah itu, setidaknya sekali dalam seminggu istrimu dan lelaki itu bertemu di rumahmu. Ketika istrimu hendak pergi dengan lelaki itu dan meninggalkanmu seorang diri di rumah, kau menyerahkan begitu saja kepergian istrimu tanpa dendam dan amarah. Kau biarkan istrimu memasuki mobil lelaki itu dan melihatnya berada di dalamnya dari kejauhan. Seakan istrimu ialah boneka barbie cantik yang tersimpan dalam kotak kaca dan sedang dipinjam oleh kawanmu.
Saat istrimu pulang, kau mendengar ada bunyi gemerincing. Kau lihat ada tiga gelang melingkari tangannya. Sejak saat itulah kau selalu menggigil bila tak sengaja melihat gelang-gelang di tangannya.
Mengapa kau menahan rasa amarahmu? Yang terpenting ialah melihat istrimu bahagia, katamu. Lelaki itu, katamu, mampu memberikan semua yang tak mungkin bisa kau berikan pada istrimu.
Mengapa kau tak melepaskan istrimu untuk lelaki itu secara sah? Kau termangu dalam sendu. Katamu, kau tak rela kebahagiaanmu terhenti jika istrimu benar-benar pergi. Kebahagiaanmu ialah melihat istrimu bahagia setiap waktu tanpa harus melepasnya untuk berlalu. Bukankah melihat orang yang dicintai merasa bahagia adalah bentuk kebahagiaan yang hakiki?
Dan suatu malam, kau merasa bahwa Malaikat Zabaniyah sedang menunggumu ketika kau sedang berada dalam tidur. Sekujur tubuhmu terasa kaku. Satu-satunya gerakan yang masih bisa kau rasakan ialah helaan napasmu yang memburu. Dalam mimpimu, sosok malaikat itu tak bicara padamu. Ia hanya menunggumu.
“Kau percaya pada ceritaku?” tanyamu.
Aku yakin kau tak pernah membohongiku. Namun, kecemasan yang tampak pada raut wajahmu membuatku semakin pilu.
“Seolah-olah malaikat itu benar-benar menungguku karena aku telah melakukan banyak dosa,” katamu.
“Padahal, kau tak tahu dosa apa yang telah kau lakukan?”
“Kau tahu, aku selalu merasa menjadi pedagang yang sedang menawarkan barang dagangan pada orang yang datang. Kau tahu, kadang aku merasa ganjil dengan apa yang kulakukan.”
Kau menjawab sambil menangis. Aku melihatmu menangis seperti ketika masa kanak dulu. Ketika Pak Sumin dengan sengaja memarahi kita karena nekat tak mengaji atau ketika orangtuamu mencambuki punggungmu karena kau ketahuan menyelipkan sebatang rokok di sela bibirmu.
“Malaikat itu sengaja menungguku,” katamu di sela isakmu yang membuat dadaku terasa sesak. Rupanya kau telah menukar rasa kantukmu dengan ketakutan dan kecemasan yang menghantuimu.
Aku meninggalkanmu dalam suasana hati yang kelam. Langkahku tak tegak seolah kehilangan tempat berpijak. Kata-katamu padaku membuat diriku sendiri tak yakin bahwa aku lebih mulia darimu. Orang-orang mengenalku sebagai lelaki tua santun yang belum pernah berumah tangga, sedangkan diam-diam ragaku selalu menemui banyak sosok perempuan yang silih berganti tanpa mereka ketahui.
***
Malam itu aku terbangun dari tidur setelah sekujur tubuhku kaku dan yang terasa hanya deru napas yang memburu. Aku melihat sosok itu di seberang sana. Ia tak bicara. Namun, membuatku tercekat seolah tubuhku terikat. Napasku tersengal, jantungku berdenyar, dan tubuhku gemetar. Barangkali benar, malaikat itu juga sedang menungguku di alam bawah sadar?
