View allAll Photos Tagged shalat
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (35:29)
agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (35:30)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Quran) dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (35:29)
agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (35:30)
5 awal, 255 256 257, 3 terakhir al baqarah, wirid harian.
Ka'bah Mecca (Taken before Covid-19)
I have some good and shareable photos of my Saudi Arabia trip (before Covid-19). Initially I was planning to upload a series of Saudi Arabia Trip, including street and landscape/architecture photography. But nowadays I still haven't got much time for Flickr, and I was worried I couldn't complete the series. So I decided to upload and share the best two in my opinion. I just uploaded the first today, and I will upload the second next week/month.
Maybe I will upload the street photography of Saudi Arabia someday, but I don't make a promise :). Covid-19 is still happening everywhere, be safe and be healthy everyone!
Name: Rock
Home World: Kamino
Age: 13
Species: Clone
Class: Trooper
Faction: Galactic empire
------------------------------------------------------------------------------------------
CT- 2119, otherwise known as Rock, served in the clone wars as a member of the 19th star corps under the command of Duro Jedi general Kepple Swenson. Throughout the majority of the conflict, Rock was stationed on the industrial planets of expansion region such as Tantal, Shatal, and Goum. After the planets were freed from CIS control around half way through the war, Rock was permanetly stationed on Shatal as the head of the Shalat refinery, along with master Kepple. During the Outer-rim sieges, Rock was sent to Cato neimoidia, leading a small detachment of the 19th attack battalion alongside him in order to capture the headquarters of the trade federation, while Kepple remained on Shatal. During this time on cato neimoidia, Protocol 66 was put into action by The Supreme Chancellor of the republic, and Rock Executed the Jedi he was stationed with on Neimoidia. Jedi General Kepple was reported missing after the order, and Rock was deployed back to Shatal in order to initiate a planet-wide search for his former General.
------------------------------------------------------------------------------------------
Built for the dark times RPG
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (2:277)
SIAPAKAH ORANG YANG KEKAL DI NERAKA SELAMANYA ?
13 May 2011 at 15:25
dalam Al-Quran, Allah SWT ada menyebut beberapa jenis kejahatan dan dosa yang mengakibatkan pelakunya mendekam selamanya di neraka.
1. Murtad
Salah satunya adalah orang yang murtad atau keluar dari agama Islam. Seperti yang kita baca di ayat berikut ini :
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada mereka, la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak mereka diberi tangguh,(QS. Ali Imran : 86-88 )
2. Kafir dan Menghalangi Orang Dari Jalan Allah
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. An-Nisa : 167-169)
3. Menyesatkan Manusia Dari Agama Allah
Dan hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya : "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki ". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 128)
4. Munafiq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Al-Qur’an telah banyak menerangkan tentang dosa-dosa penyebab orang abadi di neraka, antara lain adalah:
* Kufur dan Syirik
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman tapi kamu kafir” Mereka menjawab: “Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Mu’min : 10-12)
* Tidak Melaksanakan Perintah Agama dan Mendustakan Hari Kiamat
Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian” (QS. Al-Mudatstsir : 42-47)
* Mentaati Para Pemimpin yang Sesat Dalam Prinsip dan Kebijaksanaan yang Menyimpang Dari Agama
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (QS. Fushshilat : 25-28)
Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh seorang Pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab : 64-67)
* Sifat Nifaq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS. An-Nisaa’ : 145)
* Takabur (sombong)
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. (QS. Al-A’raf : 36)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan kriteria orang yang akan masuk neraka selama-lamanya.
Barakallahufiikum
Salam ukhuwahfillah
Pencipta (Fāţir):29 - Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
Pencipta (Fāţir):29 - Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
Kejar 3:
1. Baca alquran
2. Sholat
3. Sedekah
Panen pahala kelak.
Dora was amused by this ancient remote control. She asked for a picture - she got it at last ;)
This is also the second time Dora's pretty hands star here
Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):9 - Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Jamuan (Al-Mā'idah):6 - Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Kudat,Sabah
Single Exposure
Nikon D90 | Tokina 12-24 f4 | Lee Big Stopper + Lee GND0.9
f11 | 235.8s | ISO-200 | 0.00EV
Kelvin WB
© 2014 Tuan Azizi Photography
All rights reserved. Please do not use my photo without my explicit permission
SIAPAKAH ORANG YANG KEKAL DI NERAKA SELAMANYA ?
13 May 2011 at 15:25
dalam Al-Quran, Allah SWT ada menyebut beberapa jenis kejahatan dan dosa yang mengakibatkan pelakunya mendekam selamanya di neraka.
1. Murtad
Salah satunya adalah orang yang murtad atau keluar dari agama Islam. Seperti yang kita baca di ayat berikut ini :
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada mereka, la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak mereka diberi tangguh,(QS. Ali Imran : 86-88 )
2. Kafir dan Menghalangi Orang Dari Jalan Allah
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. An-Nisa : 167-169)
3. Menyesatkan Manusia Dari Agama Allah
Dan hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya : "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki ". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 128)
4. Munafiq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Al-Qur’an telah banyak menerangkan tentang dosa-dosa penyebab orang abadi di neraka, antara lain adalah:
* Kufur dan Syirik
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman tapi kamu kafir” Mereka menjawab: “Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Mu’min : 10-12)
* Tidak Melaksanakan Perintah Agama dan Mendustakan Hari Kiamat
Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian” (QS. Al-Mudatstsir : 42-47)
* Mentaati Para Pemimpin yang Sesat Dalam Prinsip dan Kebijaksanaan yang Menyimpang Dari Agama
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (QS. Fushshilat : 25-28)
Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh seorang Pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab : 64-67)
* Sifat Nifaq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS. An-Nisaa’ : 145)
* Takabur (sombong)
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. (QS. Al-A’raf : 36)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan kriteria orang yang akan masuk neraka selama-lamanya.
Barakallahufiikum
Salam ukhuwahfillah
Maryam:30 - Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
Maryam:31 - dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
Maryam:32 - dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Maryam:33 - Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali
Maryam:34 - Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.
This man was doing his 'wudhu' at Sultan Salahudin Mosque, one of the largest mosques in Southeast Asia, about 16 kilometers outside of Kuala Lumpur, Malaysia.
www.youtube.com/watch?v=ALpzoTbLEWc
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (9:18)
Sapi Betina (Al-Baqarah):83 - Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
"I testify there's no god but Allah, and Muhammad is the messenger of Allah" This is the verses that moslem people read while in sitting position and rising the index finger (like in the picture) when offering praying,
@ Masjid (mosque) Sunan Ampel, Surabaya, East Java.
SIAPAKAH ORANG YANG KEKAL DI NERAKA SELAMANYA ?
13 May 2011 at 15:25
dalam Al-Quran, Allah SWT ada menyebut beberapa jenis kejahatan dan dosa yang mengakibatkan pelakunya mendekam selamanya di neraka.
1. Murtad
Salah satunya adalah orang yang murtad atau keluar dari agama Islam. Seperti yang kita baca di ayat berikut ini :
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada mereka, la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak mereka diberi tangguh,(QS. Ali Imran : 86-88 )
2. Kafir dan Menghalangi Orang Dari Jalan Allah
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. An-Nisa : 167-169)
3. Menyesatkan Manusia Dari Agama Allah
Dan hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya : "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki ". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 128)
4. Munafiq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Al-Qur’an telah banyak menerangkan tentang dosa-dosa penyebab orang abadi di neraka, antara lain adalah:
* Kufur dan Syirik
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman tapi kamu kafir” Mereka menjawab: “Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Mu’min : 10-12)
* Tidak Melaksanakan Perintah Agama dan Mendustakan Hari Kiamat
Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian” (QS. Al-Mudatstsir : 42-47)
* Mentaati Para Pemimpin yang Sesat Dalam Prinsip dan Kebijaksanaan yang Menyimpang Dari Agama
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (QS. Fushshilat : 25-28)
Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh seorang Pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab : 64-67)
* Sifat Nifaq
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela’nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS. An-Nisaa’ : 145)
* Takabur (sombong)
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. (QS. Al-A’raf : 36)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan kriteria orang yang akan masuk neraka selama-lamanya.
Barakallahufiikum
Salam ukhuwahfillah
Danau To'uban,Kelantan
Single Exposure
Nikon D3000 [Goldiepro Version] | AF-S 18-55 f3.5-5.6 |
© 2013 Tuan Azizi Photography
All rights reserved. Please do not use my photo without my explicit permission
Tagged by (( ╣ ЯắЗЎ♦ỄŁ⌐ΰŤç ╠ )) & (( Mr.Dxв LaTiNo ™ )) .. allah ysame7km denyah w a5rah T.T .. yoyoyo 5aliatoo sm3ty fl 7a'9eeeeeeee9
yalla let start ...
1- ma a7eb el sha3r el 6weel wla a7eb a6awel sha3ry .. why because a7eb el sha3r el kesha more also tameen 2 years w ana age9 shary like boys mn waya .. please I'm not boya just a7eb ahtam b sha3ry w styl sha3ry :D
2- F'6oleeeeeeeeeeeyah le ab3ad 7dood in 9aa7 el ta3beer .. w teny 7alat est3ba6 w est'3ba2 wayed when I'm bored elmhm asawe shay 3sb a6red el malal lol
3- ma a7eb el rgaaaaad 7addy mn 4-6 hours bs when I'm sick like these arged more than 8-10 hours T.T
w elle rgadhm thjeeel a7eb ala3wezhm w hm rageeen kekekeke bl may el bared aw el ice elmhm ala3wezhm
4- wayed a7eb el bar more than the sea elle y5awef T.T .. a7ed aser el bar w a6la3 mn el 3ezbah with my phone and ipod w sometime ashel my laptop.. while I'm sitting 3l 3argoob a7eb asm3 ya huboob el koas el em6elly and some shalat w a3eesh el jaw XPpp
5- In love with loon el '3etar I don't know way (A) .. w specially etha kan loon yelfet el an'9aar :Pp
6- AD .. b galby w damy w ro7y w 3mrll klh afdeeeha he w ahlhaa w elle fehaa .. (F)
7- wayed 7asaaaaaaaaaaaaaaaaaaasah T.T < < < 3la atfah el asbab a9ee7 w dmo3y 3l dagh w yenzlen.. really youm 3amii ygool swalefy ayam el childhood a'97ak w a9eee7 in the same time mn el f'9aye7 elle knt asawee
8- hehe wayed a7eb el deyay w el 9e9an w other cute pet el mhm ykoon cute XPp w a7eb ala3wzhm too but when i remember "" ارحموا من في الارض يرحمكم من في السماء " i stop bothering them XPpp
9- Modmenah Yanni classic and romance music and other kinds of music <33333
10 - ana we7dah waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaayed a7eb atheeeeel heheh galo 3ani 6aybah w 7abobay w ... etc bs really astanes wayed youm athel nas w nas hhhhhhhhhhh 3fan allah waaaaaaaayed sheeereeeeraaaaaaaah XPpp
11- wayed i lough 3la el GAYS and their style w behavior hhhhhhh wallah y'9a7koon el wa7ed specailly fe dubai mall and DFC XPppp
I tag
elDla3 Fene~
* Bokeh.Queen ~
Blurry ♥
♥ MîSS~ÇhøçøLåŁé ♥
» ΓαλoЯ м «
♥ƁugsƁunnч [ AWAY ]
Zuz* [ away ]
كلاشي
el6arf_al5agool ♥ © ~
ßiητ Şaiƒ [AD]
Alseen .
Twenty.3 Al Q
Mermaid AD
ProudlyEmarati™
╣ ЯắЗЎ♦ỄŁ⌐ΰŤç ╠ ,, .. hehe again akteb another 10 facts
Mr.Dxв LaTiNo ™ © أحمد الخزرجي.. hehe you too akteb another 10 facts
hhhhhhhhh sh'3l nthaaalh yalla both of you sould write ANOTHER & NEW 10 facts XPpppp
Untuk Kualitas Puasa yang Super, Hormati Orang yang Tidak Puasa.
