E-Wonosobo
Kuo Ping Siung Warga Tionghoa Pelestari Wayang Kulit
Menyukai Wayang Sejak Usia 15 Tahun, Prihatin Peminat Wayang Sepi
e-wonosobo - Kuo Ping Siung akrab disapa Handoko merupakan warga keturunan Tionghoa yang selama ini berperan dalam melestarikan wayang kulit. Peran ini memang tidak banyak dikenal oleh masyarakat Wonosobo. Namun, dimata para dalang Handoko sangat dikenal, karena dari tangannya telah banyak melahirkan wayang kulit.
Rumah bercat biru di tepi Jalan Jogonegoro, tepatnya Desa Singkir Wonosobo terlihat lenggang. Di halaman depan bederet bunga sansivera serta deretan bunga lain tertata rapi. Memasuki ruang tamu, tampak deretan lukisan lama berderet. Disebelah ruang tersebut, tampak pria berkulit putih tengah sibuk. Tangan kanannya memegang palu sedangkan tangan kirinya membawa pahat. Sesekali pria itu memukulkan palu pada pahat diatas skestsa wayang yang telah dibuatnya.
“ Silahkan duduk, saya sedang menyelesaikan wayang gatot kaca,” ungkap pria itu yang belakangan diketahui bernama Kuo Ping Siung alias Handoko.
Pria yang intim disapa Handoko ini mengaku tengah menyelesaikan tiga wayang yakni Gatot Kaca, Krisna dan Buta. Ketiga wayang ini berbeda dengan wayang kulit produksi Jogjakarta maupun Solo. Karena wayang yang dibuat untuk gakgrak wayang kedu, yang mempunyai ciri yang beda.
“ Bentuk wayang kedu beda dengan wayang solo dan Jogjakarta. Saya menguasai semua, namun mengkhususkan untuk gakrak kedu,”aku pria berusia 43 tahun ini.
Pria yang memilih masih melajang ini berkisah, mengenal wayang sejak dia masih berusia 15 tahun. Saat itu, dia rajin mendengarkan wayang lewat radio maupun melihat pertunjukan langsung di desa –desa saat ada merdi desa. Hobby menonton ini kemudian berlanjut ingin mencoba membuat wayang.
“ Dulu kalau ada pertunjukan pasti saya nonton,bahkan sampai sekarang,”katanya.
Diakui Handoko, dia menyukai dunia wayang jawa lantaran mempunyai lakon dan kisah yang menarik. Kendati dalam budaya Tionghoa ada kesenian wayang potehi, dia tidak begitu suka dan hanya sedikit tahu. Namun, untuk wayang jawa dia menguasai beberapa lakon. Bahkan mempunyai tokoh idola meliputi Hanoman, Dewi Sinto, Kokrosono serta Bimo. Menurutnya masing-masing tokoh ini menginspirasi dalam kehidupan manusia.
“ Hanoman misalnya, saya sukai karena meski berujut kera dia satria dan mempunyai sifat kemanisiaan yang tinggi,”katanya.
Berbekal mengidolakan empat tokoh ini, sekitar usia 17 tahun, Handoko mulai mencoba membuat wayang menggunakan kertas karton. Hasil karyanya tersebut kemudian ditunjukan kepada dalang di Wonosobo dan dinilai penggarapanya rapi. Sejak saat itu, Handoko memilih belajar secara serius kepada para dalang di Wonosobo. selain mengasah keterampilan dalam memahat, juga mengetahui filosofi wayang. Menurutnya tiap pahatan wayang mempunyai arti yang melekat pada sosok tokoh wayang tersebut.
“ Misalnya untuk Gatot kaca ini, pada pahatan kalung jumlahnya pasti ganjil, ilmu tersebut saya dapatkan dari para dalang,”katanya.
Selang waktu berjalan, Handoko terus mengasah kemampuanya, orang yang dijadikan guru tidak hanya satu. Dia menyebutkan para dalang yang selama ini mengajarinya membuat wayang meliputi Ki Kuat, ki Cokro, ki Wiking, ki Tukino, dan Ki Parman. Dari para dalang inilah kemampuan membuat wayangnya semakin lihai. Bahkan pada dalang kerap memesan wayang kepadanya.
