View allAll Photos Tagged ancaman

Sejarah dari orang Kurd

The Kurd adalah keturunan Indo strains kanan di The Edge dari pegunungan Zagros selama milenium SM Sebagai awal sebagai 2000 SM ada orang yang disebut kardaker dianggap sebagai orang Kurd "Tulus.

Tadinya hanya 636 AD perubahan yang besar di kawasan ini menjadi tempat sebagian besar orang Kurdi, sebagai akibat dari Arab rebutan kereta api, telah Islamism.

 

Pada awal 1500s menjadi Kurdistan Terluka spot keras untuk memerangi antara Turki dan Kekaisaran Persia. Pada pertengahan 1800-an yang pertama pembagian wilayah antara dua empayar. Pada akhir Perang Dunia I itu lanjutan dari berbagi kamar. Kurdistan sekarang telah dibagi menjadi empat bagian, antara empat negara, Turki, Iran, Irak dan Syria. Kurd yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan berulang kali dijanjikan semacam otonomi di negara-negara baru. Tetapi ada telah menjanjikan betrayed. Menjernihkan yang tidak berbicara CENT nasionalisme minoritas yang kuat. Kepentingan ekonomi dan bentuk penjajahan negara juga menonton melalui oljerikedomer dikemukakan sekali lagi di wilayah Kurdi. Kurd yang tetap masyarakat tanpa negara.

 

Agama

Kurdena yang mayoritas Muslim, mayoritas Sunnis. Terbesar non-kelompok Muslim di kalangan orang Kurd adalah yezideierna, sebuah mazhab yang telah berakar pada Zoroastrianisme. Ada beberapa kelompok agama kecil lainnya di Kurdistan.

 

Bahasa

Kurdi masuk ke dalam bahasa-bahasa Indo dan keluarga adalah salah satu bahasa dari bahasa indoiranska grup. Kurdî Pemindaian memiliki beberapa dialek. Kedua utama Kurdi dialek utara juga dikenal sebagai kurmanji dan sydkudiska juga disebut Sorani. Kedua dialek juga ditulis hari ini, meskipun dengan berbagai alpha-bit.

 

The Kurd di Turki

Mayoritas orang Kurd tinggal di Turki. Mereka diperkirakan antara 14 dan 15 juta. Dalam Turki bahkan tidak mengenali Kurdi 'keberadaan. Semuanya adalah dilarang dan mengenai Kurd Kurdistan. Pendurhakaan oleh Kurdi dicapai oleh pergantian abad dan sampai 30-an telah dilumatkan dalam cara yang paling kejam. Anak-anak, perempuan tua dan dibakar di kayu atau tertutup di dalam gua di gunung. Ribuan Kurdi yang dideportasi dari Kurdistan untuk orang-orang dari bagian barat Turki, khususnya ke wilayah Konya.

 

The Kurd Kurd di Iran di Iran berjuang berdampingan dengan lainnya atas Iran Kamis melemparkan non-demokratis dan tidak adil Shah sistem. Ia bertindak untuk perbaikan. Namun hasilnya apa demokrasi dan keadilan. A reaksioner tdk demokratis dan kepemimpinan Islam, terkenal teror itu daya. Pada awal dikontrol dengan Kurdi di seluruh daerah mereka. Tetapi Khomeny dinyatakan yang disebut "pekan perang" terhadap Kurdi dan pasukan Islam, ayah dari Kurdistan. Mereka merusak semua penanganan pemberontak Kurdi yang singa. Selama tahun pertama dilaksanakan lebih dari 50.000 Kurds.

 

Para orang Kurd di Irak's adikara rezim di Irak telah melakukan suatu kebijakan terhadap RACISTES kurderna.Den mencoba Kamis memusnahkan semua Kurdi. Teror, penghinaan, terpaksa mengungsi dan förarabisering dari Kurdistan adalah rezim kebijakan. Kurdi kebebasan dicarikan tanggapan untuk senjata kimia.

 

Kurds di Syria di Syria diperkenalkan selama sadar mendiamkan Arabization sebuah kebijakan terhadap Kurds. Di mana orang Kurd yang tidak memiliki identitas dan dokumen sebagai pengungsi, meskipun mereka telah tinggal di sana untuk generasi. Kurdistan di Syria, yang Kurdi tidak ada perjuangan bersenjata, tetapi damai motståndsrörelen Kamis mencoba mencapai tujuan yang adil dan jämlighet untuk Kurds.

 

Saat ini situasi di Kurdistan Kurd Kurdistan di Irak meningkat sampai setelah Perang Teluk I, dan liberated seluruh wilayah mereka. Tetapi apabila Irak menyerang Kurdi melarikan diri hampir dua setengah juta Kurdi leher atas kepala Anda meninggalkan Irak Tentara. Kebanyakan melarikan diri ke Iran dan Turki. Skala massa ini bersama dengan keprihatinan mengenai berbagai pelemahan terhadap seluruh Timur Tengah diminta Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah aktor lain internasional Kamis menanggapi situasi sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. Dewan Keamanan mengadopsi resolusi 688 terkait Sekutu untuk mengirim pasukan penjaga keamanan PBB dan Kamis Kurdistan di Irak untuk mendirikan dan luar negeri yang bebas zona. Kurdi masalah yang menjadi isu internasional seperti belum pernah dalam sejarah. Meskipun biaya yang besar dari penderitaan manusia di Irak di Kurdistan Kurd diajar bahwa mereka akan membawa perkembangan positif bagi masyarakat internasional secara keseluruhan.

1992 memilih kurdena sendiri parlemen dan pemerintah Kurdi Kamis menyetir di daerah. Sayangnya ini tidak tetap dan perang antara kedua kelompok utama Kurdi kalau yang bagian untuk hubungan menjadi lebih buruk lagi untuk orang Kurd Kurdistan di Irak. Iran, Turki dan Irak telah menempatkan dirinya di dalam konflik, yang mengganggu kemampuan untuk mencari solusi.

Kurd yang di-Iran dan Syria Kurdistan belum mengalami perubahan dramatis setelah Perang Teluk. Gerakan Kurdistan di Iran telah menjadi sesuatu yang tinggi dan memerangi pergi.

Perlawanan Kurdi di Turki Kurdistan telah berkembang menjadi sebuah gerakan massa di kota-kota besar di daerah, termasuk kegiatan demonstrasi populer dan pemberontakan. Sementara itu, Turki Tentara kekejaman terhadap orang Kurd telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kurd yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Kota-kota dan desa mereka hancur, sistem mereka untuk hutan yang membakar. Perempuan yang dipilih, tetapi disiksa untuk Tewas dan penjara yang penuh dari kaum muda. Ada yang sedang berlangsung Genosida Kurdistan di Turki. Orang yang takut dan tidak berani keluar selain dalam grup. Ini merupakan pilihan kecil dari apa yang terjadi di Turki Kurdistan hari ini.

 

Halabja Halabja adalah sebuah kota di selatan Kurdistan, ia hanya memiliki sekitar 70.000 jiwa. Rabu, 16 Maret 1988 ansöll Irak udara perdamaian di kota Pada tanggal 16 berbagai kesempatan. Dalam setiap serangan pesawat berpartisipasi 6-8. Yang bom yang Turun atas kota ini gasbomber berisi beberapa internatioellt dilarang Racun kimia. Setidaknya lima ribu orang, sebagian besar anak-anak, perempuan dan lama, segera meninggal. Dan 10.000 orang luka. Kota semua penduduk melarikan diri, sebagian besar ke Iran. Sejak musim semi tahun 1991, telah banyak dipindahkan kembali ke Halabja. Di antara orang Kurd dari Halabja disebut "Kurdistan Hiroshima."

255) Black Drongo

Black Drongo, Dicrurus macrocercus, Cecawi Hitam

This is a common resident breeder in much of tropical southern Asia from southwest Iran through India and Sri Lanka east to southern China and SouthEast Asia. It is a wholly black bird with a distinctive forked tail. The species is known for its aggressive behaviour towards much larger birds, such as crows, never hesitating to dive-bomb any bird of prey that invades its territory. This behaviour earns it the informal name of king crow. Smaller birds often nest in the well-guarded vicinity of a nesting black drongo. The black drongo is found predominantly in open country and usually perches and hunts close to the ground. They are mostly aerial predators of insects but also glean from the ground or off vegetation. They feed mainly on insects such as grasshoppers, cicadas, termites, wasps, bees, ants, moths, beetles and dragonflies. They sometimes fly close to tree branches, attempting to disturb any insects that may be present. They congregate in fields that are being ploughed, picking up exposed caterpillars and beetle grubs.

Cecawi Hitam adalah cecawi yang agresif melindungi kawasannya terutama apabila bersarang. Ia akan menyerang burung pemangsa yang lebih besar jika ada ancaman kepada sarangnya. Burung ini lazimnya ditemui di kawasan terbuka dimana ia memburu di atas tanah dan juga di kawasan bersemak.

Exif: f8, 1/800, ISO 640, focal length 800mm, Cik Canon EOS 50D, lens Canon 400mm, TC 2.0, handheld

 

SHELTER - by Alysia Marie

 

I can’t prevent the rain from falling,

Oh no, I can’t prevent the storm-

But I’ll be here for you when you’re frightened,

And craving shelter from it all.

 

Even through a drizzle,

Or a mighty hurricane-

I’ll brace the weather whole heartedly,

If it means that you are safe.

 

For if the beast that’s brewing,

Is tearing down your forests limb by limb-

And the travesties he’s causing,

Are forcing you to walk with him-

I’ll take your hand so quickly,

And run with you so far away-

So this being can’t get hold of you,

And has to seek out other prey.

 

See darling your soul is mighty and pure,

Filled with comforts so serene-

And your mind is made up of fortresses,

Stronger than any part of me-

I’ll never give up if it means bringing you home,

To the comforts you once knew-

The safety of your own body and mind,

Every beautiful part of you.

 

from : hellopoetry.com

Photographer : Greenboy a.k.a Budakijau

 

::Bissmilah'hirohma'nirohhim...Alahamdulillah ketemu lagi kita dengan penghulu segala hari,Syukur alhamdulillah allah masih memberi kita peluang bertemu dengan Kerohmatan hari,allhamdulillah,satu foto untuk di kongsi bersama sahbat2 terhebat disini,mohon kritikan untuk menambahbaikkan dlm photography,lame sungguh rasanya dok share salam jumaat,asyik kene tag nga sahabat2 nok reboh rasa,foto ini tidak melaui sebarang sentuhan dalam photoshop melainkan watermark,mohon tunjuk ajar dr sahabat2::

 

Exif : No Crop & No Edit

Single Exposure

22 Jan 2012,18:42PM

Shot in NEF

Process : CS3

Apacture : 1/25sec f22

Filter : GND0.6h

Exposure Program : M

Matering Mode: Pattern

ISO Sensitivity : 1VE under 200

Flash: No

Focal Lenght : 10mm

Exposure Bias : -0.3VE

Camera: Nikon D300s

Lens : Sigma 10-20mm f4

White Balance : Auto

Picture Control : Greenboy BW

 

keep in touch : www.facebook.com/greenboyoriginal or www.flickr.com/photos/budakijau or www.http://500px.com/GreenboyOriginal

 

Ancaman Meninggalkan Solat Jumaat

Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah r.a keduanya menceritakan bahawa mereka mendengar daripada Rasulullah s.a.w, ketika baginda sedang berkhutbah di atas mimbar, sabdanya:”Hendaklah orang-orang yang suka meninggalkan Jumaat menghentikan perbuatan mereka itu, atau adakah mereka mahu Allah membutakan hati mereka dan sesudah itu mereka betul-betul menjadi orang yang lalai?”

(Muslim)

 

Huraian:

Meninggalkan solat Jumaat merupakan perbuatan yang ditegah kerana solat jumaat hukumnya adalah fardhu ain ke atas setiap individu muslim. Orang yang meringan-ringankan hukum Allah ini akan mengundang kemurkaan-Nya dan mereka bakal menerima balasan yang setimpal dengan dosa yang dilakukan. Bahkan orang yang enggan mentaati suruhan Allah pintu hatinya lama-kelamaan akan tertutup daripada mendapat hidayah menjadikan mereka semakin sesat dan tanpa segan terus melakukan dosa-dosa yang lain.

Sesungguhnya orang yang dibenarkan meninggalkan solat Jumaat hanyalah mereka yang menghadapi kesukaran yang mencapai darjah keuzuran syar’i sepertimana yang berlaku kepada orang sakit dan orang musafir. Oleh itu sekiranya seseorang itu tiada sebarang alasan yang munasabah di sisi syarak untuk meninggalkan solat Jumaat, maka hendaklah mereka mengerjakannya kerana solat Jumaat selain dariapada suatu kewajiban dalam beribadat kepada Allah S.W.T ia juga merupakan suatu syiar Islam yang wajib dipelihara demi menjaga kesucian agama.

Photographer : Greenboy a.k.a Budakijau

 

::Sambil-sambil merindui karya digital photography guru saya,melayan satu perasaan nok up 1 gmbor sunrise,last shutter pd 27hb lepas,di Telok Cempedak Kuantan,mohon pandangan & tunjuk ajar untuk penambah baikkan::

 

Exif : Single Exposure

287 Jan 2012,07:52AM

Shot in NEF

Process : CS3

Apacture : 1/10sec f20

Filter : GND0.6h

Exposure Program : M

Matering Mode: Pattern

ISO Sensitivity : 1VE under 200

Flash: No

Focal Lenght : 10mm

Exposure Bias : -0.3VE

Camera: Nikon D300s

Lens : Sigma 10-20mm f4

White Balance : Auto

Picture Control : Greenboy Landscape

 

keep in touch : www.facebook.com/greenboyoriginal or www.flickr.com/photos/budakijau or www.http://500px.com/GreenboyOriginal

 

::Wasilah menghampirkan diri kepada Allah SWT dan mencapai cinta-Nya::

 

Daripada Abu Hurairah r.a katanya : Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman: “Sesiapa yang memusuhi wali-wali-Ku sesungguhnya Aku mengisytiharkan perang ke atasnya. Dan tidaklah seseorang hamba itu menghampirkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku cintai melainkan dengan apa yang telah Aku fardhukan ke atasnya, berterusanlah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada mu dengan mengerjakan (amalan-amalan) nawafil hinggalah Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku adalah penglihatannya yang dengannya ia melihat dan tangannya yang dengannya ia memegang dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Dan jika ia meminta dari-Ku, Aku akan mengurniakannya dan jika ia memohon perlindungan dengan-Ku, Aku akan melindunginya”.

(Al-Bukhari)

 

Huraian:

Wali adalah hamba-hamba Allah yang ikhlas dalam melaksanakan perintah Allah SWT semata-mata kerana Allah SWT. Ini tersebut dalam firman Allah SWT yang bermaksud: “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimah-kalimah (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62-64)

Apabila hati penuh dengan kebesaran Allah SWT maka dihapuskan apa yang selain darinya. Dia tidak akan berbicara melainkan dengan zikir kepada Allah, tidak mendengar melainkan tentang Allah SWT, tidak melihat melainkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Setiap orang yang menyakiti wali Allah, contohnya seorang yang fasik memusuhi wali disebabkan sentiasa menegahnya daripada melakukan kejahatan dan maksiat, maka Allah SWT akan memusuhinya. Ini disebabkan seorang wali merupakan mereka yang benar-benar mencintai Allah dan sentiasa menghampirkan diri pada-Nya maka sebagai balasannya Allah akan memeliharanya dan mengawasinya daripada segala ancaman yang tidak baik kerana ia seolah-olah telah menyakiti Allah juga.

Amalan-amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT ialah mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya serta banyak mengerjakan amalan-amalan sunat dan kebajikan. Antara doa yang selalu dibaca oleh untuk menjadikan diri kita dekat kepada Allah ialah sebagaimana doa Rasulullah SAW yang bermaksud:” Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hati ku, cahaya di dalam penglihatan ku dan cahaya di dalam pendengaran ku.” Sesungguhnya doa seorang wali adalah mustajab.

Golongan wali-wali yang paling utama di sisi Allah SWT ialah para Nabi dan Rasul yang maksum disusuli pula oleh para sahabat dan mereka yang datang selepasnya.

   

Jakarta, KPonline – Polda Metro Jaya akhirnya mengeluarkan Maklumat Kapolda Metro Jaya tentang penyampaian pendapat di muka umum. Edaran maklumat Kapolda Metro Jaya Nomor Mak/04/XI/2016 tertulis secara gamblang peraturan yang mendasari soal unjuk rasa di muka umum dan ancaman bagi para ...

 

mediaburuh.com/isi-maklumat-polri-tentang-penyampaian-pen...

[Al-Islam edisi 792, 25 Rabul Akhir 1437 H – 5 Februari 2016 M]

 

Belakangan ini, isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) kembali menyeruak. Beberapa bulan lalu masyarakat dihebohkan oleh perkawinan sejenis di Bali yang dirayakan bak pesta. Setelah itu juga muncul mirip perayaan perkawinan sejenis di Boyolali Jawa Tengah. Paling akhir, isu itu kembali mencuat setelah munculnya lembaga konseling Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia (UI). Menanggapi hal itu, Menristek Dikti Mohamad Nasir mengatakan bahwa kelompok LGBT tidak boleh masuk kampus (Antara, 23/1).

 

Pernyataan itu mendapat protes dari mereka yang pro LGBT. Menanggapi hal itu, melalui akun twitter-nya @mensristekdikti, Senin (25/01/2016), Nasir menyatakan di antaranya, “Bukan berarti saya melarang segala kegiatan yang ada kaitannya dengan LGBT. Mau menjadi lesbian atau gay itu menjadi hak masing-masing individu. Asal tidak mengganggu kondusivitas akademik.”

 

Serbuan Virus LGBT

 

Sejak awal tahun 2000-an, serbuan virus LGBT mulai banyak menyerang negeri ini. Serbuan LGBT di negeri ini dilakukan secara akademik, politik dan sosial. Secara akademik, penyebaran ide LGBT di antaranya berlindung di balik kajian akademik. Banyak organisasi LGBT bergerak dari atau di kampus-kampus dan menyerukan ide LGBT melalui tulisan. Secara politik mereka melakukan gerakan politik: melakukan aksi di Bundaran Hotel Indonesia, berusaha mempengaruhi berbagai kebijakan politik dan bekerjasama dengan berbagai lembaga khususnya lembaga yang bergerak di bidang advokasi dan HAM. Ada juga pertemuan 29 ahli HAM di UGM Yogyakarta pada tanggal 6-9 November di 2006 yang menghasilkan dokumen “Prinsip-prinsip Yogyakarta” (The Yogyakarta Principles). Dokumen tersebut berisi tentang Penerapan hukum HAM Internasional dalam kaitannya dengan Orientasi Seksual dan Identitas Gender. Dokumen yang terdiri dari 29 prinsip itu juga disertai rekomendasi kepada pemerintah, lembaga antar pemerintah daerah, masyarakat sipil dan PBB itu sendiri.

 

Secara sosial, propaganda LGBT diserukan dengan beragam cara dan sarana. Melalui organisasi peduli AIDS dilakukan advokasi dan konsultasi, film, aksi di lapangan, budaya, media massa dan sebagainya. Targetnya untuk menyebarkan ide LGBT dan mengubah sikap masyarakat agar toleran dan menerima perilaku LGBT. Di antaranya dinyatakan, LGBT hanya merupakan ekspresi seksual dan gender dari faktor gen, keturunan dan bawaan.

 

Bukan Bawaan

 

LGBT tidak terbukti secara ilmiah merupakan fenomena dari faktor gen. Kode gen “Xq28”. yang selama ini ditengarai sebagai gen pembawa kecenderungan fenotepe homoseksual, tidak terbukti mendasari sifat dari homoseksual.

 

Pada 1999, Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, bersama timnya melakukan riset terkait hal itu. Hasil penelitian mereka mengungkap tidak adanya kaitan gen Xq28 yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria. Penelitian juga dilakukan oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago, di tahun 1998-1999. Hasilnya juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas. Ruth Hubbard, seorang pengurus “The Council for Responsible Genetics” mengatakan, “Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks.”

 

Jadi, perilaku LGBT bukanlah karena faktor bawaan, bukan faktor keturunan. Perilaku LGBT bukan sesuatu yang “dipaksakan” sehingga tidak bisa ditolak atau harus diterima keberadaannya.

 

Dalih Kebebasan dan HAM

 

Penyebaran ide dan perilaku LGBT menggunakan dalih kebebasan dan HAM. LGBT dibenarkan dengan ide relativitas kebenaran dan moral. Intinya, tidak ada kebenaran tunggal yang mengikat semua orang. Kebenaran bersifat majemuk; bergantung individu, budaya dan konteks sosial tertentu. Semua orang harus toleran terhadap perbedaan ukuran moralitas serta ukuran benar dan salah menurut pihak lain. Karena itu, menurut ide ini perilaku LGBT tidak boleh dipandang sebagai perilaku menyimpang, tak bermoral dan abnormal. Menurut ide ini, LGBT hanya merupakan keberagaman orientasi seksual seperti halnya perbedaan suku, agama, ras dan budaya dalam masyarakat. Perilaku LGBT dianggap manusiawi dengan dalih tidak merugikan orang lain. Yang penting perilaku seksual yang terjadi aman, nyaman dan bertanggung jawab. Masyarakat lantas dituntut toleran terhadap perilaku menyimpang LGBT.

 

Selain itu setiap orang bebas untuk mengekspresikan diri, dan itu adalah bagian dari HAM. Dari sudut pandang kebebasan dan HAM, pelaku LGBT hanya mengekspresikan orientasi seksual dan identitas gender yang jadi pilihannya sebagai bagian dari hak asasinya. Berdasarkan dalih kebebasan dan HAM itu, penentangan atas perilaku LGBT kemudian dianggap sebagai pelanggaran HAM.

 

Pandangan Islam

 

Ide kebebasan dan HAM yang mendasari dan digunakan sebagai pembenaran perilaku seks menyimpang, termasuk perilaku LGBT, adalah ide yang menyalahi dan bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, manusia tidak bebas sebebas-bebasnya. Pandangan dan perilakunya harus terikat dengan syariah Islam. Seorang muslim tidak bebas berpandangan dan berperilaku sesukanya sesuai hawa nafsunya. Allah SWT berifirman:

 

)وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا (

 

Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah (TQS al-Hasyr [59]: 7).

 

Karena itu dalam Islam negara berkewajiban membina dan memupuk keimanan dan ketakwaan warganya. Dengan ketakwaan itu maka ide dan perilaku yang menyalahi ketentuan Islam, termasuk LGBT, akan bisa dicegah dan diminimalisasi dari masyarakat.

 

Allah SWT menjelaskan bahwa tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan adalah untuk kelangsungan jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS an-Nisa [4]: 1). Karena itu hubungan seksualitas yang dibenarkan dalam Islam hanyalah yang ada dalam ikatan pernikahan yang sah secara syar’i. Semua hubungan seksualitas di luar ikatan pernikahan adalah ilegal dan menyimpang. Lesbian, homoseksual, anal seks, perzinaan, semuanya adalah perilaku seks yang menyimpang; tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang normal. Semua itu juga menjadi ancaman terhadap keberadaan umat manusia dengan segala martabat kemanusiaannya.

 

Selain itu terdapat nas yang secara khusus menjelaskan bahwa homoseksual adalah perilaku terlaknat. Rasul saw. bersabda:

 

«مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ »

 

Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual) (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).

 

Perilaku transgender juga merupakan perilaku yang dilaknat dalam Islam. Ibnu Abbas ra. mengatakan:

 

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ »

 

Rasulullah saw. telah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

 

Karena itu di dalam Islam, ide dan perilaku LGBT jelas menyimpang dan abnormal. Ide LGBT adalah ide haram. Perilaku LGBT adalah perilaku dosa. Karena itu ide LGBT tidak boleh tersebar di masyarakat. Siapa saja yang menyebarkan, mendukung dan membenarkan ide LGBT jelas berdosa dan layak dikenai sanksi sesuai ketentuan syariah. Negara dalam Islam harus membersihkan dan menjaga masyarakat dari ide LGBT.

 

Islam menilai homoseksual sebagai dosa dan kejahatan besar. Islam menetapkan sanksi hukum yang berat terhadap pelakunya. Siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth dan terbukti dengan pembuktian yang syar’i maka pelaku dan pasangannya dijatuhi hukuman mati, tentu selama itu dilakukan suka rela, bukan karena dipaksa. Ibnu Abbas ra. menuturkan, Rasul saw. bersabda:

 

« مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ »

 

Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, bunuhlah subyek dan obyeknya (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

 

Wahai Kaum muslim:

 

Dengan ketentuan Islam itu, masyarakat akan bisa dijaga sebagai umat manusia yang berbeda dengan binatang. Masyarakat juga bisa dijauhkan dari berbagai ide dan perilaku berbahaya termasuk LGBT. Semua itu akan terwujud sempurna jika syariah Islam diterapkan secara total dan menyeluruh. Di situlah pentingnya mewujudkan Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah sebagai sistem yang ditetapkan oleh Islam untuk menerapkan seluruh hukum Islam. Oleh karena itu, mewujudkan penerapan syariah Islam secara total dan menyeluruh di bawah sistem Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah harus menjadi agenda utama dan vital bagi umat Islam. Semua elemen umat Islam harus berjuang sungguh-sungguh untuk sesegera mewujudkan Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

 

Komentar al-Islam:

MUI mengeluarkan pernyataan resmi terkait Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Organisasi itu dinilai telah mencampuradukkan ajaran agama. “Mereka meramu tiga agama. Ada bukunya,” ujar Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI, Utang Ranuwijaya, dalam pernyataan resminya. Ia juga menyatakan pengikut Gafatar juga meyakini adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Sosok nabi yang dianggap telah memperoleh wahyu dari Tuhan adalah Ahmad Musadeq. (Detikcom, 2/2).

   

Itu namanya aliran sesat, sesuai 10 kriteria MUI.

Maraknya aliran sesat di negeri ini adalah karena sekularisme, kebebadan dan HAM. Saatnya semua segera segera dicampakkan.

Terapkan syariah di bawah sistem Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah, niscaya Islam dan umatnya akan terlindungi dari bahaya aliran sesat.

  

hizbut-tahrir.or.id/2016/02/03/awas-virus-lgbt-mengancam-... heniputra.my.id/awas-virus-lgbt-mengancam-umat

  

Seorang Inggris, Runnymede Trust mendefinisikan Islamofobia sebagai rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan umat Muslim. Orang yang terjangkit Islamofobia biasanya memiliki persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya Barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama.Adapun Syariahfobia adalah rasa takut dan kebencian terhadap syariah Islam dan menolak apapun yang berasal dari sumber hukumnya. Islamofobia sesungguhnya sudah ada sejak Rasulullah saw. diutus. Saat itu tokoh-tokoh kafir Quraisy menolak dakwah Rasulullah saw. dengan berbagai cara. Mereka mulai dengan cara yang halus yakni lobi dan tawaran harta, tahta dan wanita agar beliau menghentikan dakwah. Saat semua itu gagal, mereka mulai dengan cara yang kasar yakni “black campaign” dengan menyebut Rasulullah sebagai tukang sihir, lalu menganiaya hingga memboikot beliau dan pengikutnya selama sekitar tiga tahun.

Mengapa Muncul Islamofobia dan Syariahfobia?

 

Kita tahu, saat Rasulullah saw. diutus, masyarakat Arab Jahiliah sudah memiliki keyakinan dan tatanan tersendiri yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Bagi mereka, kedatangan Islam dan Muhammad saw. adalah ancaman terhadap eksistensi dan kedudukan mereka selama ini. Mereka memahami betul, Muhammad saw. datang membawa kebaikan. Mereka pun tidak bisa membantah kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau. Namun, mereka pun tahu persis, bahwa lambat-laun tata kehidupan yang selama ini mereka pertahankan akan digantikan oleh Islam. Ini yang mereka khawatirkan.

Saat ini pun kurang lebih demikian. Para elit politik dan ekonomi mati-matian membela sistem Kapitalisme karena mereka sudah mapan dan dibuat nyaman dalam sistem tersebut. Mereka tahu persis, sistem Kapitalisme tidak membawa kebaikan untuk masyarakat luas. Namun, para elit ini khawatir jika sistem Kapitalisme yang selama ini memperkaya kehidupan mereka digantikan oleh sistem Islam, maka eksistensi dan kedudukan mereka pun bisa jadi terancam. Sesungguhnya mereka tahu, sistem Islam akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, karena alasan pragmatisme dan kepentingan dunia sesaat, mereka harus menolak Islam.

Di Balik Isu Toleransi

 

Berbicara toleransi sesungguhnya berbicara tentang sejarah gelap Eropa (baca: Barat) sebagai reaksi terhadap kondisi sosial dan politik saat itu. Mereka menyebut masa itu sebagai “zaman kegelapan” (the dark age), yakni ketika Gereja Kristen mendominasi tata kehidupan masyarakat. Mereka banyak melakukan penyelewengan dan penindasan kepada rakyat dengan mengatasnamakan agama. Gereja melakukan inquisisi, yakni hukuman kepada kaum yang disebut heretic (dicap menyimpang dari doktrin gereja), dengan bentuk penyiksaan yang kejam dan brutal.

Merespon kekejaman dan penindasan atas nama agama tersebut, Jhon Lock kemudian menggagas pentingnya toleransi dengan beberapa doktrin pemikiran. Pertama: Hukuman yang layak untuk individu yang keluar dari sekte tertentu bukanlah hukuman fisik melainkan cukup ekskomunikasi (pengasingan). Kedua: Tidak boleh ada yang memonopoli kebenaran sehingga satu sekte tidak boleh mengkafirkan sekte yang lain. Ketiga: Pemerintah tidak boleh memihak salah satu sekte sebab masalah keagamaan adalah masalah privat. Tiga doktrin inilah yang kemudian membentuk doktrin toleransi di dunia Barat.

Jelas sekali, istilah dan gagasan toleransi adalah respon dan reaksi atas kekejaman dan penindasan gereja dengan mengatasnamakan agama. Sayang, gagasan ini kemudian diekspor ke negeri-negeri Muslim dengan menjadikan agama Islam sebagai sasaran tembaknya. Seolah-olah ketika Islam berkuasa dan menerapkan syariah Islam akan terjadi penindasan sebagaimana yang dialami oleh Barat pada zaman kegelapan. Trauma sejarah inilah yang mereka tularkan kepada “intelektual” Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena itu mereka menolak segala bentuk penerapan dan formalisasi syariah Islam.

Padahal dalam sejarah penerapan syariah Islam selama berabad-abad lamanya, tidak pernah terjadi tragedi kelam sebagaimana yang dialami oleh bangsa Barat pada Abad Pertengahan. Sejarah penerapan syariah Islam adalah sejarah kegemilangan di berbagai aspeknya, termasuk kesetaraan perlakuan terhadap warga negara non-Muslim di wilayah kekuasaan Khilafah Islam.

Karena itu ketika mereka mengekspor gagasan toleransi ke negeri Muslim dan menjadikan intelektual Muslim sebagai agennya, selain salah alamat dan tak berdasar, kemungkinan besar ada motif jahat di baliknya, apalagi kalau bukan motif anti Islam dan anti syariah Islam.

Sederet bukti menunjukkan kepada kita akan hal tersebut. Dalam sejarah Indonesia, misalnya, gagasan Piagam Jakarta yang memuat poin “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” ditolak dengan alasan toleransi dengan pemeluk agama yang lain.

Contoh lainnya adalah penolakan dari kalangan sekular dan non-Muslim terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang dinilai kental bermuatan syariah Islam. Setelah terjadi kompromi, akhirnya konten UU tersebut berubah drastis sehingga akhirnya disahkan menjadi UU Pornografi dengan menghilangkan 2 kata pada judul, yakni “Anti” dan “Pornoaksi”. Alasan penolakannya adalah toleransi terhadap beberapa daerah di Indonesia yang pakaian tradisionalnya masih memperlihatkan aurat sebagaimana yang dimaksud di dalam Islam.

Contoh terakhir adalah penolakan terhadap RUU Minuman Beralkohol yang juga karena dianggap kental syariah Islam walaupun kemudian mereka menolak dengan alasan pariwisata, tenaga kerja dan toleransi terhadap agama yang membolehkan minuman beralkohol.

Di Balik Islamofobia dan Syariahfobia

 

Sesungguhnya isu toleransi hanyalah alat untuk menjegal penerapan syariah Islam dengan cara lebih santun dan lebih diterima semua kalangan. Adapun ide sesat di balik itu semua setidaknya ada tiga: Sekularisme, Hak Asasi Manusia (HAM) dan Pluralisme.