Demikian isi salah satu spanduk yang terbentang di salah satu sudut jalan pada bulan Ramadhan 1437 H lalu. Spanduk tersebut kemudian menjadi ramai bahkan menjadi viral perbincangan, apalagi di dunia maya.Mereka yang setuju terhadap isi spanduk tersebut berdalih, bahwa orang yang berpuasa itu tidak butuh penghormatan manusia apalagi sampai berharap dirinya untuk dihormati. Jadi, tidak perlu harus ada kata-kata, “Hormatilah orang yang sedang berpuasa.” Bagi mereka justru puasa yang super itu adalah ketika orang yang sedang berpuasa menghormati mereka yang tidak berpuasa. Ini bagi mereka adalah salah satu bentuk toleransi yang harus dijaga.
Sekilas memang terdengar logis, masuk akal. Orang yang berpuasa harus bisa menahan diri saat melihat ada orang yang tidak berpuasa sedang makan atau minum. Dengan menahan hawa nafsu tersebut, kualitas puasanya menjadi lebih baik, atau super menurut istilah yang mereka gunakan.
Namun, bagi seorang Mukmin, ini adalah kemungkaran yang nyata, yang tidak boleh dibiarkan. Kemungkaran tersebut haruslah dicegah. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah kaum yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104).
Seruan toleransi pun mulai disuarakan. Apalagi ditambah dengan peristiwa penggrebekan warung Bu Saeni beberapa waktu lalu di Pasar Rau, Kota Serang, Banten oleh Satpol PP. Peristiwa penggrebekan warung makan Bu Saeni terus diberitakan oleh media hingga menampilkan kesan Saeni yang teraniaya atas tindakan satpol PP tersebut. Hasilnya, imbauan untuk menumbuhkan toleransi terus diserukan banyak tokoh, bahkan termasuk para penguasa di negeri ini. Wapres Jusuf Kalla, misalnya, berkomentar, “Yang tidak puasa menghormati orang puasa. Yang puasa juga tetap hormati yang tidak puasa,” kata Kalla (Kompas.com,12/06/2016).
Bahkan Presiden Jokowi memberikan bantuan uang sebesar sepuluh juta rupiah kepada Bu Saeni.
Toleransi semacam ini adalah toleransi yang keliru dan terbalik. Harusnya, yang tidak berpuasa menghormati mereka yang sedang berpuasa dengan cara tidak makan minum secara terang-terangan di tempat umum. Sebagaimana pada saat berlangsung shalat, mereka yang tidak shalat harus menghormati mereka yang sedang shalat dengan cara tidak membuat suasana berisik sehingga bisa mengganggu kekhusyukan mereka yang sedang shalat.
Makna Toleransi
Toleransi merupakan kata yang berasal dari Barat. Secara bahasa, toleransi berasal dari kata tolerance. Maknanya adalah “to endure without protest” (menahan perasaan tanpa protes).
Kata tolerance kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi toleransi yang berasal dari kata toleran. Kata ini mengandung arti: bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Kata toleransi ini kemudian dijadikan alat oleh musuh-musuh Islam, termasuk kaum Liberal yang ada di Indonesia. Kaum Liberal selalu menjadikan kebebasan sebagai fokus utama mereka, sebagaimana paham liberal yang mereka anut, yakni kebebasan tanpa batas yang menerjang norma-norma agama. Tema sentral yang biasa mereka usung ialah pemisahan agama dari politik, demokrasi, HAM, kesetaraan jender, kebebasan penafsiran teks agama, toleransi beragama, kebebasan berekspresi dan persamaan agama (pluralisme).
Berbeda dengan Islam. Islam mengartikan toleransi dengan istilah “tasâmuh”. Dalam kamus Al-Muhith, Oxford Study Dictionary English-Arabic (2008: 1120) istilah tasâmuh memiliki arti tasâhul (kemudahan). Artinya, Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang ia yakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa ada tekanan dan tidak mengusik ketauhidan.
Maka dari itu, umat Islam seharusnya jeli dalam memahami setiap persoalan yang kemudian membawa membawa-bawa istilah toleransi tersebut. Umat Islam tidak dibenarkan—agar tidak disebut intoleran—bersikap memaklumi dan menghargai sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
Menghambat Penegakan Syariah Islam
Sadar atau tidak, sikap toleransi yang salah tersebut akan menghambat upaya untuk tegaknya syariah Islam di negeri ini. Lihatlah, saat umat Islam menginginkan syariah Islam dijadikan aturan yang mengatur negeri ini, mereka berujar, “Kita harus menghormati agama lain, termasuk menghormati kelompok lain”. Dalih mereka, tidak boleh ada satu ajaran mendominasi ajaran lain; Indonesia adalah negara yang bukan hanya ada Islam, namun juga terdapat pemeluk agama lain. Padahal penerapan syariah Islam merupakan perkara yang diwajibkan atas umat Islam untuk mengatur urusan kehidupan mereka.
Allah SWT memerintahkan setiap Muslim agar dalam menjalankan semua aktivitasnya senantiasa sejalan dengan hukum syariah. Bahkan Allah SWT menafikan keimanan mereka yang tidak terikat dengan syariah yang dibawa oleh Rasulullah saw. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 65).
Penafian keimanan atas mereka yang tidak terikat syariah dipertegas oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ
Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (HR Abu Hatim dalam Shahîh-nya).
Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh melakukan perbuatan atau meman-faatkan apapun di luar ketentuan hukum, yakni harus selalu terikat dengan syariah (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 84).
Kita juga bisa melihat beberapa kejadian yang menjadi penghambat tegaknya syariah Islam atas nama toleransi dalam masalah beragama, semisal:
1. Sejarah Piagam Jakarta.
Pada tanggal 22 Juni 1945, panitia kecil Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengajukan rumusan dasar negara yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta (Djakarta Charter). Panitia kecil tersebut terdiri atas sembilan orang sehingga kerap disebut Panitia Sembilan. Mereka adalah empat orang tokoh Islam, yaitu KH Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakar, Abikoesno Tjokrosoeyoso dan H. Agus Salim; empat tokoh dari kalangan nasionalis sekular yakni Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Achmad Soebardjo, Muhammad Yamin; dan satu perwakilan non-Muslim, yaitu A.A. Maramis.
Para tokoh Islam yang berada dalam panitia kecil tersebut mengusulkan Islam sebagai dasar Negara. Bahkan mereka memperkuat argumentasinya dengan membawa puluhan ribu tanda tangan tokoh Islam, ulama dan pimpinan pondok pesantren seluruh Indonesia yang menginginkan negara yang akan diproklamasikan berdasarkan Islam. Usulan tersebut ditolak oleh perwakilan dari tokoh-tokoh sekular dan non-Muslim. Namun, setelah melalui perdebatan panjang, Panitia Sembilan akhirnya sepakat dan merekomondasikan rumusan dasar negara yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta (Djakarta Charter) yakni: “…maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasar pada: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Namun, sehari setelah proklamasi kemerdekaan diproklamirkan, 7 kata tersebut kemudian dihapuskan.
Pencopotan syariah Islam bermula pada 17 Agustus sore. Seorang opsir Kaigun (Angkatan laut) bersama seorang juru bahasa, Nishijima, mendatangi Hatta di kediamannya.Opsir yang tidak disebutkan namanya itu keberatan dengan “syariat Islam”.
Dia beralasan, jika tetap mencantumkan kata “syariat Islam” golongan Protestan dan Katolik lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.
Karena itu pada 18 Agustus pagi, sebelum sidang Panitai Persiapan Kemerdekaan Indonesia dimulai, Hatta melakukan rapat pendahuluan dengan Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasjim, Mr. Kasman Singodeimejo dan Mr. Teuku Hasan. Dalam buku Memoir Mohammad Hatta (Tintamas: 1982, hlm. 458-459), Hatta mengatakan, “Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan menggantinya dengan Ketuhanan yang Maha Esa.”
Akhirnya, dalam hitungan kurang dari 15 menit, seperti diceritakan Hatta dalam bukunya, Sekitar Proklamasi, tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapuskan. Sikap toleransi yang dilakukan oleh Moch. Hatta tersebut mengakibatkan 7 kata di dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut hilang.
2. Perda-Perda Syariah.
UU No. 12 Tahun 2011 menentukan bahwa pemerintah daerah dapat membuat peraturan daerah. Karena itu sejumlah pemerintah daerah berlomba-lomba untuk merumuskan perda sesuai dengan keunikan dan kekhasan daerahnya masing-masing, termasuk keunikan beragamanya. Salah satu contoh peraturan daerah yang dibentuk berdasarkan ciri atau kekhasan tertentu adalah perda syariah.
Lebih 25 provinsi/kota/kabupaten telah melahirkan berbagai aturan baik dalam bentuk peraturan daerah atau instruksi kepala daerah yang dinilai sementara kalangan sebagai perda berbau syariah atau perda syariah.
Beberapa kali perda-perda itu digugat khususnya di lembaga parlemen. Kalangan Kristen dan Liberal yang paling getol mempermasalahkan. Pembentukan dan pemberlakuan perda itu dinilai inkonstitusional serta intoleran karena bertentangan dengan konstitusi dan Pancasila, meresahkan masyarakat, tidak sesuai dengan prinsip kebhinekaan dan mengancam NKRI; ditambah dengan alasan mengancam hak-hak kebebasan masyarakat sipil, hak-hak perempuan dan non-Muslim.
Pasca pemberitaan terkait dengan penggrebekan warung makan Bu Saeni yang menyita perhatian publik, muncul kabar Jokowi menghapus 3.143 Perda. Penghapusan Perda dan Peraturan Kepala Daerah itu diumumkan langsung Presiden Joko Widodo di Istana Presiden Senin (13/6) petang. “Sekali lagi saya tegaskan bahwa pembatalan ini untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar, yang toleran dan yang memiliki daya saing,” tegas Jokowi saat menutup pernyataannya seusai membacakan jenis-jenis perda yang dibatalkan tersebut.
Secara tersirat maksud dari kalimat perda yang bertentangan dengan perundangan-undangan yang lebih tinggi, sepertinya mengarah pada perda-perda syariah atau yang berbau syariah. Itu dapat dilihat dari alasan penghapusan perda-perda tersebut, yakni salah satunya adalah agar Indonesia menjadi bangsa yang besar dan toleran. Faktanya, para penolak perda syariah selalu berdalih bahwa perda syariah itu tidak toleran.
3. UU Perkawinan.
Undang-Undang Perkawinan no. 1 Tahun 1974 (UU-P no. 1/1974) tak pernah sepi dari kritik. Kelompok Liberal aktif menuntut revisi UU-P. Tim PUG Depag pada tahun 2004 pernah mengeluarkan CLD-KHI (Counter Legal Draft – Kompilasi Hukum Islam). Sebagai contoh masalah poligami (ta’addud al-zawjât), menurut draft yang terdapat di dalam CLD-KHI, adalah tidak diizinkan sama sekali, haram li ghayrihi (Pasal 3). Menurut CLD-KHI pula, pernikahan beda agama diizinkan asalkan bertujuan untuk mencapai tujuan perkawinan. Ini tentu pemahaman yang keliru dan menyimpang dari agama Islam. Dengan semangat liberalisme dan toleransi, mereka mengajukan draft ini kepada MK walaupun akhirnya usaha mereka tersebut gagal.
4. RUU Halal.
Setelah melalui jalan yang panjang dan berliku, akhirnya RUU Jaminan Produk Halal disahkan menjadi undang-undang pada rapat paripurna DPR RI hari Kamis, 25 September 2014 di Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta (25/9). Rapat Paripurna yang dipimpin oleh Priyo Budi Santoso secara aklamasi menyetujui RUU JPH menjadi Undang-Undang.
