View allAll Photos Tagged kutipan
Kilat dari Timur | Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III(Kutipan)
Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Karena orang-orang tidak mengakui pengaturan dan kedaulatan Tuhan, mereka selalu menghadapi nasib dengan perlawanan, dengan sikap memberontak, dan selalu ingin menyingkirkan otoritas dan kedaulatan Tuhan dan hal-hal yang telah diatur oleh nasib bagi mereka, berharap dengan sia-sia untuk mengubah keadaan dan nasib mereka. Tetapi mereka tidak akan berhasil; mereka digagalkan pada setiap tikungan. Pergumulan ini, yang terjadi jauh di dalam jiwa seseorang, adalah hal yang menyakitkan; pedihnya tak terlupakan; dan hanya mengikis masa hidupnya. Apa sebab dari kepedihan ini? Apakah karena kedaulatan Tuhan, ataukah karena seseorang dilahirkan tidak beruntung? Sudah jelas keduanya tidak benar. Pada dasarnya, ini dikarenakan jalan yang diambil setiap orang, cara yang mereka pakai untuk menjalani kehidupan mereka. Sebagian orang mungkin tidak menyadari hal-hal tersebut. Tetapi ketika engkau sungguh-sungguh mengenal, mengakui bahwa Tuhan berdaulat atas nasib manusia, apabila engkau sungguh-sungguh mengerti bahwa semua yang telah direncanakan dan diputuskan Tuhan terhadapmu itu memberikan manfaat yang besar, memberikan perlindungan yang besar, kemudian engkau merasakan kepedihanmu secara perlahan reda, dan seluruh dirimu menjadi kendur, bebas, merdeka."
👏👏Rekomendasi:
Kesaksian orang Kristen Remaja - Kesaksian Kristen Terbaru - Mendorong Anda dan saya
Gold Brick #1 : "Like a hijacked plane, or a runaway train, or a speeding bullet, there's no stopping this." -Owl City - Metropolis
Salah satu hasil karya saya yang menurut saya terbaik. Saya upload foto ini untuk mengenang masa-masa hidup lokomotif BB alias "mbah BB" yang sudah istirahat selamanya. Seperti kutipan diatas, tidak ada yang bisa menghentikan laju dan denyut kehidupan ular besi di jalur Padalarang-Cianjur ini. Saya, dan tentunya masyarakat tetap optimis jalur ini hidup kembali, serta akan ada ular besi yang meneruskan kejayaan "mbah BB" setiap hari.
Date taken: 2nd March 2013
Indonesia
NB : mohon doanya untuk kelancaran skripsi saya hehehe (sibuk skripsi :()
Painting coffee with watercolor on gesso cardboard with a textured background , thanks for the visit have all a nice week.
Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa tengah.
Kawasan Candi Dieng menempati dataran pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut, memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800 m.
Candi-candi di kompleks Dieng sekarang berjumlah sekitar delapan buah candi kemungkinan berasal dari abad VIII-IX. Sebuah prasasti ditemukan di dalam kompleks memiliki angka tahun 713 Saka sama dengan 809 Masehi, namun terdapat kemungkinan candi-candi tersebut ada yang lebih tua, dari sekitar pertengahan abad VIII.
Candi-candi di Dieng ini diberi nama wayang, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Bima, Dwarawati, Gatotkaca.
(kutipan dari berbagai sumber)
TANDA-TANDA ZUHUD. Berkata Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rohimahulloh: ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺰﻫﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺤﺐ ﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻚ ، ﻭﻻ ﺗﺒﺎﻟﻲ ﺑﻤﺬﻣﺘﻬﻢ ، ﻭﺇﻥ ﻗﺪﺭﺕ ﺃﻻ ﺗﻌﺮﻑ ﻓﺎﻓﻌﻞ ، ﻭﻻ ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻻ ﺗﻌﺮﻑ ، ﻭﻣﺎ ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻻ ﻳﺜﻨﻰ ﻋﻠﻴﻚ ، ﻭﻣﺎ ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻣﺤﻤﻮﺩﺍً ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ. “Tanda-tanda zuhud terhadap dunia dan terhadap manusia ialah: engkau tidak suka manusia memuji diri engkau, dan engkau tidak perduli dengan cercaan mereka, dan jika engkau mampu untuk tidak dikenal maka lakukanlah, karena tidak ada dosa bagi engkau untuk tidak dikenal, dan tidak ada dosa bagi engkau untuk tidak dipuji atasmu, DAN TIDAK ADA DOSA BAGI ENGKAU UNTUK MENJADI TERCELA DI HADAPAN MANUSIA JIKA ENGKAU TERPUJI DI SISI ALLAH.” . . Hilyatul Awliya, Abu Nu'aim (8/90). . Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh عَفَا اللّٰهُ عَنْهُ. WA Ahlus Sunnah Karawang | ift.tt/1uO6u5u Diarsipkan oleh Happy Islam ift.tt/1JJ1Nyd Sep 15th, 2015 #zip #ahlussunnah #salafy #zuhud #faedah #fawaid #happyislam #nasehat #salafy #islam #quran #sunnah #quote #kutipan #katamutiara #quotes via Instagram ift.tt/1l27Asj
”Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari nafsu syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, hembusan dan tiupan sihirnya.”