1. Sekularisme.

 

Pada intinya sekularisme menolak agama dijadikan dasar negara. Agama hanya berfungsi mengatur urusan-urusan individual, moral dan ritual. Agama dilarang mencampuri urusan politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan lainnya. Karena agama urusan pribadi, negara tidak boleh mencampuri keyakinan seseorang. Negara tidak boleh menghakimi keyakinan rakyatnya. Karena itu dalam negara sekular, tidak boleh ada hukum agama yang diterapkan secara formal untuk mengatur urusan masyarakat yang plural. Bagi kalangan sekular, penerapan hukum agama secara formal termasuk syariah Islam dianggap intoleran, alias mengusik toleransi antarumat beragama. Pandangan sekular di atas jelas ditolak oleh Islam sekaligus berbahaya. Bila pandangan ini diterima bukan hanya akan terjadi pengerdilan Islam. Islam akhirnya dibatasi pada urusan individual, ritual dan moral saja. Pada akhirnya, penerapan syariah Islam dalam berbagai bentuknya ditolak.

2. HAM.

 

Ide Hak Asasi Manusia (HAM) berasal dari pandangan Barat yang menganggap tabiat manusia pada dasarnya adalah baik, tidak jahat. Kejahatan yang muncul dari manusia disebabkan oleh pengekangan terhadap kehendaknya. Oleh karena itu, kehendak manusia harus dibiarkan bebas lepas agar dia mampu menunjukkan tabiat baiknya yang asli. Dari sinilah muncul ide kebebasan (freedom) yang menjadi salah satu ide yang menonjol dalam ideologi Kapitalisme. Pandangan-pandangan tersebut menjadi dasar bagi apa yang disebut “kebebasan individu”—yang harus dipelihara—sebagai landasan HAM, yang meliputi kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan berpendapat (freedom of speech), kebebasan hak milik (freedom of ownership) dan kebebasan berperilaku (personal freedom). Oleh karena itu negara yang menganut prinsip HAM menolak penerapan syariah Islam karena dianggap intoleran dan mengekang kebebasan individu masyarakat. Pandangan ini jelas berbahaya dan bertentangan dengan Islam.

3. Pluralisme.

 

Paham Pluralisme muncul didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan ‘klaim kebenaran’ (truth claim) yang dianggap menjadi pemicu munculnya sikap ekstrem, radikal, perang atas nama agama, konflik horisontal, serta penindasan atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar. Kaum pluralis juga akan menolak dominasi agama tertentu dalam sebuah masyarakat yang plural, termasuk menolak penerapan syariah Islam dalam sebuah negara, karena dianggap intoleran terhadap pemeluk agama lain dan dianggap bertentangan dengan Pluralisme. Paham ini pun jelas berbahaya dan bertentangan dengan Islam.

Toleransi dalam Pandangan Islam

 

Tudingan Barat dan kalangan sekularis bahwa Islam merupakan ajaran yang intoleran terhadap pemeluk agama lain sama sekali tidak beralasan, tidak sesuai dengan realitas sejarah dan bertentangan dengan konsep Islam dalam memperlakukan non-Muslim.

Dalam hukum Islam, warganegara Khilafah yang non-Muslim disebut sebagai dzimmi. Istilah dzimmi berasal dari kata dzimmah, yang berarti “kewajiban untuk memenuhi perjanjian”. Islam menganggap semua orang yang tinggal di Negara Khilafah sebagai warganegara Negara Islam. Mereka semua berhak memperoleh perlakuan yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi antara Muslim dan dzimmi. Negara harus menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan, akal, kehidupan dan harta benda mereka.

Berikut ini merupakan konsep perlakuan Khilafah Islam terhadap warga negara non-Muslim:

 

1. Non-Muslim berhak menjalankan kepercayaan mereka.

 

Di dalam Islam, Negara Islam tidak boleh memaksa non-Islam untuk meninggalkan kepercayaan mereka (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 256). Namun, umat non-Muslim harus menerima Islam bila telah meyakini akidah Islam secara intelektual. Ini terbukti melalui fakta bahwa hingga hari ini masih ada komunitas Yahudi dan Kristen yang tinggal di kawasan Timur Tengah walaupun Negara Islam telah berkuasa di kawasan tersebut selama 1300 tahun.

2. Non-Muslim mengikuti aturan agama mereka dalam hal makanan dan pakaian.

 

Dalam hal makanan dan pakaian, umat non-Muslim berhak mengikuti aturan agama mereka. Mazhab Imam Abu Hanifah menyatakan, “Islam membolehkan ahlu dzimmah meminum minuman keras, memakan daging babi dan menjalankan segala aturan agama mereka dalam wilayah yang diatur oleh syariah.” Selama hal tersebut dilakukan secara privat dan tidak dilakukan di ruang publik, Negara Islam tidak punya urusan untuk mengusik masalah-masalah pribadi mereka. Namun, bila, misalnya, seorang ahlu dzimmah membuka toko yang menjual minuman keras untuk umum, dia akan dihukum berdasarkan aturan syariah Islam.

3. Urusan pernikahan dan perceraian antar non-Muslim dilakukan menurut aturan agama mereka.

 

Umat non-Islam diijinkan untuk saling menikah antarmereka berdasarkan keyakinan mereka. Mereka dapat dinikahkan di Gereja atau Sinagog oleh Pendeta atau Rabi. Mereka juga dapat bercerai menurut aturan agama mereka.

4. Kesetaraan di hadapan hukum.

 

Di mata hukum, tidak ada perbedaan antara non-Muslim dan Muslim. Hakim (qâdhi) wajib mencermati pembuktian yang disyaratkan menurut syariah semata, bukan menurut aturan lain. Banyak contoh yang menunjukkan bagaimana non-Muslim dapat mengalahkan seorang Muslim di pengadilan. Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., pernah sejumlah Muslim menyerobot tanah yang dimiliki oleh seorang Yahudi dan mendirikan masjid di atas tanah tersebut. Ini jelas melanggar hak Yahudi tersebut sebagai ahlu dzimmah. Khalifah Umar ra. kemudian memerintahkan agar masjid tersebut dirubuhkan dan tanah tersebut dikembalikan pada orang Yahudi tersebut.

Dalam kasus lainnya, pada masa pemerintahan Imam Ali ra., seorang Yahudi mencuri baju zirah milik Khalifah. Imam Ali ra. kemudian mengadukan Yahudi tersebut ke pengadilan dan membawa putranya sebagai saksi. Hakim menolak gugatan sang Khalifah dan menyatakan bahwa seorang anak tidak dapat dijadikan saksi dalam perkara yang melibatkan ayahnya di pengadilan. Setelah menyaksikan keadilan tersebut, si Yahudi kemudian mengaku bahwa ia memang mencuri baju tersebut. Ia akhirnya memeluk Islam.

5. Kesamaan hak ekonomi.

 

Di dalam Khilafah Islam, “Non-Muslim dari kalangan Ahli Kitab memiliki hak yang sama dengan Muslim untuk apapun yang berasal dari Baitul Mal.” Karena itu kaum miskin ahlu dzimmah pun berhak mendapatkan bantuan dari Baitul Mal (Kas Negara).

Selain itu, dalam Negara Khilafah, siapa pun yang memiliki kewarganegaraan dan memiliki kemampuan, lelaki ataupun perempuan, Muslim ataupun non-Muslim, dapat dipilih sebagai direktur atau pegawai departemen administratif. Ini diambil dari aturan tentang pekerja (ijârah), yang membolehkan mempekerjakan orang, terlepas dari apa pun agamanya. Rasulullah saw. sendiri pernah mempekerjakan seorang lelaki non-Muslim dari Bani ad-Dail. Ini menunjukkan bahwa mempekerjakan seorang non-Muslim dibolehkan, sebagaimana mempekerjakan seorang Muslim.

 

6. Non-Muslim memiliki hak politik.

 

Siapapun yang memiliki kewarganegaraan, bila ia dewasa dan berakal sehat, memiliki hak untuk menjadi anggota Majelis Umat. Dalam hal ini, dia memiliki hak untuk memilih anggota-anggota Majelis, baik perempuan maupun lelaki, baik Muslim maupun non-Muslim. Kaum non-Muslim berhak menjadi anggota Majelis Umat, untuk menampung aspirasi kalangan mereka terhadap perlakuan hukum oleh penguasa pada diri mereka, atau untuk mengoreksi kesalahan implementasi hukum Islam atas diri mereka.

Toleransi dan Keadilan Islam

 

Perlakuan adil Negara Khilafah terhadap non-Muslim bukan sekadar konsep, tetapi benar-benar diaplikasikan. Bukan juga berdasar pada tuntutan toleransi ala Barat melainkan karena menjalankan hukum syariah Islam. T.W. Arnold, dalam bukunya, The Preaching of Islam, menulis, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka. Perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.”

Arnold kemudian menjelaskan, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Ottoman, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut, juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik. Kaum Protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam…Kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Luthfi Afandi, SH, MH; (Humas DPD I HTI Jawa Barat)/ABAD KHILAFAH Network]

 

via Abad Khilafah | Mengembalikan Kegemilangan Islam ift.tt/2bN3SCH

🎵 Lagu Pujian dan Penyembahan 2019 - Sepanjang Jalan Dalam Penyertaan-Mu

 

Ku mengembara di dunia,

ku tersesat dan tak berdaya.

Terbangun oleh firman-Mu,

ku melihat cahaya.

Ku t'rima penghakiman firman-Mu.

Ku lihat ku sungguh rusak.

Bercermin pada jalanku, tampilan watak rusakku.

Bersama Tuhan, tidak ada ketakutan,

akan ancaman Iblis.

Bersama Tuhan ku takkan takut bahaya,

ataupun kesukaran.

Setelah jalan yang sulit,

ku sambut hari esok yang indah.

 

Aku sungguh menyesal, dan ku bersyukur t'lah s'lamat.

Belas kasihan-Mu telah mampukan ku 'tuk maju.

Saat jauh, firman-Mu memanggil.

Kau jaga ku dari bahaya.

Ku b'rontak dan Kau sembunyi. Lalu ku jatuh kesakitan.

Saat aku kembali, Kau tersenyum, memelukku.

Saat Setan menyerang dan lukai,

Kau sembuhkan, menghiburku.

Saat ku dalam genggaman iblis,

Kau ikut tanggung deritaku.

Ku yakin fajar 'kan datang, langit 'kan biru lagi.

Bersama Tuhan, tidak ada ketakutan,

akan ancaman Iblis.

Bersama Tuhan ku takkan takut bahaya,

ataupun kesukaran.

Setelah jalan yang sulit,

ku sambut hari esok yang indah.

 

Firman-Mu adalah hidupku.

Ku nikmati setiap hari.

Saat Setan mengepungku,

firman-Mu beri hikmat dan kekuatan.

Saat ku jatuh atau gagal,

firman-Mu pimpinku melewatinya.

Saat aku merasa lemah,

firman-Mu menopang aku.

Saat menghadapi ujian, firman-Mu bimbingku jadi saksi.

Ku hidup dan bicara dengan-Mu, tak ada jarak.

Bersama Tuhan, tidak ada ketakutan,

akan ancaman Iblis.

Bersama Tuhan ku takkan takut bahaya,

ataupun kesukaran.

Setelah jalan yang sulit,

ku sambut hari esok yang indah, hari esok yang indah.

Bersama Tuhan.

 

Dikutip dari "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"

  

🎧 Rekomendasi:

Lirik Lagu Rohani Kristen Terbaru 2019 - Yang Harus Kaum Muda Kejar

  

Candi Gunung Kawi merupakan sebuah kuil abad yang ke-11 di Tampaksiring berdekatan Ubud di pulau Bali, Indonesia. Ia terletak bersebelahan Sungai Pakrisan.

 

Kompleks kuil ini mengandungi 10 batu candi purba (keramat-keramat). Ketinggian 7 meter yang diukir pada cenuram. Monumen-monumen ini didedikasikan kepada Raja Anak Wungsu Dinasti Udayana dan ratu pilihannya.

Candi Gunung Kawi di Kabupaten Gianyar, Bali

 

Ketika memikirkan sebuah candi, mungkin yang terbayang di benak Anda adalah sebuah bangunan utuh yang tersusun dari batu atau bata merah. Namun, di Kabupaten Gianyar, Bali, ada sebuah candi yang tidak dibuat dari susunan batu, melainkan memanfaatkan dinding batu padas di tepi sungai sebagai media untuk membuat rumah ibadah para penganut Hindu tersebut. Caranya, dinding batu tersebut dipahat dan dibentuk menyerupai dinding-dinding candi. Tak hanya itu, dinding-dinding batu tersebut juga dilengkapi dengan ruangan tempat bermeditasi.

 

Candi ini disebut Candi Gunung Kawi, atau biasa juga dijuluki Candi Tebing Kawi. Meskipun merupakan salah satu situs purbakala yang dilindungi di Bali, tempat ini tetap menjadi tempat bersembahyang umat Hindu hingga sekarang. Nama Gunung Kawi sendiri konon berasal dari kata gunung (= gunung atau pegunungan) dan kawi (=pahatan) (http://www.berani.co.id). Jadi, nama gunung kawi seolah menyiratkan makna bahwa di tempat inilah sebuah gunung dipahat untuk menjadi sebuah candi. Kompleks candi yang unik ini pertama kali ditemukan oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920. Sejak itu, candi ini mulai menarik minat para peneliti, terutama para peneliti arkeologi kuno Bali. Menurut perkiraan para ahli, candi ini dibuat sekitar abad ke-11 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu (http://www.berani.co.id).

 

Menurut catatan sejarah, Raja Udayana merupakan salah satu raja terkenal di Bali yang berasal dari Dinasti Marwadewa. Melalui pernikahannya dengan seorang puteri dari Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni, ia memiliki anak Erlangga dan Anak Wungsu. Setelah dewasa, Erlangga kemudian menjadi raja di Jawa Timur, sementara Anak Wungsu memerintah di Bali. Pada masa inilah diperkirakan candi tebing kawi dibangun. Salah satu bukti arkeologis untuk menguatkan asumsi tersebut adalah tulisan di atas pintu-semu yang menggunakan huruf Kediri yang berbunyi “haji lumah ing jalu” yang bermakna sang raja yang (secara simbolis) disemayamkan di Jalu. Raja yang dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan kata jalu yang merupakan sebutan untuk taji (senjata) pada ayam jantan, dapat diasosiasikan juga sebagai keris atau pakerisan. Nama Sungai Pakerisan atau Tukad Pakerisan inilah yang kini dikenal sebagai nama sungai yang membelah dua tebing Candi Kawi tersebut (http://www.purbakalabali.com).

 

Versi lainnya yang berasal dari cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa pura atau candi Tebing Kawi ini dibuat oleh orang sakti bernama Kebo Iwa. Kebo Iwa merupakan tokoh legenda masyarakat Bali yang dipercaya memiliki tubuh yang sangat besar. Dengan kesaktiannya, konon Kebo Iwa menatahkan kuku-kukunya yang tajam dan kuat pada dinding batu cadas di Tukad Pakerisan itu. Dinding batu cadas tersebut seolah dipahat dengan halus dan baik, sehingga membentuk gugusan dinding candi yang indah. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang banyak dengan waktu yang relatif lama itu, konon mampu diselesaikan oleh Kebo Iwa selama sehari semalam (http://www.gianyartourism.com).

 

Candi Gunung Kawi memang unik dan mengesankan. Kesan itu setidaknya dimulai sejak Anda menuruni sejumlah 315 anak tangga di tubir Sungai Pakerisan. Suasana asri yang nampak dari rerimbunan pohon di tepi sungai, juga gemericik air dari sungai yang dikeramatkan di Bali ini membuat pengunjung seolah disambut oleh simfoni alam. Anak tangga-anak tangga untuk menuju Candi Gunung Kawi ini terbuat dari batu padas yang dibingkai dengan dinding batu.

 

Sesampainya di kompleks candi, wisatawan akan menyaksikan dua kelompok percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Candi pertama terletak di sebelah barat sungai, menghadap ke timur, yang berjumlah empat buah. Sedangkan candi kedua terletak di sebelah timur sungai, menghadap ke barat, yang berjumlah lima buah. Pada kompleks candi di sebelah barat, juga dilengkapi kolam pemandian serta pancuran air. Menyaksikan dua kompleks candi ini, Anda akan dibuat takjub oleh pemandangan dinding-dinding batu cadas yang dipahat rapi membentuk ruang-ruang lengkung yang di dalamnya terdapat sebuah candi. Candi-candi ini sengaja dibuat di dalam cekungan untuk melindunginya dari ancaman erosi.

 

 

Seruu.Com - Seperti yang telah diwartakan sebelumnya, hacker menebar ancaman akan menyebarkan foto bugil Emma Watson, artis cantik pemeran 'Hermione' di film populer Harry Potter.

 

entertainment.seruu.com/read/2014/09/25/229240/inikah-fot...

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Api neraka telah dinyalakan selama seribu tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga gelap bagaikan malam yang kelam."

 

GAMBAR HIASAN

Diriwayatkan bahawa Yazid bin Martsad selalu menangis sehingga tidak pernah kering air matanya dan ketika ditanya, maka dijawabnya: Andaikata Allah s.w.t. mengancam akan memanjarakan aku didalam bilik mandi selama seribu tahun. nescaya sudah selayaknya air mataku tidak berhenti maka bagaimana sedang kini telah mengancam akan memasukkan aku dalam api neraka yang telah dinyalakan selama tiga ribu tahu."

 

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari mujahid berkata: "Sesungguhnya dijahannam ada beberapa perigi berisi ular-ular sebesar leher unta dan kala sebesar kaldai, maka larilah orang-orang ahli neraka keular itu, maka bila tersentuh oleh bibirnya langsung terkelupas rambut, kulit dan kuku dan mereka tidak dapat selamat dari gigitan itu kecuali jika lari kedalam neraka."

 

Abdullah bin Jubair meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bahawa didalam neraka ada ular-ular sebesar leher unta, jika menggigit maka rasa redih bisanya tetap terasa hingga empat puluh tahun. Juga didalam neraka ada kala sebesar kaldai, jika menggigit maka akan terasa pedih bisanya selama empat puluh tahun."

 

Al-a'masy dari Yasid bin Wahab dari Ibn Mas'ud berkata: "Sesungguhnya apimu ini sebahagian dari tujuh puluh bagian dari api neraka, dan andaikan tidak didinginkan dalam laut dua kali nescaya kamu tidak dapat mempergunakannya."

 

Mujahid berkata: "Sesungguhnya apimu ini berlindung kepada Allah s.w.t. dari neraka jahannam." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka iaitu seorang yang berkasutkan dari api nerka, dan dapat mendidihkan otaknya, seolah-olah ditelinganya ada api, dan giginya berapi dan dibibirnya ada wap api, dan keluar ususnya dari bawah kakinya, bahkan ia merasa bahawa dialah yang terberat siksanya dari semua ahli neraka, padahal ia sangat ringan siksanya dari semua ahli neraka."

 

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr r.a. berkata: "Orang-orang neraka memanggil Malaikat Malik tetapi tidak dijawab selama empat puluh tahun, kemudian dijawabnya: "Bahawa kamu tetap tinggal dalam neraka." Kemudian mereka berdoa (memanggil) Tuhan: "Ya Tuhan, keluarkanlah kami dari neraka ini, maka bila kami mengulangi perbuatan-perbuatan kami yang lalu itu bererti kami zalim." Maka tidak dijawab selama umur dunia ini dua kali, kemudian dijawab: "Hina dinalah kamu didalam neraka dan jangan berkata-kata."

 

Demi Allah setelah itu tidak ada yang dapat berkata-kata walau satu kalimah, sedang yang terdengar hanya nafas keluhan dan tangis rintihan yang suara mereka hampir menyamai suara himar (kaldai).

 

Qatadah berkata: "Hai kaumku, apakah kamu merasa bahawa itu pasti akan terkena pada dirimu, atau kamu merasa akan kuat menghadapinya. Hai kaumku, taatlah kepada Allah s.w.t. itu jauh lebih ringan bagi kamu kerana itu, taatilah sebab ahli neraka itu kelak akan mengeluh selama seribu tahun tetapi tidak berguna bagi mereka, lalu mereka berkata: "Dahulu ketika kami didunia, bila kami sabar lambat laun mendapat keringanan dan kelapangan, maka mereka lalu bersabar seribu tahun, dan tetap siksa mereka tidak diringankan sehingga mereka berkata: Ajazi'na am sobarna malana min mahish (Yang bermaksud) Apakah kami mengeluh atau sabar, tidak dapat mengelakkan siksa ini.Lalu minta hujan selama seribu tahun sangat haus dan panas neraka maka mereka berdoa selama seribu tahun, maka Allah s.w.t. berkata kepada Jibril: "Apakah yang mereka minta?". Jawab Jibril: "Engkau lebih mengetahui, ya Allah, mereka minta hujan." Maka nampak pada mereka awan merah sehingga mereka mengira akan turun hujan, maka dikirim kepada mereka kala-kala sebesar kaldai, yang menggigit mereka dan terasa pedih gigitan itu selama seribu tahun. Kemudian mereka minta kepada Allah s.w.t. selama seribu tahun untuk diturunkan hujan, maka nampak mereka awan yang hitam, mereka mengira bahawa itu akan hujan, tiba-tiba turun kepada mereka ular-ular sebesar leher unta, yang menggigit mereka dan gigitan itu terasa pedihnya hingga seribu tahun, dan inilah ertinya: Zidnahum adzaba fauqal adzabi. (Yang bermaksud) Kami tambahkan kepada mereka siksa diatas siksa.

 

Kerana mereka dahulu telah kafir, tidak percaya dan melanggar tuntutan Allah s.w.t., kerana itulah maka siapa yang ingin selamat dari siksaan Allah s.w.t. harus sabar sementara atas segala penderitaan dunia didalam mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah s.w.t. dan menahan syahwat hawa nafsu sebab syurga neraka diliputi syahwat-syahwat.

 

Seorang pejungga berkata: "Dalam usia tua itu cukup pengalaman untuk mencegah orang yang tenang dari sifat kekanak-kanakan, apabila telah menyala api dirambutnya (beruban). Saya melihat seorang itu ingin hidup tenang bila dahan pohon telah menguning sesudah hijaunya. Jauhilah kawan yang busuk dan berhati-hatilah, jangan menghubunginya tetapi bila tidak dapat, maka ambil hati-hatinya, dan berkawanlah pada orang yang jujur tetapi jangan suka membantah padanya, engkau pasti akan disukai selma kau tidak membantah kepadanya. Berkawanlah dengan orang bangsawan dan yang berakhlak baik budinya."

 

Maka siapa yang berbuat baik pada orang yang tidak berbudi bererti ia telah membuang budi itu kedalam laut. Dan Allah s.w.t. mempunyai syurga yang selebar langit tetapi diputi dengan kesukaran-kesukaran.

 

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Allah memanggil Malaikat Jibril dan menyuruhnya melihat syurga dengan segala persiapannya untuk ahlinya, maka ketika kembali berkata Jibril: Demi kemuliaanMu, tiada seorang yang mendengarnya melainkan ia akan masuk kedalamnya, maka diliputi dengan serba kesukaran, dan menyuruh Jibril kembali melihatnya, maka kembali melihatnya, kemudian ia berkata: Demi kemuliaanMu saya khuatir kalau-kalau tiada seorangpun yang masuk kedalamnya. Kemudian disuruh melihat neraka dan semua yang disediakan untuk ahlinya, maka kembali Jibril dan berkata: Demi kemuliaanMu tidak akan masuk kedalamnya orang yang telah mendengarnya, kemudian diliputi dengan kepuasan syahwatnya, dan diperintah supaya kembali melihatnya kemudian setelah dilihatnya kembali, berkatanya: Saya khuatir kalau tiada seorangpun melainkan akan masuk kedalamnya."

 

Juga Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Kamu boleh menyebut tentang neraka sesukamu, maka tiada kamu menyebut sesuatu melainkan api neraka itu jauh lebih ngeri dan lebih keras daripadanya."

 

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Maimun bin Nahran berkata: "Ketika turun ayat (yang berbunyi) Wa inna jahannam lamau'iduhum ajma'in (yang bermaksud) Sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai ancaman bagi semua mereka. Salman meletakkan tangan diatas kepalanya dan lari keluar selama tiga hari baru ditemuikannya.

 

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik r.a. berkata: "Jibril datang kepada Nabi Muhammad s.a.w pada saat yang tiada biasa datang, dalam keadaan yang berubah mukanya, maka ditanya oleh Nabi Muhammad s.a.w: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?" Jawab Jibril: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu pada saat dimana Allah menyuruh supaya dikobarkan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahawa neraka jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya." Lalu Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Ya Jibril, jelaskan kepadaku sifat jahannam." Jawabnya: "Ya, ketika Allah menjadikan jahannam maka dinyalakan selama seribu tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun hingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yang mengutuskan engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya. Demi Allah yang mengutuskan engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung diantara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan baranya. Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut Allah dalam Al-Quran itu diletakkan diatas bukit nescaya akan cair sampai kebawah bumi yang ketujuh. Demi Allah yang mengutusmu dengan hak, andaikan seorang dihujung barat tersiksa nescaya akan terbakar orang-orang yang dihujung timur kerana sangat panasnya, jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi dan minumannya air panas campur nanah dan pakaiannya potongan api. Api neraka itu ada mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagian yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."

 

Nabi Muhammad s.a.w bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah-rumah kami?" Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setangahnya dibawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan tujuh puluh ribu tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain tujuh puluh ribu tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain tujuh puluh kali ganda, maka digiring kesana musuh-musuh Allah s.w.t. sehingga bila telah sampai kepintunya disambut oleh malaikat-malaikat Zabaniyah dengan rantai dan belenggu, maka rantai itu dimasukkan kedalam mulut mereka hingga tembus kepantat, dan diikat tangan kirinya kelehernya, sedang tangan kanannya dimasukkan dalam dada dan tembus kebahunya, dan tiap-tiap manusia itu digandeng dengan syaitannya lalu diseret tersungkur mukanya sambil dipukul oleh para malaikat dengan pukul besi, tiap mereka ingin keluar kerana sangat risau, maka ditanamkan kedalamnya."

 

Nabi Muhammad s.a.w bertanya lagi: "Siapakah penduduk masing-masing pintu itu?" Jawabnya: "Pintu yang terbawah untuk orang-orang munafiq, orang-orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mujizat Nabi Isa a.s. serta keluarga Firaun sedang namanya Alhawiyah. Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim, pintu ketiga tempat orang-orang shobi'in bernama Saqar. Pintu keempat tempat iblis laknatullah dan pengikutnya dari kaum Majusi bernama Ladha, pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu keenam tempat orang-orang kristien (Nasara) bernama Sa'ie."

 

Kemudian Jibril diam segan pada Nabi Muhammad s.a.w sehingga Nabi Muhammad s.a.w bertanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ketujuh?" Jawab Jibril: "Didalamnya orang-orang yang berdosa besar dari ummatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat." Maka Nabi Muhammad s.a.w jatuh pengsan ketika mendengar keterangan Jibril itu, sehingga Jibril meletakkan kepala Nabi Muhammad s.a.w dipangkuan Jibril sehingga sedar kembali, dan ketika sudah sedar Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummatku yang akan masuk neraka?" Jawab Jibril: "Ya, iaitu orang yang berdosa besar dari ummatmu."

 

Kemudian Nabi Muhammad s.a.w menangis, Jibril juga menangis, kemudian Nabi Muhammad s.a.w masuk kedalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian masuk kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah s.w.t., dan pada hari ketiga datang Abu Bakar r.a. kerumah Nabi Muhammad s.a.w mengucapkan: "Assalamu'alaikum yang ahla baiti rahmah. apakah dapat bertemu kepada Nabi Muhammad s.a.w?" Maka tidak ada yang menjawabnya, sehingga ia menepi untuk menangis, kemudian Umar datang dan berkata: "Assalamu'alaikum ya ahla baiti rahmah, apakah dapat bertemu dengan Rasulullah s.a.w?" Dan ketika tidak mendapat jawapan dia pun menepi dan menangis, kemudian datang Salman Alfarisi dan berdiri dimuka pintu sambil mengucapkan: "Assalamu'alaikum ya ahla baiti rahmah, apakah dapat bertemu dengan Junjunganku Rasulullah s.a.w.?" Dan ketika tidak mendapat jawapan, dia menangis sehingga jatuh dan bangun, sehingga sampai kerumah Fatimah r.a. dan dimuka pintunya ia mengucapkan: "Assalamu'alaikum hai puteri Rasulullah s.a.w."Kebetulan pada masa itu Ali r.a. tiada dirumah, lalu bertanya: "Hai puteri Rasulullah, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah beberapa hari tidak keluar kecuali untuk sembahyang dan tidak berkata apa-apa kepada orang dan juga tidak mengizinkan orang-orang bertemu dengannya." Maka segeralah Fatimah memakai baju yang panjang dan pergi sehingga apabila beliau sampai kedepan muka pintu rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam sambil berkata: "Saya Fatimah, ya Rasulullah." Sedang Rasulullah s.a.w. bersujud sambil menangis, lalu Rasulullah s.a.w. mengangkat kepalanya dan bertanya: "Mengapakah kesayanganku?" Apabila pintu dibuka maka masuklah Fatimah kedalam rumah Rasulullah s.a.w. dan ketika melihat Rasulullah s.a.w. menangislah ia kerana melihat Rasulullah s.a.w. pucat dan sembam muka kerana banyak menangis dan sangat sedih, lalu ia bertanya: "Ya Rasulullah, apakah yang menimpamu?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Jibril datang kepadaku dan menerangkan sifat-sifat neraka jahannam dan menerangkankan bahawa bahagian yang paling atas dari semua tingkat neraka jahannam itu adalah untuk umatku yang berbuat dosa-dosa besar, maka itulah yang menyebabkan aku menangis dan berduka cita." Fatimah bertanya lagi: "Ya Rasulullah, bagaimana caranya masuk?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Diiring oleh Malaikat keneraka, tanpa dihitamkan muka juga tidak biru mata mereka dan tidak ditutup mulut mereka dan tidak digandingkan dengan syaitan, bahkan tidak dibelenggu atau dirantai." Ditanya Fatimah lagi: "Lalu bagaimana cara Malaikat menuntun mereka?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Adapun kaum lelaki ditarik janggutnya sedangkan yang perempuan ditarik rambutnya, maka beberapa banyak dari orang-orang tua dari ummatku yang mengeluh ketika diseret keneraka: Alangkah tua dan lemahku, demikian juga yang muda mengeluh: Wahai kemudaanku dan bagus rupaku, sedang wanita mengeluh: Wahai alangkah maluku sehingga dibawa Malaikat Malik., dan ketika telah dilihat oleh Malaikat Malik lalu bertanya: "Siapakah mereka itu, maka tidak pernah saya dapatkan orang yang akan tersiksa seperti orang-orang ibi, muka mereka tidak hitam, matanya tidak biru, mulut mereka juga tidak tertutup dan tidak juga diikat bersama syaitannya, dan tidak dibelenggu atau dirantai leher mereka? Jawab Malaikat: "Demikianlah kami diperintahkan membawa orang-orang ini kepadamu sedemikian rupa." Lalu ditanya oleh Malaikat Malik: "Siapakah wahai orang-orang yang celaka?"