Namun, kalau kita melihat proses RUU tersebut, upaya penolakan dari sebagian kalangan sangatlah terasa. Mereka beralasan, Negara Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tiap etnik mempunyai kekayaan dengan beragam budaya, seni, ritual tradisi, adat, cara berpakaian, berbagai jenis produk minuman dan makanan kuliner yang berkembang selama berabad-abad, yang menunjukkan kemajemukan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, RUU Halal akan mengotak-ngotakkan masyarakat, bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Standar Ganda Toleransi
Kalau disepakati bahwa makna dari toleransi adalah menahan perasaan tanpa protes, maka tampak jelas bahwa kalangan Liberal tidak konsisten dengan konsep mereka sendiri untuk ‘tidak protes’ terhadap pendapat yang berbeda dari pemikiran/konsep yang mereka bawa. Kaum Muslim dipaksa tunduk pada argumentasi mereka kendati itu menyalahi konsep mereka sendiri.
Contoh bagaimana kehidupan Umat Islam di Bali saat Hari Raya Nyepi. Kaum Muslim harus mematikan lampu dan tidak boleh melaksanakan aktivitasnya dengan bebas pada hari itu. Bahkan belakangan, Raja Bali meminta kaum Muslim tidak menyembelih sapi karena binatang tersebut dianggap sebagai dewa. Terhadap kondisi ini, tidak ada kelompok Liberal yang protes. Sebaliknya, ketika kaum Muslim mengumandangkan azan melalui pengeras suara, mereka protes. Padahal suara keras itu ada di wilayah yang mayoritas Muslim. Kaum Muslim diminta menghormati non-Muslim dengan mengecilkan suara panggilan orang shalat tersebut.
Kita juga masih ingat bagaimana umat Islam di Tolikara dilarang melaksanakan shalat Id, juga dilarang membangun masjid. Padahal umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Namun, dalam masalah toleransi seolah digiring agar yang mayoritas mengalah kepada minoritas. Padahal yang minoritas harusnya sadar diri. Lihatlah juga bagaimana umat Islam yang mayoritas tersebut harus mengalah kepada kalangan yang tidak setuju terkait 7 kata di dalam Piagam Jakarta sehingga kemudian dihapuskan.
Oleh karena itu, toleransi adalah salah satu alat yang selalu dijadikan kafir Barat, kalangan liberal sekular, untuk menghalangi umat Islam hidup diatur dengan syariah Islam, karena itu berarti mengubur peradaban Barat yang sedang mereka bangun. Mereka hanya toleran terhadap kaum Muslim yang mau hidup dengan peradaban Barat, yakni melepaskan syariah Islam dari kehidupan.
WalLâhu ‘alam. [Adi Victoria; Humas HTI Kaltim/ABAD KHILAFAH Network]
via Abad Khilafah | Mengembalikan Kegemilangan Islam ift.tt/2bavjlp
Bella Shofie Photoshoot Bella Shofie - air mata bella shofie 'terancam nyawa oleh haters' - intens 16 september 2015. Bella shofie mungkin dia lelah live, bella shofie film, bella shofie nyanyi, bella shofie adjie pangestu, bella shofie berantem, bella shofie batak, Foto Hot Bella Shofie Pakai Rok Transparan Kelihatan isi Dalemannya di Televisi Bella Shofie Photoshoot · Konferensi Pers Peresmian TataLiem Record · Bella Shofie di Peresmian TataLiem Record · Bella Shofie Photoshoot Sindiran Cynthiara, Bella Shofie Ada Ada Aja 15 September 201 Terpopuler Video Lucu Terbaru Dubsmash LUNA MAYA JULIA PEREZ BELLA SHOFIE Dubsmash Artis Indonesia 1 Kaftan Bella Shofie vs Syahrini Late Night Show "SPESIAL EPISODE 200" Nikita Mirzani,Baby Margaretha,Shinta Bachir,Bella Shofie Late Night Show 11 Juni 2015 Adegan Panas Bella Shofie Di FIlm Terbarunya bella shofie bella shofie mungkin dia lelah bella shofie hot bella shofie hot film Nepali Videos · Comedy Videos · Documentry · Short Movies · Articles · Home \ Tag "February 26 (Day Of Year)" Tags : video,AlDub,September 16 (Day Of Year),2nd,monthsary,Eat Bulaga akur dengan istri pertama, bella shofie shalat ied bersama. •ƒµll• ada ada aja - bella shofie. Bella Shofie Bella Shofie Mungkin Dia Lelah Video Bella Shofie Batak Pernikahan Bella Shofie Bella Sofie Bella Sophie Bella Shofie Hot Bella Shofie Hot Download Video Berita 13 Juni 2015 VIDEO Bella Shofie Pakai Rok Transparan, Sensasi Pamer Isi Dalaman Bella Shofie Photoshoot · Jumpa Pers Film 'Jomblo Keep Smile' · Bella Shofie Photoshoot · Bella Shofie di Peresmian TataLiem Record YouTube analysis and stats of Heboooohh Syahrini VS bella shofie Ada Ada Aja 15 April 2015 7wj49 3zRuU Terbaru 2015 given by Vidooly Download lagu mp3 video lucu terbaru dubsmash luna maya julia perez bella shofie dubsmash artis indonesia 1 sekarang juga Bella Shofie vs Syahrini - Serbabahenol bella shofie, bella shofie hot film, bella shofie toket gede, bella shofie photoshoot, bella shofie popular, Результаты поиска видео - February 26 (Day Of Year) на сайте VideoVortex roro dan bella shofie pamer kekayaan - silet 26 februari 2015. Berita 13 Juni 2015 Bella Shofie Pakai Rok Transparan, Tak Sengaja Pamer Dalaman Bella Shofie Photoshoot · Bella Shofie Usai Mengisi Program 'Rumpi' Trans TV · Bella Shofie di Jumpa Pers Film 'Jomblo Keep Smile' Download - Syahrini VS Bella Shofie Ada Ada Aja 15 April 2015 - for MP3, Lyrics , Albums & video Bella Shofie VS Syahrini dengan outfit musim dingin yang cetar membahana badai bella shofie mungkin dia lelah, bella shofie hot film, Subscribe For More 7 Spot: www.youtube.com/channel/UC53iKioZgQUM3OV3flZP45A youtu.be/1UD1abAiQQU
Sujud is part of Shalat/Namaz/Prayer in Islam. In Sujud, moslem says "Subhana rabbiyal a'la wa bihamdih", which means "Glory be to my Great Sustainer, most high, and I praise Him"
@ Masjid (mosque) Nabawi, Madinah, Saudi Arabia.
sudah lama aq pingin foto org shalat id...tp kl begitu ya ga ikut sholat ya.....jd terpaksalah ga shalat id di mesjid deket rumah....tp di lapangan deket istana...pinginya supaya ga ada yg kenal ........
e..e...e...e..........ternyata banyak juga kawan kantor shalat di lapangan juga...heboh minta foto pula....yo wis...duh...duh...ketahuan deh!
Pro-kontra Pemimpin Kafir menghebat sejak Ahok yang kafir mencalonkan diri kembali sebagai calon Gubernur DKI pada Pilkada serentak tahun depan (15/02/2017). Pro-kontra ini makin tajam setelah akhir September 2016 lalu di Kepulauan Seribu Ahok melakukan penistaan al-Quran dengan kalimatnya yang terkenal, “Jangan mau dibohongi pakai al-Maidah 51.” Namun sebenarnya, pro-kontra tersebut hanya ada pada ranah realitas empirik, yaitu pro-kontra yang muncul di media, khususnya di media sosial. Adapun pada ranah normatif, yaitu dalam kajian fikih Islam, sebenarnya tidak ada pro-kontra. Para ulama telah bersepakat bahwa orang kafir haram menjadi pemimpin bagi umat Islam. Ibnu Hazm menegaskan, “Para ulama sepakat bahwa kepemimpinan umat Islam (al-Imâmah) tidak boleh bagi perempuan, orang kafir dan anak kecil.” (Ibnu Hazm, Marâtib al-Ijmâ’, hlm. 208).
Ada Gubernur Kafir Pada Masa Khilafah?
Ada yang berargumen bahwa pemimpin kafir boleh karena pada masa Khilafah ‘Abbasiyah konon Khalifah al-Mutadhid Billah (berkuasa 279-290 H/892-902 M) pernah mengangkat seorang wali (kepala daerah) bernama Umar bin Yusuf yang beragama Kristen di daerah Anbar di Irak.
Argumen ini tertolak dengan dua alasan.
Pertama: Pengangkatan pemimpin kafir yang dilakukan Khalifah al-Mutadhid Billah itu jelas penyimpangan syariah (mukhâlafat syar’iyyah). Pasalnya, sebagaimana telah dikutip sebelumnya, ulama telah sepakat orang kafir haram menjadi pemimpin bagi umat Islam (Ibnu Hazm, Marâtibul Ijmâ’, hlm. 208). Maka dari itu, penyimpangan syariah tersebut harus dianggap sebagai kesalahan yang tak boleh diulangi lagi pada masa datang, bukan malah dianggap standar ideal yang dapat dijadikan teladan atau model untuk kondisi sekarang.
Kedua: Fakta sejarah tersebut tidak dapat menjadi dalil syariah atas kebolehan pemimpin kafir menurut ajaran Islam. Pasalnya, fakta sejarah bukan dalil syariah dalam Islam. Fakta sejarah justru merupakan objek yang perlu dinilai menurut dalil syariah (al-Quran dan as-Sunnah). Faktanya, fakta sejarah kadang sesuai dengan Islam dan kadang menyimpang dari Islam. Tidak setiap peristiwa sejarah itu pasti sesuai dengan Islam.
Fathi Osman dalam “The History of Islam: New Directions” menegaskan jika seorang Muslim mengkaji sejarah Islam (islamic history), dia harus berkomitmen dengan Islam dan melakukan penilaian (assesment) terhadap fakta sejarah berdasarkan standar ajaran Islam. Mengapa? Menurut Fathi Osman, “since not everything which happened in the past or happens at present day on the Islamic scene can really be considered Islamic (karena tidak setiap peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu atau yang sedang terjadi saat ini yang terkait dengan Islam dapat benar-benar dianggap Islami)”. (Nur A. Fadhil Lubis [Ed], Introductory Reading on Islamic Studies, Medan: IAIN Press, 1998, hlm 99).
Imam al-Mawardi Membolehkan Pemimpin Kafir?
Ada yang berargumen bahwa Imam al-Mawardi membolehkan seorang wazîr tanfîdz dijabat oleh seorang kafir dzimmi (warga negara kafir).
Argumen ini tidak dapat diterima berdasarkan tiga alas an. Pertama: Memang benar Imam Mawardi membolehkan kafir dzimmi menjabat wazîr tanfîdz (Al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 27). Namun, ini tidak berarti mengangkat pemimpin kafir hukumnya boleh. Alasannya, karena wazîr tanfîdz tidak mempunyai kewenangan dalam urusan pemerintahan (al-hukm). Wazîr tanfîdz hanyalah pembantu Imam (Khalifah) dalam urusan administrasi (idâri) saja, misalnya korespondensi antara Imam (Khalifah) dan para gubernur (wâli). Yang mempunyai kewenangan dalam urusan pemerintahan adalah wazîr tafwîdh, bukan wazîr tanfîdz (Al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 30-39).
