View allAll Photos Tagged syirik
Salam / Happy Wednesday to all my FLICKR's friends...
Hadith :
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
“Adakah kamu mahu aku memberitahu kamu tentang suatu perkara yang aku takuti ke atas kamu daripada dajal? Mereka menjawab: Sudah tentu wahai Rasulullah! Bagindapun berkata:” Syirik khafi iaitu seorang lelaki bangun bersembahyang lalu dia memperelokkan sembahyangnya kerana ada orang yang memerhatikannya.”
Riwayat Ibnu Majah
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (4:48)
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (4:116)
Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, (4:117)
SIAPAKAH ORANG YANG KEKAL DI NERAKA SELAMANYA ?
13 May 2011 at 15:25
dalam Al-Quran, Allah SWT ada menyebut beberapa jenis kejahatan dan dosa yang mengakibatkan pelakunya mendekam selamanya di neraka.
1. Murtad
Salah satunya adalah orang yang murtad atau keluar dari agama Islam. Seperti yang kita baca di ayat berikut ini :
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada mereka, la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak mereka diberi tangguh,(QS. Ali Imran : 86-88 )
2. Kafir dan Menghalangi Orang Dari Jalan Allah
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. An-Nisa : 167-169)
3. Menyesatkan Manusia Dari Agama Allah
Dan hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya : "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki ". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 128)
4. Munafiq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Al-Qur’an telah banyak menerangkan tentang dosa-dosa penyebab orang abadi di neraka, antara lain adalah:
* Kufur dan Syirik
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman tapi kamu kafir” Mereka menjawab: “Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Mu’min : 10-12)
* Tidak Melaksanakan Perintah Agama dan Mendustakan Hari Kiamat
Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian” (QS. Al-Mudatstsir : 42-47)
* Mentaati Para Pemimpin yang Sesat Dalam Prinsip dan Kebijaksanaan yang Menyimpang Dari Agama
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (QS. Fushshilat : 25-28)
Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh seorang Pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab : 64-67)
* Sifat Nifaq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS. An-Nisaa’ : 145)
* Takabur (sombong)
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. (QS. Al-A’raf : 36)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan kriteria orang yang akan masuk neraka selama-lamanya.
Barakallahufiikum
Salam ukhuwahfillah
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (4:48)
SIAPAKAH ORANG YANG KEKAL DI NERAKA SELAMANYA ?
13 May 2011 at 15:25
dalam Al-Quran, Allah SWT ada menyebut beberapa jenis kejahatan dan dosa yang mengakibatkan pelakunya mendekam selamanya di neraka.
1. Murtad
Salah satunya adalah orang yang murtad atau keluar dari agama Islam. Seperti yang kita baca di ayat berikut ini :
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada mereka, la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak mereka diberi tangguh,(QS. Ali Imran : 86-88 )
2. Kafir dan Menghalangi Orang Dari Jalan Allah
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. An-Nisa : 167-169)
3. Menyesatkan Manusia Dari Agama Allah
Dan hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya : "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki ". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 128)
4. Munafiq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Al-Qur’an telah banyak menerangkan tentang dosa-dosa penyebab orang abadi di neraka, antara lain adalah:
* Kufur dan Syirik
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman tapi kamu kafir” Mereka menjawab: “Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Mu’min : 10-12)
* Tidak Melaksanakan Perintah Agama dan Mendustakan Hari Kiamat
Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian” (QS. Al-Mudatstsir : 42-47)
* Mentaati Para Pemimpin yang Sesat Dalam Prinsip dan Kebijaksanaan yang Menyimpang Dari Agama
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (QS. Fushshilat : 25-28)
Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh seorang Pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab : 64-67)
* Sifat Nifaq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS. An-Nisaa’ : 145)
* Takabur (sombong)
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. (QS. Al-A’raf : 36)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan kriteria orang yang akan masuk neraka selama-lamanya.
Barakallahufiikum
Salam ukhuwahfillah
Happy Sunday to all my FLICKR's friends..
Tried of my Sigma APO DC 70-300mm 1:4-5.6 at 300mm.(Not the good angle actually)..This image taked at Plaza Angsana, Johore Bahru,Johore, Malaysia.
Menjauhi Syirik Dalam Segala Bentuknya
Hadith :
Rasulullah s.a.w bersabda: " Sesungguhnya perkara yang sangat-sangat aku takuti akibat buruknya menimpa kamu ialah syirik yang kecil." Sahabat-sahabat Baginda bertanya: " Apa dia syirik yang kecil itu ya Rasulullah?" Baginda s.a.w menjawab: "( Syirik yangkecil itu) ialah riak - Allah Taala akan berfirman pada hari Kiamat apabila manusia datang dengan amal masing-masing: " Pergilah kepada mereka yang kamu melakukan riak di dunia dahulu ( untuk menunjukan kepada meraka ), kemudian lihatlah, adakah kamu akan dapati sebarang balasan di sisi mereka?"
Mahmud bin Labid r.a
SIAPAKAH ORANG YANG KEKAL DI NERAKA SELAMANYA ?
13 May 2011 at 15:25
dalam Al-Quran, Allah SWT ada menyebut beberapa jenis kejahatan dan dosa yang mengakibatkan pelakunya mendekam selamanya di neraka.
1. Murtad
Salah satunya adalah orang yang murtad atau keluar dari agama Islam. Seperti yang kita baca di ayat berikut ini :
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada mereka, la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak mereka diberi tangguh,(QS. Ali Imran : 86-88 )
2. Kafir dan Menghalangi Orang Dari Jalan Allah
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. An-Nisa : 167-169)
3. Menyesatkan Manusia Dari Agama Allah
Dan hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya : "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki ". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 128)
4. Munafiq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Al-Qur’an telah banyak menerangkan tentang dosa-dosa penyebab orang abadi di neraka, antara lain adalah:
* Kufur dan Syirik
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman tapi kamu kafir” Mereka menjawab: “Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Mu’min : 10-12)
* Tidak Melaksanakan Perintah Agama dan Mendustakan Hari Kiamat
Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian” (QS. Al-Mudatstsir : 42-47)
* Mentaati Para Pemimpin yang Sesat Dalam Prinsip dan Kebijaksanaan yang Menyimpang Dari Agama
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (QS. Fushshilat : 25-28)
Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh seorang Pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab : 64-67)
* Sifat Nifaq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS. An-Nisaa’ : 145)
* Takabur (sombong)
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. (QS. Al-A’raf : 36)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan kriteria orang yang akan masuk neraka selama-lamanya.
Barakallahufiikum
Salam ukhuwahfillah
Al-Quran | Luqman | Ayat 13:
"Wahai anak kesayanganku, janganlah kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.”
____________________________________________________________________
About The Shot | My Little Hero; Daniell Rifa'e:
Captured recently during my visit to Cameron Highlands.
I love the atmosphere in this room and decided to do some photo shot with my family.
Location, Date & Time:
Somewhere in Cameron Highlands | 16 May 2010 | 8:02pm (+8GMT)
Canon EOS 500D + 50mm f/1.8 lens + 580EXii:
Photoshop CS3 Lite:
- Level adjustment,
- Duplicate layer; Do Highpass sharpening at 5px,
- Blending with first layer; mode Hard Light at 100%,
- Duplicate layer; Do Diffuse Glow at | Graininess 0 | Glow Amount 3 | Clear Amount 12,
- Layer masking; Erase all part in the diffused layer except face area,
- Decrease opacity to 19% and flatten all layers,
- Adding watermark and framing!
Me:
I’m really appreciate your kind visit and support =)
All comments, criticism and tips for improvements are welcome.
_________________________________________________________________
© & ® 2010 annamir[at]putera.com | www.facebook.com/annamir
Photographer : Greenboy a.k.a Budakijau
::Salam jumaat buat para sahabat yg sesama islam::
Exif :
5 Apr 2012/7:01AM
Shot in NEF
Exposure: 4sec at f22
Filter : GND 0.9
Exposure Program : M
Matering Mode: Pattern
ISO 1.0
Flash: No
Focal Lenght : 20mm
Exposure Bias : 0 step
Camera: Nikon D300s
Lens : Sigma 10-20mm f4
White Balance : 5560k
Picture Control : Greenboy Landscape
keep in touch : www.facebook.com/greenboyoriginal or www.flickr.com/photos/budakijau or www.http://500px.com/GreenboyOriginal
Dari Al-Baihaqy dengan sanad-sanadnya dari Aisyah ra. bahawa Nabi saw bersabda bermaksud, “Jibril telah mendatangi aku dan berkata: Malam ini adalah malam Nisfu Syaaban. Pada malam itu Allah membebaskan hamba-hamba dari siksaan Api Neraka seramai bilangan kambing Bani Kalb (merentasi satu tempat) selama sebulan. pada malam itu Allah tidak menoleh kepada orang yang melakukan syirik, pengadu domba (kaki batu api), pemutus silaturrahim, penderhaka kepada kedua ibu bapa dan orang yang ketagih arak”. Bani Kalb adalah kabilah Arab yang terbesar atau yang memiliki bilangan kambing yang terbanyak.
Akhir kata, Allahumma a’inni ala zikrika wa syukrika wa husni ibadatik (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingati, mensyukuri dan beribadah kepadaMu). Ameen ya rabbal alameen.
norkandirblog.wordpress.com/2016/09/04/teks-dzikir-pagi-s...
Teks Dzikir Pagi Sesuai Hadits Shahih
Teks Dzikir Pagi Sesuai Hadits Shahih
Tujuan: Untuk meminta pahala, keberuntungan, keutamaan, dan kemudahan dalam hari tersebut dari Allah.
Waktu: Yang utama dibaca saat masuk waktu Shubuh hingga matahari terbit. Namun boleh juga dibaca sampai matahari akan bergeser ke barat (mendekati waktu Zhuhur).
Lafazh Dzikir:
Membaca Ayat Kursi
1- أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ* بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ* اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255)(Dibaca 1 x)
Faedah: Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang. (HR. Al Hakim (1: 562). Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 655)
Catatan: Para ulama sepakat bahwa di awal membaca Al-Qur’an dianjurkan membaca ta’awudz sebagaimana basmalah di awal surat selain surat At-Taubah. Mereka berselisih pendapat dalam membaca basmalah di selain ayat pertama. Untuk kasus ayat kursi –sebagian pendapat- menganjurkan menggunakan basmalah dengan alasan karena ta’awudz diakhiri dengan lafazh setan dan di awal ayat kursi diawali dengan nama Allah. Dengan dipisah dengan basmalah maka akan terjaga nama Allah dari nama setan yang mengiringinya. Allahu a’lam.
Membaca Surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas
2- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ* قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)
3- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)
4- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)
Faedah: Siapa yang mengucapkannya masing-masing tiga kali ketika pagi dan petang, maka segala sesuatu akan dicukupkan untuknya. (HR. Abu Dawud no. 5082, At-Tirmidzi no. 3575. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Membaca Dzikir-Dzikir Tertentu
5- أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.
Artinya:
“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di alam kubur.” (Dibaca 1 x) (HR. Muslim no. 2723)
6- اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ
Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.
Artinya:
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x) (HR. At-Tirmidzi no. 3391 dan Abu Dawud no. 5068. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Membaca Sayyidul Istighfar
7- اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.
Artinya:
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa Surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni Surga. Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni Surga. (HR. Al-Bukhari no. 6306)
8- اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma ‘aafinii fii badanii. Allahumma ‘aafinii fii sam’ii. Allahumma ‘aafinii fii basharii. Laa ilaaha illa anta. Allahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal kufri. Allahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qubri. Laa ilaha illa anta.
Artinya:
““Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau.” (Dibaca 3x) (HR. Abu Dawud no. 5090 dan dihasankan Syaikh Al-Albani)
9- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan do’a ini di pagi dan petang hari. Di dalamnya berisi perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah. (HR. Abu Dawud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
10- اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.
Artinya:
“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk dibaca pada pagi, petang dan saat beranjak tidur. (HR. At-Tirmidzi no. 3392 dan Abu Daud no. 5067. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini shahih. Adapun kalimat terakhir (وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ) adalah tambahan dari riwayat Ahmad 2: 196. Dikomentari oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari jalur lainnya (shahih lighoirihi))
11- بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.
Artinya:
“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka tidak akan ada bahaya yang tiba-tiba memudaratkannya. (HR. Abu Dawud no. 5088, 5089, At-Tirmidzi no. 3388, dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
12- رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا
Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.
Artinya:
“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka pantas baginya mendapatkan ridha Allah. (HR. Abu Dawud no. 5072, At-Tirmidzi no. 3389. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
13- يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin.
Artinya:
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Dzikir ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Fathimah supaya diamalkan pagi dan petang. (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro (381/ 570), Al Bazzar dalam Musnadnya (4/ 25/ 3107), Al Hakim (1: 545). Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227)
14- أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin
Artinya:
“Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas (kalimat syahadat), agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama bapak kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” (Dibaca 1 x di pagi hari saja) (HR. Ahmad (3: 406). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim. Lihat pula As Silsilah Ash Shahihah no. 2989)
15- سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.
Artinya:
“Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (Dibaca 3 x di waktu pagi saja)
Faedah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Juwairiyah bahwa dzikir di atas telah mengalahkan dzikir yang dibaca oleh Juwairiyah dari selepas Shubuh sampai waktu Dhuha. (HR. Muslim no. 2726)
16- سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih.
Artinya:
“Maha Suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan kalimat ‘subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu. (HR. Muslim no. 2692)
17- لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Artinya:
“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”
Jika Dibaca 10x Faedah: Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula. (HR. An Nasai Al Kubra no. 9768)
Jika Dibaca 100x Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut dalam sehari sebanyak 100 x, maka itu seperti membebaskan 10 orang budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus baginya 100 kesalahan, dirinya akan terjaga dari gangguan setan dari pagi hingga petang hari, dan tidak ada seorang pun yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali oleh orang yang mengamalkan lebih dari itu. (HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691)
18- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Artinya:
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (Dibaca 1 x setelah salam dari shalat Shubuh) (HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
19- أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astagh-firullah wa atuubu ilaih.
Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.” (Dibaca 100 x dalam sehari) (HR. Al-Bukhari no. 6307 dan Muslim no. 2702)
20- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ
Allahumma inni ash-bahtu usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika wa malaa-ikatak wa jami’a kholqik, annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rosuuluk.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca 4 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini ketika pagi dan petang hari sebanyak empat kali, maka Allah akan membebaskan dirinya dari siksa Neraka. (HR. Abu Dawud no. 5069. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Referensi: Diringkas dari Dzikir Pagi dan Petang karya Ust Yazid Abdul Qadir Jawas, Hisnul Muslim karya Syaikh Dr. Qahthani, dan situs www.rumaysho.com.
Artikel norkandirblog.wordpress.com
Teks Dzikir Pagi Sesuai Hadits Shahih
Jauhi Syirik dan Kesesatan
Hadith :
Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ Allah tidak akan mengambil kembali ilmu (agama) dengan mengambilnya dari (dalam hati) manusia, tetapi mengambilnya kembali dengan kematian para ulama hingga tidak bersisa, lalu orang ramai akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya yang apabila orang-orang itu bertanya kepada mereka, mereka akan memberikan jawapan-jawapan yang tidak didasarkan kepada ilmu. Maka mereka akan berada dalam kesesatan dan menyesatkan orang lain.”
(al-Bukhari)
Photographer : Greenboy a.k.a Budakijau
Exif :
30 Jun 2012/18:23PM
Shot in NEF
Exposure: 30sec at f16
Filter : GND 0.9
Exposure Program : M
Exposure Comp : -0.3
Matering Mode: Pattern
ISO 100
Flash: No
Focal Length: 10mm
Camera: Nikon D90
Lens : Sigma 10-20mm f4
White Balance : 5000k
Picture Control : Greenboy Landscape
keep in touch : www.facebook.com/greenboyoriginal or www.flickr.com/photos/budakijau or www.http://500px.com/GreenboyOriginal
Tajuk :
Menjauhi Tujuh Dosa Besar
Hadith :
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:”Jauhilah diri kamu daripada tujuh dosa yang boleh membinasakan.Baginda ditanya:”Apakah dosa itu wahai Rasulullah?” Baginda berkata:" Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan jalan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran perang dan menuduh perempuan yang suci melakukan zina.”
Riwayat Muslim
Huraian
1.Terdapat tujuh dosa besar yang dilaknat oleh Allah SWT terhadap sesiapa yang melakukannya iaitu:
i.Syirik kepada Allah- iaitu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain seperti mempercayai perkara-perkara khurafat, memuja hantu syaitan dan sebagainya.
ii.Sihir
iii.Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan jalan yang benar seperti untuk mempertahankan diri atau menegakkan hukum Allah (menjalankan hukuman keadilan)
iv.Memakan harta anak yatim
v.Memakan riba
vi.Lari dari medan pertempuran
vii.Menuduh perempuan yang suci melakukan zina.
2.Setiap mukmin hendaklah berusaha agar bebas dan selamat daripada melanggar hak saudaranya apalagi hak anak-anak yatim yang diamanahkan untuk dijaga dengan baik. Seseorang yang telah menghkianati amanah tersebut hendaklah ia mengembalikannya atau meminta untuk dihalalkan.
3.Orang yang telah melakukan dosa hendaklah bertaubat dengan taubat nasuha dan meminta ampun kepada Allah kerana pintu taubat sentiasa terbuka sampai terbitnya matahari dari barat.
keris....traditional weapon
Ya Allah...
jauhkan kami dari syirik yang Engkau murkai dan tetapkan iman kami dijalan yang Engkau ridhoi....amin
Selamat Tahun Baru 1431 Hijriyah
Happy Islamic New Year
HOME HOT NEWS INDONESIA ALAM JAGAD RAYA BANGUNAN BENDA MANUSIA HEWAN TUMBUHAN NGAKAK LAIN LAIN INDEX
AGAMA KESEHATAN PENDIDIKAN PERCINTAAN OLAH RAGA INTERNET GADGET TIPS & TRIK BLOG FILM SEXY CHEAT
DAFTAR GIRL BAND INDONESIA
1. 7 icons Daftar Lengkap Girl Band Indonesia 2011 | Girlband pertama yang muncul di Indonesia. Disebut-sebut sebagai pasangannya SM*SH...
7 WANITA TERCANTIK DI DUNIA 2011 VERSI FHM
7 Wanita Tercantik Di Dunia berikut ini di keluarkan versi majalah FHM 2011 di mana foto-foto wanita cantik ini dinobatkan sebagai wanita ...
KALENDER KAMASUTRA
Inilah Gaya Gaya atau posisi bercinta yang disiapkan setahun penuh
PROFIL BESERTA FOTO HOT DAN SEKSI AYU TING TING
Ayu Ting Ting cewek cantik kelahiran depok ini merupakan penyanyi dangdut dengan judul alamat palsu yang baru-baru lagi popular dan t...
UMR 2012 UNTUK DKI JAKARTA DAN SEKITARNYA
UMR DKI Jakarta 2012 atau yang sekarang dikenal dengan sebutan UMP atau Upah minimum Provinsi, untuk wilayah DKI Jakarta pada tahun 2012 ...
10 PRAMUGARI TERSEKSI DI DUNIA
Saat perjalanan jauh dengan pesawat, apa yang bisa Anda lakukan jika sudah bosan dengan hiburan standar yang disediakan oleh maskapai? B...
10 GIRL BAND KOREA TERSEKSI
10 Girlband Korea Terseksi | Foto Seksi Member Girlband - Girlband makin marak di Korea (dan kini menular ke Indonesia). Bedanya, kalau d...