“ Semua dalang itu sekarang sudah meninggal. Mereka merupakan guru yang telah mengajarkan saya tahu seluk beluk wayang,”katanya.
Untuk mengerjakan wayang, Handoko menggunakan dua bahan baku yakni kulit dan kertas karton. Pengerjaanya untuk wayang karton satu wayang bisa selesai dalam satu pekan, sedangkan wayang menggunakan kulit satu tokoh membutuhan waktu mencapai dua pekan. Harga jualnya tentu berbeda, untuk bahan karton kisaran Rp 100 sampai 125 ribu. Sedangkan berbahan kulit mencapai Rp 500 ribu tergantung ukuran.
“Dulu hampir semua dalang memesang di sini, untuk saat ini kebanyakan dari dalang cilik menggunakan bahan karton,”katanya.
Selain mendapat pesanan para dalang, Handoko menyebutkan pesanan juga sering datang dari para penggemar wayang. Bahkan tidak hanya asal Wonosobo. Sejumlah pemesan datang juga dari luar daerah. Namun, sejak lima tahun terakhir pemesanan menurun. Menurutnya hal ini karena penggemar dan pelestari wayang terus merosot. Untuk tetap bertahan dalam seni pahat, Handoko sekarang juag membuat kaligrafi dengan paduan ukiran wayang.
“ Kaligrafinya ternyata laku. Saya buat dengan tetap menggunakan khot (gaya tulisan) arab kemudian kita padukan dengan seni ukir wayang,”katanya.
Merosotnya minat masyarakat mencintai wayang kulit, Handoko mengaku prihatin. Sebab wayang kulit merupakan kesenian warisan adiluhung jawa. Namun belakangan anak muda seolah gengsi mengenal wayang. Untuk itu, pihaknya membuka diri dan meluangkan waktu saat ada generasi muda utamanya pelajar ingin belajar tentang seni pewayangan.
“Saya ikut prihatin, wayang merupakan warisan budaya luhur jawa. Kalau tidak generasi muda yang meneruskan, bisa-bisa punah,”pungkasnya. (rase)
Kuo Ping Siung Warga Tionghoa Pelestari Wayang Kulit
Menyukai Wayang Sejak Usia 15 Tahun, Prihatin Peminat Wayang Sepi
e-wonosobo - Kuo Ping Siung akrab disapa Handoko merupakan warga keturunan Tionghoa yang selama ini berperan dalam melestarikan wayang kulit. Peran ini memang tidak banyak dikenal oleh masyarakat Wonosobo. Namun, dimata para dalang Handoko sangat dikenal, karena dari tangannya telah banyak melahirkan wayang kulit.
Rumah bercat biru di tepi Jalan Jogonegoro, tepatnya Desa Singkir Wonosobo terlihat lenggang. Di halaman depan bederet bunga sansivera serta deretan bunga lain tertata rapi. Memasuki ruang tamu, tampak deretan lukisan lama berderet. Disebelah ruang tersebut, tampak pria berkulit putih tengah sibuk. Tangan kanannya memegang palu sedangkan tangan kirinya membawa pahat. Sesekali pria itu memukulkan palu pada pahat diatas skestsa wayang yang telah dibuatnya.
“ Silahkan duduk, saya sedang menyelesaikan wayang gatot kaca,” ungkap pria itu yang belakangan diketahui bernama Kuo Ping Siung alias Handoko.
Pria yang intim disapa Handoko ini mengaku tengah menyelesaikan tiga wayang yakni Gatot Kaca, Krisna dan Buta. Ketiga wayang ini berbeda dengan wayang kulit produksi Jogjakarta maupun Solo. Karena wayang yang dibuat untuk gakgrak wayang kedu, yang mempunyai ciri yang beda.
“ Bentuk wayang kedu beda dengan wayang solo dan Jogjakarta. Saya menguasai semua, namun mengkhususkan untuk gakrak kedu,”aku pria berusia 43 tahun ini.
Pria yang memilih masih melajang ini berkisah, mengenal wayang sejak dia masih berusia 15 tahun. Saat itu, dia rajin mendengarkan wayang lewat radio maupun melihat pertunjukan langsung di desa –desa saat ada merdi desa. Hobby menonton ini kemudian berlanjut ingin mencoba membuat wayang.