Kedua: Pendapat Imam al-Mawardi yang membolehkan kafir dzimmi menjadi wazîr tanfîdz telah mendapat bantahan dari ulama lain, seperti Imam Abu Ya’laal-Farra‘ (dalam kitabnya Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah hlm. 32) dan Imam al-Haramain al-Juwaini asy-Syafii (dalam kitabnya Ghiyâts al-Umam hlm. 114). Ulama kontemporer yang juga membantah pendapat Imam Mawardi adalah Imam Taqiyuddin an-Nabhani (w. 1977) dalam kitabnya Muqaddimah ad-Dustur(I/187). Ketiga mujtahid tersebut sama-sama berpendapat bahwa wazîr tanfîdz tidak boleh dijabat oleh orang kafir. Alasannya, wazîr tanfîdz adalah bithânah (orang dekat/kepercayaan) bagi Imam/Khalifah. Karena itu wazîr tanfîdz harus dijabat seorang Muslim, haram dijabat orang kafir. Dalilnya adalah QS Ali ‘Imran ayat 118, yang melarang mengambil bithânah (orang dekat/kepercayaan) dari kalangan orang kafir. Inilah pendapat yang lebih râjih (kuat).
Ketiga: Tidak pada tempatnya memboleh-kan pemimpin kafir sebagai kepala daerah dengan menggunakan pendapat Imam al-Mawardi yang membolehkan kafir dzimmi menjadi wazîr tanfîdz. Mengapa? Sebab, persoalan kepala daerah telah dibahas oleh Imam al-Mawardi dalam bab khusus (Bab III) tentang pengangkatan kepala daerah (fî taqlîd al-imârah ‘ala al-bilâd). Jadi kalau berbicara tentang kepala daerah, seharusnya yang dirujuk adalah bab tentang pengangkatan kepala daerah ini, bukan bab tentang pengangkatan para wazîr (Bab II). Ini namanya argumentasi salah bab (Lihat:al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 30-39 [Bab II] dan 40-46 [Bab III]).
Ibnu Taimiyah Membolehkan Pemimpin Kafir Asal Adil?
Ada pula yang berargumen bahwa Ibnu Taimiyah membolehkan pemimpin kafir boleh asalkan adil.
Argumen ini tidak benar. Yang benar, Ibnu Taimiyah sekadar mengutip ungkapan orang lain, bukan menegaskan pendapatnya sendiri. Artinya, beliau sekadar menekankan betapa pentingnya keadilan dengan ungkapan hiperbolik (mubâlaghah), dan bukan sedang menyatakan pendapat fikihnya.
Memang Ibnu Taimiyah pernah berkata dalam kitabnya, Majmû’ al-Fatâwâ, “Sungguh manusia tidak berselisih bahwa akibat kezaliman adalah kehinaan dan akibat keadilan adalah kemuliaan. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meski itu negara kafir, dan tak akan menolong negara yang zalim meski itu negara Mukmin. ”(Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, XXVIII/63).
Dari ungkapan otentik itu, secara jelas Ibnu Taimiyah telah mengutip ungkapan pihak lain, bukan menegaskan pendapatnya sendiri. Ini tampak dari perkataannya yang menggunakan kalimat pasif (majhûl), yaitu wa li-hâdza yurwa (oleh karena itu diriwayatkan). Jadi bohong jika ada klaim Ibnu Taimiyah berpendapat pemimpin kafir (atau negara kafir) boleh asalkan adil.
Ungkapan Ibnu Taimiyah tersebut dalam bahasa Arab dapat dianggap mubâlaghah, yaitu ungkapan hiperbolik(melebih-lebihkan) untuk menekankan betapa pentingnya keadilan. Ungkapanini makna harfiahnya boleh jadi tidak ada faktanya atau bertentangan dengan syariah. Ini sama dengan perintah Rasulullah saw. agar kita mendengar dan menaati pemimpin meskipun dia adalah “budak Habasyah yang rambutnya seperti kismis. ” (HR al-Bukhari no. 6273). Kata Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, yang dimaksud “budak Habasyah” adalah “bekas budak Habasyah” sebagai ungkapan mubâlaghah karena ulama telah sepakat budak haram menjadi pemimpin. (Ibnu Hajar Al Asqalani, Fath al-Bâri, XIII/hlm. 132).
Apalagi Ibnu Taimiyah dengan tegas menyatakan bahwa tujuan kekuasaan adalah untuk menerapkan syariah Islam dan mengatur kehidupan dunia dengan syariah Islam (Ibnu Taimiyah, As-Siyâsah asy-Syar’iyyah, hlm. 13). Bagaimana mungkin tujuan kekuasaan tersebut dapat terwujud jika pemimpin umat adalah orang kafir?
Ini Bukan Negara Khilafah, Tapi Negara Pancasila (NKRI)?
Ada pula yang berargumen bahwa pemimpin kafir bolehkarena kita sekarang berada dalam negara Pancasila alias NKRI, bukan Khilafah. Dikatakan, dalam NKRI baik Muslim maupun kafir sama-sama berhak menjadi pemimpin.
Argumen ini menyesatkan karena tidak menggunakan Islam sebagai landasan untuk menyikapi boleh-tidaknya kafir menjadi pemimpin. Seharusnya seorang Muslim menggunakan landasan Islam berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, bukan yang lain. Jika menggunakan landasan Islam, sebenarnya sangat jelas bahwa keharaman pemimpin kafir berlaku umum di mana saja, baik di negara Khilafah maupun bukan Khilafah. Apa yang halal dalam negara Khilafah adalah tetap halal di luar negara Khilafah. Sebaliknya, apa yang haram di negara Khilafah adalah tetap haram di luar negara Khilafah. Imam Syafii dalam Al-Umm menulis:
أَنَّ الْحَلاَلَ فِي دَارِ اْلإِسْلاِمِ حَلاَلٌ فِي بِلاَدِ الْكُفْرِ وَالْحَرَامَ فِيْ بِلاَدِ اْلإِسْلاَمِ حَرَامٌ فِي بِلاَدِ الْكُفْرِ
Sungguhapa saja yang halal di Dâr al-Islâm (Khilafah) tetap halal di negeri-negeri kufur. Apa saja yang haram di negeri-negeri Islam tetap haram di negeri-negeri kufur. (Imam Syafii, Al-Umm. Al-Mansurah: Darul Wafa‘, 2001, XIX/hlm. 237).
Imam asy-Syaukani juga mengatakan:
فَإِنَّ أَحْكَامَ الشَّرْعِ لاَزِمَةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ فِي أَيِّ مَكَانٍ وَجَدُوْا، وَ دَارُ الْحَرْبِ لَيْسَتْ بِنَاسِخَةٍ لِلأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ أَوْ لِبَعْضِهَا
Sungguh hukum-hukum syariah adalah suatu keharusan bagi kaum Muslim di manapun mereka berada Dâr al-Harb (negara kafir)bukanlah penghapus (nâsikh) hukum-hukum syariah atau sebagiannya (Asy-Syaukani, As-Sayl al-Jarrâr. Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004). Makna Awliyâ Bukan Pemimpin, Tapi Teman Dekat? Ada yang berpendapat bahwa kata awliyâ‘ dalam QS al-Maidah ayat 51 artinya adalah teman dekat, bukan pemimpin. Jadi, katanya, mengangkat pemimpin kafir tidak haram; yang dilarang adalah mengangkat orang kafir sebagai teman dekat.
Jawaban untuk argumen ini ada dua: Pertama: Memang benar secara umum kata awliyâ’ di dalam al-Quran dapat ditafsirkan sebagai khashah (orang khusus) atau bithânah (teman dekat). (Lihat: tafsir kata awliya‘ pada QS an-Nisa’ [4]: 144 dalamTafsir Ibnu Katsir, I/867; Tafsir al-Qurthubi, V/425). Namun, membatasi makna awliyâ hanya pada makna khashah (orang khusus) atau bithânah (teman dekat) adalah pembatasan atau pengkhususan tanpa didasarkan pada dalil (takhshîsh bilâ mukhashshis). Sebab, berdasarkan mafhûm muwâfaqah (penarikan makna implisit yang lebih besar cakupannya daripada makna eksplisit), kata awliya‘ dapat juga diartikan sebagai pemimpin (penguasa). Artinya, jika mengangkat orang kafir sebagai teman dekat saja sudah haram, apalagi mengangkat dia sebagai penguasa atas kaum Muslim. Syeikh Ihab Kamal Ahmad mengomentari tafsir kata awliyâ‘ dalam QS an-Nisaayat 144, “Jika berkawan dengan mereka (kafir), membuka rahasia-rahasia kaum Mukmin kepada mereka, juga menjadikan mereka sebagai teman khusus sudah termasuk dalam bentuk memberikan loyalitas (berwali) yang dilarang oleh ayat ini, maka tidak diragukan lagi bahwa menyerahkan urusan kaum Muslim kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai penguasa atas kaum Muslim adalah juga termasuk bentuk berwali yang paling jelas kepada mereka dan lebih berat keharamannya. ” (Ihab Kamal Ahmad, Ar-Radd al-Mubîn ‘ala Man Ajaza Wilâyah al-Kafir ‘alâal-Muslimîn, hlm. 3).
Kedua: QS al-Maidah ayat 51 bukanlah dalil satu-satunya yang mengharamkan pemimpin kafir. Jadi, andaikata tafsir awliyâ‘ dalam QS al-Maidah ayat 51 dipastikan hanya satu makna (padahal tidak), yaitu teman dekat, bukan berarti mengangkat pemimpin kafir lantas hukumnya boleh. Pasalnya, keharaman pemimpin kafir juga ditunjukkan oleh banyak ayat lainnya Misalnya QS an-Nisa‘ [4] ayat 59 saat Allah SWT memerintahkan kita menaati penguasa dari kalangan kaum Muslim (ulil amri minkum). Kata “minkum” dalam ayat ini menjadi dalil bahwa penguasa kaum Muslim wajib dari kalangan kaum Muslim, tidak boleh dari kalangan kafir. Ayat lain misalnya QS an-Nisa‘[4]ayat 141 saat Allah SWT menegaskan tidak akan memberikan jalan bagi kaum kafir untuk menguasai kaum Muslim. Ayat ini juga dapat menjadi dalil yang mengharamkan mengangkat pemimpin kafir. Alasannya, karena pengangkatan orang kafir sebagai pemimpin akan menjadi jalan bagi kaum kafir untuk menguasai urusan kaum Muslim.
Awliyâ‘Bentuk Jamak (Kepemimpinan Kolektif), Jika Tunggal Tidak Mengapa?
Ada yang berargumen bahwa yang dilarang dalam QS al-Maidah ayat 51 adalah mengangkat kepemimpinan kolektif yang terdiri dari orang-orang kafir semuanya. Alasannya karena kata awliyâ‘ adalah bentuk jamak, dari kata tunggal waliy. Implikasinya kalau pemimpin yang diangkat satu orang kafir saja, tidak apa-apa.
Argumen di atas jelas keliru. Kata awliyâ‘ dalam ayat itu memang harus berbentuk jamak agar sesuai dengan lafal kaum Yahudi dan Nashrani (al-Yahud wa an-Nashara) yang juga berbentuk jamak. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ‘, hlm. 370 dan 397). Namun, ini tak berarti mengangkat satu orang pemimpin kafir boleh. Pasalnya, mengangkat pemimpin kafir baik satu orang (individu) maupun banyak orang (kepemimpinan kolektif) sama-sama haram, tanpa ada perbedaan, berdasarkan kemutlakan dan keumuman nas.
Ini seperti larangan umum/mutlak kepada kaum Mukmin untuk shalat dalam keadaan mabuk sebagaimana dalam QS an-Nisa‘ ayat 43 (yang artinya), ”Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian (antum, bentuk jamak) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk (wa antum sukara). ”Apakah dari ayat ini lalu bisa disimpulkan, yang dilarang shalat hanyalah sekumpulan orang mabuk secara kolektif, sedang kalau yang mabuk seorang saja berarti dia boleh shalat? Tetap tidak boleh bukan? Demikian pula larangan mengangkat orang kafir, baik yang diangkat sekumpulan orang kafir maupun hanya satu individu kafir, hukumnya sama-sama haram.
Ayat Larangan Pemimpin Kafir Hanya dalam Kondisi Perang?