RAMALAN 2012 TAHUN NAGA AIR TAHUN DRAMASTIS
Tahun 2012 menurut kalender China adalah Tahun Naga Air. Masa tahun Naga Air ini sendiri akan berlangsung pada 23 Januari 2012 sampai deng...
KACA MATA dan KAMERA TEMBUS PANDANG
KECIL KECIL MESUM
LANGKAH LANGKAH MENJADI SALES HANDAL
Share
Sales Magic (menjual apapun,dimanapun,kapan pun,kepada siapapun dan dengan harga berapa pun)
sebelum nya saya ingin intermezo dulu dengan cerita berikut ini :
di suatu daerah ada 2 orang pensiunan yang konon bisa berjalan di atas air mereka ingin menghabiskan sisa waktu nya di sebuah desa yang jauh dari keramaian,,aktivitas 2 orang pengangguran ini hanya memancing dan memancing jadi bisa di katakan waktu nya hanya di habiskan bersama ikan dan pancingan.
suatu hari datang seorang pengangguran baru teman dari 2 orang pengangguran ini karena mendapat kabar bahwa mereka tinggal dan menghabiskan waktu nya di desa tersebut teman nya tertarik dan minta untuk ikut bergabung.
ketika habis subuh 2 orang pengangguran ini seperti biasa pergi kedanau untuk memancing dan si pengangguran baru ini meminta untuk ikut dan 2 orang pengangguran tersebut mengajak nya.
singkat cerita ketika sudah agak siang si pengangguran pertama ngomong kepada si pengangguran ke 2 "hoii teman saya sudah lapar nih minggirkan perahu nya sedikit dong" lalu si pengangguran kedua menjawab "minggir sendiri dong emang ga bisa?" lalu si pengangguran pertama menjawab "oke baiklah" lalu ia turun dari kapal dan ting,ting,ting,ting si pengangguran pertama berjalan di atas air kemudian tiba di pinggir danau kemudian setelah kenyang ia kembali ke perahu dengan berjalan di atas air kembali,, si pengangguran ke 3 yang baru melihat kaget dan berkata "astaga ini bukan main ini teman ku sudah lama tidak ketemu sekarang sudah bisa berjalan di atas air" masih heran.
kemudian sudah agak lama sedikit gantian dengan si pengangguran ke 2 "hoii teman gantian sekarang saya yang lapar minggirkan perahu nya sedikit dong" si pengangguran pertama menjawab "nyebrang sendiri dong emang ga bisa?" lalu si pengangguran ke 2 menjawab "oke no problem" kemudian ia juga menyebrangi danau dengan berjalan di atas air ,, ting,ting,ting,ting. si pengangguran ke 3 yang melihat semakin kaget "oalah ini ga mungkin ini pasti ada magic nya ini"".
singkat cerita ketika hari sudah semakin siang si pengangguran ke 3 pun lapar dan berkata kepada kedua teman nya "teman saya lapar" kemudian 2 orang teman nya melirik dan si pengangguran ketiga pun menjawa "oke2 saya harus nyebrang sendiri kan??" lalu si pengangguran pertama menjawab "yasudah kalo sudah tau cara nya",.
kemudian si pengangguran ke 3 pun mencoba turun dari kapal dan ,, hap,hap,hap (ia tenggelam dan akhir nya di tolong oleh kedua teman nya).
kedua pengangguran ini maen salah salahan dan akhir nya si pengangguran pertama menjawab "yah ini memang salah kita karena kita tidak memberitahukan di mana letak BATU nya"
"ya terang aja bisa berjalan di atas air orang ada BATU".
begitu juga dengan penjualan kalo kita ingin menjadi seorang sales yang handal kita harus tahu dulu BATU - batu yang akan memudahkan kita dalam menjual.
oke masuk ke batu yang pertama yaitu :
penampilan : mengapa saya katakan penampilan itu penting?? karena ketika kita bertemu seseorang itu yang di lihat bukan dari mana kita,apa jabatan kita,apa prestasi kita, melainkan penampilan. saya ambil contoh semisalkan adan dua orang pengemis pengemis yang pertama berpenampilan kumuh,kusut,dekil, baju compang-camping dan terlihat mengenaskan kalo pun ia meminta kepada orang palingan kalo ada yang ngasih pun cuma uang receh,betul?,. di keadaan yang sama tapi orang yang berbeda pengemis kedua berpenampilan rapih menggunakan kemeja,rambut klimis,membawa tas dan ketika ia meminta kepada orang "pak/bu tolong bantu saya tadi di bis saya kecopetan dan semua kartu tabungan saya hilang bersama dompet saya",, and than apa yang terjadi?? orang pun akan bersimpatik dan memberikan bantuan yang besar karena percaya dengan penampilan nya, betul??
bau badan : setelah penampilan biasa nya orang akan mencium bau tubuh seseorang jika orang tersebut tercium bau yang mengganggu menurut nya maka ia akan malas dan lebih memilih pergi meninggalkan kita, jadi biasakan pake parfum sebelum action.
sikap : setelah orang yang kita temui itu welcome dan mulai terbuka kesempatan kita untuk bertanya-tanya nama,tempat ia bekerja,asal,umur (kalo perlu),. kita harus menjaga sikap jangan sampai kita memperlihatkan kepada orang tersebut sikap jelek kita seperti : menaikkan kaki di atas kursi, ngupil, garuk2 kepala,cengar cengir sendiri apalagi sampai tertawa, kalo ini terjadi orang tersebut akan memprotek diri nya dan akan sulit kita untuk melanjutkan misi kita.
jabatan/reputasi : dalam hal ini bukan berarti kita harus berjabatan tinggi/bereputasi baik dulu baru bisa menjual,tapi lebih kepada reputasi sederhana seperti kartu nama,edifikasi. untuk kartu nama kita sendiri jangan sampai kita menulis jabatan yang merendahkan kita sendiri contoh : junior salles officer (sudah salles officer tambah junior lagi). tulis salles manager, kalo ada yang bertanya "kamu punya anak buah berapa" tinggal jawab "satu saya sendiri,,hehe" cukup masuk akal untuk di jalani, kemudian edifikasi atau memberikan reputasi kepada senior kita seperti manager marketing kita atau general manager kita katakan kepada orang yang kita temui jika dia tidak percaya kita akan kenalkan kepada manager kita dengan sedikit membanggakan reputasi nya di depan orang tersebut, dengan begitu ia akan percaya dan siap untuk membeli barang kita.
mengenal hukum parretto : sebagai sales apapun kita harus mengenal rumusan hukum ini agar kita tidak mudah down dan putus asa di tengah jalan, hukum ini memiliki rumus (10 : 1) dalam artian 10 kali kita menawarkan kepada orang mungkin hanya 1 yang akan beli, kalo anda seorang sales mobil mungkin 20 : 1 dan kalau makelar rumah 30 : 1 yah inti nya harus bersabar aja sebelum mencapai angka nya jangan berhenti menawarkan.
memberikan sugest kenikmatan & ketakutan : berikan suggest kenikmatan yang akan di dapatkan jika membeli produk yang kita tawarkan , contoh : kita menjual obat "kalo bapak/ibu beli produk ini bapak/ibu akan terjaga kesehatan nya dan ga gampang sakit". kalo ketakutan nya "wah sangat di sayangkan jika bapak/ibu tidak jadi membeli produk ini karena mungkin saya ga akan kesini lagi dan kalo suatu saat bapak/ibu butuh produk ini maka akan susah mencari nya", karena orang akan tergerak jika menyinggung akan ketakutan nya di bandingkan kenikmatan, mau contoh : oke saya mau tanya anda pilih mana dapat uang 100 juta atau kehilangan 100 juta?misalkan ada orang yang uang nya tenggelam di laut dan orang tersebut bilang "ambil tuh duit kalo dapat 100 juta nyabuat kamu" apa yang akan anda jawab?? hanya orang bodoh yang mau ngambil, tapi kalo misalkan uang anda tenggelam 100 juta apa yang akan anda lakukan? (nyebur dan selamatkan uang tersebut), mengapa bisa seperti itu?karena itu sudah bawaan dari sifat manusia yang takut kehilangan sesuatu yang berharga.
yang terakhir adalah clossing : setelah kita berbicara panjang lebar tentang produk yang akan kita jual kita harus menanyakan kembali kepada orang tersebut "bapak/ibu jadi beli?" jangan katakan mau beli atau tidak karena kata-kata tersebut akan memberikan kesempatan untuk ia menolak, dan berikan garansi yang meyakinkan kepada calon pembeli kita supaya ia dapat percaya.
BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT LAINNYA DIBAWAH INI :
tips
Poskan Komentar
SPONSOR
KOMUNITAS
DAFTAR ISI
► 12 (706)
► 12 Februari - 19 Februari (57)
5 PROGRAM WAJIB BAGI IT PROFESIONAL
PERBEDAAN CINTA DAN NAFSU
5 FAKTA DIBALIK PARFUM
TIPS MERAWAT MOTOR 2 TAK
9 LANGKAH MEMULAI WIRAUSAHA
TIPS MEMASAK DAGING SAPI
6 FAKTA SEKS DAN KEHAMILAN
10 MAKANAN CEPAT SAJI TERPOPULER DI DUNIA
TIPS MEMBUAT TOILET BERSIH DAN MENYEHATKAN
POHON DEWA DARI JEPANG
KEYBOARD UNIK TIDAK BER QWERTY
4 RUMAH KUNO TERUNIK DI INDONESIA
7 IMPOTENSI PADA OTAK MANUSIA
10 BUAH SEHAT YANG JUGA MENGANDUNG RACUN
13 RAHASIA MARKETING AMPUH YANG HARUS DIKETAHUI
SOFTWARE CANGGIH ANTI PENCURIAN LAPTOP
7 RAHASIA CEPAT AGAR SELALU TERLIHAT MUDA
CARA MUDAH MEMERIKSA KESEHATAN JANTUNG DAN PARU PA...
KOLEKSI TEBAK TEBAKAN YANG UNIK
MENGENAL LIONEL ANDRES MESSI
MENIKAH ITU SEHAT DAN MENYEHATKAN
BUNGLON TERKECIL DI DUNIA
KEMBAR IDENTIK YANG UNIK
10 ULAR PALING BERBISA DI DUNIA
DOWNLOAD FILM GRATIS RONAL THE BARBARIAN
DOWNLOAD FILM GRATIS SAFE HOUSE
CHEAT PB 17 FEBRUARI 2012 FULL HACK + SUPER TUYUL ...
DESAIN RUMAH MASA DEPAN
FAKTA MENARIK TENTANG PBB
NEGARA NEGARA YANG JARANG DIKETAHUI
5 PEMBELIAN TERBAIK BARCELONA
KOMPUTER KAYU
WISATA ALAM BUATAN TERBAIK DI DUNIA
TUPAI UNGU
7 MANFAAT BUNGA UNTUK KESEHATAN
MODUS BARU PENYEBARAN UANG PALSU DI ATM
BERBAGAI MANFAAT KULIT JERUK
TIPS MENGATASI PEGAL LINU SECARA ALAMI
KITA INI GILA BUKAN GOBLOK
AQUARIUM BEKU
TIPS MERAWAT PONSEL TOUCH SCREEN
CHEAT AYO DANCE TERBARU 2012
CHEAT POINT BLANK PB 16 FEBRUARI 2012 HACK PASS RO...
CHEAT PB 15 FEBRUARI 2012 SIMPLE CHEAT HACK MEMATI...
KADO KADO ISTIMEWA UNTUK VALENTINE
VELENTINE DAY ANTARA SEJARAH DAN MITOS
VALENTINE MENURUT ISLAM
INILAH 4 RAHASIA TERBESAR BULAN
FACEBOOK MENCARI HACKER
CHEAT CROSS FIRE 14 FEBRUARI 2012
► 5 Februari - 12 Februari (79)
► 29 Januari - 5 Februari (89)
► 22 Januari - 29 Januari (109)
► 15 Januari - 22 Januari (139)
► 8 Januari - 15 Januari (133)
► 1 Januari - 8 Januari (100)
▼ 11 (1812)
► 25 Desember - 1 Januari (59)
► 18 Desember - 25 Desember (56)
► 11 Desember - 18 Desember (69)
► 4 Desember - 11 Desember (59)
► 27 November - 4 Desember (43)
► 20 November - 27 November (46)
► 13 November - 20 November (58)
► 6 November - 13 November (54)
► 30 Oktober - 6 November (65)
► 23 Oktober - 30 Oktober (76)
► 16 Oktober - 23 Oktober (41)
► 9 Oktober - 16 Oktober (75)
► 2 Oktober - 9 Oktober (44)
▼ 25 September - 2 Oktober (129)
PESAWAT MENEMBUS KECEPATAN SUARA
LANGKAH LANGKAH MENJADI SALES HANDAL
10 TABLET TERBAIK VERSI AMAZON
TIPS MENGHILANGKAN ZAT PENGAWET PADA MIE INSTANT
MEMBUAT PASSWORD UNTUK USB ATAU HD EXTERNAL
CARA MENDAPATKAN GOOGLE SITELINKS
PASANG IKLAN DALAM POSTINGAN
TERAPI MINUM AIR PUTIH BAGUN TIDUR PAGI
PEMBALAP TERMUDA DI DUNIA
300 SITUS RADIKAL DIBLOKIR PEMERINTAH RI
ALASAN ANDROID AKAN HANCUR
BAHAYA MEMBUNYIKAN TULANG LEHER
SHALAT SUNNAH FAJAR LEBIH MAHAL DARI DUNIA DAN ISI...
MUSEUM HARLEY DAVIDSON
TIPS MENGASUH ANAK KEMBAR
KEINDAHAN ALAM LIZARD ISLAND
10 MENIT CEGAH OSTEOPOROSIS
WAJAH ASLI MONALISA
HEWAN HEWAN MISTERIUS DARI BELAHAN DUNIA
BIAR JANTUNG SEHAT MAKA TIDURLAH DENGAN SEHAT
HAND PHONE ATAU PONSEL TERKECIL DIDUNIA
SILSILAH KELUARGA ADOLF HITLER DAN EVA BRAUN
PERAMPOKAN TERBESAR DALAM SEJARAH DUNIA
KARTUN KARTUN JAMAN DULU ( JADUL )
ASAL USUL PATUNG LIBERTY
GEDUNG TINGGI DALAM TANAH
CARA MEMBUAT TEKS BERJALAN (MARQUEE)
CARA MENULIS KODE HTML PADA POSTINGAN
CARA PASANG READ MORE OTOMATIS
GENERASI BARU PROSESOR INTEL ITANIUM "POULSON"
FOTO FOTO LEDAKAN NUKLIR
MENGENAL WIMAX
KEHEBATAN VITAMIN D
KAMBING TERMAHAL DI DUNIA
7 NEGARA TERTUA DI DUNIA
PAYUNG UDARA PAYUNG AJAIB
BEKERJA BERDIRI LEBIH SEHAT
MENONTON KARTUN DAPAT MERUSAK MEMORI ANAK
MENINGKATKAN TRAFFIC DENGAN PLIPEO.COM
UFO ITU MEMANG ADA
SANG MUALAF DARI EROPA
SEJARAH GONGXI FACAI
ASAL MULA HIZBULLAH
AIR MINERAL BERWARNA HITAM
HOTEL BAWAH TANAH
REKOR DUNIA BARU GUINNESS WORLD RECORDS 2012
TONGKAT BASEBALL TERBESAR DI DUNIA
ABU DHABI CIPTAKAN ALAT UNTUK MENURUNKAN HUJAN
KISAH SUKSES YANG BERAWAL DARI KEGAGALAN
CARA MENAMPILKAN GOOGLE ADSENSE DI BLOG BAHASA IND...
CARA MENDAFTAR GOOGLE ADSENSE
SOFTWARE MEMPERBESAR GAMBAR (IMAGE) TANPA PECAH
EBOOK SEO UNTUK PEMULA
CARA MEMBACKUP BLOG
CARA IMPOR BLOGSPOT KE WORDPRESS
DESA TERAPUNG DANAU TITICACA
TIPS MEMILIH BISNIS ONLINE
CARA DAFTAR SEARCH ENGINE
SEARCH ENGINE OPTIMIZATION
CARA MEMBUAT BLOG DI WORDPRESS
CARA SETTING BLOG
CARA MEMBUAT BLOG DI BLOGSPOT
MANFAAT DAN KEAJAIBAN SEDEKAH
PENGERTIAN BANDWIDTH INTERNET
BUKA KODE KEAMANAN SEMUA JENIS HP
INILAH PIMPINAN AL QAEDA TERBARU
BAMBU RENGKOL BAMBU YANG UNIK
SERANGAN JANTUNG PERTAMA DI DUNIA
SEJARAH HANTU DI INDONESIA
KODE E PADA MAKANAN YANG MENGANDUNG BABI
CIA MENGINTEROGRASI TAHANAN DENGAN KEJAM
HOTEL RUANG ANGKASA PERTAMA DI DUNIA
MENDIDIK DAN MEMBIMBING ANAK
FESTIVAL TAHUNAN DI KOREA
ASAL USUL TEKA TEKI SILANG
ASAL USUL MASKOT LINUX
FAKTA UNIK TENTANG JANTUNG
INILAH MITOS UNIK TENTANG ANAK KEMBAR
FUNGSI RAHASIA TOMBOL SHIFT PADA KEYBOARD
SITUS KULINER DUNIA ANAK MUDA
PANCA INDRA MANUSIA SEBENARNYA ADA 9
SUNGAI TERPENDEK DI DUNIA
MEJA MEJA YANG UNIK
BONEKA BONEKA YANG PALING MENGERIKAN
SEPEDA UNIK TANPA RANTAI
ASAL MULA KATA HACKER
MOBIL BALAP TERTUA DI DUNIA
SEJARAH DAN PERJALANAN MUSIK DANGDUT
KUMPULAN EMOTION ELO GUE END
10 BANK TERBAIK DI INDONESIA
KAMERA TERKECIL DI DUNIA
LOCAL COOLING SOFTWARE PENDINGIN DAN PENGHEMAT ENE...
MEMBUKA FILE ZIP DAN RAR YANG DIPASSWORD
MENGANALISA BLUE SCREEN PADA WINDOWS
CARA MEMBUAT TULISAN ANIMASI ONLINE
TIPS DAN TRIK ANDROID
SYIRIK PADA BATU AKIK
ASAL USUL REMOTE TV
TIPS AGAR CAT MOBIL ATAU MOTOR TETAP KINCLONG
SUKA MENOLONG BIKIN PANJANG UMUR
DAFTAR PLAT NOMOR PARA PETINGGI RI
MOBIL MOBIL ASLI INDONESIA
ARSITEK ARSITEK INDONESIA TERBAIK DAN BERPENGARUH
ALASAN JOGJAKARTA JADI DAERAH ISTIMEWA
DARTZ KOMBAT T98 MOBIL ANTI PELURU
ORANG PERTAMA YANG MENYEBARKAN SPAM DI INTERNET "G...
DAFTAR PENEMU YANG BERASAL DARI INDONESIA
CARA ASTRONOM MENENTUKAN UMUR SEBUAH BINTANG
PELANGI BAWAH TANAH YANG MENAKJUBKAN
INDONESIA URUTAN KE 33 DATA RAHASIA AMERIKA
ORANG TERKAYA SEPANJANG MASA
BINTANG TERDINGIN
INILAH SENJATA YANG BISA MENGHENTIKAN PEMANASAN GL...