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
------------------------------------------------------------------------------------------
"ILMU JAWA KUNO" dari judulnya aja..sudah banyak tafsiran mengenai buku ini, salahsatunya adanya anggapan ajaran ajaran yang tidak jauh dari ilmu KESAKTIAN dari warisan orang orang jawa jaman dahulu kala..walau tidak dipungkiri banyak sumber dan ajaran mengenai kehebatan dan kesaktian yang masih dilestarikan sampai saat ini.
Dalam buku ini..pada intinya banyak dibahas mengenai pengenalan jatidiri baik itu dari segi fisik/materi maupun roh/non materi/gaib pada diri manusia. Dalam buku islam pada karya besar Ihya Ulumuddin dari Imam Al Ghazali yang merupakan ajaran islam tasawuf hampir memiliki sedikit kesamaan walaupun banyak perbedaan yang mendasar. Hal ini memang wajar karena ilmu jawa kuno ini bersumber dari akar ajaran budha shiwa yang merupakan agama dasar orang jawa / nusantara sebelum ajaran agama islam dan nasrani sebagai sumber dari agama samawi masuk ke indonesia.
Intisari dari semua itu adalah : Barangsiapa yang tidak mengenal dirinya / pribadinya sendiri maka tidak akan pernah mengenal tuhan Nya yang merupakan puncak kesempurnaan hidup diri manusia,
sehingga dalam hidup ini hanya dan tidak hanya sebatas mengikuti perintah Tuhan Nya..dan menjauhi larangan Nya..
Salah satu kutipan dari buku ini : " Seorang pendaki spiritual sudah seharusnya tidak mengharapkan buah dari lelaku batinnya. Semua yang dilakukannya seharusnya hanya ditujukan kepada Sang Sumber Semesta. Dia harus mampu melepaskan keterikatannya pada apa pun dan siapa pun, termasuk dari buah lelaku batinnya. Jika seseorang pendakian spiritual memiliki banyak perbuatan baik lantas ia mendapatkan buahnya dan menikmatinya, jelas itu kekeliruan besar. Pendakian spiritual seharusnya memasrahkan buah perbuatan baiknya kepada Sang Sumber Semesta. Dia tidak seharusnya mengharapkan perbuatan baiknya berbuah menjadi kenikmatan material.
Didalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, janganlah mengharapkan hasil apapun baik bagi diri pribadi sendiri maupun orang lain..
------------------------------------------------------------------------------------------
Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah
Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkah-Nya juga kepadamu”
"Empty your mind.. Be Shapeless..
Formless.. Like Water..
If you put water into a cup, it becomes the cup.
You put water into a bottle, it becomes the bottle.
You put it in a teapot, it becomes the teapot.
Water can flow...
or it can crash.
Be water my friend."
~Bruce Lee~
"Beri aku 1.000 orang tua,
niscaya akan kucabut semeru dari akarnya ...
Beri aku 10 pemuda,
niscaya akan kuguncangkan dunia"
~Soekarno (Bung Karno)~
"Dunia ini panggung sandiwara,
cerita yang mudah berubah..
Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan..
Ada peran wajar..
ada peran berpura-pura..
Mengapa kita bersandiwara?"
~ Ahmad Albar (Duo Kribo) ~
"Merdeka hanyalah sebuah jembatan,
Walaupun jembatan emas..,
di seberang jembatan itu jalan pecah dua:
satu ke dunia sama rata sama rasa..,
satu ke dunia sama ratap sama tangis!"