“ Dulu kalau ada pertunjukan pasti saya nonton,bahkan sampai sekarang,”katanya.
Diakui Handoko, dia menyukai dunia wayang jawa lantaran mempunyai lakon dan kisah yang menarik. Kendati dalam budaya Tionghoa ada kesenian wayang potehi, dia tidak begitu suka dan hanya sedikit tahu. Namun, untuk wayang jawa dia menguasai beberapa lakon. Bahkan mempunyai tokoh idola meliputi Hanoman, Dewi Sinto, Kokrosono serta Bimo. Menurutnya masing-masing tokoh ini menginspirasi dalam kehidupan manusia.
“ Hanoman misalnya, saya sukai karena meski berujut kera dia satria dan mempunyai sifat kemanisiaan yang tinggi,”katanya.
Berbekal mengidolakan empat tokoh ini, sekitar usia 17 tahun, Handoko mulai mencoba membuat wayang menggunakan kertas karton. Hasil karyanya tersebut kemudian ditunjukan kepada dalang di Wonosobo dan dinilai penggarapanya rapi. Sejak saat itu, Handoko memilih belajar secara serius kepada para dalang di Wonosobo. selain mengasah keterampilan dalam memahat, juga mengetahui filosofi wayang. Menurutnya tiap pahatan wayang mempunyai arti yang melekat pada sosok tokoh wayang tersebut.
“ Misalnya untuk Gatot kaca ini, pada pahatan kalung jumlahnya pasti ganjil, ilmu tersebut saya dapatkan dari para dalang,”katanya.
Selang waktu berjalan, Handoko terus mengasah kemampuanya, orang yang dijadikan guru tidak hanya satu. Dia menyebutkan para dalang yang selama ini mengajarinya membuat wayang meliputi Ki Kuat, ki Cokro, ki Wiking, ki Tukino, dan Ki Parman. Dari para dalang inilah kemampuan membuat wayangnya semakin lihai. Bahkan pada dalang kerap memesan wayang kepadanya.
“ Semua dalang itu sekarang sudah meninggal. Mereka merupakan guru yang telah mengajarkan saya tahu seluk beluk wayang,”katanya.
Untuk mengerjakan wayang, Handoko menggunakan dua bahan baku yakni kulit dan kertas karton. Pengerjaanya untuk wayang karton satu wayang bisa selesai dalam satu pekan, sedangkan wayang menggunakan kulit satu tokoh membutuhan waktu mencapai dua pekan. Harga jualnya tentu berbeda, untuk bahan karton kisaran Rp 100 sampai 125 ribu. Sedangkan berbahan kulit mencapai Rp 500 ribu tergantung ukuran.
“Dulu hampir semua dalang memesang di sini, untuk saat ini kebanyakan dari dalang cilik menggunakan bahan karton,”katanya.
Selain mendapat pesanan para dalang, Handoko menyebutkan pesanan juga sering datang dari para penggemar wayang. Bahkan tidak hanya asal Wonosobo. Sejumlah pemesan datang juga dari luar daerah. Namun, sejak lima tahun terakhir pemesanan menurun. Menurutnya hal ini karena penggemar dan pelestari wayang terus merosot. Untuk tetap bertahan dalam seni pahat, Handoko sekarang juag membuat kaligrafi dengan paduan ukiran wayang.
“ Kaligrafinya ternyata laku. Saya buat dengan tetap menggunakan khot (gaya tulisan) arab kemudian kita padukan dengan seni ukir wayang,”katanya.
Merosotnya minat masyarakat mencintai wayang kulit, Handoko mengaku prihatin. Sebab wayang kulit merupakan kesenian warisan adiluhung jawa. Namun belakangan anak muda seolah gengsi mengenal wayang. Untuk itu, pihaknya membuka diri dan meluangkan waktu saat ada generasi muda utamanya pelajar ingin belajar tentang seni pewayangan.
“Saya ikut prihatin, wayang merupakan warisan budaya luhur jawa. Kalau tidak generasi muda yang meneruskan, bisa-bisa punah,”pungkasnya. (rase)