View allAll Photos Tagged buntut
Sup Buntut - Nelayan Indonesian AUD8 with rice.
Full of ox-y flavour and Indonesian spices. Great with a squeeze of lemon.
Nelayan Indonesian Restaurant
265 Swanston St Melbourne 3000
(03) 9663 5886
cuisine sop buntut ox tail tomatoes meat soup bowl white best 10 food photography garnish nikon indonesia culinary gourmet
Order:
Phaethontiformes
Family:
Phaethontidae
Genus:
Phaethon
Scientific:
Phaethon lepturus
Citation:
Daudin, 1802
Reference:
Hist.Nat.[Buffon]ed.Didot 14 p.319
Protonym:
Phaëton [sic] lepturus
Avibase ID:
1D07B501FEAF0840
Taxomic Serial Number:
TSN: 174676
Afrikaans: Witpylstert
Catalan: Cuajonc becgroc
Czech: Faeton žlutozobý
Danish: Hvidhalet Tropikfugl
German: Weißchwanz-Tropikvogel, Weißschwanz-Tropikvogel
Maldivian: Dhandifulhu Dhooni
English: Golden Bosunbird, Long-tailed Tropicbird, Long-tailed tropic-bird, White-tailed Tropic Bird, Whitetailed Tropicbird, White-tailed Tropicbird, White-tailed Tropic-bird, Yellow-billed Tropic Bird, Yellow-billed Tropicbird, Yellow-billed Tropic-bird
Spanish: Ave del trópico de cola blanca, Chirre, Contramaestre, Rabijunco, Rabijunco Cola Blanca, rabijunco colablanca, Rabijunco Coliblanco, Rabijunco de Pico Amarillo, Rabijunco Menor, Rabijunco Piquigualdo
Spanish (Chile): Ave del trópico de cola blanca
Spanish (Colombia): Rabijunco Piquigualdo
Spanish (Cuba): Contramaestre, Rabijunco
Spanish (Dominican Rep.): Rabijunco, Rabijunco coliblanco
Spanish (Mexico): rabijunco cola blanca, rabijunco colablanca, Rabijunco Coliblanco
Estonian: väike-troopikalind
Finnish: Pikkutropiikkilintu
French: Paille-en-queue à bec jaune, Paille-en-queue à brins blancs, Petit Paille-en-queue, Petit Phaéton, Phaéton à bec jaune, Phaéton à queue blanche
Haitian Creole French: Pay-an-ke bèk jòn
Hawaiian: Koa'e kea
Hungarian: fehérfarkú trópusimadár
Indonesian: Buntutsate Putih, Burung Buntut Satek Putih, Burung Buntut-sate Putih
Italian: becco giallo, Fetone beccogiallo, Fetonte coda bianca, Fetonte codabianca
Japanese: Shirao-nettaicho, shiraonettaichou, Shirao-nettaichou, shiro-o nettai-chō
Japanese: シラオネッタイチョウ, シロオネッタイチョウ
Japanese (Kanji): 白尾熱帯鳥
Latin: Phaethon americanus, Phaëthon americanus, Phaethon flavirostris, Phaëthon flavirostris, Phaethon lepturus, Phaëthon lepturus
Lithuanian: Baltauodegis fajetonas
Malagasy: Kafotsy
Malay: Burung Sinbad Ekor Putih
Dutch: Witstaartkeerkringvogel
Norwegian: Småtropikfugl, Småtropikkfugl
Palauan: Dudek
Polish: faeton zóltodzioby, faeton żółtodzioby
Pinyin: bái-wěi méng, bái-wěi rèdài-niǎo, cháng-wěi méng, cháng-wěi rèdài-niǎo
Portuguese: Rabijunco-de-bico-amarelo, rabo-de-palha-de-bico-laranja
Portuguese (Brazil): Rabo-de-palha-de-bico-laranja
Russian: Белохвостый фаэтон, Желтоклювый Фаэтон
Slovak: Faeton bielochvostý
Swedish: Vitstjärtad tropikfågel
Swahili: Ndege-mawingu
Thai: นกร่อนทะเลหางขาว
Thai (Transliteration): nók rôaan-tʰa-lee hăaŋ-kʰăaw
Tahitian: petea
Chinese: 白尾熱帶鳥, 白尾鸏, 白尾鹲, 白尾鹲长尾鹲, 长尾热带鸟, 长尾鹲
Chinese (Traditional): 白尾鸏, 長尾熱帶鳥, 長尾鸏
Chinese (Taiwan, Traditional): 白尾熱帶鳥
Chinese (Taiwan): 白尾热带鸟
Praslin, Seychelles
Soup Buntut - Bamboe AUD8.90
Good stuff, if a little salty.
Lots of tender ox tail, and diced up celery and carrot in a well-spiced broth.
---
Yum! I love the sweet and spicy combination that is Indonesian food!
