View allAll Photos Tagged Perjalanan
Beristighfarlah atas semua dosa...
ingatlah sentiasa kepadaNya...
bersiap-siaplah untuk satu perjalanan jauh menuju akhirat...
dan nikmatilah hari ini...
dengan segala keriangan dan kebahagiaan.
Shot at Pantai Sabak with Buyie and nGku Li...have a great weekend my friends and so sorry if I cant visit your PS for the next 2 days...
Perjalanan melalui Highway menuju utara pagi ni benar2 terganggu, bukan disebabkan sesuatu menghalang jalan tetapi kabus tebal yang di panah matahari pagi ni melewatkan perjalan aku..Ini memang bukan yang terbaik dapat aku capture namun sukurang-kurangnya berkesempatan bertemu dan merakamkannya.. Alhamdulillah!
View of twin engines of Malaysia Airlines airplane through the window...... during my last trip to Sydney.
A long time ago i dream of seeing the world ...... now, some of it came through. Its all in my flickr
perjalanan yang seharusnya cuma 2 jam jadi molor 4 jam menuju Jatinangor, berangkat jam 5 sampai di Unpad jam 11 ..tak ada yang bisa dilakukan hany foto dari dalam mobil ..
bagaimana puasa hari ke dua ini teman.. semoga sehat dan semangat ya...
Perjalanan dari Kota Bharu ke Gua Musang.. mengambil masa kurang lebih lima(5) jam, bertolak seawal 4:30am.. sebelum mentari menyinarikan cahaya, sekitar jam 7 am ke 8 am waktu begilah shoting kami galak.. apa tidaknya jalan KB ke GM berkabus tebal!! suasana ini sukar ditemui..
INI BUKAN PUISI :
Tidak boleh membaca dengan serius
Dilarang mengcopy apalagi memperbanyak isi dan cerita tanpa sepengetahuan panelis :D
Ketika itu Kalender berada pada angka 6 di hari Jumat bulan Februari 2009.
Jam tangan ku menunjukkan pukul 11.15 WIB hampir tengah Malam.
Tapi aku lupa kalau jam tangan 21Win menunjukkan pukul 00.25 WITA, ternyata selisih 1 jam 10 menit, yang pasti sudah selisih 1 hari laa.., Nggak tau yang mana yg benar dengan selisih 10 menitnya itu tapi yang jelas jam ku masih stelan Indonesia Barat...
Anda jangan berfikir kalau kami sudah berada di Bedugul yaa...
Kami ( aku, Jessy, Didi, dan 21Win ) sedang menyiapkan karpet Merah di Bandara ngurah Rai menjemput Menteri Puisi Cep danie dan Kang Enhaka... Hahaha....
Aku nggak tau dengan Bahasa mereka selama ini, padahal mereka juga baru pertama kali bertemu disini tapi mereka selalu tertawa sepanjang jalan dengan melanjuti puisi-puisi flickr-nya itu... hahaha..., mantaaap...!!!
So.., Lalu kami berangkat malam itu menuju Bedugul yang dipandu 21Win dan Jessy sang Idol
Hujan Lebat , dan deras pula itu ( apa bedanya... ) membawa kami kesebuah Villa yang sangat menyeramkan di Bedugul sana, sampai2 mereka melihat penampakan yang masuk dan duduk di mobil ku..., lalu tak lama mereka memutuskan untuk meninggalkan villa itu, kami mencari villa yang lain...
Villa yang lain pun tak kalah seramnya malah komersil lagi, cuma numpang istirahat selama 2 jam tapi mereka tetap hitung 1 hari no discount..., sementara waktu itu sudah jam 4 pagi...
Akhirnya terjadi kata sepakat, kami pergi kesebuah perkebunan strawbery dan ngaso disana selama beberapa jam sambil bercerita, minum kopi dan teh..