Kulonprogo, November 2018
Kristin Fourina, lahir di Yogyakarta, 13 November 1987. Alumnus Sastra Indonesia UNY. Beberapa cerpennya telah dimuat di media massa. Cerpennya juga termuat dalam beberapa buku antologi bersama, salah satunya, Bayang-Bayang (Garudhawaca, 2012).
[1] Disalin dari karya Kristin Fourina
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 09 Desember 2018
The post Malaikat yang Menunggu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2RSMspT
Ilustrasi foto kebakaran
WartaBekasi, Tanah Abang – Kebakaran terjadi di Pasar Inpres Sabeni, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Ahad dini hari (11/10). Berdasarkan informasi dari TMC Polda Metro Jaya, petugas Dinas Pemadam Kebakaran yang dikerahkan tak hanya dari wilayah Jakarta Pusat.
Seorang...
Bagaimanapun dia sudah menganggap lelaki tua tak itu dikenal sebagai orang tuanya. Bukan tanpa alasan Rose memiliki perasaan itu. Dia, lelaki tua buta itu, satu-satunya manusia hidup di dunia ini yang masih mau, benar-benar mau, mendengar segala keluh-kesah Rose. Berbeda dari puluhan lelaki yang menjadi teman tidurnya setiap malam, yang sekadar mau mendengar keluhkesah Rose, lalu menjadi lebih perhatian, tentu dengan imbalan servis plus-plus dari perempuan itu.
Lelaki itu berbeda. Lelaki tua buta itu sangat berbeda. Dia pendengar yang baik, penasihat ulung, dan mampu melihat takdir seseorang. Seperti soal kematian.
Rose terkadang heran jika berbicara dengan lelaki tua itu. Dia percaya lelaki tua itu mampu melihat takdir seseorang. Keheranan Rose bukan tanpa alasan. Dia memercayai penglihatan takdir seorang lelaki tua buta, yang bermata putih, seputih susu. Namun dari sanalah Rose sering kali menemukan hal-hal ajaib. Seperti awan selembut kapas berwarna merah muda, puluhan laron berwarna biru mengelilingi keremangan lampu jalan, kilat cahaya oranye di tubuh kunangkunang. Baginya, mata seputih susu itu mata yang ajaib, mata yang mampu menerjemahkan sedih menjadi bahagia.
Rose tidak pernah kesulitan menemukan lelaki tua itu. Ketika dia pulang kerja, lelaki tua itu pasti duduk di sebuah bangku panjang taman kota. Rose dan temantemannya terbiasa mangkal tidak jauh dari sana. Di jembatan, tak jauh dari taman, di bawah keremangan lampu jalan, Rose dan beberapa teman berjejer di sepanjang trotoar jalan, menjajakan diri.
Selanjutnya, jika mendapatkan pelanggan, mereka tak perlu repot-repot mencari hotel. Di belakang taman kota itu berjejer beberapa hotel mewah. Kalaupun pelanggan agak pelit, Rose dan teman-teman akan membawa ke losmen di seberang sungai yang terbelah jembatan.
Semua mengenal dia; lelaki tua buta itu penjual koran. Sebelum pagi lahir, tongkat kayu akan menuntun lelaki tua itu ke perempatan Kedai Starcoffe. Itulah kafe mewah yang jadi andalan orang kantoran untuk obral obrolan perihal kepedihan kehidupan. Lalu jika malam telah berangkat kerja, lelaki tua itu akan duduk di salah satu bangku taman kota sambil memainkan harmonika, kemudian bersenandung bersama malam.
“Kematian itu begitu unik, Nak. Dia berbau manis seperti cokelat. Namun ada sedikit anyir di pangkal. Sangat nikmat disertai sedikit bumbu kepedihan.”
“Ha-ha-ha… Memang ada ya cokelat rasa anyir darah, Kek?”
“Lalu warnanya….”
“Putih kelam, mendekati abuabu kan, Kek?”
“Iya! Benar, Nak. Memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh jasmaninya.”