Ada yang berargumen bahwa larangan mengangkat pemimpin kafir dalam QS al-Maidah 51 hanya terjadi dalam kondisi perang. Pasalnya, konteks turunnya ayat tersebut adalah ketika terjadinya perang antara kaum Muslim melawan Yahudi Bani Qainuqa’. Jadi, katanya ayat itu tidak dapat diterapkan dalam kondisi damai seperti saat ini.
Argumen ini membatasi makna tanpa dalil (takhshîsh bilâ mukhashshis). Yang benar, ayat QS di atas, meski sabab an-nuzûldalam kondisi perang, keumuman ayatnya membolehkan penerapannya dalam kondisi apa saja, baik kondisi perang maupun kondisi damai. Kaidah ushul menyebutkan, ”Al-‘Ibrah bi ‘umûm al-lafzhi lâ bi khushush as-sabab (Yang menjadi patokan adalah keumuman lafal, bukan kekhususan sebabnya). (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, III/240). WalLâhu a’lam. (KH. M. Shiddiq Al-Jawi/abadkhilafah.com)
via Abad Khilafah | Mengembalikan Kegemilangan Islam ift.tt/2irTJMc
WAKTU DZIKIR PAGI-SORE . . Apakah dzikir-dzikir yang datang dalam hadits yaitu dzikir pagi dan sore dikerjakan sebelum shalat atau setelahnya ? Samahatusy Syaikh Bin Baaz rahimahullah menjawab : Perkara ini bebas, yakni sebelum atau setelah shalat.Jika dijalankan sebelum tenggelamnya matahari di waktu ashar bagus. Ataupun dijalankan setelah tenggelam matahari juga bukan masalah. Allah berfirman : . فسبحان الله حين تمسون و حين تصبحون . "Maka bertasbihlah kepada Allah tatkala kalian berada di waktu sore dan tatkala kamu di waktu pagi." (QS Ar-Ruum 17) Allah berfirman : . سبح بحمد ربك قبل طلوع الشمس و قبل الغروب . "Bertasbihlah dengan memuji Rabmu sebelum terbitnya matahari dan sebelum tenggelamnya" (QS Qoof 39) Maksudnya bahwa tasbih dan tahlil serta seluruh dzikir-dzikir yang di syari'atkan adalah di akhir siang dan di awal malam.Ini berkenaan dzikir sore. Dan berkenaan dzikir pagi ,itu (dilakukan) di awal siang sebelum shubuh atau setelah shalat shubuh atau setelah terbit matahari. Semuanya bebas alhamdulillah. Sumber tanya jawab : situs Syaikh bin baz rahimahullah ift.tt/1SlVU1V Alih bahasa : Al Ustadz Abu Usamah Irfan - hafidzahullah ⛅️☁️ F.S.S ☁️⛅️ * Arsip Agustus 2015 Diarsipkan oleh www.happyislam.com Gambar dari ift.tt/1OuJQoY #doa #dzikir #sore #pagi #fatwa #islam #islamic #sunnah #salaf #akutidaktakut #salafy via Instagram ift.tt/1SlVU1W
NASEHAT PENTING DARI SEORANG 'ALIM Berkata fadhilatusy Syaikh Al 'allamah Muqbil al-Wâdi'i rahimahullah : "Aku nasihati seluruh saudaraku di jalan Allah, hendaklah mereka tidak bermalas malasan... Subhânallâh !Orang orang komunis memaksakan ideologi mereka kepada orang lain dengan meriam dan peluru, demikian pula Amerika dan orang-orang Nashrani.Kaum Syiah Rafidhah pun turut memaksakan khurafat mereka dengan meriam dan peluru.Sementara Anda wahai muslim, hanya duduk bersembunyi di pojok rumah dan meninggalkan kaum muslimin bertindak serampangan tanpa petunjuk !!! ️Tidakkah Anda tahu, ada diantara kaum muslimin yang belum bisa membaca surat al-Fatihah dengan baik ?! ️Tidakkah Anda tahu, ada diantara kaum muslimin yg tidak bisa membedakan antara seorang ulama dengan tukang ramal ?! Tidakkah Anda tahu, ada seorang muslim yang tidak mampu membedakan antara muslim dan komunis ?! Mereka sangat membutuhkan da'i yang mau mengabdikan dirinya hanya untuk Allah , "Dan siapakah orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang mengajak ke jalan Allah dan beramal shalih kemudian mengatakan sesungguhnya aku termasuk kaum muslimin" (QS Fushshilat : 33) Siapa yang mengatakan kepada anda bahwa anda tidak bisa berdakwah kecuali di bawah panji fulan atau fulan ?! Ajaklah manusia kepada kitabullah ,ambillah dari (Shahih Bukhari )dan (Shahih Muslim)! Dan Ajarkan mereka : bagaimana cara berwudhu, bagaimana mereka beribadah kepada Allah, bagaimana mereka shalat, bagaimana mereka berdoa, bagaimana mereka menghadapi kaum komunis dan Ba'tsi (apakah) anda akan membiarkan anak– anak kaum muslimin belajar di sekolah-sekolah yang para pengajarnya adalah orang orang fasik?! Tentunya tidak. Dakwah ini selayaknya masuk ke jajaran pemerintahan, bahkan juga sepatutnya masuk ke semua tempat. Kaum muslimin itu hendaknya saling mendukung dan menghormati saudara mereka , Jika berkunjung maka mereka menyembelihkan binatang (sebagai hidangan) dan memuliakan mereka dengan benar-benar. Bersambung... via Instagram ift.tt/21HOk7p
norkandirblog.wordpress.com/2016/09/02/keutamaan-al-quran...
(Dinukil dan diedit oleh Abu Zur’ah dari Program Al-Qur’an)
Al-Qur`an adalah firman Allah. Muncul dari zat-Nya dalam bentuk perkataan yang tidak dapat digambarkan. Diturunkan kepada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu. Orang-orang Mu’min mengimaninya dengan keimanan yang sebenar-benarnya. Mereka beriman tanpa keraguan, bahwa Al-Qur`an adalah firman Allah dengan sebenarnya, bukan ciptaan-Nya seperti layaknya perkataan makhluk, barang siapa menganggap sebagai perkataan manusia, maka ia telah kafir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sifat kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur`an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat [41): 41-42)
Di dalam ayat yang lain Allah juga mensifatinya dengan firman-Nya:
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
“(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (QS. Hûd [11): 1)
Sungguh ayat-ayat Al-Qur`an ini sangat cermat dan teliti, jelas dan terperinci, yang telah ditetapkan oleh yang Maha Bijaksana, dan yang telah diuraikan oleh yang Maha Tahu. Kitab ini akan terus menjadi mukjizat dari segi keindahan bahasa, syariat, ilmu pengetahuan, sejarah dan lain sebagainya. Sampai Allah mengambil kembali bumi dan yang ada di dalamnya, tidak akan terdapat sedikitpun penyelewengan dan perubahan terhadapnya, sebagai bukti akan kebenaran firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15): 9)
Dunia secara keseluruhan belum pernah memperoleh sebuah kitab seperti Al-Qur`an yang mulia ini, yang mencakup segala kebaikan, dan memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus, serta mencakup semua hal yang akan membahagiakan manusia. Allah berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isrâ` [17): 9)
Al-Qur`an ini diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan, menuju cahaya. Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhîm [14): 1)
Dengan Al-Qur`an, Allah telah membukakan mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang lalai. Bila dibaca dengan benar, dipahami setiap surat dan ayat-ayatnya, dipahami secara mendalam setiap kalimat dan kata-katanya, tidak keluar dari batas-batasnya, melaksanakan perintah-perintah yang ada di dalamnya, menjauhi larangan-larangan, berakhlak dengan apa yang disyariatkan, dan menerapkan prinsip-prinsip dan nilai terhadap dirinya, keluarga dan masyarakatnya, maka akan menjadikan umat Islam merasa aman, tenteram dan bahagia di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah [2): 121)
Ibnu Abbas berkata, “Mereka mengikutinya dengan sebenarnya, menghalalkan yang telah dihalalkan dan mengharamkan yang telah diharamkan serta tidak menyelewengkannya dari yang semestinya.”
Qatadah berkata, “Mereka itu adalah sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beriman kepada kitab Allah, lalu membenarkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram serta melaksanakan apa yang ada di dalamnya.”
Makhluk jin sangat terkesan sekali tatkala mendengarkan bacaan Al-Qur`an; hati mereka dipenuhi dengan kecintaan dan penghargaan terhadapnya, dan mereka bersegera mengajak kaumnya untuk mengikutinya, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:
فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا
“Lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur`an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.’” (QS. Jin [72): 1-3)
Allah telah bercerita tentang mereka dalam Al-Qur`an:
قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Mereka berkata: Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqâf [46): 30-31)
Oleh karenanya, kitab yang mulia ini mengungguli kitab-kitab samawi sebelumnya. Dan kedudukannya pun di atas kitab-kitab itu. Allah berfirman:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (QS. Az-Zukhruf: 4)
Dan firman Allah dalam ayat yang lain:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Ma`idah: 48)
Para ulama tafsir berkata: “Al-Qur`an lebih unggul dari kitab-kitab samawi lainnya sekalipun semuanya turun dari Allah, dengan beberapa hal, diantaranya: jumlah suratnya lebih banyak dari yang ada pada semua kitab-kitab yang lain. Telah disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberi kekhususan dengan surat Al-Faatihah dan penutup surat Al-Baqarah.”
Di dalam Musnad ad-Darimi disebutkan, dari ‘Abdullah bin Masud Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata: “Sesungguhnya As-Sab’uth Thiwal (tujuh surat panjang dalam Al-Qur`an: Al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisaa, Al-Araaf, Al-An’aam, Al-Maa`idah dan Yunus) sama seperti Taurat, Al-Ma’in (Surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan lain sebagainya) sama seperti Zabur, dan Al-Matsani (Surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat: Al-Anfaal, Al-Hijr dan lain sebagainya) sama dengan kitab Zabur. Dan sisanya merupakan tambahan.”
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani, dari Wasilah bin Al-Asqa, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Telah diturunkan kepadaku As-Sab’uth Thiwal sebagai ganti yang ada pada Taurat. Diturunkan kepadaku Al-Mi’in sebagai ganti yang ada pada Zabur. Diturunkan kepadaku Al-Matsani sebagai ganti yang ada pada Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al-Mufashshal (surat-surat pendek).”
As-Sab’uth Thiwal adalah dari awal surat Al-Baqarah hingga akhir surat Al-Araaf yang berjumlah enam surat. Para ulama berselisih pendapat tentang surat yang ke tujuh; Apakah surat Al-Anfaal dan Al-Baraah sekaligus karena antara keduanya tidak dipisah dengan bismillah, maka dianggap satu surat, atau surat Yunus? ‘Al-Miun’ yaitu surat-surat yang ayatnya sekitar atau lebih dari seratus. ‘Matsani’ yaitu surat-surat yang jumlah ayatnya di bawah seratus. Dinamakan demikian karena ayat-ayatnya berulang-ulang melebihi yang ada pada surat-surat yang terhimpun dalam Sab’uthi Thiwal dan Miun. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘Al-Mufashal’ adalah surat-surat yang lebih pendek dari surat-surat dalam Al-Matsani. Para ulama berselisih pendapat tentang awal dari surat-surat itu. Ada yang berpendapat bahwa Al-Mufashal bermula dari awal surat Ash-Shaffaat, pendapat lain mengatakan diawali dari surat Al-Fath, dan yang lainnya berpendapat, dari surat Al-Hujuraat, dan ada juga yang berpendapat, dari surat Qaaf. Pendapat ini dibenarkan oleh Al-Hafiz Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar. Ada pula pendapat selain yang disebut di atas. Namun demikian para ulama sepakat bahwa akhir dari Mufashal adalah surat terakhir dalam Al-Qur`an.