Paginya..., sambil menunggu hujan berhenti, kami motret di perkebunan itu..
setelah sarapan kami baru meluncur ke Pura Ulun Danu di lokasi yang sama di Bedugul..., Tapi hujan masih tidak mau berhenti, tidak ada warna biru disini, tidak ada cahaya matahari disini, yang ada cuma hujan dan kabut..., terpaksa harus berpayung kesana kemari melindungi my baby D80, tapi hasil fotopun tidak bagus.... (maklum saja ya.. )
Tidak ada kesan apa-apa disini selain menatap Pura ini disini (sayangnya nggak ada Rini disini)
Tapi cerita sepanjang perjalanan, sepanjang menunggu hujan berhenti itu yang tak bisa dilupakan, sangat berkesan..., Ada yang bawa kacang Rahayu 1 kg (dikeroyokin ber-enam), ada yang bawa kopi Tora Bika, ada yang bawa teh Dilmah dengan berbagai aroma dan rasa, tapi untungnya malah aku bawa pemanas air instan buat di Mobil, walaupun harus menunggu 20 menit untuk mendidih, hahaha seru lah...
Sepertinya harus kembali lagi ke Bedugul mencari Matahari dan langit biru di Bedugul.
Tapi diriku tidak mau lagi mencari penumpang gelap di tengah kabut malam.
Terima kasih Jessy yang sudah menakut-nakuti melihat penampakan di jok belakang mobil ku - 21Win yang sudah memandu kami dengan hebatnya ditengah malam buta, hujan lebat, super kabut, dingiiiin tauuu, - Cep Danie , cukup-cukup-cukup lawakannya, sakit peruuuttt, ngakak melulu..., dan Kang Enhaka yang ternyata sama penakutnya.., malahan sempat melihat penampakan sungguhan di dekat toilet hahaha... terima Kasih buat semuanya yaa...
btw ehhh..., gimana yah cara membuat Link melalui nama Mereka disini???
Aaahhh..., untung sudah ada mybigbro yang sudah kasih tau cara buat linknya, hehehe
dalam perjalanan pulang ke Johor dari Ampang..kami bertolak sebelum subuh..subhanallah matahari terbit dengan indah sekali..
Im trying HDR here..Still learning tho..
Shot at Pengkalan Tok Kassim, Pantai Sabak, Kelantan...(Malay traditional villege)
Cukup melakukan perjalanan 4km jalan kaki sambil berlari-lari kecil dari gerbang 1 taman hutan raya juanda, maka sampailah ke curug omas ini. Waktu yang ditempuh sekitar 1jam sampai 1,5 jam. Ingat itu baru 1x jalan, waktu dan jarak yang sama harus dilalui lagi untuk pulangnya :)
Happy holiday to flickr-ers in Indonesia :)
Setiap perjalanan yang kita lewati akan menjadi sejarah di kemudian hari, maka selipkan beribu kebaikan ketika kaki ini melangkah.
semakin jauh kita berjalan..
semakin dekat dengan kesabaran..
semakin yakin dengan keimanan..
semakin redha dengan kebesaran..
semakin hampir dengan tujuan..
semakin hampir dengan ketentuan.
asal niat suci dan ikhlas..
ALLAH pasti membalasnye..
daripada ngantuk !!! lebih baik mencoba motret dari dalam mobil yang sedang melaju
OOTers...kopipaste
Terdapat dua danau berdampingan yang keduanya memiliki air berwarna hitam, yaitu Danau Pulau Besar (2.416 ha) dan Danau Bawah (360 ha). Kedua danau ini terdapat di daerah yang bernama Zamrud, karenanya kedua danau tersebut lebih dikenal sebagai Danau Zamrud. Keindahan kawasan ini makin terlihat bila anda memantaunya dari udara. Pantulan air berwarna hitam di tengah hutan rawa hampir menyerupai permata zamrud, karena itu pulalah kawasan tesebut dinamakan Zamrud.
Di kawasan ini hidup satwa dan tumbuhan langka dan terkenal seperti ikan arwana emas (Schleropages formasus), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis), beruang merah (Helarctos malayanus) serta berbagai jenis ular. Bahkan di wilayah ini masih bisa anda jumpai burung serindit (Loriculus galgulus) yang merupakan bio–indikator lingkungan yang menunjukkan bahwa kawasan Zamrud masih alami dan lestari.