 

Dalam lain riwayat dikatakan ketika mereka diiring oleh Malaikat Malik selalu memanggil: "Wa Muhammad." tetapi setalh melihat muka Malaikat Malik lupa akan nama Rasulullah s.a.w. kerana hebatnya Malaikat Malik, lalu ditanya: "Siapakah kamu?" Jawab mereka: "Kami ummat yang dituruni Al-Quran dan kami telah puasa bulan Ramadhan." Lalu Malaikat Malik berkata: "Al-Quran tidak diturunkan kecuali kepada ummat Rasulullah s.a.w.." Maka ketika itu mereka menjerit: "Kami ummat Nabi Muhammad s.a.w" Maka Malaikat Malik bertanya: "Tidakkah telah ada larangan dalam Al-Quran dari ma'siyat terhadap Allah subha nahu ta'ala." Dan ketika berada ditepi neraka jahannam dan diserahkan kepada Malaikat Zabaniyah, mereka berkata: "Ya Malik, diizinkan saya akan menangis." Maka diizinkan, lalu mereka menangis sampai habis airmata, kemudian menangis lagi dengan darah, sehingga Malaikat Malik berkata: "Alangkah baiknya menangis ini andaikata terjadi didunia kerana takut kepada Allah s.w.t., nescaya kamu tidak akan disentuh oleh api neraka pada hari ini, lalu Malaikat Malik berkata kepada Malaikat Zabaniyah: "Lemparkan mereka kedalam neraka." dan bila telah dilempar mereka serentak menjerit: "La illaha illallah." maka surutlah api neraka, Malaikat Malik berkata: "Hai api, sambarlah mereka." Jawab api: "Bagaimana aku menyambar mereka, padahal mereka menyebut La illaha illallah." Malaikat Malik berkata: "Demikianlah perintah Tuhan Rabbul arsy." maka ditangkaplah mereka oleh api, ada yang hanya sampai tapak kaki, ada yang sampai kelutut, ada yang sampai kemuka. Malaikat Malik berkata: "jangan membakar muka mereka kerana kerana mereka telah lama sujud kepada Allah s.w.t., juga jangan membakar hati mereka kerana mereka telah haus pada bulan Ramadhan." Maka tinggal dalam neraka beberapa lama sambil menyebut: "Ya Arhamar Rahimin, Ya Hannan, Ya Mannan." Kemudian bila telah selesai hukuman mereka, maka Allah s.w.t.memanggil Jibril dan bertanya: "Ya Jibril, bagaimanakah keadaan orang-orang yang maksiat dari ummat Nabi Muhammad s.a.w?" Jawab Jibril: "Ya Tuhan, Engkau lebih mengetahui." Lalu diperintahkan: "Pergilah kau lihatkan keadaan mereka." Maka pergilah Jibril a.s. kepada Malaikat Malik yang sedang duduk diatas mimbar ditengah-tengah jahannam. Ketika Malaikat Malik melihat Jibril segera ia bangun hormat dan berkata: "Ya Jibril, mengapakah kau datang kesini?" Jawab Jibril: "Bagaimanakah keadaan rombongan yang maksit dari ummat Rasulullah s.a.w.?" Jawab Malaikat Malik: "Sungguh ngeri keadaan mereka dan sempit tempat mereka, mereka telah terbakar badan dan daging mereka kecuali muka dan hati mereka masih berkilauan iman."Jibril berkata: "Bukalah tutup mereka supaya saya dapat melhat mereka." Maka Malaikat Malik menyuruh Malaikat Zabaniyah membuka tutup mereka dan ketika mereka melihat Jibril mereka mengerti bahawa ini bukan Malaikat yang menyiksa manusia, lalu mereka bertanya: "Siapakah hamba yang sangat bagus rupanya itu?" Jawab Malaikat Malik: "Itu Jibril yang biasa membawa wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w." Ketika mereka mendengar nama Nabi Muhammad s.a.w. maka serentaklah mereka menjerit: "Ya Jibril, sampaikan salam kami kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan beritakan bahawa maksiat kamilah yang memisahkan kami dengannya serta sampaikan keadaan kami kepadanya." Maka kembalilah Jibril menghadap kepada Allah s.w.t. lalu ditanya: "Bagaimana kamu melihat ummat Muhammad?" Jawab Jilril: "Ya Tuhan, alangkah jeleknya keadaan mereka dan sempit tempat mereka." Lalu Allah s.w.t. bertanya lagi: "Apakah mereka minta apa-apa kepadamu?" Jawab Jibril: "Ya, mereka minta disampaikan salam mereka kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan diberitakan kepadanya keadaan mereka." Maka Allah s.w.t. menyuruh Jibril menyampaikan semua pesanan itu kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang tinggal dalam khemah dari permata yang putih, mempunyai empat ribu buah pintu dan tiap-tiap pintu terdapat dua daun pintu dari emas, maka berkata Jibril: Ya Muhammad, saya datang kepadamu dari rombongan orang-orang yang derhaka dari ummatmu yang masih tersiksa dalam neraka, mereka menyampaikan salam kepadamu dan mengeluh bahawa keadaan mereka sangat jelek dan sangat sempit tempat mereka." Maka pergilah Nabi Muhammad s.a.w. kebawah arsy dan bersujud dan memuji Allah s.w.t. dengan ucapan yang tidak pernah diucapkan oleh seorang makhlukpun sehingga Allah s.w.t. menyuruh Nabi Muhammad s.a.w.: "Angkatlah kepalamu dan mintalah nescaya akan diberikan, dan ajukan syafa'atmu pasti akan diterima." Maka Nabi Muhammad s.a.w. berkata: "Ya Tuhan, orang-orang yang durhaka dari ummatku telah terlaksana pada mereka hukumMu dan balasanMu, maka terimalah syafa'atku." Allah s.w.t. berfirman: "Aku terima syafa'atmu terhadap mereka, maka pergilah keneraka dan keluarkan daripadanya orang yang pernah mengucap Laa ilaha illallah." Maka pergilah Nabi Muhammad s.a.w. keneraka dan ketika dilihat oleh Malaiakt Malik, maka segera ia bangkit hormat lalu ditanya: "Hai Malik, bagaimanakah keadaan ummatku yang durhaka?" Jawab Malaikat Malik: "Alangkah jeleknya keadaan mereka dan sempit tempat mereka." Maka diperintahkan membuka pintu dan angkat tutupnya, maka apabila orang-orang didalam neraka itu melihat Nabi Muhammad s.a.w. maka mereka menjerit serentak: "Ya Nabi Muhammad s.a.w., api neraka telah membakar kulit kami." Maka dikeluarkan semuanya berupa arang, lalu dibawa mereka kesungai dimuka pintu syurga yang bernama Nahrulhayawan, dan disana mereka mandi kemudian keluar sebagai orang muda yang gagah, elok, cerah matanya sedangkan wajah mereka bagaikan bulan dan tertulis didahi mereka Aljahanamiyun atau orang-orang jahannam yang telah dibebaskan oleh Allah s.w.t.. Dari neraka kemudiannya mereka masuk kesyurga, maka apabila orang-orang neraka itu melihat kaum muslimin telah dilepaskan dari neraka, mereka berkata: "Aduh, sekiranya kami dahulu Islam tentu kami dapat keluar dari neraka."

 

Allah s.w.t. berfirman: "Rubama yawaddul ladzina kafaruu lau kanu muslimin." (Yang bermaksud) "Pada suatu saat kelak orang-orang kafir ingin andaikan mereka menjadi orang Muslim."

 

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Pada hari kiamat kelak akan didatangkan maut itu berupa kambing kibas putih hitam, lalu dipanggil orang-orang syurga dan ditanya: "Apakah kenal manut?" Maka mereka melihat dan mengenalnya, demikian pula ahli neraka ditanya: "Apakah kenal maut?" Mereka melihat dan mengenalnya, kemudian kambing itu disembelih diantara syurga dan neraka, lalu diberitahu: "Hai ahli syurga kini kekal tanpa mati, hai ahli neraka kini kekal tanpa mati." Demikianlah ayat: Wa andzirhum yaumal hasrati idz qudhiyal amru (Yang bermaksud) Peringatkanlah mereka akan hari kemenyesalan ketika maut telah dihapuskan."

 

Abu Hurairah r.a. berkata: "Janganlah gembira seorang yang lacur dengan suatu nikmat kerana dibelakangnya ada yang mengejarnya iaitu jahannam, tiap-tiap berkurang ditambah pula nyalanya."

 

SUMBER tanbihul_ghafilin.tripod.com/sifatapi.htm

Si Ijo nekat menerobos jalan meski telah mendapat ancaman dari keduanya.

Minibus between Mutiara Timur Train and Tawangalun Train.

Seorang juru parkir, Sulistyo, 19, seorang tukang parkir di depan Rumah Dinas Camat Parakan, melarikan gadis dibawah umur. Melati (bukan nama sebenarnya), gadis 16 tahun ini dilarikan selama empat hari. Tidak hanya dilarikan, gadis bau kencur ini juga dipaksa melakukan hubungan layaknya suami istri.

Kapolres Temanggung, AKBP Dwi Indra Maulana melalui Kasubbag Humas PPID, AKP Marino, membenarkan terjadinya kasus tersebut. Tersangka yang warga Desa Campursalam, Kecamatan Parakan tersebut dilaporkan oleh keluarga Melati lantaran membawa lari dara belia ini. "Kami mendapatkan laporan dari keluarga korban dan kami langsung menindaklanjutinya," katanya.

Polisi setelah mendapatkan laporan dari keluarga korban langsung memburu pelaku. Petugas menggulung pria yang berprofesi sebagai tukang parkir ini di halaman eks-Kantor Kawedanan Parakan (Rumah Dinas Camat Parakan). "Kita tangkap tersangka di kompleks eks Kantor Kawedanan Parakan. Pelaku mengakui secara terus terang selama melarikan empat hari dia telah menyetubuhi Mawar di salah satu ruang di kantor itu,"katanya.

Kronologi dari kasus ini sendiri bermula dari korban yang pada akhir pekan lalu berpamitan kepada orangtuanya keluar rumah untuk mengerjakan tugas sekolah. Namun korban justru bermain sampai ke daerah Salam Kabupaten Magelang. "Kami kenalan lewat facebook, lalu kami janjian ketemu pertama kali di alun-alun Temanggung. Setelah itu kami akrab," aku pelaku.

Karena sudah saling kenal korban minta dijemput pelaku dengan harapan diantar pulang. Diluar dugaan tersangka justru membawa Mawar ke kompleks Kantor eks Kawedanan Parakan. Korban ditahan di tempat tersebut dan selama empat hari sempat dipaksa melayani nafsu birahi tersangka.

"Kami memang berhubungan badan di emperan salah satu ruang tapi tidak ada paksaan karena dasarnya suka sama suka. Sebenarnya saya tidak membawa kabur sebab ceweknya itu yang maunya ngikuti saya sudah disuruh pulang tidak mau,"tuturnya.

Dari kasus ini polisi mengamankan barang bukti berupa satu buah celana jins warna biru, satu hem kotak-kotak warna cokelat, dan satu unit sepeda motor

Yamaha Jupiter AA 5478 KN.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka masih meringkuk di sel Mapolres guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dia dijerat Pasal 81 subsider Pasal 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002, lebih subsider Pasal 332 KUHP tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (adm)

 

  

Langit di pinggiran selatan Jakarta berganti panas-adem-panas sepanjang hari. Mirip suasana rumah Bang Mamat dan Mpok Lela yang saban hari makin kagak puguh lagu.

 

Tiga bulan menjelang pilpres, Bang Mamat kerap berantem lawan Mpok Lela, meskipun bukan adu jotos, cuma adu mulut. Perkaranya kagak laen kagak bukan: sama-sama ngotot calon tuan presiden pilihan masing-masing paling bener sedunia-akherat.

 

Lewat pukul lima sore, panas matahari masih nyalang. Gemericik Kali Ciliwung terdengar sayup di kejauhan. Bang Mamat duduk di atas dipan bambu di beranda rumah yang sempit. Ia belum juga mandi. Bau mirip bandot campur apek meruap dari kaus lepek akibat keringat.

 

Celana pangsi hitam lusuh yang dia pakai saat menyambangi satu rumah gedong ke rumah gedong lain, untuk mencari pohon yang hendak dipangkas atau -rumput yang hendak dicukur rapi, masih membungkus bagian bawah tubuh. Lelaki 40 tahunan itu lesu memandang jalan setapak yang sepi dari langkah kaki tetangga.

 

Namun di dalam hati ia bersemangat menanti Mpok Lela pulang membabu dari rumah sang majikan. Tak sabar ia menyeruput kopi seduhan istrinya. Apalagi, pagi tadi, sebelum berangkat mengejar mimpi akan kehidupan yang lebih baik, mereka sudah berbaikan. Pucuk dicita ulam tiba. Mata Bang Mamat menyala ketika Mpok Lela muncul dari balik pohon nangka di sisi pengkolan jalan.

 

Sebersit gairah muncul di dada Bang Mamat saat melihat tubuh perempuan yang tetap demplon, meski telah didera kerja keras dan kesusahan selama mendampinginya bertahuntahun. Namun gairah itu redup ketika sang istri tiba di beranda, meletakkan bungkusan berisi kaus di atas dipan yang dia duduki seraya berkata, “Nih ada kaus dari Bu Meri. Satu buat Lela, satu buat Abang.

 

Lumayan kan buat pegi-pegi.” Belum sempat Bang Mamat melihat kaus itu, Mpok Lela dengan santai berjalan sambil mengelupas sehelai stiker dan menempelkan di pintu masuk rumah mereka. “Eh, eh, apaan tuh maen templok-templokin aje di pintu?”

 

Bang Mamat melongo sambil menghardik istrinya, benarbenar telah lupa pada gairah yang meletup di dada. Kesal pula karena sang istri tak segera menggubris keberadaannya. Mpok Lela melirik suaminya. Tangannya tetap sibuk di pintu, mengurut-urut stiker agar menempel kuat dan rata. “Cuman tempelan doang,” Mpok Lela menjawab acuh.

 

“Iye, gue juga tahu ntu tempelan. Nah, nah… gambar apaan tuh? Muke siape yang lu pasang di situ? Copot kagak! Copot sekarang!” Amarah Bang Mamat makin naik saat paham stiker apa yang sang istri pasang. Namun Mpok Lela tetap pada kelakuannya.

 

Tanpa menghiraukan Bang Mamat, Mpok Lela masuk setelah mengambil bungkusan kaus yang teronggok di dipan. Hati Bang Mamat makin panas. Ia bangkit. Dia renggut stiker dari pintu, dia remas dan sobek-sobek, meski tak berhasil.

 

Sontak Mpok Lela urung masuk ke dalam. Ia marah dan mencoba merebut dengan kasar stiker dari tangan sang suami. îMasya Allah, kesambet dedemit mana lu, Lela? Bener-bener lu ye, bukan buru-buru bikin kupi, malah kelakuan demek begitu lu suguhin.

 

Segitu ngebelanye lu ame tu orang yang kagak danta omongannye ketimbang gue, laki lu? Mau jadi ape lu? Mau durhake lu ame laki!” “Abang yang durhake ame bini!” Suara Mpok Lela tidak kalah keras.

 

“Udeh tau tuan presiden gacoan Abang tukang bo’ongin rakyat, masih aje Abang maksa Lela milih die. Lela emang perempuan, tapi Bu Meri bilang Lela punya hak milih gacoan Lela sendiri. Lagian, kata Abang, kalau kepilih lagi, rakyat kecil bise sejahtere! Mana buktinye, Bang? Idup kite masih begini-begini aje.

 

Lela sih ogah milih die lagi. Mending tuan presiden Lela, bisa dipercaye. Bu Meri udeh kasi unjuk bukti poto-poto kalo tuan presiden Lela orang baek. Die demen begaul ame orang kecil, Bang.

 

Kerjaannye muter-muter nyari di mane orang miskin pade ngumpul, ngajakin ngobrol gimane idup kite, kenape bisa suse. Pemimpin ntu begitu, Bang! Udeh pasti ntar die bakal bener-bener perhatiin kite!”

 

“Bener-bener dari mane, La? Jelas aje die deketin orang kayak kite. Ni musim kampanye! Jelas aje die baek-baek ame orang kecil. Lu pikir gacoan lu kaga tukang bo’ong? Mane mungkin die bener-bener mau perhatiin kite, babu ame tukang kebon panggilan?

 

Masak lu percaye die bakal bener-bener naekin gaji babu ame tukang kebon kalo die kepilih? Kalo die naek jadi presiden belon tentu keinget ame janjinye! Mending gacoan Abang nih, udeh kebuktian mimpin kite! Biar kate ngebon ape ngebabu juga, ati kite aman, idup tenterem kagak ade rusuh-rusuh.

 

Ngarti kagak?” “Kalo Abang bilang kebuktian, harusnye kite udeh kagak melarat. Pan Abang bilang waktu musim kampanye nyang duluan, tuan presiden Abang bakalan ngasih orang-orang kayak kite kerjaan nyang lebih baek, nyang gajinye lebih gede.

 

Kerja di kantor gitu, ketakketik komputer gitu. Kenyataannye, masih jadi kuli cuci ame ngebon aje kite sampe hari gini. Buat ape belain yang begituan?” teriak Lela tak kalah garang.

 

“Lah, biasa pegang papan penggilesan kepengen jadi pegawe kantoran!” ujar Bang Mamat naik pitam. “Entar sawan lu liat komputer! Emang susah ngomong ame lu, La. Kagak ngarti pulitik mau omong pulitik.

 

Baru dikasih stiker ame kaus aje udeh buta mata!” Kesal, Bang Mamat segera merenggut kaus yang dibawa istrinya, lalu sekuat tenaga dia sobek kaus itu hingga jadi perca. “Nih, mending lu jadiin topo ni kaos. Lebih berpaedah!” Mata Mpok Lela terbelalak. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun. Mpok Lela menangis keras.

 

Ia masuk ke dalam rumah lalu kasak-kusuk di kamar. Tak lama kemudian, ia berlari ke luar sambil membawa bungkusan dan tas yang sering dia bawa saat bepergian. Bang Mamat terdiam di depan pintu. Ia tak mencegah atau bertanya ke mana istrinya pergi.

 

Ia pun masih sangat geram atas kekeraskepalaan Mpok Lela yang memilih calon tuan presiden yang berbeda. Kalau saja azan magrib tak berkumandang, tentu ia masih ingin memperpanjang babak pertengkaran dengan istrinya. Sejak saat itu, Mpok Lela tidak pulang lagi ke rumah petak yang ia tinggali bersama Bang Mamat.

 

Ia tinggal di rumah majikannya, Bu Meri. Ia merasa sudah tidak cocok hidup bersama Bang Mamat yang sudah dia nikahi hampir 20 tahun itu. Mpok Lela juga merasa Bang Mamat kini telah berubah perangai dan tutur katanya; tak lembut dan jenaka seperti dulu.

 

Bang Mamat sudah beberapa kali datang ke rumah Bu Meri untuk mengajak Mpok Lela berbaikan. Namun perempuan itu tetap tidak mau pulang ke rumah sampai suaminya bersedia memilih calon tuan presiden jagoannya. Ketika Bang Mamat memaksa Mpok Lela pulang, perempuan itu mengancam akan pulang ke rumah abanya.

 

Ancaman itu mujarab untuk menghentikan upaya Bang Mamat. Ia lebih takut Mpok Lela pulang ke rumah orang tuanya di Menteng Tenggulun, sebab sang aba, mertuanya yang mantan jawara itu, akan marah besar. Meski sudah tua, aba Mpok Lela masih gagah dan disegani banyak orang.

 

Untuk marah kepada Bu Meri, yang dia anggap telah meracuni pikiran Mpok Lela sehingga istrinya berani dengan lantang memilih calon tuan presiden, Bang Mamat juga sungkan, sebab Bu Meri dan keluarganya sejak lama telah banyak membantu mereka, termasuk saat Mpok Lela keguguran dan dinyatakan tak bisa lagi memiliki anak.

 

Jadi Bang Mamat akhirnya membiarkan keinginan istrinya tinggal di rumah Bu Meri. Tak ada jalan lain. Ia pun tak rela dipaksa Mpok Lela melepaskan tuan presiden pilihannya. “Ini soal prinsip!” tegas Bang Mamat berkali-kali dalam hati.

 

Namun makin hari Bang Mamat merasa kian menderita. Tak ada lagi kopi buatan Mpok Lela. Tak ada senyum manis dan gerak tubuh istrinya yang sering kali menerbitkan gairah pada waktu-waktu tertentu. Bang Mamat rindu pada suara istrinya yang dulu, sebelum-gonjang ganjing pilpres berlangsung.

 

Keceriaan istrinya sering kali menjadi obat pelipur lelahnya setelah seharian berkeliling kompleks. Kini, pilpres tinggal hitungan hari. Bang Mamat berangkat kerja dengan lesu, pulang dengan lesu. Ia pergi tidur dengan perasaan hampa, terbangun dengan hampa yang sama.

 

Ketika suatu hari merasa hampir gila karena rindu Mpok Lela, Bang Mamat menangis tersedu-sedu. Jauh dalam lubuk hati ia berharap, calon tuan presiden yang mati-matian ia puja akan datang membela, membantu membawa Mpok Lela pulang ke pelukannya. (28)

 

Nilla A Asrudian, penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Buku cerpennyaWarna Cinta(-mu Apa?) dan Lakon dari Negeri Sengkarut, sedangkan novelnya Aku Adiva.

 

[1] Disalin dari karya Nilla A Asrudian

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 3 Februari 2019.

 

The post Membela Tuan Presiden appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2HO5CN5

  

Kedai kopi bermunculan di mana-mana, tetapi warung kopi Bu Trinil tetap menjadi favorit saya. Kopi bikinan Bu Trinil tetap paling jos rasanya; saya sudah merasakan khasiatnya bagi kesehatan jiwa saya.

 

Di warung Bu Trinil saya bisa berkenalan dan mengobrol dengan berbagai macam orang. Petang itu, misalnya, saya berkenalan dengan seorang pria berbaju batik biru, namanya Marbangun. “Panggil saja Bang Bangun,” ujarnya.

 

Marbangun bercerita, saat ini dia sedang menata hidupnya. Sudah bertahun-tahun dia mencari peruntungan di dunia politik, tetapi belum juga membuahkan hasil. Dia pernah dua kali nekat ikut mencalonkan diri sebagai anggota badan legislatif di kotanya dan kedua-duanya gagal.

 

“Semoga sampean tidak terjerumus ke dalam kancah politik. Politik itu keras, penuh muslihat. Orang lugu seperti sampean akan celaka,” katanya.

 

Untuk menuruti ambisinya, banyak harta benda yang telah dia korbankan. Dia sudah menjual tanah dan sapi di kampung, mobil, perabotan furnitur, dan barang-barang berharga lainnya. Bahkan, katanya, “Seandainya saya punya kucing, mungkin saya akan jual kucing juga.”

 

Setelah didera berbagai kegagalan, Marbangun memutuskan untuk berserah kepada Tuhan, menjauhkan diri dari godaan duniawi. Dia ingin ikut membangun masyarakat yang bertakwa dan berakhlak mulia.

 

“Tak ada lagi yang bisa saya jual,” katanya. “Satu-satunya yang masih bisa saya jual ialah…”

 

Dengan agak tergesa-gesa Marbangun beranjak dari duduknya, membayar jajanannya, lalu pamit pergi; katanya dia akan menengok dan mendoakan temannya yang sakit. Pada saat bersamaan merebak bau kentut yang menyengat. Saya dan beberapa orang saling memandang curiga, seakan-akan saling menyelidik siapa yang telah melepaskan kentut tanpa bunyi itu. Sambil memencet hidungnya, Bu Trinil mengarahkan telunjuknya kepada Marbangun yang sedang melangkah pergi. “Orang itu memang suka kentut sembarangan,” cetusnya.

 

***

 

Sepulang dari warung Bu Trinil, saya bersiap menyambut kedatangan Paman Yusi, senior saya. Saya dan teman-teman menyebutnya “paman” karena sifat kebapakan dan dedikasinya yang besar sebagai guru dan penasihat spiritual penulis-penulis muda.

 

Paman Yusi baru saja pulang dari Amerika. Seusai menjalani residensi selama enam bulan di sana, dia berhasil merampungkan sebuah novel yang telah bertahun-tahun di kerjakannya—sebuah novel yang tebalnya melebihi Alkitab, yang untuk membacanya dengan khidmat dan meresapkannya ke dalam kalbu diperlukan retret minimal sebulan.

 

Paman Yusi mengajak beberapa teman merayakan rezeki dengan pesta puisi dan kopi di kos saya. Tentu saja Paman Yusi yang bertanggung jawab atas ketersediaan kopi, rokok, kacang rebus, singkong, dan pisang goreng.

 

Kegiatan iseng yang diprakarsai Paman Yusi ini menarik perhatian beberapa remaja setempat. Mereka bergabung dengan kami dan kami oke-oke saja.

 

Para remaja itu tampaknya ikut terserang virus puisi. Mereka jadi hafal baris puisi saya: Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. Entah siapa di antara mereka yang mengubahnya menjadi Rayakanlah setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti. Kata-kata ini mereka kumandangkan dan dendangkan di mana-mana. Kami gembira karena usaha kami menghaluskan jiwa melalui sastra di kalangan anak-anak muda mulai membuahkan basil.

 

Paman Yusi kembali mengadakan pesta kopi dan puisi di kos saya ketika novelnya yang lebih tebal dari Alkitab itu terbit. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tidak ada remaja setempat yang datang dan bergabung. Mereka pasti sedang sibuk belajar untuk menghadapi ujian sekolah.

 

Di tengah kegembiraan kami merayakan rezeki Paman Yusi, serombongan pemuda setempat tiba-tiba mendatangi kami sambil menyerukan kata-kata bernada ancaman. Ternyata mereka mau menemui dan meringkus saya. Saya dianggap dan dituduh telah menyebarkan ajaran sesat.

 

Saya bingung, ajaran sesat mana yang saya sebarkan. Komandan pemuda setempat menunjukkan sesobek kertas bertuliskan Rayakanlah setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti.

 

“Oh, itu puisi, kak, bukan ajaran,” saya menjelaskan.

 

Komandan pemuda setempat: “Pokoknya, gara-gara ayat yang anda sebarkan ini, anak-anak di sini jadi rusak kerohaniannya.”

 

“Puisi itu menghaluskan jiwa, kak, bukan merusak,” timpal saya.

 

“Menghaluskan jiwa bagaimana? Karena terpengaruh oleh ayat ini, orang-orang di sini jadi keranjingan kopi. Dikit-dikit ngopi. Anak-anak jadi betah melek semalaman, lalu bangun kesiangan. Kita jadi susah ngebangunin mereka buat sekolah. Dikasih duit buat bayar sekolah malah dipake buat ngopi-ngopi.”

 

Paman Yusi melirik ke arah saya sambil pura-pura batuk-batuk, entah maksudnya apa.

 

Yang tua-tua ikutan keranjingan juga. Suami-suami habis gajian sibuk ngopi. Istri-istri dikasih uang belanja malah dipake ngopi. Rusaklah pokoknya.”

 

Subagus, teman kami yang sering berperan sebagai “seksi keamanan”, menyimak dengan tegang. Untung dia memakai kacamata gelap sehingga kegalauan matanya tidak kelihatan.

 

“Kalau dapat rezeki, mestinya kan berdoa dan bersyukur kepada Tuhan, bukan malah ngopi-ngopi. Yang bisa kasih kebahagiaan kan cuma Tuhan, bukan kopi.”

 

Saya tak tahu lagi harus bilang apa.

 

“Intinya kami minta pertanggungjawaban. Bisa jadi urusan polisi nih.”

 

Mendengar “urusan polisi”, hati saya terguncang. Saya membayangkan hal-hal buruk akan menimpa saya.

 

Paman Yusi memberikan kode kepada Subagus agar segera menangani komandan pemuda setempat

 

Subagus bangkit, mengajak komandan pemuda setempat bicara empat mata. Oleh komandan pemuda setempat, Subagus dibimbing untuk menemui pemimpin gerakan yang menunggu di seberang sana, di bawah pohon mangga. Ya ampun, ternyata itu Marbangun, pria tampan berbaju batik biru itu.

 

Saya tak tahu perundingan macam apa yang mereka lakukan. Saya hanya melihat Subagus berbicara dengan pemimpin gerakan dan komandan pemuda setempat sambil memiringkan telunjuk di jidatnya. Pasti dia bilang saya ini sinting, tidak waras. Saya juga sempat melihat dia merogoh saku celananya.

 

Setelah melalui perundingan yang cukup alot, pemimpin gerakan memerintah komandan pemuda setempat membubarkan rombongan.

 

Mungkin karena dianggap sinting, setelah itu saya dicuekin orang-orang. Hanya beberapa remaja yang tetap segan kepada saya. Saya sempat bertanya, benarkah orang-orang jadi keranjingan kopi gara-gara puisi saya. Mereka bilang tidak tahu.

 

Ketika suatu sore saya keluar untuk cari angin dan beli rokok, saya melihat Marbangun sedang duduk manis menyeruput kopi dan melahap pisang goreng di warung Bu Trinil.

 

***

 

Pada suatu kangen, setelah berhari-hari pergi mengerjakan proyek penulisan naskah film dokumenter, saya singgah ngopi di warung Bu Trinil. Bu Trinil senang saya muncul lagi. Dia mengira saya pergi untuk tidak kembali.

 

Bu Trinil bercerita bahwa selama saya pergi telah terjadi sesuatu yang menggemparkan.

 

“Ada sosok laki-laki enggak pake celana muncul di gardu ronda. Ngeri deh. Kelaminnya luka, berdarah. Dia merintih Sakit, Jenderal! Sakit, Jenderal!”

 

“Oh, eltece,” saya menyela.

 

“Eltece?”

 

“Iya, itu namanya eltece, laki-laki tanpa celana.”

 

Bu Trinil tertawa mantap.

 

“Saat mau ditangkap, hantu itu lari ke gang, dikejar, dikepung, tapi lolos.”

 

Saya menyeruput kopi.

 

“Malam berikutnya ia nongol di rumah Marbangun. Marbangun teriak-teriak ketakutan, ia malah ketawa-ketawa.”

 

Eltece konon menghadang Marbangun malam-malam dalam perjalanan ke kamar mandi. Marbangun digertak: Piye kabare? Ngeri zamanku to? Eltece kemudian mencubit-cubit pipinya sambil berseru Beri aku kopi! Beri aku kopi!

 

Saya tidak terkejut mendengar cerita Bu Trinil.

 

Pada suatu malam, saat sedang bermain ketoprak, ayah saya dijemput oleh beberapa orang tak dikenal dan sejak itu saya tak pernah lagi melihatnya. Waktu itu sedang berlangsung gerakan pembersihan terhadap orang-orang yang dianggap kiri. Di kemudian hari saya mendengar cerita tentang para seniman dan aktivis yang diculik, disiksa, bahkan ada yang dikerat kemaluannya. Ayah ikut diciduk atas rekomendasi seorang temannya yang merasa punya masalah pribadi dengan Ayah. Sesungguhnya Ayah hanyalah orang lugu yang punya hobi bermain ketoprak.

 

Saya pernah dihadang eltece—dengan darah mengental di ujung kelaminnya—saat mau menyepi di kamar mandi menjelang dinihari. Dia merintih Sakit, Jenderal! Saya tatap wajahnya yang memelas. Ia memandang saya dengan heran. Saya membungkuk dan mengucapkan kalimat, Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma. Setelah itu ia menghilang.

 

Sosok eltece tampaknya benar-benar menghantui Marbangun sehingga dia sulit tidur dan tidak berani ke kamar mandi sendirian. Atas anjuran Bu Trinil, secara diam-diam dia menemui saya. Dia menduga, kemunculan eltece di rumahnya ada hubungannya dengan saya.

 

“Hantu itu teriak Beri aku kopi! Beri aku kopi! Saya lantas teringat ayat kopi yang sampean bikin dan disebarkan anak-anak remaja itu.”

 

Marbangun bertanya, apakah saya tahu cara mengusir hantu eltece.

 

“Wah, Bang Bangun salah alamat. Masak orang sinting seperti saya ngerti cara mengusir hantu.”

 

“Sudahlah. Yang bilang sinting itu kan bukan saya.”

 

Ya sudah, saya katakan saja kepada Marbangun, “Kalau eltece muncul lagi, sambutlah dengan ramah, kasih hormat, lalu bikinkan kopi. Setelah itu, berjanji akan bertakwa secara benar, mencari rezeki secara halal, dan tidak kentut sembarangan.”

 

Marbangun terdiam.

 

***

 

Saya pikir, setelah Marbangun menemui saya, persoalannya dengan eltece selesai. Ternyata ada kelanjutannya.

 

Malam itu orang-orang di warung Bu Trinil geger melihat Marbangun berlari kencang sambil berteriak-teriak minta tolong seperti sedang dikejar seseorang. Katanya dia mau ditangkap eltece. Orang-orang bingung karena tidak melihat sosok yang memburunya.

 

Marbangun terns berlari menuju kos saya. Dia minta perlindungan. Dia sembunyi di kamar saya. Sesaat kemudian Eltece datang: “Mana Marbangun? Marbangun mana?” Saya terima dia dengan baik. Saya tanya, mengapa dia mau menangkap Marbangun. Ternyata dia cuma mau memberikan dompet Marbangun yang dia temukan di depan ATM. Saya terima dompet Marbangun dari eltece seraya mengucapkan banyak terima kasih. Setelah itu, dia pergi sambil tertawa.