~ Soekarno (Bung Karno) ~
"Let It Be" ~ The Beatles
-----------------------------
credit:
background image is a photo by Silent Shot - www.flickr.com/people/silent-shot/
Published under Creative Commons License.
"Laki-laki dan perempuan adlh seperti dua sayap dari seekor burung...
Jika dua sayap sama kuatnya,
maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya;
Jika patah satu dari pada dua sayap itu,
maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali"
~ Soekarno ~
(Foto Bung Karno & Bu Fatmawati di atas sepeda tua) (1/2)
-- FRIENDSHIP.. --
Sponge Bob: "Apa yang biasa kamu lakukan saat aku pergi?"
Patrick : "menunggumu kembali.."
:)
Quote ttg persahabatan yg diambil dari salah satu episode SpongeBob Squarepants.
"Laki-laki dan perempuan adlh seperti dua sayap dari seekor burung...
Jika dua sayap sama kuatnya,
maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya;
Jika patah satu dari pada dua sayap itu,
maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali"
~ Soekarno ~
(Foto Bung Karno & Bu Fatmawati di atas sepeda tua) (2/2)
Melalui kotak pesan daring Anna mengonfirmasi ia akan datang dua pekan lagi, yang berarti hari ini. Tidak perlu menyiapkan apa-apa, aku adalah bagian dari keluarga, bukan tamu istimewa, tulisnya gede rasa. Memang dikiranya aku akan menggelar karpet merah di bandara? Tapi, toh kubalas dengan gambar wajah kuning bulat menyeringai jenaka, meski saat mengetiknya mulutku mengerucut, bersungut.
Aku tak benar-benar berminat menerima kedatangannya, jauh hari, dekat hari, terencana atau tiba-tiba, bagiku sama buruknya. Setelah korespondensi panjang lewat media sosial yang entah bagaimana permulaannya itu, akhirnya Anna mengaku sebagai saudara kembarku.
Dia tuliskan, saat dikirim untuk belajar kedokteran di Universitas Saint Petersburg, Bapak kami jatuh cinta pada seorang mahasiswi lokal yang kelak ia menjadi ibu kami. Kisah cinta mereka mekar di semester ketiga perkuliahan, sejak pertemuan tak sengaja di lorong manuskrip Melayu di perpustakaan umum Saltykov-Shchedrin. Itu terjadi kira-kira satu sampai dua dekade setelah peristiwa proklamasi.
Pertengahan tahun enam puluhan Bapak lulus dan berencana membawa pulang Ibu, tapi gagal. Situasi panas di tanah air waktu itu. Pemerintahan lama dikudeta, rezim baru melarang alumni luar negeri kembali, pukul rata semua dianggap berbaluan kiri jika menolak menandatangani pernyataan mengutuk pemimpin terguling. Bapak termasuk yang menampik karena merasa berutang budi sudah diberi kesempatan sekolah tinggi. Jadilah ia pelarian, diburu sampai ke Vietnam. Kami berdua lahir di tengah sisa kecamuk perang, di Ho Chi Minh City yang masih porak-poranda. Ibu lalu membawa Anna kembali ke Leningrad dan aku dititipkan kepada entah siapa, pulang ke Amlapura. Bapak tetap tinggal dan menjadi dokter rumah sakit militer setempat. Setelah itu, semua gelap. Tak ada kabar, Ibu hanya mendengar Bapak tertembak, jasadnya tak terjejak.
***
Luh, istriku, bertanya, “Apakah ada penerbangan langsung dari Moskwa ke Denpasar?” Tolol, kubilang. Tentu saja tidak ada. Perjalanan dari Rusia ke Indonesia makan waktu 20 jam, setidaknya butuh satu atau dua kali transit, di Abu Dhabi, di Hong Kong, atau di mana saja, tergantung maskapai yang dipakai. Tidak ada direct flight!
“Tapi ini ada,” sergahnya, menggumam dengan nada rata, dengan jari-jari dan mata menumpu pada layar tablet di pangkuannya, “Aeroflot, low cost carrier. Langsung dari Domodedovo Airport ke Ngurah Rai.” Mulutku melecu. Untuk apa bertanya kalau sudah tahu?