Bamboe Cafe & Restaurant
643 Warrigal Rd Chadstone 3148
(03) 9568 5311
e-wonosobo – Rumah milik Slamet Triyono warga Dusun Sabrang Kidul RT 1 Rw 2 ,Desa Karang Sambung, Kecamatan Kalibawang rusak parah diserang massa tidak dikenal pada pukul 01.00 WIB. Diduga aksi perusakan ini buntut dari perkelahian antar warga dalam ajang hiburan orkes dangdut.
Akibat aksi massa tak dikenal ini rumah milik Slamet Triyono mengalami rusak parah. Pecahan kaca dari jendela dan pintu berserak di semua ruang dan halaman.Puluhan batu dan kayu yang digunakan untuk merusak juga tersebar di mana-mana. Selain merusak jendela dan pintu bagian ata juga sebagian gentengnya pecah akibat lemparan batu.
Slamet Triyono pemilik rumah mengaku, bahwa aksi perusakan rumahnya berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB pada Rabu (22/2). Saat itu, dia dan istrinya Muslimah berada di dalam rumah sudah tertidur. Tiba-tiba terbangun lantaran mendengar suara keras pecahan kaca genteng atap rumahnya. Dia kemudian bangun dan masuk ke ruang tamu, saat itu kondisi rumah gelap karena jaringan listrik sudah dimatikan.
“Dari ruang tamu, saya cuma melihat puluhan orang tengah melempar batu ke rumah saya, tangan kanan saya juga terkena pecahan kaca, ”katanya.
Melihat kondisi ini, Slamet mengaku ketakutan kemudian berupaya menyelamatkan istrinya Muslimah dimasukan dalam kamar mandi. Tak berselang lama dia keluar lagi ke ruang tamu, namun aksi massa tak dikenal itu kian membabibuta hingga semua kaca jendela dan pintu rumahnya dipecah. Merasa takut, dia kemudian menyelamatkan diri masuk ke kamar mandi bersama istrinya.
“ Saya dan istri saya sembunyi sampai shubuh di kamar mandi,”katanya.
Setelah siang, imbuh Slamet, dia bersama isrinya keluar rumah. Dampak dari perusakan itu hampir semua bangunan kaca rumahnya dipecah. Sejumlah perabot almari di dalam rumah juga rusak dilempar puluhan batu. Dia mengaku tidak tahu motivasi massa yang merusak rumahnya. Dia menduga aksi perusakan lantaran anaknya Ahmad Ferry Rohman, 18, yang masih duduk dibangku SMA berkelahi dengan bocah sebayanya asal tetangga Desa Dempel Kecamatan Kalibawang.
“ Sebelumnya saya tidak tahu apa maksud merusak rumah saya. setelah saya ketemu anak saya, katanya habis berkelahi dengan anak Desa Dempel,”katanya.
Slamet menambahkan, anaknya bercerita bahwa malam sebelum ada aksi perusakan anaknya menonton hiburan dangdut di Desa Sedayu sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Saat berjoget terlibat adu senggol dan berkelahi dengan Naif ,16, asal Desa Dempel. Setelah itu, anaknya lari dari pertunjukan menyelamatkan diri.
“ Anak saya tidak pulang rumah, saya baru ketemu pagi sudah di dumah bibinya Kecamatan Kertek,saya juga sudah melaporkan kasus ini ke Polsek Sapuran,”katanya.
Kapolsek Sapuran AKP Surahman mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus ini dengan mengumpulkan keterangan pelapor, saksi serta barang bukti. Hingga kemarin belum diketahui massa yang merusak rumah milik Slamet. Kepolisian baru mengumpulkan barang bukti berupa puluhan batu, kayu serta pecahan kaca namun belum mengetahui secara pasti asal puluhan orang yang merusak rumah Slamet.
“ Kita belum bisa memastikan siapa pelaku perusakan rumah. Penyelidikan masih kita lakukan,”katanya.
Selain menerima laporan kerusakan rumah, Surahman membeberkan pada hari yang sama pihaknya juga menerima laporan dua orang warga yakni Naif, 16, dan Nanang Makruf, 21, yang mengaku menjadi korban penganiayaan dengan pelaku Ahmad Ferry Rohman. Untuk mengembangkan kedua kasus ini pihaknya bermaksud memanggil para saksi serta orang yang diduga menjadi pelaku penganiayaan.