 

Marbangun tertegun sembari menenangkan jantungnya. Saat itulah dia merasa mantap untuk menempuh jalan kerohanian yang bersih dan mewartakan hal-hal baik kepada sesama. Saya mendukung niat sucinya.

 

Niat suci Marbangun mulai kelihatan ketika keesokan harinya dia mengajak saya ngopi di warung Bu Trinil. Bu Trinil heran melihat saya datang berdua dengan Marbangun. Namun, diam-diam saya tetap waspada. Siapa tahu kebaikannya hanya modus.

 

Sikap saya untuk tetap waspada terbukti tepat. Di tengah kenikmatan kami—para pengunjung warung Bu Trinil—minum kopi dan menyantap pisang goreng, tiba-tiba merebak bau kentut yang menyengat. Meskipun aromanya agak berbeda, saya sudah yakin itu pasti kelakuan Marbangun. Seketika itu pula saya kehilangan respek lagi terhadapnya. Orang semacam itu memang sulit berubah.

 

Sewaktu saya bergegas pergi, Bu Trinil dengan cepat menggamit lengan saya dan berkata pelan, “Aduh, maaf ya tadi. Saya sudah enggak kuat nahan. Perut saya kembung. Untung enggak bunyi.”

 

Joko Pinurbo alias Jokpin telah menerbitkan sejumlah buku puisi dan beroleh berbagai penghargaan. Buku puisinya antara lain Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), dan Buku Latihan Tidur (2017) . Cerpennya dimuat dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas tahun 2013, 2014, dan 2015.

 

Made Gunawan, lahir di Apuan, Tabanan, 14 Juli 1973, dan menempuh pendidikan di STSI Denpasar (1995-2001). Tahun 1999 ia pernah pameran Sketsa dan Lukisan di rumah indekosnya, sebuah gang sempit dan kumuh di Kota Denpasar. Tahun 1997 mendapat penghargaan Sketsa Terbaik dari STSI Denpasar. Tahun 2001 sebagai 10 Besar Karya Seni Terbaik dari STSI Denpasar. Tahun 2003 sebagai pemrakarsa Lukisan 1000 Kotak (Perempuan & Bunga) dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

 

[1] Disalin dari karya Joko Pinurbo

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 9 Desember 2018

 

The post Ayat Kopi appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2QqZ1fl

Endangered species. Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Spizaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

 

Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor).

 

Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.

 

Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.

 

Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok (Spizaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.

 

Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.

 

Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.

 

Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang-kadang 3.000 m dpl.

 

Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya. Walaupun ditemukan elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.

 

Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet.

 

Masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni. Sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah. Telur berjumlah satu butir, yang dierami selama kurang-lebih 47 hari.

 

Pohon sarang merupakan jenis-jenis pohon hutan yang tinggi, seperti rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus dan Quercus), tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus). Tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang-sarang yang ditemukan hanya sejarak 200-300 m dari tempat rekreasi.

 

Di habitatnya, elang Jawa menyebar jarang-jarang. Sehingga meskipun luas daerah agihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137-188 pasang burung, atau perkiraan jumlah individu elang ini berkisar antara 600-1.000 ekor. Populasi yang kecil ini menghadapi ancaman besar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis. Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Dalam pada itu, elang ini juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, dan pada gilirannya menjadikan harga burung ini melambung tinggi.

 

Mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah agihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi itu, organisasi konservasi dunia IUCN memasukkan elang Jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam kepunahan). Demikian pula, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang.

 

Sesungguhnya keberadaan elang Jawa telah diketahui sejak sedini tahun 1820, tatkala van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung Salak untuk Museum Leiden, Negeri Belanda. Akan tetapi pada masa itu hingga akhir abad-19, spesimen-spesimen burung ini masih dianggap sebagai jenis elang brontok.

 

Baru di tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Sampai kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson baru tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai anak jenis elang gunung Spizaetus nipalensis.

 

Demikianlah, burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953 D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi.

  

PATRIK pulang dengan merangkak. Konon, Arwah Jahat di Hutan Terlarang telah memberinya pelajaran. Ia lancang memasuki kediaman mereka tanpa izin. Alhasil, lidahnya dipotong.

 

LAMTIUR sudah tiga jam berdiri di teras. Memandang hutan di depannya yang hanya berjarak dua ratus langkah kaki. Kebiasaan itu dia lakukan setiap pagi dan sore hari. Setiap memandang Hutan Terlarang, wejangan ibunya selalu muncul, seakan keluar dari persembunyiannya.

 

“Jangan sekali-kali mendekati, apalagi masuk Hutan Terlarang. Siapa pun yang masuk, akan keluar dengan tubuh babak-belur, cakaran, dan lidah terpotong. Ada Arwah Jahat di sana. Dahulu, Arwah Jahat menyerang desa, untung kepala desa saat itu bisa menangkap dan menguncinya di hutan,” kata ibu Lamtiur suatu malam.

 

“Kau ingat nasib temanmu si Patrik kan? Ceroboh sekali dia, berlagak melanggar aturan. Sekarang masih dalam penyembuhan oleh kepala suku kita di rumahnya, sudah berbulan-bulan,” tambah ibunya dengan raut muka kadang cemas kadang geram.

 

Tapi, kalian tahu? Kata ‘jangan’ selalu beriringan dengan rasa penasaran. Jangan pernah berkata ‘jangan’ kepada anakmu kalau kau tidak ingin ia melakukan sesuatu yang kau larang.

 

Di rumah panggung reot, Lamtiur menunggu ibunya bekerja di ladang. Hanya barisan serangga di tembok kayu yang selalu dia ajak bicara. Dia senang berbicara dengan serangga atau hewan yang kadang mampir di rumahnya. Katanya, hewan-hewan itu tidak akan pernah mencela atau tidak setuju dengan apapun yang dia utarakan.

 

“Kau tahu? Aku selalu membayangkan bisa bermain dan berlarian di hutan itu. Makan buah-buahan, memanjat pohon, melempari monyet, atau hanya sekadar tidur di samping sungai,” kata Lamtiur kepada tupai yang sedang mampir di rumahnya. Tupai hanya diam -tentu saja- apalagi buah pemberian Lamtiur belum habis di mulutnya.

 

Lamtiur biasanya tidak begitu takut akan ancaman ibunya. Tetapi beda hal kalau ibunya sudah mengutip perintah ketua desa. Percayalah, hukuman ketua desa –di desa adat yang ketat seperti tempat Lamtiur– bukanlah hal membanggakan. Apabila kau berbuat salah, ibumu tidak akan marah lebih dari satu hari. Namun, jika kau melanggar hukum desa, Ketua Desa dan seluruh warga akan marah kepadamu sampai mati.

 

Mengerikan memang apa yang Patrik alami setelah masuk Hutan Terlarang itu. Tapi, bukankah dia tidak pernah bercerita apa yang terjadi? Ya, tepatnya tidak bisa karena kondisi lidahnya. “Tapi, hei, jangan sebut aku lelaki kalau masuk hutan terlarang saja aku tak berani,” tegas Lamtiur kepada tupai. Makanan tupai sudah habis, tapi tetap saja dia diam.

 

“Apa kau mendukungku?” tanya Lamtiur kepada Tupai.

 

“Baik, diam berarti iya.”

 

Tupai seketika berlari. Bukan karena makanannya habis, tapi ibu sudah pulang dari ladang. Lamtiur mencium tangan ibunya yang mulai keriput dan masih kotor dengan tanah. “Masih saja kau melihat hutan itu. Mungkin mengunjungi Patrik di rumah Ketua Desa akan membuatmu sadar tak ada gunanya masuk hutan. Dia sudah mulai bisa keluar rumah setelah ketua desa mengobatinya,” kata ibu sambil berjalan ke dapur.

 

“Ibu bawa ikan piranha, siapkan tungku, kita siapkan makan malam.”

 

***

 

Luka cakaran pada wajah Patrik sudah mengering, namun bekasnya masih jelas di kedua pipi dan pelipisnya. Sebelah matanya masih biru. Mata itu terlihat seperti garis karena lebam. Lidahnya sudah tidak terlihat. Pandangannya kosong. Hanya menyahut dengan anggukan dan gelengan apabila diajak bicara.

 

Lamtiur dan warga desa lain hanya bisa melihat Patrik dengan pedih. Ketua Desa berdiri dan bicara. Dia selalu mengulang-ulang kalimatnya, bahwa yang dialami Patrik akibat melanggar hukum desa dengan masuk ke Hutan Terlarang.

 

“Inilah akibatnya kalau kalian melawan petuah nenek moyang. Kalau tidak ingin berakhir seperti ini, jangan pernah berpikir untuk masuk hutan itu.”

 

Sayang sekali, ketua desa juga lupa untuk jangan pernah berkata ‘jangan’. Bukannya semakin takut, Lamtiur justru jadi makin bertekad untuk pergi ke Hutan Terlarang.

 

Sore hari, seperti biasa, Lamtiur memandang Hutan Terlarang dari teras rumahnya. “Tolong sampaikan pada Arwah Jahat hutan itu kalau besok aku akan menemui dia, meminta pertanggungjawaban atas apa yang dialami Patrik,” ucap Lamtiur pada curut hutan yang saat itu berkunjung ke rumahnya. Curut hanya diam, sibuk dengan daging ikan piranha yang diberikan Lamtiur.

 

“Bagaimana? Kau bisa?”

 

“Baik, diam artinya setuju.”

 

***

 

Setelah memastikan ibunya sudah jauh dari rumah menuju ke ladang, Lamtiur berangkat menuju Hutan Terlarang. Dia hanya membawa pisau dapur berukuran sedang. Dia berjalan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihatnya, terutama Ketua Desa. Lamtiur semakin dekat dengan hutan terlarang saat ada serombongan petani yang melintas. Dia masuk parit dan bersembunyi. Aman.

 

Setalah dirasa aman, ia bangkit dari parit dan melanjutkan perjalanan. Tidak berselang lama, hanya beberapa langkah lagi dia akan memasuki Hutan Terlarang. Lamtiur sempat berhenti memandang deretan pohan yang rapat dan seperti tidak tertembus cahaya. Antara gairah akan bertualang dan ingatan terhadap ancaman ibu serta ketua desa berkecamuk di benaknya.

 

Sudah kepalang tanggung, beranjaklah Lamtiur ke Hutan Terlarang.

 

Kakinya memimpin masuk di antara deretan pohon lebat. Udara dingin menyeruak seketika saat dia memasuki hutan. Bulu kuduknya berdiri. Bukan karena Arwah Jahat sedang menyapanya, cahaya matahari memang seakan tidak menembus rimbunnya pohon. Lamtiur makin masuk dan menemukan banyak pohon yang sedang berbuah. Dia memetik dan memakan segala buah yang dia temukan. Tentunya tanpa meminta izin dari Arwah Jahat. Memang dia sengaja agar Arwah Jahat keluar menemuinya.

 

Ia masuk kian dalam ke Hutan Terlarang dan menemukan sungai yang sangat jernih. Tampak beragam ikan di dalamnya. Lamtiur memutuskan untuk buang air besar di sungai itu agar Arwah Jahat tersinggung. Tapi, tetap saja, Arwah Jahat belum keluar. Setelah cebok dan memakai celana, terdengar suara erangan. Tidak ada di atas pohon. Tidak ada pula di balik pohon. Erangan itu kadang jelas terdengar kadang hanya samar-samar. Semakin diperhatikan, dia semakin yakin bahwa erangan itu berasal dari dalam hutan. “Saatnya pembalasan,” ucap Lamtiur di hati.

 

Setengah berlari dia menuju sumber suara. Makin lama, cahaya dari dalam hutan makin terlihat, dan semakin besar. Di perbatasan hutan terlihat cahaya yang semakin terang. Lamtiur semakin kencang berlari.

 

Brukkkk! Lamtiur menabrak sesuatu. Dia terjatuh. Pingsan.

 

***

 

Kepala Lamtiur pusing saat dia mulai membuka matanya. Tangan dan kakinya sakit. Terikat tali tambang. Dia tidak bisa menggerakkan badannya yang ternyata diikatkan ke pohon. Samar-samar dia mendengar, “Lihat! Rambo kita sudah mulai sadar.”

 

Kesadaran Lamtiur sekejap utuh saat dia ditampar. Diikuti gelak tawa puas, berdiri di depan Lamtiur tiga orang berbadan tinggi besar. “Kau mau apa keliaran di sini? Tidak takut dengan Arwah Jahat?”

 

“Enak tadi mencium bokong Arwah Jahat? Saking enaknya sampai pingsan ya? Hahaha. Lihat itu bokong Arwah Jahat masih melintas. Mau nyium lagi?” ucap salah satu di antara mereka sambil menunjuk ke arah kanan Lamtiur.

 

Lamtiur menengok ke samping. Dilihatnya deretan truk yang disesaki muatan batang-batang pohon yang sudah disusun rapi. Di setiap truk terlihat gambar lingkaran merah berjumlah tiga, serupa dengan yang ada di baju tiga pria di hadapannya.

 

Pandangan Lamtiur yang terasa lapang lalu beralih ke kejauhan, tempat sejumlah orang tampak sedang menebang pohon-pohon dengan gergaji mesin. Di sekitarnya, nyaris tidak ada lagi pohon yang berdiri.

 

“Kalian siapa?”

 

“Kami siapa? Kau yang siapa?”

 

“Aku anak desa seberang hutan. Kalian siapa?”

 

“Kami pengikut roh jahat. Hahaha. Oh anak desa, kenal kau dengan Patrik, rindu aku dengan dia. Bagaimana kabarnya?”

 

“Patrik? Kalian tahu Patrik?”

 

“Tidak hanya kenal, kami ini sahabatnya. Hahaha. Kau ….” ucapan lelaki tinggi besar itu terhenti saat ponselnya berbunyi. “Bos mau datang, cepat selesaikan anak ini,” ucap lelaki yang sepertinya pemimpin gerombolan itu.

 

Dua rekannya kemudian mendekati Lamtiur. Yang satu membawa besi cakar, yang satu membawa pisau yang dicuri dari lamtiur. Dengan satu pukulan, Lamtiur pingsan. Lagi.

 

***

 

Lamtiur bangun di atas ranjang, di suatu ruang yang tidak terasa asing baginya. Ini rumah Ketua Desa. Ia mencoba bangun, tapi kepalanya terasa berat.

 

“Sudah sadar kau pengacau?” Lamtiur kaget dan mencari asal suara. Ketua Desa ternyata sedang berdiri di belakangnya sambil melihat ke luar jendela. Lamtiur menyahut, tapi tidak bisa. Lidahnya sudah tak ada.

 

Dengan panik, ia memandang ke sekeliling kamar. Hanya ada Ketua Desa, dipan yang ia tempati, rak buku, meja dengan amplop dan gelas-gelas kotor. Sebentar… Amplop? Ia memicingkan mata. Bukan apa-apa, ia tak asing dengan cap di amplop itu. Lingkaran merah berjumlah tiga. (M-2)

 

[1] Disalin dari karya Sirojul Khafid

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 13 Januari 2019

 

The post Dia Pulang dengan Lidah Terpotong appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Fqn6NC

Gambaran tentang kondisi

Inspired by : www.antaranews.com/berita/426185/mantan-opm-tegaskan-tudu...

 

Papua sebgmana dikembangkan PM Vanuatu sangat menakutkan.Menggambarkan ketakutan Carcasses yg tak mau kehilangan kursi PM-nya lantaran digempur ancaman mosi tidak percaya parlemen Vanuatu.

 

Kondisi Papua saat ini tidak seperti gambaran Carcasses itu. Papua sedang mengalami pertumbuhan ekonomi dan perkembangan infrastruktur yang baik, demikian juga dengan penegakan hukum. [*]

Kembalikan Kekuatan Orang Melayu 64 Tahun Yang Lalu!

 

DIkirim oleh puteraadnan di Khamis, 13 Mei 2010

 

Oleh: Putera_Adnan

 

Orang Melayu hari ini berada di persimpangan dan di dalam satu dilemma yang amat menakutkan. Pastikah ramalan dan andaian bahawa kekuasaan dan ketuanan Melayu semakin terhakis. Atau benarkah ada ramalan yang mengatakan dominan Melayu akan hancur dek gara-gara orang Melayu itu sendiri akibat krisis dan perbalahan yang sedang melanda pada hari ini. Mungkinkah Melayu akan hilang di dunia? Kalau tidakpun, jenis Melayu yang bagaimana yang akan jadi penghuni bumi tercinta ini apabila dominan kekuasaan Melayu sudah hancur dan apabila orang Melayu sudah hilang kuasa? Akan berakhirkah perbalahan sesama Melayu ini? Mungkinkah pada akhirnya orang Melayu akan mengigit jari apabila Melayu lenyap ditelan kebangkitan suatu kuasa bukan Melayu yang tidak perduli terhadap Melayu lagi?

 

Pada 11 Mei, 64 tahun lalu, UMNO atau Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu ditubuhkan atas kesedaran memastikan nasionalisme atau ketuanan Melayu dan Islam terus dipertahankan di negara ini. Pada ketika itu ancaman penubuhan Malayan Union oleh British yang bakal menyaksikan orang Melayu kehilangan hak dan kuasa di tanah air sendiri telah mengumpulkan kekuatan yang membawa kepada pembentukan parti yang menjadi pembela nasib Melayu. Ketika itu juga Inggeris terus mengasak dengan penubuhan Malayan Union pada 1 April 1946 yang memberi hak sama rata kepada semua kaum dengan ketua negeri ditukar daripada sultan kepada presiden. Namun hasil tentangan orang Melayu melalui UMNO, Malayan Union dibubarkan pada Julai 1946 dan diganti dengan Persekutuan Tanah Melayu. Tetapi apa yang penting ialah perjuangan UMNO berjaya mengembalikan hak-hak orang Melayu di tanah air mereka dan mengembalikan semula kuasa sultan dan raja-raja.

 

Perlu diingatkan bahawa perpaduan Melayulah yang selama ini menjadi senjata paling ampuh menghancur leburkan rancangan Malayan Union. Perpaduan Melayulah juga yang telah mencetuskan kemerdekaan negara. Perpaduan Melayulah yang memungkinkan termaktubnya keluhuran dan kemuliaan agama Islam, serta kedaulatan Raja-Raja dan bangsa Melayu serta budaya Melayu dalam Perlembagaan negara. Yang menyedihkan apabila selepas 64 tahun ia ditubuhkan dan setelah 53 tahun negara merdeka, segala susah payah dan pahit getir perjuangan menegakkan hak bangsa oleh UMNO seolah-olah dipandang sepi terutamanya oleh golongan muda Melayu. Perjuangan UMNO yang menjadi tonggak kepada penubuhan Perikatan hasil gabungan MCA dan MIC dan Barisan Nasional (BN) pada 1973 yang memberi kemakmuran kepada setiap rakyat tanpa mengira kaum kian dilupakan.

 

Ianya dapat dilihat dengan jelas didalam keputusan PRU ke – 12 yang lepas di mana memperlihatkan senario berbeza terhadap sokongan kepada UMNO dan BN. Adakah selepas lebih enam dekad berbakti, UMNO kini tidak lagi relevan dalam perjuangan menegakkan hak-hak orang Melayu? Namun sejak akhir-akhir ini apabila terdapat bibit-bibit perpecahan di antara orang Melayu, sudah ada yang berani mengambil kesempatan. Ini dapat dilihat apabila Pengerusi DAP, Karpal Singh mengambil tindakan mempersoalkan siapa penulis titah ucapan Yang di-Pertuan Agong dan keputusan Sultan Perak ada kaitan dengan kelemahan pada parti Melayu itu.

 

Ia seolah-olah mengulangi senario pada 1946 apabila Inggeris merampas kuasa raja-raja dan hak Melayu dengan membentuk Malayan Union. Orang Melayu dan UMNO sepatutnya bangkit membantah dan mendesak supaya Karpal Singh menarik balik kata-katanya dan memohon maaf kapada Sultan dan Raja-raja Melayu. Yang menjadi persoalan sekarang mengapa para pemimpin Pas dan PKR diam membisu. Sikap berdiam diri para pemimpin Pas berhubung isu Karpal mengkritik sultan juga menunjukkan pendirian mereka yang tidak konsisten dalam memperjuangkan isu berkaitan Melayu. Setelah sekian lama didesak barulah Tok Guru Nik Aziz mengeluarkan kenyataan yang Karpal Singh adalah menderhaka kepada Raja-raja Melayu. Presiden Pas sendiri masih membisu. Mungkin sedang mencari fatwa yang sesuai untuk digunakan? Malah lebih memeranjatkan lagi apabila penasihat PKR, Anwar Ibrahim dengan egonya mempertahankan tindakan Karpal Singh. Sekarang mungkin rakyat sudah nampak “ warna sebenar “ Anwar Ibrahim.

 

Mungkin kita masih tersentak dengan sikap bekas Menteri Besar Perak yang telah kehilangan kuasa dengan biadapnya memohon ‘ derhaka ‘ kepada sultan Perak kerana tidak berpuas hati dengan krisis yang berlaku di Perak. Tidak pernah terjadi didalam sejarah melayu apabila rakyatnya memohon derhaka semata-mata kerana gila dan tamakkan kuasa! Siapa sebenar dalang dibelakang Mohd Nizar sehingga hilang maruahnya sebagai seorang melayu yang beragama Islam. Walaupun Pas mengatakan mereka juga memperjuangkan Melayu dan Islam namun setakat ini parti itu masih belum menunjukkan kemampuan sebenar dalam memastikan hak Melayu tidak terus tercabar. Bagaimana pula dengan Parti Keadilan Rakyat (PKR)? Adakah nasib Melayu boleh diletakkan di bahu mereka yang mana kalau dilihat daripada peratus pemimpin Melayu mereka tak sampai separuh? Berapa ramai anggota IFC (Interfaith Commission) terdiri daripada pemimpin PKR?

 

IFC ditubuhkan dengan matlamat meminda beberapa ajaran asas Islam yang akan merosakkan akidah orang Islam dan berpihak kepada kepentingan orang bukan Islam. Adakah orang-orang Melayu Islam di dalam PKR tahu dan sedar akan perkara ini wujud di dalam PKR. Apabila berjaya memerintah Selangor dan bersekongkol dengan DAP, sudah mengeluarkan kenyataan untuk menghapuskan DEB. Bolehkan PKR mengambil alih peranan UMNO untuk membela nasib orang Melayu? Adakah disebabkan DAP adalah ahli keluarga Pakatan Rakyat, mereka mengambil sikap tunggu dan lihat sehingga sanggup melihat Raja-Raja Melayu diperlekehkan dengan hanya berpeluk tubuh dan hanya menunggu saat yang memberi keuntungan politik kepada mereka barulah mereka bertindak sesuatu. Untuk menjaga hati DAP mereka sanggup menjadi pengkhianat bangsa mereka sendiri.

 

Sepertimana yang kita tahu Pas dan PKR sanggup perjudikan matlamat perjuangan masing-masing semata-mata mahu bergabung dengan DAP. Terbaru apabila Zaid Ibrahim pula mempetikaikan titah sultan Selangor agar masjid-masjid di negeri Selangor tidak di salahgunakan untuk tujuan politik dan sehingga sekarang masih berdegil tidak mahu memohon maaf kepada baginda sultan. Yang paling ketara adalah Pas apabila sanggup membuang slogan untuk menegakkan negara Islam semasa pilihanraya yang lepas semata-mata hendak bermadu kasih dengan DAP walaupun pemimpin DAP dengan berani dan terus terang menyanggah cita-cita Pas itu. DAP semata-mata ingin menangguk peluang keemasan di atas kebebalan segelintir orang Melayu, sanggup terima Pas dan PKR dalam Pakatan Rakyat untuk menghancur dan memecahbelahkan undi orang Melayu pada PRU-12 yang lepas.

 

Dan apabila melihat Islam ditindas oleh barat di seluruh dunia termasuklah di Malaysia dan melihat orang Melayu Islam sedang berpecah dan kerajaan semakin lemah, ada pula dari pihak Gereja mengambil kesempatan dengan membuat tuntutan untuk menggunakan perkataan Allah di dalam bulletin mereka. Jelas dapat dilihat musuh-musuh Islam mengambil kesempatan apabila Islam berjaya dilemahkan. Terbaru apabila pihak Gereja Katolik Malaysia berjaya di dalam tuntutan mereka apabila mahkamah membenarkan mereka untuk membuat semakan kehakiman terhadap larangan menggunakan kalimah Allah dalam penerbitan mingguan Herald – The Catholic Weekly. Hakim juga membenarkan gereja tersebut untuk membuat semakan untuk perisytiharan penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan mereka dan tuntutan bahawa kalimah Allah tidak eksklusif kapada agama Islam.

 

Dalam budaya amalan dan adat resam Melayu, “Allah” itu ialah nama eksklusif bagi Tuhan Yang Maha Esa dan Satu; Maha Pemurah, Bijaksana dan Pengampun. Orang Melayu dalam amalan mereka tidak mengunakan gantinama “Tuhan” pun untuk memberikan maksud yang sama, tetapi “Allah”. Bayangkan sejak kita lahir kita diajar menyebut dan mengenali Allah Taala dengan lebih dekat, tiba-tiba ada pula agama lain mahu menggunakan nama yang sama dengan Agama Islam. Walaupun mereka mengatakan pihak Kristian di arab menggunakan nama Allah, tetapi itu di Arab dan bukannya di Malaysia. Tidak kah janggal namanya. Tidak kah pihak gereja katolik tahu yang Agama Islam adalah agama rasmi Malaysia sepertimana yang termaktub dalam perlembagaan. Tidak ke tuntutan mereka mengguris perasaan umat Islam di Malaysia. Mengapa sekarang mereka membuat tuntutan itu? Mengapa umat Islam Malaysia berdiam diri apabila Islam dihina sedemikian rupa dengan mempermain-mainkan nama Allah yang maha esa.

 

Malah ada pula segelintir umat Islam yang dikatakan hendak menegakkan ‘Islam mereka’dinegara ini kerana gilakan kuasa sanggup bersekongkol dengan pihak gereja agar nama Allah boleh digunakan oleh Kristian! Ini tidak termasuk nama-nama lain seperti Anwar Ibrahim, Khalid Samad dan lain-lain. Mereka-mereka ini sanggup melacurkan ugama demi untuk mendapatkan satu undi. MasyaAllah!

Tidak kira apapun jua tuntutan mereka sama ada IFC ataupun pihak gereja katolik demi memastikan kedaulatan Islam itu tetap utuh ditanah air kita, sama-samalah kita bersatu menentang apa jua bentuk penindasan terhadap Agama Islam yang maha mulia ini. Oleh itu, adalah menjadi tugas dan tanggungjawab suci setiap umat Melayu yang beragama Islam untuk terus berjuang mengekal, dan lebih dari itu bagi meningkatkan perpaduan bangsa Melayu pada setiap masa.

 

Perpaduan ini wajar terus dipupuk, dipelihara, dibajai dan dijagai dengan rasa penuh bertanggungjawab bagi memastikan simpulan perpaduan ini tidak mudah terlerai atau mudah diperkotak-katikkan oleh sesiapa sahaja. Kita juga harus insaf, dalam kita membawa pelbagai pembaharuan, perlulah kita mempastikan bahawa kita tidak kehilangan arah, tidak juga kehilangan punca. Untuk tidak kehilangan arah, dan supaya tidak kehilangan punca, maka dengan itu perlulah kita sedar dan perlulah kita menghayati asas-asas falsafah bangsa Melayu yang dirumuskan oleh ajaran agama. Asas falsafah kehidupan bangsa Melayu mengatakan bahawa hidup bersendi adat, adat itu bersendikan syarak, dan syarak pula bersendikan Kitabullah”.

 

Petikan artikel : Taminsari

 

belantan.blogspot.com/

 

Seiring dengan munculnya Window 8. Beberapa perusahaan- perusahaan pencipta gadget kini mulai menyematkan Windows 8 didalam gadget termasuk tablet. Dalam hal teknologi multi media, Acer juga langsung menawarkan produk canggih Windows 8 yang mampu menyuguhkan keunikan OS baru tersebut. ICONIA W510 adalah salah satu produk Acer yang diberi dengan nama Iconia PC tablet dengan Windows 8, Iconia W510 ini diciptakan berkemampuan multifungsi dan mempunyai penampilan yang menakjubkan.

 

Apa kecanggihan dari Window 8?

 

Windows 8 dipastikan mendukung Touch Screen. Supaya Touch Screen  berfungsi, tentu saja layar LCD atau Laptop harus mendukung fitur touch screen pula.

 

System Boot Time Paling Cepat. Dibanding Windows XP, Vista dan 7,  sistem operasi Windows 8 yang memiliki waktu booting yang paling cepat. Ini sudah dibuktikan dengan ujicoba.

 

Windows To Go. Ini adalah fitur unik terbaru dari Windows 8 yang saat ini sebagai fitur terbaik dari Windows 8. Fitur ini memungkinkan anda untuk menyimpan atau memindahkan sistem operasi anda kedalam sebuah flashdisk atau harddisk eksternal berikut dengan aplikasi-aplikasinya. Tentu saja hal ini akan sama seperti hal nya anda membawa satu keseluruhan PC dirumah anda kemanapun anda akan pergi.

Fitur Windows 8  ini juga dapat berfungsi sebagai backup sistem operasi bila sewaktu-waktu terjadi error / crash pada Windows anda sehingga anda tidak perlu menginstal ulang seluruh aplikasi, data dan sistem operasi anda yang jauh lebih memakan waktu.

 

Anti Virus Canggih. Selain itu kelebihan tablet yang menggunakan Windows 8 adalah terkait keberadaan software anti virus yang sudah terintegrasi di dalamnya, yakni Windows Defender.

Dengan adanya anti virus ini, Microsoft mengklaim bahwa pengguna tablet Windows 8 sudah terlindungi dari ancaman virus sejak tablet tersebut pertama kali digunakan.

 

Namun bila pengguna ingin menggunakan antivirus lain, secara otomatis Windows Defender akan ter-disablesesaat setelah anti virus lain diinstal.

 

Sebaliknya, bila anti virus lain tersebut dinonaktifkan (uninstal), dengan sendirinya Windows Defender akan aktif kembali.

 

Kolaborasi Iconia PC tablet dengan Windows 8

 

Acer kali ini tidak hanya menciptakan produk komputer saja, tetapi terus mengekplorasi dengan memproduksi tablet dengan spesifikasi hardware yang tinggi untuk dapat dimasukkan banyak fitur dan aplikasi di dalamnya guna menawan hati konsumen. Salah satu produk terbaru Acer Iconia W510. Acer Iconia W510 ini bisa dikatakan sebuah tablet dan bisa dikatakan sebuah PC laptop. Terkadang banyak yang terkecoh dengan desainnya yang unik. Itulah Acer yang selalu mberkreasi dengan desain- desain unik dengan mempersembahkan sebuah mahakarya Acer Iconia PC tablet dengan Windows 8.

 

Seperti layaknya sebuah PC, Iconia W510 dipersenjatai 

prosesor 1,5 GHz dual core (4

thread) Intel terbaru, Atom Z2760 untuk bisa menjalankan OS Windows 8. Performa prosesor ini sangat baik dan diciptakan khusus untuk sebuah tablet. Pemakaian dayanya lebih rendah, hingga Iconia dapat bekerja sampai 10 jam. Untuk dapat menggunakan Window 8 dengan maksimal Iconia W510 disematkan pula RAM kapasitas 2

GB. Sedangkan memeori internal dibekali 64GB.Untuk lebih jelasnya baca spesifikasinya di sini Spesifikasi Acer Inconia W510

 

Bagi yang belum terbiasa dengan Window 8, Acer Iconia tetap bisa diakses dengan UI "klasik" yang menyerupai Window 7. Sebenarnya Iconia W510 ini juga menggunakan

software yang umumnya dipakai di Windows 7. Jika keyboard dipasang pada monitornya, maka berubahlah tablet ini menjadi sebuah laptop PC. Suatu inovasi desain tercanggih yang ada pada Acer Iconia.

 

Coba lihat Video Acer Iconia W510.

    

Kolaborasi Iconia PC tablet dengan Window 8 ini menciptakan sebuah tuntutan gaya hidup. Acer Iconia  W510 sebagai tablet untuk kebutuhan casual browsing, seperti bisa digunakan sebagai media bermain game, untuk

membantu pekerjaan kantor seperti membuat laporan, melakukan presentasi, dan  membuat tabel

perhitungan keuangan anda. Tentu saja Acer Iconia W510 ini juga bisa dijadikan sebagai sarana multimedia untuk

memutar beraneka video- video favorit anda. Tidak perlu khawatir dengan kekuatan daya baterai yang sangat ampuh dan layar dengan tampilan memanjakan mata, tentunya menggunakan Iconia PC tablet tercanggih dengan Window 8 membuat hidup anda akan semakin bersemangat.

