View allAll Photos Tagged botl
Gadis itu Lucu
Gadis itu lucu,
ia bersolek di depan cermin kayu.
Berdandan ala putri salju
menunggui kurcaci di depan pintu waktu.
Tampak di bawah netranya mengalir sungai susu.
Tanpa sadar rautnya mulai menua,
kurcaci masih enggan tiba jua.
Ia mulai senang berkawan dengan penantian.
Susu telah berubah jadi genangan,
genangan berubah jadi kubangan,
tempat terbaik mencuci luka juga kenangan
dan gadis itu tetap saja lucu
Kurcaci yang ditunggui
mulai doyan merangkai puisi.
Menikmati larik-larik sembunyi
dari sudut paling sunyi.
Di depannya sekitar seinci
pintu waktu berderit di buka puisi.
Netra si gadis lucu ditatapnya sedekat dulu.
βGadis ini tetap saja lucuβ gumamnya.
Palu, 2018
Stasiun Khayal
Selamat datang di stasiun khayal.
Pagi sore pengharapan,
siang malam penyesalan.
Semoga selamat sampai tujuan.
Ketika mata terjaga menunggu kereta,
keberanian sudah tak ada.
Sebuah kalimat menatap penuh curiga,
menunggu disetubuhi paragraf rupanya.
Ketika menutup mata dalam kereta,
berasa seperti mati sudah.
Sepertinya ingatan sudah lama dibawa lari.
Gerbong perpisahan itu ternyata pencuri hati
Kutanggalkan saja semua isi kepalaku,
telanjang sudah ia kini.
βAh, Sial! Sungguh memalukan.β
Kata kepala pada peron yang sudah lupa.
Masinis yang tadi kecewa jadi tertawa.
Selamat datang di stasiun khayal.
Pagi sore pengharapan,
Siang malam penyesalan.
Semoga selamat sampai tujuanβ¦
Palu, 2018
Kepada Kening
Dariku:
Sekali waktu, hati adalah bilik-bilik penjara kosong
tanpa narapidana, kepala ialah kemacetan parah
di tengah kota, sedang jemari merupakan sajak
yang menari indah di halaman belakang rumah.
Kesemuanya ditemani secangkir kopi sedih, beberapa
potong roti sunyi, dan mainan papan terbuat dari hati.
merah di jalan menuju kepala pertanda mata
sudah berkawan lama dengan insomnia. Sementara
sepasang lengan yang memeluk kehampaan adalah
untaian doa panjang yang dipanjatkan malam lewat
kehilangan.
Dan kini, kau dan segala tentang kita telah berhasil
menjelma rumah dari kesemuanya
Di rumah itu, mainan papan dari hati adalah
kesukaan para pecandu harapan. Mereka berharap
guncangan dadu mampu memonopoli petak-petak
rindu. Betul-betul percaya langkah akan jatuh pada
kotak merah jingga bukannya hijau tua?barangkali
saja isinya; Tinggal lebih lama di sana.
Bagi perangkai kata, menetap di rumah tanpa atap
berarti sudi menghadapi terik dan gigil. Sama saja
meratap dan tengkarap. Tak masalah. Bagimu
perangkai kata adalah tukang yang datang kala
petang, setelahnya pulang dengan
gamang usai tualang.
Sudah hampir pukul empat pagi, bulan
undur diri lebih dini. Doa sudah sampai
dan puisi telah selesai? Sementara
rindu belum juga usai.
Sekian untuk malam ini.
Dariku.
Dariku
Dariku,
untuk keningmu katanya.
Palu, 2018
Meja Makan Penyair
Kelak kau temukan penyair itu
menghidangkan puisinya di atas meja
makan. Melahap karya-karyanya dalam
kesendirian yang nyata.
Sebatang rokok terakhir dan mesin
ketik tempo dulu jadi pemandangan
aneh di meja makan itu. Entah berapa
banyak puntung dan kertas ketimbang
garpu dan sendok. Konstelasi kemiskinan, cinta, dan
air mata terpampang jelas sebagai menu pembuka
makan malam yang sunyi.
Meja makan penyair tak pernah meminta apa-apa
kecuali nama di bawah kata-kata. Seperti sajak-sajak
anggur di cangkir kaca yang tak pernah memilih
dituang dari botl berlabel apa. Pasrah melewati
kerongkongan dan berakhir di jamban.
Seperti anak-anak kalimat di kepala yang sibuk
mencari induknya. Seperti saudar tiri yang rela
berbagi ibu atau ayah. Seperti bocah yang ikhlas
melepas balon udaranya dimiliki langit saat senja.
Seperti kumpulan awan tipis di hapus rumah kaca
dan panel surya. Semuanya tak membantah atau
memperoleh apa-apa.
Tudung saji yang menutupi puisi dibuka dengan
bangga sekligus gengsi. Padahal puisi di produksi
kepala untuk dicerna hati, kini malah jadi sarapan
pagi. Lalu, meja makan penyair berkata bahwa dunia
selalu saja pilih kasih.