“ Kita belum bisa menyimpulkan, karena para saksi yang akan kita periksa belum datang ke Polsek,” pungkasnya. (rase)
Order:
Phaethontiformes
Family:
Phaethontidae
Genus:
Phaethon
Scientific:
Phaethon lepturus
Citation:
Daudin, 1802
Reference:
Hist.Nat.[Buffon]ed.Didot 14 p.319
Protonym:
Phaëton [sic] lepturus
Avibase ID:
1D07B501FEAF0840
Taxomic Serial Number:
TSN: 174676
Afrikaans: Witpylstert
Catalan: Cuajonc becgroc
Czech: Faeton žlutozobý
Danish: Hvidhalet Tropikfugl
German: Weißchwanz-Tropikvogel, Weißschwanz-Tropikvogel
Maldivian: Dhandifulhu Dhooni
English: Golden Bosunbird, Long-tailed Tropicbird, Long-tailed tropic-bird, White-tailed Tropic Bird, Whitetailed Tropicbird, White-tailed Tropicbird, White-tailed Tropic-bird, Yellow-billed Tropic Bird, Yellow-billed Tropicbird, Yellow-billed Tropic-bird
Spanish: Ave del trópico de cola blanca, Chirre, Contramaestre, Rabijunco, Rabijunco Cola Blanca, rabijunco colablanca, Rabijunco Coliblanco, Rabijunco de Pico Amarillo, Rabijunco Menor, Rabijunco Piquigualdo
Spanish (Chile): Ave del trópico de cola blanca
Spanish (Colombia): Rabijunco Piquigualdo
Spanish (Cuba): Contramaestre, Rabijunco
Spanish (Dominican Rep.): Rabijunco, Rabijunco coliblanco
Spanish (Mexico): rabijunco cola blanca, rabijunco colablanca, Rabijunco Coliblanco
Estonian: väike-troopikalind
Finnish: Pikkutropiikkilintu
French: Paille-en-queue à bec jaune, Paille-en-queue à brins blancs, Petit Paille-en-queue, Petit Phaéton, Phaéton à bec jaune, Phaéton à queue blanche
Haitian Creole French: Pay-an-ke bèk jòn
Hawaiian: Koa'e kea
Hungarian: fehérfarkú trópusimadár
Indonesian: Buntutsate Putih, Burung Buntut Satek Putih, Burung Buntut-sate Putih
Italian: becco giallo, Fetone beccogiallo, Fetonte coda bianca, Fetonte codabianca
Japanese: Shirao-nettaicho, shiraonettaichou, Shirao-nettaichou, shiro-o nettai-chō
Japanese: シラオネッタイチョウ, シロオネッタイチョウ
Japanese (Kanji): 白尾熱帯鳥
Latin: Phaethon americanus, Phaëthon americanus, Phaethon flavirostris, Phaëthon flavirostris, Phaethon lepturus, Phaëthon lepturus
Lithuanian: Baltauodegis fajetonas
Malagasy: Kafotsy
Malay: Burung Sinbad Ekor Putih
Dutch: Witstaartkeerkringvogel
Norwegian: Småtropikfugl, Småtropikkfugl
Palauan: Dudek
Polish: faeton zóltodzioby, faeton żółtodzioby
Pinyin: bái-wěi méng, bái-wěi rèdài-niǎo, cháng-wěi méng, cháng-wěi rèdài-niǎo
Portuguese: Rabijunco-de-bico-amarelo, rabo-de-palha-de-bico-laranja
Portuguese (Brazil): Rabo-de-palha-de-bico-laranja
Russian: Белохвостый фаэтон, Желтоклювый Фаэтон
Slovak: Faeton bielochvostý
Swedish: Vitstjärtad tropikfågel
Swahili: Ndege-mawingu
Thai: นกร่อนทะเลหางขาว
Thai (Transliteration): nók rôaan-tʰa-lee hăaŋ-kʰăaw
Tahitian: petea
Chinese: 白尾熱帶鳥, 白尾鸏, 白尾鹲, 白尾鹲长尾鹲, 长尾热带鸟, 长尾鹲
Chinese (Traditional): 白尾鸏, 長尾熱帶鳥, 長尾鸏
Chinese (Taiwan, Traditional): 白尾熱帶鳥
Chinese (Taiwan): 白尾热带鸟
Praslin, Seychelles
Sekarang, masing2 rangkaian udah tinggal buntutnya.
Only @ Auran TS 2009 Screenshots by Stephanie Anastasia (stasiunkastephanie)
Pas ngambil gambarnya Arok Jaya, malah ngeblur, lah pas ngambil buntutnya, koq malah jelas, tanya kenapa?
Only @ Someday @ Cilegeh by Stephanie Anastasia
e-wonosobo – Sedikitnya 14 warga Dusun Grenjeng Desa Kalikarung Kecamatan Kalibawang oleh Polres Wonosobo dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Penetapan status buron ini, buntut dari tewasnya Widi Setiawan warga dusun setempat diduga akibat dikeroyok warga pada 18 Oktober lalu.
“Kami sudah tetapkan 14 DPO dari dudun Grenjeng, sampai saat ini keberadaannya masih kami cari,”ungkap Kapolres Wonosobo AKBP Adi Wibowo melalui Kasubag Humas AKP Widayatno, kemarin (5/11) di sela reka ulang kasus penganiyaan itu di Gedung Kemala.