 

Manfaatkan Windows 8 sebagai OS untuk menikmati beragam fitur pada acer iconia W510 yang sebelumnya tidak bisa diperoleh dari perangkat biasa. Hanya acer yang ada windows 8 nya, karena saya sendiri belum menemukan merk produk lain yang menyematkan Windows 8 di dalamnya.

NABI SAW dalam hadis diriwayatkan daripada Abu Hurairah, seorang lelaki datang kepada Nabi SAW lalu berkata: “Berwasiatlah kepadaku Ya Rasulullah. Lalu Baginda bersabda: Jangan engkau marah.” Nabi SAW mengulanginya sebanyak tiga kali.

 

Setiap manusia ada mempunyai sifat marah, begitu juga haiwan. Seekor kucing yang jinak dan manja akan marah apabila kita menyakitinya dengan menarik ekornya beberapa kali.

 

Sifat sabar adalah penghalang daripada sifat marah. Bagaimanapun, kesabaran ada had dan batasnya kerana apabila sudah hilang sabar maka timbullah kemarahan.

 

Menurut Imam Al-Ghazali, sikap marah ialah nyalaan api bersumber daripada api Allah yang menyala dan menjulang tinggi sampai naik ke hati. Maka terpulang kepada seseorang untuk cepat marah, marah keterlaluan (marah tidak bertempat), marah pertengahan (mampu mengawal marahnya) atau tidak tahu marah.

 

Marah yang sederhana adalah marah terpuji, manakala tidak tahu marah adalah terkeji dan marah keterlaluan adalah termasuk dalam marah terkeji yang dilarang oleh Nabi SAW seperti sabdanya.

 

Marah keterlaluan dilarang Islam kerana mendatangkan kesan dan implikasi tidak baik kepada orang yang marah, juga orang kena marah. Disebabkan marah ada rumah tangga runtuh, kerana marah anak didera, pembunuhan berlaku, anak lari dari rumah, majikan ditetak pembantu rumah dan kerana marah orang saman-menyaman.

 

Menurut Imam Al-Ghazali, 10 punca menyebabkan sifat marah:

 

* rasa bangga diri (sombong)

* takjub kepada peribadi sendiril

* suka bergurau senda yang ber lebihan dan melampaui batas

* suka bercakap perkara sia-sia

* suka membuat fitnah

* suka berbantah-bantah dalam sesuatu perkara

* khianat

* tamak kepada harta dan pangkat

* tidak dapat mengendalikan nafsu dan emosi dengki dan irihati.

 

Apabila seseorang itu marah maka pergerakan fizikalnya akan turut berubah. Api kemarahan semakin memuncak menyebabkan percakapannya menjadi kuat, kata-kata tidak teratur, bahasanya lucah, kasar dan bersifat menghina.Orang yang marah akan merendah-rendahkan orang dimarah, muka dan matanya menjadi merah, badannya terketar-ketar, tangan dan kakinya menjadi ringan untuk memukul dan menghentam, akalnya pada waktu itu tidak digunakan secara betul, semua tindakan mengikut nafsu kemarahannya.

 

Bagi orang yang waras, tentu kita tidak sanggup melihat keadaan kita sewaktu marah jika ia dirakam dan ditayang semula untuk menontonnya. Bagi orang yang kena marah mungkin akan berdiam diri, kadang kala melawan dengan kata-kata atau kekuatan.

 

Marah turut berlaku kepada individu yang mempunyai kedudukan seperti orang agama berstatus ustaz, ustazah, tuan guru, ulama, marah dan melenting.

 

Marah yang dipuji adalah marah yang pertengahan, iaitu marah bertempat. Contohnya, seorang bapa marah kepada anaknya yang tidak mahu bersolat atau menutup aurat. Nabi SAW mengajar dalam sabdanya yang bermaksud: “Suruhlah anak kamu bersolat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka yang tidak mahu bersolat ketika berumur 10 tahun dan pisahkan mereka dari tempat tidur.”

 

Marah kepada mereka yang memusuhi Islam sehingga kita boleh mengisytiharkan berperang. Begitu juga dalam mencegah kemungkaran, perlu ada marah.

 

Contoh paling hebat berlaku dalam sejarah ialah ketika Saidina Ali berada dalam satu peperangan di mana beliau hampir hendak memenggal leher musuhnya, tiba-tiba musuhnya itu meludah mukanya. Lalu Saidina Ali tidak jadi memenggal lehernya.

 

Maka musuhnya berasa pelik lalu bertanya kepada Saidina Ali mengapa tidak jadi membunuhnya. Maka Saidina Ali menjawab: “Aku takut bahawa aku membunuhmu bukan kerana Allah tetapi kerana marah kepada kamu kerana meludahku.” Hebatnya Saidina Ali masih lagi menggunakan pertimbangan akal dan syariat walaupun ketika marah.

 

Ubat Sikap Marah

 

MARAH satu daripada sifat tercela (mazmumah) yang dibenci Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w. Perasaan marah yang gagal dikawal sebenarnya boleh menimbulkan sifat keji lain seperti dendam, dengki, sombong dan angkuh.

 

Gagal mengawal emosi atau cepat naik angin biasanya berlaku ketika seseorang itu hilang pertimbangan.Memang benar ada yang mengatakan ‘aku sudah meletup, memang aku tak boleh buat apa-apa.’ Tetapi lebih baik kita belajar menenangkan diri sebelum menghamburkan sebarang bentuk perkataan kepada pihak lain.

 

Selain itu, melihatkan status diri sebagai insan yang berakal membolehkan kita menilai dulu sesuatu perkara sebelum melakukan sebarang tindakan yang bersandarkan desakan emosi semata-mata.

 

Ketika dalam keadaan marah, manusia sebenarnya dikuasai syaitan yang akhirnya akan berlaku suasana tegang seperti kawan bertengkar sesama kawan atau anak mengherdik ibu bapanya.

 

Allah s.w.t berfirman bermaksud: “Dan Tuhanmu (Allah ) perintah, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa.

 

“Jika salah seorang daripada keduanya atau kedua-duanya sekali sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaan, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun perkataan ‘uh’, dan janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan mulia (yang bersopan-santun).” (Surah al-Israk ayat 23).

 

Tidak kurang juga sifat marah yang timbul sesama kita, lebih-lebih lagi jika tiada persefahaman dalam sesuatu perkara. Satu pihak mula marah dengan pihak lain dan seterusnya mula timbul tuduh menuduh dan berprasangka buruk sesama sendiri.

 

Lebih buruk, jika perasaan marah itu gagal ditenteramkan walaupun sebelah pihak mungkin sedaya upaya mententeramkan keadaan.

 

Sebagai umat Islam, Nabi Muhammad s.a.w menganjurkan kita beberapa teknik bagi mengawal perasaan marah.

 

Cara terbaik dengan mengeluarkan kata-kata berhikmah. Kata-kata yang baik terbit daripada hati yang suci dan boleh menjadi pedoman kepada manusia.

 

Dari satu sudut lain, sifat pemarah senjata bagi menjaga hak dan kebenaran. Justeru, seseorang yang tidak mempunyai sifat marah akan dizalimi serta dicerobohi haknya.

 

Tetapi perkara tercela adalah sifat marah yang tidak kena pada tempatnya. Justeru, sebelum mengeluarkan kata-kata yang tidak elok ditutur, lebih baik sekiranya segera beristighfar.

 

Namun, kita sebenarnya tidak boleh menjadikan marah itu sebagai ukuran tepat untuk menggambarkan perasaan tidak puas hati.

 

Kita masih mempunyai masa bagi mengawal percakapan daripada menuturkan kata-kata berunsur herdikan, cacian seterusnya membibitkan perasaan marah yang tiada taranya.

 

Ini kerana setiap manusia mempunyai hati dan perasaan yang perlu dijaga. Kita sebenarnya tidak boleh sewenang-wenangnya mengambil jalan ‘pintas’ iaitu terus memarahi tanpa menyelidiki pokok pangkalnya. Sudah tentu, tindakan marah kita itu akan menjadi sia-sia serta menjarakkan hubungan persaudaraan.

 

Walaupun orang yang dimarahi itu melakukan kesilapan, sekurang-kurangnya mereka perlu memberi peluang daripada melemparkan perasaan marah berkenaan.

 

Marah boleh, tetapi jangan menjadi orang yang mempunyai sifat pemarah. Sebenarnya, apa yang terkandung daripada sifat marah itu perasaan benci terutama jika emosi menebal itu gagal dikawal sehingga terhambur perkataan cabar mencabar sehingga sanggup memberi ancaman kecederaan dan bunuh kepada individu lain.

 

Rasulullah s.a.w menganjurkan umatnya supaya tidak menjadi seorang yang pemarah seperti diriwayatkan Abu Hurairah, ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah: “Berpesan kepadaku! Baginda berkata: Jangan marah. Orang itu mengulangi lagi beberapa kali minta supaya dipesan. Namun baginda masih tetap berkata: Jangan marah!” (Riwayat al-Bukhari).

 

Bagi mengubati penyakit marah ini, Islam mengajar umatnya menahan diri ketika marah dan sabar apabila melawan hawa nafsu yang meluap-luap itu.

 

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya marah adalah secebis api yang dinyalakan dalam hati. Tidakkah engkau melihat kepada kedua-dua matanya yang merah dan urat-urat lehernya yang menggelembung? Maka apabila salah seorang daripada kamu berasakan sesuatu dari yang demikian, maka rapatkan diri kamu ke muka bumi (duduk menenangkan diri atau sujud kepada Allah).” (Riwayat al-Tirmidzi).

 

Sebenarnya, sifat marah itu dicetuskan syaitan yang dijadikan daripada api. Oleh itu ingatlah api itu boleh dipadamkan dengan air. Apabila seseorang itu sedang marah, sebaiknya dia hendaklah segera berwuduk, kerana air yang disapukan pada anggota wuduk bukan saja dapat menjauhkan diri daripada godaan dan hasutan syaitan, malah ia dapat menyejukkan muka dan anggota badan kita yang ‘membara’ akibat marah itu.

 

Rasulullah s.a.w bersabda bermaksud: “Apabila seseorang daripada kamu marah, maka hendaklah ia mengambil wuduk. Maka sesungguhnya marah itu daripada secebis api.” (Riwayat Abu Daud).

 

Mereka yang dapat menahan dirinya daripada dikuasai sifat marah akan mendapat ganjaran setimpal dengan usahanya. Rasulullah bersabda bermaksud: “Janganlah kamu marah dan bagi kamu balasan syurga.” (Riwayat al-Bukhari).

 

Sekiranya kita dimarahi, janganlah pula menambah buruk lagi keadaan. Kita harus memainkan peranan bagi memadamkan api kemarahan itu.

 

Firman Allah s.w.t yang bermaksud: “Dan juga (lebih baik dan lebih kekal bagi) orang yang menjauhi dosa besar serta perbuatan keji; dan apabila mereka marah (disebabkan perbuatan yang tidak patut terhadap mereka), mereka memaafkannya.” (Surah al-Syura ayat 37).

 

Antara langkah untuk mengawal dan mendidik diri supaya lebih bersifat tenang:

 

* Cuba pertimbangkan keadaan yang menyakiti hati itu. Fikirkan sama ada kemarahan kita itu mempunyai alasan kukuh atau tidak.

 

* Jangan menyalahkan orang lain. Beri tumpuan kepada punca sebenar yang mencetuskan kemarahan kerana ia mungkin juga berpunca daripada diri kita sendiri.

 

* Perbaiki keadaan selepas kita berada dalam keadaan tenang dan terkawal. Jangan lepaskan kemarahan kepada orang lain semata-mata kerana tidak puas hati dengan individu lain.

 

* Dapatkan rehat dan tidur secukupnya selain makan makanan berkhasiat kerana apabila badan letih, ia akan menyebabkan seseorang itu lebih cepat naik marah.

 

* Amalkan senaman ringkas selama beberapa minit setiap hari bagi mengurangkan ketegangan.

 

* Jadi seorang pendengar yang baik. Sifat orang pemarah adalah dia sangat sukar mendengar pendapat orang lain kerana merasakan tindakan serta pendapatnya mengatasi orang lain.

 

* Jauhi amalan yang menjadi punca perkelahian seperti suka merendah-rendahkan, memperlekeh serta mengherdik orang lain lalu digantikan dengan sifat memuliakan orang.

 

* Amalkan bacaan A’uzubillah himinasyaitaannirrajiim (Aku berlindung kepada Allah s.w.t daripada syaitan direjam) selain tidak meninggalkan solat kerana di dalamnya terdapat kesan hebat yang boleh menerbitkan perasaan tenang jika diamalkan dengan sepenuh ikhlas.

Hati adalah sumber ilham dan pertimbangan, tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil, ketenangan dan kebimbangan. Hati juga sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya.

Aktiviti yang dilakukan sering berpunca daripada lurus atau bengkoknya hati. Abu Hurairah r.a. berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera.Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya.. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya".

Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:

1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan

Terutama malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifatkan kaum munafikin dalam firman-Nya yang bermaksud,

"Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (Surah At-Taubah, ayat 54)

2. Tidak berasa gerun dengan ayat al-Quran

Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali, tidak mahu khusyuk atau tunduk, dan juga lalai daripada membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling daripadanya. Sedangkan Allah S.W.T memberi ingatan yang ertinya,

"Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman Ku." (Surah Al-Qaf, ayat 45)

3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat

Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-ma ta. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesama manusia hanya untuk urusan dunia sahaja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego dan individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.

4. Kurang mengagungkan Allah.

Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah dilecehkan orang. Tidak mengamal yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

5. Tidak belajar dengan Ayat Kauniah

Tidak terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa yang dapat memberi pengajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan seumpamanya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai perkara biasa, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat.

"Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahawa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pel ajaran?" (Surah At-Taubah, ayat 126)

  

“Kalau keindahan surga hanya sebatas gambaran kitab suci atau imajinasi Dante dalam The Divine Comedy,” kata Siti Zindiki, istri saya, “maka aku tidak tertarik untuk mati.”

 

“Tapi hidup abadi itu cuma dongeng, Sayang,” kata saya. “Dan, setelah mati, Tuhan hanya menyediakan dua tempat untuk kita: surga atau neraka.”

 

“Bukankah sudah sering aku katakan,” katanya. “Bagiku, tuhan itu cuma anagram dari hutan, tahun, dan hantu. Atau kalau kau mau dengar yang lebih acakadut: nthau!”

 

“Sayang,” kata saya, “kamu boleh-boleh saja tidak percaya kepada Tuhan. Tapi bagaimanapun juga kamu harus percaya pada kematian.”

 

Jauh sebelum bertemu dengan Siti Zindiki, saya hanya seorang bocah dekil dari dukuh terpencil yang sudah terbiasa menyaksikan Pasukan Tentara dan Gerombolan Tiga Huruf [1] saling membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan yang sama. Mereka berharap menang atau mati sebagai martir, tapi sampai sekarang saya masih belum bisa memastikan harapan pihak manakah yang benar-benar dikabulkan. Seperti semua orang yang tinggal di dukuh itu, satu-satunya harapan yang bisa saya banggakan adalah bertemu dengan hari esok; sekaligus menjadikan rasa pesimistis sebagai belenggu yang senantiasa menggerogoti nalar kebebasan liar di puing-puing benak masa kecil saya. Tapi sejujurnya: saya harus berterima kasih kepada siapa pun yang telah membawa perang ke dukuh kami, karena situasi tersebut sangat berandil besar dalam membentuk diri saya hingga menjadi seperti sekarang.

 

Meskipun demikian, perang memang bukan satu-satunya ancaman paling menakutkan yang mengoyak-ngoyak rasionalitas penghuni dukuh kami—tidak punya listrik dan akses informasi yang memadai saja sudah membuat kami tertinggal dalam semua hal nyaris setengah abad. Nyatanya, sumber bacaan yang tersedia di dukuh kami hanya Al-Quran dan kitab-kemitab kuno yang dijejali dengan huruf Jawi belaka, dan itu pun cuma didaras dengan serius oleh generasi lontok yang sudah kehilangan selera untuk menuruti godaan duniawi, sehingga hampir tidak ada seorang pun yang melek aksara Latin atau memahami fungsi angka melebihi hitung-hitungan jumlah ternak. Karena itu, pada masa-masa awal ketika Pasukan Tentara mulai membangun barak minimalis sebagai mastautin sementara, banyak warga yang melempari tempat itu dengan bongkahan batu dan balok kayu hanya karena menemukan sebuah buku saku UUD ‘45 milik salah seorang tentara yang tercecer di jalanan dan mereka curigai sebagai lembaran laknat yang berisi ajaran sesat.

 

Sayangnya, Pasukan Tentara malah salah kaprah dalam menanggapi aksi konyol tersebut, lantaran mereka menganggap sekumpulan warga yang protes itu sebagai utusan Gerombolan Tiga Huruf, sehingga menembak mati semua orang yang mencoba untuk melawan. Tidak dapat dimungkiri: perkara sepele semacam itu pada akhirnya berhasil membentuk kesepakatan kolektif yang membuat kami merasa hidup lebih nyaman bersama Gerombolan Tiga Huruf yang tidak menjanjikan apa-apa ketimbang bersama Pasukan Tentara yang berkoar-koar untuk membawa perdamaian dan kesejahteraan bagi dukuh kami.

 

Sebenarnya momen masa kecil yang paling saya ingat jauh lebih memilukan dari sekadar urusan orang dewasa. Setelah Pasukan Tentara menetap di sekitar area dukuh, kami merasa segalanya benar-benar telah berubah. Salah satu yang paling mencolok adalah hubungan harmonis yang terjalin antara warga dan Gerombolan Tiga Huruf.

 

Saban hari Jumat tiba—sementara orang dewasa dan Pasukan Tentara tengah mendengarkan khotbah dan menunaikan salat berjemaah di menasah-saya dan semua anak-anak dukuh berusia 7 sampai 10 tahun ditugaskan oleh Pak Kejurun [2] agar menyusup ke hutan secara berpasangan. Untuk menghindari pengawasan dari tentara, kami disuruh berjalan kaki dengan sembunyi-sembunyi menuju sebuah pondok reyot berdinding gedek yang terletak di tepi rimba. Di sana kami sudah ditunggu oleh seorang perempuan paruh baya yang menyerahkan sebuah berunang berisi makanan dan beberapa jeriken air bersih sebagai bekal harian bagi Gerombolan Tiga Huruf. Waktu itu kami masih terlalu kecil untuk memahami kenyataan, sehingga dengan diiming-imingi hadiah berupa beberapa butir guli, kami langsung menerima tugas itu dengan sukacita.

 

Saya lupa entah sudah berapa kali menjadi relawan dalam misi tersebut, tapi saya selalu mengingat misi terakhir yang membuat hidup saya berubah untuk selamanya. Saat itu saya ditugaskan untuk mengambin berunang yang berisi makanan, sedangkan Fathoni Wantona—teman saya yang berusia lebih tua dua tahun—bertugas menenteng jeriken. Seperti hari-hari berbahaya lainnya, kami, sepasang bocah polos, sedang meniti jalan lecak sembari bercerita ihwal serunya permainan guli yang akan kami lakukan setibanya di rumah nanti. Tapi tiba-tiba Fathoni Wantona merisak kebahagiaan semu itu dengan mengatakan bahwa kami berdua akan pulang ke rumah melalui jalan yang berbeda. Mulanya saya menanggapi ucapannya secara harfiah, sehingga di pertengahan jalan kami benar-benar memutuskan untuk berpisah. Namun, tidak lama setelah saya mengambil jalan lain melalui rimbunan semak belukar, sekonyong-konyong seorang tentara mencegat langkahnya. Untungnya saya masih sempat bersembunyi dan menyaksikan langsung momen tersebut.

 

“Bukankah tidak baik anak kecil main sendirian di tengah hutan?” tanya tentara itu sok ramah dan pura-pura tidak tahu. “Bawa bekal pula.”

 

Fathoni Wantona hanya diam.

 

“Biarkan paman menebaknya,” kata tentara itu. “Air dalam jeriken yang kamu bawa pasti untuk seseorang, kan?”

 

Fathoni Wantona masih diam.

 

“Oh, jangan-jangan dia bukan satu orang,” kata tentara itu gigih, “tapi banyak orang.”

 

Fathoni Wantona lagi-lagi cuma diam, tapi hanya sejenak.

 

“Paman benar,” dia mulai buka suara. “Ini memang bukan untuk satu orang, tapi untuk puluhan orang. Tapi Paman salah kalau mengatakan ini minuman. Sebenarnya ini obat kebal.”

 

“Ha-ha-ha…,” tentara itu tergelak dengan tawa yang meremehkan.

 

“Aku serius, Paman,” kata Fathoni Wantona. “Paman pasti belum tahu bahwa orang-orang yang ingin Paman temui itu tidak mempan ditembak. Itulah sebabnya semakin hari mereka bertambah banyak. Tapi berjanjilah Paman tidak akan memberi tahu siapa pun tentang rahasia ini, termasuk kepada mereka. Sebab, kalau mereka tahu, aku pasti akan dibunuh.”

 

Tentara itu mengernyit.

 

“Kalau Paman tidak percaya pada omonganku,” kata Fathoni Wantona meyakinkan, “mari kita buktikan.”

 

“Caranya?”

 

“Aku akan menuangkan air ini ke seluruh rambutku,” katanya. “Setelah itu Paman boleh menembak kepalaku.”

 

“Jangan bergurau, Nak!” kata tentara itu kaget.

 

“Aku bersungguh-sungguh, Paman,” kata Fathoni Wantona.

 

Tentara itu tampak wagu karena tidak bisa menyembunyikan kebimbangannya. Dari gelagat dan delik matanya yang tidak pernah bisa saya lupakan, saya sangat yakin dia termasuk golongan orang yang percaya pada mitos dan hal-hal adikodrati lainnya. Karena itu, dia hanya termangu dan berkeringat dingin menyaksikan Fathoni Wantona yang tengah masyuk menuang dan mengusap sisa tetesan air dari jeriken yang ditentengnya hingga merata ke seluruh rambut dan kepalanya.

 

“Aku sudah siap, Paman,” kata Fathoni Wantona. “Sekarang Paman boleh menembakku.”

 

“Kamu jangan main-main, Nak,” kata tentara itu ragu.

 

“Aku bersungguh-sungguh, Paman,” kata Fathoni Wantona mengulangi ucapannya. “Bergegaslah…, sebab kita tidak punya banyak waktu. Aku takut salah seorang dari mereka melihat kita; dan jika itu terjadi, aku pasti akan dibunuh.”

 

Tanpa berpikir panjang, tentara itu langsung mengokang pelocok senapannya. Setelah itu, dengan tangan gemetaran, dia melepaskan sebuah tembakan dengan suara yang menggema ke seantero hutan sehingga membuat sekumpulan burung kucica terbang berhamburan karena merasa terusik. Tentu saja peluru yang dilepaskan oleh senapan itu berhasil menembus kepala Fathoni Wantona, sehingga tentara itu berkaru setelah menyadari kedunguannya—persis seperti orang tulu. Dalam keadaan kalut, saya langsung lari kalang kabut sonder mengacuhkan segala kemungkinan yang barangkali akan membuat saya mati. Dari kejauhan, saya masih sempat mendengar satu suara tembakan lagi.

 

Jauh setelah peristiwa itu, takdir mempertemukan saya dengan Siti Zindiki; hingga kami menikah dan saling bersawala sebagaimana percakapan di awal kisah ini.

 

“Bagi saya,” kata Siti Zindiki, “kematian itu hanya gejala alamiah biasa.”

 

“Itu karena kamu belum mengalaminya, Sayang,” kata saya.

 

“Kamu bicara seperti itu seolah-olah sudah pernah mati saja.”

 

“Saya memang belum pernah mati,” kata saya. “Tapi, ketika negeri ini masih dilanda perang, saya telah menyaksikan banyak momen kematian yang mengerikan.”

 

“Untuk masalah jumlah, barangkali kamu menang,” katanya. “Tapi apakah kamu pernah melihat ayahmu menembak kepalanya di hadapan matamu sendiri?”

 

“Tidak.”

 

“Saya pernah,” kata Siti Zindiki. “Seharusnya saat itu saya masih sempat untuk menghentikan ayah. Dulu saya percaya tidak ada orang yang lebih baik ketimbang dia. Tapi, sebelum tewas, dia masih sempat menulis sepucuk surat pengakuan yang membuat saya terperanjat. Katanya, sewaktu perang masih berkecamuk, dia pernah menembak kepala seorang bocah di tengah hutan; dan peristiwa itu membuatnya dihantui oleh rasa bersalah di sepanjang sisa hidupnya. Meskipun sesaat setelah membunuh si bocah dia menembak betis kakinya sendiri sebagai cara untuk menebus dosa, tapi hal itu sama sekali tidak membantu. Sebagai wasiat terakhir, dia meminta kami—keluarga yang dia tinggalkan—agar tidak pernah mendoakannya untuk masuk surga. Sejak saat itulah saya mulai memikirkan arti kebaikan yang pernah dia lakukan. Pada akhirnya saya putus asa sehingga menyelesaikan ikatan sepihak dengan Tuhan yang membuat saya yakin bahwa agama tidak lagi saya butuhkan. Nah, sekarang coba kamu ceritakan, dari sekian banyak momen kematian yang telah kamu saksikan, manakah yang paling membuatmu percaya kepada Tuhan dan kematian?”

 

Setelah mendengar ceracaunya yang mengejutkan, saya hanya termangu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk kali ini dan sampai akhir hidup saya nanti, saya benar-benar telah dikalahkan sepenuhnya oleh Siti Zindiki. Kalah telak!

 

Aceh, September-Oktober 2018

 

Catatan:[1] Gerombolan Tiga Huruf adalah istilah untuk menyebut GAM. Istilah ini populer di kalangan orang Gayo yang mendiami wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.

[2] Kejurun adalah pemimpin dusun dalam sistem adat orang Gayo.

 

Nanda Winar Sagita, lahir di Takengon, Aceh Tengah, pada 24 Agustus 1994. Saat ini bekerja sebagai pengajar sejarah dan penulis lepas. Karyanya dimuat di berbagai media massa. Kumpulan cerpen perdananya, Menjadi Pascamodern dalam 17 Detik, akan segera diterbitkan

 

[1] Disalin dari karya Nanda Winar Sagita

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 17-18 November 2018

 

The post Saya Menikahi Seorang Ateis appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2Bz5I61

Polisi Tahan Aktivis Pro Papua Merdeka

Indra Subagja - detikNews

Jayapura - Polisi menahan aktivis pro Papua Merdeka Buchtar Tabuni. Kini Buchtar mendekam di tahanan Polda Papua.

 

"Dia kita kenakan pasal 106, 110, dan 160 KUHP," kata Direskrimum Polda Papua Kombes Pol Paulus Waterpauw di Polda Papua, Rabu (3/12/2008).

 

Buchtar dijerat dengan pasal perbuatan makar. Dia ditangkap dikediamannya di kawasan Sentani, sekitar pukul 12.00 WIT. "Yang bersangkutan kita perlakukan dengan baik," imbuh Waterpapuw.

 

Sementara kawan-kawan Buchtar, sekitar 30 orang sempat berunjuk rasa di depan kantor Polda Papua. Mereka duduk-duduk di pinggir jalan, sehingga sempat mengganggu arus lalu lintas.

 

Mereka sempat mengeluarkan ancaman agar polisi melepas kawan mereka. "Kalau tidak, siapkan penjara yang besar untuk kami semua," ujar Viktor, seorang rekan Buchtar usai bertemu pihak kepolisian.

 

Mereka juga menuding ada intimidasi dan kekerasan atas diri Buchtar. Akhirnya setelah tidak tercapai kesepakatan sekitar pukul 19.45 WIT, pengunjuk rasa membubarkan diri.

 

Buchtar sebelumnya pernah diperiksa beberapa kali, dia diitengarai terkait aksi pada 16 Oktober 2008 yang mengerahkan ribuan orang dan mendukung deklarasi kemerdekaan Papua di London.(ndr/asy)

Ketika perdamaian Aceh terjalin hampir 9 tahun lalu, saya melihat satu hal yang menjadi “kemewahan” bagi masyarakat Aceh maupun rakyat Indonesia saat itu, yaitu HARAPAN. Harapan akan hidup damai, tenang, aman bebas dari ancaman dan teror serta berbagai “kemewahan” lainnya yang menjadi impian rakyat Serambi Mekah yang terdera konflik hampir tiga dekade lamanya.

 

Kesepahaman damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kala itu, membersitkan harapan “kemewahan.” Rakyat Aceh pun terbuai dengan harapan-harapan itu. Apalagi ditambah dengan janji-janji manis saat pilkada 2012 lalu. 21 janji mulai dari kesejahteraan 1 juta/kk, sekolah gratis hingga naik haji gratis. Tak lupa, para elit eks kombatan pun menambahkan “bumbu penyedap” lainnya dengan mengumbar janji lainnya untuk menjadikan Aceh layaknya Singapura dan Brunei Darussalam.

 

Hmm, realitas perdamaian di Aceh ternyata tidak seindah tampaknya. Rakyat Aceh sepertinya belum layak untuk menikmati “kemewahan” itu. Teror, intimidasi dan bahkan pembunuhan masih terus terjadi sepanjang tahun dan sepanjang waktu. Apalagi, ketika pesta demokrasi digelar, rentetan peristiwa tragis menjadi bagian dari kerunyaman pesta demokrasi di Serambi Mekah. Saya ingat kata-kata seorang bijak,” Peace is beautiful, but it can not be trusted.” Damai memang indah, tetapi tidak selalu dapat dipercaya.

 

Inilah realitas yang harus dihadapi di Aceh. Mou Helsinki yang sempat menjadi tonggak sejarah perdamaian di Aceh, tampaknya mulai runtuh. Negara-negara yang tadinya mendukung perdamaian itu, satu persatu mulai menunjukkan gelagat “mundur” dan meninggalkan Aceh. Dimulai dari Note Paper Crisis Management Initiative (CMI) pimpinan Marty Ahtisaari April tahun lalu, yang menyebutkan bahwa perkembangan Aceh di bawah kepemimpinan GAM menunjukkan iklim politik yang merugikan bagi demokrasi, dimana Partai Aceh (PA) yang menjadi partai pemerintah ternyata masih dipengaruhi prilaku politik kekerasan yang cenderung militeristik. Bahkan CMI merekomendasikan kepada negara-negara Uni Eropa untuk menunda segala bentuk bantuan kepada Aceh hingga Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan GAM merubah gaya kepemimpinannya.

 

Realitas perdamaian yang tidak sejalan dengan cita-cita tentunya berpulang kepada niat dan komitmen. Apabila sejak awal MoU tersebut diniatkan hanya untuk kekuasaan maka realitas inilah yang menjadi resiko yang harus ditanggung oleh rakyat Aceh sekarang. Demikian pula dengan pengingkaran komitmen butir-butir MoU yang hanya dilihat dari sudut pandang sendiri sehingga konflik pun tak terhindarkan.Oleh karenanya, tonggak sejarah perdamaian yang diakui oleh dunia tersebut, kini hanya merupakan puing-puing kegagalan para elit Aceh yang telah gagal untuk membersihkan niatnya maupun menjaga komitmennya terhadap pentingnya arti perdamaian bagi rakyat Aceh.

Justin Bieber, bocah ini dapat dikatakan ajaib bagi industri tarik suara. Bagaimana tidak, bakatnya dalam menyanyi pada usianya yang dibilang sangat muda telah menjadi bahan perbincangan di seluruh dunia. Buktinya, selain album berjudul My World mampu menempatkan namanya sebagai artis pendatang baru terbaik pada tahun 2009 (Platinum di AS), juga di albumnya yang kedua My World 2.0 langsung menjadi nomor satu di top ten chart di beberapa negara.

 

Ya, yang secara abrakadabra tiba-tiba menjadikan namanya melejit layaknya meteor di industri musik. Dan tidak mengherankan pula jika kemudian Presiden Barrack Obama menempatkan namanya sebagai salah satu tamu undangan VIP dalam gala dinner yang dia helat. Ada cerita lucu dibalik cerita kedatangan Bieber pada gala dinner itu.