Terletak sekitar 180 kilometer dari Pekanbaru, Riau, ini bisa ditempuh dalam waktu lebih kurang tiga jam perjalanan darat. Begitu memasuki kawasan penyangga sekitar 35 kilometer dari kawasan inti, anda diharuskan meminta izin Badan Operasi Bersama (BOB) Coastal Plain Pekanbaru (CPP) Sumatera Basin untuk masuk ke lokasi tersebut. BOB CPP Sumatera Basin merupakan perusahaan konsorsium PT Bumi Siak Pusako dengan PT Pertamina Hulu yang mengeksplorasi kandungan minyak di Zamrud.
Sejak 25 November 1980, kawasan Danau Pulau Besar dan Danau Bawah seluas 28.237,95 hektar ini ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa (KSM) yang tertutup untuk umum.
Memasuki kawasan ini anda akan merasakan suasana segar dan nyaman dengan pemandangan pohon–pohon khas hutan rawa di sepanjang jalan. Kawasan Zamrud merupakan kawasan hutan rawa primer di atas lahan gambut. Hutan rawa primer Zamrud ini berada di ketinggian 100–200 meter dari permukaan air laut. Secara geografis, lapisan tanah di tempat itu membentuk sebuah cekungan raksasa. Air yang berasal dari daerah di sekitarnya akan tertampung di danau.
Kawasan Zamrud sendiri terdiri dari dua danau dan hutan rawa primer. Di Danau Pulau Besar terdapat empat pulau, yakni Pulau Besar seluas 10 hektar, Pulau Tengah (1 hektar), Pulau Bungsu (1 hektar) dan Pulau Beruk (2 hektar). Demi melestarikan ekosistem danau, nelayan yang biasa mencari ikan dilarang menggunakan bahan peledak atau racun. Mereka hanya diperbolehkan mencari ikan di danau menggunakan jaring kecil dan pancing.
Meski ada rencana mengubah status KSM Danau Pulau Besar dan Danau Bawah menjadi taman nasional yang di tolak beberapa pihak, karena dianggap bakal merusak lingkungan bila kawasan tersebut dibuka untuk umum. Kerusakan alam ini juga terjadi di taman nasional lain di Riau. Tidak ada yang bisa menjamin perubahan status kawasan tidak akan menimbulkan kerusakan lingkungan.
Sejumlah satwa penghuni kawasan tersebut seperti burung elang, burung merbah, bangau putih, enggang palung, enggang benguk, enggang dua warna, dan enggang ekor hitam. Bahkan bila anda beruntung, bisa menjumpai harimau sumatera melintasi jalan di sekitar kawasan tesebut. Danau Zamrud menjemput malam bersama satwa penghuninya.
Pulau Hanyut
Danau Pulau Besar dinamai sesuai dengan lokasinya karena di danau tersebut terdapat empat pulau yang terbentuk dari endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan.
Empat pulau tersebut merupakan pulau hanyut karena dapat berpindah tempat, terdiri atas Pulau Besar (sekitar 10 ha), Pulau Tengah (satu hektare), Pulau Bungsu (satu hektare) dan Pulau Beruk (dua hektare) karena banyak terdapat beruk (kera tidak berekor) di dalamnya.
Di sekeliling danau terdapat vegetasi langka jenis pinang merah (berbeda dengan tanaman hias pinang merah yang ada, karena warnanya lebih cerah) tumbuhan khas tepian danau itu yang tidak dapat tumbuh di daerah lain.
Aneka ragam vegetasi alami yang ada di sekeliling danau serta sungai dan dalam kawasan hutan rawa gambut itu dapat dijumpai dalam kondisi utuh.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meresmikan lokasi Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar Pulau Bawah yang dikenal dengan kawasan Danau Zamrud menjadi Taman Nasional (TN) Zamrud. Presiden meresmikan prasasti kawasan konservasi itu pada Agustus 2007.
suasana di dalam gerbong kereta api Probowangi jurusan Banyuwangi - Surabaya
OOTers...kopipaste (111s1b4sm)
A small booklet entitled "Petunjuk Perjalanan Kereta Api ", or Train Travel Guide, and issued by the relatively newly named Perusahaan Jawatan Kereta Api of Indonesia - known as PJKA, the Railway Service Corporation. It includes a map of the majority of the system as well as timetables for various routes along with adverts for some of the long distance trains that were 'sponsored' by advertisers.
The cover shows a diesel locomotive hauling a 'named' train, the Parahiyangan', that ran between Jakarta and Bandung. The timetable was issued in January/February 1973.