CARA MEMBUAT PERANGKAP NYAMUK
INILAH RAHASIA JADI JENIUS
KARYA SENI INDAH DAN UNIK DARI KERTAS
KISAH NYATA 10 MANUSIA VAMPIRE
MANFAAT ABU ROKOK
7 HAL YANG PANTANG DILAKUKAN SETELAH MAKAN
PENYEBAB GIGI KUNING
BUAH YANG BENTUKNYA ANEH DAN UNIK
PESEPAK BOLA YANG MATI BUNUH DIRI
KEUNTUNGAN MENGKONSUMSI MAKANAN MENTAH
FAKTA UNIK TENTANG BAHASA INGGRIS
TIPS MENGHEMAT BATERAI LAPTOP
FAKTA TENTANG AIR HUJAN
7 MANFAAT KULIT JERUK
SELEBRITIS PALING PINTAR DI HOLLYWOOD
MAKANAN MAKANAN TERBAIK BUAT PRIA
► 18 September - 25 September (81)
► 11 September - 18 September (69)
► 4 September - 11 September (87)
► 28 Agustus - 4 September (11)
► 21 Agustus - 28 Agustus (89)
► 14 Agustus - 21 Agustus (108)
► 7 Agustus - 14 Agustus (99)
► 31 Juli - 7 Agustus (124)
► 24 Juli - 31 Juli (136)
► 17 Juli - 24 Juli (96)
► 10 Juli - 17 Juli (12)
► 15 Mei - 22 Mei (12)
► 3 April - 10 April (1)
► 27 Maret - 3 April (2)
► 20 Februari - 27 Februari (6)
► 9 Januari - 16 Januari (5)
► 10 (655)
► 19 Desember - 26 Desember (14)
► 12 Desember - 19 Desember (5)
► 5 Desember - 12 Desember (24)
► 28 November - 5 Desember (3)
► 21 November - 28 November (62)
► 14 November - 21 November (121)
► 7 November - 14 November (122)
► 31 Oktober - 7 November (55)
► 24 Oktober - 31 Oktober (96)
► 17 Oktober - 24 Oktober (152)
► 18 April - 25 April (1)
Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pd waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama "Namrud bin Kan'aan."
Kerajaan Babylon pd masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang mahupun pandangan serta saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mrk.Akan tetapi tingkatan hidup rohani mrk masih berada di tingkat jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuhan Pencipta mrk yang telah mengurniakan mrk dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mrk adalah patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.
Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebuh-lebihanyang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidal dpt memberi manfaat dan mendtgkan kebahagiaan bagi mrk, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.Dia yang dpt berbicara, dapat mendengar, dpt berfikir, dpt memimpin mrk, membawa kemakmuran bagi mrk dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dpt mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.
Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi agar mrk kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan brg-brg itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:" Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah
Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan
hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: " Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati."Allah menjawab seruannya dengan berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki " Fayakun".
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan drpnya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan.
Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia dtg kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dpt mendtgkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mrk rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka. IA berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: " Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seray berkaat: " Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku utkmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mrk anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mrk sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mrk maka dalil dan alasan yang usanglah yang mrk kemukakan iaitu bahwa mrk hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mrk dilakukan dan sesekali mrk tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mrk warisi.
Nabi Ibrahim pd akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mrk tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mrk, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mrk dan bapa-bapa mrk keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mrk lihat dengan mata kepala mrk sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mrk betul-betul tidak berguna bagi mrk dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mrk keluar kota beramai-ramai pd suatu hari raya yang mrk anggap sebagai keramat. Berhari-hari mrk tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mrk bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mrk kosong dan sunyi. Mrk berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mrk merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mrk bila ia turut serta.
" Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:" Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu."
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mrk hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:" Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:" Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mrk.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim:" Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:" Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Para hakim penanya terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mrk,yang mrk pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu:" Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:" Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mrk. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan hairan seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian drp mrk yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mrk namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mrk jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mrk merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak drp mrk untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang drp mrk yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.
Berdoa, atau bertawasul, atau berdzikir, itu dimana saja, boleh tawassul dari rumah, atau di kamar, atau di masjid, atau di kuburan, atau dimana saja, pastilah mungkin hati kita yang sudah tertular virus sekte sesat ini akan langsung Alergi bila mendengar DOA DI KUBURAN, ketahuilah berdoa di kuburan pun sunnah Rasul saw, beliau berdoa di Pekuburan Baqii, dan berkali-kali beliau saw melakukannya. Dan Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan Salam untuk ahli kubur dengan ucapan Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmuminin walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As alullah lana wa lakumul aafiah.. (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih Muslim Bab 35 hadits no 974.975,976. *3 hadits dalam makna yang sama). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul saw bersalam pada Ahli Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian.
Demikian pula tawassul, karena tawassul adalah doa kepada Allah, bila anda menuju makam untuk berziarah, berdoalah kepada Allah, Wahai Allah, Demi orang-orang yang bermunajat pada Mu, Demi orang-orang yang Bersemangat kepada keridhoan Mu, Demi langkahku ini, atau dengan tawassul menyebut nama sebagaimana Rasul saw menyebut Demi para Nabi sebelumku.. atau misalnya Wahai Allah, Demi Ahlul Badr, atau Demi Muhajirin dan Anshar, atau Demi Ruku dan Sujudnya para wali Mu, atau menyebut nama mereka sebagaimana Rasul saw menyebut nama para malaikat. Toh doa-doa ini kepada Allah, berperantarakan ketaatan para hamba-hamba Nya, memang manusia hidup dan mati, namun amal shalihnya tetap kekal.
Anda ingat peristiwa Adam as?, mengapa malaikat diperintahkan sujud pada makhluk?, karena para malaikat itu sujud pada Adam as bukan menyembah Adam as, tetapi menyembah Allah.. karena jutsru sujud pada Adam itu adalah ketaatan, namun apa yang dilakukan Iblis?, pada dasarnya Iblis hanya ingin sujud kepada Allah semata, tak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, dan jatuhlah ia kepada Laknat Allah, maka orang yang tak mau memuliakan orang yang dimuliakan Allah swt adalah para pengikut Iblis, naudzubillahi min dzalik.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik. Mereka yang berkemenyan, sajen dlsb itu, tetap tak mungkin kita pastikan mereka musyrik, karena kita tak tahu isi hatinya, sebagaimana Rasul saw murka kepada Usamah bin Zeyd ra yang membunuh seorang pimpinan Laskar Kafir yang telah terjatuh pedangnya, lalu dengan wajah tak serius ia mengucap syahadat, lalu Usamah membunuhnya, ah? betapa murkanya Rasul saw saat mendengar kabar itu.., seraya bersabda : APAKAH KAU MEMBUNUHNYA PADAHAL IA MENGATAKAN LAA ILAAHA ILLALLAH..?!!, lalu Usamah ra berkata: Kafir itu hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai Rasulullah.., maka beliau saw bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam dan membentak : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, lalu Rasul saw maju mendekati Usamah dan mengulangi ucapannya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, Usamah ra mundur dan Rasul saw terus mengulanginya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, hingga Usamah ra berkata : Demi Allah dengan peristiwa ini aku merasa alangkah indahnya bila aku baru masuk islam hari ini..(maksudnya tak pernah berbuat kesalahan seperti ini dalam keislamanku). (Shahih Muslim Bab 41 no. 158 dan hadits yang sama no.159)
Dan juga dari peristiwa yang sama dengan riwayat yang lain, bahwa Usamah bin Zeyd ra membunuh seorang kafir yang kejam setelah kafir jahat itu mengucap Laa Ilaaha Illallah, maka Rasul saw memanggilnya dan bertanya : MENGAPA KAU MEMBUNUHNYA..?!, Usamah menjawab : Yaa Rasulullah, ia telah membunuh fulan dan fulan, dan membantai muslimin, lalu saat kuangkat pedangku kewajahnya maka ia mengatakan Laa Ilaaha illallah.., lalu Rasul saw menjawab : LALU KAU MEMBUNUHNYA..?!!, Usamah ra menjawab : benar, maka Rasulullah saw berkata : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!, maka Usamah berkata : Mohonkan pengampunan bagiku Wahai Rasulullah??, Rasul saw menjawab dengan ucapan yang sama : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!!, dan beliau terus mengulang ulangnya.. (Shahih Muslim Bab 41 no.160).
Kita tak bisa menilai orang yang berbuat apapun dengan tuduhan syirik, dia berkomat kamit dengan sajen dan mandi sumur tujuh rupa dan segala macam kebiasaan orang kafir lainnya, ini merupakan adat istiadat biasa, tak mungkin kita mengatakannya musyrik hanya karena melihat perbuatannya, kecuali ia ber ikrar dengan lidahnya.
Satu contoh, seorang muslim mandi air kembang, berendam di air mawar, lalu menaruh keris di pinggangnya, lalu menyalakan kemenyan, lalu ia shalat, musyrikkah ia?,
dan orang lain mandi dengan shower, berendam di air hangat, menggunakan busa mandi, lalu menaruh pistol dipinggangnya, lalu menyemprotkan pewangi ruangan, lalu shalat, musyrikkah dia?,
apa bedanya?, keduanya melakukan kebiasaan orang kafir..
Kesimpulannya adalah, tidak ada kalimat musyrik bisa dituduhkan kepada siapapun terkecuali dengan kesaksian lidahnya. Hati-hatilah dengan ucapan syirik, bila seseorang muslim lalu musyrik, maka pernikahannya batal, istrinya haram dikumpulinya, jima dengan istri terhitung zina, anaknya tak bernasab padanya, kewaliannya atas putrinya tidak sah, dan bila keluarganya wafat ia tak mewarisi dan bila ia wafat tak pula diwarisi, ia diharamkan shalat, diharamkan dikuburkan di pekuburan muslimin.
Saran saya, berziarahlah kubur bila anda berkenan, dan palingkan pandangan dan sangka buruk dari mereka yang bertaburan menyan dan kembang dlsb, jangan sesekali menuduh mereka musyrik, mungkin hati mereka musyrik, tapi kita dimurkai Rasul saw bila menuduhnya. Bila anda selesai berziarah, ada baiknya anda menyalami mereka dan dengan senyum hangat anda memberi mereka hadiah Al Quran, dan katakanlah : Wahai Tuan, para Sunan dan wali songo itu mempunyai kesenangan dan kegemaran, dan mereka akan senang bila Tuan mengamalkan kegemaran dan amal mereka, pastilah serta merta mereka akan bertanya dengan sigap..apakah kegemaran mereka??!!, jawablah dengan lembut dan berwibawa : Mereka siang malamnya asyik dengan Al Quran.. pasti Tuan akan disayangi mereka bahkan disayang Allah bila asyik membaca Al Quran, Nah..ini saya hadiahkan pada tuan, barang yang paling disayangi oleh Para Wali dan Sunan..
DAN HAMBA HAMBA ARRAHMAN (ALLAH SWT) YANG BERJALAN DIMUKA BUMI DENGAN RENDAH DIRI, (tidak sombong), DAN BILA MEREKA DIAJAK BICARA OLEH ORANG ORANG JAHIL, MAKA MEREKA MENJAWABNYA DENGAN LEMBUT (Alfurqan-63).
Wallahu alam.
(Munzir Almusawa) www.sarkub.com/bolehkah-berdoa-di-kuburan/
WAJIBNYA SHALAT BERJAMA’AH
Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu melaksanakan shalat berjama’ah? Para ahli fiqh berselisih pendapat tentang hukum wajibnya shalat berjama’ah. Namun kebanyakan ulama mengatakan hukumnya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan hukumnya sunnah muakkad. Orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berpendapat dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Dalil Pertama :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu...” (An-Nisa: 102).
Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut: Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka untuk shalat berjama’ah, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersem-bahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu fardlu ‘ain. Karena Allah tidak mengabaikan perintah untuk shalat berjama’ah pada kelompok yang kedua sbagaimana yang diperintahkan kepada kelompok pertama untuk melaksanakan shalat berjama’ah pula. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat berjama’ah itu sunnah, karena jika demikian halnya, pastilah kelompok pertama memiliki halangan/udzur untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah dengan alasan akan adanya rasa takut.
Maka ayat tersebut merupakan bukti bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain. Hal itu dapat dilihat dari 3 aspek: (1) Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah kepada kelompok pertama, (2) kemudian Allah memerintahkannya kepada kelompok kedua untuk melaksanakannya pula, (3) Allah tidak memberikan keringanan-keringanan bagi mereka walaupun dalam keadaan takut/ perang.
Dalil kedua
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera”(QS: Al Qalam: 42-43). Aspek yang dijadikan dalil shalat berjama’ah adalah: sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi hukuman di akhirat dikarenakan keadaan di antara mereka dan sujud. Ketika mereka dipanggil untuk bersujud di dunia, mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Jika demikian halnya, maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi tuntutan shalat berjama’ah, dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri, demikianlah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menjelaskan jawabannya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Al Baqarah :43).
Yang dimaksud dengan ruku’ di sini adalah shalat, maka mestilah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai pengertian melaksanakan shalat bersama para jama’ah.
Dalil Keempat
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin memerintahkan (orang-orang) untuk melaksanakan shalat hingga shalat itu didirikan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat (berjama’ah), lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu”.(Diriwayatkan oleh kedua Imam, Muslim dan Bukhary, sepakat atas keshahihan hadits ini, dan lafadz ini dari Muslim).
Mereka yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah tidak wajib mengatakan bahwa dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya. Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/ dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan wajibnya shalat berjama’ah. Pernyataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam tidaklah melaksanakan niatnya dan mencegah untuk melakukan hal itu karena di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjama’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Imam Ahmad dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam :
“Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak, aku melaksanakan shalat ‘isya, dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada dalam rumah itu.” (Lihat al-Musnad, 2/367).
Dalil Kelima
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab “Shahih”-nya: Bahwa seorang laki-laki buta berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang pun yang dapat menuntunku ke masjid. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberikan keringanan baginya. Ketika ia berpaling, dipanggilnya ia oleh Rasulullah dan berkata: “Apakah engkau mendengar adzan?” Ia berkata: “Ya”. Rasulullah menjawab: “Penuhilah (datanglah untuk shalat)”. Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum Radhiallahu 'Anhu.
Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjama’ah kepada orang yang buta dan rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu wajib bukan sunnah. Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta: “Tidak ada keringanan bagimu” maka lebih-lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya.
Dalil Keenam
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda :
”Barang siapa mendengar adzan dan tidak ada udzur/halangan apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya” mereka berkata: Udzur apa? Nabi bersabda: “Ketakutan atau sakit, maka shalat yang sudah dilakukannya tidak akan diterima.” (HR. Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam hadits shahihnya.)
Dalil Ketujuh
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu 'Anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan muslim, maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan, karena shalat-shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjamaah berarti engkau meninggalkan sunnah nabi kalian, kalau engkau meninggalkan sunnah nabi berarti engkau sesat. Seseorang yang bersuci kemudian ia memperbaiki kesuciannya, kemudian menuju ke masjid dari masjid-masjid yang ada, tiada lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan, dan dihilangkan darinya kejelekan. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka berjamaah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan tidaklah seseorang telah didatangi dan diberi petunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjamaah). (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 654).
Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jama’ah itu merupakan salah satu tanda dari orang-orang munafik yang nyata kemunafikannya, dan tanda-tanda kemunafikan itu tidak dengan meninggalkan hal-hal yang disukai dan tidak melakukan yang dibenci. Maka, orang yang mengamati tanda-tanda orang munafik di dalam sunnah, ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram.
Dalil Kedelapan
Dari Abi Sa’id al Khudry Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Jika mereka bertiga, maka hendaknya salah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya.” (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 672.)
Dalil Kesembilan
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan diperbaiki oleh At-Tirmidzy.
(Ahmad, 2/228; Abu Daud, 682; Tirmidzy, 230 dan 231 dan dihasankan; Ibnu Majah, 1004; dan Ibnu Hibban, 2198 dan 2199, semuanya dalam masalah “Shalat”.)
Dari Ali bin Syaiban Radhiallahu 'Anhu berkata:
Konteks dalil ini menunjukkan: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam membatalkan shalat seseorang yang keluar dari shaf sedang ia dalam keadaan berjamaah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. Maka shalat menyendiri dari jama’ah dan di luar tempat jamaah adalah batal. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri itu adalah shalat sendirian, kalaulah shalat sendirian itu sah, maka Rasulullah tidak akan menanggap shalatnya tidak sah atau dianggap tidak ada.
Dalil Kesepuluh
Dari Abu Darda Radhiallahu 'Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Tiada tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjamaah, melainkan mereka telah dijajah (dikuasai) oleh syaithan”, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah, karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh (terpencil) dari kawan-kawannya”. (HR. Abu Daud, Imam Ahmad, dan An-Nasa’i,”bab Imamah”, 2/106)
Dalil Kesebelas
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu ia berkata: “Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah (peluru) yang terkumpul lebih baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia tidak menjawab tersebut.”
Dari Abi Sya’tsail Maharaby, dia berkata: Kami duduk di masjid, kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid, kemudian pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. Abu HuraIrah berkata: “Orang itu benar-benar telah berdosa terhadap Abal Qasim (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam )”. (HR. Muslim).
Dalil Keduabelas
Dalil keduabelas adalah ijma’ para sahabat radiallahu anhum. Imam Ahmad berkata: “Waki’ telah menceritakan kepada kami, Mas’ar telah menceritakan kepada kami, dari Abi Al Hushain, dari Abi Burdah, dari Abi Musa Al-Asy’ary, dia berkata: “Barang siapa yang mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka tidak ada shalat baginya.” (HR Al Hakim, 1/246, dia telah menshahihkan hadits ini, Imam Adz-Dzahaby dan Imam Baihaqy telah menyepakatinya sebagai hadits marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam) dan mauquf (sanadnya sampai kepada sahabat), 3/174, dan lihat kitab “Majma’uz zawaid”, 2/32.) Hadits serupa diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ali, Hasan bin ali, Abi Hurairah dan Aisyah Ummil Mukminin radiallahu anhum.
Apakah Masjid Ditentukan untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah atau Tidak?
Dalam “al-Musnad” Imam Ahmad, dari Ibnu Ummi Maktum, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam datang ke suatu masjid, beliau melihat kaum yang sangat sedikit sekali, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin sekali menyuruh seseorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi ke luar, dan....(seperti riwayat sebelumnya).
Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'Anhu berkata: “Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat (berjama’ah) dan melakukannya di rumah, berarti kamu telah meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu, dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu, berarti kamu telah sesat.”
‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata, “Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjama’ah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seseorang yang sakit pun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (berjama’ah di masjid).” Abdullah bin Mas’ud lalu menegaskan, “Rasulullah telah mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid).” (Shahih Muslim).
Meninggalkan shalat berjama’ah merupakan penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'Anhu: “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim). Dari Buraidah bin Hushaib Al-Aslamy, ia berkata:
“Janji yang membatasi antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” (HR. Imam Ahmad, An-Nasa’I, Ibnu Majah, At-Tirmidzy berkata hadits ini shahih isnadnya berdasarkan syarat Muslim).
Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalinya pun jelas, maka siapa pun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkari dengan alasan menurut perkataan si Fulan ini atau si Fulan itu.
Wallaahu A’lam Bisshawab
Maraji’:
Rahasia di Balik Shalat (Kitabush - shalah wa Hukmu Tarikiha): Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
Tuntunan Thaharah dan Shalat (Rasaail fith-Thaharaty wash-Shalaah): Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
Sejak 1969, Gaddafi adalah penguasa Libya. Semua ucapan, tindakan, dan kelakuannya selama memerintah diliputi oleh TV, radio, dan surat khabar secara meluas, baik dalam skala tempatan, regional, mahu pun antarabangsa.