 

Cerita ini benar-benar nyata, dan disampaikan salah satu follower sejati Bieber lewat Twitternya. Dian, gadis yang juga pemerhati musik di salah satu portal dot.com terkemuka di Indonesia, adalah salah satu, diantara mungkin ribuan follower Twitter Bieber. Sehingga dia, dan sebagaimana follower Twitter Bieber lainnya, dia dapat meng-up date yang yang dilakukan pujaannya itu.

 

Alkisah, seperti diceritakan Dian, Justin Bieber dulu pernah menyebut dalam Twitter jika sosialita Kim Kardashian, Rihanna dan Beyonce adalah tipikal cewek yang cocok jadi pacarnya. Tidak bertepuk sebelah tangan, nasib benar-benar mempertemukan Bieber, pada tanggal 2 Mei lalu dengan Kim di acara makan malam White House Correspondents 2010 di Washington DC. Tentu saja, sebagai seorang bocah yang bertemu idolanya, Bieber langsung meminta foto bersama, dan Kim pun dengan senang hati menyambut ajakan itu.

 

Singkat cerita, masih cerita Dian, setelah Bieber meng-up load atau nge-twitt foto bareng Kim, dan menyebut kim sebagai girlfriendnya. Yang diikuti komen Kim lewat twittnya berbunyi; ''I officially have Bieber Fever!!!'', dalam hitungan detik, para follower Twitter Bieber di seluruh penjuru dunia memberikan komen lewat twitt mereka. Dari yang bernada sekedar mempertanyakan, bahkan mengancam membunuh Kim! Sehingga membuat Kim melakukan twitt kembali berbunyi; "Seriously Biebs! @JustinBieber I'm getting death threats from your fans! This is unBeliebable!!!".

 

Bieber pun langsung meredakan kemarahan ribuan followernya dengan kalimat; "ladies calm down. @kimkardashian is a friend. a very sexy friend but a friend. no need 4 threats. Let's all be friends and hang out often''.

 

Setelah itu, barulah reda ancaman kepada Kim. Saat ini, para follower Bieber sedang berupaya sangat keras menjodohkan idolanya itu dengan kerabat Kim lainnya, yang juga masih bocah bernama Kendall Jenner. Jenner sebagai Kim adalah model yang sedang hip di AS.

 

credit to: @BennyBenke @SuaraMerdeka @CyberNews

- Proses Ritual Potong Rambut Gimbal Bocah Dieng

e-wonosobo – Puncak Dieng Culture Festival (DCF) 2013 kemarin (30/6) berlangsung meriah. Acara yang telah dihelat sejak dua hari lalu itu, dipungkasi dengan ritual potong rambut gembel (gimbal), melibatkan 7 bocah yang diyakini Titisan Kyai Kolodete, leluhur Pembuka Kawasan Dieng. Para Anak gimbal itu, berasal dari Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegera. Proses ritual yang panjang, mampu menyedot ribuan wisatawan domestik dan manca negara.

Ritual potong rambut gimbal tujuh bocah itu, berlangsung sejak pagi. Sebelum rambutnya dipotong, semua anak dikumpulkan di rumah seorang sesepuh Desa Dieng. Setelah itu, tujuh anak gimbal beserta orang tuanya naik andong atau doker berkuda, keliling desa. Dipimpin oleh para sesepuh yakni Mbah Naryono, Di belakang para sesepuh deretan warga mengusung sesaji meliputi tumpeng, lauk-pauk serta jajanan pasar. Sebagian lagi membawakan berbagai barang yang merupakan permintaan para bocah berambut gimbal sebagai syarat sebelum dipotong rambutnya.

Dibelakang barisan sesepuh dan pembawa sesaji, tujuh anak beserta bapak dan ibunya naik dokar. Rombongan itu, disiringi oleh puluhan kesenian tradisional diantaranya reog, tari wayang orang, kuda kepang, tek-tek bambu, barongsai, dolalak hingga marcing band. Sepanjang perjalanan menyusuri kampung terus menari, sementara ribuan wisatawan lokal dan luar negeri mengiringi sepanjang perjalanan, dan mengabdaikan semua moment.

Setelah keliling kampung, rombongan arak-arakan menuju Sumur Maerokoco yang terletak di Goa Gangsiran Aswatama. Diyakini sumur ini, merupakan sumur yang mengalirkan air suci dan mampu menolah bebendu atau ancaman buruk kepada anak gimbal. Sampai di pinggir sumur, para sesepuh melakukan ritual doa, kemudian dilanjutkan pengambilan air suci, disebut Sendang Sedayu. Menggunakan air suci itu, para anak gimbal dijamas pada bagian muka dan kepalanya.

“Air Suci di Sumur Maerokoco , air suci tertua di Dieng. Sebelum dipotong rambutnya, anak gimbal harus disucikan,”kata Mbah Naryono.

Setelah semua anak gimbal selesai dibasuh wajah dan rambutnya, bersama rombongan anak gimbal dibawa ke depan Komplek Candi Arjuna. Di sana deretan sesaji serta barang dan makanan yang menjadi permintaan anak gimbal sudah di tata dengan rapi.

Permintaan anak gimbal, sebelum dipotong rambutnya, selalu saja ada yang unik. Diantaranya, Alira anak gimbal asal Sumberan Barat Wonosobo, meminta jambu air sebanyak 5 biji serta tempe gembus. Lista, 5, asal Kecamatan Garung, meminta cincin dan petasan kembang api, sementara anak yang lain ada yang meminta baju pesta, serta meminta topi yang harus dibeli di Toko Micky Mouse, sebuah toko pakaian di Wonosobo.

“ Permintaan anak itu, semuanya sudah terpenuhi, dan sebentar lagi akan dipotong rambutnya,” ujar salah seorang Pembawa acara saat mengantarkan proses pemotongan rambut Gimbal di mulut Candi Arjuna.

Sejumlah permintaan ini diajukan anak sebagai akad sebelum dipotong rambut gimbalnya dan harus dipenuhi. Diyakini apabila permintaan tidak dipenuhi, sang anak bisa sakit dan rambut gimbalnya tumbuh kembali.

“Permintaan anak gimbal merupakan syarat, dan harus dipenuhi sebelum dipotong r ambutnya,” ujar Mbah Naryono.

Setelah semua permintaan anak dibacakan, Mbah Naryono sebagai sesepuh kembali melakukan doa, kemudian satu persatu anak gimbal itu dibopong ke depan Candi Arjuna dan dipotong rambut gimbalnya. Proses memotong dimulai dari Bupati Banjarnegara dan jajaran Muspida, menariknya lagi, dalam proses pemotongan melibatkan dua tamu dari luar negeri yakni Steptan Rozkopal Duta Besar Slowakia dan Nico Barito dari Sisilia.

Setelah proses potong rambut gimbal selesai, oleh panitia potongan rambut gimbal dikumpulkan kemudian dilarung di Telaga. Cara ini diyakini untuk mengusir balak, agar tidak terjadi di Dataran Tinggi Dieng serta keluarga anak-anak Gimbal. Karena Telaga mengalir melalui sungai serayu dan bermuara di laut selatan, diyakini sebagai muasal rambut gimbal yang melakat pada sang anak.

Mbah Naryono menyebutkan, bahwa bocah berambut gimbal dipercaya merupakan keturunan Kyai Kolodete, seorang tokoh yang diyakini telah membuka kawasan Dieng yang juga berambut gimbal. Dipercaya bahwa gimbalnya kyai Kolodete merupakan titipan dari Nyi Roro Kidul. Dengan mengalirkan melalui hulu sungai serayu para anak gimbal setelah di potong rambutnya akan selamat.

“ Rambut gimbal merupakan titipan, jadi setelah dipotong harus dikembalikan,” katanya.

Setelah semua anak gimbal dipotong rambutnya dan dipenuhi permintaanya. Deretan makanan sesaji dan tumpeng yang sebelumnya diarak dibawa ke lapangan. Di lokasi itu, dribuan warga sudah menunggu untuk berebut makanan untuk berburu berkah.

Terpisah Alif Fauzi ketue DCF mengatakan, untuk kegiatan tahun ini, meskipun jalan menuju Dieng lewat Wonosobo ditutup untuk kendaraan roda empat, tidak menurunkan minat penggunjung. Karena persiapan yang dilakukan sudah cukup panjang, terbukti selama dua hari acara, semua penginapan, hotel dan homstay di Dieng penuh.

“ Penginapan tidak mampu menampung, banyak pengunjung yang mendirikan tenda di lapangan,” pungkasnya. (rase)

 

- Proses Ritual Potong Rambut Gimbal Bocah Dieng

e-wonosobo – Puncak Dieng Culture Festival (DCF) 2013 kemarin (30/6) berlangsung meriah. Acara yang telah dihelat sejak dua hari lalu itu, dipungkasi dengan ritual potong rambut gembel (gimbal), melibatkan 7 bocah yang diyakini Titisan Kyai Kolodete, leluhur Pembuka Kawasan Dieng. Para Anak gimbal itu, berasal dari Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegera. Proses ritual yang panjang, mampu menyedot ribuan wisatawan domestik dan manca negara.

Ritual potong rambut gimbal tujuh bocah itu, berlangsung sejak pagi. Sebelum rambutnya dipotong, semua anak dikumpulkan di rumah seorang sesepuh Desa Dieng. Setelah itu, tujuh anak gimbal beserta orang tuanya naik andong atau doker berkuda, keliling desa. Dipimpin oleh para sesepuh yakni Mbah Naryono, Di belakang para sesepuh deretan warga mengusung sesaji meliputi tumpeng, lauk-pauk serta jajanan pasar. Sebagian lagi membawakan berbagai barang yang merupakan permintaan para bocah berambut gimbal sebagai syarat sebelum dipotong rambutnya.

Dibelakang barisan sesepuh dan pembawa sesaji, tujuh anak beserta bapak dan ibunya naik dokar. Rombongan itu, disiringi oleh puluhan kesenian tradisional diantaranya reog, tari wayang orang, kuda kepang, tek-tek bambu, barongsai, dolalak hingga marcing band. Sepanjang perjalanan menyusuri kampung terus menari, sementara ribuan wisatawan lokal dan luar negeri mengiringi sepanjang perjalanan, dan mengabdaikan semua moment.

Setelah keliling kampung, rombongan arak-arakan menuju Sumur Maerokoco yang terletak di Goa Gangsiran Aswatama. Diyakini sumur ini, merupakan sumur yang mengalirkan air suci dan mampu menolah bebendu atau ancaman buruk kepada anak gimbal. Sampai di pinggir sumur, para sesepuh melakukan ritual doa, kemudian dilanjutkan pengambilan air suci, disebut Sendang Sedayu. Menggunakan air suci itu, para anak gimbal dijamas pada bagian muka dan kepalanya.

“Air Suci di Sumur Maerokoco , air suci tertua di Dieng. Sebelum dipotong rambutnya, anak gimbal harus disucikan,”kata Mbah Naryono.

Setelah semua anak gimbal selesai dibasuh wajah dan rambutnya, bersama rombongan anak gimbal dibawa ke depan Komplek Candi Arjuna. Di sana deretan sesaji serta barang dan makanan yang menjadi permintaan anak gimbal sudah di tata dengan rapi.

Permintaan anak gimbal, sebelum dipotong rambutnya, selalu saja ada yang unik. Diantaranya, Alira anak gimbal asal Sumberan Barat Wonosobo, meminta jambu air sebanyak 5 biji serta tempe gembus. Lista, 5, asal Kecamatan Garung, meminta cincin dan petasan kembang api, sementara anak yang lain ada yang meminta baju pesta, serta meminta topi yang harus dibeli di Toko Micky Mouse, sebuah toko pakaian di Wonosobo.

“ Permintaan anak itu, semuanya sudah terpenuhi, dan sebentar lagi akan dipotong rambutnya,” ujar salah seorang Pembawa acara saat mengantarkan proses pemotongan rambut Gimbal di mulut Candi Arjuna.

Sejumlah permintaan ini diajukan anak sebagai akad sebelum dipotong rambut gimbalnya dan harus dipenuhi. Diyakini apabila permintaan tidak dipenuhi, sang anak bisa sakit dan rambut gimbalnya tumbuh kembali.

“Permintaan anak gimbal merupakan syarat, dan harus dipenuhi sebelum dipotong r ambutnya,” ujar Mbah Naryono.

Setelah semua permintaan anak dibacakan, Mbah Naryono sebagai sesepuh kembali melakukan doa, kemudian satu persatu anak gimbal itu dibopong ke depan Candi Arjuna dan dipotong rambut gimbalnya. Proses memotong dimulai dari Bupati Banjarnegara dan jajaran Muspida, menariknya lagi, dalam proses pemotongan melibatkan dua tamu dari luar negeri yakni Steptan Rozkopal Duta Besar Slowakia dan Nico Barito dari Sisilia.

Setelah proses potong rambut gimbal selesai, oleh panitia potongan rambut gimbal dikumpulkan kemudian dilarung di Telaga. Cara ini diyakini untuk mengusir balak, agar tidak terjadi di Dataran Tinggi Dieng serta keluarga anak-anak Gimbal. Karena Telaga mengalir melalui sungai serayu dan bermuara di laut selatan, diyakini sebagai muasal rambut gimbal yang melakat pada sang anak.

Mbah Naryono menyebutkan, bahwa bocah berambut gimbal dipercaya merupakan keturunan Kyai Kolodete, seorang tokoh yang diyakini telah membuka kawasan Dieng yang juga berambut gimbal. Dipercaya bahwa gimbalnya kyai Kolodete merupakan titipan dari Nyi Roro Kidul. Dengan mengalirkan melalui hulu sungai serayu para anak gimbal setelah di potong rambutnya akan selamat.

“ Rambut gimbal merupakan titipan, jadi setelah dipotong harus dikembalikan,” katanya.

Setelah semua anak gimbal dipotong rambutnya dan dipenuhi permintaanya. Deretan makanan sesaji dan tumpeng yang sebelumnya diarak dibawa ke lapangan. Di lokasi itu, dribuan warga sudah menunggu untuk berebut makanan untuk berburu berkah.

Terpisah Alif Fauzi ketue DCF mengatakan, untuk kegiatan tahun ini, meskipun jalan menuju Dieng lewat Wonosobo ditutup untuk kendaraan roda empat, tidak menurunkan minat penggunjung. Karena persiapan yang dilakukan sudah cukup panjang, terbukti selama dua hari acara, semua penginapan, hotel dan homstay di Dieng penuh.

“ Penginapan tidak mampu menampung, banyak pengunjung yang mendirikan tenda di lapangan,” pungkasnya. (rase)

 

CINTA SANG PENJAGA TELAGA (Semesta, Pro-U Media)

Harga: Rp.40.000

 

Bukan kekayaan, kecantikan, atau kejeniusan yang Ita miliki. Gadis itu hanya memiliki sawah yang becek dan orang-orangan sawah yang selalu meniupkan lagu kenangan, hutan yang ramah dengan pohon-pohon bertelinga, sungai yang jernih tempat ia menangis dan mengambil air, telaga terpencil di pedalaman yang menjadikannya ratu, seorang sahabat sepanjang dua puluh tahun umurnya, serta mimpi-mimpi yang ia rajut di setiap terbitnya matahari.

 

Apa yang akan kau lakukan jika satu-satunya sahabat yang kau miliki dalam hidup meninggalkanmu, dan muncul kembali sebagai majikan sekaligus ayah dari dua orang bocah yang kau asuh?

 

Apa yang kau lakukan jika di balik kebaikan para penolong terdapat jerat singa yang akan menawan seluruh usahamu untuk hidup? Sebab nyatanya, keluguan dan kesederhanaan Ita terus diberi ujian yang tak pernah main-main. Ita harus merasakan kepahitan cinta, terjebak dalam perangkap penjual tenaga seks, sakitnya fitnah yang menerpa, kesinisan-kesinisan berbagai tipe manusia, serta pedihnya kehilangan orang terkasih yang membesarkannya.

 

Di saat yang sama, ancaman susul menyusul melanda desanya, tempat yang ia tinggalkan ketika menimba ilmu di bangku kuliah dengan tertatih-tatih. Baginya, desa itu adalah damai yang tak pernah akan ia kikis dari mata, hati, dan jiwanya. Meski ia bukan apa-apa, ia bertekad untuk selamanya menjadi penjaga desanya, telaganya.

 

Dan romansa cinta terus mengikat langkahnya, mencoba menyuruhnya berhenti, menunggu, atau berbuat sesuatu. Meski tetap belum ada lega. Ada pertarungan hidup dan mati yang mengajaknya masuk. Dan waktu akan menyaksikan, walau dalam miris, bahwa Ita tak pernah kehilangan keikhlasan hati telaganya, meski jika ia harus kehilangan satu kesempurnaan…

Dalam surah Thaahaa ada menyatakan kisah Nabi Musa dan kaumnya yang disesatkan oleh seorang lelaki misteri bernama Samiri semasa Nabi Musa pergi bermunajat kepada Allah swt di Gunung Sinai. Samiri digambarkan dalam al-Quran sebagai lelaki yang bertanggungjawab mengukir patung sapi emas untuk menjadi bahan sembahan kaum Bani Israil. Patung sapi betina yang diukir oleh Samiri memiliki ‘kuasa’ ajaib sehingga mampu mengeluarkan kata-kata dan suara. Akibat tertarik dengan patung tersebut, hampir seluruh kaum bani Israil lupa terhadap pesanan Nabi Musa untuk kekal menyembah Allah yang Esa.

  

Kesesatan kaum Bani Israil bagaimanapun tidak mampu ditangani oleh adik kandung Nabi Musa iaitu Nabi Harun. Diriwayatkan, sebelum Nabi Musa pergi ke Bukit Sina untuk bermunajat kepada Allah swt, Nabi Harun telah diamanahkan oleh Nabi Musa untuk membimbing kaumnya. Namun kedegilan kaum yang paling banyak diceritakan dalam al-Quran ini tidak mampu dinasihati oleh Nabi Allah Harun. Bahkan, Harun as diherdik dan dicerca oleh kaumnya sendiri. Bergitulah hebatnya tipu helah Samiri yang mampu memperok-perandakan keimanan kaum Bani Israil. Maka, siapakah Samiri ini?

 

Ayat al-Quran yang menyatakan Samiri

 

Dalam surah Thaahaa, ada merakamkan dialog dengan nada agak keras daripada Nabi Musa as terhadap lelaki kufur bernama Samiri. Digambarkan, Samiri adalah lelaki yang cukup berani dan pandai berkata-kata sehingga dialog antara mereka berdua tidak menampakkan sebarang kekakuan Samiri. Samiri melontarkan kata-katanya dengan cukup yakin dan obsesi terhadap ilmunya.

 

95. Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”

 

96. Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasullalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.”

 

97. Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).

 

Surah Thaahaa ayat 95-97

   

Penjelasan Surah Thaahaa ayat 95-97

 

Ancaman Musa as

 

Dalam ayat 95, Nabi Musa telah bertanya kepada Samiri dengan nada yang keras dan bersifat mengancam.

 

Kemudian, pada ayat 96, ahli tafsir muktabar seperti Ibnu Kathir(1301-1373) dan Ath-Tabari (838–923) berpendapat bahawa Samiri telah mendedahkan rahsia ilmu sihirnya. Pada ayat ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya’ , Ibnu Kathir dalam tafsir ulungnya telah memberi penjelasan bahawa Samiri telah melihat Jibrail as datang dengan kuda tunggangannya, Haizum untuk membinasakan Firaun sedangkan kaum Bani Israil tidak melihatnya.

 

Besar kemungkinan ia terjadi semasa Nabi Musa dan Bani Israil melarikan diri secara besar-besaran daripada bumi Mesir. Akibat kekalutan tersebut, kaum Bani Israil yang beribu-ribu orang tidak menyedari kehadiran Jibrail yang menyerupai manusia.

   

Terbina patung sapi betina daripada jejak kuda Jibrail as

 

Pada ayat “aku ambil segenggam dari jejak rasullalu aku melemparkannya”, Ibnu Kathir memberi penjelasan yang antara lain membawa maksud bahawa jejak rasul tersebut adalah jejak kuda tunggangan Jibrail as. Ia diterima secara umum oleh ahli-ahli tafsir lain selepas Ibnu Kathir.

 

Manakala, apa dimaksudkan dengan “segengam dari jejak rasul” itu adalah Samiri telah mengambil segenggam tanah yang dipijak oleh kuda Jibrail as. Menurut ulama tafsir terkemuka, Mujahid, segenggam tanah bererti sepenuh tapak tangan dan genggaman itu dengan menggunakan ujung jari-jarinya. Samiri kemudian menggunakan ilmu sihirnya untuk membentuk sapi emas yang mampu mengeluarkan suara.

 

Samiri dilaknat oleh Allah swt

 

Dalam ayat 97, ada ayat yang berbunyi, “Janganlah menyentuh (aku)”. Menurut Ibnu Kathir, Samiri telah diusir daripada khalayak ramai sehingga beliau tidak mampu menyentuh orang lain dan orang lain pula tidak mampu menyentuhnya kerana kuatir akan menimbulkan kemudratan kepada kedua-dua pihak.

 

Besar kemungkinan Samiri telah dilaknat Allah swt dengan Allah swt telah menurunkan penyakit memberhaya kepadanya seperti penyakit kusta atau wabak yang berjangkit. Menurut ulama tafsir lain seperti Ibnu Ishq dan Ath-Thabari, Samiri telah dihukum oleh Allah swt atas kekafirannya dengan seksaan di dunia dan di akhirat. Tambah mereka lagi, hukuman di akhirat pasti lebih dashyat dengan seksaan api neraka buat selama-lamanya.

 

Siapakah Samiri?

 

Penyusun kitab Siratu Rasulullah, Muhammad Ibnu Ishaq(704M-767M) meriwayatkan daripada Ibnu Abbas ra, beliau mengatakan, “ Samiri adalah seorang penduduk Bajarma dan dia berasal daripada kaum yang menyembah berhala. Dalam dirinya telah tertanam kecintaan kepada penyembahan terhadap patung dan berhala sapi. Samiri menampakkan dirinya adalah pengikut Musa as(Islam) di hadapan kaum Bani Israil namun hatinya bergelojak dengan kepercayaan nenek-moyangnya. Menurut Muhammad Ibnu Ishaq, Samiri adalah nama panggilan bagi seorang individu kufur bernama Musa bin Zhufar.”

 

Qatadah ibnu al-Nu’man, salah seorang sahabat besar Rasulullah saw daripada golongan Ansar telah berkata, “Samiri berasal daripada negeri Samir(Sumaria).”

 

Bagi ahli sejarah ketemporari, mereka berpendapat bahawa Samiri telah menyesatkan kaum Bani Israil dengan membina samaada patung Hathor atau Hapis. Kedua-dua patung tersebut adalah berhala sembahan masyarakat Mesir Purba.

 

Hathor adalah dewa perempuan yang menjadi sembahan turun temurun masyarakat Mesir Purba. Hathor digambarkan sebagai sapi betina dengan kepalanya dihiasi dengan cakera matahari.

 

Manakala Hapis adalah patung sembahan berupa lembu jantan yang menjadi alat sembahan masyarakat Mesir Purba di wilayah Memphis. Berhala Hapis telah pun disembah sejak Dinasti Kedua kerajaan Mesir Purba.

 

Samiri adalah Dajal?

 

Terdapat dakwaan mengatakan Samiri adalah dajjal yang datang untuk menyesatkan kaum Bani Israil. Pendapat ini pertama kali disuarakan oleh pengarang buku terkenal, Muhammad Isa Dawud. Identiti Samiri yang misteri dan dikatakan memiliki ilmu sihir yang tinggi membolehkan ia dikaitkan dengan al-Masih Dajjal. Sejauh mana kesahihan dakwaan tersebut tidak dapat dipastikan kerana samaada al-Quran atau hadis tidak terdapat satu pun yang mengatakan Samiri adalah Dajjal laknatullah.

 

Samiri versi kitab Taurat

  

Dalam kitab Taurat, Samiri yang dimaksudkan dalam al-Quran adalah nabi Harun sendiri. Dalam kitab tersebut, Bani Israil dikatakan meminta nabi Harun untuk ‘mencipta’ tuhan untuk mereka. Untuk memenuhi hasrat mereka, nabi Harun kemudian menyuruh bani Israil mengumpul subang emas untuk dileburkan menjadi sapi emas. Nabi Harun kemudian membina altar di hadapan sapi emas tersebut bagi tujuan penyembahan.

 

32:1 Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir–kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia

 

Genesis 32:1

 

Sepertimana kisah Samiri dalam al-Quran, nabi Harun telah dikatakan menyesatkan kaumnya sendiri dengan mengadakan pesta besar-besaran dihadapan sapi emas ajaib tersebut. Versi kitab Taurat ditolak bulat-bulat ajaran Islam. Ajaran Islam menolak versi tersebut kerana ia terang-terang menidakkan martabat seorang Rasul Allah.

 

Extra

 

Sejak turun-temurun, orang Islam mempercayai bahawa sebuah formasi batuan seperti lembu di Mesir adalah patung yang diukir oleh Samiri. Benarkah ia adalah patung yang diukir oleh Samiri?

 

Dalam al-Quran, Allah swt telah jelas memberitahu dalam surah Thaahaa ayat 97 bahawa Nabi Musa as telah membakar patung tersebut menjadi keping-kepingan dan membuangnya ke dalam lautan.

 

97. Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).

 

Maka, kepercayaan turun-temurun umat Islam terhadap formasi batuan tersebut sangat jelas menyalahi apa yang diperkatakan di dalam kitab suci al-Quran. Ternyata kepercayaan umat Islam secara keseluruhannya selama ini tidak berfakta dan hanya mendengar cerita lisan masyarakat setempat tanpa merujuk al-Quran. Waallahualam.

 

  

AROMA sedap rempah hangat yang khas merebak ke seluruh ruangan. Tampak seorang pria mengeluarkan berloyang-loyang kue berbentuk manusia dengan aksesori tiga kancing baju dari oven. Serbak jahe memanja indra penciuman, membuat ingin segera menyantap barang dua buah. Sesekali ia menyingkirkan peluh yang sedikit mengganggu dengan lengan baju yang ditekuk hingga siku. Hawa sauna dari kepulan asap menyerbu ruangan berbata merah itu.

 

“HAI, Pria Jahe. Baru matang?” Se-orang pemuda yang sebaya dengannya menyapa dengan basa-basi seperlunya.

 

“Oh, hai juga. Seperti yang kau lihat, baru dikeluarkan dari oven. Akan tetapi, kue pesananmu sudah kusiapkan terlebih dahulu. lni pesananmu. Masih hangat”

 

Setelah mengucap sepatah kata terima kasih, orang itu menyodorkan beberapa uang dan pergi. Pria Jahe,begitulah orang memanggilnya, segera beranjak dengan meninggalkan banyak kuejahe yang masih panas.

 

Ketika berniat menyimpan beberapa penghasilan di tempat biasa, pandang-annya teralihkan pada kalender yang menggantung menutupi retakan kecil di dinding. la sadar bahwa hari semakin mendekati angka yang dilingkari tinta merah. Hatinya bergemuruh, sementara kedua tangan yang setiap hari bergulat dengan adonan kue itu mengambil se- buah wadah di sudut kamar dan me- ngeluarkan isinya.

 

“Satu, dua, tiga…”

 

Lembar demi lembar ia cermati tanpa satu pun terlewati. Setelah wadah itu be-nar-benar kosong, Pria Jahe berdesah dengan isi wadah yang telah berpindah ke tangannya dengan genggaman se-mierat. Kedua bola mata dengan iris se-cokelat kue yang tiap hari dibuatnya itu menyusuri ruangan, tak tahu harus berbuat apa. la seperti insan yang kehi-langan kunci pintu kebahagiaan.

 

“Masih kurang banyak.” Berkatalah ia dengan pelan. Berharap hanya rayap penggerogot dipan yang mendengamya.

 

“Ada apa, Nak?”

 

Terdengar suara lemah nan mendayu dari seorang perempuan renta yang berdiri di dekat pintu. Rangka dan raga yang tak lagi sekuat dulu mengharuskan-nya menggunakan sepotong tongkat sebagai alat bantu. Dengan segera, Pria Ja-he menaruh kembali semua uang ke wadahnya. la bungkam seribu bahasa, seakan seluruh kosakata hilang dari be-nak. Tak mau membuat keadaan menjadi pilu, ia pun tersenyum dan berkata seadanya.

 

“Tidak ada apa-apa, Bu.”

 

lbu yang sepertinya kurang yakin den-gan jawaban putra semata wayangnya itu hanya menatap Pria Jahe dengan ragu dan khawatir, tetapi sarat akan kasih sayang.

 

“lbu istirahat saja. Saya harus mengan-tar pesanan,” kata Pria Jahe sambil mengecup kening sang ibu lembut Usai bersiap, berangkatlah dia.

 

**

 

“Dari mana aku mendapat kekurangan uang sebesar itu dalam waktu dekat?” pikir Pria Jahe tatkala melangkahkan kaki dari peradaban pemesan kuenya. Tak disangka ia tadi bertemu lintah darat yang ia pinjam uangnya beberapa bulan lalu untuk pengobatan sang ibu.

 

“Lunasi dalam seminggu, atau tinggalkan rumahmu!”

 

Kata-kata bernada ancaman yang tadi dilontarkan mulut lintah itu terngiang dalam pikirannya. Singkat, tidak bertele- tele, tetapi pedang kalimat itu sukses menghunusnya tepat di ulu hati. Pasti orang awam bisa melihat dengan jelas kegundahan yang melanda pria seperem-pat abad itu.

 

Semua hal tentang utang-piutang yang membebani Pria Jahe berkecamuk dalam pikiran. Selama perjalanan pulang, sesekali kedua tangannya menggaruk kulit kepala yang sama sekali tidak gatal. Langkahnya gontai seperti orang yang tidak tidur tiga hari lamanya. Orang-orang yang lalu lalang tidak digubrisnya. Peda-gang kaki lima yang kebanyakan tetang-ganya heran dengan sikap Pria Jahe kare-na biasanya bibir itu basah dengan sapaan “selamat siang”, “hai”, dan sejenis-nya.

 

Setelah dua kilometer melangkahkan kaki di jalan aspal yang sedang berfata- morgana, akhimya Pria Jahe tiba di se-buah bangunan berbata merah yang berada di sisi kiri jalan.Tak ada yang tahu nasib rumah itu beberapa hari lagi. Apakah orang setara tikus berdasi itu akan menancapkan bendera kemenangan di peradaban rakyat jelata yang dibodohi kala kesempatan tiba?

 

“Aku harus mempertahankan rumah ini demi ibu. Jika disita, aku bisa merantau. Aku bisa tinggal beratapkan langit. Na-mun, ibu? Sengat matahari dan angin malam tidak boleh menemani masa tuanya,” pikir Pria Jahe sambil terisak dalam hati.

 

“Hai, Pria Jahe!”

 

Orang yang merasa disapa pun menoleh.

 

“Hai, Bob! Dari mana, kau?” balasnya menutupi hati yang gundah gulana.

 

“Aku baru saja meminjam uang dari bank kota untuk modal usahaku. Mereka memberikan bunga yang kecil,” ujar yang dipanggil Bob itu.

 

“Benarkah?”

 

“Benar. Baiklah, aku pergi dulu.” Orang itu pun beranjak sambil melambaikan satu tangannya kepada Pria Jahe.

 

“Tahu seperti itu, aku tidak akan mem-injam pada rentenir sarkastis itu! Nahas. Hm, apa aku harus…” Seketika segurat senyum terpoles di bibimya.

 

**

 

“Ke kota, Tuan,” ucap Pria Jahe ketika sebuah kereta kuda berhenti. Dengan bekal beberapa kue jahe dan uang seadanya, ia mencoba mencari nasib di sebuah bank tengah kota.

 

“Hari ini aku akan berdagang di kota, Bu,” ucapnya sedikit tidak jujur kala itu.

 

**

 

“Akhirnya kau melunasinya juga,” ucap rentenir sambil tersenyum sarkastis. Pria Jahe hanya tersenyum pahit dan segera pergi dari sana. Satu utang telah kandas. Paling tidak rumahnya aman.

 

“Pria Jahe, Pria Jahe! Akhimya kau kembali. Rumahmu….” Salah satu tetang-ga berkata dengan napas terengah--engah. Tanpa tahu duduk persoalannya, Pria Jahe segera berlari menuju rumah yang baru saja diselamatkannya.

 

Pemandangan di depannya sangat di luar nalar. Jago merah berkobar dengan ganasnya, melahap rumah berbata merah itu. Berpuluh-puluh ember diayunkan un-tuk menghempaskan air di dalamnya.