Widayatno menjelaskan, sebelum ditetapkan sebagai DPO, sebelumnya 14 orang tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun sejak 18 Oktober lalu, 14 orang yang sebelumnya tinggal di dusun Grenjeng telah menghilang. Dikabarkan mereka melarikan diri ke luar jawa.
“ Pihak keluarga yang ditinggal tutup mulut. Kami sudah melakukan pengejaran tapi belum berhasil,”katanya.
Peran 14 orang yang ditetapkan sebagai buron, kata Widayatno, dalam kasus penganiayaan ini beragam. Ada yang hanya menendang, memukul dan menyeret. Akibat aksi main hakim sendiri korban nyawanya tidak tertolong dan meninggal.
Sementara itu, lima tersangka yang sudah menjalani penahanan di Mapolres Wonosobo, kemarin (5/11) menjalani rekonstruksi kasus penggeroyokan yang menyebabkan korban tewas itu. Rekonstruk dipimpin langsung Kasatreskrim Polres Wonosobo AKP Sunarto.
Proses rekonstruksi berlangsung cukup pendek, hanya 9 adegan. Widi Setiawan korban pengeroyokan diperankan Brigadir Ivo. Adegan dimulai dari saat Wkorban diarak dari rumahnya menuju ke lapangan dusun dengan jalan kaki yang jaraknya sekitar 200 meter. Korban dipegang tersangka M Ngaliman. Sampai di lapangan, tersangka Dul Haris menarik tubuh kirban hingga terjatuh.
Saat korban mencoba bangun, tersangka Suripto memukul kepala bagian belakang korban. Tak lama tersangka lain, Muntohar memukul pipi kanan korban, saat itu korban mencoba melarikan diri. Namun kembali ditangkap oleh M Ngaliman setelah ditangkap korban diarak ke lapangan dusun kembali.
“Jadi korban sudah berulang jatuh dan mencoba lari. Namun diarak lagi ke lapangan,”kata Widayatno di sela rekonstruksi.
Setelah sampai di lapanganlagi, tersangka M Kafi memukul korban pada bagian dhi, dilanjutkan oleh tersangka Suripto memendang korban sebanyak dua kali menggunakan sepatu boat. Aksi disusul oleh M Ngaliman menendang korban dan dilanjutkan Dul Haris memukul bagian pipi korban.
“ Saat dipukul tersangka Dul Haris, korban belum meninggal hanya tertudnduk,”katanya.
Widayatno menambahkan, bahwa kelima tersangka ini hanya terlibat dalam Sembilan adegan. Setelah korban tertunduk, diduga ada keterlibatan tersangka lain yang mengikat korban serta menghujani pukulan dan tendadangan hingga korban tidak berdaya.
“ Yang mengikat korban serta menjadi pelaku penganiayaan selanjutnya para tersangka yang telah kami tetapkan jadi DPO,”katanya.(rase)
Rangkaian Argo Dwipangga (Gambir - Solo Balapan) dg stanformasi lok CC 204 + BP Retrofit + 4 K1 Retrofit + 1 M1 Retrofit + 4 K1 Retrofit + B Parcel Cheetah, melintasi DT, kali ini bagian buntutnya.
Only @ Auran TS 2009 Screenshots by Stephanie Anastasia (stasiunkastephanie)
Boraginaceae (forget-me-not family) » Rotula aquatica
ro-TWO-luh -- meaning obscure
a-KWA-tee-kuh -- meaning, lives in water
commonly known as: rotula • Chinese: 轮冠木 lun guan mu • Garo: singkhantha • Hindi: पाषाणभेद pashanabhed • Kannada: ಪಾಷಾಣಭೇದ paashaanabheda • Khasi: la khowang • Malayalam: kallurvanci • Marathi: मचिम machim • Sanskrit: अश्मःभेदः ashmahabhedah, मूत्रल mutrala, पाषाणभेदः pashanabhedah • Tagalog: buntut-buaya, kulatai, takad • Tamil: செப்புநெரிஞ்சி ceppunerinji • Telugu: పాషాణభేది pashanabhedi
Native to: China, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Philippines, Thailand, Vietnam
References: Ayurvedic Medicinal Plants • eFlora • Sahyadri Database • ENVIS - FRLHT
Koq jadi kepikiran ma buntut, ya?
Ni buntutnya Baraya Ekspres yg abis lewat Cilegeh
Only @ Someday @ Cilegeh by Stephanie Anastasia
e-wonosobo – Rumah milik Prayitno warga Desa Surengede Kecamatan Kejajar Senin (23/4) malam menjadi sasaran amuk masa puluhan warga tidak dikenal. Mereka melempari rumah dengan batu serta memecah berbagai perabot rumah tangga. Diduga pemicu aksi brutal ini dilatarbelakangi kasus sengketa warisan.
Perusakan rumah milik Prayitno berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB. Puluhan warga tidak dikenal melempari atap, jendela serta parag milik korban. Setelah itu mereka melempar batu merusak beberapa perabot rumah seperti televisi, komputer serta sempat mengenai anak korban Widi, 16, hingga terluka. Namun saat petugas datang ke lokasi, aksi perusakan sudah selesai.