Dia dengan bangga, berani, dan tanpa malu mempamerkan ucapan, tindakan, dan kelakuannya selaku pemimpin revolusi dan ‘musuh’ Barat.
Alhamdulillah, dengan semua dokumentasi tersebut, para ulama Islam dan Persatuan-persatuan Islam antarabangsa memiliki data yang sangat lengkap tentang kekafiran dan kemurtadan Gaddafi.
Berkali-kali para ulama Islam dan persatuan Islam antarabangsa menempuh dengan cara dialog, nasihat, teguran, dan ajakan kepada Qaddafi untuk bertaubat dan menarik kembali semua kekufurannya tersebut.
Namun Qaddafi tetap angkuh mempertahankannya, tanpa sekalipun mahu bertaubat dan memperbaiki dirinya. Walhasil, vonis kafir-murtad untuk Qaddafi tetap disandangnya sampai saat nyawanya berpisah dengan jasadnya.
Sama seperti para taghut diktator lainnya di negeri-negeri berpenduduk majoriti muslim, pada awal revolusinya Gaddafi mempamerkan dirinya sebagai pahlawan revolusi, pejuang Islam, pembela kaum muslimin, pengusir penjajah kristian Barat, dan pendukung kuat perjuangan untuk membebaskan Palestin dari cengkaman zionis Yahudi.
Setelah ia berhasil menarik simpati kaum muslimin dan kekuasaannya telah kukuh, maka ia mulai menunjukkan jati dirinya sebagai agen zionis-kristian dan kekafiran yang sangat kuat memusuhi Islam.
Berikut ini beberapa ucapan, tindakan, dan kepandaian Qaddafi yang merupakan kekafiran yang nyata, sehingga para ulama dan persatuan Islam antarabangsa menghukumnya sebagai seorang kafir murtad.
Syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya) dan mempermainkan Allah SWT
Bagi Gaddafi, Allah Pencipta tidak jauh berbeza dengan parti politik pembangkang. Gaddafi menuduh Allah berbuat zalim. Dalam pertemuan dengan para pemimpin politik membahas proses ‘Teori Internasional Ketiga’ di ibukota Tripoli pada 9 Ogos 1975, Qaddafi mengatakan: “Revolusi tidak secara automatik mesti selalu berwarna ‘putih’. Ia juga boleh berwarna ‘merah’ terhadap lawan-lawannya. Musuh haruslah dibinasakan. Saya katakan kepada anda semua, agama-agama juga membinasakan para lawannya. Allah juga membinasakan para lawannya, padahal Allah juga yang telah menciptakan mereka. Jadi setiap orang membinasakan para lawannya.”
Gaddafi mempermainkan Allah dan menyamakan dirinya dengan Allah. Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Haj (22): 73), Allah menentang tuhan sembahan kaum musyrik untuk bersatu demi menciptakan seekor nyamuk. Dalam pidato kenegaraan pada 1 Oktober 1989 untuk memperingati terusirnya penjajah Itali dari bumi Libya, Gaddafi mengatakan: “ Aku menentang anda semua sebagaimana Dia berfirman kepada mereka; ‘Buatlah untukku seekor nyamuk saja!’ Dia menentang mereka yang mengatakan ‘Allah bukanlah apa-apa.’ Dia menentang mereka ‘Buatlah untuk Kami seekor lalat!’ Maka aku tentang anda semua: ‘Buatlah untuk kami Pepsi saja!’
Gaddafi membandingkan Allah dengan manusia. Jika Allah menjadi tuhan di langit, maka rakyat juga menjadi tuhan di bumi. Dalam pidato kenegaraan pada 1 Oktober 1989 tersebut, Gaddafi juga menyatakan: “ Rakyat itu seperti Allah…Allah di langit, dan rakyat di bumi. Dia tidak memiliki sekutu. Jika Allah memiliki sekutu, Dia akan berfirman ‘Mereka akan mencari jalan untuk naik kepada Pemilik ‘Arsy’. Jika ada tuhan-tuhan selain Dia, niscaya setiap tuhan akan mengatakan ‘Aku ingin menjadi Tuhan.’ Jika Dia berada di Arsy, niscaya tuhan-tuhan lain akan melakukan kudeta untuk menjatuhkan-Nya…Rakyat di atas bumi juga harus seperti ini, menjadi tuhan di atas buminya.”
Dalam pidato kenegaraan pada 27 Disember 1990, Qaddafi mengatakan, “Rakyat adalah penguasa di atas muka bumi. Rakyat menentukan apapun di bumi yang ia kehendaki. Adapun Allah berada di langit. Maka tiada penengah antara kita dengan Allah.” Inilah prinsip sekularisme yang dipraktikkan Gaddafi di Libya.
Seluruh ajaran Al-Qur’an dan as-sunnah dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, ketenteraan, dan lainnya dicampakkan. Ajaran Islam hanya diakui dalam urusan ibadah ritual semata-mata.
Sebagai gantinya, di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, ketenteraan, dan lainnya Gaddafi menerapkan undang-undang positif yang ia karang sendiri. Ia menamakannya al-kitab al-akhdar, Kitab Hijau (Green Book).
Terbit dalam bahasa Arab, Kitab Hijau menggariskan tiga dasar, iaitu “Demokrasi berdasarkan Kekuasaan Rakyat,” “Ekonomi Sosialisme” dan “Teori Internasional Ketiga.” Perkara itu lalu menjadi panduan bagi sistem demokrasi ala Khadafi, sekaligus panduan politik luar negeri Libya.Tidak aneh jika Qaddafi sangat kuat menerapkan sekularisme dan menolak penerapan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia sangat mengagumi bapa sekularisme Turki, Musthafa Kamal Ataturk.
Ia bekerja sangat kuat demi menerapkan sekularisme ala Turki di Libya. Dalam dialog dengan para ulama dan penghafal Al-Qur’an pada tanggal 3 Julai 1978, Qaddafi menyatakan para ulama Turki yang fanatik, bodoh, dan lugu menolak memberi fatwa kebolehan sekularisme.
Qaddafi mengatakan : “Ataturk adalah orang yang dizalimi…saya katakan perkara ini kepada sejarah. Hal itu kerana orang-orang yang bodoh, lugu, dan fanatik (maksudnya para ulama Islam di Turki, edt) memaksanya (maksudnya Musthafa Kamal Ataturk, edt) untuk kafir(maksudnya menghukum Ataturk Kafir kerana menerapkan sekularisme di Turki, edt).Mestinya mereka menyatakan kepadanya ‘ya, boleh’ sehingga mereka tetap sebagai muslimin. Namun mereka menjawab ‘tidak, tidak boleh, haram’. Siapa yang berkata kepada anda semua? Mereka memakai serban di kepala, lalu mengatakan ‘tidak boleh, haram’. Ataturk bertanya kepada mereka, “Apakah sama sekali tidak ada fatwa ulama yang menyatakan kita tetap sebagai kaum muslimin, dan pada masa yang sama kita memisahkan agama dari negara?’ Mereka menjawab, “Tidak, sama sekali tidak ada fatwa.”
Sebagai seorang penguasa sekular, Qaddafi menegaskan fungsi masjid terhad membahas urusan peribadi; syurga, neraka, pahala, siksa, dan ibadah ritual. Adapun urusan politik, ekonomi, sosial, budaya, ketenteraan, dan aspek kehidupan masyarakat yang lainnya tidak boleh dibahas di masjid.
Ia menekankan urusan awam adalah hak penguasa semata, sedangkan urusan peribadi adalah urusan setiap hamba dengan Tuhannya.
Dalam khutbah Jum’at di masjid Jado, 11 Julai 1980, Qaddafi mengatakan: “ Pokok dari khutbah Jum’at adalah masyarakat meninggalkan kesibukan-kesibukan dunia dan masalah mereka di luar masjid, lalu mempergunakan waktu yang singkat untuk solat (Jum’at), mereka mendengarkan firman Allah tentang kematian, kehidupan, syurga, neraka, kebangkitan, perhitungan amal, dan balasan. Adapun masalah kehidupan harus dibahas di luar masjid.”
Mempermainkan Nabi SAW
Kebencian Qaddafi terhadap Nabi SAW dan sunahnya tidak boleh ditutupi, bahkan ia mengumumkannya di depan awam dengan berbangga diri dan penuh keangkuhan. Tidak hairan apabila ia memerintahkan membakar kitab-kitab hadits dengan alasan kitab kuning yang telah usang dan ketinggalan zaman. Lebih dari itu, Qaddafi mengingkari As-sunnah sebagai sumber kedua ajaran Islam. Qaddafi mencampakkan kalender hijrah. Sebagai gantinya, ia menetapkan sistem kalender baru yang dimulai dengan wafatnya Nabi SAW.
Berdalih atas tindakannya itu, Qaddafi mengatakan, “ Ada banyak peristiwa sejarah yang saya yakini lebih penting dari hijrah Nabi… di antaranya adalah kewafatan Nabi SAW. Wafatnya Rasul SAW setara dengan kelahiran Isa AS… Jika kita harus membuat kalender dengan berpandukan kepada peristiwa-peristiwa sejarah, maka yang lebih utama adalah dengan berpandukan kepada kewafatan Nabi SAW. Di antara peristiwa penting adalah kewafatan Nabi, sehingga kita boleh menetapkan kalender atau menuliskan untuk umat manusia suatu sejarah sampai setelah berlalu jutaan tahun, bahawasanya ada seorang rasul penutup para nabi yang wafat pada tahun sekian, atau telah berlalu kewafatannya sejak sekian tahun atau sekian abad.” (Khuthab wa Ahadits al-Qaid ad-Diniyah, hal. 290)
Qaddafi juga menyatakan alasan tersebut dengan mengatakan, “ Jadi Umar bin Khatab adalah orang yang menyatakan ’Tahun ini tahun hijrah’. Itu adalah pendapatnya peribadi. Namun kita juga punya pendapat sendiri. Kita berpendapat…kita boleh menyatakan bahawa peristiwa hijrah tidaklah memiliki erti sepenting itu. Hal yang lebih penting darinya adalah penaklukan Mekah. Dan yang lebih penting lagi adalah wafatnya Nabi SAW.” (Khuthab wa Ahadits al-Qaid ad-Diniyah, hal. 300-301)
Sungguh ganjil. Wafatnya Rasulullah SAW dianggap sebagai mukjizat yang sama dengan keajaiban kelahiran nabi Isa AS. Siapakah yang merasa gembira dengan wafatnya Rasulullah SAW, sehingga merayakannya dan menjadikannya sebagai permulaan kalender?
Tiada orang yang bergembira dan merayakan wafatnya Rasulullah SAW dengan cara seperti itu selain orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan musyrikin yang memendam kebencian terdalam terhadap diri Rasulullah SAW!
Rasulullah SAW bersabda, “ Wahai manusia! Siapapun seorang mukmin yang ditimpa oleh sebuah musibah, maka hendaklah ia berdukacita dengan musibah (kehilangan)ku sebagai ganti dari berdukacita kerana kehilangan orang lain. Sesungguhnya tiada seorang pun dari umatku yang tertimpa musibah yang lebih berat dari musibah kehilanganku.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 7879)
Bekas ibu pengasuh Nabi SAW, Ummu Aiman menangis di hadapan Abu Bakar dan Umar. Keduanya bertanya kepada Ummu Aiman tentang sebab ia menangis, maka ia menjawab, “Aku tidak menangisi peribadi beliau SAW, kerana aku mengetahui balasan di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah SAW. Namun aku menangis kerana wahyu Allah telah terputus (dengan meninggalnya Rasulullah SAW).” Maka Abu Bakar dan Umar ikut menangis. (HR. Muslim)
Bekas pembantu Nabi SAW, Anas bin Malik berkata, “ Pada hari Rasulullah SAW tiba di Madinah, segala sesuatu bersinar terang. Namun pada hari beliau SAW wafat, segala sesuatu di Madinah menjadi gelap.” Anas berkata lagi, “Tangan-tangan kami telah selesai menimbun jenazah Nabi SAW, namun hati kami seakan mengingkari (kewafatan)nya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Katsir dan syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1631)
Penghinaan dan kebencian Qaddafi kepada Rasulullah SAW tidak berhenti setakat urusan sistem tarikh kalendar kontroversi ini. Dalam khutbahnya pada acara perayaan maulid Nabi SAW di masjid Maulaya Muhammad, ibukota Tripoli pada 19 Februari 1978, Qaddafi mengatakan: ” Jika aku mengatakan kepada anda semua, Rasulullah, maka kalian semua menjawab Shallallahu ‘alaihi wa salam. Namun jika aku mengatakan kepada anda semua, Allah, ternyata anda semua tidak mengatakan apa-apa. Ini merupakan sebuah bentuk penghambaan (bertuhankan Nabi SAW, edt) dan paganism yang kita jalani…Jika sekarang saya mengatakan Allah sebanyak seribu kali, ternyata keadaannya biasa saja. Namun ketika saya mengatakan Rasulullah, setiap orang di antara kita mengatakan Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan perkara itu berarti kita lebih takut kepada Rasulullah melebihi takut kita kepada Allah. Atau seakan-akan kita merasakan Rasulullah lebih dekat kepada kita melebihi dekatnya Allah kepada kita. Ini sepenuhnya sama dengan orang-orang Masehi (Nasrani, edt) yang mengatakan: ‘Isa lebih dekat kepada kita daripada Allah’.
Di dalam Al-Qur’an tidak ada ayat yang menegaskan: ‘Sesungguhnya Nabi bersabda: Anda semua wajib mengikuti semua ucapan yang aku katakan!’ Jika ada ayat seperti itu, maka dimana gerangan perkataan yang ia ucapkan selama 40 tahun sebelum diangkat menjadi nabi? Telah dipastikan bahawa ia juga berbicara sebelum diangkat menjadi nabi. Jika Nabi mengatakan ‘Ikutilah hadits (sabda)ku!’, maka itu ertinya haditsnya akan diberlakukan sebagai pengganti dari Al-Qur’an. Namun secara terus-menerus ia menegaskan kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an semata. Seandainya ia menganggap suci haditsnya dan menempatkannya dalam kedudukan yang sangat segera seperti Al-Qur’an, tentulah ia sudah membuat kitab lain yang akan menggantikan kedudukan Al-Qur’an.”katanya lagi
Qaddafi jelas-jelas mengingkari perintah Al-Qur’an dan hadits sahih kepada umat Islam untuk banyak membaca salawat atas Nabi SAW. Qaddafi juga secara terang-terangan menolak hadits Nabi SAW, dan mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi SAW, dan ijma’ ulama yang memerintahkan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menempatkan As-sunnah sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah Al-Qur’an.
Qaddafi juga mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, dan ijma’ ulama yang menyatakan Nabi SAW diutus kepada seluruh umat manusia dan jin.
Dalam pertemuan dengan para pensyarah universiti pada 9 Februari 1982, Qaddafi mengatakan, “ Jasad bangsa Arab adalah nasionalisme Arab dan ruh mereka adalah Islam, kerana Muhammad diutus kepada bangsa Arab semata-mata! Al-Qur’an datang untuk bangsa Arab dan dengan bahasa Arab, ditujukan kepada bangsa Arab saja.Siapa pun orang selain bangsa Arab yang memeluk agama Islam, pada hakikatnya adalah sukarela saja (bukan wajib, edt). Urusannya terserah Allah, namun sebenarnya ia tidak dimaksudnya (sebagai objek dakwah Al-Qur’an dan Islam, edt).”
Dalam pertemuan Sekretariat Jenderal Sementara Konferensi Internasional Bangsa-bangsa Islam pada 19 Disember 1989, Qaddafi mengatakan kebencian dan penghinaannya kepada Nabi SAW dan para sahabat.
Qaddafi menyatakan, “ Ketika para sahabat Rasul SAW menjadi para penguasa, maka mereka diinjak-injak dengan kaki dalam kapasiti mereka sebagai para penguasa awam. Usman dibunuh dalam kedudukannya sebagai ketua negara republik atau raja. Umar dengan keadilannya menjadi seorang penguasa, dan menaklukkan Parsi dan Rom. Ali diperangi oleh kaum muslimin. Orang-orang terdekat, pengikut-pengikut, dan kawan-kawannya telah memisahkan diri darinya. Kenapa? Kerana ia berkeinginan kekuasaan dan ingin menjadi ketua negara republik. Seandainya Muhammad SAW menjadi ketua negara republik, niscaya orang-orang akan meninggalkannya.”
”Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari nafsu syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, hembusan dan tiupan sihirnya.” Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Dari judul buku nya saja sudah menarik bagi saya untuk segera ingin mendapatkan nya. Tentunya bukan bermaksud untuk mempelajari tetapi hanya sekedar ketertarikan saya akan hal-hal mengenai sejarah masa lalu, yang mungkin dapat memberikan wawasan yang lebih baik dan tidak salah didalam menafsirkan sesuatu yang saya sendiri belum mengetahui dengan jelas.
Pada awal pembahasan dalam buku ini diterangkan terlebih dahulu mengenai ajaran yang pernah tumbuh di Jawa yang dibagi dalam tiga kategori : Jawadipa, Jawa Buda dan Kejawen.
Jawadipa : merupakan ajaran asli Jawa yang belum memiliki literatur yang jelas, namun terdapat jejak jejak nya berupa peranti upacara nasi tumpeng, pemujaan roh leluhur yang berpusat pada bangunan berupa pundhen atau candi dll.
Jawa Buda : ajaran siwa yang sudah bercampur dengan ajaran agama budha dan Jawadipa yang mencapai puncak keemasan pada masa era kerajaan majapahit. Di bali sendiri terjadi pemisahan ajaran siwa dan ajaran buda yang diprakarsai oleh Danghyang Niratha seorang brahma asal Daha (Kediri) pada abad 15 yang menyingkir ke bali seiring hancurnya Majapahit dan berkuasanya kesultanan demak di tanah jawa. Ajaran siwa yang menyempal ini akhirnya dikenal di bali dengan nama agama tirtha yang akhirnya seiring dengan teguhnya NKRI dikenal kembali dengan istilah agama Hindu Bali.
Kejawen : ajaran yang baru muncul pasca majapahit, diprakarsai oleh Wali Sanga yang merupakan ajaran islam tasawuf berbalut ajaran jawa buda. Apakah mungkin ini merupakan strategi untuk masuknya agama islam agar dapat diterima masyarakat jawa pada waktu itu? ..karena ajaran islam tasawuf lebih mudah diterima oleh orang jawa yang mempunyai kemiripan pembahasan/ dengan ajaran jawa buda sebelumnya. Saat ini ajaran Kejawen tidak terbatas pada ajaran mistik atau spiritual belaka, bahkan mengajarkan ilmu ilmu gaib/mengeluarkan keajaiban yang dibagi menjadi 2 yaitu Ngelmu Talek dan Ngelmu Patah (kesaktian, pengasihan, penumbalan, ajimat, ilmu petung, doa dll), dimana ilmu ilmu tersebut tidak sesuai dan bersebrangan dengan ilmu kesempurnaan hidup, sesuai dengan awal dari inti ilmu kejawen.
semuanya kembali kepada diri sendiri didalam mempelajari suatu ilmu, untuk tujuan apakah ilmu itu dipelajari dan hasil akhir apa yang ingin didapat..
