View allAll Photos Tagged Humus,

Llega la croqueta de carne (casi una albóndiga) junto a un par de costillas de conejo empanadas (buenas), un poco de humus (extrañamente ligero y fresco ¡!) y también puré de remolacha. Correcto.

Sardines, humus de remolatxa, fonoll, mandarina i mató. Una fresca i ben contrastada amanida. Ben bona i ideal per començar.

CITRA KARYA TANI

Jl. Raya Cipaku 34 Bogor

Aji 085888228417

email : windi_ckt@yahoo.com

Facebook : Ajie Win

 

DESKRIPSI TEKNIS KATALEK

 

Apa Itu Kompos ?

Sebagian orang akan menjawabnya dengan benar, sebagian lagi mungkin angkat bahu. Tapi ada juga yang menjawab sekenanya bahwa kompos itu sampah atau kotoran hewan. Mungkin sedikit terdengar benar, kotoran hewan memang baik untuk dijadikan pupuk, tapi kompos jelas jauh lebih baik. Kompos adalah sejenis humus, lapisan tanah yang paling subur yang terjadi secara alami oleh pembusukan daun-daun selama bertahun-tahun. Beda kompos dengan humus ? Kompos dibuat dengan campur tangan manusia yaitu memfermentasikan bahan-bahan organik oleh sejumlah mikroba dalam lingkungan yang hangat, basah dan beroksigen dengan hasil berupa humus.

 

Ada satu hal yang perlu dicamkan baik-baik mengenai kompos, bahwa ia bukan pupuk kandang, bukan pupuk daun, bukan sampah dan yang pasti pula bukan pupuk kimia. Banyak produk di pasaran yang dimereki kompos pupuk alami yang masih banyak mengandung sampah, kotoran hewan dan dedaunan ringan. Sebaiknya jangan memilih produk semacam itu untuk tanaman peliharaan kesayangan.

 

Sebagai pengguna pupuk yang bersikap kritis, sudah sewajarnya ditanyakan tentang kompetensi kompos dibandingkan dengan pupuk yang lain. Apalagi apabila telah terbiasa menggunakan pupuk kimia sejak lama. Jawabnya seperti yang telah dikatakan seorang petani yang berprestasi nasional, "tanyakan saja pada tanaman". Jawaban yang sederhana, tetapi menjawab semua keragu-raguan mengenai kualitas kompos. Kompos bisa digunakan tanpa campuran pupuk - pupuk lain dan melihat hasilnya dengan puas.

 

Dibandingkan dengan pupuk kimia, nutrisi kompos akan terlihat seperti anak kecil bersama orang dewasa, tapi perlu diketahui pula, kompos yang dibuat dengan bibit kompos KATALEK mengandung mikroba yang bekerja merangsang mikroba - mikroba di dalam tanah sehingga terjadi proses penambahan nutrisi yang semakin lama semakin besar. Sehingga lambat laun kompos ini akan terlihat seperti raksasa bila berhadapan dengan pupuk kimia.

 

Di bawah ini adalah nutrisi yang umumnya dikandung dalam kompos yang baik :

NoJenis NutrisiKandungan (%)

1Karbon (C)19 - 40

2Nitrogen (N)2,0 - 2,5

3Fosfor (P)0,01 - 0,14

4Kalium (K)0,39 - 1,35

5Magnesium (Mg)0,04 - 0,21

6Kalsium (Ca)0,13 - 1,32

7Air (H2O)10 - 15

8C/N Ratio9 - 20

 

Di alam Indonesia yang bercuaca tropik, kandungan bahan organik dalam tanah diperkirakan hanya 1 % saja. Pada lahan yang ditanami, kandungan organik bahan tersebut makin lama makin berkurang karena terjadinya biodegradasi secara terus menerus. Untuk mengatasinya paling tidak setahun sekali lahan tersebut perlu mendapat tambahan bahan organik, dan kompos adalah yang paling dianjurkan karena dapat memperbaiki struktur, tekstur dan kelembutan tanah.