Diduga aksi perusakan rumah ini buntut dari sengketa warisan. Sebelumnya sekitar pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB juru eksekusi dari Pengadilan Negeri Wonosobo didampingi petugas Polres Wonosobo melakukan eksekusi paksa mengeluarkan segala perabot rumah tangga milik Nurleha, 40, warga Desa Surengede yang merupakan tergugat dari kasus sengketa warisan dengan Prayitno (penggugat).
Dalam proses eksekusi, Nurleha sempat mengumpat kepada para petugas karena semua perabot rumah tangga dan barang daganganya dikeluarkan paksa para petugas. namun umpatan tersebut diabaikan oleh para petugas. sejumlah barang dititipkan ke rumah tetangga.
Menurut Ketua Panitia Juru Sita Pengadilan Negeri Wonosobo, Bawon bahwa proses eksekusi terhadap rumah yang sebelumnya dihuni Nurleha berlangsung cukup lama dari pukul 09. 00 hingga 20.30. WIB. Setelah selesai petugas langsung kembali ke Wonosobo. Setelah sampai di Wonosobo pihaknya mendaapatkan telepon dari Prayitno yang mengabarkan rumahnya diserang puluhan warga.
“ Kami baru sampai di Wonosobo, kemudian Prayitno melaporkan kalau dia diserang warga setelah itu petugas Polres datang ke lokasi,”katanya.
Dijelaskan dia, eksekusi paksa terhadap rumah yang dihuni Nurleha merupakan tindak lanjut dari dari hasil putusan sengketa warisan. Eksekusi ini merupakan lanjutan dai eksekusi sebelumnya yang dilakukan pada 18 Juni 2008. Sengketa warisan bermula dari tanah milik atas nama Poyem (alm) sebanyak delapan bidang satu diantaranya berdiri bangunan rumah yang dihuni Nurleha.
Poyem pada masa hidupnya mempunyai dua anak yakni Ahmad Ghozali dan Tilam. Setelah meninggal sebanyak 8 bidang tanah tersebut belum dibagi kepada ahli warisnya. Ahmad Gozali mempunyai dua orang anak bernama Prayitno dan Suharto. Sedangkan Tilam menikah dua kali tidak dikaruniai anak. Saat hidup dengan suami keduanya bernama Mubaidi, Tilam mengangkat anak bernama Eni Indah Probojati.
“ Setelah Eni besar Tilam meninggal. Kemudian Mubaidi menikah lagi dengan Nurleha,”katanya.
Sekitar tahun 2001, kata Bawon, Prayitno dan Suharto menggugat melalui Pengadilan Negeri Wonosobo meminta hak waris 8 bidang tanah termasuk bangunan rumah yang dihuni Nurleha. Proses pengadilan berjalan cukup lama. Keputusan di PN Wonosobo dimenangkan pihak Penggugat. Pihak tergugat Nurleha dan eni Indah Projobati melakukan banding dinyatakan menang. Tak berhenti disitu, pihak penggugat kemudian mengajukan kasasi pada tahun 2006 dinyatakan menang.
“ Dari keputusan Kasasi itu kami menerima perintah untuk melakukan eksekusi. Untuk tujuh bidang tanah sudah berhasil. Namun untuk satu bidang tanah yang berdiri bangunan dihuni keluarga Nurleha tidak berhasil,”katanya.
Setelah itu, kata Bawon, pihak Nurleha membuat pernyataan bakal mengosongkan rumah pada tahun 2008. Namun janji tersebut hingga awal 2012 lalu tidak ditepai sehingga Prayitno kembali mengajukan permohonan eksekusi. Lantaran peringatan tidak diindahkan oleh Nurleha kemudian dilakukan eksekusi paksa.
“Sesuai keputusan tanah tersebut hak milik Prayitno, kita hanya menjalankan putusan sidang dan perintah eksekusi paksa,”katanya.
Terpisah Kapolres Wonosobo AKBP Adi Wibowo melalui Kasubag Humas AKP Widayatno mengatakan, pada Senin malam puluhan petugas diturunkan ke rumah milik Prayitno. Namun saat petugas datang puluhan masa yang disebut merusak rumah sudah bubar.
“ Saat kami ke lokasi tidak menemukan pelaku perusakan”, katanya.
Namun, kata dia, pihak kepolisian masih mengembangkan kasus ini dan telah memeriksa saksi korban yakni Prayitno putranya Widi. Dalam kasus perusakan ini Widi mengalami luka memar pada bagian punggung akibat kena lemparan batu.
“ Kita masih mengumpulkan keterangan saksi dan belum menentikan tersangka perusakan rumah,” pungkasnya.(rase)
Rangkaian Fajar Utama SLO (Solo Balapan - Pasar Senen) dg stanformasi lok CC 203 + 1 K3 aling2 + 4 K2 + 1 KMP2 + 4 K2 + B Parcel Cheetah, melintasi DT, kali ini bagian buntutnya.