Cukup Allah dan Rasul sebagai penolongku, dan Al quran serta Sunnah/hadist sebagai pedomanku. Saya berlindung dari perbuatan syirik besar maupun yang tersembunyi dari segala, ucapan, perkataan, perbuatan, dan hal-hal yang terbersit didalam hati…
Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkah-Nya juga kepadamu
Beberapa faedah didalam Surah Al Fatihah. Berkata Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taymiyah رحمه الله. "Betapa banyak orang-orang yang menggabungkan antara Riya dan 'Ujub. Riya : Syirik kepada Allah dengan Makhluq. 'Ujub : Syirik kepada Allah dengan diri sendiri. (Kedua) Ini keadaannya orang-orang yang sombong. Dan orang yang Riya' tidak merealisasikan firman Allah : { إياك نعبد } { Hanya kepadaMu kami menyembah } dan orang yang 'Ujub tidak merealisasikan firman Allah : { وإياك نستعين } { dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan } Maka barangsiapa yang merealisasikan firman Allah { إياك نعبد } Maka dia telah keluar (selamat) dari sifat Riya'. dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah : { و إيك نستعين } Maka dia telah keluar (selamat) dari sifat 'Ujub. Majmu' Fatawa 10/277 cutt.us/9LWs6 SALAM #tawadhu #ujub #riya #sombong #adab #akhlak #ikhlas #islam #salafy #ahlussunnah #salafi #faedah #tauhid #quotes via Instagram ift.tt/1S8pWHA
Teks NDP
NILAI DASAR PERJUANGAN HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
1.DASAR-DASAR KEPERCAYAAN
Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya. Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk- bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang benar. Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur. Sekalipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradis-tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi untuk tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan nilai-nilai, maka dalam kenyataan ikatanikatan tradisi sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Disinilah terdapat kontradiksi kepercayaan diperlukan sebagai sumber tatanilai guna menopang peradaban manusia, tetapi nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan mengikat, maka justru merugikan peradaban. Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai sumber dan pangkal nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah. Perumusan kalimat persaksian (Syahadat) Islam yang kesatu : Tiada Tuhan selain Allah mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. Perkataan "Tidak ada Tuhan" meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan perkataan "Selain Allah" memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran. Dengan peniadaan itu dimaksudkan agar manusia membebaskan dirinya dari belenggu segenap kepercayaan yang ada dengan segala akibatnya, dan dengan pengecualian itu dimaksudkan agar manusia hanya tunduk pada ukuran kebenaran dalam menetapkan dan memilih nilai - nilai, itu berarti tunduk pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala yang ada termasuk manusia. Tunduk dan pasrah itu disebut Islam. Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakekat Tuhan yang sebenarnya. Namun demi kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya tentang Ketuhanan dan tatanilai yang bersumber kepada-Nya. Oleh sebab itu diperlukan sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak bertentangan dengan insting dan indera. Sesuatu yang diperlukan itu adalah "Wahyu" yaitu pengajaran atau pemberitahuan yang langsung dari Tuhan sendiri kepada manusia. Tetapi sebagaimana kemampuan menerima pengetahuan sampai ketingkat yang tertinggi tidak dimiliki oleh setiap orang, demikian juga wahyu tidak diberikan kepada setiap orang. Wahyu itu diberikan kepada manusia tertentu yang memenuhi syarat dan dipilih oleh Tuhan sendiri yaitu para Nabi dan Rosul atau utusan Tuhan. Dengan kewajiban para Rosul itu untuk menyampaikannya kepada seluruh ummat manusia. Para rosul dan nabi itu telah lewat dalam sejarah semenjak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa,Isa atau Yesus anak Mariam sampai pada Muhammad SAW. Muhammad adalah Rosul penghabisan, jadi tiada Rosul lagi sesudahnya. Jadi para Nabi dan Rosul itu adalah manusia biasa dengan kelebihan bahwa mereka menerima wahyu dari Tuhan. Wahyu Tuhan yang diberikan kepada Muhammad SAW terkumpul seluruhnya dalam kitab suci Al-Quran. Selain berarti bacaan, kata Al-Quran juga bearti "kumpulan" atau kompilasi, yaitu kompilasi dari segala keterangan. Sekalipun garis-garis besar Al-Quran merupakan suatu kompendium, yang singkat namun mengandung keterangan-keterangan tentang segala sesuatu sejak dari sekitar alam dan manusia sampai kepada hal-hal gaib yang tidak mungkin diketahui manusia dengan cara lain. Jadi untuk memahami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaran-Nya, manusia harus berpegang kepada Al-Quran dengan terlebih dahulu mempercayai kerasulan Muhammmad SAW. Maka kalimat kesaksian yang kedua memuat esensi kedua dari kepercayaan yang harus dianut manusia, yaitu bahwa Muhammad adalah Rosul Allah. Kemudian di dalam Al-Quran didapat keterangan lebih lanjut tentang Ketuhanan Yang maha Esa ajaran-ajaranNya yang merupakan garis besar dan jalan hidup yang mesti diikuti oleh manusia. Tentang Tuhan antara lain: surat Al-Ikhlas menerangkan secara singkat ; katakanlah : "Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia itu adalah Tuhan. Tuhan tempat menaruh segala harapan. Tiada Ia berputra dan tiada pula berbapa. Selanjutnya Ia adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha Pengampun dan seterusnya daripada segala sifat kesempurnaan yang selayaknya bagi Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Tuhan seru sekalian Alam. Juga diterangkan bahwa Tuhan adalah yang pertama dan yang penghabisan, Yang lahir dan Yang Bathin, dan "kemanapun manusia berpaling maka disanalah wajah Tuhan". Dan "Dia itu bersama kamu kemanapun kamu berada". Jadi Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Sebagai "yang pertama dan yang penghabisan", maka sekaligus Tuhan adalah asal dan tujuan segala yang ada, termasuk tata nilai. Artinya ; sebagaimana tata nilai harus bersumber kepada kebenaran dan berdasarkan kecintaan kepadaNya, Iapun sekaligus menuju kepada kebenaran dan mengarah kepada "persetujuan" atau "ridhanya ". Inilah kesatuan antara asal dan tujuan hidup yang sebenarnya (Tuhan sebagai tujuan hidup yang benar, diterangkan dalam bagian yang lain) Tuhan menciptakan alam raya ini dengan sebenarnya, dan mengaturnya dengan pasti. Oleh karena itu alam mempunyai eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum yang tetap. Dan sebagai ciptaan daripada sebaik-baiknya penciptanya, maka alam mengandung kebaikan pada diriNya dan teratur secara harmonis. Nilai ciptaan ini untuk manusia bagi keperluan perkembangan peradabannya. Maka alam dapat dan dijadikan obyek penyelidikan guna dimengerti hukum-hukum Tuhan (sunnatullah) yang berlaku didalamnya. Kemudian manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukumhukumnya sendiri. Jika kenyataan alam ini berbeda dengan persangkaan idealisme maupun agama Hindu yang mengatakan bahwa alam tidak mempunyai eksistensi riil dan obyektif, melainkan semua palsu atau maya atau sekedar emansipasi atau pancaran daripada dunia lain yang kongkrit, yaitu idea atau nirwana. Juga tidak seperti dikatakan filsafat Agnosticisme yang mengatakan bahwa alam tidak mungkin dimengerti manusia. Dan sekalipun filsafat materialisme mengatakan bahwa alam ini mempunyai eksistensi riil dan obyektif sehingga dapat dimengerti oleh manusia, namun filsafat itu mengatakan bahwa alam ada dengan sendirinya. Peniadaan pencipta ataupun peniadaan Tuhan adalah satu sudut daripada filsafat materialisme. Manusia adalah puncak ciptaan dan mahluk-Nya yang tertinggi. Sebagai mahluk tertinggi manusia dijadikan "Khalifah" atau wakil Tuhan di bumi. Manusia ditumbuhkan dari bumi dan diserahi untuk memakmurkannya. Maka urusan di dunia telah diserahkan Tuhan kepada manusia. Manusia sepenuhnya bertanggungjawab atas segala perbuatannya di dunia. Perbuatan manusia ini membentuk rentetan peristiwa yang disebut "sejarah". Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana manusia menjadi pemilik atau "rajanya". Sebenarnya terdapat hukum-hukum Tuhan yang pasti (sunattullah) yang menguasai sejarah, sebagaimana adanya hukum yang menguasai alam tetapi berbeda dengan alam yang telah ada secara otomatis tunduk kepada sunatullah itu, manusia karena kesadaran dan kemampuannya untuk mengadakan pilihan untuk tidak terlalu tunduk kepada hukum-hukum kehidupannya sendiri. Ketidakpatuhan itu disebabkan karena sikap menentang atau kebodohan. Hukum dasar alami daripada segala yang ada inilah "perubahan dan perkembangan", sebab : segala sesuatu ini adalah ciptaan Tuhan dan pengembangan olehNya dalam suatu proses yang tiada henti-hentinya. Segala sesuatu ini adalah berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan. Maka satu-satunya yang tak mengenal perubahan hanyalah Tuhan sendiri, asal dan tujuan segala sesuatu. Di dalam memenuhi tugas sejarah, manusia harus berbuat sejalan dengan arus perkembangan itu menunju kepada kebenaran. Hal itu berarti bahwa manusia harus selalu berorientasi kepada kebenaran, dan untuk itu harus mengetahui jalan menuju kebenaran itu. Dia tidak mesti selalu mewarisi begitu saja nilai-nilai tradisional yang tidak diketahuinya dengan pasti akan kebenarannya. Oleh karena itu kehidupan yang baik adalah yang disemangati oleh iman dan ilmu. Bidang iman dan pencabangannya menjadi wewenang wahyu sedangkan bidang ilmu pengetahuan menjadi wewenang manusia untuk mengusahakan dan mengumpulkannya dalam kehidupan dunia ini. Ilmu itu meliputi tentang alam dan tentang manusia (sejarah). Untuk memperoleh ilmu pengetahuan tentang nilai kebenaran sejauh mungkin, manusia harus melihat alam dan kehidupan ini sebagaimana adanya tanpa melekatkan padanya kualitas-kualitas yang bersifat ketuhanan. Sebab sebagaimana diterangkan dimuka, alam diciptakan dengan wujud yang nyata dan objektif sebagaimana adanya. Alam tidak menyerupai Tuhan, dan Tuhan pun untuk sebagian atau seluruhnya tidak sama dengan alam. Sikap memper-Tuhan-kan atau mensucikan (sakralisasi) haruslah ditujukan kepada Tuhan sendiri. Tuhan Allah Yang Maha Esa. Ini disebut "Tauhid" dan lawannya disebut "syirik" artinya mengadakan tandingan terhadap Tuhan, baik seluruhnya atau sebagian maka jelasnya bahwa syirik menghalangi perkembangan dan kemajuan peradaban, kemanusiaan menuju kebenaran. Sesudahnya atau kehidupan duniawi ini ialah "hari kiamat". Kiamat merupakan permulaan bentuk kehidupan yang tidak lagi bersifat sejarah atau duniawi, yaitu kehidupan akhirat. Kiamat disebut juga "hari agama", atau yaumuddin, dimana Tuhan menjadi satu-satunya pemilik dan raja. Disitu tidak lagi terdapat kehidupan historis, seperti kebebasan, usaha dan tata masyarakat. Tetapi yang ada adalah pertanggunggan jawab individu manusia yang bersifat mutlak dihadapan illahi atas segala perbuatannya dahulu didalam sejarah. Selanjutnya kiamat merupakan "hari agama", maka tidak yang mungkin kita ketahui selain daripada yang diterangkan dalam wahyu. Tentang hari kiamat dan kelanjutannya / kehidupan akhirat yang non-historis manusia hanya diharuskan percaya tanpa kemungkinan mengetahui kejadian-kejadiannya.
RUJUKAN NILAI DASAR PERJUANGAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
DASAR – DASAR KEPERCAYAAN
1.Al – qur’an. S. An – nahal (XVI) 89, artinya : “dan kami (Tuhan) telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) sebuah kitab (Al – qur’an) sebagai keterangan tentang sesuatu serta sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang – orang muslim.”
2.Al – qur’an. S. Al – Ikhlas (CXII) : 1 – 4 artinya : “Katakanlah : Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dia adalah Tuhan, Tuhan segala tempat harapan. Tiada ia berputar dan tiada pula berbapak serta tiada satupun baginya sepadan.”
3.Al – qur’an. S. Al – Hadid (LVII) : 3, artinya : “Dia adalah yang pertama dan terakhir dan yang lahir dan bathin.”
4.Al – qur’an S. Al – Baqarah (II) 115, artinya : “Maka kemanapun jua berpaling, disanalah wajah Tuhan.”
5.Al – qur’an. S. Al – an’am (VI) : 73, artinya : “Dan dia (Tuhan) beserta kamu dimanapun kamu berada.”
6.Al – qur’an. S. Al – an’am (VI) : 73, artinya : “Dan dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian mengaturnya dengan peraturan yang pasti.”
7.Al – qur’an. S. Al – Mu’min (XXIII) : 14, artinya : “Maka Maha Mulialah Tuhan, sebaik – baiknya pencipta.”
8.Al – qur’an. S. Luqman (XXXI) 20, artinya : “Tidaklah kamu memperhatikan bahwa Allah menyediakan bagimu segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi dan melimpahkannya kepada kami karunia – karunia mendatar- Nya baik yang nampak maupun yang tidak nampak.”
9.Al – qur’an, S. Yunus (X) : 101, artinya : “Katakanlah : Perhatikan olehmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tanda – tanda dan peringatan itu tidak ada berguna bagi golongan manusia yang tidak percaya.”
10.Al – qur’an, S. Shod (XXXVIII) : 27, artinya : “Tidaklah kamu (Tuhan) menciptakan lagit dan bumi dan segala sesuatu yang ada diantara keduanya itu secara palsu hal itu hanyalah prasangka orang – orang kafir saja.”
11.Al – qur’an, S. Al – Tien (XCVO) : 4, artinya : “Sesungguhnya kami (Tuhan) telah menciptakan manusia – manusia dalam bentuk yang sebaik – baiknya.”
12.Al – qur’an, S. Al – Isra (XVII) : 70, artinya : “Dan kami lebih mereka itu (umat manusia) di atas banyak dari segala sesuatu yang kami ciptakan dengan kelebihan yang nyata.”
13.Al – qur’an, S. Al – an’am (VI) : 165, artinya : “Dan dialah (Tuhan) yang menjadikan kamu sekalian (umat manusia) sebagai khalifa – khalifah bumi, serta melebihkan sebahagian dari kamu atas sebagian yang lain bertingkat – tingkat untuk menguji kamu dalam hal – hal yang telah diuraikan kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan cepat siksanya (akibat buruk daripadanya perbuatan manusia yang salah) dan dia pastilah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (memberikan akibat baik atas perbuatan manusia yang benar).”
14.Al – qur’an, S. Hud (XI) : 16 artinya : “Dia (Tuhan) menumbuhkan kamu (umat islam) dari bumi dan menyuruh kamu memakmurkannya.
15.Al – qur’an, S. Al – Ahzab (XXXIII) : 72, artinya : “Sesungguhnya kamu (Tuhan) menawarkan semua amanah (akal pikiran) kepada langit, bumi dan gunung – gunung, maka mereka itu menolak untuk menanggungnya dan merasakan keberatan atas amanah itu, manusialah yang menanggungnya, sesungguhnya manusia mempersulit diri sendiri dan bodoh.”
16.Al – qur’an, S. Al – Ankabut (XXVII) : 20, artinya : “Katakanlah : mengembaralah kamu ke muka bumi, kemudian perhatikanlah olehmu bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya kemudian mengembangkan pertumbuhan yang pertumbuhan sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
17. Al – qur’an. S. Al – Qashash (XXVII) : 20, artinya : “Katakanlah : Mengembaralah kamu ke muka bumi, kemudian perhatikanlah olehmu bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya kemudian mengembangkan pertumbuhan yang kemudian, sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
18.Al – qur’an, S. Al – Isra (XVII) : 72, artinya : “Dan barang siapa disini (dunia) buta (tidak berilmu), maka di akhirat nanti akan buta pula dan lebih sesat lagi jalannya.”
19.Al – qur’an, S. Al – Isra (XVII) : 36, artinya : “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau mempunyai pengertian tentang hal itu, sebab sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani itu semuanya pertanggung jawab atas hal tersebut.”
20.Al – qur’an, S. Al – Mujaadalah (LVII) : 11, artinya : “Allah mengangkat orang – orang beriman diantara kamu dan berilmu bertingkat – tingkat.”
21.Al – qur’an, S. Fushilat (1) : artinya : “Janganlah kamu bersujud kepada matahari ataupun bulan tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan.”
22.Al – qur’an, S. Al – Fatihah (1) : artinya : “Janganlah kamu bersujud kepada matahari ataupun bulan tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan.”
23.Al – qur’an, S. Al – Hajj (XXII) : 56, artinya : “Kerajaan pada hari itu hanyalah bagi Allah, Dia mengadili antara manusia (suatu lukisan simbolis). “Bagi siapakah pekerjaan hari ini ? bagi Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa.”
24.Al – qur’an, S. Al – Baqarah (11) : 48, artinya : “Dan berjaga – jagalah kamu sekalian terhadap massa dimana seseorang tidak sedikitpun membela orang – orang lain dan dimana tidak di terima suatu pertolongan dan tidak suatu tebusan serta tidak pula itu akan dibantunya.”
25.Al – qur’an, S. Al – A’raf (II) : 187, artinya : “Mereka bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang hari kiamat kapan akan terjadi ? Jawablah : sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya ada pada Tuhan. Tidak seorangpun dapat menjelaskan selain dari Dia Sendiri.”
Ho Chi Minh City Hall or Hôtel de Ville de Saigon (Ho Chi Minh City People's Committee Head office - Trụ sở Ủy ban Nhân Thành phố Hồ Chí Minh) was built in 1902-1908 in a French colonial style for the then city of Saigon. It was renamed after 1975 as Ho Chi Minh City People's Committee. Illuminated at night, the building is not opened to the public or for tourists
Dari Nabi s.a.w, (mengenai peristiwa) ketika Umar datang mengadap Baginda s.a.w, lalu berkata: "(Ya Rasulullah!) kami ada mendengar cerita-cerita dan nasihat pengajaran yang menarik hati dari orang-orang Yahudi, maka bagaimana fikiran tuan, bolehkah kami menulis sebahagian daripadanya?" (mendengar yang demikian) Baginda s.a.w bersabda: " Adakah kamu merasa ragu-ragu dan serba salah (dalam ajaran agama kamu) sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani yang telah ragu-ragu dan meraba-raba (dalam ajaran agama mereka)? Demi sesungguhnya! Aku telah membawa kepada kamu agama Islam dengan keadaannya yang jelas nyata dan bersih suci (dari sebarang perkara syirik dan penyelewengan), dan kalaulah Nabi Musa masih hidup lagi, (sudah tentu) tidak ada jalan lain baginya daripada menurutku."
WAJIBNYA SHALAT BERJAMA’AH
Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu melaksanakan shalat berjama’ah? Para ahli fiqh berselisih pendapat tentang hukum wajibnya shalat berjama’ah. Namun kebanyakan ulama mengatakan hukumnya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan hukumnya sunnah muakkad. Orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berpendapat dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Dalil Pertama :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu...” (An-Nisa: 102).
Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut: Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka untuk shalat berjama’ah, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersem-bahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu fardlu ‘ain. Karena Allah tidak mengabaikan perintah untuk shalat berjama’ah pada kelompok yang kedua sbagaimana yang diperintahkan kepada kelompok pertama untuk melaksanakan shalat berjama’ah pula. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat berjama’ah itu sunnah, karena jika demikian halnya, pastilah kelompok pertama memiliki halangan/udzur untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah dengan alasan akan adanya rasa takut.
Maka ayat tersebut merupakan bukti bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain. Hal itu dapat dilihat dari 3 aspek: (1) Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah kepada kelompok pertama, (2) kemudian Allah memerintahkannya kepada kelompok kedua untuk melaksanakannya pula, (3) Allah tidak memberikan keringanan-keringanan bagi mereka walaupun dalam keadaan takut/ perang.
Dalil kedua
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera”(QS: Al Qalam: 42-43). Aspek yang dijadikan dalil shalat berjama’ah adalah: sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi hukuman di akhirat dikarenakan keadaan di antara mereka dan sujud. Ketika mereka dipanggil untuk bersujud di dunia, mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Jika demikian halnya, maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi tuntutan shalat berjama’ah, dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri, demikianlah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menjelaskan jawabannya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Al Baqarah :43).
Yang dimaksud dengan ruku’ di sini adalah shalat, maka mestilah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai pengertian melaksanakan shalat bersama para jama’ah.
Dalil Keempat
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin memerintahkan (orang-orang) untuk melaksanakan shalat hingga shalat itu didirikan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat (berjama’ah), lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu”.(Diriwayatkan oleh kedua Imam, Muslim dan Bukhary, sepakat atas keshahihan hadits ini, dan lafadz ini dari Muslim).
Mereka yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah tidak wajib mengatakan bahwa dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya. Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/ dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan wajibnya shalat berjama’ah. Pernyataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam tidaklah melaksanakan niatnya dan mencegah untuk melakukan hal itu karena di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjama’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Imam Ahmad dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam :
“Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak, aku melaksanakan shalat ‘isya, dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada dalam rumah itu.” (Lihat al-Musnad, 2/367).
Dalil Kelima
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab “Shahih”-nya: Bahwa seorang laki-laki buta berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang pun yang dapat menuntunku ke masjid. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberikan keringanan baginya. Ketika ia berpaling, dipanggilnya ia oleh Rasulullah dan berkata: “Apakah engkau mendengar adzan?” Ia berkata: “Ya”. Rasulullah menjawab: “Penuhilah (datanglah untuk shalat)”. Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum Radhiallahu 'Anhu.
Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjama’ah kepada orang yang buta dan rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu wajib bukan sunnah. Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta: “Tidak ada keringanan bagimu” maka lebih-lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya.
Dalil Keenam
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda :
”Barang siapa mendengar adzan dan tidak ada udzur/halangan apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya” mereka berkata: Udzur apa? Nabi bersabda: “Ketakutan atau sakit, maka shalat yang sudah dilakukannya tidak akan diterima.” (HR. Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam hadits shahihnya.)
Dalil Ketujuh
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu 'Anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan muslim, maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan, karena shalat-shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjamaah berarti engkau meninggalkan sunnah nabi kalian, kalau engkau meninggalkan sunnah nabi berarti engkau sesat. Seseorang yang bersuci kemudian ia memperbaiki kesuciannya, kemudian menuju ke masjid dari masjid-masjid yang ada, tiada lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan, dan dihilangkan darinya kejelekan. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka berjamaah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan tidaklah seseorang telah didatangi dan diberi petunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjamaah). (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 654).
Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jama’ah itu merupakan salah satu tanda dari orang-orang munafik yang nyata kemunafikannya, dan tanda-tanda kemunafikan itu tidak dengan meninggalkan hal-hal yang disukai dan tidak melakukan yang dibenci. Maka, orang yang mengamati tanda-tanda orang munafik di dalam sunnah, ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram.
Dalil Kedelapan
Dari Abi Sa’id al Khudry Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Jika mereka bertiga, maka hendaknya salah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya.” (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 672.)
Dalil Kesembilan
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan diperbaiki oleh At-Tirmidzy.
(Ahmad, 2/228; Abu Daud, 682; Tirmidzy, 230 dan 231 dan dihasankan; Ibnu Majah, 1004; dan Ibnu Hibban, 2198 dan 2199, semuanya dalam masalah “Shalat”.)
Dari Ali bin Syaiban Radhiallahu 'Anhu berkata:
Konteks dalil ini menunjukkan: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam membatalkan shalat seseorang yang keluar dari shaf sedang ia dalam keadaan berjamaah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. Maka shalat menyendiri dari jama’ah dan di luar tempat jamaah adalah batal. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri itu adalah shalat sendirian, kalaulah shalat sendirian itu sah, maka Rasulullah tidak akan menanggap shalatnya tidak sah atau dianggap tidak ada.
Dalil Kesepuluh
Dari Abu Darda Radhiallahu 'Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Tiada tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjamaah, melainkan mereka telah dijajah (dikuasai) oleh syaithan”, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah, karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh (terpencil) dari kawan-kawannya”. (HR. Abu Daud, Imam Ahmad, dan An-Nasa’i,”bab Imamah”, 2/106)
Dalil Kesebelas
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu ia berkata: “Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah (peluru) yang terkumpul lebih baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia tidak menjawab tersebut.”
Dari Abi Sya’tsail Maharaby, dia berkata: Kami duduk di masjid, kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid, kemudian pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. Abu HuraIrah berkata: “Orang itu benar-benar telah berdosa terhadap Abal Qasim (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam )”. (HR. Muslim).
Dalil Keduabelas
Dalil keduabelas adalah ijma’ para sahabat radiallahu anhum. Imam Ahmad berkata: “Waki’ telah menceritakan kepada kami, Mas’ar telah menceritakan kepada kami, dari Abi Al Hushain, dari Abi Burdah, dari Abi Musa Al-Asy’ary, dia berkata: “Barang siapa yang mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka tidak ada shalat baginya.” (HR Al Hakim, 1/246, dia telah menshahihkan hadits ini, Imam Adz-Dzahaby dan Imam Baihaqy telah menyepakatinya sebagai hadits marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam) dan mauquf (sanadnya sampai kepada sahabat), 3/174, dan lihat kitab “Majma’uz zawaid”, 2/32.) Hadits serupa diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ali, Hasan bin ali, Abi Hurairah dan Aisyah Ummil Mukminin radiallahu anhum.
Apakah Masjid Ditentukan untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah atau Tidak?
Dalam “al-Musnad” Imam Ahmad, dari Ibnu Ummi Maktum, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam datang ke suatu masjid, beliau melihat kaum yang sangat sedikit sekali, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin sekali menyuruh seseorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi ke luar, dan....(seperti riwayat sebelumnya).
Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'Anhu berkata: “Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat (berjama’ah) dan melakukannya di rumah, berarti kamu telah meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu, dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu, berarti kamu telah sesat.”
‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata, “Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjama’ah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seseorang yang sakit pun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (berjama’ah di masjid).” Abdullah bin Mas’ud lalu menegaskan, “Rasulullah telah mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid).” (Shahih Muslim).
Meninggalkan shalat berjama’ah merupakan penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'Anhu: “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim). Dari Buraidah bin Hushaib Al-Aslamy, ia berkata:
“Janji yang membatasi antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” (HR. Imam Ahmad, An-Nasa’I, Ibnu Majah, At-Tirmidzy berkata hadits ini shahih isnadnya berdasarkan syarat Muslim).
Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalinya pun jelas, maka siapa pun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkari dengan alasan menurut perkataan si Fulan ini atau si Fulan itu.
Wallaahu A’lam Bisshawab
Maraji’:
Rahasia di Balik Shalat (Kitabush - shalah wa Hukmu Tarikiha): Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
Tuntunan Thaharah dan Shalat (Rasaail fith-Thaharaty wash-Shalaah): Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
WAJIBNYA SHALAT BERJAMA’AH
Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu melaksanakan shalat berjama’ah? Para ahli fiqh berselisih pendapat tentang hukum wajibnya shalat berjama’ah. Namun kebanyakan ulama mengatakan hukumnya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan hukumnya sunnah muakkad. Orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berpendapat dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Dalil Pertama :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu...” (An-Nisa: 102).
Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut: Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka untuk shalat berjama’ah, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersem-bahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu fardlu ‘ain. Karena Allah tidak mengabaikan perintah untuk shalat berjama’ah pada kelompok yang kedua sbagaimana yang diperintahkan kepada kelompok pertama untuk melaksanakan shalat berjama’ah pula. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat berjama’ah itu sunnah, karena jika demikian halnya, pastilah kelompok pertama memiliki halangan/udzur untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah dengan alasan akan adanya rasa takut.
Maka ayat tersebut merupakan bukti bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain. Hal itu dapat dilihat dari 3 aspek: (1) Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah kepada kelompok pertama, (2) kemudian Allah memerintahkannya kepada kelompok kedua untuk melaksanakannya pula, (3) Allah tidak memberikan keringanan-keringanan bagi mereka walaupun dalam keadaan takut/ perang.
Dalil kedua
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera”(QS: Al Qalam: 42-43). Aspek yang dijadikan dalil shalat berjama’ah adalah: sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi hukuman di akhirat dikarenakan keadaan di antara mereka dan sujud. Ketika mereka dipanggil untuk bersujud di dunia, mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Jika demikian halnya, maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi tuntutan shalat berjama’ah, dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri, demikianlah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menjelaskan jawabannya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Al Baqarah :43).
Yang dimaksud dengan ruku’ di sini adalah shalat, maka mestilah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai pengertian melaksanakan shalat bersama para jama’ah.
Dalil Keempat
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin memerintahkan (orang-orang) untuk melaksanakan shalat hingga shalat itu didirikan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat (berjama’ah), lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu”.(Diriwayatkan oleh kedua Imam, Muslim dan Bukhary, sepakat atas keshahihan hadits ini, dan lafadz ini dari Muslim).
Mereka yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah tidak wajib mengatakan bahwa dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya. Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/ dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan wajibnya shalat berjama’ah. Pernyataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam tidaklah melaksanakan niatnya dan mencegah untuk melakukan hal itu karena di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjama’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Imam Ahmad dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam :
“Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak, aku melaksanakan shalat ‘isya, dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada dalam rumah itu.” (Lihat al-Musnad, 2/367).
Dalil Kelima
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab “Shahih”-nya: Bahwa seorang laki-laki buta berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang pun yang dapat menuntunku ke masjid. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberikan keringanan baginya. Ketika ia berpaling, dipanggilnya ia oleh Rasulullah dan berkata: “Apakah engkau mendengar adzan?” Ia berkata: “Ya”. Rasulullah menjawab: “Penuhilah (datanglah untuk shalat)”. Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum Radhiallahu 'Anhu.
Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjama’ah kepada orang yang buta dan rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu wajib bukan sunnah. Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta: “Tidak ada keringanan bagimu” maka lebih-lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya.
Dalil Keenam
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda :
”Barang siapa mendengar adzan dan tidak ada udzur/halangan apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya” mereka berkata: Udzur apa? Nabi bersabda: “Ketakutan atau sakit, maka shalat yang sudah dilakukannya tidak akan diterima.” (HR. Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam hadits shahihnya.)
Dalil Ketujuh
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu 'Anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan muslim, maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan, karena shalat-shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjamaah berarti engkau meninggalkan sunnah nabi kalian, kalau engkau meninggalkan sunnah nabi berarti engkau sesat. Seseorang yang bersuci kemudian ia memperbaiki kesuciannya, kemudian menuju ke masjid dari masjid-masjid yang ada, tiada lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan, dan dihilangkan darinya kejelekan. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka berjamaah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan tidaklah seseorang telah didatangi dan diberi petunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjamaah). (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 654).
Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jama’ah itu merupakan salah satu tanda dari orang-orang munafik yang nyata kemunafikannya, dan tanda-tanda kemunafikan itu tidak dengan meninggalkan hal-hal yang disukai dan tidak melakukan yang dibenci. Maka, orang yang mengamati tanda-tanda orang munafik di dalam sunnah, ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram.
Dalil Kedelapan
Dari Abi Sa’id al Khudry Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Jika mereka bertiga, maka hendaknya salah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya.” (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 672.)
Dalil Kesembilan
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan diperbaiki oleh At-Tirmidzy.
(Ahmad, 2/228; Abu Daud, 682; Tirmidzy, 230 dan 231 dan dihasankan; Ibnu Majah, 1004; dan Ibnu Hibban, 2198 dan 2199, semuanya dalam masalah “Shalat”.)
Dari Ali bin Syaiban Radhiallahu 'Anhu berkata:
Konteks dalil ini menunjukkan: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam membatalkan shalat seseorang yang keluar dari shaf sedang ia dalam keadaan berjamaah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. Maka shalat menyendiri dari jama’ah dan di luar tempat jamaah adalah batal. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri itu adalah shalat sendirian, kalaulah shalat sendirian itu sah, maka Rasulullah tidak akan menanggap shalatnya tidak sah atau dianggap tidak ada.
Dalil Kesepuluh
Dari Abu Darda Radhiallahu 'Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Tiada tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjamaah, melainkan mereka telah dijajah (dikuasai) oleh syaithan”, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah, karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh (terpencil) dari kawan-kawannya”. (HR. Abu Daud, Imam Ahmad, dan An-Nasa’i,”bab Imamah”, 2/106)
Dalil Kesebelas
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu ia berkata: “Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah (peluru) yang terkumpul lebih baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia tidak menjawab tersebut.”
Dari Abi Sya’tsail Maharaby, dia berkata: Kami duduk di masjid, kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid, kemudian pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. Abu HuraIrah berkata: “Orang itu benar-benar telah berdosa terhadap Abal Qasim (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam )”. (HR. Muslim).
Dalil Keduabelas
Dalil keduabelas adalah ijma’ para sahabat radiallahu anhum. Imam Ahmad berkata: “Waki’ telah menceritakan kepada kami, Mas’ar telah menceritakan kepada kami, dari Abi Al Hushain, dari Abi Burdah, dari Abi Musa Al-Asy’ary, dia berkata: “Barang siapa yang mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka tidak ada shalat baginya.” (HR Al Hakim, 1/246, dia telah menshahihkan hadits ini, Imam Adz-Dzahaby dan Imam Baihaqy telah menyepakatinya sebagai hadits marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam) dan mauquf (sanadnya sampai kepada sahabat), 3/174, dan lihat kitab “Majma’uz zawaid”, 2/32.) Hadits serupa diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ali, Hasan bin ali, Abi Hurairah dan Aisyah Ummil Mukminin radiallahu anhum.
Apakah Masjid Ditentukan untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah atau Tidak?
Dalam “al-Musnad” Imam Ahmad, dari Ibnu Ummi Maktum, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam datang ke suatu masjid, beliau melihat kaum yang sangat sedikit sekali, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin sekali menyuruh seseorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi ke luar, dan....(seperti riwayat sebelumnya).
Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'Anhu berkata: “Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat (berjama’ah) dan melakukannya di rumah, berarti kamu telah meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu, dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu, berarti kamu telah sesat.”
‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata, “Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjama’ah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seseorang yang sakit pun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (berjama’ah di masjid).” Abdullah bin Mas’ud lalu menegaskan, “Rasulullah telah mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid).” (Shahih Muslim).
Meninggalkan shalat berjama’ah merupakan penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'Anhu: “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim). Dari Buraidah bin Hushaib Al-Aslamy, ia berkata:
“Janji yang membatasi antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” (HR. Imam Ahmad, An-Nasa’I, Ibnu Majah, At-Tirmidzy berkata hadits ini shahih isnadnya berdasarkan syarat Muslim).
Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalinya pun jelas, maka siapa pun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkari dengan alasan menurut perkataan si Fulan ini atau si Fulan itu.
Wallaahu A’lam Bisshawab
Maraji’:
Rahasia di Balik Shalat (Kitabush - shalah wa Hukmu Tarikiha): Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
Tuntunan Thaharah dan Shalat (Rasaail fith-Thaharaty wash-Shalaah): Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
WAJIBNYA SHALAT BERJAMA’AH
Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu melaksanakan shalat berjama’ah? Para ahli fiqh berselisih pendapat tentang hukum wajibnya shalat berjama’ah. Namun kebanyakan ulama mengatakan hukumnya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan hukumnya sunnah muakkad. Orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berpendapat dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Dalil Pertama :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu...” (An-Nisa: 102).
Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut: Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka untuk shalat berjama’ah, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersem-bahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu fardlu ‘ain. Karena Allah tidak mengabaikan perintah untuk shalat berjama’ah pada kelompok yang kedua sbagaimana yang diperintahkan kepada kelompok pertama untuk melaksanakan shalat berjama’ah pula. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat berjama’ah itu sunnah, karena jika demikian halnya, pastilah kelompok pertama memiliki halangan/udzur untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah dengan alasan akan adanya rasa takut.
Maka ayat tersebut merupakan bukti bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain. Hal itu dapat dilihat dari 3 aspek: (1) Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah kepada kelompok pertama, (2) kemudian Allah memerintahkannya kepada kelompok kedua untuk melaksanakannya pula, (3) Allah tidak memberikan keringanan-keringanan bagi mereka walaupun dalam keadaan takut/ perang.
Dalil kedua
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera”(QS: Al Qalam: 42-43). Aspek yang dijadikan dalil shalat berjama’ah adalah: sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi hukuman di akhirat dikarenakan keadaan di antara mereka dan sujud. Ketika mereka dipanggil untuk bersujud di dunia, mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Jika demikian halnya, maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi tuntutan shalat berjama’ah, dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri, demikianlah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menjelaskan jawabannya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Al Baqarah :43).
Yang dimaksud dengan ruku’ di sini adalah shalat, maka mestilah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai pengertian melaksanakan shalat bersama para jama’ah.
Dalil Keempat
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin memerintahkan (orang-orang) untuk melaksanakan shalat hingga shalat itu didirikan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat (berjama’ah), lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu”.(Diriwayatkan oleh kedua Imam, Muslim dan Bukhary, sepakat atas keshahihan hadits ini, dan lafadz ini dari Muslim).
Mereka yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah tidak wajib mengatakan bahwa dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya. Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/ dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan wajibnya shalat berjama’ah. Pernyataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam tidaklah melaksanakan niatnya dan mencegah untuk melakukan hal itu karena di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjama’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Imam Ahmad dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam :
“Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak, aku melaksanakan shalat ‘isya, dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada dalam rumah itu.” (Lihat al-Musnad, 2/367).
Dalil Kelima
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab “Shahih”-nya: Bahwa seorang laki-laki buta berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang pun yang dapat menuntunku ke masjid. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberikan keringanan baginya. Ketika ia berpaling, dipanggilnya ia oleh Rasulullah dan berkata: “Apakah engkau mendengar adzan?” Ia berkata: “Ya”. Rasulullah menjawab: “Penuhilah (datanglah untuk shalat)”. Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum Radhiallahu 'Anhu.
Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjama’ah kepada orang yang buta dan rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu wajib bukan sunnah. Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta: “Tidak ada keringanan bagimu” maka lebih-lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya.
Dalil Keenam
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda :
”Barang siapa mendengar adzan dan tidak ada udzur/halangan apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya” mereka berkata: Udzur apa? Nabi bersabda: “Ketakutan atau sakit, maka shalat yang sudah dilakukannya tidak akan diterima.” (HR. Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam hadits shahihnya.)