Jenis TanamanPenambahan Bahan Organik (ton/ha)

Padi Sawah10

Jagung4,8

Tebu28,3

Ubi Kayu48,4

Krotalaria14,9

Kentang8,2

Kelapa6,1

Kelapa Sawit15

Kedelai11,4

Teh3,7

Kacang Tanah9

Kopi3,1

Kakao2

Karet1,3

Agave41,8

Tembakau50,4

Lada12,9

Nanas33,3

Jeruk4,9

Pisang10,2

 

Penghematan Biaya.

Pendauran ulang limbah selalu merupakan ide yang menarik apabila menyangkut soal kesehatan lingkungan, walau sebenarnya itu adalah tugas utama Pemerintah. Akan tetapi apabila hendak menghemat biaya produksi sekaligus menghasilkan kompos yang amat baik hasilnya mengapa tidak dilakukan sendiri ? Mengingat di lingkungan pertanian /perkebunan sendiri begitu melimpah limbahnya, seperti jerami padi, pohon jagung, rumput - rumput kering, serabut kelapa, limbah pabrik kelapa sawit, penggilingan padi, eceng gondok dan sebagainya, semuanya dapat dimanfaatkan. Di samping itu terdapat juga limbah cair kotoran ternak, penjagalan, pabrik tepung tapioka, pembuatah tahu, tempe dan macam - macam lainnya. Semuanya bisa digunakan sebagai bahan pembuatan kompos.

KATALEK

 

Selulosa adalah bahan organik alami yang jumlahnya kira-kira 1/3 dari seluruh bahan organik tumbuh-tumbuhan yang ada di dunia, dan merupakan bahan yang paling sulit didegradasi atau dirombak menjadi kompos. Dari sekitar kurang lebih 2.000 bakteri dan 50 jenis jamur yang terkait dengan proses pengomposan, bibit kompos KATALEK memiliki 13 macam mikroba yang memiliki daya hidup paling kuat dibandingkan lainnya. Dan yang paling besar memainkan peran dalam pemecahan selulosa.

Kandungan Mikroba :

Bibit kompos KATALEK mengandung 13 macam mikroba yang berperan dalam penguraian atau dekomposisi limbah oirganik sampai berubah menjadi kompos yang baik. Masing-masing mikroba mempunyai fungsi spesifik yang mampu memperbaiki dan mempercepat proses pengomposan yang dilakukan. Mikroba tersebut antara lain : mikroba lignolitik, mikroba selulolitik, mikroba proteolitik, mikroba lipolitik, mikroba amilolitik, dan mikroba fiksasi nitrogen non simbiotik.

Mikroba lignolitik berperan dalam menguraikan ikatan ligonoselulose menjadi selulose dan lignin. Lignin selanjutnya akan dirauikan lagi oleh enzim lignase menjadi derivat lignin yang lebih sederhana sehingga mampu mengikat NH4. Mikroba selulolitik akan mengeluarkan enzim selulose yang dapat menghidrolisis selulosa menjadi selobiosa yang lalu dihidrolisis kembali menjadi D-glukosa dan akhirnya difermentasikan sehingga menghasilkan asam laktat, etanol, CO2, dan amonia.

Mikroba proteolitik akan mengeluarkan enzim protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida, lalu menjadi peptida sederhana dan akhirnya menjadi asam amino bebas, CO2 dan air. Mikroba lipolitik akan menghasilkan enzim lipase yang berperan dalam perombakan lemak. Mikroba amilolitik akan menghasilkan enzim amilase yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi volatile fatty acid dan keto acids yang kemudian akan menjadi asam amino.

Mikroba fiksasi nitrogen non simbiotik diperkirakan dapat mengikat 5 - 20 gram nitrogen dari 1.000 gram abahan organik yang dirombak.

Keuntungan Bibit Kompos KATALEK :

1.Terdiri dari 13 macam mikroba dan bakteri yang berguna mempercepat proses pengomposan dan memperbaiki kompos.

2.Menambah kandungan N pada kompos, jika kompos disimpan lebih lama.

3.Mengandung mikroba pemecah pospor yang akan berguna bagi tanaman.

4.Pemakaian lebih efisien direkomendasikan 1 kg bibit kompos KATALEK untuk 1 ton bahan kompos.

5.Dapat disimpan lama pada suhu kamar yaitu 3 - 5 tahun.