Only @ Auran TS 2009 Screenshots by Stephanie Anastasia (stasiunkastephanie)
Rangkaian Fajar Utama SLO (Pasar Senen - Solo Balapan) dg stanformasi lok CC 203 + B Parcel Cheetah + 4 K2 + 1 KMP2 + 4 K2 + 1 K3 aling2, melintasi DT, kali ini bagian buntutnya.
Only @ Auran TS 2009 Screenshots by Stephanie Anastasia (stasiunkastephanie)
@charlescreaturecabinet [BUNTUT & BULAT] have poseable ears, tiny faerie wings (soft resin) and a cute pom-pom tail stringed inside body ~Buntut Tan and Buntut Snow are cast in glow-in-the-dark resin #ShareTheGlow ✨
•
•
•
•
#charlescreaturecabinet #bunnyfaerie #buntut #lilpotbellie #faeriewings #poseable_ears #pompomtail #pocketbjd #cccbjd #tinybjd #kawaii #anthropomorphic #glowinthedark #charlesgrimbergstephan #artist #bjdartist #designer_sculptor #rotterdam #whisperingwoodlingwoods #landofwonders #cabinetofwonders #collectibles #limitededition
CCC BUNTUT | 6cm Tiny BJD | Bunny Faerie | Ball-Jointed Doll | Lil' pOtbellie ~Snow *GiD white
BJD Design & Sculpt TM & Copyright © 2008 | Charles Grimberg-Stephan | Charles' Creature Cabinet | All Rights Reserved.
Jeniang, Kedah, Malaysia.
Justicia betonica L. Acanthaceae. CN: [Malay and regional vernacular names - Ekor tupai; Om rompien (Java), Jukut buntut seroh (Sunda)], Squirrel's-tail, White shrimp-plant, Paper plume. Native to eastern and southern Africa (i.e. Kenya, Mozambique, Lesotho, Namibia, South Africa and Swaziland) and the Indian sub-continent (i.e. India and Sri Lanka); elsewhere naturalized. Stems often with a purple tinge, may be rough to the touch. Leaves opposite, ovate to elliptical to 22 cm long, to 12 cm wide. Flowers in spikes, each subtended by 3 white bracts with prominent green veins. Corolla 2-lipped, mauve with a white spot on the lower lip; capsules 2-lobed.
Synonym(s):
Adhatoda betonica (L.) Nees
Adhatoda cheiranthifolia Nees
Adhatoda lupulina Nees
Adhatoda ramosissima Nees
Adhatoda trinervia (Vahl) Nees
Adhatoda variegata var. pallidior Nees
Betonica frutescens Bontekoe
Dicliptera lupulina C.Presl
Ecbolium betonica (L.) Kuntze
Gendarussa betonica Nees ex Steud.
Justicia antidota Sm. ex T.Anderson
Justicia betonicoides C.B. Clarke
Justicia cheiranthifolia C.B. Clarke
Justicia lupulina E.Mey
Justicia ochroleuca Blume
Justicia pallidior (Nees) C.B. Clarke
Justicia pseudobetonica Roth
Justicia ramosissima Roxb. ex Hornem.
Justicia trinervia Vahl
Justicia uninervis S. Moore
Nicoteba betonica (L.) Lindau
Nicoteba trinervia (Vahl) Lindau
Rhyticalymma ochroleucum (Blume) Bremek.
Ref. and suggested reading:
www.theplantlist.org/tpl/record/kew-2330408
www.ars-grin.gov/cgi-bin/npgs/html/taxon.pl?447236
www.globinmed.com/index.php?option=com_content&view=a...
keyserver.lucidcentral.org/weeds/data/03030800-0b07-490a-...
www-public.jcu.edu.au/discovernature/plants/weeds/JCUDEV_...
Rangkaian Argo Wilis Melati (Surabaya Gubeng - Bandung) dg stanformasi lok CC 201 + 3 K1 Go Green + 1 M1 Go Green + 4 K1 Go Green + BP Go Green, melintasi DT.
Only @ Auran TS 2009 Screenshots by Stephanie Anastasia (stasiunkastephanie)
Lagi2 buntutnya Arok Jaya, kali ini melewati sinyal keluar Cilegeh arah JKT/BD.
Only @ Someday @ Cilegeh by Stephanie Anastasia
ABA Go Green tinggal ekornya, sedangkan Argo Parahyangan masih di tengah2nya.