Diantara keunggulan Al-Qur`an juga, bahwa Allah menjadikan gaya bahasanya mengandung mukjizat, sekalipun kitab-kitab lain juga mengandung mukjizat dari segi pemberitaan tentang yang gaib dan hukum-hukum, namun gaya bahasanya biasa-biasa saja, maka dari segi ini Al-Qur`an lebih unggul. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
“Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (QS. Az-Zukhruf: 4)
Dan firman Allah:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya, Fadhailul Quran (keutamaan-keutamaan Al-Qur`an) halaman 102-123, mengatakan: “Hal ini mereka raih berkat Al-Qur`an yang agung, yang mana Allah telah memuliakannya dari semua kitab yang pernah diturunkan-Nya, dan Dia jadikan sebagai batu ujian, penghapus dan penutup bagi kitab-kitab sebelumnya, karena semua kitab terdahulu diturunkan ke bumi dengan sekaligus, sedangkan Al-Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa yang terjadi, demi untuk menjaganya dan menghargai orang yang diberi wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur`an turun, seperti keadaan turunnya kitab-kitab sebelumnya.”
Kitab yang mulia ini telah mengungkap banyak sekali kebenaran ilmiah kosmos, dalam ayat-ayat yang membuktikan wujud Allah, kekuasaan dan keesaan-Nya. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiyaa [21]: 30)
Al-Qur`an juga menganjurkan agar memanfaatkan apa yang dapat ditangkap oleh indra mata dalam kehidupan sehari-sehari dari ciptaan Allah, sebagaimana difirmankan: “Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus [10]: 101) Dan Allah berfirman: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Al-Jaatsiah: 13)
Kaum Muslimin hendaknya mempelajari ilmu-ilmu alam, serta menikmati manfaat dari kekuatan-kekuatan yang tersimpan di langit dan bumi.
Sesungguhnya pembicaraan tentang Al-Qur`an tidak akan ada habis-habisnya. Al-Qur`anlah yang menganjurkan kaum Muslimin untuk bersikap adil dan bermusyawarah, dan menanamkan kepada mereka kebencian terhadap kezaliman dan tindakan semena-mena. Syiar para pemeluknya adalah kekuatan iman, tidak sombong, solidaritas dan bersikap kasih sayang antara sesama mereka.
Hendaknya kita hidup dengan Al-Qur`an, membaca, memahami, mengamalkan dan menghafal. Hidup dengan Al-Qur`an adalah perbuatan yang paling terpuji, yang patut dilakukan oleh orang Mu’min. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mengerjakan Shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30)
Dalam dua ayat tersebut di atas, Allah menganjurkan bagi orang-orang yang membaca Al-Qur`an agar disertai dengan perenungan, sehingga akan menimbulkan pengetahuan yang pada gilirannya akan menimbulkan pengaruh. Tidak diragukan lagi bahwa pengaruh membaca Al-Qur`an adalah melaksanakan dalam bentuk perbuatan.
Oleh karena itu Allah iringi amalan membaca Al-Qur`an dengan mendirikan Shalat, menafkahkan sebagian rezki yang dikarunia Allah secara diam-diam dan terang-terangan, kemudian dengan demikian orang-orang yang membaca Al-Qur`an itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi. Mereka mengetahui bahwa karunia Allah lebih baik dari apa yang mereka infakkan. Oleh karena mereka mengadakan perniagaan di mana Allah menambahkan karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Berterima kasih, mengampuni kelalaian, dan berterima kasih atas pelaksanaan tugas.
Oleh karena itu kita harus selalu membaca Al-Qur`an dengan perenungan dan kesadaran, sehingga dapat memahami Al-Qur`an secara mendalam. Bila seorang pembaca Al-Qur`an menemukan kalimat yang belum dipahami, hendaknya bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan. Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43)
Mempelajari Al-Qur`an sangat diperlukan. Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata: Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat, dan mereka akan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat), dan barang siapa amalnya kurang, tidak dapat ditambah oleh nasabnya. (Diriwayatkan oleh Muslim, 2699)
Sabda Rasul dalam hadits ini, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah”, “Rumah” di sini bukanlah batas, terbukti dengan sebuah hadits riwayat Muslim yang lain yang mengatakan: “Tidaklah suatu kaum berzikir kepada Allah, melainkan akan diliputi oleh para malaikat….” Jika berkumpul di tempat lain, selain rumah Allah (Masjid) maka bagi mereka keutamaan yang sama dengan mereka yang berkumpul di Masjid. Pembatasan “di rumah Allah” dalam hadits di atas, hanyalah karena seringnya tempat itu dijadikan tempat berkumpul, akan tetapi tidak ada keharusan. Berkumpul untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur`an dan kandungan hukumnya, di mana pun tempatnya akan mendapatkan keutamaan yang sama. Adapun jika berkumpul untuk belajar di masjid lebih utama, hal itu dikarenakan masjid mempunyai keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh tempat yang lain.
Diriwayatkan oleh Ibnu Masud Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur`an, maka ia akan memperoleh kebaikan. Kebaikan itu berlipat sepuluh kali. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif adalah huruf, Lam huruf, dan Mim huruf. (HR. At-Tirmizi no. 3075)
Dari Usman bin Affan Radhiyalallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ia bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 4739)
Hadis ini menunjukkan akan keutamaan membaca Al-Qur`an. Suatu ketika Sufyan Tsauri ditanya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Al-Qur`an? Ia berkata, membaca Al-Qur`an, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya kepada orang lain.”
Imam Abu Abdurrahman As-Sulami tetap mengajarkan Al-Qur`an selama empat puluh tahun di masjid agung Kufah disebabkan karena ia telah mendengar hadits ini. Setiap kali ia meriwayatkan hadits ini, selalu berkata: “Inilah yang mendudukkan aku di kursi ini.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: “Maksud dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkan kepada orang lain’ adalah bahwa ini sifat-sifat orang-orang Mu’min yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain. Allah berfirman:
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ
“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan.” (QS. An-Nahl [16: 88)
Sebagaimana firman Allah: “Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur`an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya.” (QS. Al-An’aam: 158)
Penafsiran yang paling benar dalam ayat ini, dari dua penafsiran ahli tafsir adalah bahwa mereka melarang orang-orang untuk mengikuti Al-Qur`an, sementara mereka sendiri pun menjauhkan diri darinya. Mereka menggabungkan antara kebohongan dan berpaling, sebagaimana firman Allah: “Atau agar kamu (tidak) mengatakan: ‘Maka siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya?’” (QS. Al-An’aam: 157)
Beginilah perihal orang-orang kafir yang jahat, sedangkan orang-orang Mu’min yang baik dan pilihan selalu menyempurnakan dirinya dan berusaha menyempurnakan orang lain, sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (QS. Fushilat [41]: 33)
Ayat ini menggabungkan antara seruan kepada Allah, baik dengan azan atau yang lainnya, seperti mengajarkan Al-Qur`an, hadits, fikih dan lainnya yang mengacu kepada keridhaan Allah, dan dengan perbuatan shalih, dan juga berkata dengan ucapan yang baik.
Rahmat Allah akan dilimpahkan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur`an dan mereka yang menegakkan hukumnya, juga mencakup orang-orang yang mendengarkan bacaannya. Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mengerjakan Shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal [8]: 2-4)
Dari Abdullah Ibnu Masud Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku: “Bacakan Al-Qur`an kepadaku.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Aku harus membacakan Al-Qur`an kepada Anda, sedangkan kepada Andalah Al-Qur`an itu diturunkan?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku.” Aku lalu bacakan surat An Nisaa. Ketika sampai pada firman yang berbunyi:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا
‘Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).’ (QS. [4]: 41) Beliau berkata: “Cukup.” Lalu aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba aku lihat beliau mencucurkan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 4582, Muslim no. 800, dan Abu Dawud no. 3668)
Imam Nawawi berkomentar, “Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadits ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Al-Qur`an, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al-Qur`an agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al-Qur`an, dibandingkan dengan membaca sendiri.”
Setiap orang muslim hendaknya tahu akan hak-hak Al-Qur`an: menjaga kesuciannya, komitmen terhadap batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama saat mendengarkan bacaannya, dan meneladani para salaf (pendahulu) shalih dalam membaca dan mendengarkannya. Sungguh mereka itu bagaikan matahari yang menerangi dan dapat diteladani dalam kekhusyukan yang sempurna dan meresapi, mengimani firman Allah: “Dan sesungguhnya Al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syuara [26]: 192-195)
Memang benar adanya, bahwa Al-Qur`an, baik lafal maupun makna adalah firman Allah, yang merupakan sistem dari langit untuk seluruh makhluk, khususnya manusia. Selain itu ia merupakan rujukan utama perkara-perkara agama dan sandaran hukum. Hukum-hukum yang ada di dalamnya tidaklah diturunkan sekaligus, akan tetapi diturunkan secara berangsur selama masa kerasulan. Ada yang turun untuk menguatkan dan memperkokoh pendirian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada yang turun mendidik umat yang baru saja tumbuh dan ada pula yang diturunkan oleh karena peristiwa keseharian yang dialami oleh umat Islam di tempat dan waktu yang berbeda-beda. Setiap kali ada peristiwa, turunlah ayat Al-Qur`an yang sesuai dan menjelaskan hukum Allah atas peristiwa itu. Di antaranya adalah kasus-kasus dan peristiwa yang terjadi pada masyarakat Islam, pada masa pensyariatan hukum, di mana umat Islam ingin mengetahui hukumnya, maka turunlah ayat yang menjelaskan hukum Allah, seperti larangan minuman keras.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata, “Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah dan mendapati orang-orang meminum minuman keras, dan makan dari hasil berjudi. Lalu mereka bertanya kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang masalah itu, maka Allah menurunkan ayat: ‘Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)
Lalu orang-orang berkata: ‘Tidak diharamkan, hanya saja pada keduanya dosa yang besar.’ Selanjutnya mereka masih juga banyak yang minum khamar (minuman keras), sampai pada suatu hari, seorang dari Kaum Muhajirin mengimami sahabat-sahabatnya pada Shalat Maghrib. Bacaannya campur aduk antara satu dengan yang lain, sehingga Allah menurunkan ayat Al-Qur`an yang lebih keras dari ayat sebelumnya: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.’ (QS. An-Nisaa [4]: 43)
Akan tetapi, Orang-orang masih juga banyak yang meminum minuman keras, hingga salah seorang melakukan Shalat dalam keadaan mabuk. Lalu turunlah ayat Al-Qur`an yang lebih keras lagi: ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.’ (QS. Al-Maaidah: 90)
Mereka berkata: ‘Kami tidak akan melakukannya lagi wahai Tuhan!’ Lalu orang-orang berkata: ‘Wahai Rasulullah banyak orang yang terbunuh di jalan Allah, atau mati di atas kasurnya, padahal mereka telah meminum khamar dan makan dari hasil perjudian, sedangkan Allah telah menjadikan keduanya najis yang merupakan perbuatan setan.’ Maka turunlah ayat: ‘Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebaikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.’ (QS. Al-Maaidah: 93)
Nabi bersabda: ‘Jika diharamkan atas mereka sebelumnya, niscaya mereka akan meninggalkannya sebagaimana halnya kalian meninggalkan.’” (Musnad Ahmad 2/251 dan 252)
Dalam Shahih Bukhari, hadits no. 4620, disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyalallahu ‘Anhu ia berkata: “Dulu aku pernah jadi penyuguh minuman (khamar) di rumah Abu Thalhah, dan turunlah ayat pengharaman minuman keras. Lalu diutuslah seseorang untuk menyerukan larangan ini. Abu Thalhah berkata, ‘Keluarlah dan lihat suara apakah itu.’ Lalu aku keluar, dan aku berkata: ‘Sungguh minuman keras telah diharamkan.’ Ia berkata kepadaku: ‘Pergi, dan tumpahkanlah.’ Anas berkata: ‘Aku pun keluar dan menuangkannya. Saat itu khamar mengalir di jalan-jalan Madinah.’ Anas berkata: ‘Jenis khamar pada saat itu adalah yang terbuat dari kurma.’ Sebagian orang berkata: ‘Telah banyak yang terbunuh, sedangkan minuman itu ada di dalam perut mereka.’ Ia berkata, lalu turunlah ayat: ‘Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu.’”