Meja makan kini butuh lebih banyak puisi untuk
sarapan besok pagi. Entah perut penyair itu kenyang
karena cinta atau jadi buncit sendiri karena sunyi. Tak
ada yang tahu pasti.
Palu, 2018
Saat Lanjut Usia
Jika kau temukan aku
di ruang-ruang kepala yang membatu
menyembunyikan mata dari cahaya,
berdiam diri tanpa bertanya,
gelisah seolah berduka,
jangan tanya kenapa.
Pada titik-titik tertentu
kota dan kita semakin tua dimakan usia,
Ditumbuhi uban pertemuan.
Sekat kejelasan dan penantian.
Membentuk dinding-dinding tebal
atau gengsi-gengsi yang selalu bebal.
Saat gelap telah sempurna
mengaju pleidoi pada cahaya,
waktu perlahan memangsa kita
Bahwa dunia memang selalu fana.
Sekarang kita lupa cara menelaah,
siapa terdakwa? Siapa pembela?
Kapal-kapal mengangkut cerita
mulai berlabuh ke seberang ingatan.
Setelahnya nakhoda yang memutuskan kemana,
atau barangkali sedang menuju karam.
Aku mungkin awak yang sedang berdoa,
menunggu takdir akan berpihak pada siapa.
Dan ketika aku memutuskan bertanya
pada nyonya βsedang apa?β
Mungkin kau akan menjawab sebagai percuma.
Judul cukup untuk menjelaskan semua
Palu, 2018
Dito Englen, lahir di Gorontalo 22 tahun silam. Tumbuh dan dibesarkan di Poso, Sulawesi Tengah. Kini sedang menempuh studi strata satu di Jurusan Kimia, Universitas Tadulako, Palu. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerita pendek telag diterbitkan di media lokal dan karya fiksi mininya tergabung dalam antologi fi ksi mini Lembaran Baru (Rekan Media, 2018). Sebelumnya Dito Englen meraih penghargaan juara 1 pembacaan puisi tingkat Kabupaten Poso.
[1] Disalin dari karya Dito Englen
[2] Pernah tersiar di surat kabar βMedia Indonesiaβ Minggu 30 September 2018
The post Gadis itu Lucu β Stasiun Khayal β Kepada Kening β Meja Makan Penyair β Saat Lanjut Usia appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2OuoUZP
Loosen and remove the turbo clamos that are holding the downpipe to the exhaust side of the turbo. Then, there is also a turbo clamp on the back side of the turbo that mounts the up pipes to the turbo. Remove this clamp. After that, there are only 2 more botls holding the turbo in place. They are 13mm bolts and they are on either side of the turbo. Late 99 and up owners might have trouble getting to the back one as the turbo mounts higher and allows less clearance under the cowl.
Bothal Castle is a castle and stately home in the village of the same name near the River Wansbeck, between Morpeth and Ashington in the English county of Northumberland. Botl is Old English for a dwelling. Bothal could refer to a particular dwelling or hall. It was fortified before the Norman conquest, and renovated and remodelled a number of times. It is a Scheduled Ancient Monument and a Grade I listed building.
In 1095, Bothal was given by king William Rufus to Guy I de Balliol, whose daughter Alice married William Bertram, Baron of Mitford, who probably built a hall house. Several generations later, in 1343, Sir Robert Bertram was given permission to turn his manor house into a castle, including an impressive gatehouse. The gate tower and fragments of curtain wall are medieval, a good deal of which still survive to this day. Through the marriage of Bertram's daughter Hellen to Sir Robert Ogle (d. c.1363) the estate passed to the Ogle family in the 14th century. In August 1583 Cuthbert Ogle, 7th Baron Ogle, negotiated a marriage between his daughter Jane and Edward Talbot, a son of George Talbot, 6th Earl of Shrewsbury. Shrewsbury's agents visited Bothal, and described the house as 'a castle battled, and not unlike to Nether Haddon where Master John Manners doth dwell.'
In 1591 the estate passed to the Cavendish-Bentinck family (Dukes of Portland), through the marriage of Catherine, Countess of Ogle to Sir Charles Cavendish of Welbeck. Restoration was carried out in the 19th century. The building is used as a private residence of the Cavendish-Bentinck family and also houses the Welbeck Estate Office. The castle is in an excellent state of repair and is not accessible for the public.
A glass of one of the fine Taylor's Tonics, MatΓ© Mojito mint and lime natural sparkling energy beverage with no caffeine.
No known copyright restrictions. Please credit UBC Library as the image source. For more information, see digitalcollections.library.ubc.ca/cdm/about.
Creator: [unknown]
Date Created: 1919
Source: Original Format: University of British Columbia. Library. Rare Books and Special Collections. Capilano Timber Company fonds.
Permanent URL: digitalcollections.library.ubc.ca/cdm/singleitem/collecti...
Cigar Inn Store and Lounge.
Cigar Aficionado Humidor And Lounge at Cigar Inn 1016 2nd ave NY, NY, 10022.
212.750.0809.
Our house is being renovated so my wife, Danielle, took some portraits of me with a Cohiba while our living room was empty.
More of Danielle's work: www.facebook.com/DPphotodesign/photos_albums