Sudah berulang kali lelaki tua itu bercerita soal warna kematian. Putih kelam mendekati abu-abu dan memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh jasmaninya. Seperti itulah lelaki tua itu mengilustrasikan kematian, sambil meraba-raba pegangan tongkat kayunya yang berbentuk kepala naga. Mata putihnya akan berkeliling setiap kali dia berbicara. Ke kiri, kanan, kiri, dan kanan.
“Lihatlah, Nak…. Di lampu jalan dekat jembatan itu, sekumpulan laron berwarna biru. Sangat indah. Mereka selalu datang dalam kelahiran yang bahagia, meski Tuhan memberikan hidup hanya sekejap. Lihatlah…, betapa hidup harus dirayakan dengan sukacita. Kesedihan hanyalah debu yang sangat kecil di samudra kehidupan manusia. Berbahagialah, Nak, kau masih diberi hidup.”
“Mana ada laron berwarna biru, Kek?” Rose tersenyum dan seketika air matanya malam itu berhenti.
Lelaki tua itu memiliki sepasang mata putih yang indah, sangat murni, tak ada noda sama sekali.
“Wa-ha-ha-haÖ, kau tak akan paham, Nak. Penglihatanku mampu menangkap warna kehidupan semua makhluk. Dan warna kehidupanmuÖ.”
“Kuning cerah dengan kelopak mata ekspresif. Penuh kebohongan pada banyak orang, tetapi tidak padamu kan, Kek?”
“Iya, Nak.” Lelaki tua itu tersenyum.
Rose mengingat betul apa yang pernah dia sampaikan ketika kali pertama mereka bertemu.
Malam yang muram mengantar Rose menyusuri trotoar jalan. Hari itu ada yang berbeda. Dia begitu rindu pada lelaki tua buta itu. Sebelum berangkat kerja, sambil membawa sekotak makanan, dia berniat mengunjungi lelaki tua itu. Namun bukanlah sambutan baik yang dia terima. Lelaki tua itu malah menyuruh dia pulang.
“Alangkah baik kau pulang saja, Nak. Kau tak seharusnya bekerja malam ini,” ucap lelaki tua itu sebelum Rose duduk di bangku yang ia duduki.
Rose hanya tersenyum, lalu memberikan sekotak makanan dari rumah, kemudian beranjak pergi. Namun ketika perempuan itu hendak beranjak pergi, lelaki tua itu menahan tangannya.
“Pulanglah, Nak. Aku melihat kematian menggantung di atas kepalamu. Dia berwarna cokelat pekat.” Lelaki tua itu menggenggam tangan Rose begitu kuat.
“Bukankah pernah kukatakan, Kek, hidup dan matiku adalah suratan takdir? Ingatkah kau dengan pesanmu, Kek, hidup harus dirayakan dengan sukacita. Kesedihan hanyalah debu kecil di samudra kehidupan manusia,” ucap Rose sambil perlahan melepas genggaman tangan lelaki tua itu.
Matanya masih berkeliling, ke kiri, kanan, kiri, dan kanan. Ada yang tertahan di bibir yang membuat Rose tak tega meninggalkannya malam itu. Namun dia harus tetap berangkat kerja untuk menyambung hidup.
Malam yang kelam bagi lelaki tua buta itu. Sebuah malam yang tak dia inginkan, juga bagi Rose. Sebelum malam memuncak, suara sirine polisi berkejaran di telinga. Beberapa kali terdengar teriakan perempuan. Namun dari sekian teriakan, ada sebuah suara yang dia hafal, suara yang kerap kali terngiang- ngiang pada malam panjangnya.
Memori lelaki tua itu merekam jelas: di atas jembatan, di bawah kemerangan lampu jalan, Rose dan beberapa teman yang mangkal terciduk Satpol PP. Perempuan malang itu tak sempat melarikan diri. Tubuh indahnya dengan cepat dipaksa masuk ke atas mobil. Ada beberapa luka legam di wajahnya.