Dalil Ketujuh
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu 'Anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan muslim, maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan, karena shalat-shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjamaah berarti engkau meninggalkan sunnah nabi kalian, kalau engkau meninggalkan sunnah nabi berarti engkau sesat. Seseorang yang bersuci kemudian ia memperbaiki kesuciannya, kemudian menuju ke masjid dari masjid-masjid yang ada, tiada lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan, dan dihilangkan darinya kejelekan. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka berjamaah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan tidaklah seseorang telah didatangi dan diberi petunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjamaah). (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 654).
Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jama’ah itu merupakan salah satu tanda dari orang-orang munafik yang nyata kemunafikannya, dan tanda-tanda kemunafikan itu tidak dengan meninggalkan hal-hal yang disukai dan tidak melakukan yang dibenci. Maka, orang yang mengamati tanda-tanda orang munafik di dalam sunnah, ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram.
Dalil Kedelapan
Dari Abi Sa’id al Khudry Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Jika mereka bertiga, maka hendaknya salah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya.” (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 672.)
Dalil Kesembilan
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan diperbaiki oleh At-Tirmidzy.
(Ahmad, 2/228; Abu Daud, 682; Tirmidzy, 230 dan 231 dan dihasankan; Ibnu Majah, 1004; dan Ibnu Hibban, 2198 dan 2199, semuanya dalam masalah “Shalat”.)
Dari Ali bin Syaiban Radhiallahu 'Anhu berkata:
Konteks dalil ini menunjukkan: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam membatalkan shalat seseorang yang keluar dari shaf sedang ia dalam keadaan berjamaah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. Maka shalat menyendiri dari jama’ah dan di luar tempat jamaah adalah batal. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri itu adalah shalat sendirian, kalaulah shalat sendirian itu sah, maka Rasulullah tidak akan menanggap shalatnya tidak sah atau dianggap tidak ada.
Dalil Kesepuluh
Dari Abu Darda Radhiallahu 'Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Tiada tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjamaah, melainkan mereka telah dijajah (dikuasai) oleh syaithan”, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah, karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh (terpencil) dari kawan-kawannya”. (HR. Abu Daud, Imam Ahmad, dan An-Nasa’i,”bab Imamah”, 2/106)
Dalil Kesebelas
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu ia berkata: “Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah (peluru) yang terkumpul lebih baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia tidak menjawab tersebut.”
Dari Abi Sya’tsail Maharaby, dia berkata: Kami duduk di masjid, kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid, kemudian pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. Abu HuraIrah berkata: “Orang itu benar-benar telah berdosa terhadap Abal Qasim (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam )”. (HR. Muslim).
Dalil Keduabelas
Dalil keduabelas adalah ijma’ para sahabat radiallahu anhum. Imam Ahmad berkata: “Waki’ telah menceritakan kepada kami, Mas’ar telah menceritakan kepada kami, dari Abi Al Hushain, dari Abi Burdah, dari Abi Musa Al-Asy’ary, dia berkata: “Barang siapa yang mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka tidak ada shalat baginya.” (HR Al Hakim, 1/246, dia telah menshahihkan hadits ini, Imam Adz-Dzahaby dan Imam Baihaqy telah menyepakatinya sebagai hadits marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam) dan mauquf (sanadnya sampai kepada sahabat), 3/174, dan lihat kitab “Majma’uz zawaid”, 2/32.) Hadits serupa diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ali, Hasan bin ali, Abi Hurairah dan Aisyah Ummil Mukminin radiallahu anhum.
Apakah Masjid Ditentukan untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah atau Tidak?
Dalam “al-Musnad” Imam Ahmad, dari Ibnu Ummi Maktum, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam datang ke suatu masjid, beliau melihat kaum yang sangat sedikit sekali, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin sekali menyuruh seseorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi ke luar, dan....(seperti riwayat sebelumnya).
Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'Anhu berkata: “Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat (berjama’ah) dan melakukannya di rumah, berarti kamu telah meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu, dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu, berarti kamu telah sesat.”
‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata, “Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjama’ah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seseorang yang sakit pun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (berjama’ah di masjid).” Abdullah bin Mas’ud lalu menegaskan, “Rasulullah telah mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid).” (Shahih Muslim).
Meninggalkan shalat berjama’ah merupakan penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'Anhu: “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim). Dari Buraidah bin Hushaib Al-Aslamy, ia berkata:
“Janji yang membatasi antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” (HR. Imam Ahmad, An-Nasa’I, Ibnu Majah, At-Tirmidzy berkata hadits ini shahih isnadnya berdasarkan syarat Muslim).
Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalinya pun jelas, maka siapa pun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkari dengan alasan menurut perkataan si Fulan ini atau si Fulan itu.
Wallaahu A’lam Bisshawab
Maraji’:
Rahasia di Balik Shalat (Kitabush - shalah wa Hukmu Tarikiha): Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
Tuntunan Thaharah dan Shalat (Rasaail fith-Thaharaty wash-Shalaah): Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
WAJIBNYA SHALAT BERJAMA’AH
Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu melaksanakan shalat berjama’ah? Para ahli fiqh berselisih pendapat tentang hukum wajibnya shalat berjama’ah. Namun kebanyakan ulama mengatakan hukumnya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan hukumnya sunnah muakkad. Orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berpendapat dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Dalil Pertama :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu...” (An-Nisa: 102).
Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut: Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka untuk shalat berjama’ah, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersem-bahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu fardlu ‘ain. Karena Allah tidak mengabaikan perintah untuk shalat berjama’ah pada kelompok yang kedua sbagaimana yang diperintahkan kepada kelompok pertama untuk melaksanakan shalat berjama’ah pula. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat berjama’ah itu sunnah, karena jika demikian halnya, pastilah kelompok pertama memiliki halangan/udzur untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah dengan alasan akan adanya rasa takut.
Maka ayat tersebut merupakan bukti bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain. Hal itu dapat dilihat dari 3 aspek: (1) Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah kepada kelompok pertama, (2) kemudian Allah memerintahkannya kepada kelompok kedua untuk melaksanakannya pula, (3) Allah tidak memberikan keringanan-keringanan bagi mereka walaupun dalam keadaan takut/ perang.
Dalil kedua
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera”(QS: Al Qalam: 42-43). Aspek yang dijadikan dalil shalat berjama’ah adalah: sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi hukuman di akhirat dikarenakan keadaan di antara mereka dan sujud. Ketika mereka dipanggil untuk bersujud di dunia, mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Jika demikian halnya, maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi tuntutan shalat berjama’ah, dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri, demikianlah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menjelaskan jawabannya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Al Baqarah :43).
Yang dimaksud dengan ruku’ di sini adalah shalat, maka mestilah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai pengertian melaksanakan shalat bersama para jama’ah.
Dalil Keempat
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin memerintahkan (orang-orang) untuk melaksanakan shalat hingga shalat itu didirikan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat (berjama’ah), lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu”.(Diriwayatkan oleh kedua Imam, Muslim dan Bukhary, sepakat atas keshahihan hadits ini, dan lafadz ini dari Muslim).
Mereka yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah tidak wajib mengatakan bahwa dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya. Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/ dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan wajibnya shalat berjama’ah. Pernyataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam tidaklah melaksanakan niatnya dan mencegah untuk melakukan hal itu karena di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjama’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Imam Ahmad dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam :
“Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak, aku melaksanakan shalat ‘isya, dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada dalam rumah itu.” (Lihat al-Musnad, 2/367).
Dalil Kelima
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab “Shahih”-nya: Bahwa seorang laki-laki buta berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang pun yang dapat menuntunku ke masjid. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberikan keringanan baginya. Ketika ia berpaling, dipanggilnya ia oleh Rasulullah dan berkata: “Apakah engkau mendengar adzan?” Ia berkata: “Ya”. Rasulullah menjawab: “Penuhilah (datanglah untuk shalat)”. Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum Radhiallahu 'Anhu.
Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjama’ah kepada orang yang buta dan rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu wajib bukan sunnah. Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta: “Tidak ada keringanan bagimu” maka lebih-lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya.
Dalil Keenam
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda :
”Barang siapa mendengar adzan dan tidak ada udzur/halangan apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya” mereka berkata: Udzur apa? Nabi bersabda: “Ketakutan atau sakit, maka shalat yang sudah dilakukannya tidak akan diterima.” (HR. Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam hadits shahihnya.)
Dalil Ketujuh
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu 'Anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan muslim, maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan, karena shalat-shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjamaah berarti engkau meninggalkan sunnah nabi kalian, kalau engkau meninggalkan sunnah nabi berarti engkau sesat. Seseorang yang bersuci kemudian ia memperbaiki kesuciannya, kemudian menuju ke masjid dari masjid-masjid yang ada, tiada lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan, dan dihilangkan darinya kejelekan. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka berjamaah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan tidaklah seseorang telah didatangi dan diberi petunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjamaah). (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 654).
Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jama’ah itu merupakan salah satu tanda dari orang-orang munafik yang nyata kemunafikannya, dan tanda-tanda kemunafikan itu tidak dengan meninggalkan hal-hal yang disukai dan tidak melakukan yang dibenci. Maka, orang yang mengamati tanda-tanda orang munafik di dalam sunnah, ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram.
Dalil Kedelapan
Dari Abi Sa’id al Khudry Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Jika mereka bertiga, maka hendaknya salah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya.” (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 672.)
Dalil Kesembilan
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan diperbaiki oleh At-Tirmidzy.
(Ahmad, 2/228; Abu Daud, 682; Tirmidzy, 230 dan 231 dan dihasankan; Ibnu Majah, 1004; dan Ibnu Hibban, 2198 dan 2199, semuanya dalam masalah “Shalat”.)
Dari Ali bin Syaiban Radhiallahu 'Anhu berkata:
Konteks dalil ini menunjukkan: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam membatalkan shalat seseorang yang keluar dari shaf sedang ia dalam keadaan berjamaah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. Maka shalat menyendiri dari jama’ah dan di luar tempat jamaah adalah batal. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri itu adalah shalat sendirian, kalaulah shalat sendirian itu sah, maka Rasulullah tidak akan menanggap shalatnya tidak sah atau dianggap tidak ada.
Dalil Kesepuluh
Dari Abu Darda Radhiallahu 'Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Tiada tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjamaah, melainkan mereka telah dijajah (dikuasai) oleh syaithan”, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah, karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh (terpencil) dari kawan-kawannya”. (HR. Abu Daud, Imam Ahmad, dan An-Nasa’i,”bab Imamah”, 2/106)
Dalil Kesebelas
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu ia berkata: “Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah (peluru) yang terkumpul lebih baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia tidak menjawab tersebut.”
Dari Abi Sya’tsail Maharaby, dia berkata: Kami duduk di masjid, kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid, kemudian pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. Abu HuraIrah berkata: “Orang itu benar-benar telah berdosa terhadap Abal Qasim (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam )”. (HR. Muslim).
Dalil Keduabelas
Dalil keduabelas adalah ijma’ para sahabat radiallahu anhum. Imam Ahmad berkata: “Waki’ telah menceritakan kepada kami, Mas’ar telah menceritakan kepada kami, dari Abi Al Hushain, dari Abi Burdah, dari Abi Musa Al-Asy’ary, dia berkata: “Barang siapa yang mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka tidak ada shalat baginya.” (HR Al Hakim, 1/246, dia telah menshahihkan hadits ini, Imam Adz-Dzahaby dan Imam Baihaqy telah menyepakatinya sebagai hadits marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam) dan mauquf (sanadnya sampai kepada sahabat), 3/174, dan lihat kitab “Majma’uz zawaid”, 2/32.) Hadits serupa diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ali, Hasan bin ali, Abi Hurairah dan Aisyah Ummil Mukminin radiallahu anhum.
Apakah Masjid Ditentukan untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah atau Tidak?
Dalam “al-Musnad” Imam Ahmad, dari Ibnu Ummi Maktum, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam datang ke suatu masjid, beliau melihat kaum yang sangat sedikit sekali, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin sekali menyuruh seseorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi ke luar, dan....(seperti riwayat sebelumnya).
Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'Anhu berkata: “Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat (berjama’ah) dan melakukannya di rumah, berarti kamu telah meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu, dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu, berarti kamu telah sesat.”
‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata, “Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjama’ah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seseorang yang sakit pun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (berjama’ah di masjid).” Abdullah bin Mas’ud lalu menegaskan, “Rasulullah telah mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid).” (Shahih Muslim).
Meninggalkan shalat berjama’ah merupakan penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'Anhu: “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim). Dari Buraidah bin Hushaib Al-Aslamy, ia berkata:
“Janji yang membatasi antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” (HR. Imam Ahmad, An-Nasa’I, Ibnu Majah, At-Tirmidzy berkata hadits ini shahih isnadnya berdasarkan syarat Muslim).
Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalinya pun jelas, maka siapa pun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkari dengan alasan menurut perkataan si Fulan ini atau si Fulan itu.
Wallaahu A’lam Bisshawab
Maraji’:
Rahasia di Balik Shalat (Kitabush - shalah wa Hukmu Tarikiha): Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
Tuntunan Thaharah dan Shalat (Rasaail fith-Thaharaty wash-Shalaah): Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
WAJIBNYA SHALAT BERJAMA’AH
Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu melaksanakan shalat berjama’ah? Para ahli fiqh berselisih pendapat tentang hukum wajibnya shalat berjama’ah. Namun kebanyakan ulama mengatakan hukumnya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan hukumnya sunnah muakkad. Orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berpendapat dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Dalil Pertama :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu...” (An-Nisa: 102).
Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut: Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka untuk shalat berjama’ah, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersem-bahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu fardlu ‘ain. Karena Allah tidak mengabaikan perintah untuk shalat berjama’ah pada kelompok yang kedua sbagaimana yang diperintahkan kepada kelompok pertama untuk melaksanakan shalat berjama’ah pula. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat berjama’ah itu sunnah, karena jika demikian halnya, pastilah kelompok pertama memiliki halangan/udzur untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah dengan alasan akan adanya rasa takut.
Maka ayat tersebut merupakan bukti bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain. Hal itu dapat dilihat dari 3 aspek: (1) Allah memerintahkan untuk shalat berjama’ah kepada kelompok pertama, (2) kemudian Allah memerintahkannya kepada kelompok kedua untuk melaksanakannya pula, (3) Allah tidak memberikan keringanan-keringanan bagi mereka walaupun dalam keadaan takut/ perang.
Dalil kedua
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera”(QS: Al Qalam: 42-43). Aspek yang dijadikan dalil shalat berjama’ah adalah: sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi hukuman di akhirat dikarenakan keadaan di antara mereka dan sujud. Ketika mereka dipanggil untuk bersujud di dunia, mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Jika demikian halnya, maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi tuntutan shalat berjama’ah, dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri, demikianlah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menjelaskan jawabannya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (Al Baqarah :43).
Yang dimaksud dengan ruku’ di sini adalah shalat, maka mestilah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempunyai pengertian melaksanakan shalat bersama para jama’ah.
Dalil Keempat
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin memerintahkan (orang-orang) untuk melaksanakan shalat hingga shalat itu didirikan, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat (berjama’ah), lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu”.(Diriwayatkan oleh kedua Imam, Muslim dan Bukhary, sepakat atas keshahihan hadits ini, dan lafadz ini dari Muslim).
Mereka yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah tidak wajib mengatakan bahwa dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya. Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/ dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan wajibnya shalat berjama’ah. Pernyataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam tidaklah melaksanakan niatnya dan mencegah untuk melakukan hal itu karena di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjama’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Imam Ahmad dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam :
“Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak, aku melaksanakan shalat ‘isya, dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada dalam rumah itu.” (Lihat al-Musnad, 2/367).
Dalil Kelima
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab “Shahih”-nya: Bahwa seorang laki-laki buta berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang pun yang dapat menuntunku ke masjid. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberikan keringanan baginya. Ketika ia berpaling, dipanggilnya ia oleh Rasulullah dan berkata: “Apakah engkau mendengar adzan?” Ia berkata: “Ya”. Rasulullah menjawab: “Penuhilah (datanglah untuk shalat)”. Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum Radhiallahu 'Anhu.
Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjama’ah kepada orang yang buta dan rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu wajib bukan sunnah. Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta: “Tidak ada keringanan bagimu” maka lebih-lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya.
Dalil Keenam
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda :
”Barang siapa mendengar adzan dan tidak ada udzur/halangan apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya” mereka berkata: Udzur apa? Nabi bersabda: “Ketakutan atau sakit, maka shalat yang sudah dilakukannya tidak akan diterima.” (HR. Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam hadits shahihnya.)
Dalil Ketujuh
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu 'Anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan muslim, maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan, karena shalat-shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjamaah berarti engkau meninggalkan sunnah nabi kalian, kalau engkau meninggalkan sunnah nabi berarti engkau sesat. Seseorang yang bersuci kemudian ia memperbaiki kesuciannya, kemudian menuju ke masjid dari masjid-masjid yang ada, tiada lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan, dan dihilangkan darinya kejelekan. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka berjamaah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan tidaklah seseorang telah didatangi dan diberi petunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjamaah). (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 654).
Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jama’ah itu merupakan salah satu tanda dari orang-orang munafik yang nyata kemunafikannya, dan tanda-tanda kemunafikan itu tidak dengan meninggalkan hal-hal yang disukai dan tidak melakukan yang dibenci. Maka, orang yang mengamati tanda-tanda orang munafik di dalam sunnah, ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram.
Dalil Kedelapan
Dari Abi Sa’id al Khudry Radhiallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Jika mereka bertiga, maka hendaknya salah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya.” (HR. Muslim dalam “Al Masajid” wa Mawadi’ ash-Shalah”, 672.)
Dalil Kesembilan
Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah, Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan diperbaiki oleh At-Tirmidzy.
(Ahmad, 2/228; Abu Daud, 682; Tirmidzy, 230 dan 231 dan dihasankan; Ibnu Majah, 1004; dan Ibnu Hibban, 2198 dan 2199, semuanya dalam masalah “Shalat”.)
Dari Ali bin Syaiban Radhiallahu 'Anhu berkata:
Konteks dalil ini menunjukkan: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam membatalkan shalat seseorang yang keluar dari shaf sedang ia dalam keadaan berjamaah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. Maka shalat menyendiri dari jama’ah dan di luar tempat jamaah adalah batal. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri itu adalah shalat sendirian, kalaulah shalat sendirian itu sah, maka Rasulullah tidak akan menanggap shalatnya tidak sah atau dianggap tidak ada.
Dalil Kesepuluh
Dari Abu Darda Radhiallahu 'Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda:
“Tiada tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjamaah, melainkan mereka telah dijajah (dikuasai) oleh syaithan”, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah, karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh (terpencil) dari kawan-kawannya”. (HR. Abu Daud, Imam Ahmad, dan An-Nasa’i,”bab Imamah”, 2/106)
Dalil Kesebelas
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu ia berkata: “Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah (peluru) yang terkumpul lebih baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia tidak menjawab tersebut.”
Dari Abi Sya’tsail Maharaby, dia berkata: Kami duduk di masjid, kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid, kemudian pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. Abu HuraIrah berkata: “Orang itu benar-benar telah berdosa terhadap Abal Qasim (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam )”. (HR. Muslim).
Dalil Keduabelas
Dalil keduabelas adalah ijma’ para sahabat radiallahu anhum. Imam Ahmad berkata: “Waki’ telah menceritakan kepada kami, Mas’ar telah menceritakan kepada kami, dari Abi Al Hushain, dari Abi Burdah, dari Abi Musa Al-Asy’ary, dia berkata: “Barang siapa yang mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka tidak ada shalat baginya.” (HR Al Hakim, 1/246, dia telah menshahihkan hadits ini, Imam Adz-Dzahaby dan Imam Baihaqy telah menyepakatinya sebagai hadits marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam) dan mauquf (sanadnya sampai kepada sahabat), 3/174, dan lihat kitab “Majma’uz zawaid”, 2/32.) Hadits serupa diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ali, Hasan bin ali, Abi Hurairah dan Aisyah Ummil Mukminin radiallahu anhum.