 

“lbu!” Pria Jahe panik. Tanpa memedu-likan sekitar,tubuh tegap itu menembus rumah yang sudah tertutup api. Orang- orang yang sibuk memadamkan kelakuan jahanam api itu tak menyadari seseorang telah melanggar garis keselamatan. Panas menyelimutinya. Sosok yang dicari tidak ditemukan jua. Sahutan demi sahutan kalah dengan suara merah yang marah. Hingga akhimya….

 

“Aarrgghh!”

 

**

 

Di sebuah rumah kecil di ujung jalan, seorang perempuan tua menatap kosong jalanan di depannya. Mata yang sudah tak awas lagi tengah menanti seseorang. Satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki untuk menemani hari tua.

 

Sendok bernasi yang disodorkan orang di sampingnya, si pemilik rumah, tak kun-jung digubris.

 

“Apa ada kabar darinya? Anakku belum kembali.”

 

Orang-orang yang ada di sana tak mampu berbuat apa-apa. Hanya menatap iba seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya.

 

“Pria Jahe mungkin masih di kota,” ucap salah satu dari mereka.

 

Entah sampai kapan perempuan tua itu harus menanti, sebab yang dinanti sudah pergi. Pria Jahe, lelaki bujang yang mati-matian menyelamatkan rumah demi sang ibu, kini sudah mati. Bersama puing-puing rumah berbata merah dan kue-kue jahe yang menjadi abu. Si merah sudah mela-hap semuanya. Termasuk harapan Pria Jahe menemani masa senja sang ibu, di rumah itu. ***

 

[1] Disalin dari karya Febbi Sena Lestari

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 14 Oktober 2018

 

The post Pria Jahe appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2yCxwUf

e-wonosobo - Petugas Polres Wonosobo kemarin (12/9) berhasil menangkap buron kasus pembunuhan Nanik Kardinawati , 29 , warga Mirombo Kelurahan Rojoimo Wonosobo, yang diduga menjadi pelaku pembunuhan terhadap dua sopir rental mobil asal Tarsikmalaya yang dihabisi di wilayah Temanggung. Penangkapan berlangsung siang saat perempuan buron tersebut melintang di depan Hotel Bima Wonosobo Jalan Ahmad Yani.

Kapolres Wonosobo AKBP Adi Wibowo melalui Kasubag Humas AKP Widayatno mengatakan, Nanik Kardinawati ditangkap oleh Kapolsek Wonosobo AKP Suharyati karena tercatat masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron. Nanik diduga menjadi pelaku pencurian mobil rental sekaligus menjadi pelaku pembunuhan terhadap dua sopir rental asal Tasikmalaya yang terjadi di wilayah Kabupaten Temanggung.

" Tersangka sudah lama menjadi buron, dan baru berhasil ditangkap,"katanya.

Dijelaskan Widayatno, bahwa tersangka ditangkap lantaran terlibat kasus Penggelapan mobil rental di Kabupaten Wonosobo dan kasus pencurian dengan kekerasan terjadi awal 2011 lalu. dalam melakukan aksinya, tersangka bersama Bambang Triantoro alias Riyan ,26, yang sudah behasil dibekuk petugas Polres Temanggung.

" Tersangka yang Riyan sudah ditahan di Polres Temanggung,"katanya.

Dalam melakukan aksinya, beber Widayatno, tersangka meminjam mobil rental milik Dibyo mobil jenis Daihatsu Zenia selama 1 hari dengan sewa Rp. 350.000.- kemudian mobil tersebut dijual di Cilacap seharga Rp. 18.000.000.- kemudian hasil penjualan untuk biaya pernikahan di Lampung serta digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Pada bulan April 2012 keduanya kembali ke Jakarta lalu menuju Tasik.

" Setelah berhasil menjual rental mobil, kedua tersangka ke Tasikmalaya,"katanya.

Di Tasikmalaya, keduanya kemudian melanjutkan aksinya. yakni meminjam 2 unit Mobil jenis APV kemudian kedua sopir dibunuh di wilayah Temanggung. Selanjutnya tersangka Bambang tertangkap di Kabupaten Batang pada saat akan menjual mobil tersebut, sedangkan tersangka mengetahui sopir meninggal tersangka Nanik pergi meninggalkan kendaraan tersebut.

" Setelah berhasil kami tangkap, tersangka kami serahkan ke Polres Temanggung untuk proses penyidikan kasus pembunuhan,"katanya.

dari pengakuan tersangkan, selama menjadi buron Nanik mengontrak sebuah rumah di Kampung Ngemplak Kecamatan Selomerto, atas perbuatannya tersangka Nanik dijerat pasal 365 KUH Pidana dengan ancaman 15 tahun penjara. (rase)

 

Turun Ring Tinju Dijemput Polisi

e-wonosobo – Jajaran Petugas Satreskrim Polres Wonosobo menangkap Petinju Profesional kebanggaan Wonosobo Edy Comaro. Penangkapan ini terkait dugaan keterlibatan pemegang juara sabuk emas kelas ringan junior 58,9 kilogram tingkat Nasional versi KTPI dan ATI ini, dalam tawuran antar Desa September silam di tempat Hiburan Waduk Wadaslintang.

Kapolres Wonosobo AKBP Adi Wibowo melalui Kasubag Humas AKP Widayatno mengatakan, sebelum ditangkap Edy Comaro alias Edy Komarow sudah ditetapkan sebagai buron (daftar pencarian orang) karena diduga pada 2 September lalu petinju asal Desa Tirip Kecamatan Wadaslintang ini terlibat tawur antar desa antara pemuda Tirip dengan Pemuda Desa Trimulyo Kecamatan Wadaslintang.

“ Tawurannya sudah berlangsung pada musim lebaran lalu, dalam kasus ini ada enam orang yang ditetapkan sebagai tersangka, salah satunya Edy Comaro,”katanya.

Kasus ini, kata dia, berlangsung saat hiburan dangdut di kawasan wisata Waduk Wadaslintang. Saat itu ditengah pertunjukan dua pemuda Desa Tirip dan Trimulyo terjadi saling sikut dan berbuntut adu jotos. Edy diduga menjadi salah satu diantaranya. Akibat kasus ini, lima pemuda berinisial ED, SB, NR, HR, TF semua warga Trimulyo masuk rumah sakit setelah dihajar lima pemuda dari Desa Tirip menggunakan batu dan kayu.

“ Dengan tertangkapnya Edy, maka dalam kasus ini masih ada tiga tersangka lagi yang berstatus DPO alias buron,”katanya.

Dua tersangka yang sudah ditangkap sebelumnya, imbuh Widayatno yakni Edy Susanto, 30,dan Mansur, 30,keduanya saat ini sudah menjalani sidang di Pengadilan Negeri Wonosobo. sedangkan tiga orang lainya yang masih buron meliputi Sudar, 27, Ikin, dan Topan.

“ Ketiga Tersangka ini masih kita buru,”katanya.

Untuk proses penangkapan Edy, kata dia, berlangsung cukup lama karena sejak kasus ini, Petinju potensial asal kota dingin ini tidak pernah berada di Wonosobo.Namun ada kabar Edy berada di Sasana Tinju Kulon Progo. Meski begitu tiap didatangi, petugas gagal menemukan, hingga Rabu (28/12) malam petugas berhasil mencokok Edy Comaro di Wilayah Kabupaten Kebumen. Penangkapan berlangsung di ruang lobi salah satu hotel di Jalan Pemuda Kebumen, saat itu Edy baru turun ring usai bertanding dalam gelar tinju profesional Dandim Cup Kebumen.

“ Petugas mengetahui keberadaan Edy setelah sebelumnya mendapatkan informasi dari media massa bahwa Edy malam itu akan bertanding,”katanya.

Untuk memastikan keterlibatan Edy dalam kasus ini, Petugas masih melakukan pemeriksaan apabila benar terlibat, Edy bakal diancam pasal 170 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara. (rase)

 

  

Sejak bertahun-tahun lalu sungai itu merekam jejaknya sendiri di pikiranku. Pada suatu hari, seorang pria dengan tubuh berdarah-darah merangkak ke halaman rumahku yang berada persis di tepi sungai. Aku berusaha sebisa mungkin dan bahkan keluargaku juga meluangkan waktu untuk membuatnya sembuh dan mampu bicara. Pada akhirnya lelaki itu mati setelah tiga hari tiga malam mengigau.

 

Pria tanpa nama tadi kami kubur dengan doa ala kadarnya dan upacara tersepi yang pernah ada. Tidak ada kejadian ganjil setelah beberapa minggu dikuburnya pria itu. Lalu, suatu malam, saat aku dan sepupu mencari adik terkecil kami yang belum juga pulang, seorang pria paruh baya menyeret-nyeret tubuhnya yang berlumuran darah dan meminta pertolongan.

 

Kami tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang tersebut. Dalam sembilan tahun, sungai itu membawa para lelaki tidak kurang dari sebelas orang, dan mereka terluka parah sebelum mati tanpa memberi penjelasan apa-apa. Jika suatu kali seseorang pergi berkunjung ke desa kami, dia cenderung bertanya-tanya kuburan siapa saja yang tiada berbatu nisan itu?

 

Untuk diketahui, desa kami terpencil. Tidak ada yang terpikir melaporkan kematian mereka ke petugas berwenang, kecuali beberapa bulan setelah kematian orang kedua, karena kami mulai ketakutan ada kejadian yang sama persis untuk ketiga atau keempat atau bahkan lebih dari itu. Kami juga cemas jika semua yang terjadi pertanda datangnya sebuah kutukan, tetapi laporan itu tidak ditanggapi secara serius.

 

Para petugas yang berdinas di desa terdekat, yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari desa ini, waktu itu hanya berkata, “Banyak pendaki ilegal yang sengaja melepaskan diri mereka karena jenuh dengan kehidupan kota. Orang-orang itu sengaja minggat dari kota demi menyatu dengan alam, tetapi kita tahu tidak ada yang mampu bertahan dan para pendaki itu pun mati.”

 

Aku tak yakin dengan penjelasan tersebut. Dugaan yang para petugas sebut terkait binatang buas atau gangguan alam di pegunungan yang ada tidak jauh dari sungai itu, sempat dipercayai selama beberapa waktu, hingga datangnya lelaki ketiga yang terluka dan mati dengan cara lebih aneh: di perutnya tertancap beberapa bilah pisau kecil dan kami sempat mengeluarkan beberapa butir peluru dari paru-parunya. Binatang liar, apa pun itu, tak mungkin melakukannya.

 

Sayangnya orang-orang desa telanjur muak pada petugas yang tidak pernah serius menanggapi laporan kecuali yang memberi mereka peluang untuk mengeruk sebanyak mungkin uang atau emas dari korban atau pelaku kejahatan tertentu. Maka, kami semua sepakat untuk tidak lagi melapor.

 

Sembilan tahun berlalu. Kematian demi kematian terus terjadi dan teka-teki soal ini belum juga terungkap hingga aku sendiri mulai merasa terbiasa dan sering kali terpikir, di beberapa kesempatan, bahwa jika suatu kali kutemukan seorang lelaki berdarah-darah merangkak menuju desa kami dari arah sungai dan pegunungan, maka itu tandanya aku harus berbuat kebaikan sekali lagi untuk orang lain, meski pada akhirnya kebaikanku itu sia-sia belaka.

 

“Mereka tetap mati dan begitu takdir menggurat ketentuannya di sungai dan desa ini,” demikianlah pikiranku berkata.

 

Sungai itu tidak lagi jadi sungai biasa setelah kematian orang ke sekian. Ia tempat yang sakral dan beberapa orang desa memutuskan untuk berdoa di sana untuk mendapat keselamatan. Mereka percaya, kami, orang-orang asli desa ini, dapat tetap hidup dan tak menjumpai binatang ganas atau pembunuh atau apa pun di luar sana yang menghabisi sebelas lelaki asing tadi, adalah karena kami telah mendapat kebaikan dari apa pun atau siapa pun itu yang belum kami tahu. Maka, kami patut berterima kasih.

 

“Sungai ini batas antara kehidupan dan kematian,” begitu tutur beberapa sesepuh di depan kami. “Barang siapa yang tidak dikehendaki untuk pergi menyeberangi sungai ini untuk mencapai hutan dan pegunungan di depan, tak akan kembali dengan nyawanya!”

 

Beberapa orang kemudian mengganti sesembahan mereka; mereka mulai giat pergi ke sungai untuk menyembah batu-batuan, rerumputan, pepohonan, ikan-ikan, katak dan ular, belalang, semut, kadal, dan segala yang tersedia di sungai tersebut, dan ini terlihat begitu serius karena orang-orang tadi mulai membangun tembok agar tidak ada seorang pun yang mampu menyentuh air sungai keramat kecuali untuk keperluan sembahyang. Dalam waktu yang tak berapa lama, sungai itu berubah menjadi kuil dan tentu saja kuil yang terlihat begitu aneh, karena di balik lantai papan kayunya terdapat air sungai yang mengalir begitu jernih dan deras.

 

Agama baru ini, bagiku sendiri, sangat membuat repot. Agama baru yang tak perlu hanya karena ketidaktahuan orang-orang tentang sumber kematian para lelaki asing tadi. Sebagian besar anggota keluargaku memilih patuh pada wejangan para sesepuh dan ikut pergi ke kuil baru tersebut. Aku sendiri yang tidak pernah tertarik untuk ikut dan malah merasa jengkel karena tanpa sungai itu, kini kami harus mengusung air dari lokasi lain, dari suatu danau yang terletak cukup jauh dari desa agar bisa memenuhi kebutuhan akan air setiap hari. Ini pun harus membayar sejumlah uang karena danau tersebut berada di wilayah yang dikuasai oleh para petugas berwenang.

 

Pada suatu hari, setelah tahun demi tahun tak lagi ada orang asing yang datang ke desa ini dengan tubuh berlumuran darah, tinggallah aku yang masih menyembah Tuhan lama. Orang-orang sini yakin sebetulnya selama tahun-tahun belakangan ini masih saja ada para pendaki (atau apa pun itu, karena kami tak sepenuhnya percaya omongan para polisi korup dan bejat) asing yang mati karena mencoba pergi ke pegunungan dan hutan itu, tetapi tubuh mereka tak bisa memanjat tembok kuil yang panjang dan tinggi hingga mati di seberang sana tanpa pernah kami tahu.

 

“Bagaimana jika suatu hari nanti anak-cucu kita menemukan bahwa di balik kuil ini ada begitu banyak tulang belulang manusia? Tidakkah mereka mengira kita hanyalah makhluk egois yang tak peduli pada nyawa orang-orang tersesat?” tanya seseorang suatu ketika.

 

Asal-muasal Agama Sungai

 

Tidak ada yang dapat menjawab itu, bahkan para sesepuh yang sedari awal gencar mendirikan agama baru ini dengan disertai ancaman-ancaman mengucilkan siapa pun yang menolak kebenaran versi mereka. Tentu saja akulah yang selama ini tak mendapat keadilan karena hanya aku yang mereka kucilkan. Mengetahui sikap masa bodoh soal kemungkinan adanya jasad para lelaki yang keduabelas, ketigabelas, dan seterusnya itu, membuatku angkat bicara.

 

Aku katakan di depan orang-orang ini, “Jika benar suatu hari nanti anak-cucu kita menemukan ada banyak tulang belulang manusia di balik tembok kuil kalian, jangan salahkan jika agama baru kalian mendadak tidak populer. Jangan salahkan jika mereka berpaling ke keyakinan lama, lalu menganggap kalian semua nenek moyang yang tidak patut diikuti. Segala bentuk warisan rohani yang tertinggal di sini sama sekali hilang tak berbekas!”

 

“Itu hanya omongan orang tak tahu terima kasih sepertimu. Alam atau siapalah itu, yang di luar sana telah membiarkan kita hidup, selagi menghabisi orang-orang asing itu, telah berbuat sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi. Boleh jadi para pendaki yang dibilang para polisi itu bukanlah pendaki, melainkan para kriminal atau buron yang jelas berbahaya untuk kehidupan para penghuni desa!”

 

Aku tidak berminat melanjutkan perdebatan. Malam itu juga aku diusir dan sejak itu aku tidak lagi kembali ke desaku. Sungai yang sejak kecil merekam kenangan indah dan terbaik dalam hidupku itu, yang kemudian menorehkan memori buruk soal sebelas manusia asing yang terluka dan mati secara misterius, tetap bertahan di pikiran hingga bertahun-tahun kemudian. Dalam pada itu, aku telah hijrah ke tempat yang jauh, ke kota yang besar dan modern dengan orang-orang yang peduli hanya pada hidupnya sendiri.

 

Perihal apa yang menyebabkan sebelas lelaki asing tadi terluka dan mati, aku tidak tahu hingga suatu hari, tanpa sengaja kudengar dari seorang yang kukenal di kota besar, bahwa dirinya tak lagi ingin hidup sebagai manusia kota.

 

“Aku ingin hidup di tempat yang jauh dari sini, di sebuah pegunungan yang sangat terpencil. Banyak yang sudah melakukannya. Kabar ini kudengar dari ahli spiritual yang tempo hari mengadakan seminar di sela waktu sibukku. Orang-orang ini tidak butuh apa pun selain tekad dan keberanian, dan memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar sembuh dari luka masa lalu. Mereka bahkan tidak lagi dapat terluka, karena yang tersisa dari mereka hanyalah arwah-arwah yang tenang dalam keabadian.”

 

Gempol, 25 Desember 2018

________________________________________

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku-buku karyanya, Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

 

[1] Disalin dari karya Ken Hanggara

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 12-13 Januari 2019

 

The post Asal-muasal Agama Sungai appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2AKk5Uh

  

ANGIN gurun berkesiur pada telinga Naseer. Matanya lekas terbelalak, memastikan sekitar tempatnya bersembunyi aman dari kejaran musuh. Langit masih gelap. Napasnya perlahan ia atur. Nyeri di paha dan punggungnya terasa lagi. Lelap dan kantuknya hilang seketika. Darah yang mengucur di kakinya mulai melambat. Kain putih yang diikatkan oleh Narayya bekerja sebagaimana mestinya. Meski malam, ia bisa memastikan kain itu telah berubah warna menjadi merah legam.

 

Naseer perlahan bangkit. Ia ingin memastikan apakah Narayya sudah terjaga. Agak pincang, kakinya membawa ia ke sebuah goa kecil, tempat Narayya merebah lelah. Sebelum ia betul-batul masuk, pandangan ibanya sekali lagi ia tujukan pada kuda hitam yang membawa mereka berdua sampai ke sana. Luka akibat lemparan panah dan tombak tak sedikit menggores di tubuhnya. Namun, ia yakin, kuda kesayangannya itu kuat. Ramuan tumbuhan yang dibuat Narayya sepertinya cukup ampuh sebab jelas sekali kuda itu tenang, tidak lagi meringkik dan merintih.

 

Di dalam goa lumayan terang. Nyala obor masih bertahan walau hanya tersisa satu. Tiga yang lain telah padam. Perasaannya mulai sedikit khawatir. Sorot matanya kembali awas melihat ke sekeliling. Gegas ia memacu langkahnya. Tepat ketika ia menoleh ke arah kiri, Narayya tidak ada di tempatnya. Ia yakin betul perempuan dari kerajaan Moor itu ada di sana dan ia yang memintanya untuk masuk ke dalam goa dan rehat di ruang sempit itu. Naseer merasa kecolongan! Padahal ia pikir tidak lelap-lelap amat sewaktu berjaga di luar. Kalaupun ada seseorang yang masuk, kuda hitamku pasti akan meringkik, lebih-lebih pada orang asing yang tak dikenalnya, pikir Naseer. Akan tetapi, mengingat kudanya ia malah tercekat untuk beberapa saat. Kuda? Kudaku!

 

Dugaannya benar. Kuda hitam, tinggi, dan penuh luka itu, telah mati. Naseer mengutuki dirinya sendiri. Ia melepas tudung dan jubahnya lalu ia hempaskan ke hamparan pasir. Tidak ada suara selain angin yang berkesiur masuk ke rongga-rongga bebatuan goa. Angin gurun menerbangkan pasir-pasir halus ke udara, mengabarkan pada langit aroma anyir kematian.

Naseer pikir kuda itu hanya sedang tertidur lelap. Sejak mula memang kuda itu merebahkan tubuhnya dengan kepala menyentuh tanah. Namun, entah bagaimana caranya, mulut kuda miliknya menyisakan bau racun, dan leher sebelah kanannya robek oleh sayatan pedang. Pasir di bawah kepalanya cekung dan ada kubangan darah. Aku benar-benar lengah!

Kesatria payah! Pecundang gurun!

 

Sejauh mata memandang hanya ada hamparan gurun nan luas. Undakan-undakan pasir yang jumlahnya ribuan seolah hendak menyentuh langit gelap di atasnya. Tiada yang bisa ia lakukan sekarang. Meski bintang-bintang mengabarkan ke mana arah permukiman, serasa percuma. Tak soal kalau hanya 10-50 km yang mesti ia tempuh, tetapi ada puluhan mil yang harus ia lalui dengan luka di sekujur tubuhnya. Tanpa kuda? Tanpa unta? Lebih baik mati tertimbun pasir dan lenyap ditelan bumi, pikirnya.

 

Kemudian ia menyesali hal yang sampai membuatnya terlibat pada pengejaran ini. Bahkan Narayya baru ia kenal tiga hari lalu. Sewaktu mereka menaiki karavan yang sama menuju sebuah rumah bordil. Ia tak berniat meniduri perempuan mana pun setidaknya waktu itu. Ia datang ke sana hanya untuk berjudi. Hasratnya berjudi memang yang paling kuat hingga membawa ia mengembara dari satu perkampungan hingga ke sebuah kerajaan lain.

 

Naseer turun dari karavan. Matanya sudah tertuju pada kuda hitam yang diikat di dekat pintu masuk. Ia tersenyum. Wajahnya tampak begitu tertarik. Jari-jarinya yang memakai banyak cincin berhiaskan batu-batu itu mengelus rambut kuda. Ia tampak begitu akrab. Sorot matanya yang tajam itu, tiada berkedip sewaktu melihat pelana kuda di depannya. Ia hanya mengangguk kecil seperti mendapati satu jawaban yang memuaskan entah apa.

 

Seorang putri, yang beberapa jam setelahnya akan ia kenal dengan nama Narayya, juga turun. Mereka melangkah masing-masing. Perempuan itu lebih dulu memasuki rumah bordil. Selang beberapa orang asing lain masuk, barulah Naseer menyusul di belakangnya. Tidak ada yang istimewa. Orang-orang biasa saja memandangnya. Meski saat itu ia membawa logam, emas, dan uang yang cukup lumayan. Sesaat lagi mereka akan paham dari mana pria hitam berambut kriting itu mendapatkan hartanya.

 

“Perkenankan aku bergabung di meja kalian.” Naseer menaruh barang bawaannya di atas meja. Bandar dan penjudi lainnya menyilakan. Dadu berbentuk pentahedron, yang terbuat dari tulang atau gading hewan itu dikocok dalam gelas kayu. Tapi sebelum dadu dilempat Naseer menahannya. “Kupertaruhkan semua harta milikku ini untuk kuda hitam di luar sana.”

 

Ia mendorong harta bendanya hingga ke tengah meja. Melihat keberaniannya, para penjudi bisa mengira kalau semua harta bendanya itu hasil berjudi.

 

Seseorang, yang tak lain pemilik kuda itu, keberatan. Namun, beberapa orang yang duduk melingkari meja itu memberi tanda. Naseer menangkapnya kalau akan ada satu muslihat yang bakal mereka mainkan.

 

“Aku setuju. Karibku ini hanya butuh diyakinkan. Maklum, itu kuda yang baru ia peroleh dari seorang pengembara,” ucap pria tambun yang beserban hitam di kepalanya, si bandar.

“Katakan, berapa angka keberuntunganmu?”

 

Mulanya Naseer tampak ragu, sebab ia sudah masuk dalam perangkap. Namun, demi mendapatkan kuda hitam miliknya lagi, ia harus memenangkan pertaruhannya. “Angka 3, entah mengapa aku tak pernah seyakin ini saat berjudi,” ia menggertak.

 

Lalu si bandar bertanya pada penjudi yang lain, setuju untuk ikut atau tidak. Karena gengsi, mereka yang tak memiliki kuda hitam, pantang mundur. Segala emas, perak, perunggu, uang, logam, dan benda berharga lainnya mereka pertaruhkan di meja judi itu. Sementara itu, si pemilik kuda hitam mau tidak mau harus turut dalam permainan. Si pria tambun menatapnya penuh ancaman Naseer menangkap gelagat itu.

 

Dan Narayya, matanya membahasakan sesuatu kepada Naseer. Ia memberi kode dan petunjuk apa yang mesti ia lakukan kalau menang. Ia berdiri tidak jauh dari balik punggung si bandar. Naseer tidak tahu bagaimana ia tahu kalau perempuan itu memang sedang menyampaikan sesuatu yang ia tangkap dalam kepalanya. Ia yakin betul pesan itu yang ingin si perempuan berikan.

 

Lalu dadu segi delapan itu di lempar ke meja judi. Tidak ada angka lain yang keluar selain titik tiga berada di atas. Semua penjudi tidak yakin. Mereka semua berdiri dan memastikan kalau angka lain yang muncul. Tak soal karibnya yang menang asal bukan si pengembara asing itu.

 

Apa mau dikata, nasib mujur memang sedang menimpa Naseer. Narayya tanpa aba-aba maju ke dekat meja dan membantu mewadahi hasil taruhan ke dalam tas milik Naseer. Dari air mukanya, semua penjudi tampak geram. Jangan ditanya bagaimana wajah si bandar; merah kehitam-hitaman dengan urat-urat menjalari kedua sisi dahinya.

 

“Sebaiknya kita pergi sekarang,” bisik perempuan berkalung manik-manik yang berkilauan itu. “Perkenalkan, namaku Narayya.”

 

“Tuan, angkat aku jadi budakmu. Aku tak punya apa-apa lagi, kumohon,” salah seorang penjudi mengiba. Namun, belum Naseer menjawab, Narayya mendorong si calon budak itu.

 

“Ingat, di tanah asing, jangan memercayai siapa pun.” Sekali lagi Narayya meyakinkan Naseer.

 

Dengan menggondol tiga karungan besar hasil judi, perempuan itu berlari keluar menuju kuda hitam. Naseer bingung mengapa perempuan itu tiba-tiba membantunya.

 

“Terima kasih atas kebaikanmu. Ambillah ini dan biarkan aku pergi sendiri,” dua bongkah emas batangan ia serahkan pada perempuan itu.

 

“Apa maksudmu? Aku tidak ingin hartamu. Aku hanya butuh tumpangan sampai ke permukiman bangsa Moor. Aku seorang putri. Ayahku memiliki harta benda semacam ini seratus kali lipat dari yang kau punya,” ucapnya sembari menaiki pelana kuda.

 

Naseer tidak mau ambil pusing. Kuda hitam miliknya yang sempat dicuri orang telah kembali ke tangannya. Ia hanya perlu mengantarkan perempuan itu ke tempat asalnya. Lalu ia bisa kembali melanjutkan perjalanan. Lagipula, pandangan orang-orang di tempat judi itu sudah tidak mengenakkan. Bahkan beberapa berpindah dari tempat duduknya untuk mengambil…. senjata masing-masing. Ia harus segera pergi dari sana!

 

“Lekaslah! Mereka murka atas kemenanganmu!” Narayya menarik lengan Naseer. “Pegangan yang erat. Pastikan kau tidak merusak hari keberuntunganmu.”

 

“Kau boleh mengerti wilayah ini, tapi urusan menunggang kuda, serahkan pada ahlinya.” Naseer ambil sikap. Ia memacu kuda hitam kesayangannya itu. Entah bagaimana bisa ia menuruti apa kata si perempuan asing yang baru dikenalnya bahkan mengenalkan diri tanpa ia pinta. Orang-orang berlari dan berteriak. Mereka tak terima dengan kekalahannya.

 

Bergegaslah mereka menaiki kuda dan unta milik masing-masing. Panah, pedang, dan tombak tak luput mereka bawa. Naseer jadi buronan seperti kijang dalam kepungan harimau.

Beruntung Narayya tahu ke mana mesti Naseer membawa kudanya. Meski pendatang, perempuan itu begitu hafal lekuk jalan dan watak orang-orang di sana, pikir Naseer. Namun ia tak mau banyak bertanya. Ia mesti fokus dan keluar dari masalah ini.

 

Sialnya, para penjudi itu membawa banyak kawanan. Situasinya betul-betul seperti dalam perang dua negara yang tak usai-usai. Bahkan hingga ke gurun Naseer dan Narayya dikejar-kejar. Sehebat apa pun mereka menghindar, beberapa anak panah dan tombak melukai tubuh mereka masing-masing, termasuk si kuda hitam.

 

“Dan sekarang aku di sini, di tengah gurun pasir, seorang diri. Di tanah asing, seharusnya aku tidak memercayai siapa pun. Termasuk perempuan keparat dari bangsa Moor itu!”

 

[1] Disalin dari karya Ade Ubaidil

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 17 Maret 2019

   

The post Narayya dari Moor appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 

via Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara bit.ly/2UHWAmy

Hadis Abdullah bin Amru r.a katanya:

Suatu hari, kami pulang bersama Rasulullah s.a.w dari Mekah menuju ke Madinah. Di pertengahan jalan, apabila kami tiba di suatu tempat yang mempunyai air kami dapati sekelompok manusia dalam keadaan tergesa-gesa mengambil wuduk kerana waktu Asar hampir luput. Apabila kami menghampiri mereka, kami dapati tumit-tumit mereka kering tidak dibasahi air. Maka Rasulullah s.a.w telah bersabda: Celakalah tumit-tumit yang tidak basah itu dengan ancaman api Neraka. Sempurnakanlah wuduk kamu dengan baik

Ketua Banser Kaliwiro Jasromi menjadi anggota Banser sejak organisasi ini didirikan sesuai khitah Nahdlatul Ulama tahun 1926. Pada era 1958 itulah ia mulai bertugas. Usianya kini sudah 101 tahun. Namun badannya masih tegap.Dalam perjalanan hidupnya istrinya sebanyak 9 orang. Ia memiliki anak 16 orang. Enam isterinya telah berpulang. Kini hidup bersama tiga istri.

    

Keriput tulang pipi Jasromi seakan menjadi saksi kiprahnya sebagai abdi masyarakat. Memang kadang orang semacam ini jarang sekali terendus media. Namun di kabupaten Wonosobo perannya cukup signifikan. Tidak hanya sebagai anggota Banser namun juga menjadi mandor hutan sejak zaman dulu hingga sekarang. Ia tak ubahnya pahlawan penjaga kelestari alam Wonosobo.

   

Menurut warga yang beralamat di Desa Winongsari Kecamatan Kaliwiro ini memiliki catatan unik sepanjang hidupnya. Ia turut mendukung gerakan banser pada tahun 1964. Dalam perjalanan waktu yang terus bergulir lelaki tua bertubuh kurus ini pernah memenangi zaman Anshor era Perjuangan Islam Indonesia (PII) melawan penjajah.

   

“Setelah Islam Hizbullah ia turut ngaji di pondok pesantrennya KH Kahar Muzakar daerah Sapuran. Saya pernah jadi menjadi buruh di pabrik teh Tambi,” paparnya ketika ditanya anggota Banser saat harlah ke 77 di alun-alun Wonosobo beberapa waktu lalu.

   

Mbah Jasromi, demikian akrab disapa, mengaku memiliki Sembilan isteri. Nama-nama isterinya antara lain Parsiyah, Murni, Maryasri, Rahayu, Sulasih, Romdiyah, Murni, Maryam, dan Jumiyati. Namun seusai diantara 9 isterinya melahirkan 16 anaknya enam isterinya meninggal dunia.

   

“Enam isteri saya meninggal terserang penyakit struk. Kini tinggal tiga,” katanya.

   

Dalam memimpin keluarga besarnya yang tak mudah dilakukan banyak orang, kakek puluhan cucu ini memiliki kiat dan cara unik tersendiri untuk menghadapinya. Menurut dia, adil adalah kuncinya. Implementasi tersebut, lanjut dia, berkunjung ke rumah isteri selama tujuh hari atau seminggu. Kemudian dilanjutkan dari isteri satu ke rumah isteri yang lain.Selama di rumah masing-masing isteri ia memberi nafkah lahir dan batin.