Tanpa sadar, mata putih lelaki tua itu meneteskan air mata. Tangannya masih tetap merabaraba ujung tongkat. Dia tak bisa apa-apa. Dia hanyalah loper koran tua buta dan lemah tak berdaya. Berkali-kali lelaki tua itu berusaha menutup mata sambil memalingkan muka. Namun tetap, mata seputih susu itu tetap merekam. Ingatannya tetap melihat dengan gamblang: Rose dan beberapa teman diangkut paksa dari jalanan. Beberapa di antara mereka menerima tamparan.
***
Malam ketiga, sejak Rose diangkut paksa, lelaki tua itu masih tetap berada di bangku taman. Di sebelahnya ada sebungkus makanan. Mata putihnya berkeliling, ke kiri, kanan, kiri, dan kanan. Sangat sepi. Sesekali ada beberapa pasangan muda-mudi berlalulalang. Namun hingga malam ketiga, tidak dia temukan kabar dari perempuan itu.
Pada satu waktu, pada kesepian dia malam itu, lelaki tua itu menoleh pada seorang perempuan yang berjalan menunduk melewatinya. “Nak, kemari, mendekatlah. Aku melihat kebahagiaan menggantung di atas kepalamu,” ucap lelaki tua itu. (28)
Surakarta, 23 Mei 2018
– Sapta Arif Nur Wahyudin, aktif di GMB-Indonesia dan baru saja menjadi juara I Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru kategori cerita pendek.
[1] Disalin dari karya Sapta Arif Nur Wahyudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 10 Februari 2019.
The post Lelaki Tua Bermata Seputih Susu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2SGZjz0
SEPERTI biasa, Jumat pagi saya menghentikan angkot di depan taman kota. Mestinya saya sudah di kantor sekarang. Tapi sudah izin dari kemarin kepada Adri, atasan yang sebenarnya sahabat saya sejak kecil. Izin bahwa kerja pagi saya diganti mulai bakda jumatan saja.
Belum semenit saya duduk di bangku taman, saya dikejutkan oleh seseorang yang menghampiri dan duduk di sebelah saya.
“Halo, Bro. Apa kabar? Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” katanya sambil mengajak bersalaman.
“Alhamdulillah, baik,” jawab saya sambil mengingat-ingat.
“Haha… pasti sibuk bertanyatanya: siapa saya? Ya, kan? Pasti lupa, kan? Ini ada tandanya. Permainan masa kecil, main bola di sawah. Lalu mandi di sungai. Lalu….”
“Lalu ke kebun Wak Dullah?”
“Dan kamu mencuri mangga!”
Saya terkejut. Kok, yang diingatnya mencuri mangga? Saya jadi ingat, bukan hanya mencuri mangga, tapi mencuri jeruk juga, mencuri ikan juga, mencuri telur ayam juga… ah, ternyata begitu banyak yang pernah saya curi tapi selalu menganggapnya itu kenakalan masa kecil.
“Makanya, jangan sok baik! Kok, susah banget memaafkan orang yang nyata-nyata mau meminta maaf!”
“Maksudnya?”
“Saya lihat kamu masih hobi demonstrasi. Hobi, kan? Kamu mendemo penghina agama. Lalu begitu heroik bilang, yang tidak ikut demo itu kafir! Yang tidak sependapat bahwa itu penghina agama adalah kafir! Sementara bertahun-tahun kamu melecehkan agamamu sendiri, kamu diam saja. Kamu itu baru bisa membaca Al-Qur’an terbata-bata, tanpa membaca artinya, tanpa membaca tafsirnya, tanpa tahu asbabunnuzulnya, tanpa merenungkan isinya! Makanya kamu eksklusif, tidak bermasyarakat, tidak peduli lingkungan, kamu lebih galak daripada anjing pemburu! Bila dipercaya kamu juga berkhianat, korupsi!”
Rasanya saya semakin mengenal orang yang bicara seperti itu.
“Mestinya kamu bacakan lagi puisi yang pernah kamu tulis pada masa kuliah saat kamu suka demo: Ke jalan mana lagi kita demonstrasi bila yang mendemo diri sendiri?! Itu yang kamu butuhkan sekarang, mendemo diri kamu sendiri!”