Tak perlu resah, kata Luh, bukankah kalian hanya sepasang kakak beradik dan bukan sepasang kekasih? Aku melengos. Seharian kalimat-kalimatnya sama sekali tak menenangkan. Tapi mengapa harus aku tak tenang? Luh menyeduh kopi dan menuangkannya ke cangkir-cangkir kaca seperti biasa, satu untukku satu untuknya, pertanda ini sudah pukul lima, sudah dekat senja. Harum kafein menguar, bersahutan dengan aroma gula merah. “Minumlah, ini sempurna,” ia berlagak bersulang dengan senyumnya yang selalu menggoda, namun entah kenapa sore ini di mataku terkesan meledek.
***
Anna mengabarkan baru saja mendarat, berarti bisa tiba di sini dalam satu jam, asal kondisi lalu lintas Badung-Karangasem tak kelewat padat. Aku membayangkan apa yang akan kami bicarakan nanti ketika bertemu muka. Apakah aku harus menyambutnya dengan gembira atau memeluknya penuh rindu, mengingat kami adalah kembaran yang terpisah puluhan tahun? Atau kujelaskan saja langsung kepadanya bahwa aku sama sekali tak percaya versinya tentang riwayat kami. Kalaupun aku menerima kunjungannya, semata-mata demi sopan santun, menuruti saran istriku, bukan memenuhi penasaranku tiba-tiba memiliki saudara kandung. Seumur hidup aku yatim piatu, tak punya asal-usul, orokku ditemukan di halaman pura Desa Tumbu, kata orang ibuku bukan manusia, melainkan arca batu.
Anna memperkenalkan dirinya dengan cara yang amat formal, tegak dekat leneng di pintu gerbang, menghadapku dengan sikap tubuh lurus dan senyum ramah. Menyebut namanya, menanyakan kabar, mengagumi rumah tradisional kami sambil tetap berdiri. Lalu seperti sudah terencana, lengannya bergerak laksana petugas pengibar bendera pada upacara di halaman gedung-gedung negara, membentuk persis sudut siku-siku, menyodorkanku sebuah kotak kayu seukuran kotak sepatu, “Dari ibu.”
Apakah maksudnya ini oleh-oleh, hadiah, wasiat atau apa, tak diterangkannya. Jadi kuterima pemberiannya itu dengan separuh syak dan sebuah pertanyaan tak bermutu, “Ia menitipkannya padamu?”
“Pada hari terakhir Ibu sadar.”
Aku tak siap harus menimpali apa. Melihatku canggung, Luh buru-buru menyela, “Mari, mari masuk jeroan. Kita ngeraos, ngobrol-ngobrol di dalam….” Mulutnya langsung nyerocos menanyakan apa saja, tangannya lalu sibuk menawarkan berbagai penganan kampung yang sejak tadi disiapkannya, jaje lukis yang manis, jaje ketimus yang gurih, pisang rai yang legit. Suasana kaku perlahan berubah sesegar es tambring.
Sepasang Matryoshka
Anna mengatakan tak akan tinggal terlalu lama. Ia hanya membawa satu koper tanggung dan satu tas tangan yang ditentengnya ke mana-mana, mirip kantung ajaib karena dari dalamnya ia mengambil berbagai macam benda, termasuk sebuah album kecil, “Ini kakek,” ditunjuknya potret lelaki berkumis setebal milik Stalin. Seorang perempuan tambun tersenyum anggun yang duduk dekat pria berkumis itu diperkenalkannya sebagai nenek. Kemudian seraut wajah tirus berdiri semampai, disebutnva sebagai Ibu. Wajah wanita ayu dalam gambar itu seperti kukenal entah di mana, mirip seseorang tapi aku lupa siapa. Di situ ia berpose mendekap sesosok bocah mungil montok bertopi renda di puncak kepala. Anna tersenyum seakan ingin mempermaklumkan dirinya sendiri di masa lalu, “Itu aku.”
Istriku tertawa gemas ketika mengatakan lucu sekali anak ini, manis sekali.
“Nah, ini kau,” Anna menarik sepucuk foto lagi, melihat ke arahku. Telunjuknya menuding wajah bayi yang terbungkus selimut serapat kepompong, sebelah pipinya menempel pada pundak kiri seorang lelaki muda berkulit sawo tua, berperawakan sedang, berkemeja longgar, berjas tanpa dasi, tak berpeci, “Dan ini Bapak.”
“Cukup!” putusku. Anna kaget, dahinya mengernyit. Luh ikut gugup, tersenyum kecut, tikar lampit tempat kami duduk ikut-ikut menciut.
“Jangan teruskan omong kosong ini,” aku mendesis.