   

Carrillera de ternera al vino tinto con humus de garbanzos. Excepcional; muy buena.

CITRA KARYA TANI

Jl.Raya Cipaku 34 Bogor

Aji 085888228417

Email : windi_ckt@yahoo.com

Facebook : Ajie Win

 

DESKRIPSI TEKNIS KATALEK

 

Apa Itu Kompos ?

Sebagian orang akan menjawabnya dengan benar, sebagian lagi mungkin angkat bahu. Tapi ada juga yang menjawab sekenanya bahwa kompos itu sampah atau kotoran hewan. Mungkin sedikit terdengar benar, kotoran hewan memang baik untuk dijadikan pupuk, tapi kompos jelas jauh lebih baik. Kompos adalah sejenis humus, lapisan tanah yang paling subur yang terjadi secara alami oleh pembusukan daun-daun selama bertahun-tahun. Beda kompos dengan humus ? Kompos dibuat dengan campur tangan manusia yaitu memfermentasikan bahan-bahan organik oleh sejumlah mikroba dalam lingkungan yang hangat, basah dan beroksigen dengan hasil berupa humus.

 

Ada satu hal yang perlu dicamkan baik-baik mengenai kompos, bahwa ia bukan pupuk kandang, bukan pupuk daun, bukan sampah dan yang pasti pula bukan pupuk kimia. Banyak produk di pasaran yang dimereki kompos pupuk alami yang masih banyak mengandung sampah, kotoran hewan dan dedaunan ringan. Sebaiknya jangan memilih produk semacam itu untuk tanaman peliharaan kesayangan.

 

Sebagai pengguna pupuk yang bersikap kritis, sudah sewajarnya ditanyakan tentang kompetensi kompos dibandingkan dengan pupuk yang lain. Apalagi apabila telah terbiasa menggunakan pupuk kimia sejak lama. Jawabnya seperti yang telah dikatakan seorang petani yang berprestasi nasional, "tanyakan saja pada tanaman". Jawaban yang sederhana, tetapi menjawab semua keragu-raguan mengenai kualitas kompos. Kompos bisa digunakan tanpa campuran pupuk - pupuk lain dan melihat hasilnya dengan puas.

 

Dibandingkan dengan pupuk kimia, nutrisi kompos akan terlihat seperti anak kecil bersama orang dewasa, tapi perlu diketahui pula, kompos yang dibuat dengan bibit kompos KATALEK mengandung mikroba yang bekerja merangsang mikroba - mikroba di dalam tanah sehingga terjadi proses penambahan nutrisi yang semakin lama semakin besar. Sehingga lambat laun kompos ini akan terlihat seperti raksasa bila berhadapan dengan pupuk kimia.

 

Di bawah ini adalah nutrisi yang umumnya dikandung dalam kompos yang baik :

NoJenis NutrisiKandungan (%)

1Karbon (C)19 - 40

2Nitrogen (N)2,0 - 2,5

3Fosfor (P)0,01 - 0,14

4Kalium (K)0,39 - 1,35

5Magnesium (Mg)0,04 - 0,21

6Kalsium (Ca)0,13 - 1,32

7Air (H2O)10 - 15

8C/N Ratio9 - 20

 

Di alam Indonesia yang bercuaca tropik, kandungan bahan organik dalam tanah diperkirakan hanya 1 % saja. Pada lahan yang ditanami, kandungan organik bahan tersebut makin lama makin berkurang karena terjadinya biodegradasi secara terus menerus. Untuk mengatasinya paling tidak setahun sekali lahan tersebut perlu mendapat tambahan bahan organik, dan kompos adalah yang paling dianjurkan karena dapat memperbaiki struktur, tekstur dan kelembutan tanah.

Jenis TanamanPenambahan Bahan Organik (ton/ha)

Padi Sawah10

Jagung4,8

Tebu28,3

Ubi Kayu48,4

Krotalaria14,9

Kentang8,2

Kelapa6,1

Kelapa Sawit15

Kedelai11,4

Teh3,7

Kacang Tanah9

Kopi3,1

Kakao2

Karet1,3

Agave41,8

Tembakau50,4

Lada12,9

Nanas33,3

Jeruk4,9

Pisang10,2

 

Penghematan Biaya.