Saya suka berbincang dengan siapa saja, termasuk dengan kenalan baru. Tapi dengan orang ini, diam-diam saya mulai jengkel juga. Dia sepertinya tidak sadar apa yang diomongkannya. Mungkin dia sendiri sebenarnya yang brengsek seperti itu! Saya ingin mendebatnya. Tapi sebelum saya bicara, murotal Qur’an dibacakan dari masjid di seberang taman kota.
“Ok, deh. Sepertinya sudah mau jumatan lagi. Saya pergi dulu, saya jumatan di rumah. Assalamualaikum.”
Pulang jumatan, di depan masjid, saya melihat istri saya sedang menunggu.
“Maafkan saya sudah mengikuti Mas sejak pagi. Saya heran waktu Pak Adri bilang Akang tidak pernah masuk kerja setiap Jumat pagi. Saya pikir Akang menemui… istri siri.”
Saya tersenyum kecut.
“Tapi Mas jangan seperti yang bicara sendiri, senyumsenyum sendiri. Mas seperti yang tidak waras! Tadi, di taman kota.”
Saya diam beberapa saat, lalu tersenyum dan bilang: “Justru tadi itu saat-saat Mas merasa waras.” ❑ – g
*) Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2018).
[1] Disalin dari karya Yus R. Ismail
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 24 Maret 2019
The post Di Taman Kota appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2HUduef
Buana Finance 2h
Rate – Interest, Daftar Harga – Simulasi Tabel Cicilan
Pinjaman Dana Multiguna Gadai BPKB Mobil
KATEGORI BPKB MOBIL TAHUN 2007 s/d Sekarang,
DP 30%
Pencairan : 176 s/d 194 Juta
Rate Dan Simulasi Angsuran Pinjaman tidak mengikat dan bisa berubah sewaktu-waktu, Untuk...
mt27.co.id/buana-finance-2h-ilustrasi-pinjaman-50-70jt-ag...
KETIKA titik-titik air pertama, yang sebsar kerikil itu, berjatuhan, Mario sudah menduga hujan akan berlangsung lama. Seperti malam-malam tua. Dan Maria, ia sudah menelan alamat kurang menyenangkan itu dari hawa dingin yang menepuk-nepuk tengkuknya. Mario dan Maria menepi. Harus menepi.
“Merapatlah,” lirih Mario seraya merengkuh tubuh Maria.
Perempuan pincang itu lekas merapat. Dua anak manusia itu bergerak mundur beberapa senti hingga punggung mereka menyentuh dinding. Maria membayangkan titik-titik air itu adalah peluru-peluru yang berdesingan dari langit. Harus dihindari. Harus dijauhi.
“Hujan tak pernah bilang mau turun,”gerutu Maria dengan suara serak.
“Begitulah hujan,” balas Mario datar, seperti tak berbicara pada siapa pun.
Di punggung trotoar renta, di teritis kios yang tutup dan tanpa penerangan itu, mereka mirip pohon kaktus tua yang tak terurus, compang-camping, dan mungkin hampir tumbang. Dua gelandangan yang lelah memandang hidup, tetapi tak pernah tahu bagaimana harus mengakhiri. Usia yang terus bertambah itu bagai tahun-tahun penuh wabah. Masa tua yang amit-amit, pikir Maria, kadangkala. Entah bagaimana Mario memikirkannya.
Malam dan hujan seperti memiliki wajah hitam yang tertawa-tawa di hadapan mereka. Tangan Mario seperti sepasang ular keriput yang menelusup ke dalam semak-semak jaket kumal, mencari kehangatan. Mario bersedekap. Sementara Maria menggosok-gosokkan kedua telapak tangan yang gemetar. Barangkali ia membayangkan percik api akan muncul dari sela-sela telapak tangan dan menghangatkan tubuh tua mereka.
“Beginilah cara Ayah mengajari kita bertahan dalam udara dingin,” kenang Maria. “Apa kau masih ingat?”