Only @ Auran TS 2009 Screenshots by Stephanie Anastasia (stasiunkastephanie)
Masih buntutnya Baraya Ekspres, kali ini melewati sinyal keluar Cilegeh arah JKT/BD
Only @ Someday @ Cilegeh by Stephanie Anastasia
Boraginaceae (forget-me-not family) » Rotula aquatica
ro-TWO-luh -- meaning obscure
a-KWA-tee-kuh -- meaning, lives in water
commonly known as: rotula • Chinese: 轮冠木 lun guan mu • Garo: singkhantha • Hindi: पाषाणभेद pashanabhed • Kannada: ಪಾಷಾಣಭೇದ paashaanabheda • Khasi: la khowang • Malayalam: kallurvanci • Marathi: मचिम machim • Sanskrit: अश्मःभेदः ashmahabhedah, मूत्रल mutrala, पाषाणभेदः pashanabhedah • Tagalog: buntut-buaya, kulatai, takad • Tamil: செப்புநெரிஞ்சி ceppunerinji • Telugu: పాషాణభేది pashanabhedi
Native to: China, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Philippines, Thailand, Vietnam
References: Ayurvedic Medicinal Plants • eFlora • Sahyadri Database • ENVIS - FRLHT
Boraginaceae (forget-me-not family) » Rotula aquatica
ro-TWO-luh -- meaning obscure
a-KWA-tee-kuh -- meaning, lives in water
commonly known as: rotula • Chinese: 轮冠木 lun guan mu • Garo: singkhantha • Hindi: पाषाणभेद pashanabhed • Kannada: ಪಾಷಾಣಭೇದ paashaanabheda • Khasi: la khowang • Malayalam: kallurvanci • Marathi: मचिम machim • Sanskrit: अश्मःभेदः ashmahabhedah, मूत्रल mutrala, पाषाणभेदः pashanabhedah • Tagalog: buntut-buaya, kulatai, takad • Tamil: செப்புநெரிஞ்சி ceppunerinji • Telugu: పాషాణభేది pashanabhedi
Native to: China, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Philippines, Thailand, Vietnam
References: Ayurvedic Medicinal Plants • eFlora • Sahyadri Database • ENVIS - FRLHT
Gado Gado - Bamboe AUD8.90
This gado gado changes as the seasons change. being Summer you get lighter salady greens. In Winter, you get cooked vegetables like cabbages and brocolli. Who'd have though that Indonesian food would follow the seasons! :)
btw, their smooth peanut sauce was yum!
---
Yum! I love the sweet and spicy combination that is Indonesian food!
Bamboe Cafe & Restaurant
643 Warrigal Rd Chadstone 3148
(03) 9568 5311
Yupp, → kalau kita lagi jalan, jangan serta merta ngikuti tapak lain di depan mata kita, buat acuan saja kalau didepan kita bisa jadi pernah ada yang duluan jalan, perkara itu tapak membantu bukain jalan atau menyesatkan, identifikasi dan tetap ikutin panduan dan kompas yang kita punya, → kalau kita sudah tau tujuan dan tau jalan, jangan milih ngebuntutin pejalan didepan kita, belum tentu itu buat kita aman, dan nyaman, [pernah waktu nyetir, ke enakan ngikutin yang depan halah malah kebablas,] → kalau jalur aman dan gak potensi ngelanggar aturan kita boleh nyalip pengendara di depan, kadang malah itu salah satu kebutuhan untuk menjaga haluan supaya aman dan nyaman selama perjalanan, Hubungan nya sama passion apa yah😮gak ada yah😶?heuheu Di industri kreatip, atau apa ajaah passion dibutuhkan, passion bisa bantu maksa kita buat kenal diri kita sendiri supaya ambisi yang ada gak kebujuk sama obsesi yang menyesatkan, Passion bisa bantu kita buat ngusir penat jenuh, payah dan mati gaya, passion bisa bantu kita untuk tidak jadi buntut orang lain, Iyah, berhasil nya kita bukan dengan hanya menonton keberhasilan orang lain, orang lain bisa jadi inspirasi tapi jangan sampai menghasut jiwa kita untuk berbuat plagiasi😉kalau kita ngaca juga yang muncul pantulan diri kita sendiri😅kecuali kalau ngaca nya rame rame, baru tuuuh pantulannya isi nya ada orang lainnya juga he he he Just be you☺
Preparing Sup Buntut a.k.a the potent Ox Tail Soup.
Jembatan Merah, Surabaya, East Java, INDONESIA
Nikon F100 / Lucky SHD 100
Dari atas jembatan Ampera Palembang tampak berjejer perahu kayu bermotor yang disebut perahu ketek. Sayangnya, bagian haluan tersembunyi di bawah jembatan.
e-wonosobo – Rumah milik Prayitno warga Desa Surengede Kecamatan Kejajar Senin (23/4) malam menjadi sasaran amuk masa puluhan warga tidak dikenal. Mereka melempari rumah dengan batu serta memecah berbagai perabot rumah tangga. Diduga pemicu aksi brutal ini dilatarbelakangi kasus sengketa warisan.