“Maksudmu?” Anna herusaha berhati-hati.
“Maaf, Anna,” aku mulai iba kepadanya, “Barangkali memang saja kau dan aku memiliki beberapa hal yang sama. Tapi sudah pasti kita bukanlah saudara!”
Anna terdiam sebentar. “Kau harus tahu, Ibu membuat sebuah lemari yang berisi baju-bajumu. Masih utuh sampai sekarang. Setahun sekali ia menjahit setelan baru seukuran tubuhmu, membelikanmu sepasang kaus kaki dan longjohn satu nomor lebih besar setiap Natal.”
“Itu tidak membuktikan apa pun!”
“Tidak ada yang perlu disangkal, Ananta.”
“Dengar,” kurendahkan suara, “Boleh jadi aku lahir dari rahim seorang ibu, mewarisi darah seorang ayah. Tapi kalau alam raya ini saja terjadi karena satu tubrukan maha dahsyat hingga hancur berkeping-keping, bukan mustahil juga pada suatu ketika, sebutir di antara miliaran debu serpihan terhalusnya terbawa angin ke suatu bukit yang luar biasa jauhnya, tersambar petir, tercatu listrik, lalu hidup, dan… jadilah aku!” Anna tak menyangka mendengarku sesinis itu.
Sudah genap setahun ini Ibu terbaring koma. Anna lalu bercerita begitu saja tanpa menghiraukan apakah aku menyimak atau mengabaikannya. Catatan rumah sakit mengatakan batang otaknya masih berfungsi, jantungnya masih berdetak, beberapa organ masih merespons baik. Setiap kali sepupunya yang menetap di Desa Troparyovo datang ke Moskwa menumpang kereta metro untuk menjenguk dan menyanyikan lamat-lamat senandung cinta Katyusha di samping ranjangnya, kepalanya bergerak lemah ke kanan ke kiri seperti berusaha mengikuti tempo. Jika ada seseorang menyebut nama Bapak dan namamu, sudut bibirnya terangkat seperti tersenyum. Saban ada kesempatan anggota keluarga berkumpul membacakan doa untuk kesembuhannya, ujung matanya menitikkan air seperti terharu.
Kata Nenek, bukan rencana Ibu terpisah dari Bapak, tapi waktu itu harus diputuskan bagaimana menyelamatkan anak-anak. Amerika berkoar, agresi komunis sedang mengancam seluruh dunia, sangat-sangat berbahaya, Eisenhower dengan domino effect-nya berteori, jika tidak dihancurkan ideologi ini akan merajalela ke seantero Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Tentara-tentara diturunkan menumpas komunisme di mana-mana, mulai dari Vietnam sampai ke negara-negara sekitarnya yang saling bertetangga. Alih-alih, baku bunuh terjadi setiap hari, di kota, di desa, di perbatasan, di pedalaman, di kampung, di hutan. Semua orang tiba-tiba saja menjadi musuh bagi yang lain tanpa terkecuali. Mayat bergelimpangan sampai nyaris tak terkenali. Dalam nalar perang, sama sekali hal biasa jika ada satu, dua, bahkan seratus orang hilang, atau dihilangkan, sekalipun ia bukan siapa-siapa, tak mengancam, tak membahayakan bahkan tak punya pengaruh apa-apa, seperti Bapak, atau siapa saja yang tahu-tahu enyah, lenyap.
Anna berhenti berkisah. Matanya menyusuri nat-nat lantai keramik di bale daja. Luh meninggalkan kami beberapa saat lalu, pamit ke paon mengambil sesuatu.
“Aku telah terbiasa hidup tanpa Ibu,” kataku. “Tak ada nama Bapak dalam Kartu Susunan Keluarga, akta kelahiran sampai paspor, kolom tempat tanggal lahirku pun kosong,” kutekankan setiap kata sambil kupandangi wajah Anna. Aku ingin ia memercayaiku sebagaimana aku mulai menganggap bualannya masuk akal. Anna hanya mengangguk. Langit adalah pantulan kopi hitam ditaburi remah roti, cahaya ribuan bintang menggambar bayang-bayang lereng Gunung Agung di bahu malam. Wangi dupa melintas menenteramkan.
“Aku sering memikirkan, bagaimana aku bisa sampai di tempat ini.”
“Ibu sering memikirkan di belahan dunia mana kau berada.”
“Ia tak menganggapku mati?”
“Ia menganggapmu selalu ada di dekatnya.”