Melihat keadaan mereka sekarang, Maria hampir lup amereka juga memiliki kenangan masa kecil. Ya, semenyedihkan apa pun masa tua seseorang, ia pasti pernah punya masa kecil.
“Aku lebih suka bersedekap, menyelimuti tubuhku dengan tanganku, sepasang tangan yang peduli,” Mario merapatkan dua ular keriput ke dalam semak jaketnya.
Titik-titik air yang menghujani atap toko bagai turun dalam bentuk benang. Berjuntai-juntai. Lalu berhamburan ketika menghantam tanah. Sebagian memercik ke kaki Mario yang bengkak. Sebagian lagi melumuri sepasang kaki Maria yang pincang. Lambat-laun percikan itu meresap dalam kaus kaki molor mereka, lalu menjilati kulit mereka. Sesekali Mario mengentakkan dua kaki. Maria tidak melakukannya. Ia kesulitan melakukannya.
“Kalau hujan ini tidak reda, apa iya kita akan tidur sambil berdiri,” bisik Maria, yang kakinya gemetaran. Entah karena dingin. Entah karena beban tubuhnya.
Mario tidak menjawab. Matanya menerawang lampu merkuri yang melengkung dan juga tampak kedinginan di kejauhan. Barangkali, kalau mau, Mario bisa berlari-lari kecil dari teritis ke teritis hingga menemukan teras toko atau bangunan apa saja yang berteras agak lebar, yang paling tidak bisa untuk meregangkan badan. Namun Maria, ia benci berlari. Sepasang kakinya tak suka berlari. Berlari hanya akan membuat tubuhnya berguncang-guncang hebat, lalu ambruk di sembarang tempat. Itu pernah terjadi. Pelipis Maria pernah memar karenanya. Dan Mario sudah berjanji tak akan pernah melakukan hal yang dibenci kaki Maria. Setidaknya di depan Maria.
“Mario?” suara Maria makin lirih. Seolah ia menyeru dari tempat jauh.
Hem?” Mario masih bersedekap dan menatap merkuri yang sama, yang tampak makin menunduk.
“Setiap malam begini, apalagi hujan seperti ini, aku selalu ingin menangis. Menangis tanpa henti. Barangkali sampai mati. Aku berharap begitu,” bisik Maria dengan suara bergoyang-goyang, seolah ada angin yang mempermainkan. Maria bisa merasakan sepasang matanya perih dan hidungnya seperti kemasukan air.
“Bicara apa kau?”
“Kau berhak bahagia, Mario.”
“Semua orang berhak bahagia, bahkan seekor ngengat pun berhak bahagia. Kau juga.”
Maria mengarca, lalu berkata, “Soal itu aku ragu.”
Mario juga mengarca. Maria melanjutkan dengan suara agak membara, “Kalau aku berhak bahagia, seharusnya Tuhan tidak memberiku kaki yang pincang. Dan bibir sumbing ini, meski sudah diperbaiki, tetap saja wajahku seperti wajah orang terbakar. Sejak kecil, anak-anak sudah menjauhiku, kalau tidak mengejekku. Saat itu aku berpikir, mungkin aku tak pernah bisa bahagia. Aku tak berhak bahagia.”
“Kebahagiaan tak ada hubungan dengan kaki pincang atau raut wajah, Maria. Percayalah!” sahut Mario, masih tanpa menatap Maria.
“Tapi karena kaki pincang dan bibir sobek ini, tak ada satu lelaki pun di dunia ini tertarik padaku. Bahkan si idiot Jerry, kawan kita di asrama dulu, tak melirikku sama sekali. Sampai aku menua dan makin buruk rupa setiap detik. tak melihat celah sedikit pun di mana aku pantas bahagia.”
“Tapi aku bahagia, dan seharusnya kau juga bahagia,” Mario mengalihkan pandangan. Dalam remang ia bisa melihat kilatan di mata Maria.