Pendauran ulang limbah selalu merupakan ide yang menarik apabila menyangkut soal kesehatan lingkungan, walau sebenarnya itu adalah tugas utama Pemerintah. Akan tetapi apabila hendak menghemat biaya produksi sekaligus menghasilkan kompos yang amat baik hasilnya mengapa tidak dilakukan sendiri ? Mengingat di lingkungan pertanian /perkebunan sendiri begitu melimpah limbahnya, seperti jerami padi, pohon jagung, rumput - rumput kering, serabut kelapa, limbah pabrik kelapa sawit, penggilingan padi, eceng gondok dan sebagainya, semuanya dapat dimanfaatkan. Di samping itu terdapat juga limbah cair kotoran ternak, penjagalan, pabrik tepung tapioka, pembuatah tahu, tempe dan macam - macam lainnya. Semuanya bisa digunakan sebagai bahan pembuatan kompos.

KATALEK

 

Selulosa adalah bahan organik alami yang jumlahnya kira-kira 1/3 dari seluruh bahan organik tumbuh-tumbuhan yang ada di dunia, dan merupakan bahan yang paling sulit didegradasi atau dirombak menjadi kompos. Dari sekitar kurang lebih 2.000 bakteri dan 50 jenis jamur yang terkait dengan proses pengomposan, bibit kompos KATALEK memiliki 13 macam mikroba yang memiliki daya hidup paling kuat dibandingkan lainnya. Dan yang paling besar memainkan peran dalam pemecahan selulosa.

Kandungan Mikroba :

Bibit kompos KATALEK mengandung 13 macam mikroba yang berperan dalam penguraian atau dekomposisi limbah oirganik sampai berubah menjadi kompos yang baik. Masing-masing mikroba mempunyai fungsi spesifik yang mampu memperbaiki dan mempercepat proses pengomposan yang dilakukan. Mikroba tersebut antara lain : mikroba lignolitik, mikroba selulolitik, mikroba proteolitik, mikroba lipolitik, mikroba amilolitik, dan mikroba fiksasi nitrogen non simbiotik.

Mikroba lignolitik berperan dalam menguraikan ikatan ligonoselulose menjadi selulose dan lignin. Lignin selanjutnya akan dirauikan lagi oleh enzim lignase menjadi derivat lignin yang lebih sederhana sehingga mampu mengikat NH4. Mikroba selulolitik akan mengeluarkan enzim selulose yang dapat menghidrolisis selulosa menjadi selobiosa yang lalu dihidrolisis kembali menjadi D-glukosa dan akhirnya difermentasikan sehingga menghasilkan asam laktat, etanol, CO2, dan amonia.

Mikroba proteolitik akan mengeluarkan enzim protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida, lalu menjadi peptida sederhana dan akhirnya menjadi asam amino bebas, CO2 dan air. Mikroba lipolitik akan menghasilkan enzim lipase yang berperan dalam perombakan lemak. Mikroba amilolitik akan menghasilkan enzim amilase yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi volatile fatty acid dan keto acids yang kemudian akan menjadi asam amino.

Mikroba fiksasi nitrogen non simbiotik diperkirakan dapat mengikat 5 - 20 gram nitrogen dari 1.000 gram abahan organik yang dirombak.

Keuntungan Bibit Kompos KATALEK :

1.Terdiri dari 13 macam mikroba dan bakteri yang berguna mempercepat proses pengomposan dan memperbaiki kompos.

2.Menambah kandungan N pada kompos, jika kompos disimpan lebih lama.

3.Mengandung mikroba pemecah pospor yang akan berguna bagi tanaman.

4.Pemakaian lebih efisien direkomendasikan 1 kg bibit kompos KATALEK untuk 1 ton bahan kompos.

5.Dapat disimpan lama pada suhu kamar yaitu 3 - 5 tahun.

 

Como aperitivo llegó este correcto humus.

No celebration is perfect without food, right?

Para mi, sí, para muchos, no.

Milchkalb aus Corrèze / Humus / Karotte

L’aperitiu va consistir en un hummus amb tomàquet i sèsam negre. Molt bo.