Dari yang disebutkan di atas, kita mengetahui bahwa larangan meminum khamar (minuman keras) terjadi dalam tiga tahap, yaitu ketika turun surat Al-Baqarah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’”
Ayat ini mengandung larangan meminum minuman keras dengan cara yang halus. Maka yang meninggalkannya ketika itu hanya sekelompok orang yang tingkat ketakwaan mereka sangat tinggi. Umar Radhiyalallahu ‘Anhu berkata, “Ya Allah, berikanlah penjelasan yang terang tentang hukum meminum minuman keras.” Lalu turunlah ayat yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” Lalu umat Islam menghindari untuk meminumnya pada waktu-waktu mendekati Shalat. Umar Radhiyalallahu ‘Anhu berkata, “Ya Allah, berikanlah penjelasan yang terang tentang minuman keras. Maka turunlah surat Al-Maaidah: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan, Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”
Saat itulah ketika diserukan dan dibacakan ayat ini, Umar Radhiyalallahu ‘Anhu berkata, “Kami berhenti (dari melakukannya).”
Demikianlah proses pensyariatan yang bertahap, di mana Allah menyucikan umat Islam dari adat istiadat yang bertentangan dengan sistem Islam, dan melengkapi mereka dengan sifat-sifat yang mulia, seperti: pemaaf, penyabar, kasih sayang, jujur, menghormati tetangga, berlaku adil dan perbuatan baik yang lain.
Hanya Allah semata yang menetapkan syariat untuk para hambanya. Allah berfirman: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. Al-An’am: 57)
Syariat itu ditetapkan tiada lain kecuali hanya untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia, baik hikmah yang terkandung di dalamnya tampak atau pun tidak. Al-Qur`an adalah sumber pertama syariat.
Adapun sumber kedua adalah Sunah, dan tidak ada perselisihan antara para ulama bahwa sunah merupakan hujah dalam syariat di samping Al-Qur`an. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 59)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)
Dan firman Allah: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya I’lamul Muwaqqi’in ‘An Rabil Alamin halaman 263 menjelaskan tentang peran Sunah terhadap Al-Qur`an, ia berkata: “Peran Sunah terhadap Al-Qur`an ada tiga: Pertama: Mempunyai maksud sama dengan Al-Qur`an dilihat dari semua segi. Sehingga masing-masing ayat Al-Qur`an dan hadits Nabi yang sama-sama menunjukkan kepada hukum yang sama termasuk dalam kategori suatu yang hukum mempunyai lebih dari satu dalil. Kedua: Menjelaskan maksud dari Al-Qur`an dan penafsirannya. Ketiga: Menetapkan suatu hukum, wajib atau haram, yang tidak ada terdapat dalam Al-Qur`an. Peran itu tidak keluar dari tiga hal ini dan tidak ada pertentangan sama sekali antara Al-Qur`an dan sunah.
Oleh karenanya, sunah menegaskan suatu hukum dari Al-Qur`an, kadang kala ia menafsirkan teks Al-Qur`an atau menguraikan hukum yang dijelaskan secara ringkas dalam Al-Qur`an, bahkan juga menetapkan suatu hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur`an. Namun demikian Sunah tidak menetapkan sebuah hukum, kecuali bila di dalam Al-Qur`an tidak diketemukan hukum yang dimaksud. Sunahlah yang menjelaskan kepada kita -umat Islam- bahwa Shalat yang diwajibkan adalah lima kali sehari semalam, darinya juga diketahui jumlah rakaat dalam Shalat dan rukun-rukunnya, menjelaskan hakikat zakat, dan ke mana disalurkan serta berapa nisabnya. Dan sunah juga yang menjelaskan kepada kita cara-cara haji dan umrah, dan bahwa ibadah haji hanya wajib sekali dalam seumur hidup, dan ia pula yang menerangkan tentang miqat-miqat haji, zamani dan makani (waktu dan tempat) dan jumlah putaran tawaf.
Maka bagi mereka yang hanya berpegang terhadap Al-Qur`an dengan meninggalkan sunah, hendaknya segera memperbaharui keimanannya dan segera kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha: 82)
Al-Qur`an dan Sunah, kedua-duanya merupakan wahyu Allah kepada Rasul-Nya, dan dua sumber syariat Islam yang mengembalikan manusia pada fitrahnya, dan menjadikan manusia mengetahui jalan hidupnya. Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-Araaf: 43). Selesai.
Allahu A’lam.[]
Nor Kandir
Artikel norkandirblog.wordpress.com
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat dan setiap semangat memiliki penurunan, maka barangsiapa yang ketika turun semangat terarah kepada sunnahku, dia akan mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang ketika turun semangat terarah kepada selainnya, maka dia akan binasa.” (HR. Ahmad dan al-Baihaqy, dan dinilai shahih oleh al-Albany) Sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam kepada Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma: “Janganlah engkau seperti si fulan, dia dahulu biasa mengerjakan shalat malam lalu dia meninggalkannya.” (HR. al-Bukhary dan Muslim) Nabi juga bersabda: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. al-Bukhary dan Muslim) Dikutip dari forumsalafy.net *) Diantara faedah kajian Cimahi bersama Ustadz Abu Yasir Wildan hafizhahullah. via Instagram ift.tt/1QoJOQu
dav
Golongan-Golongan yang bersekutu (Al-'Aĥzāb):41 - Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
Golongan-Golongan yang bersekutu (Al-'Aĥzāb):42 - Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
Semut (An-Naml):73 - Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).
Laba-laba (Al-`Ankabūt):45 - Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
A moslem offering prayer in masjid (mosque) Nabawi, Madinah, and while sitting in this position, he recites Shahada : "There is no God but Allah, and Muhammad is the Messenger of Allah"
@ Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia.
Udah nonton film pendek #BukanRumahTuhan blum? Gimana pendapat kamu tentang film ini, sob?
Like or dislike? :D
Apa pesan positif yang kamu dapet dari nonton film ini? :) #filmpendek
#inspirasi
#daqumovie
262 Likes on Instagram
10 Comments on Instagram:
nurvita_pr: Awalnya agak bingung dgn prnyataan bpak berbaju putih "iya juga sih, tapi kok agak aneh ya?", untungnya tkoh yg diperankan mas Andre menjawab dgn baik. Hikmah pertama adalah kita sertamerta jg menjadikan tempat lain (misal: rumah, kntor, kampus dll) sebagai tempat ibadah kita kpd Allah. Ibadah dalam arti, jangan sampai kita shalat, mengaji, berdakwah hanya di masjid saja, tempat lainpun berhak mnjd tempat ibadah. Dan hikmah kedua adalah, jangan sampai kitapun lupa bahwa masjid adalah salah satu simbol agama Islam yang harus kita makmurkan keberadaanny. Allah menyukai pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid :)
fadiyah731: Pesan positifnya jangan mudah percaya tipu daya setan, karena setan menghalangi manusia melakukan hal yang disukaiNya dalam wujud apapun. Walaupun di awal film sempet goyah, akhirnya kuat kembali keyakinannya tentang shalat berjamaah di Masjid. Pesan lainnya yaitu tentang masjid itu sendiri. Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi sebagai sarana umat muslim untuk saling bersilaturahim dan juga berkegiatan positif yang memakmurkan masjid
yogi_triliyuner: Pesannya dapet banget, setan akan selalu menggoda manusia tapi manusia diberi akal oleh Allah agar tetap bisa berfikir mana yg benar mana yang salah 👍
anaainul: Like! Harus ditonton sepenuhnya baru bisa dapat value yang mau disampaikan. Dan value nya ngena banget. Manusia diajak untuk terus berpikir dan menentukan mana yang benar dan mana yang salah, tentunya tetap sesuai dgn koridor yang ada. Kita harus lebih pandai membaca lingkungan dan menyikapinya dgn baik. Yang penting tetap mengutamakan iman & takwa padaNya. 💕
norkandirblog.wordpress.com/2016/09/05/menyoal-berapa-yan...
Menyoal Berapa Yang Perlu Disedekahkan
Menyoal Berapa Yang Perlu Disedekahkan
Kasus Pertama: Tidak boleh berlebihan dalam bersedekah tetapi pertengahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ‘ibadurrahman (hamba-hamba ar-Rahman):
«وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا»
“Dan mereka orang-orang yang apabila bersedekah tidak boros dan tidak pelit, tetapi pertengahan di antara itu.” [QS. Al-Furqân [25]: 67]
Allah menasehati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersikap pertengahan dalam bersedekah dalam firman-Nya:
«وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا»
“Dan jangan jadikan tanganmu terbelenggu sampai ke lehermu (isyarat bakhil) dan jangan pula membentangkannya seluas-luasnya (isyarat boros/berlebihan), sehingga kamu duduk dalam keadaan tercela (karena pelit) dan tertahan (karena boros).” [QS. Al-Isrâ` [17]: 29]
Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan, “Allah ta’ala berfirman menyuruh pertengahan dalam sedekah dengan mencela pelit dan melarang boros. Maksud ‘dan jangan jadikan tanganmu terbelenggu sampai ke lehermu’ adalah jangan pelit dan menahan harta dengan tidak mau memberi apapun kepada orang lain, seperti ucapan Yahudi –semoga laknat Allah atas mereka–, ‘Tangan Allah terbelenggu,’ [QS. Al-Mâ`idah [5]: 64] sebagai isyarat mereka menisbatkan Allah kepada sifat pelit. Mahatinggi Allah Mahasuci Mahamulia Maha Pemberi. Adapun maksud ‘dan jangan pula membentangkannya seluas-luasnya’ adalah jangan boros dalam bersedekah sehingga memberi orang melebihi kemampuan dengan mengeluarkan semua simpanan. Akhirnya kamu duduk dalam keadaan tercela (karena pelit) dan tertahan (karena boros).” [Tafsîr Ibni Katsîr (V/70)]
Dikisahkan bahwa saat Sa’ad bin Abi Waqqash merasa sekarat, dia menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niat menyedekahkan seluruh hartanya di jalan Allah tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku berniat menyedekahkan seluruh hartaku.” Beliau menjawab, “Tidak boleh.” “Setengahnya.” “Tidak.” “Sepertiganya.” Beliau menjawab:
«فَالثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيْدِيهِمْ، وَإِنَّكَ مَهْمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ، فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ، حَتَّى اللُّقْمَةُ الَّتِي تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ، وَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَكَ، فَيَنْتَفِعَ بِكَ نَاسٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ»
“Sepertiga. Sepertiga pun sudah banyak. Kamu tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada kamu tinggalkan mereka dalam keadaan miskin yang menengadahkan tangannya ke manusia. Tatkala kamu memberi nafkah, itu bernilai sedekah bagimu hingga suapan yang kamu berikan ke istrimu. Semoga Allah mengangkatmu sehingga lewatmu Allah memberikan manfaat kepada manusia dan memberi mudharat kepada lainnya (musuh).” Pada hari itu dia tidak memiliki anak kecuali satu anak perempuan. [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 2742, IV/3) dan Muslim (no. 1628)]
Kasus Kedua: Praktek Rasulullah dan para shahabat serta sebagian ulama salaf justru mereka menyedekahkan seluruh hartanya tanpa perhitungan, minimal melebihi batas kewajaran. Hal ini berbeda dengan aturan perintah tidak boros di atas. Berikut beberapa kisah mereka.