   

“Kunci utamanya menanamkan hidup apa adanya terhadap isteri dan rasa syukur sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita,” katanya dengan nada optimis tanpa beban.

   

Kendati sejumlah giginya kini telah tak lagi tumbuh, namun mbah Jasromi tetap nampak gagah. Tak terlihat rasa beban hidup didalam raut mukanya karena ia mengaku hanya menjalankan perintah agama Islam dengan benar-benar tanpa ada rasa canggung dan beban yang terlalu tinggi.

   

“Kini sebagian besar anak saya sudah menikah. Dulu ketika waktu masih muda masih terus berkunjung ke rumah tiga isteri saya. Namun sekarang saya tinggal bersama isteri yang terakhir,” ucapnya.

   

Untuk menyambung hidup sehari-hari bersama isterinya terakhir tersebut, mbah Jasromi menjadi petugas Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Ia mengaku cukup gajinya dengan bekerja menjadi mandor di bawah naungan perhutani Kedu Selatan yang berkantor di Kabupaten Purworejo. Tiap hari ia selalu menyisir lorong-lorong terjal berkabut penuh dengan ranting pohon diiringi nyanyian rimba yang masih perawan.

   

“Sekarang dihari tua saya, saya sudah tenang. Karena saya berprinsip hidup ini tinggal menjalani saja,” ucapnya.

   

Ditanya bagaimana kiat agar panjang umur lelaki tua yang masih mengenakan seragam Ansor itu terkekeh.Apalagi tertawanya disambut puluhan personel Banser lain yang turut mengelilinginya. Namun meski tak menyebut pasti, mbah Jasromi seakan menjelaskan rahasia hidup hingga berusia 101 tahun.

   

“ Saya hanya bersyukur saja menjalani hidup ini. Itu buah manis dari iman kepada Allah SWT,” katanya penuh semangat.

   

Menurutnya kondisi hutan Wonosobo antara zaman dahulu dengan sekarang jauh berbeda. Jika dulu alam Wonosobo masih hijau dan lebat dengan aneka tumbuh-tumbuhan. Namun saat ini sebagaian sudah rusak akibat kerakusan manusia. Padahal pohon keberadaannya sangat fital.

 

“Alam hutan di Wonosobo harus di selamatkan. Paling tidak butuh puasa menebang pohon hingga 50 tahun baru bisa benar-benar kembali sediakala. Kalau tidak ancaman bencana tanah longsor ini akan terus terjadi hampir di semua wilayah Wonosobo,”pungkasnya.(yudi)

at first glance, boleh relate ke oren dengan caption gambar? muehehehe ( ok, tonight nk ckp serious issue sebenarnye)

 

since I have been part of the da'wah and tarbiyah for almost few months, I've been come across some individuals yang (boleh tahan) taasub dengan certain jemaah yang mereka yakini..

 

it doesn't matter which jemaah you are from, yang penting, tarbiyah yang kita inginkan bersifat ketuhanan, which brings us back to Him, membawa mad'u yang kita kasihkan kerana Allah kembali kepada Dia, bukan kepada jemaah kita, bukan kpd diri kita, but solely to Him only, *nangeslajulaju*

 

"tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, 'Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,' tetapi dia berkata, 'Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, kerana kamu mengajarkan Kitab dan kerana kamu mempelajarinya!'" ( 3:79)

*ce bgtau alasan ape tak nangis baca ayat ni? sobs*

 

hasil tangkapan di sebuah blog, in which I believe it is relevant..

 

“Suasana dakwah di luar negara ni ibarat kita sedang berenang di sebatang sungai yang sempit. Di dalamnya ada ramai dai’e yang sedang berenang dan sungai yang sempit itulah gambaran bilangan mad’u yang ada. Masing-masing berenang dengan cara tersendiri untuk menuju ke destinasi yang sama. Sudah menjadi lumrah apabila ramai orang yang berenang pada sebatang sungai yang sempit, pasti sesekali ada yang akan tersakiti oleh yang lain. Mungkin ada yang tersiku, tertarik, tertampar dan sebagainya kerana sungai yang ada itu begitu sempit dan ruang untuk bergerak juga tidak banyak…”

    

“…Kemudian, bila masa terus berlalu mereka yang berenang di sungai itu tadi akan tiba jua ke muara dan masuklah ke medan baru iaitu laut yang luas tidak bertepi. Sesudah beberapa tahun kita menuntut di luar negara akhirnya kita akan pulang juga ke tanah air untuk menyumbang bakti. Pada masa itu, kita tidak lagi berenang pada sebatang sungai yang sempit tapi kita akan berenang dalam sebuah lautan yang sangat luas dan gelombangnya juga sangat ganas. Terlalu ramai mad’u yang ada dan tenaga dai’e yang ada sangatlah tidak mencukupi. Pada masa ini, kita tidak lagi tersiku atau bertepuk tampar dengan orang lain kerana lautan yang kita renangi itu sangat luas. Bahkan pada masa ini mungkin kita sendiri akan memanggil semula orang-orang yang kita marahkan dahulunya kerana tersiku kita sewaktu berenang di sungai, kerana dalam lautan yang ganas itu nanti, kita hampir-hampir sahaja lemas dan tidak mampu untuk terus berenang bersendirian…”

    

“…Situasi di tanah air kita ibarat lautan yang luas tersebut. Terlalu ramai orang yang perlu kita ajak kepada dakwah ini sehinggakan kita sendiri-sendiri pasti tidak mampu untuk melaksanakan tanggungjawab ini. Bukan itu sahaja, di Malaysia kini wujudnya pelbagai lagi ancaman seperti gerakan liberal, syiah, hedonisme dan sebagainya yang menjadikan kita seorang sahaja pasti tidak mampu melawannya. Justeru, sementara berenang di sungai yang sempit ini cubalah untuk berlapang dada dan saling bermafaan antara kita. Peliharalah sebaiknya hubungan sesama pendakwah walaupun berbeza jemaah dan fahaman kerana kita sememangnya saling memerlukan dalam perjuangan di tanah air nanti.”

 

after all, we are one, seperti buah oren2 yg bergelimpangan tu, hehe, oren2 tu dtg dari pokok yang sama,dan kita masih saudara seakidah, cuma pohon tu menghasilkan buah2 yang banyak dan berbeza setiap satunye, yg pengakhirannya insyaAllah, ingin memberi faedah(nikmat) kpd mcm2 jenis manusia,

however, it depends on tahapan iman kita, utk 'menangkap' mad'u kembali kepada Dia..

 

zasss, reminder khas especially utk hamba Allah yang marhaen yg tgh menulis ni sbnrnye, huu

 

p/s first time bercurhat (read: pillow talk) dgn murabbi pertama yg memperkenalkan kwujudan Dia sejak lahir, curhat bukan perkara main2 lagi, pasal da'wah kot, tengok cermin, cubit pipi, tak pecaye, ohoii >.<

 

pp/s after effect kene fire dgn atuk sebelum ke uskab, uhuk3, hamek kau, terkedu roh dan jasad tiga empat hari....

e-wonosobo – Hampir semua kawasan di Wilayah Wonosobo masuk kategori rawan bencana lantaran bukit dan gunung gundul. Untuk memulihkan lahan kritis tersebut, Pemerintah Kabupaten bekerjasama dengan TNI Manunggal serta Pramuka melakukan program penanaman serentak di 15 Kecamatan melalui program Pramuka Go Green.

Proses penanaman pohon keras tersebut dimulai sejak kemarin (21/2) ditargetkan akan selesai hingga 24 Pebruari mendatang di semua lokasi. Menariknya bibit yang ditanam merupakan hasil pembibitan yang dilakukan oleh pelajar melalui program Kebun Bibit Sekolah (KBS) kemudian ditanam oleh Pramuka di semua lokasi yang masuk kategori gundul.

Dua kecamatan yang sudah memulai penanaman yakni di Kepil dan Sukoharjo. Camat Kepil Kumpul Ahmad Salim mengemukakan pentingnya penghijauan bagi kehidupan manusia. Di masa mendatang, kondisi lingkungan akan semakin memprihatinkan akibat pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan luas lahan pemukiman.

“Kondisi ini diperparah dengan menipisnya cadangan makanan karena kurangnya lahan pertanian. Untuk itu penghijauan wajib dilakukan,”katanya.

Selain ancaman kekeringan, Kata Kumpul, akibat kerusakan lingkugan juga mengancam nyawa dan bencana alam. Dia mencontohkan belum lama ini jalan utama Wonosobo- Purworejo yang memalui wilayah Kecamatan Kepil tepatnya di Desa Burat jalan sepanjang 100 meter ambles akibat tidak ada akar penguat tanah.

“ Dalam musibah ini memang tidak ada korban jiwa. Namun berakibat pada sektor ekonomi karena jalan tidak bisa lagi dilalui,”katanya.

Ditambahkan dia, dalam penanaman tersebut melibatkan Muspika Kecamatan Kepil, menggandeng sekitar 300 Pramuka dari SMP-SMA di sekitar kantor Kecamatan untuk bersama-sama menanam 3500 bibit tanaman keras berupa Jati Putih dan Akasia. Selain ditanam di sepanjang jalan mulai Desa Bojong sampai perbatasan Kalikarung Kecamatan Kalibawang, bibit-bibit tersebut akan didistribusiakan di masing-masing desa.

Kepala Bagian Humas Setda Wonosobo Agus Wibowo mengatakan, program Pramuka Go Green ini merupakan terobosan aksi nyata dalam menyelamatkan kerusakan lingkungan di semua wilayah Wonosobo. tanda kerusakan lingkungan ini ditandai dengan angka benca yang tidak pernah henti tiap bulan meliputi puting beliung, longsor hingga banjir bandang.

“ Melalui pramuka ini sebagai ajakan positif kepada generasi muda agar tumbuh kesadaran merawat lingkungan,”katanya.

Ditambahkan dia, untuk program Pramuka Go Green ini dilakukan di 15 Kecamatan di Wonosobo dengan sasaran lokasi penanaman tepi jalan raya, kawasan tebing, serta daerah tangkapan air di bukit dan gunung di masing-masing lokasi. Selain pramuka, dalam program ini juga melibatkan semua ormas serta organisasi sosial di tingkat kecamatan.

“Tentu tidak hanya pada program penanaman, melalui program ini semua yang menanam juga harus merawat tanaman hingga dipastikan tumbuh,” pungkasnya. (rase)

 

URUMQI, CHINA (SuaraMedia News) - Ketegangan etnis di Xinjiang, China beralih dari jalan-jalan ke Masjid-Masjid di ibukota daerah tersebut pada hari Jumat, dengan banyak Muslim Uighur yang menyatakan pihak berwenang tidak akan membiarkan mereka melakukan sholat di Masjid.

Aparat keamanan telah mengenakan kontrol atas Urumqi, tetapi sholat dzuhur itu akan menjadi ujian terhadap kekuatan pemerintah China untuk menahan kemarahan Muslim Uighur setelah orang-orang Han, etnis kelompok terbesar di China, menyerang wilayah Uighur pada hari Selasa.

Beberapa Masjid di seluruh distrik Urumqi menampilkan pemberitahuan bahwa sholat wajib pada Masjid-Masjid tersebut dihentikan, dan orang-orang di Masjid lainnya mengatakan mereka pikir tak akan ada Sholat Jumat yang dapat diadakan di Masjid.

"Masjid-Masjid itu tidak akan terbuka," kata seorang laki-laki yang menjaga di Masjid besar Dong Kuruk Bridge, dengan menaranya yang menjulang tinggi. Pasukan dan kendaraan berlapis baja disiagakan di samping Masjid.

"Pemerintahan komunis tidak akan mengijinkan kami (untuk sholat di Masjid)," kata pria yang tidak ingin memberitahukan namanya.

"Menurut petunjuk dari atasan, kegiatan sholat di Masjid akan ditunda mulai hari ini," tulis sebuah pemberitahuan yang dipasang gerbang di dekat Masjid Guyuan. Pemberitahuan tersebut tertanggal pada hari Rabu. ‘Siapa saja yang ingin sholat ... silakan melakukannya di rumah.”

Partai Komunis yang memerintah China mungkin takut akan berkumpulnya warga Uighur dalam jumlah yang besar dapat menjadi katalisator untuk kerusuhan lain yang sama dengan perselisihan etnis yang terjadi sebelumnya.

Uighurs, adalah orang Turk yang sebagian besar Muslim dan berbagi bahasa, budaya dan ikatan dengan Asia Tengah, membentuk hampir setengah dari penduduk Xinjiang yang berkisar 20 juta orang.

Presiden Hu Jintao, dipaksa untuk meninggalkan pembicaraan G8 di Italia karena adanya kekerasan etnis di Xinjiang, telah berkata bahwa menjaga stabilitas sosial di daerah kaya-energi tersebut adalah "tugas yang paling mendesak."

Hu menggambarkan huru-hara pada yang Minggu tersebut sebagai “kejahatan kekerasan serius yang disusun dan direncanakan dan diorganisir oleh 'tiga kekuatan' di tanah air dan di luar negeri.”

"Tiga Pasukan" adalah istilah China yang digunakan untuk merujuk kepada extremis, separatis dan teroris yang menurutnya merupakan ancaman Xinjiang.

Keputusan untuk menghentikan sholat berjemaah dapat menyinggung warga Uighur, tetapi ribuan pasukan anti huru-hara dan polisi siap untuk menumpas munculnya protes baru. Hampir semua warga Uighur adalah Muslim, tetapi hanya sedikit yang mematuhi interpretasi paling ketat dari Islam.

“Sholat Jumat adalah waktu dalam seminggu dimana kita harus sholat berjamaah. Bagi kami, ini akan menjadi sebuah penghinaan jika Masjid itu ditutup," kata Ahmed Jan, Uighur yang tinggal di dekat Masjid Kuruk Dong. "Jika kita tidak boleh meneruskan ibadah secara normal, akan ada banyak kemarahan."

Tetapi hanya ada sedikit kemungkinan bahwa China akan melonggarkan dorongan untuk menghukum mereka dianggap bersalah karena telah membunuh warga di Urumqi pada kerusuhan hari Minggu, ketika mobil dan bis dibakar.

Pada hari Selasa, ribuan warga Han China, berniat untuk balas dendam, menyerang wilayah Uighur, dan banyak penduduk Uighur yang meninggal. Pemerintah belum merilis jumlah korbanya.

Pemerintah telah memasang pemberitahuan di Urumqi yang memaksa para perusuh untuk membubarkan dirinya atau menghadapi hukuman keras.

Mereka yang menyerahkan dirinya akan diperlakukan dengan baik atau bahkan dapat terhindar dari hukuman. Siapapun yang memberikan bukti atau menyerahkan tersangka akan diberi hadiah dan dilindungi oleh polisi. Mereka juga menyediakan hotline.

Xinjiang telah lama mengalami ketenggangan etnnis yang dipupuk oleh kesenjangan ekonomi antara banyak Uighur dan Han, kontrol pemerintah pada agama dan budaya dan masuknya pendatang Han yang kini merupakan mayoritas di kota-kota paling penting di Provinsi Xinjiang, termasuk Urumqi.

Beijing tidak mau melepaskan genggamannya atas kekuasaan terhadap wilayah luas yang berbatasan dengan Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan dan India itu. Wilayah tersebut merupakan tempat cadangan minyak yang berlimpah dan gas alam terbesar di China.(iw/reu) Dikutip oleh www.suaramedia.com/">www.suaramedia.com

Gambar dan berita diambil dari Suara Media (12-07-2009; 17:10).

Pelaksanaan Pemilu legislatif 9 April 2014 di Aceh telah diwarnai pelanggaran dan kecurangan yang sangat terbuka, sistemik dan telah menodai pelaksanaan demokrasi di Aceh.

 

Ketua Umum Pengurus Pusat Partai Nasional Aceh (PNA) Irwansyah (Muksalmina) melalui siaran pers kepada RRI Sabtu (12/4) menjelaskan, selain pelanggaran, pelaksanaan Pemilu kali ini juga diwarnai kekerasan dan intimidasi baik sebelum pelaksanaan Pemilu maupun di hari pemilihan.

 

Kekerasan terjadi dilakukan baik oleh Partai penguasa maupun pelaksana Pemilu, Pemerintah di setiap tingkatan. “Korban utama dari kekerasan, pelanggaran dan kecurangan ini adalah Partai Nasional Aceh. Data Center PNA mencatat lebih 40% suara PNA hilang diakibatkan pelanggaran dikarenakan intimidasi dan manipulasi suara,”ujarnya..

 

Menurut Irwansyah, kondisi itu terjadi khususnya di wilayah Sabang, Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Lhok Seumawe, Bireuen, Aceh Timur, dan Kota Langsa. Begitu juga dengan kawasan pantai Barat Selatan seperti Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya. “Saat ini Data Center PNA terus menerima laporan dari saksi diseluruh TPS di Aceh, dan diperkirakan akan terus bertambah,”kata Irwansyah.

 

Secara umum modus yang mengakibat hilangnya suara Partai Nasional Aceh adalah sejak proses pembentukan partai hingga menjelang hari pemilihan, PNA senantiasa mendapat teror dan intimidasi dari partai yang berkuasa.

 

Hal itu terbukti mulai pembunuhan pengurus dan para kader, penganiayaan, ancaman hingga perusakan harta benda yang membuat ruang gerak PNA sangat terbatas.”Salah satu kader kami yang diculik sampai hari ini belum ditemukan. Di basis-basis Partai yang berkuasa, lebih 80% saksi dari PNA tidak bisa bekerja secara maksimal,”jelasnya.

 

Kecuali itu kata Irwansyah ratusan diantaranya mengundurkan diri karena berbagai ancaman. Intimidasi juga dilakukan kepada masyarakat dan para pemilih agar memilih partai yang berkuasa, sehingga masyarakat tidak bisa menentukan pilihan lainnya.

 

Irwansyah juga menyinggung tentang KIP (Komisi Independen Pemilihan) Propinsi, KIP Kabupaten/kota, PPK, PPS dan KPPS secara nyata memihak partai Aceh, yang dibuktikan dengan kasus suara yang sudah tercoblos sebelum hari H, upaya memanipulasi suara oleh ketua KIP Aceh Timur; pengarahan oleh KPPS di bilik suara yang terjadi di berbagai tempat, undangan yang tidak dibagi dan pelanggaran lainnya.

 

Kecurangan dari penyelenggara ini dimulai dari proses pengangkatan anggota KIP yang tidak transparan dan hanya mengakomodir calon-calon yang mendukung partai penguasa. Beberapa anggota KIP secara terang-terangan terlibat dalam kegiatan-kegiatan Partai yang berkuasa.

 

Keberpihakan penyelenggara kata Irwansyah juga diperkuat oleh pernyataan Ketua Bawaslu pada konferensi persnya Kamis, 10 April 2014.Ironisnya, penyelenggara pemilu juga tidak mengantisipasi penghitungan suara di malam hari, banyak TPS yang tidak terpasang lampu sehingga harus menghitung dengan senter. Sangat banyak kecurangan terjadi sewaktu penghitungan suara di malam hari.

 

Ia juga menyinggung tentang hilangnya suara PNA juga dikarenakan Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota tidak netral dan secara terang-terangan berpihak kepada Partai berkuasa.

 

“Keberpihakan tersebut dilakukan dengan mengarahkan dan mengancam PNS, Camat dan aparatur pemerintah lainnya untuk mendukung partai berkuasa. Keberpihakan lainnya dengan menggunakan fasilitas dan program-program pemerintah untuk mendukung partai yang berkuasa,”tuturnya..

 

Pembiaran juga dilakukan pemerintah dengan mendiamkan kendaraan berbalut sticker dan atribut Partai Aceh di sekitaran TPS. Ini adalah intimidasi kepada pemilih. Semua ini bukan hanya dilaporkan oleh kader PNA di lapangan, tapi juga ditemukan oleh LSM yang melakukan pemantauan pemilu.

 

Selain itu Irwansyah juga mengakui, ada dugaan partai berkuasa ingin mengklaim kemenangan sampai lebih 50% suara, apalagi Setda Aceh berusaha menutup akses informasi penghitungan suara Biro Pemerintahan kepada publik.

 

Pernyataan Sekda Aceh yang dimuat harian Serambi 11 April 2014 yang menyatakan data Desk Pemilu Pemerintah Aceh tidak boleh diakses juga menunjukkan keberpihakan Pemerintah terhadap partai berkuasa.

 

“Dengan berbagai kecurangan dan kekerasan tersebut PNA berharap masyarakat dan seluruh komponen yang ada untuk melakukan pemantauan dan mengontrol hasil Pemilu agar proses demokrasi tidak gagal di Aceh,”pintanya.

 

Saat ini, Data Center terus menerima laporan dan mencocokkan suara-suara di basis-basis PNA dengan suara yang diperoleh dari hasil Pemilu 2014. “Dengan berbagai kecurangan dan kekerasan yang menimpa kami, pimpinan PNA menolak hasil Pemilu 2014 di beberapa kabupaten dan TPS yg terjadi pelanggaran,”pungkas Irwansyah.

Seorang juru parkir, Sulistyo, 19, seorang tukang parkir di depan Rumah Dinas Camat Parakan, melarikan gadis dibawah umur. Melati (bukan nama sebenarnya), gadis 16 tahun ini dilarikan selama empat hari. Tidak hanya dilarikan, gadis bau kencur ini juga dipaksa melakukan hubungan layaknya suami istri.

Kapolres Temanggung, AKBP Dwi Indra Maulana melalui Kasubbag Humas PPID, AKP Marino, membenarkan terjadinya kasus tersebut. Tersangka yang warga Desa Campursalam, Kecamatan Parakan tersebut dilaporkan oleh keluarga Melati lantaran membawa lari dara belia ini. "Kami mendapatkan laporan dari keluarga korban dan kami langsung menindaklanjutinya," katanya.

Polisi setelah mendapatkan laporan dari keluarga korban langsung memburu pelaku. Petugas menggulung pria yang berprofesi sebagai tukang parkir ini di halaman eks-Kantor Kawedanan Parakan (Rumah Dinas Camat Parakan). "Kita tangkap tersangka di kompleks eks Kantor Kawedanan Parakan. Pelaku mengakui secara terus terang selama melarikan empat hari dia telah menyetubuhi Mawar di salah satu ruang di kantor itu,"katanya.

Kronologi dari kasus ini sendiri bermula dari korban yang pada akhir pekan lalu berpamitan kepada orangtuanya keluar rumah untuk mengerjakan tugas sekolah. Namun korban justru bermain sampai ke daerah Salam Kabupaten Magelang. "Kami kenalan lewat facebook, lalu kami janjian ketemu pertama kali di alun-alun Temanggung. Setelah itu kami akrab," aku pelaku.

Karena sudah saling kenal korban minta dijemput pelaku dengan harapan diantar pulang. Diluar dugaan tersangka justru membawa Mawar ke kompleks Kantor eks Kawedanan Parakan. Korban ditahan di tempat tersebut dan selama empat hari sempat dipaksa melayani nafsu birahi tersangka.

"Kami memang berhubungan badan di emperan salah satu ruang tapi tidak ada paksaan karena dasarnya suka sama suka. Sebenarnya saya tidak membawa kabur sebab ceweknya itu yang maunya ngikuti saya sudah disuruh pulang tidak mau,"tuturnya.

Dari kasus ini polisi mengamankan barang bukti berupa satu buah celana jins warna biru, satu hem kotak-kotak warna cokelat, dan satu unit sepeda motor

Yamaha Jupiter AA 5478 KN.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka masih meringkuk di sel Mapolres guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dia dijerat Pasal 81 subsider Pasal 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002, lebih subsider Pasal 332 KUHP tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (adm)

 

Acai berry asli mungkin sebagian dari anda masih merasa bingung dengan kata acai berry karena ini jenis vitamin yang mampu membentuk tubuh kita menjadi langsing, jadi bagi anda yang mengalami gangguan kesehatan terkait dengan postur tubuh langsung saja anda konsumsi produk ini yang sampai saat ini sudah bisa anda dapatkan tanpa susah payah.

 

Apasih acai berry asli itu nama latinnya adalah Euterpe Oleracea. Buah ini sedikit gelap dan berwarna ungu mirip dengan buah anggur. Para peneliti menemukan Acai Berry berisi lebih dari 300% dibandingkan antioksidan yang dikandung buah anggur atau blueberries. Tinggi antioksidan ini membuat Acai Berry sangat bermanfaat bagi kamu, khususnya sebagai penangkal radikal bebas.

 

Selain itu, Acai Berry juga kaya akan Omega 6 dan Omega 9 sehingga diklaim berguna dalam mengurangi ancaman masalah jantung. Klaim yang tidak kalah penting yaitu Acai Berry berhasil menurunkan berat badan serta meningkatkan kesehatan reproduksi. Kamu juga akan menemukan lebih banyak zat berguna dalam Acai Berry – seperti fosfor, besi, kalsium, potasium, Vit-B1, Vit-B2, Vit-B3, Vit-C, dan Vit-E – mineral dan vitamin yang sangat penting bagi lengkap berfungsi dari tubuh kamu.

 

Adapun kandungan yang terdapat dalam produk acai berry asli ini sebagai berikut:

- 100% bahan alami dengan campuran buah acai berry dan ramuan tumbuhan tradisional Chinese terpilih

- Tidak ada efek samping seperti pusing-pusing dan sering buang air besar. Sehingga tidak menggangu aktifitas rutin anda.

- Telah terbukti bahwa buah acai berry memiliki banyak kandungan yang sangat berguna bagi tubuh seperti omega6 dan omega9 yang berguna mengurangi ancaman jantung, dan juga kandungan lainnya seperti fosfor, kalsium, potassium, vit B1, vit B2, dll.

- Kaya akan serat sehingga membuat kita cepat merasa kenyang dan menahan nafsu makan dengan efektif.

- Dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan perawatan kulit.

- Mampu menurunkan berat sampai dengan 40lbs (18kg) dalam waktu 4 minggu.

 

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.raffbeauty.com

Ini gereja Stella Maris (Bintang dari Laut). Dibangun di atas gua di mana nabi Elia dulu pernah sembunyi di sana, karena ancaman pembunuhan oleh ratu Izebel karena Elia udah ngebunuh 400 nabi Baal. Di bagian bawah guanya masih disisain dikit.

TEMANGGUNG—Pasangan suami istri dan salah seorang rekannya akhirnya berhasil ditangkap petugas Kepolisian Resor Temanggung setelah buron selama empat bulan. Ketiganya terlibat dalam tindak pembunuhan berencana terhadap Dwi Wijayanto, 31, warga Sukun II, Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Semarang di Desa Geblok Kecamatan Kaloran awal November lalu.

Penangkapan terhadap pasangan suami istri, masing-masing Teguh Waluyo, 20, dan Reni Astuti, 22, warga Dusun Rowo, Desa Malebo, Kecamatan Kandangan. Setelah keduanya ditangkap, dari hasil penyidikan yang dilakukan, petugas mendapatkan nama Nofi Suprihatin, 21, warga Dusun Babadan, Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang.

Nofi sebelumnya sempat buron dan melarikan diri ke Kalimantan setelah mengetahui kedua rekannya ditangkap petugas. Kapolres Temanggung, AKBP Dwi Indra Maulana, mengatakan, pihaknya pada awalnya mengalami kesulitan menemukan para pelaku. Sebab, korban yang dibunuh tersebut dibuang tanpa meninggalkan kartu identitas dan petunjuk yang mengarah pada korban dan pelaku.

“Kami berusaha untuk mengungkap jati diri korban, melalui beberapa media dan penempelan foto korban di berbagai penjuru Temanggung dan luar Temanggung akhirnya identitas korban terungkap kurang lebih satu bulan setelah ditemukannya korban,” katanya.

Kemudian kata Kapolres, setelah terungkapnya identitas korban, petugas melakukan penyeledikian tertkait dengan kebiasaan korban, ternyata korban adalah seorang yang suka dengan dunia hiburan terutama di Bandungan Semarang. “Dari situ terungkap, korban mempunyai masalah dengan sejumlah orang di salah satu tempat karaoke,” lanjutnya.

Penangkapan yang dilakukan terhadap pasutri Teguh dan Reni, adalah langkah pertama untuk mengungkap kasus ini. Pasangan suami istri ini adalah salah satu orang yang bermasalah dengan korban. Dari penyidikan yang dilakukan terhadap keduanya, petugas selain dapat mengorek keterangan kronologis kejadian, juga dapat menemukan nama pelaku lain yang kemudian kabur, Nofi Suprihatin.

“Dari keterangan pasutri ini kami bisa meringkus Nofi Suprihatin setelah beberapa bulan kemudian, karena Nofi ini melarikan diri ke Kalimatan tengah dan Selatan, Nofi di tangkap saat berada di Sampit Kalimantan Tengah kemudian di bawa ke Polres Temanggung untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut,” terangnya.

Ia menambahkan, terungkapnya kasus ini berkat kerja sama antar aparat kemanan dari berbagai daerah terutama antara Polda Jawa Tengah dengan Kalimantan Tengah dan Selatan. “Mobilitas Nofi ini sangat tinggi, kadang berada di Temanggung kadang di Kalimantan Tengah dan sering juga di Kalimanatan Selatan, jadi cukup memakan waktu lama untuk menangkap Nofi ini,”katanya.

Kapolres menuturkan, dari tempat kejadian dan dari tangan tersangka diamankan sejumlah barang bukti diantaranya, sebuah pisau dapur dan pisau lipat yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban, dan beberapa pakaian yang digunakan korban, sedangkan dari tangan tersangka disita, sepeda motor Suzuki Smash warna nomor Polisi AA 5137 ZE, sebuah STNK atas nama Eko Diyah Mulyaningsih dengan Nomor Polisi H 3120 NZ, dan dua plat nomor H 3120 ANG.

“Ketiga tersangka dikenakan pasal berlapis yakni, Pasal 340 KUHP sub Pasal 365 ayat 4 KUHP lebih sub pasal 338 KUHP lebih-lebih sub pasal 170 ayat (2) sub 3e KUHP, pasal 351 ayat (3) KUHP, dengan ancaman hukuman pidana maksimal 20 tahun penjara,”pungkasnya.

Pelaku Nofi Suprihatin, mengakui perbuatannya dihadapan awak media. Ia mengaku setelah melakukan pembunuhan tersebut tidak langsung kabur, melainkan berada di rumahnya sendiri dan beraktivitas seperti biasa. Namun, setelah mendengar kedua rekannya ditangkap, ia kemudian melarikan diri menuju tanah Borneo.

“Awalnya saya hanya dirumah saja membantu orang tua bertani, tapi setelah kedua teman saya tertangkap saya melarikan diri ke Kalimantan, kadang dikalimantan Tengah kadang di Kalimantan Selatan, tapi akhirnya saya ditangkap juga,” tandasnya. (zah)

 

Inilah Sang Bujang Ganong

 

Prabu Brawijaya pada masa hidupnya berusaha diislamkan oleh Wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya.

 

Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk diislamkan, tetapi perkawinannya dengan putri Campa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya memunculkan reaksi protes dari elit istana yang lain.

 

Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Bujang Ganong, Ki Ageng Kutu kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut Reog.

 

Dan Reog tidak lain merupakan simbol kritik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan atau Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak).

 

Upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat Basis di Ponorogo (Wengker) dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit dan kasultanan Demak.

 

Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan investigasi terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu.

 

Demi kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang putra terbaiknya yakni yang kemudian dikenal luas dengan Bathara Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain.

 

Raden Katong akhirnya sampai di wilayah Wengker, lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Saat Bathara Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Hindu, Budha, animisme dan dinamisme. \

 

Setelah Bathara Katong memasuki Ponorogo terjadilah pertarungan antara Bathara Katong dengan Ki Ageng Kutu. Ditengah kondisi yang sama-sama kuat, Bathara Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu.

 

Kemudian dengan akal cerdasnya Bathara Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di iming-imingi akan dijadikan istri. Niken Gandini dimanfaatkan Bathara Katong untuk mengambil pusaka Koro Welang, sebuah pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu.

 

Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Wringinanom Sambit Ponorogo. Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu disebut dengan Gunung Bacin, terletak di daerah Bungkal.

 

Bathara Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini mungkin dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.

 

Setelah Ki Ageng Kutu menghilang, Bathara Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara.

Jurnalpolitik.com – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku senang karena penertiban Kalijodo berlangsung lancar. Segala bentuk ancaman yang pernah disampaikan oleh beberapa pihak pun tidak terjadi.

“Kalijodo katanya pas penertiban ngancam mau pakai tanktop. Terus, seribu ...

 

jurnalpolitik.com/?p=2514

1 3 4 5 6 7 ••• 55 56