Meeting internazionale di Land Art

www.humuspark.it

L’aperitiu va consistir en un hummus de cigrons amb anxova i escarola. Molt bé.

  

Comme passant une porte á travers le temps, sous les lianes chargées de mousses, connectant les ancêtres géants profondément ancrés dans l'humus, foyer des plantes épiphytes et de milliers d'être viviants, la riche et diversifiée forêt native est toujours sur pieds... Pour combien de temps ?

 

Como cruzando una puerta a través del tiempo, debajo de lianas cargadas de musgos, conectando ancestros gigantes profundamente arraigados en el humus, hogar de plantas epifitas y miles de seres vivos, el rico y diversificado bosque nativo aun se mantiene de pie... Para cuanto tiempo ?

Note:

Auparavant identifié «Cortinarius duracinus».

 

YL3015 (CMMF).

Contrecoeur (Montérégie) 7 octobre 1996.

Sur sol rocailleux et sablonneux à humus mince, dans une vieille pinède blanche, avec quelques chênes rouges et peupliers à grandes dents.

 

Basidiomes ayant commencé à sécher, puis la pluie les a quelque peu arrosés, d’où l’étrange aspect du pied du basidiome entier de gauche dans l’image.

 

Sp. 8,3-9,7 x 5-5,5 µm, finement verruqueuses.

 

Cette photo illustre l’aspect de l’espèce au sec (ayant perdu son hygrophanéité).

Celle-ci a d’abord été publiée dans le cédérom du CMM à basse résolution.

 

Le pied peut se prolonger en une longue "racine".

 

Voyez les commentaires accompagnant la photo ci-dessous.

 

-----

ADDENDUM, 5 JUILLET 2018

 

L'analyse phylogénétique des cortinaires du Québec, entreprise par Jacques Landry en 2017, a révélé que nous aurions au moins trois espèces de la section Duracini. Jusqu’ici, aucune ne correspond au néotype de C. duracinus. C. oxytoneus a toujours été une espèce mal comprise, son auteur Robert Henry le voyant comme un Saturnini à pied radicant (comme les Duracini), et y voyant du violet (sans doute absent), et des spores de différentes tailles... Mais qu’importe: un holotype a été désigné parmi ses spécimens et la séquence ITS est maintenant connue (Liimatainen et al., 2017). Ces auteurs clarifient ainsi le statut de l’espèce, le plaçant sans hésitation dans les Duracini. Cela dit, la majorité des notes d’Henry (1981) sur son espèce doivent donc être interprétées avec la plus grande prudence.

 

Il est donc impossible pour le moment de faire une description bien précise de cette espèce. Le plus logique serait de prendre celle de la CFP pour C. duracinus, qui convient à nos récoltes (celle de Renée et les miennes), et d’indiquer des mensurations sporales de (8) 8,5-9,5 x 4,8-5,5 µm.

 

L'épithète latine «oxytoneus» signifie «terminé en pointe», selon R. Henry lui-même.

Cortinarius pallidostriatus Rob. Henry serait un synonyme prioritaire.

 

OUVRAGES CONSULTÉS

 

BRANDRUD, T. E., H. LINDSTRÖM, H. MARKLUND, J. MELOT & S. MUSKOS, 1990-2012. «Cortinarius, flora photographica (version française), parties 1-5.» Publié par les auteurs.

 

CONSIGLIO, G., D. ANTONINI & M. ANTONINI , 2003-12. «Il genere Cortinarius in Italia, Parte 1-6». A. M. B., Trento.

 

HENRY, R., 1981. «Les Cortinaires». Bull. Soc. Mycol. Fr., 97: 157-279.

 

LIIMATAINEN, K., X. CARTERET, B. DIMA, I. KYTÖVUORI, A. BIDAUD, P. REUMAUX, T. NISKANEN, J. F. AMMIRATI & J.-M. BELLANGER, 2017. «Cortinarius section Bicolores and section Saturnini (Basidiomycota, Agaricales), a morphogenetic overview of European and North American species.» Persoonia, 39: 175-200.

(doi: 10.3767/persoonia.2017.39.08)

 

SOOP, K., 2017 (15e Éd.). «Cortinarius in Sweden.» Scientrix, Mora, 112 p.