Kalau Maria mau tahu, sudah lama sekali Mario ingin menangis, mungkin juga sampai mati seperti kata Maria. Tapi Mario tak pernah bisa melakukan itu. Setidaknya di depan Maria. Tangisan Mario akan meringkus Maria dalam belitan rasa bersalah dan itu adalah hukuman paling mengerikan bagi Maria.
Maria dan Mario
“Kalaupun sekarang kau memang bahagia, seharusnya kau pantas mendapatkan kebahagiaan lebih dari ini. Kau tampan dan cerdas, Mario. Itu masih terlihat, bahkan setelah kau setua ini. Seharusnya waktu itu kau pergi dengan Lalena, kukira kalian saling mencintai. Tapi kau malah berpaling darinya dan memilih mengurus bocah pincang yang tak bisa diharapkan. Dan hanya menyusahkan.”
“Lalena bukan perempuan baik, kau tahu itu. Kalau ia memang mencintaiku dan mau menerimaku apa adanya, seharusnya ia mau menerimamu juga.”
“Aku tahu akan sulit menerima keluarga cacat dan buruk rupa, ditambah tak terlalu pintar, apalagi kalau ia harus tinggal satu atap denganmu.”
“Sudahlah, Maria. Kita sudah terlalu uzur untuk membahas masa lalu, apalagi menyesalinya. Sekarang mari kita buat diri kita bahagia, seperti apa pun itu.”
Mario merengkuh tubuh Maria lebih erat. Sepasang kaktus tua itu tampak goyah. Seperti tertiup topan dan siap-siap patah, terjengkang di tanah. Percakapan-percakapan lirih itu membuat napas tua mereka sedikit tersengal, tapi itu membuat mereka sedikit hangat.
“Sepertinya hujan akan turun selamanya,” Mario kembali menerawang lampu merkuri di kejauhan. Ia tersenyum, seolah kata-katanya barusan mengandung kelucuan.
Maria tak menjawab, tapi Mario bisa merasakan tubuh perempuan itu goyah dan melorot.
“Kakiku sepertinya minta duduk, Mario,” ujar Maria tersendat. Tubuhnya bisa saja rubuh kalau tidak disangga Mario.
“Kalau begitu kita duduk saja,” Mario membantu Maria duduk.
“Aku saja yang duduk. Kalau kau masih kuat berdiri, kau berdiri saja. Duduk akan membuat pakaianmu basah, dan itu akan membuatmu makin kedenginan,” ujar Maria masih tersendat-sendat. Tubuhnya sudah melorot. Pungungnya menempel di dinding. Sepasang kaki pincangnya telimpuh dalam genangan air. Maria bisa merasakan makhluk basah itu meresap ke pori-pori benang, menembus rok, lalu celananya, dan melumasi kulitnya. Dingin. Dingin sekali. Barangkali makhluk basah itu juga sudah masuk ke pori-pori kulit Maria.
Secepat genangan itu menembus pakaian Maria, secepat itu pula Mario memelorotkan tubuh. Mendekam dalam genangan yang sama.
“Pakaianmu nanti basah, Mario,” desis Maria.
“Hanya pakaian.”
“Tapi kau akan kedinginan.”
“Hanya kedinginan.”
Maria berhenti bicara. Dan Mario juga tidak berkata-kata lagi. Mario merengkuh tubuh Maria. Menenggelamkan perempuan itu dalam pelukan. Ada campur tangan angin dan hujan dalam pelukan itu. Pelukan yang kelewat dingin untuk tubuh-tubuh tua.
“Hujan ini akan terus turun. Barangkali selamanya,” bisik Maria, menirukan kata-kata Mario. Mereka tersenyum, seolah kata-kata itu masih lucu.
“Hanya hujan,” lirih Mario.
“Hanya hujan,” ulang Maria. (28)
Surabaya, 2015
– Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni1984, suka membaca dan menulis puisi sertaprosa. Kini, bermukim di Malang.
[1]Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 14 Oktober 2018
The post Maria dan Mario appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2OYqpQu