Perusakan rumah milik Prayitno berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB. Puluhan warga tidak dikenal melempari atap, jendela serta parag milik korban. Setelah itu mereka melempar batu merusak beberapa perabot rumah seperti televisi, komputer serta sempat mengenai anak korban Widi, 16, hingga terluka. Namun saat petugas datang ke lokasi, aksi perusakan sudah selesai.
Diduga aksi perusakan rumah ini buntut dari sengketa warisan. Sebelumnya sekitar pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB juru eksekusi dari Pengadilan Negeri Wonosobo didampingi petugas Polres Wonosobo melakukan eksekusi paksa mengeluarkan segala perabot rumah tangga milik Nurleha, 40, warga Desa Surengede yang merupakan tergugat dari kasus sengketa warisan dengan Prayitno (penggugat).
Dalam proses eksekusi, Nurleha sempat mengumpat kepada para petugas karena semua perabot rumah tangga dan barang daganganya dikeluarkan paksa para petugas. namun umpatan tersebut diabaikan oleh para petugas. sejumlah barang dititipkan ke rumah tetangga.
Menurut Ketua Panitia Juru Sita Pengadilan Negeri Wonosobo, Bawon bahwa proses eksekusi terhadap rumah yang sebelumnya dihuni Nurleha berlangsung cukup lama dari pukul 09. 00 hingga 20.30. WIB. Setelah selesai petugas langsung kembali ke Wonosobo. Setelah sampai di Wonosobo pihaknya mendaapatkan telepon dari Prayitno yang mengabarkan rumahnya diserang puluhan warga.
“ Kami baru sampai di Wonosobo, kemudian Prayitno melaporkan kalau dia diserang warga setelah itu petugas Polres datang ke lokasi,”katanya.
Dijelaskan dia, eksekusi paksa terhadap rumah yang dihuni Nurleha merupakan tindak lanjut dari dari hasil putusan sengketa warisan. Eksekusi ini merupakan lanjutan dai eksekusi sebelumnya yang dilakukan pada 18 Juni 2008. Sengketa warisan bermula dari tanah milik atas nama Poyem (alm) sebanyak delapan bidang satu diantaranya berdiri bangunan rumah yang dihuni Nurleha.
Poyem pada masa hidupnya mempunyai dua anak yakni Ahmad Ghozali dan Tilam. Setelah meninggal sebanyak 8 bidang tanah tersebut belum dibagi kepada ahli warisnya. Ahmad Gozali mempunyai dua orang anak bernama Prayitno dan Suharto. Sedangkan Tilam menikah dua kali tidak dikaruniai anak. Saat hidup dengan suami keduanya bernama Mubaidi, Tilam mengangkat anak bernama Eni Indah Probojati.
“ Setelah Eni besar Tilam meninggal. Kemudian Mubaidi menikah lagi dengan Nurleha,”katanya.
Sekitar tahun 2001, kata Bawon, Prayitno dan Suharto menggugat melalui Pengadilan Negeri Wonosobo meminta hak waris 8 bidang tanah termasuk bangunan rumah yang dihuni Nurleha. Proses pengadilan berjalan cukup lama. Keputusan di PN Wonosobo dimenangkan pihak Penggugat. Pihak tergugat Nurleha dan eni Indah Projobati melakukan banding dinyatakan menang. Tak berhenti disitu, pihak penggugat kemudian mengajukan kasasi pada tahun 2006 dinyatakan menang.
“ Dari keputusan Kasasi itu kami menerima perintah untuk melakukan eksekusi. Untuk tujuh bidang tanah sudah berhasil. Namun untuk satu bidang tanah yang berdiri bangunan dihuni keluarga Nurleha tidak berhasil,”katanya.
Setelah itu, kata Bawon, pihak Nurleha membuat pernyataan bakal mengosongkan rumah pada tahun 2008. Namun janji tersebut hingga awal 2012 lalu tidak ditepai sehingga Prayitno kembali mengajukan permohonan eksekusi. Lantaran peringatan tidak diindahkan oleh Nurleha kemudian dilakukan eksekusi paksa.
“Sesuai keputusan tanah tersebut hak milik Prayitno, kita hanya menjalankan putusan sidang dan perintah eksekusi paksa,”katanya.
Terpisah Kapolres Wonosobo AKBP Adi Wibowo melalui Kasubag Humas AKP Widayatno mengatakan, pada Senin malam puluhan petugas diturunkan ke rumah milik Prayitno. Namun saat petugas datang puluhan masa yang disebut merusak rumah sudah bubar.
“ Saat kami ke lokasi tidak menemukan pelaku perusakan”, katanya.
Namun, kata dia, pihak kepolisian masih mengembangkan kasus ini dan telah memeriksa saksi korban yakni Prayitno putranya Widi. Dalam kasus perusakan ini Widi mengalami luka memar pada bagian punggung akibat kena lemparan batu.
“ Kita masih mengumpulkan keterangan saksi dan belum menentikan tersangka perusakan rumah,” pungkasnya.(rase)