Kisah pertama. Berkenaan dengan surat Isrâ` di atas, al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) mengisahkan dalam Zâdul Masîr (III/21), “Sebab turunnya ayat ini, dikisahkan ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Ibuku meminta kepadamu ini dan itu.’ Beliau menjawab, ‘Kami tidak memiliki apa-apa hari ini.’ Dia berkata lagi, ‘Ibuku meminta baju gamis Anda.’ Beliau pun melepas baju gamisnya dan memberikannya kepada lelaki itu. Beliau pun duduk tertahan di rumah. Maka, turunlah ayat ini. Ini diriwayatkan Ibnu Mas’ud. Diriwayatkan juga oleh Jabir bin ‘Abdillah yang semisal ini tetapi ada tambahan, ‘Lalu Bilal mengumandangkan adzan shalat. Jamaah menunggu tetapi beliau belum juga keluar hingga mereka sibuk memikirkannya. Sebagian mereka masuk menemuai beliau, ternyata mereka menjumpai beliau telanjang (mungkin telanjang dada atau dibalik tabir) lalu turunlah ayat ini.’”
Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak permintaan. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata:
مَا سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَطُّ فَقَالَ: لاَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta apapun lalu menjawab tidak.”[1]
Kisah kedua. Abu Bakar ash-Shiddiq bersedekah dengan seluruh hartanya tanpa meninggalkan apapun untuk keluarganya, anehnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegurkanya. ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا، فَقُلْتُ: اليَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، قَالَ: فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ: وَسَلَّمَ: «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قُلْتُ: مِثْلَهُ، وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قُلْتُ: لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah. Ternyata bertepatan aku memiliki harta. Aku berkata, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar jika aku mendahuluinya hari ini.’ Aku pun pergi dengan membawa setengah hartaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Aku jawab, ‘Setengahnya.’ Datanglah Abu Bakar dengan semua yang dimilikinya. Beliau bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Dia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Aku tidak akan mampu mendahuluinya apapun selamanya.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 3675, V/614), Abu Dawud (no. 1678), al-Hakim (no. 1510), dan ad-Darimi (no. 1701). Dinilai hasan al-Albani, at-Tirmidzi, dan Husain Salim Asad]
Kisah ketiga. Diriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah bin az-Zubair bin Awwam dari ayahnya:
أَنَّ مُعَاوِيَةَ بَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا بِمِائَةِ أَلْفٍ، فَوَاللهِ مَا غَابَتِ الشَّمْسُ عَنْ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى فَرَّقَتْهَا قَالَتْ مَوْلَاةٌ لَهَا: لَوِ اشْتَرَيْتِ لَنَا مِنْ هَذِهِ الدَّرَاهِمِ بِدِرْهَمٍ لَحْمًا، فَقَالَتْ: لَوْ قُلْتِ قَبْلَ أَنْ أُفَرِّقَهَا لَفَعَلْتُ
“Sesungguhnya Mu’awiyah mengutus orang untuk menyerahkan uang 100.000 kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu. Demi Allah, matahari belum terbenam di hari itu melainkan dia telah membagi-bagikannya. Budak perempuannya berkata, ‘Andai saja Anda membeli daging untuk kita dari dirham-dirham tersebut (mungkin untuk berbuka puasa).’ ‘Aisyah menjawab, “Andai saja kamu katakan sebelum aku bagi-bagikan, pasti aku lakukan.’” [Hilyatul Auliyâ` (II/47) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani]
Menggabungkan Dua Hukum
Dua kasus di atas seakan bertolak-belakang, di mana Allah melarang boros dan menyuruh pertengahan dalam bersedekah, tetapi praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagian shahabat justru bersedekah seluruh hartanya. Dua hal ini bisa digabungkan sebagai berikut:
Hukum asal bersedekah adalah pertengahan tidak pelit dan tidak boros, sebagaimana ketentuan Allah dan Rasul-Nya, karena tidak semua orang memiliki keimanan yang kuat, keyakinan yang tinggi, dan kesabaran yang hebat tatkala seluruh hartanya disedekahkan seluruhnya. Boleh jadi bagi yang pas-pasan imannya, setelah menyedekahkan seluruh hartanya justru setelah itu mengeluh dan berkeluh-kesah, bahkan menyesal tidak menyisakan untuk dirinya dan keluarganya. Sebab, menyesali dan mengeluhkan takdir hukumnya haram.
Adapun bagi orang yang kuat imannya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shiddiqin seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan ‘Aisyah ash-Shiddiqah tidak tercela bahkan ini yang lebih utama untuk mengejar simpanan yang melimpah di akhirat. Allahu a’lam.
Peringatan
Nafkah kepada keluarga hukumnya wajib sementara sedekah di jalan Allah hukumnya tathawwu’ (anjuran/sunnah) sesuai sikon (situasi dan kondisi). Oleh karena itu, tidak diperbolehkan membelanjakan seluruh hartanya tanpa menyisakan sedikitpun apa yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Dalilnya adalah kisah Sa’ad bin Abi Waqqash dengan putrinya di atas. Adapun kasus Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang tidak menyisahkan harta apapun untuk keluarganya dipahami bahwa mereka ridha dengan keputusannya. Mereka yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka yang berbuat kebaikan. Allahu a’lam.[AZ]
[1] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 6034, VIII/13) dan Muslim (no. 2311).
Mari indahkan pagi dengan sholat Dhuha. InsyaAllah aktivitas kita hari ini semakin berkah dan semakin bertambah semangatnya... 😆
Dari Nu'aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
" Allah Ta'ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka'at shalat di awal siang (di waktu dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang."
( HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451)
254 Likes on Instagram
5 Comments on Instagram:
filmmakermuslim: Iiih kok tau siih @itayunita722 😆
itayunita722: Dari badan sama rambutnya ketawan hehehehehe....
diandras_10: Ya Allah, mau dong jadi makmumnya Mas Angga
qqnurul: Yuk @awanikhwan
norkandirblog.wordpress.com/2016/09/04/teks-dzikir-pagi-s...
Teks Dzikir Pagi Sesuai Hadits Shahih
Teks Dzikir Pagi Sesuai Hadits Shahih
Tujuan: Untuk meminta pahala, keberuntungan, keutamaan, dan kemudahan dalam hari tersebut dari Allah.
Waktu: Yang utama dibaca saat masuk waktu Shubuh hingga matahari terbit. Namun boleh juga dibaca sampai matahari akan bergeser ke barat (mendekati waktu Zhuhur).
Lafazh Dzikir:
Membaca Ayat Kursi
1- أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ* بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ* اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah: 255)(Dibaca 1 x)
Faedah: Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang. (HR. Al Hakim (1: 562). Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 655)
Catatan: Para ulama sepakat bahwa di awal membaca Al-Qur’an dianjurkan membaca ta’awudz sebagaimana basmalah di awal surat selain surat At-Taubah. Mereka berselisih pendapat dalam membaca basmalah di selain ayat pertama. Untuk kasus ayat kursi –sebagian pendapat- menganjurkan menggunakan basmalah dengan alasan karena ta’awudz diakhiri dengan lafazh setan dan di awal ayat kursi diawali dengan nama Allah. Dengan dipisah dengan basmalah maka akan terjaga nama Allah dari nama setan yang mengiringinya. Allahu a’lam.
Membaca Surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas
2- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ* قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4) (Dibaca 3 x)
3- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Shubuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. Al Falaq: 1-5) (Dibaca 3 x)
4- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An Naas: 1-6) (Dibaca 3 x)
Faedah: Siapa yang mengucapkannya masing-masing tiga kali ketika pagi dan petang, maka segala sesuatu akan dicukupkan untuknya. (HR. Abu Dawud no. 5082, At-Tirmidzi no. 3575. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Membaca Dzikir-Dzikir Tertentu
5- أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.
Artinya:
“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di alam kubur.” (Dibaca 1 x) (HR. Muslim no. 2723)
6- اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ
Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.
Artinya:
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca 1 x) (HR. At-Tirmidzi no. 3391 dan Abu Dawud no. 5068. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Membaca Sayyidul Istighfar
7- اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.
Artinya:
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa Surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni Surga. Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni Surga. (HR. Al-Bukhari no. 6306)
8- اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma ‘aafinii fii badanii. Allahumma ‘aafinii fii sam’ii. Allahumma ‘aafinii fii basharii. Laa ilaaha illa anta. Allahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal kufri. Allahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qubri. Laa ilaha illa anta.
Artinya:
““Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau.” (Dibaca 3x) (HR. Abu Dawud no. 5090 dan dihasankan Syaikh Al-Albani)
9- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan do’a ini di pagi dan petang hari. Di dalamnya berisi perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah. (HR. Abu Dawud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
10- اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.
Artinya:
“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Do’a ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk dibaca pada pagi, petang dan saat beranjak tidur. (HR. At-Tirmidzi no. 3392 dan Abu Daud no. 5067. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini shahih. Adapun kalimat terakhir (وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ) adalah tambahan dari riwayat Ahmad 2: 196. Dikomentari oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari jalur lainnya (shahih lighoirihi))
11- بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.
Artinya:
“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka tidak akan ada bahaya yang tiba-tiba memudaratkannya. (HR. Abu Dawud no. 5088, 5089, At-Tirmidzi no. 3388, dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
12- رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا
Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.
Artinya:
“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (Dibaca 3 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di petang hari, maka pantas baginya mendapatkan ridha Allah. (HR. Abu Dawud no. 5072, At-Tirmidzi no. 3389. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
13- يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin.
Artinya:
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).” (Dibaca 1 x)
Faedah: Dzikir ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Fathimah supaya diamalkan pagi dan petang. (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro (381/ 570), Al Bazzar dalam Musnadnya (4/ 25/ 3107), Al Hakim (1: 545). Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227)
14- أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin
Artinya:
“Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas (kalimat syahadat), agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama bapak kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” (Dibaca 1 x di pagi hari saja) (HR. Ahmad (3: 406). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim. Lihat pula As Silsilah Ash Shahihah no. 2989)
15- سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.
Artinya:
“Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (Dibaca 3 x di waktu pagi saja)
Faedah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Juwairiyah bahwa dzikir di atas telah mengalahkan dzikir yang dibaca oleh Juwairiyah dari selepas Shubuh sampai waktu Dhuha. (HR. Muslim no. 2726)
16- سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallah wa bi-hamdih.
Artinya:
“Maha Suci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca 100 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan kalimat ‘subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan petang hari sebanyak 100 x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu. (HR. Muslim no. 2692)
17- لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Artinya:
“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”
Jika Dibaca 10x Faedah: Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut di pagi hari sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan kebaikan semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan hingg petang hari. Siapa yang mengucapkannya di petang hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula. (HR. An Nasai Al Kubra no. 9768)
Jika Dibaca 100x Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut dalam sehari sebanyak 100 x, maka itu seperti membebaskan 10 orang budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus baginya 100 kesalahan, dirinya akan terjaga dari gangguan setan dari pagi hingga petang hari, dan tidak ada seorang pun yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali oleh orang yang mengamalkan lebih dari itu. (HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691)
18- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Artinya:
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (Dibaca 1 x setelah salam dari shalat Shubuh) (HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
19- أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astagh-firullah wa atuubu ilaih.
Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.” (Dibaca 100 x dalam sehari) (HR. Al-Bukhari no. 6307 dan Muslim no. 2702)
20- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ
Allahumma inni ash-bahtu usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika wa malaa-ikatak wa jami’a kholqik, annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rosuuluk.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca 4 x)
Faedah: Barangsiapa yang mengucapkan dzikir ini ketika pagi dan petang hari sebanyak empat kali, maka Allah akan membebaskan dirinya dari siksa Neraka. (HR. Abu Dawud no. 5069. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Referensi: Diringkas dari Dzikir Pagi dan Petang karya Ust Yazid Abdul Qadir Jawas, Hisnul Muslim karya Syaikh Dr. Qahthani, dan situs www.rumaysho.com.
Artikel norkandirblog.wordpress.com
Teks Dzikir Pagi Sesuai Hadits Shahih