 

YL

Acetosella - Oxalis acetosella L.

Habitat: dal piano ai 2.000 metri, nei boschi ombrosi, ricchi di humus.

Etimologia: "Oxalis" dal greco oxys=acuto, pungente e da hals=sale, per il sapore acido. "Acetosella" per il gusto acidulo che ricorda l'aceto.

L'Acetosella (Oxalis acetosella - Famiglia Ossidalaceae)) è una pianta erbacea perenne, acaule, rizomatosa, alta 8-15 cm. Molto comune, si trova nelle zone fredde e temperato-fredde dell'Europa, dell'Asia e del Nordamerica. In italia è frequente in tutta la penisola, eccetto le zone litoranee e nelle isole. Cresce nei boschi, nei luoghi ombrosi, dal piano ai 2.000 metri. Gradisce un terreno fertile, morbido e ricco di humus.

Le foglie sono trilobate, portate da un picciolo arrossato, simili a quelle del trifoglio. Col tempo piovoso si contraggono piegandosi verso il basso, assumendo l'aspetto di un piccolo ombrello. I petali e le foglie si chiudono nelle ore nottune.

Il fiore è unico sullo stelo e compare ad aprile-maggio con petali bianchi o rosati, solcati da sottili venature violette. Il frutto è una capsula allungata provvista di un particolare sistema per diffondere i semi: questi, immersi in una massa mucillagginosa, vengono sospinti attraverso una fessura che, essendo stretta ed elastica, si contrae bruscamente proiettandoli lontano con un effetto "esplosivo".

Sotto la piantina striscia un fusticino sotterraneo, che si divide formando una fitta rete negli strati superficiali del suolo.

Assaggiando le foglie si percepisce subito un gusto acidulo dovuto alla presenza notevole di acido ossalico (anche più dell'1%). Questo comporta un uso attento della pianta, che se ingerita in quantità notevoli risulta dannosa all'attività renale e può persino causare la morte. L'acetosella è nota da tempo per le sue numerose proprietà, che però si perdono in gran parte con l'essiccazione.

In campo alimentare, dal Medioevo e ancora oggi, viene usata per insaporire le insalate. Si combina con altre essenze selvatiche in salse di vario uso. Dalle foglie si ricava anche un infuso depurativo, una bevanda dissetante simile alla limonata, mentre consumate crude calmano la sete in caso di mancanza d'acqua e disinfettano le piccole ulcere del cavo orale.

Le foglie sono diuretiche, decongestionanti, depurative, astringenti, rinfrescanti, febbrifughe.

Tutta la pianta contiene acido ascorbico, biossalato di potassio, vitamina C, mucillagine. Tutto ciò la rende controindicata per chi soffre di disturbi gastrici, intestinali, epatici, di calcoli renali e biliari, di gotta. Usata esternamente serviva a preparare rimedi per pelli arrossate e infiammate, dato il suo potere antinfiammatorio e decongestionante.

Nella pratica quotidiana serviva a pulire oggetti di rame, bronzo e cuoio; il "sale di acetosa", ora ottenuto industrialmente, un tempo veniva preparato dai droghieri con l'acido ossalico contenuto nella pianta. Era usata anche per smacchiare la biancheria da ruggine e inchiostro, nonché come mordente per i colori e disincrostante per i radiatori delle automobili.

  

I made this Humus

Первая Всероссийская мукомольная выставка (в Соляном городке). Санкт-Петербург. 1909, фото 14 из 21

fotki.yandex.ru/next/users/humus777/album/448449/view/113...

CalmApparente

live @ Humus Pub

Avola, 25 novembre 2016

Dans humus, bord de route, foret mixte. Chapeau convexe, blanc avec teinte chamois, marge incurvée et pubescente (à la loupe). Lames serrées adnées à subdécurentes, fourchues.

Sporée crème-jaunâtre.

Odeur et goût indistinct ou léger.

Arte in gioco

 

Meeting internazionale di Land Art

 

www.humuspark.it/index_html

Hummus de mongeta del ganxet amb anguila. De nou cremositat, densitat i sabors molt afinats. Boníssim.

1 2 ••• 6 7 9 11 12 ••• 79 80