Kotak yang tadi diserahkan Anna kepadaku, isinya sebuah boneka kayu gendut yang beranak pinak jika dibuka. Yang terbesar seukuran genggaman tangan dewasa, berturut-turut empat lagi lebih kecil, lebih kecil lagi, hingga yang terkecil seukuran ibu jari. Anna mempermainkan gelas belimbing kosong di tangannya, bersandar pada salah satu sakanem, tiang penyangga rumah.
“Aku menghubungi empat ratus empat puluh sembilan akun lelaki seumuranmu di negeri ini. Kutanyai masing-masing dari mereka, adakah di antara kalian yang memiliki matryoshka?”
Anna memerinci sambil tertawa kecil membayangkan lagi perjuangannya, “Seperti menolong pangeran mencari sebelah sepatu Cinderella ke seluruh pelosok dunia. Tapi aku yakin pasti menemukannya.”
Boneka kayu itu kini ada di timanganku, “Jadi, Bapak adalah seorang dokter?” pertanyaanku ini bukan basa-basi. Anna mengangguk, “Dokter muda yang belum sempat berbuat apa-apa, kecuali menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.”
Mataku hangat, “Kata orang-orang sejak dulu, bapakku pemberontak dan ibuku pelacur.”
Terngiang lagi rundungan di masa kecil, untukku yang berkulit putih, berambut merah, bertubuh dan berhidung tinggi. Ke mana pun aku pergi sebayaku akan bernyanyi, cunguhne gede cara nyambu, hidungnya besar seperti jambu, cunguhne gede cara nyambu…. Terus menerus berolok tentang bapak ibuku, sambil tertawa-tawa, menungguku merengek dan akhirnya meraung. Aku marah dan malu, tapi tak tahu harus kepada siapa mengadu. Anna meletakkan gelas dan menghela napas, “Ibu adalah seorang penyair yang beralih jadi buruh pabrik.”
Lama sesudah itu kami sibuk dengan hiruk-pikuk pikiran dan perasaan sendiri. Aku bertanya-tanya, siapa kiranya yang keluar dari perut Ibu lebih dulu di antara kami? Kupindah-pindahkan dari tangan kanan ke kiri, ke tangan kanan, ke kiri lagi—seperti membulatkan jaje pulung-pulung ubi, boneka yang terbuat dari kayu lipa itu lalu kupisahkan dari induknya dengan menariknya satu per satu hati-hati. Pada setiap dasarnya terpahat nama-nama.
Namaku tertera pada yang paling kecil: Ananta, satu suku kata lebih singkat dari nama Bapak, Anantara. Nama Anna, selisih dua huruf dari Ivanna, nama Ibu. Déjá vu ini mengesalkan dan menggelikan pada saat yang bersamaan. Didahului kokok ayam pertama dini hari itu, Anna menyatakan ulang niatnya, “Aku bertekad menemukanmu, untuk Ibu.” Orang-orangan kecil bersusun-susun itu satu-satunya petunjuk ia mengacu.
Dari arah merajan, dengan anteng terlingkar di pinggang bersiap sembahyang, Luh datang menghampiri, sebuah besek bambu berdebu diangsurkannya ke tengah kami. Kukeluarkan isinya, persis seperti yang Anna bawa, boneka kayu gendut yang beranak pinak jika dibuka. Yang terbesar seukuran genggaman tangan dewasa, berturut-turut empat lagi lebih kecil, lebih kecil lagi, hingga yang terkecil seukuran ibu jari. Pada setiap dasarnya terpahat nama-nama, Ananta, Anna, Ivanna, Anantara.
Telapak kaki boneka terbesar bertuliskan kalimat yang sama, Svetit vsegda, Vestit vezde—bersinarlah selalu, bersinarlah di mana saja. Kutipan stanza tua penyair Rusia kesukaan Ibu. “Ibu pernah bilang,” kata Anna, “Pada suatu ketika, tanpa sengaja, bisa saja kita menjadi bagian gelap bahkan tergelap dari kehidupan seseorang. Sungguh pun begitu, jangan padam.”
Matahari belum lagi mekar seutuhnya, tapi sinarnya yang lembut membuat pipi-pipi matryoshka merona. Pagi ini aku adalah seorang anak, seorang adik, seorang lelaki yang memiliki sejarah hidup, setelah separuh abad lebih tanpa kejelasan asal-usul. Perempuan yang duduk di seberangku itu, yang wajahnya mentah-mentah seperti wajahku, kakak kandungku Anna, tampak letih tapi lega. “Ananta,” ia melirih, “Ibu memintamu memaafkannya.”