Apakah Masjid Ditentukan untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah atau Tidak?
Dalam “al-Musnad” Imam Ahmad, dari Ibnu Ummi Maktum, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam datang ke suatu masjid, beliau melihat kaum yang sangat sedikit sekali, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin sekali menyuruh seseorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi ke luar, dan....(seperti riwayat sebelumnya).
Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'Anhu berkata: “Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat (berjama’ah) dan melakukannya di rumah, berarti kamu telah meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu, dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu, berarti kamu telah sesat.”
‘Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu berkata, “Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjama’ah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seseorang yang sakit pun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (berjama’ah di masjid).” Abdullah bin Mas’ud lalu menegaskan, “Rasulullah telah mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid).” (Shahih Muslim).
Meninggalkan shalat berjama’ah merupakan penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'Anhu: “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim). Dari Buraidah bin Hushaib Al-Aslamy, ia berkata:
“Janji yang membatasi antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” (HR. Imam Ahmad, An-Nasa’I, Ibnu Majah, At-Tirmidzy berkata hadits ini shahih isnadnya berdasarkan syarat Muslim).
Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalinya pun jelas, maka siapa pun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkari dengan alasan menurut perkataan si Fulan ini atau si Fulan itu.
Wallaahu A’lam Bisshawab
Maraji’:
Rahasia di Balik Shalat (Kitabush - shalah wa Hukmu Tarikiha): Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
Tuntunan Thaharah dan Shalat (Rasaail fith-Thaharaty wash-Shalaah): Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.
Photographer : Greenboy a.k.a Budakijau
::Suatu malam rasa nk ambik gmbor bulan ramadan lepas,saya turun ke cherating untuk nightscape,sempat merakam 4 shot 2 shot sebelom hujan 2 shot lg selepas hujan,kemudian dtg awan tebal,lipat tripod balik rumah,tp renungkan,ini bukan sunset,ini pemandangan malam yg indah,bukan setiap malam ada::
Exif :
23 July 2012,21:44PM
Shot in NEF
Exposure: 15sec at f2.8
Filter : No Filter
Exposure Program : M
Matering Mode: Pattern
ISO Sensitivity : 2000
Flash: No
Focal Lenght : 17mm
Exposure Bias : -0.3EV
Camera: Nikon D90
Lens : Nikkor 17-55mm f2.8
White Balance : Daylight
Picture Control : Greenboy Landscape
keep in touch : www.facebook.com/greenboyoriginal or www.flickr.com/photos/budakijau or www.http://500px.com/GreenboyOriginal
Tajuk :
Mempercayai Ramalan Bintang
Hadith :
Dari Zaid bin Khalid, katanya: “ Kami bersembahyang subuh dengan Rasulullah s.a.w di Hudaibaiah, sedangkan pada malamnya hujan turun. Setelah selesai, beliau menghadapkan mukanya kepada orang banyak seraya berkata: Tahukah anda apa yang telah dikatakan Allah?” Jawab mereka itu: “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.” Kata Rasulullah s.a.w.: “Allah telah berkata: “Pada pagi ini ada di antara hamba-hamba-Ku yang percaya kepada-Ku dan ada pula yang ingkar; adapun yang menyatakan: “ Kita telah didatangkan hujan dari kurniaan Allah dan rahmat-Nya, maka orang itulah yang beriman kepada-Ku dan ingkar kepada bintang-bintang; adapun yang berkata, kita telah dituruni hujan sebab bintang Anu dan bintang Anu, maka orang itulah yang ingkar kepada-Ku dan percaya kepada bintang-bintang.”
(Muslim)
Huraian
Bintang adalah salah satu daripada ciptaan Allah SWT yang berfungsi sebagai penunjuk arah bagi pelaut dan nelayan selain sebagai penghias cakerawala. Justeru adalah satu pemikiran yang sesat apabila ada orang yang beranggapan bahawa bintang-bintang tersebut mempunyai kuasa yang mampu mempengaruhi nasib dan perjalanan hidup manusia sebagaimana yang menjadi bahan kepercayaan muda mudi sekarang terhadap bintang Capricon, Aquarius, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio dan Sagittarius. Sebagai umat Islam kita dilarang mempelajari hal yang bersifat tekaan untuk meramal nasib manusia bahkan ia merupakan suatu perbuatan syirik dan berunsur jahiliyah serta termasuk dalam kategori sihir dan mendustakan takdir sedangkan mereka yang mendustakan takdir jelas termasuk di dalam golongan musyrik.
Nightscape
Photographer : Greenboy a.k.a Budakijau
Bintang adalah salah satu daripada ciptaan Allah SWT yang berfungsi sebagai penunjuk arah bagi pelaut dan nelayan selain sebagai penghias cakerawala. Justeru adalah satu pemikiran yang sesat apabila ada orang yang beranggapan bahawa bintang-bintang tersebut mempunyai kuasa yang mampu mempengaruhi nasib dan perjalanan hidup manusia sebagaimana yang menjadi bahan kepercayaan muda mudi sekarang terhadap bintang Capricon, Aquarius, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio dan Sagittarius. Sebagai umat Islam kita dilarang mempelajari hal yang bersifat tekaan untuk meramal nasib manusia bahkan ia merupakan suatu perbuatan syirik dan berunsur jahiliyah serta termasuk dalam kategori sihir dan mendustakan takdir sedangkan mereka yang mendustakan takdir jelas termasuk di dalam golongan musyrik.
Exif :
8 Apr 2012/12.02AM
Shot in Jpeg
Exposure: 30sec at f9
Exposure Program : M
Matering Mode: Pattern
ISO 400
Flash: No
Focal Length: 10mm
Camera: Nikon D300s
Lens : Sigma 10-20mm f4
White Balance : Auto
Picture Control : Greenboy Landscape
Tajuk :
Mempercayai Ramalan Bintang
Hadith :
Dari Zaid bin Khalid, katanya: “ Kami bersembahyang subuh dengan Rasulullah s.a.w di Hudaibaiah, sedangkan pada malamnya hujan turun. Setelah selesai, beliau menghadapkan mukanya kepada orang banyak seraya berkata: Tahukah anda apa yang telah dikatakan Allah?” Jawab mereka itu: “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.” Kata Rasulullah s.a.w.: “Allah telah berkata: “Pada pagi ini ada di antara hamba-hamba-Ku yang percaya kepada-Ku dan ada pula yang ingkar; adapun yang menyatakan: “ Kita telah didatangkan hujan dari kurniaan Allah dan rahmat-Nya, maka orang itulah yang beriman kepada-Ku dan ingkar kepada bintang-bintang; adapun yang berkata, kita telah dituruni hujan sebab bintang Anu dan bintang Anu, maka orang itulah yang ingkar kepada-Ku dan percaya kepada bintang-bintang.”
(Muslim)
1. SURAH AL-FATIHAH
Amalkan membaca Surah Al-Fatihah semasa hendak tidur diikuti dengan
membaca Surah Al-Ikhlas 3 kali, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas.
Insya'Allah akan aman tenteram dan terjauh daripada gangguan syaitan.
Dianjurkan juga membaca surah ini sebanyak 44 kali untuk mengubati sakit
mata, perut, gigi dan lain-lainnya dengan izin Allah s.w.t.
Untuk mencegah kemarahan Allah, bacalah surah ini sebanyak 17 kali
sehari iaitu dengan mengerjakan solat 5 waktu.
2. SURAH YAASIN
Telah bersabda Rasulullah s.a.w., sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu
ada hati, dan hati Al-Qur'an ialah Surah Yaasin iaitu jantung Al-Qur'an.
Sesiapa yang membaca Surah Yaasin, nescaya dituliskan oleh Allah pahala
menyamai sepuluh kali membaca Al-Qur'an seluruhnya. (Hadis riwayat
At-Tarmizi dari Anas r.a.)
Rasulullah s.a.w. juga bersabda : Surah Yaasin dinamakan di dalam kitab
Taurat dengan sebutan "At-Mu'ammah" (yang umum), yang mengumumkan
pembacanya dengan kebaikan dunia dan akhirat, menanggung segala bala
baik dari kesusahan di dunia mahu pun akhirat. Pembaca juga akan
dilindungi dari setiap keburukan dan kejahatan serta segala hajat dan
kemahuan akan Allah kabulkan. Jika dibaca dalam satu malam semata-mata
mengharapkan keredaan Allah, nescaya Allah akan mengampunkan dosanya.
(Hadis riwayat Malik, Ibnu-Sunni dan Ibnu Hibban).
Surah Yaasin ni juga jika diamalkan, akan terselamatlah kita dari
kehausan di hari KIAMAT.
3. SURAH AT-DHUHAN
Dibaca sekali pada malam Jumaat agar kita terselamat dari huru hara di
Padang Mahsyar.
4. SURAH AL-WAQI'AH
Menurut beberapa hadis Rasulullah s.a.w., mereka yang mengamalkan
membaca Surah Al-Waqi'ah pada tiap-tiap malam, insya'Allah tidak akan
merasai kepapaan.. Mereka yang membacanya sebagai wirid, insya'Allah
akan beroleh kesenangan selama-lamanya. Mereka yang membacanya sebanyak
14 kali setiap lepas solat Asar, insya'Allah akan dikurniakan dengan
rezeki yang banyak.
Selepas solat Isyak, ambillah segelas air lalu bacalah Surah Al-Fatihah
sekali, Ayatul Qursi sekali dan Surah Al-Waqi'ah ayat 35-38 sebanyak 7
kali. Tiup dalam air dan minum. Dalam hati, niat untuk menjaga
kecantikan diri dan kebahagiaan rumahtangga kita. Makna Surah
Al-Waqi'ah Ayat 35-38 ialah : "Sesungguhnya, Kami telah menciptakan
isteri-isteri mereka dengan ciptaan istimewa. Serta Kami jadikan mereka
sentiasa dara (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai
jodohnya serta yang sebaya dengan umurnya.
5. SURAH AL-KHAUTHAR
Sesiapa yang mengamalkan membaca surah ini sebanyak 1,000 kali, maka
Allah s.w.t. akan menghasilkan hajatnya termasuk rezeki dan kenaikan
pangkat. Sesiapa yang membaca 1,000 kali juga selepas solat Isyak
hingga dia tertidur, insya'Allah dia dapat melihat Rasulullah s.a.w.
dalam tidurnya.
6. SURAH AL-KHAAFIRUUN
Sesiapa yang membaca Surah Al-Khaafiruun, maka bandingannya seperti
membaca seperempat Al-Qur'an, disamping terlepas dari syirik, terjauh
dari godaan syaitan dan terlepas dari peristiwa yang mengejutkan
(Riwayat At-Tarmizi).
Sebelum tidur, bacalah surah ini agar kita mati dalam iman serta
membersihkan kotoran dalam diri kita.
7. SURAH AL-MULK
Sebuah lagi Surah dari Al-Qur'an iaitu Surah Al-Mulk mempunyai fadilat
dan faedah yang amat besar bagi sesiapa yang mengamalkan membacanya.
Menurut beberapa hadis Rasulullah s.a.w., mereka yang mengamalkan
membaca akan surah ini, akan mendapat syafaat dan keampunan
dosa-dosanya. Mereka yang membacanya pada setiap malam, insya'Allah,
akan terselamat dari azab kubur.
8. SURAH AL-IKHLAS
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepada isteri kesayangan baginda, Siti
Aisyah, antara mafhumnya :
"Wahai Aisyah isteri ku, sebelum kamu tidur, khatamlah dulu Al-Qur'an."
Siti Aisyah
A Muslim Duty to perform prayer 5 Times a Day.
It's a MUST.. and Sinful for not doing it.
Antara Kepentingan Bersolat :
1. Rukun /Tiang Agama
2. Menghapuskan dosa-dosa
3. Penenang Jiwa
4. Mendapat Keberkatan dan Keredhaan Allah
5. Dihindar dari Malapetaka
6. Terselamat dari Seksa Kubur
7. Mendapat Balasan Syurga
Antara Bencana Meninggalkan Solat :
1. Menghampiri Kekufuran dan Syirik
2. Tidak Mendapat Pembelaan ALLAH
3. Melakukan Dosa Besar
4. Mendapat Nasib Yang Sama Dengan Musuh Allah
5. Mendapat Pelbagai Azab Sebelum dan Sesudah Mati
~ Solat : Rukun Islam ke-2
Pernah mendengar seorang berkata "andai ada kantong ajaibnya Doraemon, kita akan ...." Entah serius atau becanda, tapi ini sungguh mengerikan ! #doraemon #tauhid #aqidah #islam #sunnah #syirik #thaghut #save #child via Instagram ift.tt/1QQ4Aw3
Hanya kepada Allah, Aku meminta jodoh. . . Menikah. Siapa tak bahagia bisa menikah? Menemukan jodoh sesuai dg harapan dan bersedia mengayuh bersama dalam mengarungi samudera kehidupan. Sadar, bila kesendirian itu butuh perjuangan yg sering melelahkan. Alhamdulillah ada teman, pengalaman, kenalan dan channel istrinya menjadi peluang. "Cariin ana istri dong akh.." ... hmm.. Bukan larangan, tapi jangan sampai kita berpasrah diri pada ikhwan yg mempunyai banyak kenalan (ikhwan) di berbagai tempat dg harapan mendapat akhwat yg bisa di rekomendasikan untuknya. "Jodoh mah tenang, toh akh X sering wara-wiri antar kota, nanti tinggal minta bantu cariin" Statement seperti ini sangat berbahaya, khawatir jatuh kepada kesyirikan. Bantuan seorang teman hanyalah sebab dan Allah sajalah yg Maha Pemberi karunia berupa istri yg insya Allah shalihah. Mohon saja kepada Allah serta yakin doa akan terkabul sembari meningkatkan kualitas diri. Allahu a'lam.. Menasehati diri, Bandung, 29 Rabiul Ula 1437 NB. Catatan ini berlaku jika kita tidak pacaran dan berusaha utk menikah melalui tahap2 yg syar'i. Semoga Allah mudahkan #tauhid #syirik #jodoh #faedah #nasehat #renungan #notes #ikhwan #akhwat #obrolan #teman #muhasabah via Instagram ift.tt/1kV6AGb
Alhamdulillah bisa foto Ka'bah dari jarak dekat...
Hampir di semua tempat peribadatan / ziarah / bangunan , tidak diperkenankan untuk diambil gambarnya karena dikhawatirkan orang menjadi syirik (menyembah selain Alloh SWT)
Kedudukan #Tauhid Tidak ada keraguan lagi bahwa tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi di dalam agama. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal. Rasulullah berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” ( HR. Bukhari dan Muslim) 1. Tauhid merupakan dasar dibangunnya segala amalan yang ada di dalam agama ini. 2. Tauhid merupakan perintah pertama kali yang kita temukan di dalam Al Qur’an sebagaimana lawannya (yaitu syirik) yang merupakan larangan paling besar dan pertama kali kita temukan di dalam Al Qur’an 3. Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga penutup para Rasul yaitu Muhammad 4. Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah. Sementara lawannya, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan 5. Tauhid merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam surga dan terlindungi dari neraka Allah, sebagaimana syirik merupakan sebab utama yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan diharamkan dari surga Allah. 6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang dan akan bernilai di hadapan Allah. Diringkas dari tulisan "Tauhid Wahai Para Da'i" karya Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi al-ueyah.blogspot.co.id Artikel lainnya: www.happyislam.com via Instagram ift.tt/1pUoiwH
Tajuk :
Udang Di Sebalik Batu
Hadith :
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:”Sesungguhnya perkara yang paling aku takuti ke atas umatku ialah syirik kepada Allah. Sesungguhnya aku tidak mengatakan bahawa mereka akan menyembah matahari, bulan atau berhala, akan tetapi mereka melakukan amalan kerana selain Allah dan kerana syahwat yang tersembnyi.”
Riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi
Salam jumaat pada semua sahabat semoga kita semua sentiasa berada dalam Rahmat ALLAH S.W.T
:: Pantai Teluk Cempedak, Kuantan ::
Single JPEG
Canon 50D + Tokina 11-16mm f/2.8
Filter : ND 400 + GND 0.9
Date : 8/06/12
Time : 9:42:16 am
Exposure : Manual (M)
Shutter Speed : 3.2s
ISO Sensitivity : 100
Aperture : f9
Focal Length :12mm
Metering Mode : Evaluative Metering
WB : Auto
Al-Alaq
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani
Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk), (1) Dia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; (2) Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah; (3) Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan; (4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (5) Ingatlah! Sesungguhnya jenis manusia tetap melampaui batas (yang sepatutnya atau yang sewajibnya), (6) Dengan sebab dia melihat dirinya sudah cukup apa yang dihajatinya. (7) (Ingatlah) sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali (untuk menerima balasan). (8) Adakah engkau nampak (baiknya) orang yang melarang (dan menghalang); (9) Seorang hamba Allah apabila dia mengerjakan sembahyang? (10) Adakah engkau nampak (buruknya) jika dia berada di atas jalan yang betul? (11) Atau dia menyuruh orang bertakwa (jangan melakukan syirik)? (12) Adakah engkau nampak (terlepasnya dari azab) jika dia mendustakan (apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepadanya) serta dia berpaling ingkar? (13) Tidakkah dia mengetahui bahawa sesungguhnya Allah melihat (segala amal perbuatannya dan membalasnya)? (14) Jangan sekali-kali berlaku derhaka! Demi sesungguhnya jika dia tidak berhenti (dari perbuatannya yang buruk itu), nescaya Kami akan menyentap ubun-ubunnya (dan menyeretnya ke dalam Neraka); (15) Ubun-ubun (orang) yang berdusta, yang bersalah. (16) Kemudian biarlah dia memanggil kumpulannya (untuk menyelamatkannya); (17) Kami pula akan memanggil malaikat Zabaniyah (untuk menyeksanya). (18) Ingatlah! Janganlah engkau (wahai Muhammad) menurut kehendaknya dan (sebaliknya) sujudlah dan dampingkanlah dirimu kepada Allah (dengan taat dan beramal soleh)! / (19)
Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepada Luqman, hikmat kebijaksanaan, Bersyukurlah kepada Allah dan sesiapa yang bersyukur maka faedahnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidaklah menjadi hal kepada Allah), kerana sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa dia memberi nasihat kepadanya: Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau mempersekutukan Allah sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.
Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan).
Dan jika mereka berdua mendesakmu supaya engkau mempersekutukan denganKu sesuatu yang engkau dengan fikiran sihatmu tidak mengetahui sungguh adanya maka janganlah engkau taat kepada mereka dan bergaullah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik dan turutlah jalan orang-orang yang rujuk kembali kepadaKu (dengan tauhid dan amal-amal yang soleh). Kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu semuanya, maka Aku akan menerangkan kepada kamu segala yang kamu telah kerjakan.
Luqman 12-15
Salam Nisfu Sya’ban
“Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nisfu Syaaban, maka Dia ampuni semua hamba-hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuh (orang benci membenci) (Riwayat Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain).
Location:
Setiawangsa, Kuala Lumpur
Me:
As usual, any critiques and comments will be a pleasure for me to improve.
© 2012 HELMI ABDULLAH | www.facebook.com/hydroplasma