Vika Wisnu, pengajar Program Ilmu Komunikasi Untag Surabaya dan sukarelawan Gerakan Sadar Autisme. Cerpennya pernah termasuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2014. Tulisan terbarunya dimuat dalam antologi “Tumbuh Bersamamu, 27 Kisah Inspiratif Ibu Anak Berkebutuhan Khusus”. Buku pertamanya, ditulis bersama Gadis & Kika, berjudul BER317AN diterbitkan Penerbit Buku Kompas.
Bambang Pramudiyanto, lahir di Klaten, 10 September 1965. Kini menetap di Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, setelah menempuh pendidikan STSRI “ASRI” Yogyakarta. Lima Besar The Philip Morris Group of Companies Indonesia Art Award 1995. Selama kariernya sebagai pelukis telah menggelar tiga kali pameran tunggal pada periode 1995 sampai 2001.
[1] Disalin dari karya Vika Wisnu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 14 Oktober 2018
The post Sepasang Matryoshka appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QMX9sU
"Saya hanya berkerja dan bekerja. Tak peduli penilaian orang. Mau jelek, mau gagal, mau berhasil, yang penting saya bekerja"
~Presiden Jokowi.
-----------------------
#Jokowi #JokoWidodo
________________
Temukan gambar quote / kutipan menarik lainnya di: akinini.com
Banyak orang bertanya: "Bisnis apa yang bagus?"
Jawabnya: "Bisnis yang dijalankan, bukan yang ditanyakan terus!"
~Bob Sadino
____________
Kutipan motivasi / inspirasi usaha dari Bob Sadino tentang menjalankan bisnis yang bagus.
________________
Temukan gambar menarik lainnya di: akinini.com
"Tuhan tidak merobah nasibnya suatu bangsa, sebelum bangsa itu merobah nasibnya”
(Bung Karno - Pidato HUT Proklamasi, 1964)
"Umumnya orang tidak suka mendengar kebenaran karena kebenaran itu seringkali menyakitkan"
~ Kwik Kian Gie
(Ekonom, Pendidik, Politikus, Mantan Menteri Indonesia)
___________________
Gambar kutipan kata Kwik Kian Gie tentang orang tidak suka mendengar kebenaran yang menyakitkan.
________________
Temukan gambar quote / kutipan / inspirasi menarik lainnya di: akinini.com
“Lebih baik kamu dibenci karena menjadi dirimu sendiri, daripada kamu disukai karena menjadi orang lain”
~Kurt Cobain (Nirvana)~
"Kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa."
____________________
Kutipan kata-kata Ir. Soekarno,
(Presiden pertama Republik Indonesia)
____________________
Find more Soekarno quotes: akinini.com
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”
(Soekarno)
(Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
"Bukan masalah apakah kucing itu hitam atau putih,
selama dia bisa menangkap tikus"
Deng Xiaoping (Pepatah Cina)
Kutipan :
"You may say I'm a dreamer,
but I'm not the only one"
(Imagine ~ John Lennon)
:)
*tetap jaga mimpimu, kawan!
“Di akhir laga saya menghampiri ibu saya dan berkata padanya : gol-gol itu untuknya..” ~ (Super) Mario Balotelli ~
Kekecewaan adalah salah satu cara TUHAN dalam berkata :
“Aku punya sesuatu yang lebih baik buat mu”
Jangan Menyerah!
"Jika orang-orang ingin menjatuhkanmu, itu menunjukkan bahwa kamu berada di atas mereka"
Be Strong ~ Akinini.com
"Bersyukur pada-Mu ya, Allah..
Kau jadikan kami saudara..
Indah dalam kebersamaan
(Hilanglah semua perbedaan)"
~ Opick feat. Amanda
"Cinta pasti lebay .. Jika tidak sampai lebay, berarti bukan cinta ... Cinta yang tertata & resmi selalu menyembunyikan niat bisnis"
~Mario Teguh~
"Cara terbaik untuk menghancurkan seorang musuh, adalah dgn menjadikannya seorang teman"
~ Abraham Lincoln ~
Save Kejujuran Persatua dan Keadilan dalam diri kita masing-masing.
________________
Temukan gambar menarik lainnya di: akinini.com